• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.2 Hipotesis Penelitian

Ada hubungan Klirens kreatinin dengan terjadinya peningkatan nilai ambang dengar pada penderita penyakit ginjal kronik.

BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1 Rancangan Penelitian

Penelitian yang dilakukan adalah penelitian epidemiologis observasional analitik dengan pendekatan cross sectional untuk menelaah hubungan antara ambang dengar dengan klirens kreatinin pada penderita penyakit ginjal kronik.

4.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian dan pengambilan sampel dilakukan di klinik Penyakit Dalam RSUD Dr Saiful Anwar Malang. Pemeriksaan audiometri nada murni dilakukan di klinik THT bagian neurotologi RSUD Dr Saiful Anwar Malang oleh perawat yang bertugas.

Pemeriksaan darah dilakukan di laboratorium sentral RSUD Dr Saiful Anwar Malang.

Penelitian dilakukan setelah didapatkan ethical clearance sampai jumlah sampel yang diperlukan terpenuhi.

4.3 Populasi dan Sampel Penelitian 4.3.1 Populasi Penelitian

Populasi penelitian ini adalah semua penderita dengan LFG <60ml/menit/1.73m2 yang berobat ke klinik penyakit dalam RSUD Dr Saiful Anwar Malang. Sampel penelitian adalah penderita LFG 15-60 mL/menit/1.73m2 yang berobat ke klinik penyakit dalam RSUD Dr Saiful Anwar Malang yang memenuhi kriteria inklusi.

4.3.2 Sampel Penelitian

4.3.2.1 Besar Sampel Penelitian

Besar sampel (n) dihitung dengan rumus berikut:

𝑛 = 3

r = Nilai korelasi berdasarkan pustaka, yaitu korelasi menurut penelitian Erkoc yang meneliti hubungan kadar hormon paratiroid dengan densitas tulang kapsul otik pada penderita tulisensorineural dengan penurunan fungsi ginjal yatu sebesar -0,605

= 35.09 atau dibulatkan menjadi 36 orang

Sehingga didapatkan jumlah sampel yang dibutuhkan adalah 36 orang.

4.3.2.2 Tehnik Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan tehnik consecutive sampling dengan kriteria inklusi dan eksklusi :

Kriteria inklusi sampel :

1. Penderita penyakit ginjal kronik dengan LFG 15-60ml/menit/1.73m2 yang datang berobat ke klinik penyakit dalam RSUD Dr Saiful Anwar Malang yang terdiagnosis dan mendapatkan terapi sesuai SPM (Standar Pelayanan Medis) sejak 3 bulan terakhir .

2. Penderita dengan rentang usia 19-65 tahun saat dilakukannya penelitian.

3. Penderita bersedia untuk ikut serta dalam penelitian dengan menandatangani pernyataan bersedia ikut serta dalam penelitian setelah mendapatkan penjelasan.

Kriteria eksklusi adalah sampel dengan kelainan anatomi telinga, tuli kongenital/sejak lahir dan penyakit telinga luar dan tengah yang dapat mengakibatkan penurunan pendengaran secara permanen dengan melihat hasil pemeriksaan otoskopi.

4.4 Variabel Penelitian 4.4.1 Variabel bebas

Klirens Kreatinin 4.4.2 Variabel tergantung

Tuli sensorineural

4.4.3 Definisi Operasional Variabel

1. Klirens Kreatinin atau bersihan kreatinin adalah kemampuan ginjal untuk membersihkan suatu zat dalam waktu 1 menit. Klirens kreatinin dihitung menggunakan formula berdasarkan umur, jenis kelamin, tinggi badan, berat badan dan banyaknya urine dalam waktu 24jam.

2. Ambang Dengar adalah rerata intensitas terendah yang dapat didengar oleh sampel pada frekuensi 500, 1000, 2000 dan 4000 Hz pada pemeriksaan audiometri, dinyatakan dalam satuan desibel (dB).

