• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

A. Landasan Teori

2. Penyebab Financial Distress

Lizal (2002) dalam Khaira Amalia Fachrudin (2008:6) mengelompokkan penyebab-penyebab kesulitan keuangan dan menamainya dengan Model Dasar Kebangkrutan atau Trinitas Penyebab Kesulitan Keuangan. Ada tiga alasan yang menyebabkan perusahaan menjadi bangkrut, yaitu :

a. Neoclassical Model

Pada kasus ini kebangkrutan terjadi jika alokasi sumber daya tidak tepat. Kasus restrukturisasi ini terjadi ketika kebangkrutan mempunyai campuran asset yang salah. Mengestimasi kesulitan dilakukan dengan data neraca dan laporan laba rugi. Misalnya profit/assets (untuk mengukur profitabilitas) dan liabilities/assets.

b. Financial Model

Campuran asset benar tapi struktur keuangan salah dengan liquidity constraints (batasan likuiditas). Hal ini berarti bahwa walaupun perusahaan dapat bertahan hidup dalam jangka panjang tapi ia harus bangkrut juga dalam jangka pendek. Hubungan dengan pasar modal yang tidak sempurna dan struktur modal yang inherited menjadi pemicu utama kasus ini. Tidak dapat secara terang-terangan ditentukan apakah dalam kasus ini kebangkrutan baik atau buruk untuk direstrukturisasi. Model ini

mengestimasi kesulitan dengan indicator keuangan atau indicator kinerja seperti turnover/total assets, revenues/turnover, ROA, ROE, profit margin, stock turnover, receivables turnover, cash flow/total equity, debt ratio, cash flow (liabilities-reserves), current ratio, acid test, current liquidity, short term assets/daily operating expenses, gearing ratio, turnover per employee, coverage of fixed assets, working capital, total equity per share, EPS ratio dan sebagainya.

c. Corporate Governance Model

Kebangkrutan mempunyai campuran asset dan struktur keuangan yang benar tapi dikelola dengan buruk. Ketidakefisienan ini mendorong perusahaan menjadi out of the market sebagai konsekuensi dari masalah dalam tata kelola perusahaan yang tak terpecahkan.

Terdapat beberapa indikator atau sumber informasi mengenai kemungkinan dari kesulitan keuangan yakni (Luciana & Kristijadi, 2003:189) :

a. Analisis arus kas untuk periode sekarang dan yang akan datang.

b. Analisis strategi perusahaan yang mempertimbangkan pesaing potensial, struktur biaya relatif, perluasan rencana dalam industri, kemampuan perusahaan untuk meneruskan kenaikan biaya kualitas manajemen dan lain sebagainya.

c. Analisis laporan keuangan dari perusahaan serta perbandingannya dengan perusahaan lain. Analsisis ini dapat berfokus pada suatu variabel keuangan tunggal atau suatu kombinasi dari variabelkeuangan.

3. Prediksi Financial Distress

Kegunaan informasi jika suatu perusahaan mengalami financial distress adalah (Rasenda K. Brahmana, 2005:3):

a. Dapat mempercepat tindakan manajemen untuk mencegah masalah sebelum terjadinya kebangkrutan.

b. Pihak manajemen dapat mengambil tindakan merger/take over agar perusahaan lebih mampu untuk membayar hutang dan mengelola perusahaan dengan lebih baik.

c. Memberikan tanda peringatan dini/awal adanya kebangkrutan pada masa yang akan datang.

4. Definisi Kebangkrutan

Kebangkrutan biasanya diartikan sebagai kegagalan perusahaan dalam menjalankan operasi perusahaan untuk menghasilkan laba. Kebangkrutan juga sering disebut likuidasi perusahaan atau penutupan perusahaan atau insolvabilitas. Kebangkrutan sebagai kegagalan didefinisikan dalam beberapa arti, yaitu kegagalan ekonomi dan kegagalan keuangan. Kegagalan dalam arti ekonomi (economic failure) biasanya berarti bahwa perusahaan kehilangan uang atau pendapatan perusahaan tidak menutup biayanya sendiri, ini berarti tingkat labanya lebih kecil dari biaya modal atau nilai sekarang dari arus kas perusahaan lebih kecil dari kewajiban. Kegagalan terjadi bila arus kas sebenarnya dari perusahaan tersebut jatuh di bawah arus kas yang diharapkan. Bahkan kegagalan dapat juga

berarti bahwa tingkat pendapatan atau biaya historis dari investasinya lebih kecil daripada biaya modal perusahaan. (Adnan & Kurniasih, 2000:137).

