• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2 Penyebab Disintermediasi Perbankan

Seperti yang telah dikemukakan di awal, bahwa penyebab disintermediasi perbankan dapat berasal dari sisi permintaan kredit atau penawaran kredit. Pada subbab ini akan diidentifikasi penyebab disintermediasi perbankan di Indonesia pasca krisis yaitu dari tahun 1999 sampai tahun 2007.

Estimasi Maximum Likelihood dilakukan terhadap persamaan permintaan kredit dan penawaran pada periode 1999 kuartal pertama sampai 2007 kuartal ketiga. Persamaan yang akan diestimasi adalah :

t t t t t t D

t LnGDP R LnIHSG INF LnER

L = 0+ 1 + 2 + 3 + 4 + 5 + t t t t t t S t LnCAP R SBI CA NPL L = 0+ 1 + 2 + 3 + 4 + 5

Hasil estimasi maximum likelihood ditunjukkan dalam tabel berikut : Tabel 5.1. Hasil Estimasi Maximum Likelihood Persamaan Permintaan dan

Penawaran kredit

Variable Coefficient z-Statistic Probability

LnLtD(Permintaan Kredit) Constanta LnGDP R LnIHSG INF LnER LnLtS(Penawaran Kredit) Constanta LnCAP R SBI CA NPL 7.992624 0.758922 -0.025862 0.220740 -0.078412 -0.576199 -16.50680 2.136874 0.035611 -0.058408 0.003936 -0.004253 1.212733 1.875429* -12.87988*** 1.769237* -4.963290*** -2.060277** -8.062309*** 14.54001*** 7.619903*** -10.07779*** 4.548090*** -2.390321** 0.2252 0.0607 0.0000 0.0769 0.0000 0.0394 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0168 Sumber : Hasil Penelitian (2008)

Keterangan : * signifikan pada level 10% (z tabel = 1.645), ** signifikan pada 5% (z tabel = 1.96), *** signifikan pada 1% (z tabel = 2.575)

Pada fungsi permintaan kredit dengan taraf nyata 10 persen, seluruh koefisien memiliki tanda yang sesuai dengan apa yang diperkirakan. Hal tersebut dapat dijelaskan secara ringkas, yaitu :

a. Gross Domestic Product (GDP) atau produk domestik bruto memiliki hubungan positif dan signifikan terhadap permintaan kredit. Hal ini menunjukkan bahwa setiap peningkatan pada GDP akan menyebabkan peningkatan pada permintaan kredit. Demikian pula sebaliknya, setiap penurunan GDP akan menyebabkan penurunan pada permintaan kredit. Nilai koefisien sebesar 0,75 memiliki arti bahwa setiap pertumbuhan GDP sebesar 1 persen, cateris paribus, akan menyebabkan pertumbuhan permintaan kredit sebesar 0,75 persen.

Peningkatan GDP menggambarkan bahwa kondisi perekonomian mengalami pertumbuhan positif. Ketika perekonomian mengalami pertumbuhan positif maka kesempatan investasi yang menguntungkan akan meningkat. Sehingga sektor riil akan berminat untuk meningkatkan outputnya maupun mengembangkan usahanya. Dengan demikian, investasi dalam bentuk inventory (persediaan) maupun ekspansi usaha akan meningkat. Olehkarena itu, kebutuhan akan dana untuk modal kerja maupun untuk ekspansi usaha akan meningkat. Sehingga permintaan kredit baik untuk kredit investasi dan modal kerja akan meningkat.

b. Suku bunga kredit memiliki hubungan negatif dan signifikan terhadap permintaan kredit. Hal ini menunjukkan bahwa setiap peningkatan pada

suku bunga kredit akan menyebabkan penurunan pada permintaan kredit. Demikian pula sebaliknya, setiap penurunan suku bunga kredit akan menyebabkan peningkatan pada permintaan kredit. Nilai koefisien sebesar -0,02 memiliki arti bahwa setiap pertumbuhan suku bunga kredit sebesar 1 persen, cateris paribus, akan menyebabkan penurunan permintaan kredit sebesar 0,02 persen.