3. Tuli sensorineural adalah hasil pemeriksaan sebagai berikut :

 Ambang dengar >25 dB dengan (Air Conduction dan Bone Conduction berhimpit) dari pemeriksaan audiometri,

 Timpanogram tipe A/Ad berdasaran pemeriksaan timpanometri

4. Disfungsi koklea didefinisikan sebagai kondisi tuli sensorineural dengan hasil pemeriksaaan SISI 70-100% dan Pemeriksaan Tone Decay < 25 dB.

5. Laju filtrasi glomerulus adalah estimasi fungsi ginjal yang berdasarkan perhitungan MDRD, dinyatakan dalam mL/menit/1,73 m2.

6. Diabetes melitus adalah kondisi yang ditandai dengan pemeriksaan gula darah sewaktu > 200mg/dL, HbA1C > 6.5 % atau sedang mengkonsumsi obat antidiabetes oral maupun injeksi. Dinyatakan sebagai DM atau Tidak

7. Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg atau tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada pemeriksaan atau sedang mengkonsumsi obat anti hipertensi. Dinyatakan sebagai HT atau Tidak.

8. Audiometri nada murni adalah pemeriksaan pendengaran dengan menggunakan alat audiometer dimana penderita diminta untuk mendengarkan nada murni dari beberapa frekuensi dan desibel tertentu kemudian hasil pendengaran dicatat dan disajikan ke dalam bentuk grafik audiogram.

9. Ototoksik adalah obat-obatan/zat kimia yang dapat merusak sel rambut luar koklea yang terdiri atas obat-obat golongan aminoglikosida, eritromisin, furosemid, kina dan klorokuin serta cisplatin.

10. Paparan bising adalah pengakuan penderita bahwa yang bersangkutan bekerja lebih dari 8 jam sehari selama minimal 5 tahun pada tempat tertutup dengan adanya bunyi keras secara terus menerus.

4.5 Prosedur Pengambilan Data 4.5.1 Instrumen Penelitian

1. Alat pemeriksaan telinga yaitu lampu kepala, pemilin kapas, kapas dan otoskopi. Otoskopi yang digunakan adalah Heine mini 3000.

2. Alat pengukur tekanan darah yaitu tensimeter raksa dan stetoskop

3. Alat audiometri nada murni merk Interacoustics AA222 yang telah terkalibrasi.

4. Alat pengambil sampel darah yaitu spuit steril 5 cc, sarung tangan steril, alkohol, kapas, label dan vacutainer steril

5. Alat pengukur sampel darah yaitu Cobas 6000 yang telah terkalibrasi.

4.5.2 Persiapan

1. Membuat proposal penelitian, lembar pengumpul data, dan surat persetujuan ikut serta penelitian.

2. Memberikan penjelasan tentang penelitian ini kepada mitra kerja yang terdiri dari dokter dan perawat di klinik penyakit dalam RSUD Dr Saiful Anwar Malang serta perawat yang bertugas di klinik THT-KL bagian neurotologi RSUD Dr Saiful Anwar Malang.

4.5.3 Pelaksanaan

4.5.3.1. Pemeriksaan Pendengaran

1. Rekam medik sampel yang berobat ke klinik penyakit dalam RSUD Dr Saiful Anwar Malang dipilih dan diambil data sekunder berupa identitas, lama mengidap penyakit dan pengobatan yang telah diberikan.

2. Dengan menggunakan tensimeter raksa dilakukan pengukuran tekanan darah.

3. Sampel yang memenuhi kriteria inklusi diberi penjelasan mengenai tujuan penelitian dan rencana pemeriksaan yang dilakukan. Bila bersedia ikut dalam penelitian, selanjutnya menandatangani surat persetujuan ikut dalam penelitian.

4. Sampel diantar ke laboratorium sentral RSUD Dr Saiful Anwar Malang untuk dilakukan pemeriksaan darah (kadar 25(OH)D), dengan cara bagian volar lengan bawah dibersihkan dengan alkohol. Darah vena diambil dengan menggunakan spuit steril 5 cc sebanyak 5 cc kemudian sampel darah yang

telah diambil dimasukkan ke dalam vacutainer yang tidak berisi EDTA dan dilakukan pemeriksaan darah..