5. Penyebab Kebangkrutan

Factor-faktor penyebab kebangkrutan dapat dibagi menjadi tiga (Agung Gemah Permana, 2009:42) yaitu :

a. Faktor Umum

1) Sektor ekonomi, dimana berasal dari gejala inflasi dan deflasi dalam harga barang dan jasa, kebijakan keuangan, suku bunga dan devaluasi atau revaluasi dengan mata uang asing.

2) Sektor Sosial, dimana yang sangat berpengaruh adalah adanya perubahan gaya hidup masyarakat yang mempengaruhi permintaan terhadap produk dan jasa ataupun yang berhubungan dengan karyawan.

3) Sektor Teknologi, dimana penggunaan teknologi memerlukan biaya yang ditanggung perusahaan terutama untuk pemeliharaan dan implementasi.

4) Sektor Pemerintah, dimana kebijakan pemerintah terhadap pencabutan subsidi pada perusahaan dan industri, pengenaan tariff ekspor dan impor bisa berubah, kebijakan undang-undang baru bagi perbankan atau tenaga kerja dan lain lain.

b. Faktor Eksternal Perusahaan

1) Sektor pelanggan/nasabah, dimana untuk menghindari kehilangan nasabah bank harus melakukan identifikasi terhadap sifat nasabah atau konsumen juga menciptakan peluang untuk mendapatkan nasabah baru.

2) Sektor Kreditur, dimana kekuatannya terletak pada pemberian pinjaman dan menetapkan jangka waktu pengembalian hutang piutang yang tergantung pada kepercayaan kreditor terhadap kelikuditan suatu bank.

3) Sektor pesaing/bank lain, dimana merupakan hal yang harus diperhatikan karena menyangkut perbedaan pemberian pinjaman kepada nasabah.

c. Faktor Internal Perusahaan

1) Terlalu besarnya kredit yang diberikan kepada nasabah sehingga menyebabkan adanya penunggakan dalam pembayaran sampai akhirnya tidak dapat membayar.

2) Manajemen yang tidak efisien yang disebabkan karena kurang adanya kemampuan, pengalaman, keterampilan, sikap adaptif dan inisiatif dari manajemen.

3) Penyalahgunaan wewenang dan kecurangan-kecurangan, dimana sering dilakukan oleh karyawan, bahkan manajer puncak sekalipun yang sangat merugikan apalagi yang berhubungan dengan keuangan perusahaan.

6. Tahap-tahap dan Berbagai Indikator Kebangkrutan

Dalam kaitannya dengan faktor-faktor internal, kebangkrutan yang menimpa suatu perusahaan tidak terjadi secara tiba-tiba tanpa dapat diramalkan sebelumnya. Kebangkrutan merupakan klimaks dari perbagai tahap atau proses dari situasi kesulitan keuangan yang dihadapi perusahaan. Sebelum suatu perusahaan dinyatakan bangkrut, biasanya ditandai oleh berbagai situasi atau keadaan khususnya berhubungan dengan efektivitas dan efisiensi operasinya. Kesulitan-kesulitan keuangan yang menuju kearah terjadinya kebangkrutan dapat dianalisa dan dapat diidentifikasikan melalui tahap-tahap yang tercakup dalam proses perjalanan yang berakhir ada keadaan kebangkrutan tersebut. Adapun tahap-tahap itu adalah (Hernanto, 1984:426) :

a. Tahap permulaan atau tahap awal

b. Tahap dimana perusahaan mengalami kekurangan kas dan alat-alat likuid lainnya/tahap kesulitan likuiditas.

c. Tahap dimana perusahaan tidak solvabel dalam kegiatan komersial dan keuangan.

d. Bangkrut secara total.

