Berdasarkan Pengalaman Lapangan
Penanaman Padi di Sawah Rawa yang Bongkor
Selama 12 Tahun
Sanksi Pelanggaran Pasal 113
Undang-Undang No. 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta
1. Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 100.000.000 (seratus juta rupiah).
2. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
3. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan/atau huruf g untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
4. Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).
Editor:
Yiyi Sulaeman Eni Maftu’ah
2021
Perancang Sampul:
Tim UB Press Penata Letak:
A. Azmi Muffiddah Pracetak dan Produksi:
Tim UB Press
Penerbit:
UB Press
Redaksi:
Jl. Veteran 10-11 Malang 65145 Indonesia Gedung INBIS Lt.3 Telp: 0341-5081255, WA: 08113653899
e-mail: [email protected]/[email protected] http://www.ubpress.ub.ac.id
Cetakan Pertama, Oktober 2021 i-xvii + 198 halaman, 15.5 cm x 23.5 cm Hak Cipta dilindungi Undang-undang All Rights Reserved
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa izin tertulis dari penerbit
157
Sawah rawa pasang surut merupakan salah satu tipe tata lahan rawa untuk budi daya tanaman pertanian berbasis padi. Sawah rawa ini merupakan sentra produksi beras terutama di Provinsi Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah. Di lapangan, produktivitas padi beragam yang ditentukan oleh kondisi hidrologi, karakteristik tanah, kondisi sosial ekonomi, dan jenis varietas padi yang ditanam. Sebelumnya, sawah ini adalah daerah rawa pasang surut yang ditutupi rumput hingga hutan rawa. Pencetakan sawah diawali dengan reklamasi daerah tersebut dengan pembuatan sistem jaringan saluran draenase primer, saluran sekunder, dan saluran tersier, beserta pintu-pintu air. Sistem jaringan dan pintu air ini mampu mengatur tata air makro dan tata air mikro sehingga tanaman mampu tumbuh secara optimal.
Namun, di beberapa tempat sawah ini tidak ditanami padi lagi oleh para petani tetapi ditinggalkan dan dibiarkan tidak diolah hingga puluhan tahun. Pembiaran ini menyebabkan terjadinya suksesi vegetasi secara alami. Sawah mula-mula ditumbuhi aneka rumput, kemudian semak belukar hingga hutan galam yang rapat. Sawah yang lama tidak diolah ini kemudian disebut lahan bongkor, yang memerlukan pendekatan khusus jika akan ditanami padi kembali.
Sawah rawa pasang surut yang bongkor mengalami kerusakan infrastruktur tata air dan degradasi tanah baik aspek fisik tanah, kimia tanah, biologi tanah, hingga kesuburan tanah.
Upaya penanaman padi kembali memerlukan pembersihan lahan
vi
(land clearing), perbaikan tata air makro dan mikro serta penerapan teknologi pertanian spesifik lokasi untuk menghindari kegagalan produksi. Selain itu, kegiatan pendampingan terhadap para petani dan pengawalan teknologi diperlukan untuk memastikan teknologi tersebut dilaksanakan dengan tepat di lapangan.
Buku Mengelola Sawah Rawa Pasang Surut Bukaan Baru ini memaparkan teknologi adaptif spesifik lokasi yang mana telah terbukti berhasil dalam mengelola sawah rawa pasang surut bukaan baru, yang sebelumnya bongkor selama 12 tahun.
Implementasi teknologi ini mampu meningkatkan produktivitas padi rawa hingga 6 ton GKP per hektar. Buku ini menyediakan acuan dan benchmark keragaan pengelolaan sawah rawa pasang surut yang akan bermanfaat bagi para pemangku kebijakan, petani, penyuluh, peneliti, akademisi, mahasiswa, dan pemerhati pertanian lahan rawa.
Buku ini tidak akan terwujud tanpa kerja keras dan kontribusi pemikiran, data dan pengalaman para penulis kontributor. Mereka adalah para peneliti dan praktisi dengan pengalaman mengelola sawah rawa lebih dari 25 tahun. Karena itu, apresiasi dan penghargaan disampaikan kepada mereka.
Terima kasih juga disampaikan kepada Bu Lusi dan Tim UB Press atas kesabaran dan kerjasamanya dalam proses penyuntingan buku ini hingga seperti sekarang ini. Semoga karya ini bermanfaat bagi semua pihak dan berkontribusi dalam memajukan pertanian lahan rawa di tanah air tercinta.
Banjarbaru, Oktober 2021 Penulis
PRAKATA... V DAFTAR ISI ... VII DAFTAR GAMBAR ... XI DAFTAR TABEL ... XVII
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
BAB 2 KARAKTERISASI DAN PENGELOLAAN AIR SKALA MIKRO ... 9
2.1 Keperluan Air pada Setiap Fase Tumbuh ... 11
2.2 Curah Hujan ... 12
2.3 Pemantauan Dinamika Muka Air ... 13
2.4 Pemantauan Kualitas Air ... 21
2.5 Opsi-Opsi Perbaikan Tata Air ... 23
2.6 Arah ke Depan ... 31
BAB 3 KARAKTERISASI DAN KONDISI TANAH... 33
3.1 Ketebalan dan Kematangan Lapisan Gambut ... 39
3.2 Kedalaman Lapisan Pirit... 42
3.3 Kemasaman Tanah dan Kelarutan Fe, dan Kation Asam (Al dan H) ... 46
3.4 Kadar Bahan Organik, Status Hara Makro, dan Basa-basa Tertukar ... 47
3.5. Karakteristik Tanah Menentukan Produktivitas Padi ... 50
viii
BAB 4 PERSEMAIAN ... 53
4.1 Persemaian Sistem Basah ... 56
4.2 Persemaian Sistem Kering ... 59
BAB 5 PENYIAPAN DAN PENATAAN LAHAN ... 63
5.1 Penataan Lahan ... 67
5.2 Pengolahan Tanah ... 68
5.3 Pematang dan Pemeliharaannya... 70
5.4 Pemeliharaan Kemalir ... 71
5.5 Isu-isu Lapangan ... 72
BAB 6 AMELIORASI ... 75
6.1 Manfaat Ameliorasi ... 77
6.2 Penetapan Rekomendasi Ameliorasi ... 80
6.3 Pupuk Kandang ... 81
6.4 Kapur Pertanian ... 81
6.5 Fosfat Alam (Rock Phosphate) ... 83
6.6 Isu-Isu Terkait Ameliorasi ... 84
BAB 7 PENANAMAN ... 87
7.1 Kondisi Air untuk Penanaman ... 89
7.2 Sistem Tanam ... 90
7.2.1 Cara Tapin______________________________________ 90 7.2.2 Cara Tabela ____________________________________ 93 7.2.3 Cara Atabela ___________________________________ 95 7.3 Isu-isu Terkait Penanaman ... 97
BAB 8 PEMUPUKAN ... 101
8.1 Arti Penting Pemupukan ... 103
8.2 Rekomendasi Pemupukan ... 104
8.3 Jenis Pupuk dan Cara Aplikasinya ... 106
8.4 Efisiensi Penggunaan Pupuk Anorganik ... 108
8.5 Pupuk Daun dan Aplikasinya pada Tanaman Padi ... 110
8.6 Isu-isu Terkait Pemupukan ... 111
ix
BAB 9 PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN ORGANISME
PENGGANGGU TANAMAN ... 113
9.1 Permasalahan ... 115
9.2 Pemecahan Masalah ... 123
9.3. Rekomendasi ... 125
9.4 Gulma dan Pengendaliannya ... 129
9.5 Pembelajaran yang Diperoleh ... 131
9.6 Aplikasi Pengendalian Hama Terpadu ... 132
BAB 10 KERAGAAN TANAMAN ... 135
10.1 Tinggi Tanaman ... 137
10.2 Jumlah Anakan ... 140
10.3 Bulir Isi dan Hampa ... 142
10.4 Bobot 1000 Biji ... 142
10.5 Produktivitas Tanaman ... 143
10.6 Isu-isu Terkait Keragaan Tanaman ... 146
BAB 11 PENUTUP ... 151
DAFTAR PUSTAKA ... 157
GLOSARIUM ... 171
INDEKS ... 179
BIOGRAFI PENULIS ... 181
Gambar 1. Curah hujan di Desa Talio Hulu _____________________ 13 Gambar 2. Tinggi Muka Air saat Puncak Pasang (Atas);
Tanggul Sepanjang Saluran Sekunder Rendah
(Bawah) _______________________________________________ 14 Gambar 3. Saluran Drainase Berupa Pipa Paralon di
Saluran Sekunder Tidak Berfungsi dengan Baik (Atas) dan Saluran Tersier Buntu (Bawah) ________ 15 Gambar 4. Sebagian Besar Petak Sawah Tidak Memiliki
Saluran Kemalir/Parit Cacing (Atas); Banyak
Terdapat Gulma di Saluran Sekunder (Bawah) ____ 16 Gambar 5. Bangunan Pintu Air PUPR Tidak Memiliki Pintu