5. Dilakukan pemeriksaan audiotimpanometri di poliklinik THT bagian neurotologi RSUD Dr Saiful Anwar Malang sesuai dengan standar operasional prosedur audiotimpanometri dari SMF THT RSUD Dr Saiful Anwar Malang oleh perawat yang ditunjuk. Prosedur tindakan sebagai berikut44 :

 Penderita dalam posisi duduk dengan arah membelakangi pemeriksa

 Audiometer interacoustics AA222 dihidupkan, tombol-tombol pengoperasian alat diatur dan headphone dipasang tepat di depan telinga

 Berikan perintah sederhana dan jelas kepada pasien untuk menekan tombol respon bila mendengar bunyi /nada sekecil apapun

 Lakukan pemeriksaan dari telinga yang keluhannya lebih ringan

 Dilakukan pemeriksaan hantaran udara (AC) dimulai dari frekuensi 1000 Hz dengan memberi sinyal pada intensitas 0 dB, kemudian naik 10 dB, sampai memperoleh ambang dengar. Dilanjutkan dengan pemeriksaan pada nada 2000, 4000,8000, 1000, 500 Hz dengan cara yang sama

 Berikan secara ireguler pada setiap pemberian nada sebanyak 2-3 kali rangsangan

 Lakukan pemeriksaan hantaran udara pada kedua telinga

 Hasil tes dicatat pada formulir audiogram, dengan simbol (0) menggunakan spidol merah untuk telinga kanan dan simbol (x) menggunakan spidol biru untuk telinga kiri. Hubungkan dengan garis tegas hingga membentuk grafik

 Lakukan pemeriksaan hantaran tulang atau BC dengan cara : o Ganti headphone dengan bonefibrator

o Pasang bonefibrator pada os mastoid dengan sedikit penekanan

o Lakukan pemeriksaan dengan cara yang sama pada hantaran udara hanya frekuensi dan intensitas terbatas yaitu : 500 Hz, 1000 Hz, 2000 Hz, 4000 Hz.

o Catat respon pasien pada formulir audiogram dengan menggunakan simbol (<) untuk telinga kiri dan simbol (>) untuk telinga kanan, hubungkan dengan titik-titik sehingga membentuk grafik

 Jika perlu dilakukan masking pada hantaran udara (AC) dan hantaran tulang (BC).

 Dilakukan pemeriksaan timpanometri

 Dokumentasi hasil audiotimpanometri dalam formulir audiotimpanogram.

 Dilanjutkan pemeriksaan SISI : o Tentukan ambang dengar

o Berikan rangsang 20 dB di atas ambang dengar

o Tiap 5 detik diberikan bunyi naik secara otomatis sebanyak 1 dB sampai 20 kali

o Dihitung berapa kali pasien dapat membedakan bunyi tersebut

o Rekrument positif jika skor 70-100% dan dinyatakan sebagai tuli koklea

 Dilanjutkan pemeriksaan Threshold Tone Decay

o Pasien diberikan rangsang terus-menerus 5 dB di atas ambang dengar hingga pasien tidak mendengar.

o Saat sudah tidak mendengar, rangsang dinaikkan 5 dB hingga pasien mendengar kembali, kemudian dilanjutkan sampai pasien tidak bisa mendengar lagi.

o Hal dilakukan berulang hingga total lama pemeriksaan 60 detik.

o Positif bila lebih dari 25 dB 4.5.3.2. Pemeriksaan Darah

a. Pengambilan Sampel Darah

Sampel darah yang diperlukan sejumlah 10 ml darah vena dalam tabung vacutainer dilengkapi dengan antikoagulan EDTA dan 2,5 ml darah vena dalam tabung vacutainer tanpa antikoagulan.

b. Pengukuran kadar vitamin D serum

Pengukuran kadar vitamin D serum menggunakan sampel serum yang berasal dari darah vena. Pada penelitian ini digunakan kit komersial ORGENTEC 25-OH Vitamin D3/D2 Assay (Alegria; Mainz, Deutschland). Pengukuran kadar vitamin D secara

kuantitatif dilakukan berdasarkan metode ELISA yang dibaca dengan spektrofotometri pada panjang gelombang 650 nm.