Dalam industri perbankan, setiap badan usaha bank wajib menyampaikan kepada Bank Sentral Indonesia segala keterangan dan penjelasan mengenai usahanya menurut tata cara yang ditetapkan oleh Bank Sentral Indonesia. Dalam hal ini apabila suatu bank mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya, maka Bank Indonesia dapat melakukan tindakan agar (Herman Darmawi, 2006:41) :

a. Pemegang saham menambah modal

b. Pemegang saham mengganti dewan komisaris dan atau direksi bank. c. Bank menghapus buku kan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip

syariah yang macet dan memperhitungkan kerugian bank dengan modalnya.

d. Bank melakukan merger/konsolidasi dengan bank lain.

e. Bank dijual kepada pembeli yang bersedia mengambil alih seluruh kewajiban.

f. Bank menyerahkan pengelolaan seluruh atau sebagian kegiatan bank kepada pihak lain.

g. Bank menjual sebagian atau seluruh harta dan atau kewajiban bank kepada pihak lain.

Apabila berbagai tindakan yang dilakukan BI tersebut belum dapat mengatasi kesulitan yang dihadapi atau bahkan keadaan bank tersebut menjadi lebih buruk dan dapat membahayakan sistem perbankan secara keseluruhan, maka BI dapat mencabut izin usaha bank dan meminta kepada direksi untuk menyelenggarakan RUPS dengan tujuan membubarkan badan hukum bank dimaksud dan membentuk tim likuidasi (Herman Darmawi, 2006:41).

7. Rasio Keuangan Model Altman (1968)

Penelitian ini menggunakan metode analisis multivariate dalam pengolahan datanya. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini mencakup 66 perusahaan yang sehat dan tidak sehat dalam kurun waktu 1954 sampai 1964. Perusahaan-perusahaan tersebut dibagi menjadi dua kelompok yang

masing-masing terdiri dari 33 perusahaan. Kelompok pertama merupakan kelompok perusahaan yang telah dinyatakan bangkrut oleh Chapter X of National Bankruptcy Act pada periode 1949 sampai dengan 1965. pengolahan data penelitian ini dilakukan dengan menggunakan multivariate discriminant analysis (MDA). Dari penelitian ini didapat suatu persamaan yang dapat digunakan untuk mengukur kemungkinan kegagalan suatu perusahaan. Angka index ini dikenal dengan istilah Altman Z-Score, formulanya dapat dituliskan sebagai berikut :

5 4 3 2 1 1,4 3,3 0,6 0,999 2 , 1 X X X X X Z = + + + + Dimana : 1. Z = Overall Index

2. X1 = Net Working Capital to Total Assets (WC/TA) 3. X2 = Retained Earnings to Total Assets (RE/TA)

4. X3 = Earnings Before Interest and Tax to Total Assets (EBIT/TA) 5. X4 = Market Value of Equity to Book Value of Debt (MVE/BVD) 6. X5 = Sales to Total Assets (S/TA)

Altman membagi perusahaan berdasarkan nilai dari Z-Score masing-masing perusahaan menjadi 3 kategori yakni :

a. Jika Z > 2,67 maka perusahaan dikategorikan sebagai perusahaan yang sehat dan memiliki kemungkinan bangkrut yang rendah.

b. Jika 1,81 < Z < 2,67 maka perusahaan memiliki kemungkinan bangkrut yang cukup besar.

c. Jika Z < 1,81 maka dikategorikan sebagai perusahaan yang tidak sehat dan mengalami masalah keuangan yang besar dan resiko bangkrut dari perusahaan sangat besar.