(Atas); Terdapat Sekat Kanal pada Saluran
Sekunder (Bawah) ___________________________________ 17 Gambar 6. Ujung Saluran Sekunder Tidak Memiliki Tanggul
(Foto Atas); Terdapat Hamparan Sawah
NonPadi/Terlantar (Foto Bawah) __________________ 19 Gambar 7. Dinamika Tinggi Muka Air Selama 24 Jam saat
Pasang Besar pada Rai 39 (Kiri) Menggunakan Alat Pantau Muka Air Sederhana (Kanan) _________ 21 Gambar 8. Berbagai model pintu ayun/pintu klep yang
dapat dipasang pada saluran sekunder. ____________ 25 Gambar 9. Saluran Drainase Tersier yang Telah Dilakukan
Normalisasi (Atas) dan Galengan/Tanggul
Penutup Tiap Petak Sawah (Bawah) _______________ 27
xii
Gambar 10. Saluran Keliling di Samping Galengan Keliling Tiap Unit Petak Sawah (Atas), Pipa Paralon Sebagai Sarana Pengendalian Arus Air yang Masuk dan Keluar Ke/Dari Saluran Sekunder
(Bawah) _______________________________________________ 28 Gambar 11. Keragaan Sekolah Lapang Pengelolaan Tata Air
Mikro __________________________________________________ 30 Gambar 12. Sketsa UPT Pangkoh (Pangkoh I disebut DIR
Talio) Terbagi Menjadi Desa Talio, Talio Muara, dan Talio Hulu ________________________________________ 36 Gambar 13. Lahan Bongkor yang Telah Ditumbuhi Semak
Belukar (Atas) dan Pohon Akasia (Bawah) _________ 37 Gambar 14. Kondisi Lapisan Gambut Bagian Atas yang
Mengambang Di Permukaan Air (Ambul) __________ 41 Gambar 15. Tanah Ambul __________________________________________ 42 Gambar 16. Ketebalan Gambut dan Kedalaman Lapisan Pirit
Lahan di Desa Talio Hulu ____________________________ 43 Gambar 17. Pemboran Tanah, Ketebalan Lapisan Gambut
dan Kedalaman Pirit _________________________________ 45 Gambar 18. Pemboran Tanah, Ketebalan Lapisan Gambut,
dan Kedalaman Pirit serta Reaksinya
dengan H2O2 _________________________________________ 45 Gambar 19. Kemasaman Tanah dan Kelarutan Fe (Atas)
dan Kelarutan SO42- Tanah (Bawah) Rawa
Pasang Surut di Desa Talio Hulu ____________________ 47 Gambar 20. Kadar C-org Tanah Sawah Rawa Pasang Surut
Bukaan Baru di Desa Talio Hulu _____________________ 48 Gambar 21. Ketersediaan N, P dan K Tanah Sawah Pasang
Surut Bukaan Baru di Desa Talio Hulu ______________ 50 Gambar 22. Hubungan Hasil Gabah (t/ha GKG), Ketebalan
Gambut, dan Kedalaman Pirit _______________________ 51 Gambar 23. Hubungan Kemasaman Tanah dengan Hasil
Padi ____________________________________________________ 51 Gambar 24. Kondisi Lahan dengan Air Macak-Macak ___________ 56
xiii
Gambar 25. Kondisi Persemaian Basah __________________________ 57 Gambar 26. Persiapan Benih pada Persemaian Kering _________ 60 Gambar 27. Kondisi Semaian pada Persemaian Kering _________ 61 Gambar 28. Kegiatan Meratakan Permukaan dengan Tr 2
di Lahan Rawa Pasang Surut ________________________ 66 Gambar 29. Sistem Surjan di Lahan Pasang Surut
Kalimantan Tengah __________________________________ 67 Gambar 30. Penyiapan Lahan dengan Rotari di Lahan
Gambut _______________________________________________ 69 Gambar 31. Saluran Kemalir Keliling di Lahan Rawa ___________ 71 Gambar 32. Tipe Tanah Bergambut pada Sawah Rawa
Bukaan Baru Desa Talio Hulu _______________________ 78 Gambar 33. Aplikasi Kapur Pertanian ____________________________ 82 Gambar 34. Fosfat Alam yang Umum Digunakan Oleh
Petani _________________________________________________ 84 Gambar 35. Tanam Pindah Menggunakan Jarwo 2:1 ___________ 91 Gambar 36. Tanam Pindah Menggunakan Jarwo 4:1 ___________ 91 Gambar 37. Tanam Pindah Menggunakan Sistem Jarwo 8:1 ___ 92 Gambar 38. Tanam Pindah Menggunakan Sistem Jarwo 4:1 ___ 93 Gambar 39. Cara Tanam Tabela __________________________________ 94 Gambar 40. Drone Penabur Benih Padi __________________________ 95 Gambar 41. Cara Tanam Menggunakan Gledek _________________ 96 Gambar 42. Penanaman Padi Menggunakan Power Seeder _____ 97 Gambar 43. Aplikasi Pupuk Hayati Biotara _____________________ 107 Gambar 44. Aplikasi Pupuk Urea serta NPK Phonska __________ 107 Gambar 45. Serangan Ulat Grayak pada persemaian __________ 117 Gambar 46. Gejala Serangan Penggerek Batang pada
Malai _________________________________________________ 118 Gambar 47. Gejala Serangan Hama Tikus _______________________ 119 Gambar 48. Gropyokan dengan Menggunakan Ratel
sebagai Fumigan ____________________________________ 120
xiv
Gambar 49. Gejala Serangan Blas Daun (Atas) dan Blas
Leher (Bawah) ______________________________________ 122 Gambar 50. Pemasangan Pagar Plastik dan Bubu (Kiri)
serta Umpan Beracun (Kanan) ____________________ 122 Gambar 51. Penyemprotan Pestisida Kimia pada Tanaman
Terserang Hama dan Penyakit ____________________ 123 Gambar 52. Keragaan Pertumbuhan Padi Fase Vegetatif
Awal pada Sawah Rawa Bukan Baru di Desa
Talio Hulu pada Musim Hujan 2020/2021 _______ 138 Gambar 53. Keragaan Pertumbuhan Padi Fase Vegetatif
Akhir pada Sawah Rawa Bukaan Baru di Desa Talio Hulu pada Musim Hujan MH 2020/2021 __ 139 Gambar 54. Tinggi Tanaman (cm) Padi pada Sawah Rawa
Bukaan Baru Desa Talio Hulu di Musim Hujan MH 2020/2021 _____________________________________ 140 Gambar 55. Jumlah Anakan dan Anakan Produktif Padi yang
Ditanam Sawah Rawa Bukaan Baru di Desa
Talio Hulu pada Musim Hujan MH 2020/2021 __ 141 Gambar 56. Jumlah Bulir Isi dan Hampa/Malai serta P
ersentase Bulir Bernas Padi pada Sawah Rawa Bukaan Baru di Desa Talio Hulu pada Musim
Hujan 2020/2021 __________________________________ 142 Gambar 57. Bobot 1000 Butir (gram) Padi pada Sawah
Rawa Bukaan Baru Desa Talio Hulu pada
Musim Hujan 2020/2021 __________________________ 143 Gambar 58. Hasil GKP dan GKG Padi pada Sawah Rawa
Bukaan Baru di Desa Talio Hulu pada Musim
Hujan 2020/2021 __________________________________ 144 Gambar 59. Tanaman Rebah saat Fase Generatif di Sawah
Rawa Desa Belanti Siam pada Musim Kering
2021 _________________________________________________ 148
xv
Gambar 60. Kesehatan Rumpun Padi Menghasilkan Pertumbuhan dan Hasil yang Optimal di Sawah Rawa di Desa Belanti Siam pada
Musim Kering 2021 _________________________________ 149 Gambar 61. Keragaan Tanaman pada Berbagai Populasi
Tanaman di Sawah Rawa di Desa Belanti Siam pada Musim Kering 2021 ___________________________ 149
Tabel 1. Keperluan Air untuk Setiap Fase Budi daya
Tanaman ... 11 Tabel 2. Kualitas Air Di Saluran dan Petak Sawah di Sawah
Rawa Pasang Surut Talio Hulu ... 22 Tabel 3. Sebaran Ketebalan Gambut, Kedalaman Pirit dan
Genangan di Petakan Sawah ... 40 Tabel 4. Rata-rata Hara yang Ikut Terangkut Setiap Kali
Panen Padi Varietas Unggul ... 104 Tabel 5. Rekomendasi Pemupukan P dan K Tanah Sawah
Berdasarkan Status Haranya ... 106 Tabel 6. Tindakan Pencegahan dan Pengendalian OPT Padi
di Sawah Rawa ... 124 Tabel 7. Keragaan Hasil Varietas Dibandingkan dengan
Potensi Hasil pada Deskripsi Varietas di Sawah Rawa Bukaan Baru di Desa Talio Hulu pada Musim Hujan 2020/2021 ... 146
Bab 1
Yiyi Sulaeman dan Eni Maftu’ah
Lahan rawa pasang surut, saat ini dan ke depan, berperan strategis dalam upaya memantapkan swasembada pangan.