Bagi debitur (sektor riil), semakin tinggi tingkat suku bunga kredit mencerminkan semakin mahalnya biaya untuk memperoleh kredit, sehingga permintaan kredit akan dikurangi. Selain itu, meningkatnya suku bunga kredit juga dapat mengurangi keuntungan yang diperoleh oleh sektor riil. Hal ini dikarenakan dengan pendapatan yang tetap dan biaya kredit yang meningkat, maka secara otomatis keuntungan yang diperoleh akan berkurang. Sehingga besarnya suku bunga kredit masih menjadi pertimbangan bagi sektor riil untuk mengajukan kredit kepada bank.

c. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap permintaan kredit. Hal ini menunjukkan bahwa setiap peningkatan pada IHSG akan menyebabkan peningkatan pada permintaan kredit. Demikian pula sebaliknya, setiap penurunan IHSG akan menyebabkan penurunan pada permintaan kredit. Nilai koefisien sebesar 0,22 memiliki arti bahwa setiap pertumbuhan IHSG sebesar 1 persen, cateris paribus, akan menyebabkan pertumbuhan permintaan kredit sebesar 0,22 persen.

Peningkatan IHSG mencerminkan baiknya kondisi keuangan perusahaan dan adanya kestabilan perekonomian. Pada kondisi ini terdapat prospek usaha yang bagus dan pada akhirnya memacu minat sektor riil untuk meningkatkan outputnya ataupun mengembangkan usahanya. Sehingga kebutuhan dana untuk modal kerja maupun ekspansi usaha akan meningkat. Sehingga permintaan kredit dari sektor riil baik untuk kredit modal kerja maupun untuk ekspansi usaha akan meningkat.

d. Inflasi memiliki hubungan yang negatif dan signifikan terhadap permintaan kredit. Hal ini menunjukkan bahwa setiap peningkatan pada inflasi akan menyebabkan penurunan pada permintaan kredit. Demikian pula sebaliknya, setiap penurunan inflasi akan menyebabkan peningkatan pada permintaan kredit. Nilai koefisien sebesar -0,07 memiliki arti bahwa setiap pertumbuhan inflasi sebesar 1 persen, cateris paribus, akan menyebabkan penurunan permintaan kredit sebesar 0,07 persen.

Inflasi mencerminkan peningkatan harga-harga barang. Maka, peningkatan inflasi ini akan berpengaruh buruk terhadap sektor riil maupun masyarakat. Bagi masyarakat, peningkatan inflasi akan menyebabkan menurunnya daya beli mereka. Kemudian akan berdampak pada penurunan permintaan agregat. Sedangkan bagi sektor riil, peningkatan inflasi akan meningkatkan biaya produksi yang berarti akan menyebabkan berkurangnya keuntungan. Oleh karena itu, menurunnya daya beli masyarakat dan meningkatnya biaya produksi mengakibatkan prospek usaha pada masa itu menjadi kurang bagus. Sehingga sektor riil

tidak berniat untuk meningkatkan outputnya ataupun melakukan ekspansi usaha. Hal ini akan berdampak pada penurunan permintaan kredit baik untuk kredit modal kerja ataupun untuk ekspansi usaha.

e. Nilai Tukar (ER) rupiah terhadap dolar memiliki hubungan negatif dan signifikan terhadap permintaan kredit. Hal ini menunjukkan bahwa setiap peningkatan pada nilai tukar akan menyebabkan penurunan pada permintaan kredit. Demikian pula sebaliknya, setiap penurunan nilai tukar akan menyebabkan peningkatan pada permintaan kredit. Nilai koefisien sebesar -0,57 memiliki arti bahwa setiap pertumbuhan nilai tukar sebesar 1 persen, cateris paribus, akan menyebabkan penurunan permintaan kredit sebesar 0,57 persen.

Ketika nilai tukar meningkat (terdepresiasi / melemah) maka mencerminkan perekonomian yang tidak stabil sehingga iklim usaha menjadi tidak kondusif. Dengan demikian resiko usaha pun semakin meningkat, hal ini akan direspon oleh sektor riil untuk tidak meningkatkan outputnya ataupun mengembangkan usahanya (ekspansi). Sehingga permintaan kredit baik untuk kredit modal kerja ataupun untuk ekspansi usaha akan menurun. Terdapat beberapa alasan lain bahwa nilai tukar mempengaruhi aktivitas bisnis yaitu mempengaruhi keputusan untuk produksi dan pemasaran, serta untuk kebutuhan estimasi bisnis di masa mendatang. Selain itu, sebagian besar input industri di Indonesia berasal dari impor. Ketika terjadi peningkatan nilai tukar (terdepresiasi) maka harga impor akan meningkat. Sehingga biaya produksi pun akan

meningkat, yang pada akhirnya akan mengurangi keuntungan. Dengan demikian, prospek usaha pada masa itu menjadi kurang menguntungkan. Sektor riil akan mengurangi outputnya dan tidak mengembangkan usahanya. Sehingga permintaan kredit baik untuk modal kerja ataupun untuk ekspansi usaha akan menurun.