Pada tahun 1984, Altman kembali melakukan penelitian di berbagai Negara. Penelitian ini memasukkan dimensi internasional, sehingga Z-Scorenya diubah menjadi formula :

5 4 3 2 1 0,847 3.107 0.420 0,998 717 , 0 X X X X X Z = + + + +

Altman membagi perusahaan berdasarkan nilai dari Z-Score masing-masing perusahaan menjadi 3 kategori yakni :

a. Jika Z > 2,99 maka perusahaan dikategorikan sebagai perusahaan yang sehat dan memiliki kemungkinan bangkrut yang rendah.

b. Jika 1,81 < Z < 2,99 maka perusahaan memiliki kemungkinan bangkrut yang cukup besar.

c. Jika Z < 1,81 maka dikategorikan sebagai perusahaan yang tidak sehat dan mengalami masalah keuangan yang besar dan resiko bangkrut dari perusahaan sangat besar.

Tingkat akurasi dari model Altman Z-Score ini mencapai 90% dari kejadian yang sebenarnya, dari penelitian ini juga dapat disimpulkan bahwa semakin dekat dengan saat terjadinya kebangkrutan, maka semakin besar tingkat validitas hasil dari prediksi yang dilakukan dengan model.

8. Rasio Keuangan Model Springate (1978)

Springate membuat model prediksi financial distress pada tahun 1978. dalam pembuatannya Springate menggunakan metode yang sama dengan Altman (1968) yaitu MDA. Seperti Beaver (1966) dan Altman (1968), pada awalnya Springate mengumpulkan rasio-rasio keuangan popular yang bias dipakai untuk memprediksi financial distress. Jumlah rasio awalnya yaitu 19 rasio, setelah melalui uji yang sama dengan yang dilakukan Altman, Springate memilih 4 rasio yang dipercaya bisa membedakan antara perusahaan yang mengalami distress dan tidak distress. Sampel yang digunakan berjumlah 40 perusahaan yang berlokasi di Kanada. Model yang dihasilkan Springate adalah sebagai berikut :

5 6 3 1 3.07 0.66 0.4 03 , 1 X X X X S = + + + Dimana :

1. X1 = Working Capital / Total Assets

2. X3 = Net Profit Before Interest Taxes / Total Assets 3. X6 = Net Profit Before Taxes / Current Liability 4. X5 = Sales / Total Assets

Springate mengemukakan nilai cut-off yang berlaku untuk model ini adalah 0.862 menunjukkan bahwa perusahaan tersebut diprediksi akan mengalami financial distress. Model ini memiliki akurasi 92.5% dalam tes yang dilakukan Springate. Beberapa orang juga telah menguji model ini dan menemukan tingkat akurasi yang berbeda-beda. Penelitian yang telah dilakukan menggunakan sampel perusahaan yang berbeda-beda pula nilai asset nya. Botheras (1979) menguji model ini atas 50 perusahaan yang nilai asset nya rata-rata US$ 2.5 Juta dan

menemukan tingkat akurasi 88%. Sands (1980) menguji model ini pada 24 perusahaan yang rata-rata asset nya US$ 63.4 Juta dan menemukan tingkat akurasi 83.3%.

9. Manfaat Rasio Keuangan Untuk Memprediksi Kebangkrutan

Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengkaji manfat yang bisa dipetik dari rasio keuangan seperti Altman (1968) dalam Luciana dan Kristijadi (2003), merupakan penelitian awal yang mengkaji pemanfaatan analisis rasio keuangan sebagai alat untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan. Dengan menggunakan analisis diskriminan, fungsi diskriminan akhir yang digunakan untuk mempediksi kebangkrutan perusahaan memasukkan rasio keuangan berikut: Working Capital / Total Assets, Retained Earnings / Total Assets, Earnings Before Interest and Taxes / Total Assets, Market Value Equity / Book Value of total debt, Sales / Total Assets.

Secara umum disimpulkan bahwa rasio-rasio keuangan tersebut bisa digunakan untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan dengan pendekatan multivariat. Dengan kata lain, pendekatan multivariat rasio keuangan bisa memberikan hasil yang lebih memuaskan.