4.6 Kerangka Operasional

Sampel yang memenuhi kriteria inklusi

Diberikan penjelasan (tujuan penelitian, manfaat, resiko penelitian) lalu meminta persetujuan dengan didampingi dua saksi

(mengisi form)

Tatalaksana sesuai Standar Pelayanan

Medik (SPM)

Setuju Tidak Setuju

Pemeriksaan Audiometri, Timpanometri, SISI, Tone Decay.

Pengambilan sampel 25(OH)D Serum Informed Consent

Pengumpulan dan Tabulasi Data

Analisis Data

Laporan Hasil Penelitian

4.7 Analisis Data

1. Distribusi karakteristik sampel penelitian dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel frekuensi distribusi.

2. Hubungan kadar 25(OH)D (numerik) dengan ambang dengar (numerik) diuji dengan menggunakan uji Spearman. Faktor-faktor lain yang mungkin memengaruhi terjadinya tuli akan diuji dengan path analysis dengan cara untuk membandingkan korelasinya. Bila tidak terdapat hasil yang signifikan maka hasil yang didapat akan diolah lebih lanjut secara deskriptif.

4.8 Jadwal Penelitian

No Kegiatan Bulan

1 2 3 4 5

1 Pembuatan usulan X 2 Persetujuan usulan X

3 Pengumpulan data X X X

4 Pengolahan data X X

5 Penulisan laporan X

6 Penyajian laporan X

BAB 5

HASIL PENELITIAN

Penelitian dilakukan pada bulan Juni hingga Oktober 2016 dengan jumlah sampel sebanyak 36 orang yang memenuhi kriteria penelitian dan telah setuju untuk ikut dalam penelitian.

5.1 Karakteristik Subyek Penelitian

Karakteristik subyek yang didata dalam penelitian ini meliputi variabel jenis kelamin, usia, diabetes, hipertensi, paparan bising, ototoksik, hasil pemeriksaan laboratorium meliputi ureum, kreatinin serum, 25(OH)D, dan perhitungan laju filtrasi glomerulus.

Tabel 5.1 Karakteristik Subyek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin, Hipertensi, Diabetes, Ototoksik, dan Paparan Bising

Variabel (n=36) N Jenis Kelamin

Pria 18

Wanita 18

Hipertensi

Ya 28

Tidak 8

Diabetes

Ya 23

Tidak 13

Ototoksik

Ya 5

Tidak 31

Paparan Bising

Ya 8

Tidak 28

Subyek penelitian sama, baik pria dan wanita masing-masing sebesar 50%, Sebanyak 77,78% memiliki faktor resiko penyakit hipertensi dan 63,89% memiliki faktor resiko penyakit diabetes. Sebanyak 13,89% memiliki faktor resiko ototoksik dan 22,22%

memiliki riwayat terpapar bising.

Tabel 5.2 Karakteristik Subyek Penelitian Berdasarkan Usia, Ureum, Kreatinin, 25(OH)D, dan Laju Filtrasi Glomerulus

Variabel Mean Terendah Tertinggi

Usia (tahun) 51,36 ± 8,89 25 64

Ureum (mg/dL) 51,56 ± 19,06 23,1 95,10

Kreatinin (mg/dL) 2,01 ± 0,64 1,24 4,01

25(OH)D (ng/dL) 17,26 ± 8,74 <5* 47,8

Laju Filtrasi Glomerulus

(mL/menit per 1,73 m2) 35,06 ± 10,54 17,10 52,70 Keterangan : *perhitungan menggunakan nilai 4,9

Rerata usia subyek penelitian adalah 51,36 ± 8,89 dengan usia termuda 25 tahun dan tertua 64 tahun. Rerata hasil pemeriksaan laboratorium ureum subyek penelitian adalah 51,56 ± 19,06 mg/dL dengan kadar terendah 23,1 mg/dL dan tertinggi 95,1 mg/dL. Rerata hasil pemeriksaan kreatinin serum subyek penelitian adalah 2.01 ± 0.64 mg/dL dengan kadar terendah 1,24 mg/dL dan tertinggi 4,01 mg/dL. Rerata hasil pemeriksaan laboratorium 25(OH)D subyek penelitian adalah 17,26 ± 8,74 mg/dL dengan kadar terendah kurang dari 5 ng/mL dan tertinggi 47,8 ng/mL. Rerata hasil pemeriksaan laju filtrasi glomerulus subyek penelitian adalah 35,06 ± 10,54 mg/dL dengan kadar terendah 17,1 mg/dL dan tertinggi 47,8 mg/dL.

