3. Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi 3.1. Campak
Penyakit campak merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Namun dalam pelaksanaannya masih terdapat berbagai kendala terutama di karenakan faktor budaya/kepercayaan yang masih ada dalam masyarakat hingga pada tahun ini masih ditemukan kasus penyakit ini di beberapa wilayah di Kab. Polewali Mandar.
Berdasarkan data P2P (Laporan SST) jumlah penderita penyakit campak dari tahun ke tahun selalu fluktuatif. Pada tahun 2007 ditemukan jumlah penderita sebanyak 134 kasus . Dan tahun 2008 ditemukan kasus sebanyak 133 kasus. Pada tahun 2009 hanya di temukan 13 kasus (terlaporkan) dan tahun 2010-2013 kasus campak yang terjadi masing-masing ditemukan sebanyak 5 dan 8 penderita.
Tahun 2012 kasus campak yang terjadi ditemukan sebanyak 13 penderita. Tahun 2013 kasus campak tidak ada kasus yang
ditemukan. Di Tahun 2014 kasus campak mengalami peningkatan
yang sangat besar yaitu 56 kasus campak yang ditemukan, dari 56 kasus ini campak mengalami kejadian luar biasa ( KLB ) di 2 Puskesmas yaitu, Puskesmas Katumbangan dan Tubbi Taramanu.
Sedangkan di Tahun 2015 jumlah kasus campak meningkat menjadi 110 kasus, jumlah yang sangat signifikan ini terjadi hanya pada satu puskesmas yaitu puskesmas Katumbangan. jika di kaitkan dengan pemberian imunisasi pada bayi umur 0 – 1 tahun, itu berarti masih banyak bayi di bawah umur kurang dari 1 tahun di wilayah kerja puskesmas Katumbangan yang tidak memperoleh imunisasi campak. Oleh sebab itu, petugas kesehatan yang ada di kabupaten dan di Puskesmas harus saling membantu untuk menurunkan angka kasus campak tersebut.
Tahun 2016 jumlah kasus campak mengalami penurunan
yang sangat signifikan dari tahun sebelumnya yaitu hanya ada 2 kasus, kedua kasus terjadi di wilayah puskesmas Mapilli dan
Puskesmas Katumbangan.hal ini terjadi karena partisipasi aktif dan peran serta dari seluruh pihak terkait dalam upaya menurunkan angka kesakitan akibat penyakit Campak dalam hal ini adalah penyakit PD3I.
3.2. Hepatitis
Di bandingkan pada tahun 2006 lalu, di mana penderita Hepatitis B yang berasal dari Puskesmas sebanyak 67 orang. Pada
37
tahun 2007 ini, Berdasarkan laporan P2P-STP Kab. Polewali Mandar tidak ada lagi laporan penderita Hepatitis B, demikian juga ditahun 2008, tahun 2009 dan tahun 2010 belum ada laporan ditemukan penderita Hepatitis B. walaupun ditemukan biasanya yang terdignosa sebagai hepatitis klinis, misalnya berdasarkan laporan tahun STP tahun 2010 masing-masing ditemukan penderita dengan
hepatitis klinis sebanyak 78 kasus. Tahun 2011 ditemukan 15 penderita dengan positif hepatitis B. Tahun 2012 dan Tahun 2013
tidak ada penderita hepatitis B yang ditemukan. Begitu juga dengan tahun 2014 dan 2015 tidak ada penderita hepatitis B yang di temukan. Begitu juga di tahun 2016 tidak ada penderita hepatitis B yang ditemukan.
3.3. Tetanus
Seperti halnya penyakit Rabies, Penyakit tetanus juga memiliki kasus yang jarang namun mempunyai CFR yang tinggi. Untuk tahun 2007, di laporkan terdapat 2 orang penderita tetanus di wilayah Campalagian dan Limboro. Dan tahun 2008 dan tahun 2009 tidak ditemukan atau belum ada laporan penderita Tetanus di Kabupaten Polewali Mandar. Ditahun 2010 berdasarkan laporan STP ditemukan kasus penderita dengan tetanus sebanyak 2 kasus.