Sedangkan dalam fungsi penawaran kredit dengan taraf nyata 10 persen, pengaruh variabel-variabelnya dijelaskan secara ringkas, yaitu :

a. Kapasitas kredit memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap penawaran kredit. Hal ini menunjukkan bahwa setiap peningkatan kapasitas kredit akan menyebabkan peningkatan pada penawaran kredit. Sebaliknya, setiap penurunan kapasitas kredit akan menyebabkan penurunan pada penawaran kredit. Nilai koefisien sebesar 2,13 memiliki arti bahwa setiap pertumbuhan kapasitas kredit sebesar 1 persen, cateris paribus, akan menyebabkan pertumbuhan penawaran kredit sebesar 2,13 persen.

Kapasitas kredit adalah jumlah dana di bank yang tersedia untuk dialokasikan menjadi kredit kepada debitur. Dengan kata lain, kapasitas kredit mencerminkan kemampuan bank yang sebenarnya untuk menyalurkan kredit. Peningkatan kapasitas kredit mencerminkan semakin besarnya kemampuan perbankan dalam menyalurkan kredit, sehingga semakin besar pula penawaran kredit perbankan. Sebaliknya, penurunan kapasitas kredit akan menurunkan kemampuan penyaluran kredit perbankan, sehingga semakin rendah pula penawaran kredit perbankan.

b. Suku bunga kredit memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap penawaran kredit. Hal ini menunjukkan bahwa setiap peningkatan suku bunga kredit akan menyebabkan peningkatan pada penawaran kredit. Sebaliknya, setiap penurunan suku bunga kredit akan menyebabkan penurunan pada penawaran kredit. Nilai koefisien sebesar 0,03 memiliki arti bahwa setiap pertumbuhan suku bunga kredit sebesar 1 persen, cateris paribus, akan menyebabkan pertumbuhan penawaran kredit sebesar 0,03 persen.

Semakin tinggi suku bunga kredit maka mencerminkan semakin besar keuntungan yang akan diperoleh bank dari kredit yang disalurkannya. Selain itu, sebagian besar pendapatan bank diperoleh melalui pendapatan bunga kredit. Oleh karena itu, semakin tinggi suku bunga kredit maka akan meningkatkan pendapatan bunga bagi bank sehingga akan meningkatkan net interest margin perbankan. Dengan demikian bank akan meningkatkan penawaran kreditnya.

c. Suku bunga SBI memiliki hubungan yang negatif dan signifikan terhadap penawaran kredit. Hal ini menunjukkan bahwa setiap peningkatan suku bunga SBI akan menyebabkan penurunan pada penawaran kredit. Sebaliknya, setiap penurunan suku bunga SBI akan menyebabkan peningkatan pada penawaran kredit. Nilai koefisien sebesar -0,05 memiliki arti bahwa setiap pertumbuhan suku bunga SBI sebesar 1 persen, cateris paribus, akan menyebabkan penurunan penawaran kredit sebesar 0,05 persen.

Meskipun SBI sesungguhnya memiliki fungsi sebagai monetary instrument, namun bagi perbankan SBI merupakan instrumen investasi substitusi kredit. Sehingga portofolio aset perbankan tidak hanya pada kredit namun juga pada surat-surat berharga seperti SBI. Selain itu, SBI menarik bagi perbankan karena sifatnya yang riskless. Peningkatan suku bunga SBI akan menyebabkan perbankan semakin tertarik untuk menanamkan dananya pada SBI, terutama pada saat risiko kredit meningkat. Pada saat perbankan menanamkan dananya pada SBI maka dana yang tersedia untuk kredit menjadi berkurang. Sehingga jumlah kredit yang ditawarkan oleh perbankan pun menurun.

d. Rasio modal terhadap aset (CA) memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap penawaran kredit. Hal ini menunjukkan bahwa setiap peningkatan rasio modal aset akan menyebabkan peningkatan pada penawaran kredit. Sebaliknya, setiap penurunan rasio modal aset akan menyebabkan penurunan pada penawaran kredit. Nilai koefisien sebesar 0,003 memiliki arti bahwa setiap pertumbuhan rasio modal aset sebesar 1 persen, cateris paribus, akan menyebabkan peningkatan penawaran kredit sebesar 0,003 persen.

