BAB III PEMBAJAKAN KAPAL MV JAHAN MONI
B. Penyebab terjadinya pembajakan kapal MV Jahan Moni
Pembajakan di laut tidak dapat dibenarkan dari segi pertimbangan apapun, baik dilakukan karena alasan ekonomis ataupun alasan politik.Kejahatan ini telah berlangsung sejak laut menjadi jalur transportasi bagi masyarakat dunia.Hukum Laut Internasional memang kemudian membagi kewenangan untuk menumpasnya dengan melihat dimana pembajakan Laut Lepas itu terjadi. Jika di Laut Lepas maka sudah pasti kewenangan itu dimiliki oleh Negara manapun yang ingin menumpasnya, bahkan Negara-negara diwajibkan untuk bekerjasama menumpas pembajakan tersebut, akan tetapi jika di wilayah satu Negara khususnya Laut Teritorial maka sudah pasti kewenangan itu dimiliki oleh Negara pantainya.
Pembajakan di Laut lepas Somalia terjadi karena disebabkan oleh banyaknya penangkapan ikan secara ilegal, serta pembuangan limbah beracun di perairan Somalia oleh kapal asing yang membuat penduduk lokal yang sebagian besar adalah nelayan semakin sulit untuk mencari nafkah.Hal inilah yang memaksa banyak dari mereka beralih profesi menjadi perompak.
Alasan lainnya yang menyebabkan semakin banyaknya para perompak Somalia adalah bahwa 70 persen masyarakat pesisir lokal sangat mendukung pembajakan sebagai bentuk pertahanan teritorial nasional perairan negara
tersebut.Selebihnya adalah alasan bahwa bajak laut percaya jika tindakan mereka merupakan bagian dari melindungi perairan mereka sekaligus upaya menuntut keadilan dan kompensasi atas sumber daya laut yang dicuri.
Beberapa bajak Laut Lepas juga menyatakan bahwa dalam ketiadaan keamanan yang efektif dari negara untuk menjaga pantai setelah pecahnya Perang saudara Somalia dan ditambah lagi dengan adanya disintegrasi dari Angkatan Bersenjata, mereka akhirnya memilih menjadi pembajakan Laut Lepas untuk melindungi perairan mereka. Kepercayaan ini juga tercermin dalam nama-nama yang diambil oleh beberapa jaringan bajak laut, seperti Relawan Nasional Coast Guard (NCG). Namun diperkirakan pembajakan Somalia bertumbuh secara pesat akhir-akhir dari segi jumlah tidak lebih dari sebuah alasan sederhana, yaitu tindakan pembajakan sendiri merupakan bagian yang sangat jauh lebih menguntungkan dan menghasilkan uang yang melimpah dan inilah yang disebut-sebut sebagai motif paling utama sehingga tindakan perompak itu semakin berkembang dengan pesat.91Ancaman yang ditimbulkan oleh tindakan pembajakan Somalia juga telah menyebabkan kekhawatiran di India karena sebagian besar perdagangan negara ini adalah melalui jalur pelayaran yang melewati Teluk Aden.92
Pada tahun 2008, Rusia mengumumkan bahwa mereka juga akan bergabung dengan upaya-upaya internasional untuk memerangi pembajakan. Beberapa laporan juga menuduh pejabat pemerintah tertentu di Somalia juga terlibat dengan tindakan bajak Laut Lepas.Salah satu pemerintah otoritas Somalia 92 http://id.prmob.net/somalia/teluk-aden/pembajakan-di-somalia-1789959.html diakses 30 Maret 2013
dari daerah administrasi di utara pada bagian Hobyo juga dilaporkan mencoba menggunakan gerombolan bajak Laut Lepas sebagai benteng pertahanan mereka terhadap pemberontak Islam dari zona selatan daerah tersebut.93
Perompak yang beroperasi di lepas pantai Somalia meningkatkan serangan pembajakan terhadap kapal-kapal di Lautan India dan Teluk Aden meski angkatan laut asing digelar di lepas pantai negara Tanduk Afrika itu sejak 2008.Kapal-kapal perang asing berhasil menggagalkan sejumlah pembajakan dan menangkap puluhan perompak, namun serangan masih terus berlangsung.Perairan di lepas pantai Somalia merupakan tempat paling rawan pembajakan di dunia, dan Biro Maritim Internasional melaporkan 24 serangan di kawasan itu antara April dan Juni tahun 2008 saja.Angka tidak resmi menunjukkan 2009 sebagai tahun paling banyak perompakan di Somalia, dengan lebih dari 200 serangan termasuk 68 pembajakan yang berhasil dan uang tebusan diyakini melampaui 50 juta dolar.Kelompok-kelompok bajak laut Somalia, yang beroperasi di jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Asia dan Eropa, memperoleh uang tebusan jutaan dolar dari pembajakan kapal-kapal di Lautan India dan Teluk Aden.94
Pemerintah transisi lemah Somalia, yang saat ini menghadapi pemberontakan berdarah, tidak mampu menghentikan aksi pembajakan yang
Dewan Keamanan PBB telah menyetujui operasi penyerbuan di wilayah perairan Somalia untuk memerangi perompakan, namun kapal-kapal perang yang berpatroli di daerah itu tidak berbuat banyak.