Pada tahun 2011 ditemukan kasus sebanyak 46 penderita yaitu 3 ditemukan di kecamatan Tutallu dan 43 ditemukan di wilayah kecamatan Campalagian. Hasil pemantauan terjadi kasus
tetanus (non tetanus neonatorum) dari lima tahun terakhir (2006-2013) sering terjadi diwilayah kecamatan Campalagian dan
sekitarnya seperti yang diperlihat pada peta diatas. Tahun 2012 ditemukan kasus sebanyak 32 penderita, hanya data kasus kabupaten ( laporan Rumah Sakit ), Di tahun 2013 ditemukan 8 kasus tetanus. Pada tahun 2014 dan 2015 kasus tetanus tidak ditemukan, hal serupa terjadi di tahun 2016 kasus tetanus tidak ditemukan. 3.4. Tetanus Neonatorum (TN)
Dengan semakin meningkatnya pelayanan kesehatan oleh bidan desa maupun dukun terlatih akan menurunkan penyakit Tetanus neonatorum. Sedangkan untuk tahun 2007 ini tidak ada laporan kasus TN. Demikian juga pada tahun 2008 tidak ada laporan kasus penderita Tetanus Neonatorum. Namun di tahun 2009 di Temukan satu Kasus Tetanus Neonatourm, terjadi di Kecamatan
38
Balanipa wilayah kerja Puskesmas Pambusuang. Kejadian ini dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa ( KLB) karena pada tahun-tahun sebelum tidak pernah ditemukan kasus. Ditahun-tahun 2010 ditemukan pula satu kasus Tetanus Neonatorum, terjadi di wilayah kerja Puskesmas Matakali. Tidak ditemukan kasus TN di tahun 2011.Tahun 2012 tidak ditemukan kasus Tetanus Neonatorum. Tahun 2013 di temukan satu kasus Tetanus Neonatorum yang terjadi di wilayah kerja Puskesmas Pekkabata dan penderita ini mengalami kematian. Tahun 2014 dan 2015 tidak ada kasus Tetanus Neonatorum yang di temukan, begitu juga di tahun 2016 tidak ada kasus Tetanus Neonatorum yang ditemukan.
C. GIZI
Indikator status kesehatan juga diukur berdasarkan gizi penduduk menurut : status gizi, Anemia, KEK, BBLR, GAKI .
a. Status Gizi.
Berdasarkan hasil pemantauan status gizi Balita tahun 2009 diperoleh informasi bahwa status gizi kurang sebesar 16.2% dan gizi buruk sebesar 1.2%. Untuk lebih jelas status gizi berdasarkan hasil pemantauan status gizi balita (PSG) dari tahun 2006-2012 dapat diperlihatkan dibawah ini. Tahun 2013 Data Status Gizi Menggunakan data Riskesdas.
39
Grafik 13
Status gizi balita kabupaten Polewali Mandar Periode Tahun 2006-2014 0 20 40 60 80 100 120 Gizi Buruk 2.32 2.53 1.6 1.3 0.44 1.19 0.78 5.2 0.42 Gizi Kurang 19.1 17.2 14.4 16.2 2.69 8.12 7.31 27.3 3.33 Gizi Baik 77.4 79.2 83.4 81.5 96.45 89.29 90.49 66.1 97.63 Gizi Lebih 1.2 1.1 1.1 1 0.42 1.4 1.42 1.4 0.55 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
Sumber : laporan Program gizi tahun 2006-2014
Dari grafik diatas status gizi kurang dan buruk dari tahun ketahun (th 2006-2009) masih selalu berada diatas 15 %, menunjukkan bahwa Kabupaten Polewali Mandar belum termasuk daerah bebas rawan gizi. Ditahun 2010, terjadinya penurunan status gizi kurang dan gizi buruk yang sangat signifikan yaitu masing-masing 2.69 % dan 0.44%, namun penurunan ini tidak disertai dengan penurunan penemuan kasus-kasus gizi buruk selama tahun 2010. Ditahun 2011 status gizi kurang dan buruk masih berada dalam presentase 9,32 %. Tahun 2012 status gizi kurang dan buruk mengalami penurunan dari tahun sebelumnya dengan presentase 8,09%. Di tahun 2013 jumlah kasus gizi buruk yang ditemukan 80 kasus dan semuanya mendapat perawatan (100%). Dan Hasil Reskesdas menunjukkan Daerah Polewali Mandar Masih merupakan Wilayah dengan status sangat Berat akan masalah Gizi Masyarakat. Tahun 2014 jumlah kasus gizi buruk mengalami sedikit penurunan, yang di temukan sebayak 75 kasus. Tahun 2015 jumlah kasus gizi buruk mengalami penurunan menjadi 46 kasus dan semuanya mendapat perawatan (100%). Tahun 2016 jumlah kasus gizi buruk menurun dari tahun sebelumnya menjadi 29 kasus gizi buruk yang di temukan dan mendapat perawatan ( 100% ).