Sebagai salah satu tipe tata lahan rawa, dukungan sawah rawa pasang surut terhadap produksi padi nasional akan lebih besar dengan memanfaatkan sawah rawa pasang surut bukaan baru menjadi areal yang lebih produktif. Sawah rawa pasang surut merupakan lahan suboptimal yang mempunyai banyak faktor pembatas sebagai areal pertanian produktif, seperti kelebihan air, kesuburan tanah yang rendah, daya sangga tanaman dan alsintan yang rendah, serta masalah hama dan penyakit.
Sawah rawa pasang surut terdiri dari berbagai tipologi lahan dengan karakteristik yang berbeda dan kendala yang berbeda pula, sehingga penanganannya harus dilakukan secara serius dan hati-hati. Ciri khas tanah di lahan rawa pasang surut adalah adanya bahan sulfidik yang banyak mengandung pirit.
Pada kondisi lahan pasang surut yang tergenang (reduksi), pirit masih dalam kondisi aman. Namun jika kondisi lahan mengalami kekeringan panjang dapat menyebabkan pirit terpapar dan terokisidasi. Oksidasi pirit juga dapat terjadi akibat pembuatan saluran drainase sehingga oksigen masuk dalam tanah dan mengakibatkan pirit teroksidasi. Satu mol pirit teroksidasi akan menghasilkan 4 mol asam sulfat sehingga mengakibatkan pemasaman tanah (Dent and Ponds 1995).
Selain kemasaman yang tinggi, keracunan dan kahat hara, pengelolaan air yang tidak tepat juga menjadi penyebab rendahnya kontribusi lahan ini terhadap produksi padi nasional.
Lahan pasang surut juga dilaporkan mempunyai efisiensi pemupukan P yang rendah (Masganti 2013) karena unsur P mudah terbawa oleh air, sehingga diperlukan metode pemupukan P yang tepat seperti penggunaan fosfat alam (Suriadikarta 2012).
Faktor lain yang menjadi penyebab rendahnya produktivitas padi di lahan pasang surut adalah serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) seperti burung, tikus, dan hama/penyakit lainnya.
Karakteristik lahan pasang surut demikian memerlukan varietas padi yang toleran terhadap lingkungan tumbuh.
4 Mengelola Sawah Rawa Pasang Surut Bukaan Baru
Sawah rawa pasang surut pada awalnya merupakan rawa di sekitar muara sungai besar yang tentunya dipengaruhi secara langsung oleh aktivitas laut, berupa pasang dan surutnya air laut dengan lingkungan air asin. Di bagian agak ke pedalaman, pengaruh sungai besar makin kuat dibandingkan pengaruh aktivitas laut sehingga wilayah ini memiliki lingkungan air asin (salin) dan air payau. Berdasarkan kondisi lingkungan saat proses pembentukan tanah di rawa pasang surut dijumpai dua tipe tanah ini yaitu tanah mineral (mineral soils) jenuh air dan tanah gambut (peat soils) (Subagyo 2006). Notohadiprawiro (1996) mengatakan bahwa tanah-tanah rawa ini pada dasarnya merupakan tanah marginal untuk budi daya tanaman karena: (a) bahan induknya miskin hara; (b) bersuasana anaerob; (c) banyak yang bergambut tebal dan berpirit; dan (d) reaksi tanah yang sangat masam dengan ditandai oleh nilai pH yang rendah.
Sawah rawa pasang surut merupakan lahan suboptimal, namun produktivitasnya dapat ditingkatkan melalui pengelolaan yang tepat terhadap masalah teknis, agronomis, dan sosial.
Sementara itu, karakteristik tanah dan hidrologi lahan suboptimal ini beragam, dengan intensitas tantangan yang juga bervariasi, yang menimbulkan permasalahan yang semakin kompleks.
Permasalahan teknis agronomis dapat diatasi melalui penerapan teknologi reklamasi intensif berupa: pengelolaan tata air, ameliorasi, pemupukan, penggunaan varietas adaptif, dan pengendalian organisme penggangu tanaman. Teknologi ini di beberapa tempat mampu meningkatkan produktivitas sawah rawa pasang surut.
Masalah lingkungan yang banyak dan sentuhan teknologi yang adaftif masih terbatas, menyebabkan produktivitas dan kualitas padi yang rendah. Teknologi inovatif pertanian lahan rawa pasang surut untuk meningkatkan produktivitas padi telah dihasilkan oleh Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa disebut Teknologi Panca Kelola yang terdiri dari: (a) pengelolaan air, (b) persiapan lahan, (c) ameliorasi dan pemupukan, (d) varietas dan
Pendahuluan ru 5
cara tanam, (3) pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT).
Pengelolaan air merupakan salah satu kunci utama keberhasilan budi daya padi di lahan rawa pasang surut (Masganti et al. 2015). Pengelolaan air harus mampu memberikan garansi ketersediaan air dalam jumlah yang cukup sesuai fase tumbuh tanaman dan kualitas yang baik. Pengelolaan air yang tepat dapat meningkatkan efisiensi pemupukan, mengurangi risiko keracunan besi dan salinitas, dan meningkatkan kemampuan tanaman beradaptasi dengan perubahan iklim. Pengelolaan air juga berfungsi untuk mempengaruhi reaksi kimia, aktivitas mikroorganisme, dan mengendalikan pertumbuhan gulma.
Pengelolaan air di lahan rawa pasang surut harus disesuaikan dengan tipe luapan air dan jenis tanahnya.
Perbaikan kualitas tanah juga kunci lain untuk keberhasilan pertanian lahan rawa. Hasil penelitian pengapuran tanah di lahan sulfat masam tipe B Unit Tatas, Kalimantan Tengah menunjukkan bahwa pemberian 1,5 t/ha CaCO3 dapat meningkatkan hasil padi sebesar 30%. Sementara itu, hasil penelitian di lahan sulfat masam tipe C Barambai, Kalimantan Selatan menunjukan bahwa pemberian 2 t/ha CaCO3 dapat meningkatkan hasil sebesar 20%
(Noor 2004). Selain pengapuran, aplikasi bahan organik berperan penting di pertanian lahan rawa karena bahan organik dapat memperbaiki sifat fisik tanah, dan menekan oksidasi pirit pada saat tanah kering. Bahan organik berfungsi untuk mempertahankan suasana reduksi sehingga oksidasi pirit dapat ditekan (Noor 2004), dimana bahan organik tanah merupakan sumber proton dalam proses reduksi (Ponnamperuma 1977).
Pemupukan merupakan aspek kunci lainnya di pertanian lahan rawa pasang surut. Kekahatan hara di lahan rawa pasang surut umumnya disebabkan oleh rendahnya pH larutan tanah, sehingga mengakibatkan terganggunya transformasi unsur hara seperti hara N dan P dari bentuk organik menjadi bentuk inorganik, dan terganggunya penyematan N bebas secara
6 Mengelola Sawah Rawa Pasang Surut Bukaan Baru
simbiotik maupun nonsimbiotik. Akibat pH larutan tanah yang rendah juga mengakibatkan rendahnya efisiensi pemupukan P.
Kekahatan P terutama disebabkan karena tersematnya P pada fraksi Al dan Fe terlarut dalam suasana masam. Pemberian fosfat alam berpengaruh nyata meningkatkan pH, P-tersedia tanah, dan berat gabah serta menurunkan Fe2+ pada akhir vegetatif (Batubara et al. 2014), meningkatkan ketersediaan P dan produksi padi di lahan pasang surut (Suriadikarta 2012).
Aspek lainnya adalah pemilihan varietas yang unggul.
Varietas berperan penting terhadap keberhasilan dan peningkatan produksi padi di lahan pasang surut. Hasil uji adaptasi varietas Inpara dan Margasari di lahan pasang surut di Desa Karang Bunga, Kecamatan Mandastana, Kabupaten Barito Kuala, MK 2016 untuk Inpara 2, 4 dan 8, dengan hasil masing- masing 2,73 t/ha, 4.30 ton/ha dan 3.60 ton/ha, sedangkan varietas Margasari 2,51 t/ha (Koesrini et al. 2017).