5.2 Hasil Pemeriksaan Audiometri

Ambang dengar yang dapat digolongkan sebagai tuli adalah apabila lebih dari 25 dB sedangkan tuli dianggap berat/menggaggu apabila lebih dari 40 dB.

Tabel 5.3 Hasil Pemeriksaan Audiometri

Hasil Audiometri

Telinga (n=72)

Kanan (n=36) Kiri (n=36) Total

n % N % n %

Normal 15 41,67% 13 36,11% 28 38,9%

Tuli 21 58,33% 23 63,89% 44 61,1%

>25-40 dB 15 41,67& 19 52,78% 34 47,2%

>40 6 16,66% 4 11,11% 10 13,9%

Pada telinga kanan, sebanyak 41,67% subyek penelitian yang normal. Terdapat 58,33% subyek penelitian yang menderita tuli dengan 41,67% mengalami tuli sedang dan 16,66% mengalami tuli berat dan mengganggu. Pada telinga kiri, sebanyak 36,11%

subyek penelitian yang normal. Terdapat 63,89% subyek penelitian yang menderita tuli dengan 52,78% mengalami tuli sedang dan 11,11% mengalami tuli berat dan mengganggu. Jika dipilih ambang dengar terbaik dari 2 telinga yang dimiliki pasien, sebanyak 14 subyek penelitian memiliki ambang dengar normal dan 22 subyek penelitian menderita tuli dengan 19 menderita tuli sedang dan 3 menderita tuli berat dan mengganggu.

Tabel 5.4 Karakteristik Ambang Dengar Terbaik

Hasil Audiometri Telinga Terbaik (n=36)

N %

Normal 19 52,78%

Tuli 17 47,22%

>25-40 dB 14 38,89%

>40 dB 3 8,33%

Jika dipilih ambang dengar terbaik dari 2 telinga yang dimiliki pasien, sebanyak 52,78% subyek penelitian memiliki ambang dengar normal dan 47,22% subyek penelitian menderita tuli dengan 38,89% menderita tuli sedang dan 8,33% menderita tuli berat dan mengganggu.

5.3 Analisis Statistik 5.3.1 Uji Normalitas

Sebelum dilakukan analisis statistik, terlebih dahulu data numerik dilakukan uji normalitas untuk melihat apakah data terdistribusi normal atau tidak.

Tabel 5.5 Uji Normalitas Variabel Laju Filtrasi Glomerulus dan Ambang Dengar

Variabel Nilai p

Laju Filtrasi Glomerulus 0,024b* Ambang Dengar Kanan 0,204b* Ambang Dengar Kiri 0,291b* Ambang Dengar Rerataa 0,266b*

* p > 0,05

a Pada telinga yang lebih baik

b Setelah ditransformasikan

Dari Uji normalitas Shapiro-Wilk, ambang dengar kanan, ambang dengar kiri, dan ambang dengar rerata masing-masing mempunyai nilai signifikansi sebesar 0,204, 0,291, dan 0,266 sehingga dapat disimpulkan bahwa untuk variabel-variabel tersebut berdistribusi normal (p>0,05). Sedangkan variabel laju filtrasi glomerulus mempunyai nilai signifikansi sebesar 0,024 sehingga dapat disimpulkan bahwa untuk variabel tersebut tidak berdistribusi normal (p<0,05).

5.3.2 Uji Korelasi

Untuk mengetahui hubungan antara laju filtrasi glomerulus dengan ambang dengar, aka perlu dilakukan pengujian secara statistik dengan uji korelasi.

