• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menurut Alexopoulos dan Mims, (1979) klasifikasi jamur Rhizoctonia solani adalah sebagai berikut: Kingdom: Fungi, Phylum: Deuteromycota, Kelas:

Deuteromycotes, Ordo: Agonomycetales, Genus: Rhizoctonia, Spesies: Rhizoctonia solani.

Hifa R. solani yang masih muda mempunyai percabangan yang membentuk sudut 45°, semakin dewasa percabangannya tegak lurus, kaku, dan mempunyai ukuran yang sama (uniform). Diameter hifa jamur R. solani bergantung pada isolat dan jenis medium yang digunakan. R. solani yang diisolasi dengan medium PDA mempunyai diameter 4-6 µm. Setiap isolate mempunyai diameter 8-12 µm, tetapi ada yang berdiameter 6,20-9,50 µm (Soenartiningsih et al., 2015).

Rhizoctonia solani dapat mempertahankan diri dari musim ke musim di dalam tanah atau sebagai sklerotium. Patogen ini berkembang dalam tanah dengan

pH 5.8 - 8.1 dan suhu tanah 15 – 18 oC. Pada suhu 21 – 24 oC penyakit tidak merugikan (Semangun, 2003).

Cendawan Rhizoctonia solani merupakan patogen tular tanah (soil borne pathogen) yang bertahan dalam tanah dalam bentuk sklerotium dan miselium, terutama pada tanah-tanah yang banyak mengandung bahan organik dan mempunyai kisaran inang yang luas. Cendawan ini tidak menghasilkan spora, oleh karena itu identifikasi dilakukan berdasarkan karakteristik hifanya.

Cendawan Rhizoctonia dibedakan menjadi dua kelompok spesies, yaitu binukleat (kelompok spesies yang memiliki dua inti di dalam sel hifanya) dan multinukleat (spesies lain yang memiliki lebih dari dua inti dalam sel hifanya) (Soenartiningsih et al., 2015).

Gejala Serangan

Gejala yang paling umum disebabkan oleh patogen tular tanah ini adalah busuk yang mempengaruhi jaringan bawah tanaman termasuk busuknya biji, damping off atau rebah kecambah dan busuk akar, dan layu jaringan karena adanya infeksi pada akar. Beberapa patogen tular tanah dapat menyebabkan penyakit daun dengan gejala dan kerusakan timbul pada bagian tanaman di atas tanah. Sebagai contoh antraknose pada lettuce disebabkan oleh patogen tulara tanah yang dapat terbawa oleh percikan air hujan ke bagian permukaan daun tanaman ini dan menyebabkan penyakit bercak daun (Nurhayati, 2013).

Jika terinfeksi pada awal pertumbuhan maka tanaman akan mengalami damping off atau terjadi pembusukan pada waktu biji mulai berkecambah, sehingga biji tidak tumbuh. Selain itu juga terjadi infeksi pada tangkai dan daun yang mengakibatkan tangkai membusuk dan berkurangnya luas daun yang akan menghambat proses fotosintesis. Kemudian, kerusakan tanaman menjalar ke

bagian xylem dan floem. Kerusakan terberat terjadi apabila bulir mulai terinfeksi, selain bulir membusuk, kernel berkerut dan kering (Soenartiningsih et al., 2015).

Rhizoctonia solani adalah Jamur tular tanah lainnya yang dapat mengakibatkan penyakit rebah kecambah. Patogen ini dapat membentuk struktur untuk bertahan dalam tanah disebut dengan sklerotia. Infeksi pada tanaman akan terjadi jika kelembaban tanah relatif tinggi dan didukung oleh cuaca basah.

Penyebaran jamur ini dapat terjadi melalui percikan air hujan ataupun tanah yang terinfeksi (Nurhayati, 2013).

Pengendalian Penyakit

Prinsip pengendalian adalah pemantauan dan percegahan serangan hama dan penyakit baik untuk dilakukan. Menurut Masyahit et al. (2009), mengetahui kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan bagi patogen dapat menjadi informasi dasar dalam mengembangkan strategi yang sesuai untuk mencegah kejadian penyakit pada tanaman buah naga. Beberapa faktor lingkungan yang memengaruhi adalah suhu, pH, dan salinitas.