Pengendalian organisme penggangu tanaman (OPT) berupa hama dan penyakit menjadi hal penting dalam pengembangan padi di lahan rawa pasang surut. Salah satu penyakit yang mematikan untuk tanaman padi di sawah rawa pasang surut adalah penyakit blas yang disebabkan oleh cendawan Pyricularia grisea. Penggunaan varietas yang tahan blast seperti Inpara 2 dapat menjamin produksi yang tinggi. Namun, penyakit blas ini mampu mematahkan ketahanan varietas secara cepat, sehingga varietas unggul tahan blas akan berubah menjadi peka setelah ditanam secara luas selama 2-3 musim tanam berturut-turut (Trisnaningsih dan Nasution 2015). Penanaman minimal 4 varietas secara bergilir merupakan alternatif teknik untuk memutus rantai hama dan penyakit tanaman.
Teknologi budi daya terpadu berupa pengelolaan air, ameliorasi, pemupukan, varietas, cara tanam, dan pengendalian OPT diperlukan untuk meningkatkan produktivitas padi di lahan pasang surut. Pendampingan dan demfarm diperlukan untuk mempercepat proses adopsi teknologi oleh petani.
Pendahuluan ru 7
Buku ini membahas teknologi budi daya untuk sawah rawa pasang surut bukaan baru. Data dan pengalaman para peneliti di Demfarm Talio Hulu seluas 38 ha menjadi insipirasi utama para penulis dilengkapi dengan pengalaman, data, dan informasi dari tempat lain. Cakupan pembahasan buku ini banyak dibahas dari pengalaman sehingga daftar bacaan tidak terlalu banyak. Buku ini bermanfaat untuk praktisi, akademisi, mahasiswa dan peneliti karena menyajikan data dan pengalaman terkini tentang pengelolaan sawah rawa pasang surut bukaan baru.
Bab 2
Khairil Anwar, Vicca Karolinoerita, dan Yiyi Sulaeman
Karakterisasi dan Pengelolaan Air Skala Mikro ru 11
Pengelolaan air skala mikro di lahan rawa bertujuan untuk menyediakan air yang cukup sesuai dengan fase-fase budi daya tanaman pada petakan sawah. Keperluan air ini dapat diidentifikasi dari ketinggian genangan air di petakan sawah.
Tinggi air yang macak-macak, atau ketinggian air genangan di petakan sawah kurang dari 5 cm, sangat diperlukan pada banyak kondisi budi daya padi (Tabel 1).
Tabel 1. Keperluan Air untuk Setiap Fase Budi daya Tanaman
Tahap Budi daya Tinggi muka air (TMA) yang dibutuhkan
Keterangan
1.Penyemaian benih Macak-macak
(0,1-0,5 cm) Setelah bibit tumbuh, TMA adalah 1-2 cm
2.Penyemprotan
herbisida Macak-macak TMA tinggi, gulma terendam
tidak mati
3.Pengolahan tanah 5-15 cm TMA tinggi, TR 2/4 amblas 4.Pemberian bahan
amelioran Macak-macak TMA tinggi, bahan
amelioran larut
5.Tanam Macak-macak TMA tinggi, kesulitan tanam
6.Pemupukan Macak-macak TMA tinggi, pupuk larut 7.Pemberian pestisida
tabur Macak-macak TMA tinggi, pengenceran
8.Fase pematangan Kering Basah, lambat matang
Sumber: Balittra (2020)
Pengaturan tinggi genangan di petakan sawah dilakukan dengan sistem buka-tutup pintu air. Untuk memasukan air, pintu air dibuka saat pasang hingga mencukupi keperluan tanaman, kemudian ditutup jika sudah sesuai keperluan. Untuk menurunkan muka air di petakan pintu air dibuka saat surut.
Pintu air ini menghubungkan antara petak sawah dengan saluran kuarter, saluran yang seringkali menjadi pembatas kepemilikan lahan petani. Pintu air juga dibuat antara saluran kuarter dengan saluran tersier. Beberapa petani juga langsung membuat pintu air antara petak sawah dan saluran kuarter. Pintu air dapat dibuat dari pipa paralon, jumlah bahan dan dimensinya
12 Mengelola Sawah Rawa Pasang Surut Bukaan Baru
disesuaikan dengan kondisi lahan dan keperluan keluar masuknya air. Pipa paralon saat ini sering dijadikan sebagai gorong-gorong, baik yang berdiameter 4 inci, 6 inci atau 8 inci. Pipa paralon ini kemudian dipasangi pipa elbow pada salah satu sisinya yang kemudian ditutup dengan paralon yang sesuai ukurannya.
Kombinasi antara pintu air dan gorong-gorong ini dikenal dengan TASEL yaitu tata air sistem elbow.
Air di petakan sawah berasal dari air pasang dan air hujan. Karena itu, curah hujan penting diketahui dalam perencanaan pembuatan sistem tata air mikro karena akan mempengaruhi ketinggian genangan di petakan sawah. Pada saat hujan air akan memenuhi petakan sawah, untungnya air hujan ini adalah air yang segar dan bebas racun. Intensitas hujan bulanan berupa total curah hujan bulanan merupakan data yange mudah tersedia sehingga memudahkan untuk karakterisasi curah hujan.
Sebagai contoh, pengelolaan air di area Demfarm Talio Hulu bertujuan untuk mengelola air agar tanah gambut pada areal sawah tidak terbakar pada musim kemarau. Selain itu, pengelolaan air dapat membuat sawah bisa ditanami pada musim kemarau dan musim hujan. Berdasarkan analisis data curah hujan di Desa Talio Hulu, kebutuhan air untuk tanaman padi sudah cukup dipenuhi oleh air hujan terutama pada pertanaman musim hujan (Oktober-Pebruari) dimana kebutuhan air tanaman padi (>200 mm/bulan). Pada pertanaman musim kemarau (April- September), pertanaman pada bulan Juni-Agustus (< 200 ml/bulan) membutuhkan pasokan air dari luapan air pasang, khususnya pada bulan Juni-Juli, karena pada bulan Agustus umumnya sudah memasuki periode pematangan gabah atau panen (Gambar 1).
Karakterisasi dan Pengelolaan Air Skala Mikro ru 13 Sumber: Dokumentasi Balittra
Gambar 1. Curah Hujan di Desa Talio Hulu
Pengelolaan air dilakukan berdasarkan tujuan dan permasalahan yang ada di lapangan. Ini berarti bahwa sistem pengelolaan air harus ditetapkan dengan kajian kondisi lapangan terlebih dahulu melalui kegiatan survei hidrologi.
