C. Kinerja Pelayanan Dinas Kesehatan 1. Angka Kematian (Mortalitas)
4) Penyakit Tidak Menular
Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti penyakit jantung, stroke, kanker, diabetes melitus, cedera dan penyakit paru obstruktif kronik serta penyakit kronik lainnya merupakan 63% penyebab kematian di seluruh dunia dengan membunuh 36 juta jiwa per tahun (WHO, 2010). Indonesia mengalami transisi epidemiologi penyakit dan kematian yang disebabkan oleh gejala hidup, meningkatnya sosial ekonomi dan bertambahnya, harapan hidup. Pada awalnya, penyakit didominasi oleh penyakit menular, namun saat ini penyakit tidak menular terus mengalami peningkatan dan
melebihi penyakit menular. Prevalensi PTM di Indonesia berdasarkan Riskesdas 2013, hipertensi
usia >18 tahun (25,8%), PJK umur ≥15 tahun (1,5%), gagal jantung (0,3%), gagal ginjal kronik (0,2%), batu ginjal (0,6%), rematik (24,7%), stroke (12,1%), cedera semua umur (8,2%), asma (4,5%), PPOK
umur ≥ 30 tahun (3,8%), kanker (1,4%), diabetes mellitus (2,1%), hyperthyroid umur ≥15 tahun (0,4%), dan cedera akibat transportasi darat (47,7%). Sedangkan beberapa faktor risiko PTM, obesitas sentral (26,6%), konsumsi tembakau usia ≥15 tahun (36,3%), kurang konsumsi sayur-buah (93,5%).
Penyakit Tidak Menular (PTM) terjadi akibat berbagai faktor risiko, seperti merokok, diet tidak sehat, kurang aktivitas fisik, dan konsumsi minuman
beralkohol. Faktor risiko tersebut akan
menyebabkan terjadinya perubahan fisiologis di dalam tubuh manusia sehingga menjadi faktor antara lain tekanan darah meningkat, gula darah meningkat, kolesterol darah meningkat, dan obesitas. Selanjutnya dalam waktu yang relatif lama terjadi PTM. Berdasarkan data Riset kesehatan
Dasar (Riskesdas) 2013, prevalensi faktor risiko PTM di Indonesia relatif tinggi, seperti laki-laki obese
umur >18 tahun (19,7%), perempuan obese (32,9%), kurang konsumsi sayur buah (93,5%).
Tingginya permasalahan PTM di Indonesia memerlukan upaya pengendalian yang memadai dan komprehensif melalui promosi, deteksi dini, pengobatan, dan rehabilitasi. Upaya tersebut perlu didukung oleh penyediaan data dan informasi yang tepat dan akurat secara sistematis dan terus-menerus melalui sistem surveilans yang baik. Hal ini sesuai amanat UU no. 36 tahun 2009 pasal 158 tentang Pengendalian Penyakit Tidak Menular. Dengan surveilans PTM yang baik maka program pencegahan dan pengendalian PTM berlangsung lebih efektif baik dalam hal perencanaan, pengendalian, monitoring dan evaluasi program serta sebagai ide awal penelitian.
Surveilans PTM dan faktor risikonya merupakan salah
satu strategi upaya pencegahan dan
pengendalian penyakit yang dilakukan tepat dan terpadu oleh pemerintah, swasta dan masyarakat.
Berikut beberapa gambaran situasi kasus PTM di Kabupaten Luwu Utara tahun 2015 :
Gambar 2.3
Distribusi Kelompok Kasus Penyakit Tidak Menular Kabupaten Luwu Utara Tahun 2015
Sumber : Bidang Bina P2PL, 2015
Grafik di atas menunjukkan bahwa kasus tertinggi adalah Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah sebanyak 5952 kasus, disusul kasus Diabetes Mellitus dan Metabolik, kasus Kecelakaan Lalulintas, kasus Penyakit Kronik Degeneratif, dan kasus Kanker.
