BAB IV. DELINKUENSI PADA REMAJA
2. Penyebab Delinkuensi
2. Penyebab Delinkuensi
[28]
Faktor penyebab tingkah laku delinkuensi / yang merujuk pada kenakalan menurut Willis (2005), dikelompokkan menurut sumber kenakalan terdiri atas empat faktor yaitu sebagai berikut :
1) Faktor di dalam diri anak
a) Predisposing factor, yaitu kecenderungan tertentu terhadap perilaku remaja yang bisa saja dibawanya sejak lahir.
b) Lemahnya pertahanan diri
c) Kurangnya kemampuan adaptasi
d) Kurang dasar ilmu agama yang dianutnya 2) Faktor di dalam keluarga
a) Anak kurang memperoleh kasih sayang b) Kondisi ekonomi yang minim
c) Keluarga yang kurang bisa mensupport satu sama lain
3) Faktor lingkungan masyarakat
a) Kurangnya pengawasan terhadap remaja dalam masyarakat
b) Kurangnya pengimplementasian ajaran agama 4) Faktor sekolah
a) Faktor guru
Kelas yang kacau serta guru yang berbuat sekehendak hatinya dalam kelas, juga dapat menjadi sumber kenakalan remaja.
b) Fasilitas pendidikan
[29]
Kurangnya fasilitas pendidikan sehingga dapat menghalang peserta didik dalam tumbuh dan berkembang, sehingga mereka mencari solusinya sendiri yang bahkan berpeluang pada hal-hal yang negatif.
c) Norma pendidikan dan kekompakan guru
Guru harus bisa menjadi contoh yang baik dalam pengimplemtasiannya sehingga norma yang diajarkan kepada siswa, cenderung siswanya juga bersikap yang sama serta mencontoh perilaku baik gurunya.
Supratiknya (1995) mengemukakan bahwa penyebab kenakalan / delinkuensi pada remaja bermacam-macam, misalnya penyakit atau gangguan tertentu, pola hubungan yang patogenik di lingkungan keluarga, pengaruh teman, maupun pengaruh sosiokultural dan stres. Penyakit tertentu meliputi retardasi mental, serta beberapa jenis gangguan neurotik maupun psikotik. Retardasi mental, remaja yang lemah mental tega melakukan perbuatan yang merusak karena kurang memiliki kesadaran moral yang benar. Pada kasus neurotik atau psikotik, ada remaja yang suka bertindak brutal untuk menutupi depresinya. Selain itu, banyak remaja delinkuen yang memiliki kepribadian yang psikopatik yaitu impulsif, pembenci, tak memiliki rasa kasihan maupun rasa bersalah, sehingga tega melakukan tindak kekerasan terhadap orang lain.
[30]
Adanya hubungan keluarga yang patogenik di mana salah satunya yaitu broken home, contohnya pada kasus keluarga yang kacau akibat perceraian, yang mana remaja juga mendapat tauladan yang kurang baik dari orang tua.
Tidak sedikit remaja lelaki yang brutal ternyata di rumah memiliki ayah yang kejam, pemabuk dan sikapnya antisosial. Atau seorang remaja perempuan menjadi petualang seks karena mencontoh ibunya. Pengaruh teman juga berperan penting dalam membentuk remaja nakal karena pada kenyataannya, kenakalan di kalangan remaja hampir selalu dilakukan secara berkelompok, jarang dilakukan sendirian, contohnya kebut-kebutan di jalan raya, mengotori tembok dengan grafiti, merusak fasilitas umum, serta berkelahi. (Supratiknya, 1995).