Pengalaman di Talio Hulu, survei kondisi hidrologi dapat mengidentifikasi beberapa masalah air yang ditemukan di areal sawah pasang surut bukaan baru, sebagai berikut:
a) Tingginya muka air saat pasang pada musim hujan, melebihi ketinggian muka lahan sawah (Gambar 2, atas),
b) Ketinggian tanggul penahan luapan air pasang (tanggul sepanjang saluran sekunder/rai) sebagian masih rendah dan belum stabil sehingga masih diluapi air saat puncak pasang besar (Gambar 2, bawah),
14 Mengelola Sawah Rawa Pasang Surut Bukaan Baru Sumber: Khairil Anwar (Balittra)
Gambar 2. Tinggi Muka Air saat Puncak Pasang (Atas);
Tanggul Sepanjang Saluran Sekunder Rendah (Bawah)
c) Sebagian besar saluran drainase/irigasi berupa pipa paralon yang sudah sepanjang saluran sekunder tidak berfungsi dengan baik sehingga air bebas keluar masuk (Gambar 3, atas);
Karakterisasi dan Pengelolaan Air Skala Mikro ru 15 d) Saluran drainase tersier sepanjang hamparan sawah belum
berfungsi dengan baik (Gambar 3, bawah),
Sumber: Khairil Anwar (Balittra)
Gambar 3. Saluran Drainase Berupa Pipa Paralon di Saluran Sekunder Tidak Berfungsi dengan Baik (Atas) dan Saluran Tersier Buntu (Bawah)
16 Mengelola Sawah Rawa Pasang Surut Bukaan Baru
e) Pematang/galengan dalam area persawahan sebagian besar belum ada sehingga tiap blok dalam petak sawah, air bebas keluar masuk,
f) Kemalir/saluran cacing sebagai sarana untuk melancarkan gerakan air dalam petak sawah sebagian besar belum ada sehingga kesulitan dalam membuang air di tengah persawahan (Gambar 4, atas),
g) Saluran sekunder ditumbuhi banyak gulma sehingga menghambat gerakan air keluar/masuk (Gambar 4, bawah),
Sumber: Khairil Anwar (Balittra)
Gambar 4. Sebagian Besar Petak Sawah Tidak Memiliki Saluran Kemalir/Parit Cacing (Atas); Banyak Terdapat Gulma di Saluran Sekunder (Bawah)
Karakterisasi dan Pengelolaan Air Skala Mikro ru 17
h) Pintu air pada saluran sekunder tidak ada atau tidak berfungsi (Gambar 5, atas),
i) Terdapat banyak sekat kanal (2-3 buah/saluran sekunder) dengan ketinggian sekat melebihi ketinggian muka lahan sawah, menghambat gerakan air drainase (Gambar 5, bawah),
Sumber: Khairil Anwar (Balittra)
Gambar 5. Bangunan Pintu Air PUPR Tidak Memiliki Pintu (Atas); Terdapat Sekat Kanal pada Saluran Sekunder (Bawah)
18 Mengelola Sawah Rawa Pasang Surut Bukaan Baru
j) Kawasan belakang saluran berupa hamparan lahan terlantar dan umumnya tidak memiliki jaringan saluran air, berpotensi akan menambah pasokan air pada saluran sekunder (Gambar 6, atas),
k) Lapisan bawah lahan sawah (>50 cm) terdapat lapisan pirit (sumber kemasaman) sehingga membatasi kegiatan pembuatan tanggul dan pendalaman saluran (Gambar 6, bawah),
l) Dalam satu unit pengaturan air (satu saluran sekunder) masih terdapat pertanaman sawit/karet sehingga menyulitkan pengaturan air dalam satu saluran sekunder, m) Terjadi pendangkalan saluran sekunder sehingga
menurunkan daya tampung saluran,
n) Pemukiman penduduk berada pada saluran sekunder yang sama dengan area persawahan sehingga pengaturan air dapat berdampak negatif pada area pemukiman,
o) Keragaman pendapat/kepentingan warga dalam kegiatan pengaturan air di saluran sekunder,
p) Saat kemarau panjang, terjadi intrusi air asin,
q) Masyarakat masih beranggapan bahwa: (a) air sulit dikelola, (b) sekat kanal penyebab air sulit keluar, (c) pemasangan pintu pada bangunan kementerian PUPR yang ada akan menyebabkan lahan pekarangan kebanjiran, (d) pemasangan pintu di muara saluran sekunder menghambat transportasi air.
Karakterisasi dan Pengelolaan Air Skala Mikro ru 19 Sumber: Khairil Anwar (Balittra)
Gambar 6. Ujung Saluran Sekunder Tidak Memiliki Tanggul (Foto Atas); Terdapat Hamparan Sawah NonPadi/Terlantar (Foto Bawah)
20 Mengelola Sawah Rawa Pasang Surut Bukaan Baru
Kondisi-kondisi lapangan di petakan sawah dan sekitarnya ini akan memberikan masukan yang baik untuk perbaikan tata air guna menjamin keperluan air untuk pertumbuhan tanaman.
Kondisi ini berkaitan dengan masalah infrastruktur dan masalah sosial ekonomi.
Kondisi dan masalah infrastruktur memberikan informasi dasar terkait dukungan infrastruktur dalam pengelolaan air.
Selain itu adalah pengamatan dan pemantauan tinggi muka air saluran sekunder saat pasang besar serta pengamatan kualitas air.
Kedua aspek tersebut berguna untuk menentukan sistim tata air yang diterapkan baik skala saluran sekunder maupun petak sawah.
Seperti kasus di Talio Hulu, hasil pengamatan lapangan menunjukkan bahwa saat puncak pasang besar, air pasang meluapi permukaan lahan sawah hingga 40-60 cm. Tinggi muka air tidak merata antarpetak atau antarblok dalam petak, sehingga hasil pengukuran dalam bentuk kisaran. Sementara itu, saat pasang kecil, air pasang tidak mampu meluapi permukaan lahan sawah. Karena petakan sawah terluapi air saat pasang besar saja, sawah tersebut dikategorikan sebagai sawah pasang surut tipe luapan B.
Pasang besar adalah pasang yang terjadi saat bulan purnama atau saat bulan mati, atau awal dan tengah bulan. Waktu pasang besar berbeda antarpetakan tergantung jauhnya dari muara saluran primer. Di Talio pasang besar terjadi setiap tanggal 15 atau saat bulan purnama karena lokasi tidak terlalu jauh dari muara.
Pasang kecil adalah pasang harian. Gambar 7 menunjukkan contoh alat pengamatan dan hasil pengamatan muka air di saluran sekunder 39 yang dilakukan setiap jam di Talio Hulu. Pada jam 18, muka air saluran sekitar 82 cm kemudian menurun hingga jam 24 dengan ketinggian muka air 78 cm. Mulai jam 1 malam muka air saluran naik dan pada jam 5 hingga jam 7 pagi muka air saluran
Karakterisasi dan Pengelolaan Air Skala Mikro ru 21
hingga 140 cm. Mulai jam 8 pagi air muka air mulai menurun hingga 80 cm pada jam 4 sore. Perubahan tinggi muka air begitu terus setiap hari. Fluktuasi ini bisa berbeda antarsaluran sekunder tergantung posisi pengamatan di saluran atau posisi saluran sekunder terhadap muara saluran primer.
Sumber: Balittra (2020)
Gambar 7. Dinamika Tinggi Muka Air Selama 24 Jam saat Pasang Besar pada Rai 39 (Kiri) Menggunakan Alat Pantau Muka Air Sederhana (Kanan)
Pengukuran kualitas air digunakan untuk mengetahui kualitas air yang dijadikan sebagai sumber irigasi untuk petak sawah. Hasil pengukuran tersebut dapat dijadikan dasar dalam mengelola air di area tersebut. Indikator kualitas air yang paling sering digunakan adalah pH, daya hantar listrik (DHL), dan TDS (Total Dissolove Solute). Alat ukur portable tersedia di pasaran sehingga pengukuran bisa mudah dilakukan di lapangan. Seperti juga muka air, kualitas air juga perlu dipantau dan didokumentasikan.
Tabel 2 memberikan contoh kualitas air di saluran sekunder (rai) dan petakan sawah dari sawah rawa pasang surut Desa Talio Hulu. Pada saluran sekunder, pengamatan dilakukan di 4 lokasi yaitu: dekat saluran primer, dekat pintu tabat, bagian tengah dan bagian ujung. Sementara itu, pada petak sawah dilakukan di 3
22 Mengelola Sawah Rawa Pasang Surut Bukaan Baru
lokasi yaitu: bagian depan, bagian tengah dan bagian ujung.
Kualitas air yang ditetapkan adalah pH, DHL, dan TDS menggunakan alat ukur portable.
Tabel 2. Kualitas Air di Saluran dan Petak Sawah di Sawah Rawa Pasang Surut Talio Hulu
Rey Titik pH EC TDS
39 Dekat saluran primer
Saluran sekunder depan dekat tabat Saluran sekunder pertengahan Saluran sekunder ujung
2,7 3,0 3,3 4,3
1.007 818 574 304
472 389 270 139 Petak sawah depan
Petak sawah pertengahan Petak sawah belakang
5.8 6,2 5,5
261 504 312
121 128 129 40 Dekat saluran primer
Saluran sekunder depan dekat tabat Saluran sekunder pertengahan Saluran sekunder ujung
2,7 5,9 6,1 4,4
1.306 457 452 363
610 205 208 167 Petak sawah di depan
Petak sawah pertengahan Petak sawah belakang
3,3 6,1 4,4
450 349 317
207 164 146 41 Dekat saluran primer
Saluran sekunder depan dekat tabat Saluran sekunder pertengahan Saluran sekunder ujung
2,8 5,7 6.1 6,0
1.051 392 355 346
496 174 159 159 Petak sawah di depan
Petak sawah pertengahan Petak sawah belakang
5,9 5,7 5,0
341 525 366
149 234 160 Sumber: Balittra (2020)
Di daerah Talio Hulu, hasil pengukuran di beberapa titik menunjukkan bahwa sumber air di saluran primer (muara saluran sekunder/rai) sangat masam (pH 2,7-2,8), jauh lebih jelek dari air yang ada di saluran sekunder. Kondisi ini terjadi karena saluran primer menampung semua hasil pencucian asam dari sawah seluruh rai yang berada di sepanjang saluran primer, dimana sebagian besar merupakan lahan yang sudah terungkap lapisan piritnya sehingga menjadi penyumbang kemasaman pada air saluran primer tersebut. Posisi rai yang sangat jauh dari Sungai Kahayan (7,713 km) menyebabkan air asam sulit keluar dari ujung saluran primer tersebut, air asam yang mau keluar disaat air surut, terdorong ke hulu saluran primer lagi saat pasang air sungai Kahayan.