Rasio modal terhadap aset merupakan proxy dari Capital Adequacy Ratio (CAR). Semakin meningkat rasio modal terhadap aset mencerminkan besarnya modal terhadap aset-aset yang dimiliki perbankan termasuk aset beresiko seperti kredit. Oleh karena itu, semakin meningkat rasio modal terhadap aset maka kemampuan bank dalam menawarkan kredit akan

meningkat. Sebaliknya ketika rasio modal terhadap aset menurun maka kemampuan bank dalam menawarkan kredit akan menurun. Hal ini dapat digambarkan ketika perbankan sedang mengalami masalah likuiditas. Pada akhir tahun 1998 sampai awal tahun 2000 modal perbankan mengalami negatif. Kemudian dikeluarkan ketentuan mengenai kewajiban pemenuhan CAR minimum 8 persen pada akhir tahun 2001. Hal tersebut mengharuskan bank-bank untuk meningkatkan modalnya dan mengurangi aset yang berisiko yaitu kredit. Dengan demikian perbankan mengurangi penawaran kreditnya, karena jika perbankan meningkatkan kredit maka akan menambah aset beresiko dan pada akhirnya syarat kecukupan modal minimum yang ditetapkan sebesar 8 persen tidak dapat tercapai.

e. Non Performing Loan (NPL) memiliki hubungan negatif dan signifikan terhadap penawaran kredit. Hal ini menunjukkan bahwa setiap peningkatan NPL akan menyebabkan penurunan pada penawaran kredit. Sebaliknya, setiap penurunan NPL akan menyebabkan peningkatan pada penawaran kredit. Nilai koefisien sebesar -0,004 memiliki arti bahwa setiap pertumbuhan NPL sebesar 1 persen, cateris paribus, akan menyebabkan penurunan penawaran kredit sebesar 0,004 persen.

NPL yang tinggi mencerminkan tingginya resiko kredit yang ditanggung oleh perbankan. Sehingga akan menyebabkan bank harus membentuk dana cadangan penghapusan yang lebih besar. Dengan demikian, dana yang tersedia untuk disalurkan melalui kredit semakin berkurang. Sehingga penawaran kredit menjadi turun.

Selanjutnya, untuk mengetahui penyebab disintermediasi perbankan di Indonesia pasca krisis dapat diidentifikasi dari faktor manakah yang lebih mempengaruhi penyaluran kredit (kredit aktual). Melalui estimasi maximum likelihood didapatkan hasil berupa jumlah penawaran kredit dan permintaan kredit.76 Kemudian jumlah permintaan dan penawaran tersebut dibandingkan.

Apabila permintaan kredit lebih besar dibandingkan penawaran kredit maka terjadi excess demand, sehingga penyaluran kredit lebih disebabkan oleh faktor penawaran kredit. Dengan kata lain telah terjadi credit crunch. Sebaliknya, apabila penawaran kredit lebih besar dibandingkan permintaan kredit maka terjadi excess supply. Sehingga penyaluran kredit lebih disebabkan oleh faktor permintaan kredit atau dengan kata lain telah terjadi credit slowdown.

Excess Dem and & Excess Supply

-0.6 -0.4 -0.2 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 1.6 1.8 2 2.2 2.4 Mar -99 Se p-99 Mar -00 Se p-00 Mar -01 Se p-01 Mar -02 Se p-02 Mar -03 Se p-03 Mar -04 Se p-04 Mar -05 Se p-05 Mar -06 Se p-06 Mar -07 Se p-07 Periode L n K re d it

Excess Demand & Excess Supply Sumber : Hasil Penelitian 2008 (Data Diolah)

Gambar 5.5. Excess Demand dan Excess Supply Credit

Berdasarkan Gambar 5.5, ketika nilainya positif maka terjadi excess demand credit namun ketika nilainya negatif maka terjadi excess supply credit. Berdasarkan Gambar 5.5 diperoleh gambaran bahwa pasca krisis yaitu tahun 1999 terjadi excess demand. Kemudian pada tahun 2000 sampai kuartal tiga tahun 2002 terjadi excess supply. Dari tahun kuartal empat tahun 2002 sampai kuartal tiga tahun 2007 terjadi excess demand dan excess supply secara bergantian. Namun dilihat dari keseluruhan observasi, penyaluran kredit pasca krisis lebih disebabkan oleh lemahnya penawaran kredit atau terjadi credit crunch. Sehingga dapat disimpulkan bahwa disintermediasi perbankan Indonesia pasca krisis lebih disebabkan oleh penawaran kredit atau dengan kata lain telah terjadi credit crunch. Berikut ini akan dibahas penyebab rendahnya penyaluran kredit pasca krisis ekonomi berdasarkan hasil estimasi yang telah dilakukan.