Thomson (1991) dalam Luciana dan Winny (2005) yang menguji manfaat rasio CAMEL dalam memprediksi kegagalan bank di USA pada tahun 1980an dengan menggunakan alat statistik regresi logit, Whalen dan Thomson (1988) dalam Luciana dan Winny (2005) menemukan bahwa rasio keuangan CAMEL cukup akurat dalam menyusun rating bank.

Penelitian yang dilakukan oleh Sri Haryati (2002) dalam Luciana (2006) berusaha untuk menganalisis apakah terdapat perbedaan bermakna kinerja keuangan yang diukur dari rasio cadangan penghapusan kredit terhadap kredit, ROA, efisiensi dan LDR antar bank kelompok kategori A, B, dan C. Hasil dari penelitian ini adalah empat rasio keuangan yang digunakan ternyata rasio ROA, efisiensi, dan LDR mempunyai perbedaan yang signifikan diantara bank-bank dalam kategori A, B dan C

Luciana (2006) meneliti rasio keuangan yang berasal dari laporan laba rugi, neraca dan laporan arus kas untuk memprediksi kondisi financial distress pada perusahaan, adapun rasio keuangan yang berasal dari laporan laba rugi dan neraca yang digunakan adalah : profit margin, likuiditas, efisiensi, profitabilitas, financial leverage, posisi kas dan pertumbuhan. Sedangkan rasio keuangan yang berasal dari laporan arus kas adalah yang berasal dari aktivitas operasi, aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan.

B. Penelitian Terdahulu

Penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan kebangkrutan bank di Indonesia dilakukan oleh Etty M. Nasser dan Titik Aryati (2000) menyimpulkan bahwa dengan uji univariat ada dua jenis rasio yang signifikan yang membedakan bank sehat dan bank gagal yaitu rasio EATAR dan OPM. Untuk rasio keuangan yang dominan mempengaruhi kegagalan dan keberhasilan bank adalah EATAR dan PBTA melalui analisis Stepwise Statistic, dan dengan analisis Casewise Statistic dapat diketahui tingkat keberhasilan keseluruhan dari fungsi diskriminan dan untuk peramalan empat tahun sebelum bangkrut adalah 67,6%. Penelitian ini

menggunakan bank go public sebagai sampel. Variabel bebas yang digunakan adalah beberapa rasio-rasio keuangan model CAMEL yaitu CAR1, CAR2, ETA, RORA, ALR, NPM, OPM, ROA, ROE, BOPO, PBTA, EATAR, dan LDR. Sedangkan yang menjadi variabel terikat adalah financial distress dengan dua alternatif yaitu bank sehat dan bank gagal.

Adnan dan Taufiq (2001), menguji model Altman dengan menggunakan sampel sebanyak 50 bank di Indonesia yang terdiri atas 25 bank yang terlikuidasi dan 25 bank yang tidak terlikuidasi. Dan disimpulkan bahwa model Altman dapat digunakan dalam memprediksi kebangkrutan dunia perbankan di Indonesia.

Hadad, dkk (2004) melakukan penelitian untuk membentuk model prediksi kepailitan bank umum di Indonesia baik secara umum maupun untuk masing-masing kelompok bank umum di Indonesia berdasarkan laporan keuangan bank yang bersangkutan. Metode yang digunakan adalah analisis faktor dan regresi logistik. Data yang digunakan merupakan data bulanan periode Januari 1995 sampa dengan Desember 2000 sebagai populasi desain dan periode Januari 2001 sampai dengan Desember 2003 sebagai populasi validasi. Karena kepailitan bank tidak terjadi secara tiba-tiba, model prediksi yang dibangun meliputi model prediksi 3 bulan (MP3), 6 bulan (MP6), dan 12 bulan (MP12) sebelum pailit. Uji goodness of fit dilakukan berdasarkan Chi-square Hosmer and Lemeshow test sedangkan uji signifikansi koefisien regresi tidak dilakukan mengingat penelitian ini menggunakan data populasi bukan sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari ketiga model prediksi yang berhasil dibangun ternyata hanya MP3 yang layak dipergunakan sebagai model prediksi kepailitan bank umum di

Indonesia. Pada tataran permodelan, MP3 memiliki akurasi klasifikasi 94,9 persen (default cut-off = 0,5) atau 94,2 persen (spesifikasi cut-off = 0,939), sedangkan pada tataran validasi model memiliki akurasi klasifikasi 82,6% (default cut-off = 0,5) atau 89,8 persen (spesifikasi cut – off = 0,939). Model prediksi kepailitan untuk masing-masing kelompok bank juga dibangun dengan formula MP3 melalui substitusi dummy kelompok bank.