Karakterisasi dan Pengelolaan Air Skala Mikro ru 23
Di sawah rawa pasang surut Talio Hulu, memiliki kualitas air lebih baik pada saluran sekunder/rai dan permukaan sawah.
Kondisi ini bisa dijelaskan karena tanah-tanah pada petakan sawah masih dilapisi oleh lapisan gambut pada permukaannya dan air pasang masih meluapi permukaan sawah.
Kualitas air saluran sekunder berbeda antarsaluran tergantung pada jarak saluran air dari muara saluran primer dan daya dorong air yang masuk dan keluar. Kualitas air di rai dan persawahan rai 41 terlihat lebih baik dibanding lokasi lain (rai 39 dan 40), kondisi ini disebabkan pada persawahan rai 41 tersebut topografinya lebih rendah (genangan lebih tinggi) dibanding persawahan rai lainnya sehingga kemampuan mencegah oksidasi senyawa pirit sebagai sumber utama kemasaman menjadi lebih baik.
Sistem tata air merupakan teknik pengaturan arah air untuk pencucian racun berupa asam maupun besi terlarut dari petakan sawah. Sistem ini dapat diterapkan pada tingkat saluran baik sekunder atau kuarter. Sistem ini dapat dipilih sebagai tata air satu arah atau dua arah. Faktor yang perlu dipertimbangkan untuk penentuan sistem tata air ini adalah: kualitas air di saluran, tinggi muka air saat pasang besar, dan intensitas curah hujan.
Sebagai contoh, pada sawah Talio Hulu, sistem tata air dua arah pada skala sekunder dapat diterapkan karena: (i) kualitas air yang jelek di saluran primer, (ii) tinggi muka air saat pasang besar yang tergolong besar, dan (iii) curah hujan dengan bulan basah yang cukup banyak.
Perbaikan lainnya adalah pemasangan atau perbaikan pintu-pintu air. Pada musim hujan, tiap saluran sekunder diterapkan pintu ayun outlet, sehingga air pasang terhambat masuk ke saluran sekunder, namun air dalam saluran sekunder dapat keluar ke saluran primer saat surut.
24 Mengelola Sawah Rawa Pasang Surut Bukaan Baru
Pada musim kemarau, permasalahan yang kadang muncul adalah kekurangan air dibarengi dengan meningkatnya kadar garam (intrusi air asin) terutama pada puncak kemarau (Agustus- September). Untuk itu, upaya konservasi air diperlukan agar permukaan air dapat dipertahankan guna mencegah kebakaran, sedangkan untuk kebutuhan tanaman padi relatif sedikit karena pada puncak kemarau, padi memasuki periode masak kuning/panen. Untuk mendukung konservasi air tersebut, maka diterapkan pintu ayun inlet, arah pintu saat musim hujan dibalik ke arah hulu saluran sehingga air pasang boleh masuk tetapi tidak boleh keluar.
Permasalahan teknis relatif mudah diatasi, sebaliknya permasalahan aspek sosial relatif lebih sulit diatasi. Sebagai contoh kasus di Talio Hulu, pemecahan masalah aspek sosial dilakukan dengan cara:
a. melaksanakan pertemuan antara warga sepanjang saluran sekunder, pemilik sawah, aparat desa, pihak Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, dan pihak BRG (Badan Restorasi Gambut) agar tercapai kesepakatan mengenai: posisi, bentuk, dan ukuran pintu air yang akan dipasang pada tiap saluran sekunder;
b. membentuk P3A (Perkumpulan Petani Pemakai Air) pada setiap saluran sekunder. Tiap satu saluran sekunder ditunjuk satu ketua, dan dibuat kesepakatan tentang pengaturan air tiap saluran sekunder.
Hasil survey hidrologi pertanian di sawah desa Talio Hulu menyarankan adanya perbaikan tata air seperti berikut:
a. Pemasangan pintu sistak (kombinasi pintu ayun satu arah/pintu klep) dengan pintu tabat/stoplog pada saluran sekunder. Saat musim hujan, dipasang sebagai pintu ayun outlet, agar air pasang tidak masuk ke saluran sekunder dan air hujan yang berlebih dapat dikeluarkan.
b. Pengaturan buka-tutup pintu klep untuk memasok kebutuhan air di areal pesawahan. Pada saat musim hujan,
Karakterisasi dan Pengelolaan Air Skala Mikro ru 25
kebutuhan air dapat tercukupi dari curah hujan. Pintu klep dapat dibuka pada saat curah hujan kurang untuk memasukan air pasang besar ke area persawahan. Pada saat musim kemarau, pintu klep dipasang sebagai pintu inlet, pintu stoplog digunakan untuk mencegah intrusi air asin, karena itu dibutuhkan dua slot pintu pada bangunan air seperti yang telah dipasang pihak PUPR saat ini. Ukuran pintu ayun, sebaiknya sesuai ukuran pintu yan dibuat pihak PUPR (lebar 100 cm, tinggi 150 cm). Pihak PUPR sudah menghitung kemampuan drainase/irigasi sesuai kondisi lahan dan hidrologi setempat. Penerapan model pintu ayun pada suatu daerah disesuaikan dengan ketersediaan anggaran dan kesepakatan dengan warga setempat. Contoh beberapa model pintu ayun disajikan pada Gambar 8.
Photo : Khairil Anwar (Balittra)
Gambar 8. Berbagai Model Pintu Ayun/Pintu Klep yang Dapat Dipasang pada Saluran Sekunder c. Peninggian tanggul sepanjang saluran sekunder agar air
tidak meluapi permukaan tanggul saat pasang besar terjadi.
Tinggi tanggul harus lebih tinggi dari muka air saat puncak pasang maksimum pada curah hujan bulanan tertinggi.
Penyusutan tanah tanggul (subsidensi) perlu diantisipasi dengan meninggikan tanggul sekitar 50 cm diatas tinggi muka air saat puncak pasang besar maksimum.
d. Pembersihan gulma sepanjang saluran sekunder agar gerakan air menjadi lancar. Agar saluran sekunder selalu
26 Mengelola Sawah Rawa Pasang Surut Bukaan Baru
bersih dari gulma, pihak P3A yang dibentuk perlu menyepakati pengaturan jadwal dan tenaga dalam kegiatan pembersihan tersebut.
e. Normalisasi kedalaman saluran sekunder agar gerakan air menjadi lebih lancar dan memiliki daya tampung air yang lebih besar. Idealnya, saluran digali sekitar 50 cm dari kondisi saat ini dengan alat berat (eksavator), tanah galian digunakan untuk meninggikan permukaan tanggul. Kegiatan tersebut dapat berdampak terjadinya peningkatan kemasaman air, akibat teroksidasinya senyawa pirit yang terangkat keatas dan larut ke air saat tersiram air hujan atau mendapat luapan air pasang.
f. Normalisasi saluran drainase tersier sepanjang saluran hamparan persawahan agar gerakan air drainase dan irigasi dalam satu hamparan lebih lancar dan antisipasi terhambatnya gerakan air pada saluran sekunder.
Normalisasi dilakukan dengan menggali saluran hingga kedalaman 50 cm di bawah permukaan tanah sawah dengan lebar saluran menjadi 1 m. Saluran yang lebar tersebut juga dapat digunakan untuk mencegah lompatan tikus bila dilakukan pemasangan plastik dibagian galengan persawahan tersebut (Gambar 9).
Karakterisasi dan Pengelolaan Air Skala Mikro ru 27 Sumber: Dokumentasi Balittra
Gambar 9. Saluran Drainase Tersier yang Telah Dilakukan Normalisasi (Atas) dan Galengan/Tanggul Penutup Tiap Petak Sawah (Bawah)
g. Pembuatan galengan/pematang/tanggul penutup agar tiap unit petak sawah memiliki galengan keliling sehingga air tidak bebas keluar masuk ke/dari unit petak sawah.
Galengan yang dibuat dengan ukuran: lebar 40-50 cm dan
28 Mengelola Sawah Rawa Pasang Surut Bukaan Baru
tinggi 30-40 cm dari permukaan tanah. Contoh galengan sepanjang saluran tersier disajikan pada gambar (Gambar 9).
h. Pembuatan saluran keliling disamping galengan keliling tiap unit petak sawah agar gerakan air menjadi lancar, tidak ada air yang terjebak di areal tengah petak sawah. Ukuran saluran kemalir atau saluran cacing semata cangkul atau kedalaman 25 cm, lebar 20 cm (Gambar 10 atas).
