• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perubahan Histopatologi pada Ikan Mas. .1 Perubahan Histopatologi pada Insang

TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Perubahan Histopatologi pada Ikan Mas. .1 Perubahan Histopatologi pada Insang

Insang merupakan komponen utama sistem respirasi ikan. Beberapa perubahan histopatologi pada insang yang umum terjadi antara lain: perubahan regresif, anomali sirkulasi, dan perubahan progresif. Banyak agen patologis menyebabkan edema, vakuolasi, nekrosa lamela sekunder, dan sekresi mukus berlebihan sampai kematian sel mukus. Umumnya edema akan disertai radang yang dapat diketahui dari infiltrasi sel-sel radang sebagai reaksi pertahanan (Hibiya 1995).

Secara mikroskopis pada lamela sekunder dapat kita temukan eritrosit di dalam lumen-lumen kapiler. Kadang-kadang darah ini menumpuk menjadi

kongesti atau menyebar ke jaringan menjadi hemoragi. Edema atau penumpukan darah pada kapiler dapat mendorong telangiektasis. Telangiektasis terlihat berupa perbesaran lamela sekunder yang berbentuk seperti bola. Hiperplasia sel epitel pada lamela primer dan sekunder dapat terjadi karena terpapar agen fisik atau kimia. Hiperplasia sel mukus, menempelnya lamela-lamela sekunder, dan hiperplasia sel epitel lamela sekunder biasanya terjadi sebagai respon kronis karena paparan bakteri, parasit, atau agen kimia. Pada kondisi kronis sekali lamela sekunder sudah tidak berbentuk normal lagi tetapi saling menempel sehingga lamela primer tampak seperti pemukul base ball. Kondisi ini biasa disebut clubing lamela insang (Hibiya 1995).

2.3.2 Perubahan Histopatologi pada Usus

Perubahan degeneratif yang sering terjadi pada saluran pencernaan ikan terutama usus yaitu atropi sel-sel epitel mukosa, nekrosa sel-sel epitel mukosa, dan deskuamasi sel epitel yang disertai infiltrasi sel limfosit ke lapisan lamina propia dan sub mukosa. Selain itu dapat juga terjadi dilatasi lumen usus, perdarahan, dan kongesti atau pembendungan pembuluh darah. Ulser dan deskuamasi menyebabkan mukosa terlepas dari submukosanya disertai perdarahan. Hal ini bisa terjadi karena parasit atau benda asing lainnya. Infiltrasi sel limfosit, leukosit, dan hipertrofi jaringan ikat akan mengikuti kelainan ini (Hibiya 1995).

Hipertrofi lapisan mukosa juga dapat terjadi sehingga lumen akan menyempit karena vili-vili usus akan menebal. Pada kondisi kronis hal ini dapat menyebabkan hiperplasia sel-sel goblet yang jumlahnya akan meningkat drastis. Beberapa kasus tumor lapisan usus dan kelenjar pencernaan dapat kita temukan juga pada tampilan histopatologinya (Hibiya 1995).

2.3.3 Perubahan Histopatologi pada Otot

Perubahan patologis pada otot ikan yang ditemukan pada dasarnya tidak berbeda jauh dengan perubahan patologis pada otot vertebrata. Hasil penelitian para ahli patologi ikan saat ini masih belum cukup untuk menjelaskan perubahan patologis yang terjadi. Oleh karena itu penelitian patologi ikan masih sangat

diperlukan. Perubahan serabut yang tidak menjadi jelas dapat menunjukkan adanya kelainan. Perubahan ini dapat terjadi sebagian atau menyeluruh tergantung derajat keparahannya.

Perubahan patologis yang terjadi pada otot antara lain perubahan serabut otot, perubahan nukleus sel otot, bengkak berawan (cloudy swelling), degenerasi hyalin, degenerasi granular, degenerasi lemak sampai nekrosa serabut otot. Infiltrasi sel-sel radang menunjukan adanya reaksi patologis yang terjadi pada otot. Sel-sel radang yang tampak dapat menunjukan derajat keparahannya dan membantu menentukan kausanya. Jenis-jenis sel radang yang bisa ditemui antara lain limfosit, neutrofil, histiosit, dan fibroblast dari endomysium. Hemoragi pada jaringan dan kongesti pembuluh darah dapat diidentifikasi dari adanya eritrosit pada preparat histopatologinya. Edema merupakan bentuk patologi karena adanya penumpukan cairan pada rongga-rongga antar serabut otot. Edema akan menyebabkan lokasi antar serabut menjauh dan meregang (Hibiya 1995).

