• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PENYELESAIAN KREDIT MACET OLEH BANK DALAM

B. Penyebab Terjadinya Kredit Macet Dengan Jaminan

Sebagai usaha yang penuh risiko, sebelum memberikan kredit, seyogyanya bank melakukan analisis kredit yang saksama, teliti dan cermat dengan didasarkan pada data yang aktual dan akurat, sehingga bank tidaka akan keliru dalam mengambil keputusannya. Oleh karena itu, setiap pemberian kredit tentunya telah memenuhi ketentuan perbankan dan sesuai dengan asas perkreditan yang seha.Demikian pula pemberian kreditnya juga telah didasarkan pada penilaian yang jujur, objektif, dan terlepas dari pengaruh pihak-pihak yang berkepentingan dengan pemohon kredit. Bank harus meyakini bahwa kredit yang akan diberikannya tersebut dapat melunasi kembali pada waktunya oleh nasabah debitur dan tidak akan berkembang menjadi kredit bermasalah atau macet.

Namun pada kenyataannya, nasabah-nasabah yang memperoleh kredit dari bank tidak seluruhnya dapat mengembalikannya dengan baik tepat pada waktu yang diperjanjikan.Selalu ada sebagian nasabah yang karena suatu sebab tidak dapat mengembalikan kredit kepada bank yang telah meminjaminya.Akibat nasabah tidak dapat membayar lunas utangnya, maka menjadikan perjalanan kredit terhenti atau macet.67

1. Kredit Lancar, yaitu suatu kredit yang memenuhi persyaratan dibawah ini: Angka kredit macet yang cukup tinggi, merupakan macetnya suatu produk bank. Jika macetnya produk bukan bank, maka hal ini akan mengancam kelangsungan hidup perusahaan tersebut, yang dimiliki oleh para pemilik saham. Masalah kredit macet memerlukan penanganan secara khusus, karena dikonstatir kredit macet mulai menjadi lahan empuk dari pelaku kejahatan ekonomi. Masalah ini sering dihubungkan dengan berbagai tindak kejahatan perbankan, baik yang dilakukan oleh kalangan orang dalam maupun oleh orang luar atau kolusi (kerja sama) orang luar dan orang dalam.

Menurut Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 31/147/Kep/DIR tanggal 12 November 1998 tentang Kualitas Aktiva Produktif maka kualitas kredit digolongkankredit berdasarkan kolektibilitasnya dapat dibedakan menjadi sebagai berikut:

a. Untuk kredit dengan angsuran bukan KPR, maka kredit tersebut:

1) Tidak ada tunggakan angsuran pokok, bunga atau cerukan karena penarikan;

2) terdapat tunggakan angsuran pokok belum melampaui 1 (satu) bulan (bagi kredit yang masa angsurannya kurang dari 1 (satu) bulan); atau belum melampaui 3 (tiga) bulan (bagi kredit yang ditetapkan masa angsurannya bulanan, dua bulanan atau tiga bulanan); atau belum melampaui 6 (enam) bulan bila angsurannya di tetapkan 4 (empat) bulan atau lebih;

3) terdapat tunggakan bunga tetapi belum melampaui 1 (satu) bulan bagi kredit yang masa angsurannya kurang dari 1 (satu) bulan; atau belum melampaui 3 (tiga) bulan bagi kredit yang masa angsurannya lebih dari 1 (satu) bulan;

4) terdapat cerukan tetapi belum melampaui 15 (lima belas) hari kerja. b. Kredit dengan angsuran untuk KPR:

1) Tidak terdapat tunggakan angsuran pokok;

2) terdapat tunggakan angsuran pokok tetapi tidak melampaui 6 (enam) bulan.

c. Kredit tanpa angsuran/kredit rekening orang:

1) Kredit belum jatuh tempo dan tidak ada tunggakan bunga; 2) bila ada tunggakan bunga, itu tidak lebih 3 (tiga) bulan;