Tabel 5.6 Uji Korelasi Ambang Dengar Kanan Terhadap Variabel Laju Filtrasi Glomerulus

Variabel Koefisien relasi (r) p Laju Filtrasi Glomerulus 0,254 0,134

Berdasarkan uji Spearman, tidak terdapat korelasi bermakna antara laju filtrasi glomerulus terhadap ambang dengar kanan pada penelitian ini (p>0,05).

Tabel 5.7 Uji Korelasi Ambang Dengar Kiri Terhadap Variabel Laju Filtrasi Glomerulus

Variabel Korelasi relasi (r) p Laju Filtrasi Glomerulus 0,316 0,060

Berdasarkan uji Spearman, tidak terdapat korelasi bermakna antara laju filtrasi glomerulus terhadap ambang dengar kanan pada penelitian ini (p>0,05).

Tabel 5.8 Uji Korelasi Ambang Dengar Rerataa Terhadap Variabel Laju Filtrasi Glomerulus

Variabel Korelasi relasi (r) p Laju Filtrasi Glomerulus 0,282 0,095

Keterangan : apada telinga yang lebih baik

Berdasarkan uji Spearman, tidak terdapat korelasi bermakna antara laju filtrasi glomerulus terhadap ambang dengar kanan pada penelitian ini (p>0,05).

5.3.3 Uji Beda

Subyek dibagi menjadi kelompok normal dan tuli berdasarkan ambang dengar pada telinga yang lebih baik agar 1 subyek hanya memiliki 1 nilai ambang dengar.

Telinga dengan ambang dengar > 25 ssdB akan dikelompokkan sebagai tuli. Pembagian ini tidak memperhitungkan hasil timpanometri, tes SISI dan tone-decay.

Gambar 5.1 Pembagian Subyek untuk Uji Beda 47,2%

52,8%

Normal Tuli

Subyek dengan ambang dengar pada telinga yang lebih baik > 25dB adalah sebanyak 17 orang sedangkan subyek dengan ambang dengar pada telinga yang lebih baik ≤ 25dB adalah sebanyak 19 orang.

Perbedaan variabel antar kelompok normal dan tuli dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney pada variabel numerik yang tidak berdistribusi normal.

Tabel 5.9 Uji Beda Antara Kelompok Tuli Dengan Normal

Kategori Normal (n = 19) Tuli (n = 17) Nilai p

n % X ± SD n % X ± SD

Laju Filtrasi Glomerulus - - 37,68 ± 9,38 - - 32,71 ± 11,21 0,159

Berdasarkan hasil analisis uji beda di atas, tidak ada perbedaan signifikan (p>0,05) antara kelompok normal dan tuli pada variabel laju filtrasi glomerulus.

5.4 Analisis Variabel eGFR

Hasil perhitungan laju filtrasi glomerulus pada subyek penelitian dibagi berdasarkan statusnya.

Tabel 5.10 Status nilai eGFR

Status Jumlah (n=36)

n %

Normal (≥90 mL/min/1.73m2) - -

Penyakit Ginjal Ringan (60-89,99 mL/min/1.73m2) - - Sedang (45-59,99 mL/min/1.73m2) 10 27,78%

Berat (30-44,99 mL/min/1.73m2) 11 30,55%

Sangat Berat (15-29,99 mL/min/1.73m2) 15 41,67%

Gagal Ginjal (<15 mL/min/1.73m2) - -

Tidak ada subyek penelitian dengan eGFR lebih dari 90 mg/dL. Tidak ada subyek penelitian dengan eGFR antara 60 – 89,99 mg/dL. Sebanyak 27,78% subyek memiliki eGFR antara 45 – 59,99 mg/dL. Sebanyak 30,55% subyek memiliki eGFR

antara 30 – 44,99 mg/dL. Sebanyak 41,67% subyek memiliki eGFR antara 15 – 29,99 mg/dL. Tidak ada subyek penelitian dengan eGFR kurang dari 15 mg/dL.