Sumber: Dokumentasi Balittra
Gambar 10. Saluran Keliling di Samping Galengan Keliling Tiap Unit Petak Sawah (Atas), Pipa Paralon Sebagai Sarana Pengendalian Arus Air yang Masuk dan Keluar ke/dari Saluran Sekunder (Bawah)
Karakterisasi dan Pengelolaan Air Skala Mikro ru 29
i. Pemasangan pipa paralon lengkap dengan pengendalinya (pipa+knee/elbow) untuk drainase/irigasi dari tiap unit petak sawah ke saluran drainase tersier (penampung) dan pipa paralon dari saluran tersier ke saluran sekunder.
Diameter pipa paralon yang digunakan berukuran 6 inchi, panjang pipa disesuaikan dengan lebar tanggul tempat pemasangan pipa. Tiap pipa dilengkapi dengan knee/elbow dan diatas elbow dipasang pipa penahan arus air dengan ketinggian pipa penutup diatas muka air maksimal. Pipa paralon yang sudah terpasang (Gambar10 bawah).
j. Sekolah lapang teknik pengelolaan air mikro (petak sawah), agar para petani memahami tujuan pengaturan air dan pelaksanaan pembuatan/pemasangan infrastruktur tata air mikro dan teknik pengaturan air di petak sawah (Gambar 11).
30 Mengelola Sawah Rawa Pasang Surut Bukaan Baru Sumber: Dokumentasi Balittra
Gambar 11. Keragaan Sekolah Lapang Pengelolaan Tata Air Mikro
Opsi-opsi perbaikan tata air di atas mungkin sama atau berbeda dari Talio Hulu. Namun, opsi-opsi ini dapat menjadi gambaran dan contoh yang mungkin dapat diterapkan di tempat lain. Opsi teknologi di atas telah diterapkan di sawah Desa Talio Hulu sehingga kelebihan dan kelemahan opsi dapat dievaluasi untuk perbaikan lanjutan dan penyesuaian seperlunya jika opsi tersebut akan diterapkan.
Karakterisasi dan Pengelolaan Air Skala Mikro ru 31
Kajian pengelolaan air di sawah pasang surut Desa Talio Hulu dapat menjadi pembelajaran sebagai sarana perencanaan pengelolaan air ke depan. Selain itu, pengalaman dalam identifikasi, karakterisasi, dan formulasi opsi perbaikan dapat menjadi acuan untuk kajian-kajian serupa di tempat lain khususnya sawah yang mempunyai tipologi rawa yang sama.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada pengelolaan air sawah rawa pasang surut dengan sasaran untuk perbaikan produktivitas padi, antara lain:
a) Pembenahan sistim tata air dilaksanakan sebelum kegiatan budi daya padi karena semua penerapan komponen teknologi budi daya padi membutuhkan pengaturan tinggi muka air di petak sawah agar efektif. Tabel 1 dapat menjadi acuan standar yang dikembangkan berdasarkan penelitian dan pengalaman.
b) Perencanaan pembenahan infrastruktur dan teknis pelaksanan pembenahan tersebut perlu disosialisasikan ke masyarakat/warga tani dan aparat desa setempat dan disepakati bersama agar tidak muncul masalah sosial saat pelaksanaan kegiatan perbenahan atau di kemudian hari saat kegiatan sudah selesai. Aspek ini berkaitan dengan keberlanjutan hasil kegiatan dan rasa kepemilikan dan keterlibatan oleh masyarakat tani setempat dan pemangku kepentingan lainnya.
c) Petani membutuhkan bimbingan/pendampingan dalam pelaksanaan pengelolaan air skala mikro (petak sawah) maupun makro (saluran sekunder) agar mampu mengelola sendiri tata air nya.
d) Penerapan teknologi tepat guna dalam teknik pengaturan air, yang mampu ditiru oleh petani di tempat lain (murah, mudah dan efektif) tanpa bantuan pihak luar (pemerintah/swasta) perlu dijadikan bahan pertimbangan
32 Mengelola Sawah Rawa Pasang Surut Bukaan Baru
untuk membentuk kemandirian petani dalam pengelolaan air.
e) Sekolah lapang yang dilaksanakan di lapangan memberi pemahaman kepada petani pentingnya pengelolaan air untuk mendukung peningkatan produktivitas padi di lahan gambut yang rusak.
f) Kegiatan budi daya padi dapat dilaksanakan sebanyak 2 kali tanam dalam setahun, yaitu musim hujan (mulai Bulan Oktober hingga Maret) dan musim kemarau (mulai Bulan April hingga September). Teknik pengelolaan air telah diperagakan pada musim hujan. Namun, pada musim kemarau, permasalahan air berbeda dengan musim hujan, yaitu: terjadinya kekeringan dan intrusi air asin. Oleh karena itu, pendampingan teknik pengelolaan air masih diperlukan pada pertanaman musim kemarau.
Bab 3
Muhammad Noor dan Muhammad Alwi
Karakterisasi dan Kondisi Tanah ru 35
Tanah merupakan media tumbuh tanaman dimana tanaman memperoleh hara, air dan oxygen. Setelah tata air dibenahi dan dimonitor, karakterisasi dan pemahaman kondisi tanah merupakan aspek lain yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan sawah rawa pasang surut bukaan baru. Bab ini akan mencontohkan bagaimana karakterisasi dan kondisi tanah di sawah pasang surut Talio Hulu.
Persawahan di Desa Talio Hulu dibuka pada tahun 1982 melalui Proyek Pembukaan Persawahan Pasang Surut Surut (P4S). Pemerintah melalui Departemen Pekerjaan Umum waktu itu merencanakan pembukaan persawahan pasang surut secara luas meliputi 5,25 juta hektar di Kalimantan dan Sumatera dengan sistem reklamasi garpu di Kalimantan umumnya dan sistem sisir di Sumatera dan Kalimantan Barat (Noor 2001). Program pembukaan ini dalam rangka mendukung program nasional transmigrasi yang bertujuan untuk meningkatkan produksi padi nasional. Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Talio merupakan bagian dari 11 UPT Pangkoh yang dirancang dengan sistem reklamasi garpu, yaitu dari pinggir sungai Kahayan dibangun saluran primer masuk dilanjutkan saluran sekunder dan pada saluran sekunder dibuat saluran-saluran tersier pada jarak 200- 300 m (LP IPB 1993-Gambar 12 ).
36 Mengelola Sawah Rawa Pasang Surut Bukaan Baru Sumber: Djaenudin dan Suwarno, 1987
Gambar 12. Sketsa UPT Pangkoh (Pangkoh I disebut DIR Talio) Terbagi Menjadi Desa Talio, Talio Muara, dan Talio Hulu
Daerah irigasi rawa (DIR) Talio meliputi Desa Talio, Talio Muara, dan Talio Hulu ini melayani sekitar 18.912 hektar. Desa Talio Hulu sendiri meliputi luas 1.600 hektar (LP IPB 1993).
Menurut informasi petani setempat, lahan sawah rawa di Desa Talio Hulu ini pada awalnya adalah tanah gambut dengan ketebalan > 2 meter. Hasil evaluasi menunjukkan ketebalan gambut di UPT Pangkoh ini dapat mencapai 4 meter (Djaenuddin dan Suwardjo 1987). Setelah penempatan para transmigran umumnya ditanami padi, kemudian melalui beberapa kegiatan proyek pemerintah daerah (Dinas Pertanian) pernah ditanami kedelai dan jagung. Kebakaran lahan yang dialami berkali-kali dan kuatnya serangan hama, khususnya tikus dan serangga hasil
Karakterisasi dan Kondisi Tanah u 37
tanaman yang dicapai petani semakin merosot yang pada akhirnya ditinggalkan sehingga menjadi lahan bongkor berupa semak belukar (Gambar 13). Sebagian besar petani mencari lahan baru yang lebih baik dan produktif di tempat lain.
Sumber: Dokumentasi Yiyi Sulaeman/Balittra
Gambar 13. Lahan Bongkor yang Telah Ditumbuhi Semak Belukar (Atas) dan Pohon Akasia (Bawah)
Setelah beberapa tahun terbengkalai (bongkor), baru kemudian sekitar tahun 2010-2012 melalui program rehabilitasi lahan oleh PT. Sinar Pangan Indonesia (SPI) dilakukan penanaman padi, namun hasil yang dicapai petani tidak memadai yang akhirnya tidak dilanjutkan.
38 Mengelola Sawah Rawa Pasang Surut Bukaan Baru
Berdasarkan kriteria ketebalan gambut dan kedalaman lapisan pirit, tanah-tanah di daerah Talio Hulu termasuk jenis tanah sulfat masam dan/atau tanah gambut. Ketebalan gambut dan kedalaaman pirit pada satu hamparan sawah rawa pasang surut dapat beragam akibat pemanfaatan lahan, pengolahan tanah, penyiapan lahan, penurunan muka tanah (subsiden), kebakaran lahan dan sebagainya.