3) kredit telah jatuh waktunya dan telah dilakukan analisis untuk perpanjangan tetapi belum dapat diperpanjang karena kesulitan teknis; 4) terdapat cerukan karena penarikan tetapi jangka waktunya belum

melampaui 15 (lima belas) hari.

a. Kredit di luar KPR harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1) Terdapat tunggakan angsuran pokok yang melampaui 1 (satu) bulan (tetapi belum melampaui 2 (dua) bulan) bagi kredit yang masa angsurannya 1 (satu) bulan, atau melampaui 3 (tiga) bulan (tetapi belum melampaui 6 (enam) bulan) bagi kredit yang masa angsurannya ditetapkan bulanan/2 (dua) bulanan atau 3 (tiga) bulanan; atau melampaui 6 (enam) bulan dan belum melampaui 12 (dua belas) bulan bagi kredit yang masa angsurannya ditetapkan 6 (enam) bulan atau lebih.

2) Terdapat cerukan karena penarikan yang jangka waktunya telah melampaui 15 (lima belas) hari kerja tetapi belum melampaui 30 (tiga puluh) hari kerja.

3) Terdapat tunggakan bunga yang melampaui 1 (satu) bulan tetapi belum melampaui 3 bulan bagi yang angsuran kreditnya 1 (satu) bulan.

4) Atau melampaui 3 (tiga) bulan tetapi belum melampaui 6 (enam) bulan bagi angsurannya yang melebihi 1 (satu) bulan.

b. Bagi kredit KPR terdapat tunggakan angsuran pokok telah melampaui 6 (enam) bulan tetapi belum melampaui 9 (sembilan) bulan.

c. Kredit tanpa angsuran:

1) Kredit belum jatuh tempo dan terdapat tunggakan bunga melampaui 6 (enam) bulan atau terdapat penambahan plafon atau kredit baru yang dimaksudkan untuk melunasi tunggakan bunga;

2) Kredit telah jatuh tempo dan belum dibayar, tetapi belum melampaui 3 (tiga) bulan;

3) Terdapat cerukan karena penarikan tetapi jangka waktunya telah melampaui 15 (lima belas) hari kerja tetapi belum melampaui 30 (tiga puluh) hari kerja.

d. Kredit yang diselamatkan: Kredit yang mempunyai cerukan karena penarikan tetapi jangka waktunya telah melampaui 15 (lima belas) hari kerja dan belum melampaui 30 (tiga puluh) hari kerja.

3. Kredit yang diragukan, yaitu kredit yang tidak memenuhi kriteria lancar atau kurang lancar seperti tersebut pada angka 1 dan 2, tetapi kredit tersebut (akan) dapat diselamatkan dan agunannya bernilai sekurang-kurangnya 75% dari utang debitur, atau kredit tidak dapat diselamatkan tetapi agunannya masih bernilai sekurang-kurangnya 100% dari utang debitur.

4. Kredit macet yaitu:

a. Kredit yang tidak memenuhi criteria lancer, kurang lancer dan diragukan seperti angka 1, 2 dan 3;

b. Memenuhi criteria diragukan tetapi dalam jangka waktu 21 9dua puluh satu) bulan sejak digolongkan diragukan belum ada perlunasan atau usaha penyelamatan kredit.

c. Kredit tersebut penyelesaiannya telah diserahkan kepada Pengadilan Negeri atau Badan Urusan Piutang Negara (BUPN) atau telah diajukan penggantian ganti rugi kepada perusahaan asuransi kredit.

Menurut Gatot Supramono bahwa faktor-faktor penyebab terjadinya kredt macet yakni sebagai berikut:68

1. Faktor yang berasal dari nasabah

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kredit macet yang berasal dari nasabah, yaitu:

a. Nasabah menyalahgunakan kredit uang diperolehnya

Setiap kredit yang diperoleh nasabah telah diperjanjikan tujuan pemakaiannya, sehingga nasabah harus menggunakan kredit sesuai dengan tujuannya.