Tabel 5.11 Uji beda status eGFR Antara Kelompok Tuli dengan Normal Status

Normal (n = 19) Tuli (n = 17) Nilai p

n % n %

Sedang 5 26,32% 5 29,42%

0,748

Berat 5 26,32% 6 35,29%

Sangat Berat 9 47,36% 6 35,29%

Penyakit ginjal ringan-sedang dimiliki 29,42% subyek pada kelompok tuli dibandingkan 26,32% pada kelompok normal. Penyakit ginjal sedang-berat dimiliki 35,29% subyek pada kelompok tuli dibandingkan 26,32% pada kelompok normal.

Penyakit ginjal berat dimiliki 35,29% subyek pada kelompok tuli dibandinkan 47,36%

paada kelompok normal. Pada uji Chi-Square didapatkan nilai signifikansi sebesar 0,748 sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat perbedaan bermakna status laju filtrasi glomerulus antar kelompok.

Tabel 5.12 Uji Beda Ambang Dengar Berdasarkan Status eGFR

Status Sedang (n=10) Berat (n = 11) Sangat Berat (n = 15)

Nilai p

N % N % n %

Normal 5 50% 5 45,46% 9 60%

0,479

Tuli Ringan 3 30% 5 45,56% 6 40%

Tuli Berat 2 20% 1 9,08 - -

Pada subyek dengan penyakit ginjal berat terdapat 60% yang memiliki ambang dengar normal, sebanyak 40% mengalami tuli ringan dan tidak ada yang mengalami tuli berat. Pada subyek dengan penyakit ginjal sedang-berat terdapat 45,46% yang memiliki ambang dengar normal, sebanyak 45,46% mengalami tuli ringan, dan 9,08% yang mengalami tuli berat. Pada subyek dengan penyakit ginjal ringan-sedang terdapat 50%

yang memiliki ambang dengar normal, sebanyak 30% mengalami tuli ringan, dan 20%

mengalami tuli berat. Pada uji Chi-Square didapatkan nilai signifikansi sebesar 0,479 sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat perbedaan bermakna subyek normal, tuli sedang, dan tuli berat terhadap laju filtrasi glomerulus.

BAB 6 PEMBAHASAN

6.1 Prevalensi Tuli Pada Penderita Penyakit Ginjal Kronik

Gangguan pendengaran pada penderita penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan masalah kesehatan yang banyak diteliti. Beragam desain penelitian dari berbagai negara telah menunjukkan bahwa insiden tuli tinggi pada penderita PGK pada tahap awal maupun akhir. Beberapa penelitian sebelumnya disajikan dalam tabel berikut.

Tabel 6.1 Insiden Tuli Pada Populasi PGK Dari Berbagai Penelitian

Negara Tahun Publikasi Jumlah Sampel Insiden Keterangan

Australia 2010 513 54,4% Pre-dialisis

Nigeria 2012 118 58,5% Pre-dialisis

Turki 2013 34 58,8% Dialisis

India 2015 120 41,7% Dialisis

Korea 2015 243 47,1% Pre-dialisis

Bangladesh 2016 55 54,0% Pre-dialisis

Brazil 2016 80 60,0% Dialisis

India 2016 220 63,5% Dialisis

Insiden tuli pada penelitian ini serupa dengan penelitian-penelitian tersebut.

Terdapat 61,1% atau 44 dari 72 telinga dengan ambang dengar diatas 25 dB. Subyek yang ada kemudian dibagi menjadi kelompok normal dan tuli berdasarkan ambang dengar pada telinga yang lebih baik. Penggolongan ini sesuai dengan kriteria WHO.

Pembagian ini memungkinkan analisis tehadap penanda klinis dan laboratoris yang hanya mempunyai satu nilai untuk kedua telinga subyek. Dari 36 subyek, 17 subyek atau 47,2% digolongkan ke dalam kelompok tuli. Jenis tuli pada penelitian ini serupa dengan penelitian lainnya yaitu tuli sensorineural. Lebih dari separuh telinga subyek pada kelompok tuli memenuhi definisi disfungsi koklea pada penelitian ini. Thodi dan Cuna dkk telah mempelajari belasan jurnal terkait insiden tuli pada penderita PGK. Evaluasi pendengaran pada penelitian-penelitian tersebut menggunakan audiometri nada murni, DPOAE, dan ABR. Terdapat temuan lesi di koklea maupun retrokoklea. Belum ada

penelitian yang menyebutkan evaluasi letak lesi menggunakan tes SISI dan Tone-decay.