Faktor sosiokultural mecakup alienasi atau terasing, penolakan sosial dll. Banyak remaja mengalami alienasi, dimana di satu pihak mereka memberontak dengan nilai dan gaya hidup yang dianut oleh orang tua mereka, namun di pihak lain mereka belum menemukan nilai dan gaya hidup mereka sendiri. Setelah itu, remaja menjadi bertindak brutal sebagai pelampiasan dari perasaan keterasingan mereka. Kasus yang lainnya misalnya remaja yang drop out dari sekolah atau yang tamat dari sekolah tetapi akhirnya tidak dapat melanjutkan pelajaran atau mencari pekerjaan dapat merasa bahwa diri mereka tidak mendapatkan tempat di tengah masyarakat. Mereka merasa menjadi social rejects / sampah masyarakat dan
[31]
korban kemajuannya. Hal ini dapat mendorong mereka berbuat brutal sebagai bentuk balas dendam hingga pelampiasan frustrasi mereka. Remaja juga senang membentuk geng.
Menurut Dryfoos (Santrock, 2003) faktor-faktor yang menyebabkan dorongan melakukan kenakalan pada remaja yaitu kegagalan dalam kontrol diri yang tergolong baik.
Basri (1994) menyatakan bahwa penyebab kenakalan remaja secara umum dapat dibedakan menjadi dua.
Pertama, di dalam diri individu dan kedua ialah luar diri individu. Kondisi yang dapat dimasukkan dalam penyebab pertama antara lain: a) terganggunya perkembangan kepribadian b)cacat tubuh, c) adanya kebiasaan yang mudah terpengaruh, dan d) taraf inteligensi yang rendah.
Keadaan yang dapat dimasukkan dalam penyebab kedua antara lain: a) pergaulan yang kurang baik, b) kondisi keluarga yang tidak mendukung c) pengaruh media massa, d) kurangnya kasih sayang e) karena kecemburuan sosial.
Jika dipandang dari segi psikologi, maka penyebab timbulnya perilaku yang nakal antara lain karena: a) timbulnya minat yang lain yang berbeda, b) timbulnya minat terhadap jenis lain, c) timbulnya kesadaran terhadap diri sendiri dan d) timbulnya hasrat untuk dikenal oleh orang lain.
Santrock (2003) mengemukakan untuk meramalkan kenakalan, perlu mempertimbangkan identitas yang negatif, kontrol diri yang rendah, umur pada saat awal
[32]
melakukan kenakalan biasanya pada umur dini, jenis kelamin biasanya lebih banyak laki-laki, prestasi di kelas-kelas awal sekolah yang rendah, pengaruh teman sebaya yang besar serta ketahanan diri juga rendah.
Identitas yang dimaksud Santrock (2003) sesuai dengan teori perkembangan Erikson (Santrock 2003), masa remaja ada pada tahap di mana krisis identitas versus difusi identitas harus diatasi. Tidak mengejutkan, Erikson yang menggagas bahwa kenakalan ini terhubung sercara positif bahwa remaja mampu untuk mengatasi krisis ini.
Dipercayai juga oleh Erikson bahwa pubertas yang melibatkan perubahan biologis menjadi awal perubahan serta harapan sosial dari keluarga, teman sebaya maupun sekolah terhadap remaja. Bentuk integrasi kepribadian dapat terjadi berdasarkan perubahan biologis serta sosial ini, yaitu terbentuknya perasaan yang konsisten dalam hidupnya, serta tercapainya identitas peran, kira-kira dengan cara menggabungkan motivasi, nilai, kemampuan, serta gaya yang dimiliki remaja dengan peran yang dituntut dari remaja.
Erikson (Santrock, 2003) mempercayai bahwa perilaku nakal pada remaja terutama ditandai dengan kegagalan remaja untuk mencapai integrasi yang kedua, yang melibatkan berbagai aspek-aspek peran identitas. Beberapa remaja seperti ini mungkin akan ambil bagian dalam tindak kenakalan, membuat diri mereka sendiri terperangkap dalam arus zaman yang paling negatif dalam dunia muda
[33]
yang mereka hadapi. Oleh karena itu, bagi Erikson, kenakalan merupakan upaya untuk membentuk suatu identitas yang tergolong negatif.