b. Nasabah kurang mampu mengelola usahanya

Hal ini dapat terjadi pada nasabah yang kurang menguasai bidang usahanya diberi kredit, karena nasabah mampu meyakinkan bank akan keberhasilan usahanya. Akibatnya, usaha yang dibiayai dengan kredit tidak dapat berjalan dengan baik, misalnya hasil produksi kualitasnya rendah, sehingga sulit bersaing dipasaran.

c. Nasabah beretikad tidak baik

Ada sebagian nasabah mungkin jumlahnya tidak banyak yang sengaja dengan segala upaya mendapatkan kredit, tetapi setelah kredit diterima digunakan untuk kepentingan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.Nasabah sejak awal tidak berniat mengembalikan kredit, walaupun dengan resiko apapun.Biasanya sebelum jatuh tempo kreditnya, nasabah sudah melarikan diri untuk menghindari tanggung jawab. 2. Faktor yang berasal dari Bank

Bank juga merupakan salah satu penyebab terjadinya kredit macet.Dalam memberikan kredit kepada nasabah, pejabat bank diwajibkan melaksanakan

prinsip-prinsip perbankan yang sehat.Sebagaimana diketahui, dalam memberikan kredit bank wajib mempunyai keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan debitur untuk melunasi hutangnya sesuai dengan yang diperjanjikan.Keyakinan tersebut diperoleh dari penilaian bank terhadap watak, kemampuan, modal, agunan, dan prospek usaha debitur. Selain itu pemberian kredit kepada kelompoknya, pemilik maupun pengurus bank itu sendiri dibatasi oleh undang-undang. Apabila kewajiban dan larangan tersebut tidak dipatuhi, maka mengandung resiko yang sangat tinggi bagi bank.Ada beberapa hal yang dapatmempengaruhi pejabat bank bertindak menyimpang dari prinsip-prinsip perbankan di atas, sebagai berikut:69

a. Kualitas pejabat bank

Setiap bank manapun dituntut untuk dapat bekerja secara professional.Namun tidak semua pejabat bank mempunyai kualitas yang baik.Pejabat yang bekerja tidak professional tentu sulit, diharapkan dapat memperoleh hasil kerja yang memadai.Terutama dibagian kredit, pejabat yang demikian dapat mempengaruhi penyaluran kredit yang tidak sebagaimana mestinya.

b. Persaingan antar bank

Jumlah bank yang beroperasi terus meningkat mengakibatkan persaingan antar bank semakin ketat. Dalam melakukan persaingan ini, setiap bank selalu berusaha untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat, guna mendapatkan nasabah yang banyak dan nasabah yang

69

sudah tidak pindah kepada bank yang lain. Dalam situasi dan kondisi yang demikian, mempengaruhi bank untuk bertindak spekulatif, dengan memberi fasilitas yang mudah kepada nasabahnya, dengan mengabaikan prinsip-prinsip perbankan yang sehat.

c. Hubungan ke dalam

Yang dimaksud adalah hubungan bank dengan perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam kelompoknya.Selain itu, hubungan baik dengan pengurus maupun pemegang saham. Dari adanya hubungan tersebut, bank dalam melayani kepentingan nasabah-nasabah dari “dalam” cenderung lebih mudah dibandingkan dengan nasabah-nasabah lainnya. Terkadang proyek yang dibiayai dengan kredit kurang begitu menguntungkan, tetapi karena masih satu ikatan, bank dengan setia membantu kesulitan nasabah bersangkutan.

d. Pengawasan

Setiap tindakan bank dalam menyalurkan fasilitas kredit selalu dibarengi dengan tindakan pengawasan.Tindakan tersebut selain dilakukan dari dalam bank itu sendiri (oleh bagian pengawasan kredit), bank juga diawasi oleh Bank Indonesia. Terlepas darimana pengawasan itu dilakukan, apabila bidang pengawasan lemah, maka akan mengakibatkan prinsip-prinsip perbankan tidak dapat dijalankan dengan baik di dunia perbankan.