Gambar 2.4
Proporsi Kelompok Penyakit Tidak Menular Kabupaten Luwu Utara Tahun 2015
Sumber : Bidang Bina P2PL, 2015
Grafik di atas terlihat bahwa proporsi tertinggi adalah hipertensi sebanyak 5952 kasus (69%), diikuti penyakit Diabetes Melitus dan Metabolik sebanyak 967 kasus (11%), kecelakaan lalu lintas sebanyak
877 kasus (10%), Penyakit Kronik Degeneratif 874 kasus (10%), dan penyakit kanker sebanyak 5 kasus (1%). Penyakit Tidak Menular dibagi dalam 5 (lima) kelompok, yaitu :
a) Penyakit jantung dan pembuluh darah (PJPD) Penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) merupakan penyakit yang menyangkut jantung itu sendiri dan pembuluh-pembuluh darah. Keduanya sulit dipisahkan dalam manajemen maupun pembahasannya sehingga istilah kardio (jantung) dan vaskular (pembuluh darah) sulit dipisahkan. Beberapa penyakit yang termasuk kelompok PJPD yaitu hipertensi dan stroke. Di Kabupaten Luwu Utara tahun 2015, kasus hipertensi sebanyak 5950 kasus dan penyakit stroke sebanyak 2 kasus. b) Penyakit Kronik dan Degeneratif lainnya (PKD)
Merupakan salah satu dari kelompok PTM yang telah menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. PKD ini terdiri dari struma, thyrotoksikosis, asma, PPOK, oesteoporosis, dan penyakit ginjal kronik. Tahun 2015 di Kabupaten Luwu Utara ditemukan kasus Struma sebanyak 35 kasus, Tyrotoksikosis 1 kasus, Asma 843 kasus,
PPOK 134 kasus, penyakit ginjal kronik sebanyak 3 kasus, dan kasus oesteoporosis nihil.
c) Diabetes Melitus dan Penyakit Metabolik
Diabetes Melitus adalah suatu penyakit gangguan metabolik menahun yang ditandai oleh kadar glukosa darah yang melebihi nilai normal. Tahun 2015 di Kabupaten Luwu Utara ditemukan kasus DM sebanyak 910 kasus. Penyakit metabolik adalah suatu penyakit yang mempengaruhi metabolisme tubuh sehingga
menimbulkan gangguan, salah satunya
obesitas, tahun 2015 ditemukan obesitas sebanyak 56 kasus. Obesitas juga merupakan salah satu faktor risiko diabetes mellitus.
d) Penyakit kanker
Pengendalian kanker dilaksanakan melalui pencegahan faktor risiko, deteksi dini, surveilans epidemiologi, dan penyebaran informasi. Program deteksi dini kanker leher rahim dan payudara mempunyai target 80% perempuan
usia 30-50 tahun untuk di skrining sehingga diharapkan terhindar dari kedua kanker tersebut. Pada tahun 2014, Kementerian Kesehatan menargetkan 25% kabupaten/kota di Indonesia akan melaksanakan deteksi dini kanker leher rahim dengan metode IVA/Inspeksi Visual dengan Asam Asetat dan kanker payudara dengan metode CBE (Clinical Breast Examination) pemeriksaan klinis payudara. Kabupaten Luwu Utara merupakan salah satu
kabupaten Pilot Project yang telah
melaksanakan metode IVA tersebut. Tenaga yang sudah dilatih terdiri dari 2 dokter puskesmas, 1 bidan puskesmas, 2 dokter rumah sakit, dan 1 bidan rumah sakit, dengan jumlah perempuan yang telah diskrining sebanyak 332 orang. Berdasarkan laporan bulanan penyakit tidak menular dari puskesmas, pada tahun 2015 kasus kanker yang ditemukan sebanyak 5 kasus.
e) Gangguan Akibat Kecelakaan dan Cedera Saat ini di Indonesia Gangguan akibat kecelakaan dan cedera (GAKCE) menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia karena tingginya angka kecacatatan
dan kematian. Setiap tahun kejadian
kecelakaan lalulintas (KLL) menewaskan hampir 1,2 juta jiwa di seluruh dunia dan mnyebabkan cedera lebih dari jutaan orang. Menurut Murray et al (1996), angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas dan cedera di dunia menduduki posisi ke-9 pada tahun 1990 dan diperkirakan menjadi posisi ke-3 pada tahun 2020 dari 10 penyakit.
Sedangkan dari data WHO menyebutkan 5,8 juta orang di seluruh dunia meninggal akibat
kecelakaan pada tahun 1998. Tahun 2015 di Kabupaten Luwu Utara kecelakaan lalulintas sebanyak 877 kasus.