40
b. AnemiaSalah satu penyebab kematian pada ibu melahirkan adalah anemia yang disebabkan kekurangan zat besi (Fe). Upaya penanggulangan anemia melalui pemberian tablet Fe, dari tahun 2007-2011 sangat dipengaruhi oleh ketersediaan dan distribusi serta konsumsi tablet Fe, seperti terlihat ditahun 2007-2011, adanya peningkatan pemberian Fe tahun 2008 dikarenakan stok tabket Fe (tablet Tambah darah) yang cukup, sementara stok yang kurang terlihat di tahun 2007. Tahun 2009 dan 2010 cakupanya kurang lebih sama yaitu masing-masing seperti yang terlihat pada tabel berikut :
% Fe 1
Grafik 14
CAKUPAN PEMBERIAN TABLET FE1 DAN FE3 KAB. POLEWALI MANDAR SELAMA 2007- 2016
% Fe 1 11.0 70.0 76.5 65.2 93.5 95.8 91.5 93 98 68 % Fe 3 10.5 58.6 68.0 64.4 69.6 72.1 75.4 78 79 71 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
Sumber : Bagian program Perbaikan Gizi 2016
Di tahun 2009 pemberian tablet Fe ( tablet tambah darah) pada ibu hamil sebesar 76.5 % dan pemberian Fe3nya yaitu 68.0 %. Ditahun 2010 cakupan Fe 1 atau pemberian tablet Fe pada ibu hamil sebanyak 30 butir untuk bulan pertama pada masa kehamilannya dicapai sebesar 65,2 % dan sedikit mengalami penurunan pada pemberian tablet yang ketiga kalinya (Fe3) 90 butir menjadi 64,41%. Ada peningkatan atau pencapaian target diatas 80% (yaitu 93.5%) pemberian Fe1 ditahun 2011, namun mengalami penurunan pada pemberian Fe3 sampai dibawah 80% ( yaitu 69.6%). Tahun 2012 terjadi peningkatan pemberian tablet Fe1 sebanyak 95,8% dan tablet Fe3 sebanyak 72,1%. Tahun 2013 terjadi penurunan pemberian tablet Fe1 sebanyak 91,49% dan terjadi peningkatan pemberian tablet Fe3 sebanyak 75,38%. Pada Tahun 2014
41
terjadi peningkatan Pemberian Tablet Fe1 sebanyak 93% dan Tablet Fe3 sebanyak 78%, begitu juga di Tahun 2015 Pemberian Fe1 pada ibu hamil sudah 98% dan pemberian Fe3 sudah 79%. Hal ini berarti penderita Anemia pada ibu hamil umumnya sudah mulai berkurang karena tingginya angka pemberian Tablet Fe pada ibu hamil. Tahun 2016 Pemberian Fe1 pada Ibu hamil mengalami penurunan yang sangat signifikan dari tahun sebelumnya persentase hanya 68% sedangkan pemberian Fe3 juga mengalami penurunan dari tahun sebelumnya persentase hanya 71%, hal ini berarti Penderita Anemia Pada Ibu hamil mengalami peningkatan yang cukup tinggi dari tahun sebelumnya, hal ini perlu mendapat perhatian yang cukup serius dari pihak terkait terutama petugas kesehatan yang ada di Puskesmas dan Dinas Kesehatan yang seharusnya bertanggung jawab penuh terhadap menurunannya Pemberian Tablet Fe1 dan Fe3 pada Ibu hamil, karena hal ini sangat fatal akibatnya bagi ibu hamil yang anemia.