3. Faktor dari luar debitur dan kreditur (Ekstern)

Kredit macet bisa terjadi karena factor diluar dari pihak debitur maupun kreditur. Factor eksternal lain misalnya karena terjadinya krisis moneter, kerusuhan missal,

terjadinya bencana seperti gempa bumi, banjir, kebakaran dan kejadian-kejadian lainnya. Pengaruh kondisi ekonomi global juga bisa berdampak terhadap perputaran perekonomian dalam negeri, seperti naiknya harga minyak dunia yang berimbas pada mandeknya kegiatan usaha para pengusaha sehingga keadaan perekonomian menjadi lesu karena menurunnya daya beli masyarakat atau konsumen.

Berdasarkan hasil penelitian di Bank Mandiri unit Credit Operations Regional I Medan, ada beberapa faktor penyebab terjadinya kredit macet dengan jaminan perorangan di Bank Mandiri, yaitu sebagai berikut:70

1. Kelemahan karakter nasabah

a. Nasabah tidak mau atau memang beritikad tidak baik

Nasabah mungkin saja mampu atau tidak mampu.Tetapi yang jelas niatnya memang buruk kepada bank.Nasabah seperti ini tidak bisa ditolerir.Karena memang karakternya yang buruk.

b. Nasabah menghilang

Menghilangnya nasabah sudah dipastikan membuat kredit menjadi macet.Menghilangnya nasabah dapat terjadi karena berbagai hal, seperti sengaja melarikan uang bank, karena banyak hutang, terlibat masalah lain, dan lain sebagainya.

2. Kelemahan kemampuan nasabah

a. Tidak mampu mengembalikan kredit karena terganggunya kelancaran usaha

70Wawancara dengan Bapak Fajar Syahputra selaku Pelaksana Kredit di PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk unit Credit Operations Regional I Medan.

Ada berbagai bentuk ketidakmampuan pengembalian kredit, namun pada prinsipnya nasabah masih beritikad baik, hanya situasi yang membuat ia tidak bisa lancar membayar pokok dan bunga.

b. Kemampuan manajemen yang kurang

Salah satu bentuk kegagalan usaha adalah adanya miss management, yaitu ketidakmampuan nasabah mengelola perusahaannya. Sebetulnya kesalahan ini secara dini sudah harus bisa diketahui. Namun mungkin saja terjadi pergantian pengurus setelah kredit diperoleh.

c. Teknik produksi yang sudah ketinggalan zaman

Perkembangan teknologi senantiasa terjadi dalam segala hal.Hal ini menyebabkan setiap produsen harus berpacu dengan kemajuan teknologi industri. Jika nasabah ketinggalan dalam teknologi, maka ia pasti akan kalah bersaing, yang menyebabkan banyak pelanggan berpaling kepada pesaingnya.

d. Kemampuan pemasaran tidak memadai

Mungkin saja produk dari perusahaan nasabah cukup baik dan marketable, namun jika ia kurang lincah dalam pemasaran seperti promosi, pemasangan iklan, atau pendekatan kepada pelanggan tidak berkembang dengan baik, maka perusahaannya tidak akan memiliki kemampuan pemasaran secara memadai.

e. Informasi terbatas atau kurang memadai

Setiap pengusaha harus mampu mengikuti setiap perkembangan dan arus informasi.Dengan informasi pengusaha mampu mengambil berbagai

langkah dan kebijakan perusahaannya.Jika informasi kurang maka berarti pengusaha mudah kehilangan komunikasi dengan pelanggannya.

3. Kelemahan manajemen nasabah a. Pemogokan para buruh

Adanya pemogokan pada perusahaan nasabah dapat menggoncang kestabilan situasi perusahaan, apalagi jika pemogokan dilakukan dalam waktu yang cukup lama, sehingga dapat menghentikan kelancaran produksi, bahkan dapat merusak proses distribusi dan pemasaran produksi kepada pelanggan.

b. Sengketa antar pengurus

Sengketa dapat saja terjadi, karena sengketa adalah faktor yang alami dimana-mana. Tetapi jika sengketa terjadi antar pengurus suatu perusahaan, apalagi masing – masing pihak mempunyai kedudukan yang sama kuat, maka dapat berakibat terganggunya stabilitas perusahaan bahkan bisa berakibat pecahnya perusahaan.

c. Tingkat efisiensi rendah

Banyak faktor penyebab terjadinya inefisiensi dalam suatu perusahaan, antara lain:

1) Adanya pungli yang terpaksa harus dibayar oleh pengusaha untuk memudahkan perolehan izin dan kelancaran produksi.