Maret 1999 – Desember 1999

Credit crunch pada tahun 1999 terjadi karena adanya permasalahan internal perbankan yaitu masalah permodalan. Hal ini diakibatkan oleh nilai tukar rupiah yang terdepresiasi tajam terhadap dolar US, permasalahan likuiditas, permasalahan negative spreads dan permasalahan NPL. Akumulasi dari permasalahan tersebut menyebabkan permodalan perbankan menjadi negatif.

Pada saat terjadi depresiasi tajam nilai tukar rupiah terhadap dolar US, sektor perbankan mengalami kesulitan dalam mengelola usahanya dan dalam memenuhi kewajiban finansialnya kepada lembaga-lembaga kreditur dan terjadi pula penggelembungan nilai pinjaman valuta asing ketika dikonversi ke rupiah. Sehingga bank mengalami kerugian valas (foreign exchange loss). Lalu

permasalahan likuiditas timbul ketika kepercayaan masyarakat semakin turun kepada perbankan yang pada akhirnya terjadi ”rush” terhadap bank-bank. Sehingga perbankan mengalami kesulitan likuiditas yang pada akhirnya semakin mengurangi modal yang dimiliki perbankan.

Kemudian suku bunga yang tinggi menyebabkan suku bunga deposit meningkat. Sedangkan suku bunga pinjaman tidak bisa disesuaikan sepenuhnya. Maka suku bunga deposit lebih besar dibandingkan suku bunga kredit. Sehingga terjadi negative interest margin atau negative spreads karena bank harus membayar biaya bunga kepada deposan (cost of fund) lebih besar dibandingkan pendapatan bunga yang diperoleh melalui suku bunga kredit. Selain itu NPL yang semakin meningkat, menyebabkan perbankan harus membentuk dana cadangan penghapusan menjadi semakin besar. Akumulasi dari semua permasalahan tersebut menyebabkan permodalan perbankan menjadi negatif. Kondisi tersebut semakin mempersulit posisi keuangan perbankan dan menyebabkan penurunan kemampuan perbankan dalam meyalurkan kredit. Selain itu, ketentuan prinsip kehati-hatian prudensial, seperti pencapaian rasio kecukupan modal sebesar 8% menyebabkan bank enggan untuk menyalurkan kredit. Sehingga mengakibatkan penurunan penawaran kredit. Semakin menurunnya penawaran kredit menyebabkan semakin membesarnya excess demand.

Maret 2000 – September 2002

Berdasarkan Gambar 5.5 pada Maret 2000 sampai September 2002 terjadi excess supply atau terjadi credit slowdown. Hal ini terjadi karena adanya peningkatan DPK yang berhasil dihimpun oleh perbankan. Kepercayaan

masyarakat telah pulih karena pemerintah melakukan penjaminan terhadap perbankan. Sehingga penawaran kredit meningkat dibandingkan permintaan kredit. Sedangkan penurunan kredit terjadi karena neraca perusahaan di sektor riil masih lemah akibat pengaruh yang berkelanjutan dari nilai tukar yang semakin terdepresiasi pada masa krisis disertai suku bunga yang tinggi. Selain itu perekonomian masih dalam pemulihan ekonomi setelah mengalami resesi, sehingga prospek investasi masih rendah dan resiko usaha masih cukup tinggi. Oleh karena itu, penurunan pada permintaan kredit adalah sesuatu yang wajar di tengah kondisi pemulihan perekonomian. Selain itu, Laporan Tahunan BI 2001 menyebutkan bahwa pertumbuhan perekonomian Indonesia mengalami perlambatan. Dari sisi penawaran agregat, perekonomian Indonesia mengalami perlambatan pertumbuhan pada hampir seluruh sektor perekonomian, bahkan terjadi kontraksi pada sektor pertambangan dan penggalian. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 5.6. Dalam kondisi seperti ini, maka menjadi hal yang wajar jika permintaan kredit mengalami kecenderungan menurun.

Sumber : BI (2001)

Desember 2002 – September 2007

Berdasarkan Gambar 5.5 pada tahun 2002 sampai tahun 2007 terjadi excess demand (credit crunch) dan excess supply (credit slowdown) secara bergantian. Meskipun permintaan kredit telah meningkat tapi perbankan mengurangi penawaran kreditnya padahal bank memiliki kelebihan likuiditas.