2.3 Penyakit-penyakit pada Ikan Mas. 2.3.1 Penyakit infeksius pada ikan mas

Penyakit ikan pada dasarnya dibagi menjadi dua kelompok yaitu penyakit ikan infeksius dan penyakit ikan non infeksius. Penyakit ikan infeksius disebabkan oleh virus, bakteri dan parasit. Sedangkan penyakit non infeksius disebabkan oleh gangguan fisik seperti trauma fisik, zat kimia, pH dan kekurangan nutrisi atau zat makanan. Virus yang sering menyerang ikan mas adalah Koi Herpes Virus (KHV). Badan inklusi merupakan ciri spesifik yang menandakan gangguan virus ini. KHV menyebabkan hiperplasia lamela sekunder insang ikan mas, selain itu pada pemeriksaan darah akan menunjukan peningkatan leukosit yang drastis (Amalia 2006). Koi Herpes Virus (KHV), merupakan penyakit virus yang dikenal ganas sehingga meyebabkan kematian massal pada ikan mas. Kasus kematian massal ikan mas karena KHV telah menyebar ke beberapa negara di dunia (Oata 2001).

Jenis parasit ikan air tawar (lele, mas, gurami, mujair dan patin) yang ditemukan pada lokasi pemantauan di wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten dan DI Yogyakarta adalah : Trichodina sp, Dactylogyrus sp, Gyrodactylus sp,

Ichthyopthirius sp, Glossatella sp, Glocidium sp dan Copepoda sp. Jenis parasit yang dominan ditemukan adalah Trichodina sp dan Dactylogyrus sp. Jenis bakteri ikan air tawar yang ditemukan pada lokasi pemantauan di wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten dan DI Yogyakarta adalah : Aeromonas hydrophila,

Edwardsiella sp, Pseudomonas sp, Staphylococcus sp dan Micrococcus sp. Jenis bakteri yang dominan ditemukan adalah Aeromonas hydrophila. Pemeriksaan virus Koi Herpes virus (KHV) pada lokasi pemantauan di wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten dan Yogyakarta sebanyak 5 pemantauan menunjukkan hasil positif 20% dan negatif 80% (Anonim 2008a).

Parasit yang menyerang ikan air tawar ada tujuh macam yaitu protozoa, coelenterata, trematoda, nematoda, cestoda, moluska, dan arthropoda (Markevich, 1963). Parasit yang biasa menyerang ikan yang dibudidayakan di kolam termasuk ikan mas adalah protozoa dan cacing. Protozoa dari golongan ciliata seperti

Ichthiophthirius multifiliis, Trichodina sp. dan Epistylis sp. merupakan jenis protozoa yang banyak ditemukan pada ikan mas (Hoole et al 2001). Trichodina

sp. adalah jenis protozoa yang digolongkan ke dalam filum protozoa, sub pilum Ciliophora, sub kelas Peritrichia, ordo Mobilina, Famili Urceolariidae dan genus Trichodina (Hoffman 1967). Gejala klinis dari protozoa ini yaitu peningkatan mukus, letarghi, kerusakan kulit dan sirip. Hiperplasia sekunder dan hipertropi epitel insang akan terlihat pada kondisi kronis. Trikodiniasis menular melalui kontak langsung dengan ikan atau air yang terkontaminasi (Irianto 2005).

Ichthiophthirius multifiliis adalah jenis parasit yang digolongkan ke dalam phylum protozoa, subphylum Ciliophora, kelas Ciliate, subkelas Holotichia, ordo Hymenostomatida, famili Ophryoglenidae dan genus

Ichthiophthirius multifiliis (Hoffman 1967). Parasit ini menyebabkan white spot disease atau ich dan menginfeksi kulit, insang dan mata beberapa spesies ikan air tawar. Gejala klinis yang terlihat adalah erupsi berat pada kulit. Penyakit ini dapat menyebabkan kematian pada ikan (Noble dan Noble 1989).