Studi Luciana dan Winny (2005) dengan sampel penelitian yang terdiri atas 16 bank sehat, 2 bank yang mengalami kebangkrutan dan 6 bank yang mengalami kondisi kesulitan keuangan. Model statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis penelitian adalah regresi logistik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rasio keuangan CAMEL memiliki daya klasifikasi atau daa prediksi untuk kondisi bank yang mengalami kesulitan keuangan dan bank yang mengalami kebangkrutan. Penelitian ini juga membuktikan bahwa rasio CAR, APB, NPL, PPAPAP, ROA, NIM dan BOPO secara statistik berbeda untuk kondisi bank bangkrut dan mengalami kesulitan keuangan. Penelitian ini juga memberikan bukti empiris bahwa hanya rasio keuangan CAR dan BOPO secara statistik berbeda untuk kondisi bank bangkrut dan mengalami kesulitan keuangan dengan bank yang tidak bangkrut dan tidak mengalami kondisi kesulitan keuangan. Penelitian ini juga memberikan bukti empiris bahwa hanya rasio keuangan CAR dan BOPO yang secara statistik signifikan memprediksi kondisi kebangkrutan dan kesulitan keuangan pada sektor perbankan.

Robert Cristhian Santoso (2006), melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui seberapa besar ketepatan antara metode prediksi kebangkrutan

model Altman, model Springate, model Internal Growth Rate, model Grover terhadap kebijakan Bank Indonesia, studi kasus pada bank-bank yang dilikuidasi tahun 1999. Penelitian tersebut membuktikan bahwa keempat model tersebut dapat digunakan untuk menganalisa keadaan bank-bank di Indonesia.

Ryan Ariafinanda (2006), melakukan penelitian kebangkrutan terhadap sektor perbankan tahun 1998 dan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan menggunakan model Altman, hasilnya membuktikan bahwa model Altman tepat dalam memprediksi kondisi kebangkrutan bank di Indonesia.

Siti Eros Rosidah (2009), melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh perubahan kondisi ekonomi terhadap kinerja keuangan dalam bentuk integrasi rasio keuangan model Altman. Sampel penelitian yang digunakan adalah sebanyak 19 bank yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, dan hasilnya membuktikan bahwa model Altman tepat digunakan dalam memprediksi kebangkrutan bank di Indonesia dengan tingkat ketepatan sebesar 84,6%.

Endri (2009), melakukan penelitian tentang prediksi kebangkrutan bank-bank syariah di Indonesia yakni Bank Muamalat Indonesia, Bank Syariah Mandiri, dan Bank Mega Syariah Indonesia periode 2005-2007 dengan menggunakan model Altman Z-Score. Hasil penelitian membuktikan bahwa semua sampel bank syariah tersebut diprediksi akan bangkrut. Untuk lebih jelas, penelitian-penelitian terdahulu tentang kebangkrutan dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :

Tabel 2.1

Daftar Penelitan Terdahulu Untuk Kondisi Bermasalah Tahun Nama Peneliti Masalah yang Diteliti

1966 Beaver Prediksi kebangkrutan dengan menggunakan enam kelompok rasio keuangan yang dianalisis dengan menggunakan metode univariat

1968 Altman Prediksi kebangkrutan dengan menggunakan metode MDA (Z-Score).

1980 Ohlson Prediksi kebangkrutan menggunakan model analisa logit kondisional untuk menghilangkan masalah MDA

1984 Altman Meneliti ulang prediksi kebangkrutan dengan menggunakan metode MDA dengan memasukkan dimensi internasional, yang mengubah formula Z-Score.