30 Maret 2013 94 http://id.prmob.net/pembajakan/teluk-aden/pembajakan-di-somalia-283800.html diakses 30 Maret 2013
membajak kapal-kapal dan menuntut uang tebusan bagi pembebasan kapal-kapal itu dan awak mereka.Perompak, yang bersenjatakan granat roket dan senapan otomatis, menggunakan kapal-kapal cepat untuk memburu sasaran mereka.Penyebab terjadinya pembajakan Laut Lepas di Somalia adalah adanya pergolakan kekuasaan dan anarkisme sejak panglima-panglima perang menggulingkan diktator militer Mohamed Siad Barre pada 1991.Selain pembajakan, perompakan, penculikan dan kekerasan mematikan juga melanda negara tersebut.
Aksi pembajakan di laut lepas tersebut pada awalnya dan pada umumnya adalah dilatarbelakangi oleh faktor-faktor ekonomi.Namun pada perkembangannya dan dalam situasi dewasa ini, fenomena pembajakandalam konteks tindakan kekerasan di Laut Lepas yang lebih luas.Hal ini mengingat semakin dimungkinkannya ancaman aksi terorisme di kedua Selat ini yang dilatarbelakangi masalah non ekonomi (ideologi), dimana sangat dimungkinkan bahwa aksi-aksi tersebut juga dilakukan di Laut Lepas, serta kapal-kapal di laut.
Dalam perkembangannya banyak faktor-faktor yangmenyebabkan maraknya kegiatan aksi kejahatan di laut. Faktor-faktor ini sedemikian kompleks karena saling berkaitan satu sama lain dan melibatkan banyak pihak terkait. Adapun faktor-faktor utama tersebut yang dianggap mempunyai peranan besar untuk memicu terjadinya pembajakan di Laut Lepas adalah:
1. Situasi ekonomi di kawasan sekitar
Situasi ekonomi di suatu kawasan, terutama kawasanpesisir dapat berpengaruh pada perilaku dari kelompok-kelompok masyarakat tersebut,
terutama dalam hal bagaimana cara mereka mempertahankan hidup. Masyarakat pesisir selama ini selaludikaitkan dengan kemiskinan, kurang berpendidikan, tradisionaldan hidupnya sangat tergantung dengan kondisi alam karena rata-rata mereka hidup dengan memanfaatkan hasil laut atau sebagai nelayan.Sementara itu tidak jauh dari daerah mereka, berbagai kapal-kapal dari berbagai penjuru dunia yang membawa berbagai jenis muatan berlayar melalui jalur-jalur yang dapat dikatakan “dikuasai” oleh masyarakat pesisir tersebut. Dengan didorong dengan kebutuhan untuk mempertahankan hidup dan dengan latar belakang pendidikan yang rendah, hal ini pada akhirnya menimbulkan suatu peluang untuk memperoleh jalan pintas dalam upaya mempertahankan hidup.