Menurunnya permukaan air tanah akibat dari pembuatan saluran-saluran, dan pengeringan intensif yang berlangsung lama menyebabkan proses oksidasi, kering tak balik, dan erosi. Proses- proses ini menyebabkan penurunan muka tanah (subsiden) dan penurunan daya jerap tanah sehingga hara mudah tercuci.
Perubahan lingkungan perairan dan proses-proses ini dengan waktu menyebabkan bahan gambut habis, yang jika lapisan bawahnya berupa sedimen marin akan memunculkan tanah sulfat masam dan jika lapisan bawahnya sedimen pasir akan memunculkan tanah pasir. Sebagai tanah pertanian, kedua tipe tanah ini mempunyai produktivitas yang rendah sehingga terbengkalai, tidak dikelola. Hasil rata-rata padi di daerah Desa Talio (Pangkoh I) ini pada kondisi awal hanya 0,5-1,0 ton gabah/ha. Beberapa lokasi UPT Pangkoh ini setelah dievaluasi tidak layak untuk pertanian sehingga sebagian penduduk atau transmigran direlokasikan ke lokasi lain yang lebih baik (Djaenuddin dan Suwardjo 1987).
Bab ini membahas hasil survei karakterisasi dan evaluasi tanah pada sawah pasang surut Talio Hulu. Kegiatan survei dilaksanakan Bulan September 2020. Bab ini memberikan gambaran tentang karakterisasi tanah pada sawah rawa pasang surut bukaan baru. Harapannya, bab ini dapat menjadi acuan bagi kegiatan serupa di tempat lain.
Lokasi kajian berada pada lahan Kelompok Tani Rukun Tani dan Karya Abadi Desa Talio Hulu, dari ray (sekunder) 39 sampai dengan ray 41 dengan hamparan luas persawahan sekitar 38-40
Karakterisasi dan Kondisi Tanah u 39
hektar dengan jumlah kepemilikan sebanyak 25 petani. Lahan ini termasuk areal pasang surut tipe luapan air B dan sebagian tipe luapan A. Permasalahan tata air telah dibahas secara detil pada Bab 2.
Tanah rawa merupakan tanah yang unik dimana keunikannya ditentukan oleh rezim kejenuhan air dan tipe bahan penyusunnya. Karakterisasi dan evaluasi kondisi tanah rawa difokuskan pada sifat-sifat tanah utama atau kunci yang dapat mempengaruhi produktif. Sifat-sifat tanah ini adalah: (i) ketebalan dan kematangan lapisan gambut, (ii) kedalaman lapisan pirit, (iii) kemasaman tanah, (iv) kelarutan Fe dan kation asam (Al dan H), (v) kadar bahan organik, serta (vi) Kadar hara dan kandungan basa-basa. Pembahasan dikhususkan ke kasus Talio Hulu.
Tanah sawah rawa pasang surut Talio Hulu ini dibedakan atas: (i) tanah bergambut jika ketebalan lapisan gambut 50 cm atau kurang, (ii) tanah gambut dangkal jika ketebalan lapisan gambut antara 50 cm dan 100 cm, dan (iii) tanah gambut sedang jika ketebalan lapisan gambut 100 cm atau lebih. Menurut informasi petani, ketebalan lapisan gambut saat dibuka pada tahun 1980 adalah 200 cm atau lebih, namun lapisan gambut ini sering terbakar saat musim kemarau dan akhirnya saat ini menjadi tipis bahkan habis. Djaenuddin dan Suwardjo (1987) melaporkan bahwa ketebalan gambut di daerah UPT Pangkoh ini dapat mencapai 4 meter.
Hasil survei tahun 2020 menunjukkan bahwa tanah sawah bukaan baru Talio Hulu sebagian besar adalah tanah bergambut dengan ketebalan < 50 cm (80%), dan sebagian lainnya termasuk gambut dangkal dengan ketebalan < 100 cm (20%). Survei juga tidak menemukan lapisan gambut dalam > 100 cm, sebagian lapisan gambut sebelumnya habis terbakar sepanjang tahun 1985-2019 (Tabel 3).
40 Mengelola Sawah Rawa Pasang Surut Bukaan Baru
Tabel 3. Sebaran Ketebalan Gambut, Kedalaman Pirit dan Genangan di Petakan Sawah
Kondisi lapang Kelas Kedalaman (cm) Jumlah
titik Persen Ketebalan
gambut
Bergambut <50 20 80
Dangkal 50-100 5 20
Sedang 100-200 0 0
Kedalaman pirit
Sangat Dangkal 0-25 2 8
Dangkal 25-50 9 36
Sedang 50-75 10 40
Dalam >75 4 16
Tinggi genangan
Sangat Dangkal <5 5 22
Dangkal >5 -10 3 14
Sedang >10-20 3 14
Dalam >20-30 9 41
Sangat Dalam >30 2 9
Sumber: Balittra (2020)
Kematangan gambut merupakan sifat tanah lain selain ketebalan jika mengelola tanah gambut. Kematangan gambut di sawah pasang surut Talio Hulu sangat beragam; sebagian masih kelas fibrik dan umumnya kelas hemik sampai saprik. Ini berdampak pada daya dukung tanah pada aplikasi mekanisasi karena tanah yang bersifat fibrik menyebabkan alat berat amblas sehingga perlu modifikasi dengan penambahan pelapung pada traktor roda dua. Tanah gambut yang lebih matang mempunyai daya dukung yang cukup baik.
Kejadian kekeringan dan kebakaran menyebabkan sebagian besar gambut bersifat hidrofobik. Sifat ini menyebabkan tanah gambut terapung atau mengambang di atas permukaan air yang oleh masyarakat di Kalimantan sering disebut ambul (Gambar 14 dan 15). Kondisi lahan pada saat survei menunjukkan sebagian besar tergenang dengan ketinggian muka air antara 20-30 cm (40%), ambul umumnya berada mengambang atau mengapung dengan ketinggian air 30-40 cm, sebagian lainnya ketinggian muka air antara 10-20 cm (28%), dan beberapa lain dangkal dan juga terdapat sangat dalam hingga 60 cm (Tabel 3).
Karakterisasi dan Kondisi Tanah u 41
Kemungkinan sawah Talio Hulu telah mengalami penurunan muka tanah cukup besar. Permukaan petak di lapangan tidak sama bahkan permukaan antarblok dalam satu petak juga beragam. Permukaan petak sawah secara fisik telah mengalami penurunan muka tanah karena kehilangan sebagian gambut, dekomposisi bahan gambut, dan kebakaran lahan.
Sumber: Dokumentasi M. Noor (Balittra)
Gambar 14. Kondisi Lapisan Gambut Bagian Atas yang Mengambang di Permukaan Air (Ambul)
Sifat kering tak balik tanah gambut menyebabkan menurunnya daya jerap tanah terhadap hara tanaman, sehingga hara tersebut mudah tercuci dan tidak dapat digunakan oleh tanaman. Akibatnya, pupuk yang diberikan mudah tercuci dan kurang tersedia untuk pertumbuhan dan produksi tanaman.
Hasil survei tanah memperlihatkan bahwa lahan gambut di lokasi ini telah mengalami subsiden, akibatnya ketebalan lapisan gambut hanya tinggal 20-40 cm. Terjadinya subsiden juga menyebabkan permasalahan lanjutan di wilayah ini. Apabila substratum atau lapisan bawah gambut berupa sedimen marin, tanah sulfat masam akan muncul ke permukaan. Apabila substratumnya berupa pasir kuarsa, tanah akan mengalami
42 Mengelola Sawah Rawa Pasang Surut Bukaan Baru
penurunan kesuburan tanah dan juga mengalami kehilangan air yang lebih cepat. Kedua tanah ini sangat rendah potensinya sebagai lahan pertanian, akibatnya terjadi penelantaran lahan karena produktivitasnya rendah.
Memperhatikan permasalahan ini, upaya pengelolaan yang berwawasan konservasi seyogyanya diterapkan di daerah ini dengan tetap mengacu pada tujuan optimalisasi pemanfaatan lahan agar usahatani berkelanjutan.
Sumber: Dokumentasi Khairil Anwar (Balittra) Gambar 15. Tanah Ambul
Untuk tujuan pengelolaan tanah pertanian, kedalaman lapisan pirit dibedakan atas 4 kelas, yaitu: (i) sangat dangkal jika lapisan pirit berada pada kedalaman ≤25 cm, (ii) dangkal jika lapisan pirit berada pada kedalaman antara 25 dan 50 cm, (iii) sedang jika lapisan pirit berada pada kedalaman antara 50 dan 75 cm), dan