Cacing termasuk parasit yang banyak menyerang ikan air tawar. Beberapa cacing trematoda dan cestoda sering ditemukan pada ikan air tawar. Trematoda monogenea merupakan parasit di kulit dan insang yang dapat menjadi indikasi kondisi sanitasi. Infestasi cacing ini menyebabkan iritasi, luka yang

dalam pada kulit, produksi mukus meningkat dan hiperplasia epitel. Luka yang terjadi dapat diikuti infeksi sekunder oleh bakteri dan agen lainnya (Irianto 2005). Ada dua ordo dari kelas monogenea yang biasa menyerang ikan air tawar. Ordo pertama Gyrodactylus dan ordo kedua yaitu Dactylogyrus. Trematoda monogenea berbentuk pipih dengan ujung anterior yang dilengkapi alat penempel berpengait serta alat hisap (sucker). Beberapa spesies memiliki alat hisap di ventral tubuh atau di posterior. Seluruh trematoda monogenea adalah hermaprodit dan memiliki siklus hidup langsung. Gyrodactylus berhabitat di kulit dan insang, berbentuk seperti daun, tanpa bintik mata, ujung kepala seperti huruf V serta memiliki orgen untuk menempel (opisthohaptor) dengan dua anchor (kait berbentuk jangkar). Setiap anchor memiliki rata-rata 16 kait kecil. Cacing dewas bersifat vivipar, yaitu melepaskan larva yang berbentuk seperti cacing dewasa. Larva ini akan menempel pada insang atau kulit ikan. Cacing dewasa Dactylogyrus memiliki dua atau empat bintik mata dan memiliki alat menempel yang berbentuk jangkar (opisthohaptor). Dactylogyrus bersifat ovipar sehingga cacing dewasa akan melepaskan telur yang menetas menjadi larva. Larva Dactylogyrus memiliki bulu getar sebagai alat gerak di air untuk menuju inang (Markevich 1963).

Dactylogyrus cenderung melekat pada insang dengan haptor, menginfeksi hampir semua ikan air tawar terutama cryprinid. Hal ini merangsang sekresi mukus berlebihan dan dapat menyebabkan tepi lamella insang tercabik atau luka. Pada infeksi berat akan mengganggu penyerapan oksigen sehingga ikan akan kekurangan oksigen. Dactylogyrus membebaskan telur ke kolam kemudian menetas menjadi larva berbulu getar yang berenang bebas hingga menemukan inang yang sesuai. Waktu yang diperlukan dari telur hingga menjadi individu dewasa sangat tergantung suhu, pada suhu 8,5-9 0C hanya perlu beberapa hari, adapun pada suhu yang lebih rendah akan berlangsung beberapa minggu hingga beberapa bulan (Irianto 2005). Trematoda dari ordo Digenea juga ada yang menyerang ikan air tawar. Digenea berbeda dengan Monogenea karena memiliki siklus hidup tidak langsung, sehingga memerlukan inang antara dalam siklus hidupnya (Paperna 1996).

Cestoda merupakan endoparasit yang memiliki bentuk khas yang dapat menginfeksi ikan. Cacing dewasa hidup di usus ikan dan akan melepaskan telur

yang mengandung calon skolek dewasa bersama feses inang definitifnya. Telur ini akan termakan inang antara dan akan menjadi protoskolek, apabila protoskolek ini termakan inang definitif akan menjadi dewasa. Cestoda memiliki kepala (skolek) yang dilengkapi batil hisap (suker atau bothria), leher dan segmen-segmen (strobila). Di dalam segmen inilah terdapat testis dan ovarium sebagai alat reproduksi, karena cestoda selain Dioecocestus adalah hermaprodit (Markevich 1963). Beberapa cestoda yang sering menyerang ikan mas antara lain Ligula intestinalis, Bothriocephalus acheilognathi dan Khawia sinensis (Anonim 2008b). Cestoda dapat menginfeksi saluran pencernaan, jaringan otot atau organ lain. Pleroserkoid menyebabkan penurunan kualitas karkas ikan jika dijumpai pada jaringan otot dan menyebabkan gangguan reproduksi jika menginfeksi organ kelamin. Sejumlah kasus menunjukkan bahwa infeksi cestoda juga menyebabkan kerusakan sejumlah organ seperti otak, mata dan jantung (Irianto 2005).