Pada Desember 2002 – September 2005 terjadi excess demand atau terjadi credit crunch yang terjadi pada masa ini lebih diakibatkan oleh permasalahan eksternal dari perbankan. Hal ini terjadi sebagai suatu konsekuensi dari informasi yang asimetri di pasar kredit, khususnya masalah adverse selection. Dalam hal ini bank tidak bisa membedakan kualitas debitur antara yang beresiko tinggi dan rendah. Hal ini didukung dengan kurangnya informasi mengenai debitur potensial (feasible) sehingga bank memiliki persepsi terhadap tingginya resiko kredit di sektor riil. Selain itu, perbankan mengalami trauma dengan kejadian yang telah dialami sepanjang krisis terutama permasalahan kredit macet. Sehingga bank menjadi lebih berhati-hati dalam melakukan pemberian kredit kepada sektor riil.

Perilaku bank yang menjadi risk averse dapat terlihat dari semakin ketatnya persyaratan kredit. Persyaratan tersebut tercermin dari rendahnya fleksibilitas perbankan dalam negosiasi agunan dan suku bunga kredit. Meskipun bank memiliki kelebihan likuiditas tapi bank tidak serta merta menyalurkan dananya melalui kredit. Karena bank lebih risk averse, maka bank mengalihkan dananya untuk ditanam dalam bentuk SBI. Bank lebih menyukai untuk menyimpan dananya dalam bentuk SBI karena SBI memiliki zero risk. Sehingga terjadi pergeseran portofolio aset perbankan dari kredit yang beresiko tinggi ke

aset-aset yang lebih beresiko rendah seperti SBI. Sehingga penawaran kredit menjadi lebih rendah dibandingkan permintaan kredit.

Ketika penawaran kredit mulai meningkat, pada Desember 2005-Juni 2006 permintaan kredit justru menurun sehingga terjadi credit slowdown. Credit slowdown ini terjadi karena adanya peningkatan harga BBM dan peningkatan tarif dasar listrik yang semakin memperburuk kondisi sektor riil. Hal itu menyebabkan peningkatan biaya produksi sektor riil. Peningkatan harga BBM juga berdampak pada penurunan daya beli masyarakat dan pada akhirnya akan menurunkan pengeluaran konsumsi. Akibat dari adanya penurunan daya beli masyarakat dan peningkatan biaya produksi, maka sektor riil akan mengurangi produksinya yang kemudian berdampak pada menurunnya permintaan kredit.

Kemudian ketika permintaan kredit mulai meningkat, pada September 2006 – September 2007 perbankan justru mengurangi penawaran kredit. Hal ini dikarenakan perbankan masih memiliki persepsi resiko yang tinggi terhadap sektor riil. Perbankan menganggap bahwa sektor riil belum bergairah karena sektor riil masih memiliki permasalahan struktural yang masih belum dapat diatasi. Hal ini terkait dengan daya saing dan iklim investasi sektor riil yang belum kondusif dan adanya high cost economy. Permasalahan struktural yang dimiliki sektor riil antara lain seperti birokrasi yang berbelit-belit, banyaknya pungutan liar, belum menariknya insentif pajak, rendahnya kualitas dan kapasitas infrastruktur, masalah kepastian hukum, kurang kondusifnya iklim ketenagakerjaan, serta energi yang mahal dan langka. Berbagai permasalahn tersebut mengakibatkan iklim investasi sektor riil belum kondusif. Sehingga

investasi di sektor riil memiliki resiko yang cukup tinggi. Dengan demikian untuk mengurangi resiko kredit yang akan dihadapi, perbankan lebih suka mengalokasikan dananya di SBI ataupun bermain di pasar valas. Hal ini ditunjukkan oleh meningkatnya penempatan dana perbankan di SBI pada tahun 2007 hingga mencapai 200 trilyun rupiah. Jika penempatan dana perbankan dalam SBI meningkat, maka dana yang tersedia untuk kredit akan berkurang. Sehingga penawaran kredit perbankan pun menurun dan terjadi excess demand.

Berdasarkan semua penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa disintermediasi perbankan pasca krisis lebih disebabkan oleh lemahnya penawaran kredit atau dengan kata lain telah terjadi credit crunch.

5.3 Dampak Disintermediasi Perbankan terhadap Sektor riil dan

Dokumen terkait