2) Adanya pemerasan dari preman yang mungkin dilakukan secara rutin dan dalam jumlah yang cukup menggangu dan meresahkan.

3) Adanya berbagai pajak resmi atau tidak resmi yang dipungut oleh badan resmi.

4) Adanya pungutan khusus, bila penguasa melakukan suatu “hajatan”. d. Pelayanan kurang kompetitif

Dalam era globalisasi ini, setiap produsen harus mampu memberikan pelayanan yang prima kepada konsumennya. Jika tidak ia akan ditinggalkan oleh pelanggannya. Bentuk pelayanan prima itu adalah rasa puas pelanggan atas pembelian produk antara lain:

1) Rasa puas atas barang karena mutunya yang tinggi, seperti sepatu, baju, mobil, dll.

2) Rasa puas karena pelayanan, terutama usaha jasa seperti angkutan, hotel, rumah sakit, dll

C. Penyelesaian Kredit Macet oleh Bank dalam Pemberian Kredit dengan Jaminan Perorangan

Pada dasarnya jaminan perorangan (personal guarantee) merupakan bagian dari perjanjian penanggungan yang diatur dalam Bab XVII Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.Inti dari penanggungan adalah adanya pihak ketiga yang setuju untuk kepentingan si berhutang mengikatkan diri untuk memenuhi perikatan si berhutang, apabila pada waktunya si berhutang sendiri tidak berhasil memenuhi kewajibannya sehingga menimbulkan kredit macet.

Membicarakan kredit macet, sesungguhnya membicarakan resiko yang terkandung dalam setiap pemberian kredit.Kredit macet merupakan penyebab

kesulitan terhadap bank itu sendiri, yaitu berupa kesulitan terutama yang menyangkut kesehatan bank.Karenanya bank wajib menghindarkan diri dari kredit macet.

Bila hendak membahas upaya hukum yang dapat dilakukan oleh bank bila terjadi kredit macet yang dijamin oleh jaminan perorangan (personal guarantee) maka harus dilihat lebih dahulu mengenai sifat-sifat umum dari pertanggungan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata sebagai berikut:

1. Penanggungan adalah suatu persetujuan dimana seorang pihak ketiga guna kepentingan si berutang mengikatkan diri untuk memenuhi perikatan siberhutang jika siberhutang tidak memenuhi kewajibannya.

2. Penanggungan dapat terjadi diluar sepengetahuan debitur. 3. Penanggungan utang bersifat accesoir

4. Penanggung tidak dapat mengikatkan diri melebihi dari perikatan pokok

5. Penanggungan hutang tidak boleh dipersangkakan melainkan dinyatakan secara tegas

6. Penanggungan tidak terbatas hanya pada perjanjian pokok melainkan dapat meliputi segala akibat dari hutang debitur dan biaya-biaya tagihan kepada debitur yang dikeluarkan oleh debitur

7. Perikatan penanggungan hutang beralih pada ahli warisnya

8. Penanggung harus memiliki kecakapan untuk mengikatkan diri, mampu memenuhi perikatannya dan berdomisili diwilayah Republik Indonesia

Berdasarkan sifat-sifat umum guarantor dapat lihat bahwa bila terjadi kredit macet dengan jaminan perorangan maka upaya hukum yang dapat dilakukan dalam penyelesaian kredit macet adalah pihak bank harus meminta terlebih dahulu kepada debitur agar melakukan pembayaran atas utang-utangnya, bila hal tersebut tidak dipenuhi oleh debitur maka bank dapat segera menyita dan menjual harta benda milik debitur sebagai pelunasan bagi hutang-hutang debitur terhadap bank.