Pengendalian dengan menanam jenis-jenis yang tahan: dipandang dari sudut ekonomi cara dengan menanam jenis tahan ini adalah penghematan tenaga dan biaya untuk pengendalian serta mengurangi kerugian atau resiko berkurangnya hasil, kalau sekiranya terjadi kesalahan-kesalahan, sehingga pemakaian jenis yang tahan adalah merupakan “cara yang paling baik”.

Ketahanan dapat mempunyai berbagai bentuk. Suatu tanaman mungkin saja tahan terhadap infeksi dari sesuatu penyakit atau patogen. Sebaliknya, ada kemungkinan pula bahwa tanaman yang tahan itu dapat mengalami atau kena infeksi, tetapi tanaman tersebut dapat mengatasi aktivitas dari patogennya. Ada 3 macam

ketahanan yaitu ketahanan mekanis, ketahanan fungsional, dan ketahanan fisiologis (Djafaruddin, 2008).

Hal sederhana yang dapat dilakukan misalnya aplikasi jarak tanam yang ideal disarankan untuk memperbaiki sirkulasi udara dan penetrasi cahaya yang dapat mengurangi permasalahan penyakit (Pushpakumara et al. 2005). Kaktus mungkin terserang hama minor yang harus dipantau dan dikontrol dengan pengukuran yang tepat. Sehingga nantinya akan mencegah masalah ledakan hama dan penyakit.

Menurut Eng (2012), rekomendasi manajemen penyakit tanaman buah naga dari Pusat Penelitian Pertanian di Sarawak, Malaysia, yaitu menghindari penanaman buah naga di wilayh yang memiliki curah hujan tinggi. Saat memulai 68 penanaman diawal, berusaha unuk menggunakan material yang bebas penyakit. Pemupukan yang digunakan yaitu menghindari pupuk yang mengandung nitrogen tinggi karena apabila nitrogen berlebih maka dapat meningkatkan kerentanan penyakit, jadi lebih baik menggunkan pupuk organik.

Jumlah sulur yang ada di pertanaman agar mengurangi kelembaban, karena kelembaban yang tinggi akan memacu kejadian penyakit. Selain itu, pengendalian gulma dilakukan untuk mengurang persaingan hara. Apabila bagian tanaman sudah ada yang terinfeksi cendawan atau bakteri, maka dilakukan pemangkasan atau pemusnahan. Kebersihan alat pemotong atau pemangkas harus diperhatikan setelah melakukan pemangkasan ataupun pemanenan buah.

Cara untuk mengcegah dan memulihkan penyakit tanaman, dan mencegah serangan lebih lanjut, termasuk mengobati tanaman dan tanah nya adalah dengan memanfaatkan mikroorganisme antagonis yang mampu bersaing dengan mikroba patogen untuk nutrisi dan menciptakan senyawa bio-kimia

antagonis. Hal ini dilakukan melalui kombinasi aplikasi: 1) Dengan menerapkan kompos khusus diinokulasi ke tanah untuk menyeimbangkan kebutuhan nutrisi tanaman buah naga 2) Mengobati tanaman dengan agen kontrol mikroba cair yang memiliki berbagai efek antagonis terhadap patogen (Kostov dan Ye, 2017).

Penggunaan pestisida adalah alternatif terakhir yang seharusnya dilakukan. Dalam mengatasi masalah penyakit pada buah naga digunakan fungisida. Dari Hasil penelitian yang dilakukan oleh Widiastuti et al., (2011) menunjukkan bahwa secara in vitro fungisida benomil dan campuran mankozeb karbendazim efektif menghambat pertumbuhan miselium Fusarium sp., Colletotrichum sp. Dan Pestalotiopsis sp., patogen penyebab penyakit penting pada tanaman buah naga.

BAHAN DAN METODE

Dokumen terkait