2001 Adnan dan Taufiq

Prediksi kebangkrutan bank dengan menggunakan model Altman Z-Score.

2003 Haddad, dkk. Meneliti indicator kepailitan di Indonesia sebagai EWS pada stabilitas system keuangan dengan menggunakan teknik penelitian logit dan diskriminan analisis.

2004 Liza Angelina Perbandingan EWS untuk memprediksi kebangkrutan bank umum di Indonesia dengan membandingkan model logit, MDA, dan trait recognition.

2004 Margaretta Fanny & Sylvia

Saputra

Meneliti tentang opini audit going concern, kajian berdasarkan model prediksi kebangkrutan Altman, Springate, Zmijewski. 2007 Arga Fajar

Santosa & Linda Kususmaning

Wedari

Meneliti tentang factor-faktor yang mempengaruhi kecendrungan opini audit going concern dengan model prediksi kebangkrutan Zmijewski, Altman, Revisi Altman, dan Springate.

2007 J. Efrim Boritz, dkk.

Penelitian tentang prediksi kegagalan bisnis di Kanada dengan menggunakan model Altman, Ohlson, Springate, Legault & Veronneau.

2009 Endri Meneliti tentang prediksi kebangkrutan bank-bank syariah di Indonesia dengan menggunakan model Altman Z-Score.

Sumber : Diolah dari berbagai jurnal dan hasil penelitian.

C. Kerangka Pemikiran

Untuk dapat mengetahui terjadinya kondisi bermasalah pada bank dapat menggunakan metode Altman dengan menggunakan DA, yang terdiri atas lima

variabel yakni Working Capital to Total Assets, Retained Earnings to Total Assets, Earnings Before Interest Tax to Total Assets, Market Value of Equity to Book Value of Debt, dan Sales to Total Assets. Kemudian analisa metode Altman dilakukan dengan menggunakan data kelima variable tersebut, hasil analisa dari metode Altman dapat dibagi dalam beberapa kategori yakni bank yang dikategorikan bermasalah dan bank yang sehat. Sehingga dengan menggunakan analisis terhadap bank dengan menggunakan metode Altman Z-Score dapat diketahui apakah bank tersebut bermasalah atau tidak.

Selanjutnya menggunakan metode Springate dengan DA yang terdiri atas empat variabel yakni, Working Capital to Total Assets, Net Profit Before Interest and Taxes to Total Assets, Net Profit Before Taxes to Current Liability dan Sales To Total Assets. Kemudian analisa metode Springate dilakukan dengan menggunakan data keempat variabel tersebut, hasil analisa dari metode Springate dapat dibagi dalam beberapa kategori yakni bank yang dikategorikan bermasalah dan bank yang sehat. Sehingga dengan menggunakan analisis terhadap bank dengan menggunakan metode Springate dapat diketahui apakah bank tersebut bermasalah atau tidak.

Langkah berikutnya adalah menguji hasil metode Altman dan Springate yang telah dilakukan dengan menggunakan uji DA dapat diketahui variabel apa saja pada metode Altman dan Springate yang memiliki pengaruh cukup besar terhadap kebangkrutan perusahaan, sehingga perusahaan lebih memperhatikan variabel-variabel tersebut dalam laporan keuangannya. Serta dapat diketahui pula

dari hasil pengujian kedua model tersebut model manakah yang memberikan prediksi yang lebih tepat untuk kondisi bermasalah bank.

Rasio Keuangan Model Altman : WCTA RETA EBITTA MVE/BVD STA

Penelitian Model Altman

Bank Bermasalah Bank Sehat

Uji Discriminant Analysis

Hasil Model Altman Hasil Model Springate Uji Discriminant Analysis Bank Bermasalah Bank Sehat

Penelitian Model Springate Rasio Keuangan Model Springate : WCTA EBITTA EBT/CL STA Laporan Keuangan Bank Go Public yang Mengalami Kondisi

Bermasalah dan Bank yang Sehat

Dokumen terkait