Bila langkah-langkah diatas telah ditempuh oleh pihak kreditur namun belum juga mampu melunasi semua utang debitur pada bank maka bank dapat meinta pertanggungjawaban pihak penjamin untuk segera melunasi sisa hutang sidebitur sesuai dengan kewajiban penjamin yang telah dituangkan kedalam akte perikatan yang disepakati antara kreditur dengan debitur dan penjamin perorangan.

Secara umum penyelamatan terhadap kredit macet dilakukan bank dengan cara antara lain:71

1. Rescheduling

a. Memperpanjang jangka waktu kredit

Dalam hal ini si debitur diberikan keringanan dalam masalah jangka waktu kredit misalnya perpanjangan jangka waktu kredit dari 6 (enam) bulan menjadi satu tahun sehingga si debitur mempunyai waktu yang lebih lama untuk mengembalikannya.

b. Memperpanjang jangka waktu angsuran

Memperpanjang angsuran hamper sama dengan jangka waktu kredit. Dalam hal ini jangka waktu angsuran kreditnya diperpanjang pembayarannya pun misalnya dari 36 kali menjadi 48 kali dan hal ini tentu saja jumlah angsuran pun menjadi mengecil seiring dengan penambahan jumlah angsuran.

2. Reconditioning

Dengan cara mengubah berbagai persyaratan yang ada seperti: a. Kapitalisasi bunga, yaitu bunga dijadikan utang pokok.

b. Penundaan pembayaran bunga ssampai waktu tertentu. c. Penurunan suku bunga

d. Pembebasan bunga 3. Restructuring

a. Dengan menambah jumlah kredit b. Dengan menambah equity:

1) Dengan menyetor uang tunai 2) Tambahan dari pemilik 4. Kombinasi

Merupakan kombinasi dari Rescheduling, Reconditioning, dan Restructuring.

5. Penyitaan jaminan merupakan jalan terakhir apabila nasabah sudah benar-benar tidak punya etikad baik ataupun sudah tidak mampu lagi untuk membayar semua utang-utangnya.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Arif Budi Agustanto selaku Team Leader di PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk unit Credit Operations

RegionalI Medan maka tindakan-tindakan yang diambil oleh pihak bank dalam penyelesaian kredit macet adalah sebagai berikut:72

1. Restrukturisasi kredit

Restrukturisasi kredit adalah upaya perbaikan yang dilakukan oleh bank terhadap debitur yang berpotensi atau mengalami kesulitan untuk memenuhi kewajiban. Restrukturisasi dilakukan terhadap debitur yang memenuhi criteria sebagai berikut:

a. Debitur yang berpotensi atau telah mengalami kesulitan pembayaran kewajiban pokok dan/atau bunga kredit

b. Debitur memiliki itikad baik dan kooperatif

c. Debitur memiliki prospek usaha yang baik dan diproyeksikan mampu memenuhi kewajiban setelah kredit direstrukturisasi.

2. Pengalihan utang (Novasi)

Novasi adalah penggantian debitur oleh pihak ketiga yang selanjutnya menjadi debitur baru (novator) atas persetujuan bank.Dengan adanya novasi maka perjanjian lama yang telah dibuat antara bank dan debitur lama, baik perjanjian pokok (PK) maupun perjanjian accesoirnya (pengikatan agunan/jaminan perorangan (personal guarantee/borgtocht) menjadi tidak berlaku lagi. Bank dengan novator harus membuat perjanjian baru baik perjanjian pokok maupun perjanjian accesoirnya. Perjanjian (akte) novasi harus dibuat secara notarial dan ditandatangani oleh bank dan novator serta debitur lama (apabila

72

Wawancara dengan Bapak Arif Budi Agustanto selaku Team Leader PT. Bank Mandiri (persero) Tbk unit Credit Operations Regional I Medan.

dimungkinkan).Dalam hal keterlibatan debitur lama tidak dimungkinkan, maka novasi dapat hanya melibatkan dua pihak yaitu calon novator dengan bank.