Beberapa bakteri dari famili pseudomonadaceae ditemukan dapat menyebabkan kelainan patologis pada ikan Cyprinid. Bakteri Aeromonas liquefaciens, Aeromonas hidrophila dan Pseudomonas fluorescens dapat menyebabkan hemoragi septisemia. Bakteri ini menyebabkan penyakit hemoragi septisemia atau Infectious dropsy (Rubella; Redmouth; Red Pest; Fresh Water Eel Disease) (Bullock 1971). Aeromonas hidrophila merupakan bekteri gram negatif, berbentuk batang dan motil. Bakteri ini menyebabkan hemoragi septicemia atau MAS (Motile Aeromonas Septicaemia) pada beragam spesies ikan air tawar (Irianto 2005). Gejala klinis infeksi Aeromonas hidrophila bervariasi, tetapi umumnya ditunjukkan adanya hemoragi pada kulit, insang, rongga mulut dan borok pada kulit yang dapat meluas ke jaringan otot. Gejala klinis lainya seperti eksoptalmia, asites, pembengkakan limpa dan ginjal. Secara histopatologi tampak terjadinya nekrosa pada limpa, hati, ginjal dan jantung. Seringkali bakterimia ditandai oleh penampakan sel-sel bakteri pada jaringan tersebut (Irianto 2005).

Pseudomonas fluorescens merupakan bakteri gram negatif, berbentuk batang, dan motil dengan flagella. Pseudomonas fluorescens menyerang ikan air tawar dan merupakan patogen oportunistik. Secara umum tanda-tanda klinis infeksi

hemoraghik septicemia, hemoraghik pada insang dan ekor serta borok pada kulit (Irianto 2005).

2.3.2 Penyakit non infeksius pada ikan mas

Penyakit non infeksius disebabkan oleh gangguan fisik seperti benturan, zat kimia, pH dan kekurangan nutrisi atau zat makanan. Defisiensi zat makanan terjadi karena kekurangan protein atau asam amino yang akan menyebabkan pertumbuhan terganggu (Roberts 2001). Defisiensi vitamin juga akan menyebabkan abnormalitas pada ikan. Defisiensi vitamin C menyebabkan skoliosis, hemoragi eksternal, erosi sirip dan melanosis (Irianto 2005). Defisiensi vitamin C pada ikan menyebabkan lordosis, skoliosis, stress, fraktur dan deformitas lamelar insang. Perubahan patologi akibat dari defisiensi vitamin E yaitu degenerasi hyalin pada otot, infiltrasi lemak subepikardial dan proliferasi fibroblast (Roberts 2001). Zat kimia seperti pestisida yang digunakan untuk memberantas hama ikan terkadang berakibat buruk pada ikan. Salah satu diantaranya yaitu pyretrin yang sangat toksik bagi ikan dalam dosis rendah. Piretrin mempunyai sifat menghambat fungsi respirasi. Pestisida lain toxisitasnya relatif rendah apabila tercerna bersama makanan, tetapi berbahaya bila terakumulasi di dalam tubuh organisme lain yang menjadi makanan ikan (Roberts 2001). Gangguan fisik pada ikan terjadi karena penanganan ikan yang kurang tepat, misalnya benturan, wadah yang terlalu kecil atau populasi yang terlalu padat. Beberapa gas tertentu juga dapat menyebabkan gangguan pada ikan air tawar. Kekurangan gas oksigen, nitrogen atau gas lain dapat menyebabkan kematian pada ikan. Beberapa faktor lain yang mempengaruhi kesehatan ikan antara lain suhu, cahaya, pH dan kepadatan populasi (Irianto 2005).

BAB III

Dokumen terkait