c. BBLR ( Berat Badan Lahir Rendah )
BBLR yaitu Bayi yang dilahirkan dibawah 2500 gram. Keadaan gizi ibu hamil yang kurang adalah penyebab utama terjadinya BBLR, disamping itu juga keadaan kesehatan atau gangguan kesehatan ibu hamil adalah penyebab lainnya yang mengakibatkan terjadinya BBLR ketika bayi dilahirkan atau kematian pada bayi dengan BBLR.
42
Gambar. 2Peta wilayah Persentase Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) kecamatan diatas dan dibawah capaian
di Kab. Polewali Mandar tahun 2014
Kasus BBLR diatas Kab. (> 4.1 %) = perlu perhatian Limb oro
Polewali Tap an g o
Won omu lyo An reap i Allu Mat an g n g a Mat akali Bat u p an g a Bin u an g Balan ip a Camp alag ian
Map illi Tu t ar Bu lo Lokasi Puskesmas Teluk Mandar Kab. Pinrang Sul-Sel Kab. Mamasa Kab. Majene Jalan Propinsi
Kasus BBLR dibawah kab. ( < 4.1% )= dipertahankan Tin amb u n g
Pada masa kehamilan ibu perlu mendapat perhatian khusus bukan saja keadaan gizinya tetapi juga keadaan kesehatannya terutama penyakit-penyakit yang berhubungan dengan kehamilan misalnya preklampsia, hiperemisis gravidarum dan lain-lain, oleh karena dampak yang ditimbulkan bukan saja pada berat yang tidak cukup, tetapi dengan bayi BBLR memiliki kemungkinan kecil untuk tumbuh dan perkembangan dengan baik, dan lebih mudah terserang penyakit dan bahkan beresiko terjadi kematian bayi.
Laporan KIA pada tahun 2007, dari 8.676 persalinan terdapat sebanyak 173 persalinan (7,94%) adalah BBLR, bila di perhatikan pada tahun 2005 menyebutkan bahwa diantara 6113 persalinan terdapat 1.77% adalah BBLR. Tahun 2006 terjadi peningkatan BBLR yaitu naik 2,2% dari 6069 persalinan. Dan tahun 2008 dari 8879 persalinan ditemukan penurunan kasus BBLR yaitu yang ada 151 kasus atau 1.2% yang BBLR. Ditahun 2009 ditemukan kasus BBLR sebanyak 154 dari 7172 kelahiran hidup, tahun 2010 ditemukan kasus 212 (2.9%) dari 7298 kelahiran hidup dan tahun 2011 ditemukan kasus BBLR sebanyakk 225 atau 3.0% dari 8.062 bayi yang lahir hidup. Tahun 2012 ditemukan kasus BBLR sebanyak 355 atau 4,0% dari 8,749 bayi yang lahir hidup. Tahun 2013 ditemukan 352 kasus BBLR atau 4,2% dari 8,355 bayi lahir hidup. Tahun 2014 ditemukan 282 kasus BBLR atau 3,7% dari 7.694 bayi lahir hidup. Tahun 2015 jumlah kasus BBLR mengalami peningkatan sebanyak 418 atau 5% dari 8.336 bayi lahir hidup.Tahun 2016 jumlah kasus BBLR mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya sebanyak 446 kasus atau 5,6% dari 8.150 bayi lahir hidup.
43
BAB IVSITUASI UPAYA KESEHATAN