BAB I PENDAHULUAN
C. Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT)
4. Penyebab KDRT
Penyebab KDRT menurut Wallace (2002, h. 11) dapat dijelaskan dengan teori:
1. The Psychiatric Model. Model ini menganalisis kepribadian, sifat, dan status mental dari pelaku. Ada 3 sebab utama KDRT, yaitu: gangguan kepribadian, gangguan mental, dan zat-zat tertentu. Dua macam penyebab KDRT (dari segi pelaku) menurut teori ini, yaitu:
a. The Psychopathology Theory. Teori ini berdasarkan pada konsep bahwa individu yang menderita gangguan mental, gangguan kepribadian, dan disfungsi lainnya adalah pelaku KDRT. Namun, penelitian yang ada gagal untuk membedakan gangguan mental apa saja yang ada pada masyarakat yang menyebabkan seseorang menjadi pelaku KDRT. Teori ini gagal untuk menjelaskan sifat kepribadian yang mana yang berhubungan dengan KDRT. Banyak individu yang menderita berbagai macam gangguan kepribadian yang tidak menjadi
pelaku KDRT. Selain itu, banyak juga pelaku KDRT yang tidak mengalami gangguan mental.
b. The Substance Abuse Theory. Teori ini menyatakan bahwa alkohol dan obat-obatan adalah penyebab KDRT. Di lain pihak, beberapa peneliti meyakini bahwa zat-zat tersebut bukan penyebab KDRT. Beberapa penelitian telah berusaha menghubungkan alkohol dan obat-obatan dengan pelaku KDRT. Namun, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa zat-zat tersebut berpengaruh langsung sebagai penyebab KDRT. Teori ini gagal untuk menjelaskan fenomena orang yang menggunakan alkohol dan obat-obatan yang tidak menjadi pelaku KDRT.
2. The Social Psychological Model. Teori ini menganalisa faktor luar dari
lingkungan yang mempengaruhi keluarga, seperti stres, struktur keluarga, dan interaksi dalam keluarga. Semua itu dianggap sebagai penyebab utama KDRT. Teori ini memiliki 5 subteori, yaitu:
a. The Social Learning Theory. Teori yang menyatakan bahwa seorang anak belajar dengan cara melihat dan mengimitasi orang dewasa. Mereka mengadaptasi tindakan yang dilakukan oleh orang dewasa sesuai dengan observasi mereka, termasuk tindakan kekerasan. Jadi, kekerasan yang dilakukan oleh pelaku diakibatkan karena proses
belajar yang ia alami. Besar kemungkinannya pelaku terbiasa melihat kekerasan dalam keluarganya sejak ia masih kecil.
b. The Exchange Theory. Teori ini berdasarkan prinsip bahwa seseorang bertindak berdasarkan pada sistem hadiah dan hukuman (reward and
punishment). Gelles (dalam Wallace, 2002, h. 11) menyatakan bahwa
seseorang memukul anggota keluarganya karena ia memiliki kemampuan untuk melakukannya dan untuk mendapatkan tujuan tertentu/reward.
c. The Frustration-Aggression Theory. Seseorang melakukan tindakan agresi terhadap objek yang menghalangi dirinya untuk mencapai tujuan tertentu. Jika tujuan seseorang dihalangi sehingga membuatnya menjadi frustrasi, maka ia akan bertindak agresif. Teori ini tidak menjelaskan kompleksitas masyarakat modern yang jika mengalami frustrasi tidak langsung bertindak agresif. Proses sosialisasi yang mereka alami mengajarkan mereka cara bertindak jika sedang frustrasi.
d. The Ecological Theory. Garbarino (dalam Wallace, 2002, h. 12) menyebutkan dua kondisi yang ada dalam kasus KDRT, yaitu lingkungan tempat tinggal yang menerima penggunaan kekerasan dan keluarga tersebut terisolasi dari komunitas. Bila tidak ada lembaga
yang mendukung atau membantu keluarga tersebut, maka resiko timbulnya kekerasan akan meningkat dengan tajam.
e. The Sociobiology or Evolutionary Theory. Orangtua akan bersikap agresif terhadap anak yang bukan merupakan anak kandung mereka ataupun anak yang dianggap tidak memiliki produktifitas, misalnya anak cacat. Anak yang cacat memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menjadi korban kekerasan.
3. The Sociocultural Model. Memiliki fokus pada peran pria dan wanita dalam masyarakat, sikap budaya terhadap perempuan, dan penerimaan terhadap kekerasan dalam rumah tangga. Teori ini melihat KDRT dari 5 sudut pandang, yaitu:
a. The Culture of Violence Theory. Kekerasan tidak tersebar secara merata pada semua kalangan masyarakat. Kekerasan lebih umum terjadi pada masyarakat dari sektor sosial ekonomi yang rendah. Teori ini membatasi kekerasan dipelajari hanya oleh kelompok sosial ekonomi tertentu. Padahal kekerasan yang ada di media diterima oleh semua kalangan masyarakat. Teori ini juga menganggap bahwa pandangan masyarakat tentang maskulinitas laki-laki yang identik dengan kuat, asertif, dan agresif memberikan kontribusi dalam kasus kekerasan terhadap perempuan.
b. The Patriarchy Theory. Teori ini memandang wanita berada pada posisi subordinat dibandingkan pria menyebabkan wanita diperlakukan sebagai barang. Perbedaan kekuatan dan status antara pria dan wanita yang ada di masyarakat menyebabkan terjadinya kekerasan terhadap perempuan.
c. The General Systems Theory. KDRT lebih disebabkan oleh sistem, daripada patologi kepribadian. Straus (dalam Wallace, 2002, h. 15) menyatakan bahwa KDRT memiliki banyak penyebab. Saat pelaku melakukan KDRT, ia mendapatkan keinginannya sehingga ia dapat memenuhi konsep dirinya sebagai seorang yang keras dan kuat. d. The Social Conflict Theory. Teori ini menganalisis konflik,
pernikahan, dan proses komunikasi. Peningkatan konflik dan KDRT muncul saat kemarahan dan rasa malu dalam sebuah hubungan tidak diakui.
e. The Resource Theory. Seseorang yang mengontrol uang memiliki posisi yang lebih dominan. KDRT dapat dihubungankan dengan anggota keluarga yang mengontrol uang. Pria yang bekerja dengan gaji dan penghargaan yang tinggi, memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan dengan keberadaan wanita. Makin berkuasa pria, maka makin tinggi kemungkinan ia menggunakan kekerasan. Pria yang tidak
bekerja memiliki kecenderungan untuk melakukan kekerasan sebagai cara untuk tetap mengontrol rumah tangganya.
Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia, faktor penyebab KDRT terutama berkaitan dengan sosial budaya, yaitu: budaya patriarkhi yang mendudukkan laki-laki sebagai mahluk superior dan perempuan sebagai makhluk inferior, pemahaman yang keliru terhadap ajaran agama sehingga mengganggap bahwa laki-laki boleh menguasai perempuan, anak laki-laki yang hidup bersama dengan ayah yang suka memukul biasanya akan meniru perilaku ayahnya. Yayasan Jurnal Perempuan (2002, h. 146) mengatakan bahwa laki-laki menggunakan kekerasan terhadap perempuan karena mereka sering menyaksikan ayah menyiksa ibu mereka, mereka berupaya untuk terus memelihara citra laki-laki macho yang mendapat penguatan dari masyarakat dan media, mereka meyakini kekerasan sebagai ekspresi dari kontrol dan kekuasaan laki-laki, mereka memahami bahwa hanya sedikit orang yang menyadari akibat tindak kekerasan tersebut.