3. Membuat somasi kepada debitur

Somasi adalah peringatan dari bank kepada debitur untuk memenuhi kewajibannya sebagaimana yang telah disepakati dalam Perjanjian Kredit. Somasi dapat dilakukan sendiri oleh Bank dan dapat dikuasakan kepada kantor advokat atau melalui bantuan Pengadilan. Dalam hal somasi dilakukan melalui bantuan pengadilan, Bank mengajukan permohonan kepada Ketua Pengadilan Negeri agar Pengadilan Negeri melakukan somasi atau teguran tertulis kepada debitur yang telah wanprestasi/cidera janji.

4. Menjual jaminan kebendaan debitur a. Penjualan agunan dibawah agunan

Penjualan agunan kredit di bawah tangan dapat dilakukan terhadap agunan yang belum/tidak diikat maupun yang telah diikat sesuai ketentuan.Penjualan agunan di bawah tangan dapat dilakukan oleh pemilik agunan dengan persetujuan debitur sepanjang diperoleh harga tertinggi dan telah mendapat persetujuan Bank.Bank memberikan batas waktu tertentu kepada debitur atau pemilik agunan untuk merealisir penjualan agunan. b. Penjualan agunan dengan cara lelang

Penjualan agunan dengan cara lelang adalah penjualan agunan melalui pelelangan umum dengan harga minimal sebesar nilai limit lelang yang telah ditentukan dan bertujuan untuk menurunkan atau melunasi kewajiban kredit debitur.

Adapun jenis penjualan secara lelang yaitu: 1) Lelang sukarela

Lelang sukarela adalah penjualan agunan secara lelang yang dilakukan oleh debitur selaku pemilik agunan atas agunan yang belum/tidak dilakukan pengikatan.Pelaksanaan lelang sukarela harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Bank.

2) Lelang eksekusi

Lelang eksekusi adalah penjualan agunan secara lelang yang dilakukan oleh Bank atas agunan yang telah dilakukan pengikatan.Dalam melaksanakan lelang eksekusi ini tidak diperlukan adanya persetujuan dari debitur dan/atau pemilik agunan.

5. Meminta pertanggungjawaban Personal Guarantee

Jaminan kebendaan yang telah dilelang ternyata tidak dapat melunasi hutang debitur kepada Bank Mandiri maka Bank memberikan surat tertulis kepada personal guarantee untuk melunasi sisa dari hutang debitur kepada pihak Bank Mandiri sesuai dengan akta pengikatan pihak personal guarantee terhadap hutang debitur pada kreditur bila debitur gagal memenuhi prestasinya.Dalam keadaan personal guarantee tidak dapat memenuhi kewajibannya untuk melunasi hutang debitur maka Bank Mandiri akan melakukan tindakan:

a. Meminta kepada debitur untuk menunjuk penjamin baru sebagai pengganti penjamin yang lama, dimana penunjukan penjamin baru tersebut untuk dapat diterima harus mendapat persetujuan dari pihak bank dengan menganalisa kemampuan dari penjamin baru untuk melakukan

kewajibannya untuk melunasi hutang debitur. Hal itu dipandang penting mengingat salah satu dasar dari disetujuinya permohonan kredit harus dilihat dari bonafiditas dari penjamin.

b. Pihak Bank dan personal guarantee dapat mengganti klausal akta menjadi perjanjian kredit biasa dan bukan lagi sebagai perjanjian kredit dengan personal guarantee, sehingga dalam akta perjanjian kredit yang telah diubah tidak lagi dicantumkan klausal terikatnya pihak ketiga selaku penjamin tetapi para pihak yang terikat dalam perjanjian hanyalah dua pihak yaitu kreditur dan debitur.Bila terjadi keadaan dimana debitur dan si penjamin mengalami wanprestasi secara bersamaan, maka tindakan yang mungkin dilakukan adalah dengan tetap mengupayakan tuntutan kepada kepada debitur baik melalui upaya-upaya lain misalnya dengan menjual dibawah

Dokumen terkait