Sobh dkk menyatakan bahwa pemeriksaan audiometri TEOAE lebih sensitif daripada audiometri nada murni dalam menilai gangguan pendengaran pada penderita PGK.

Govender dkk menyatakan bahwa pemeriksaan audiometri DPOAE lebih sensitif karena hasil pengulangan test cenderung tidak berubah. Disfungsi koklea dianggap sebagai letak lesi utama berdasarkan adanya hasil OAE abnormal pada frekuensi sangat tinggi meskipun hasil audiometri nada murni normal.

6.2 Analisis Karakteristik Penyakit Ginjal

Tidak terdapat perbedaan dan korelasi yang bermakna pada nilai tes fungsi ginjal, dalam hal ini laju filtrasi glomerulus antara kelompok tuli dibanding kelompok normal.

Hal ini berarti bahwa fungsi ginjal tidak memengaruhi terjadinya tuli secara langsung.

PGK merupakan penyakit metabolik yang kompleks dan aspek mana yang berhubungan langsung dengan terjadinya gangguan pendengaran belum teridentifikasi.

Ciri tuli pada subyek penelitian ini belum bisa dibandingkan dengan ciri prebiskusis, dimana sifatnya adalah bilateral, simetris, dan progresif. Meskipun 14 dari 17 subyek pada kelompok tuli mempunyai selisih ambang dengar kurang dari 5 dB namun temuan ini tidak bisa dijadikan acuan.

Pada penelitian ini tidak terbukti bahwa klirens kreatinin berhubungan dengan terjadinya tuli. Kreatinin merupakan hasil metabolisme otot yang jika menumpuk dalam darah dapat bersifat toksis, diduga dapat menyebabkan ganguan pendengaran melalui jalur neuropati dengan manifestasi disfungsi saraf. Meena dkk juga tidak berhasil menghubungkan peningkatan kadar kreatinin darah dengan peningkatan jumlah penderita tuli pada penelitiannya yang melibatkan 100 pasien PGK. Thodi dkk dan Cuna dkk dalah penelitiannya juga menyatakan hal serupa. Hal ini sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa neuropati perifer mulai muncul pada penderita PGK Berat dengan LFG 15 – 29 mL/menit/1,73m2, sedangkan rerata klirens kreatinin pada penderita ini adalah 35,06 ± 10,54.

Faktor perancu seperti hipertensi, diabetes, ototoksik, dan bising tidak berbeda antara kelompok tuli dengan kelompok normal meskipun sama-sama menderita PGK.

Hal ini menegaskan penelitian Seo dkk dan Vilayur dkk yang menyatakan bahwa penurunan fungsi ginjal pada penderita PGK bersifat independen. Gangguan

pendengaran pada penderita PGK tidak cukup hanya dianggap sebagai akibat dari penyakit lain yang sama-sama merupakan faktor resiko gangguan pendengaran. PGK merupaan penyakit yang kompleks sehingga banyak aspek yang dapat diteliti perannya dalam patomekanisme gangguan pendengaran.

6.3 Analisis Hubungan Antara Klirens Kreatinin dengan Ambang Dengar pada Penderita Penyakit Ginjal Kronik

Nilai laju filtrasi glomerulus penderita PGK pada penelitian ini rendah, yaitu 35,06

± 10,54 mL/menit/1,73m2. Ditemukan korelasi lemah yang bersifat positif antara laju filtrasi glomerulus dengan ambang dengar kanan, ambang dengar kiri, dan ambang

± 10,54 mL/menit/1,73m2. Ditemukan korelasi lemah yang bersifat positif antara laju filtrasi glomerulus dengan ambang dengar kanan, ambang dengar kiri, dan ambang