2.Lemahnya kontrol pemerintahan terhadap permasalahan di dalam negeri
Pemerintahan yang tidak dapat mengontrol permasalahandan perkembangan yang terjadi di dalam negerinya, menimbulkan peluang bagi sekelompok orang untuk melakukan tindakan sepihak yang menguntungkan dirinya. Kontrol ini dapat
secara efektif dilakukan apabila Pemerintah mempunyai political will dan kemampuan untuk melaksanakan tugas dan fungsinya.Karena dari sudut hukum tata negara, Pemerintah adalah badanhukum publik yang bertugas melayani dan melindungi rakyat.Sedangkan masalah-masalah publik seperti pemenuhankebutuhan pokok rakyat adalah merupakan tugas Pemerintah.Masalah aksi kejahatan di Laut Lepas yang terjadi saat ini, masihdinilai sebagai aksi kejahatan yang dilakukan oleh sekelompokorang dengan dengan dilatar belakangi oleh masalah ekonomi.Banyak diantara mereka melakukan aksi-aksi ini hanya
untukmempertahankan hidup dan mereka menganggap Pemerintahtidak cukup memberi perhatian bagi kebutuhan mereka. Dalamhal ini, ketidakmampuan Pemerintah untuk melaksanakankewajiban-kewajiban melindungi kepentingan umum secarabijaksana akan mendorong sekelompok masyarakat untukmelakukan tindakan untuk kepentingan kelompoknya.
3. Rendahnya kemampuan para penegak hukum dan sarana pendukungnya
Penegakan hukum di bidang maritim terdiri dari penegakanhukum di Laut Lepas, penegakan hukum di kapal dan penegakan hukum di pelabuhan. Semua unsur tersebut seyogyanya saling terkait satu sama lain dan lemahnya salah satu dari unsur penegakan hukum tersebut dapat melemahkan sistem penegakan hukum di laut secara keseluruhan, sehingga berakibat memberi kesempatan atau peluang aksi kejahatan di laut. Untuk itu, segala kelalaian dari petugas pelabuhan, pengusaha kapal, aparat terkait serta tindakan kriminal dari para pelaku kejahatan di laut seyogyanya harus dianggap suatu pelanggaran yang serius.Rendahnya kemampuan para penegak hukum, baik yang bertugas di darat maupun di laut, untuk mengamankan wilayah laut yang sangat luas merupakan peluang bagi para pelaku kejahatan untuk lebih leluasa melakukan tindak kriminal. Selain itu aksi-aksi kejahatan tersebut bukan hanya dilatarbelakangi tidak adanya pengawasan dari aparat terhadap suatu wilayah, tetapi juga karena tidak adanya penegakan hukum (law enforcement) yang dilakukan secara profesional oleh para penegak hukum tersebut terhadap para pelaku-pelaku aksi pembajakan di Laut Lepas tersebut.
Rendahnya kemampuan para aparat hukum ini dapat dilihatdan dinilai dari latar belakang individunya (latar belakang pendidikan, moral, komitmen, dll) maupun kelengkapan-kelengkapan pendukung. Pada akhirnya, kelemahan kemampuan para penegak hukum ini akan berdampak pada pendekatan yang dilakukan oleh penegak hukum dalam hal tindakan pencegahan, pengawasan maupun penindakan terhadap aksi-aksi kejahatan dilaut yang kadangkala tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
4.Lemahnya kerjasama negara-negara kawasan
Aksi kejahatan di Laut Lepas dapat dikategorikan sebagaikejahatan lintas negara, khususnya di wilayah-wilayah perairan sempit.Dengan mobilitas pelaku kejahatan yang sangat tinggi, serta target aksi kejahatan di laut juga dapat dengan mudah berpindah dari satu wilayah ke wilayah lainnya, bahkan antar negara.Hal ini menjadikan aksi kejahatan ini tidak lagi dapat ditangani hanya oleh satu negara, tetapi diperlukan suatu kerjasama dengan negara di kawasan.
Ada kecenderungan bahwa para perompak memanfaatkanketerbatasan aparat suatu negara dalam melakukan pengawasan dan pengejaran, khususnya apabila pengejaran tersebut sudah mengarah ke wilayah perairan negara lain. Sebagaimana
diketahui, pengejaran kapal-kapal patroli terhadap para pelaku kejahatan di laut yang masuk ke dalam wilayah teritori negara lain, justru akan menimbulkan protes dari negara yang bersangkutan, apabila dilakukan tanpa adanya koordinasi.
Hal ini menunjukkan bahwa pada pelaksanaannya,kerjasama secara konkrit negara-negara kawasan saat ini selalu terbentur pada isu-isu yang terkait
dengan kedaulatan dan isu perbatasan.Dalam kondisi seperti ini, sangat diperlukan suatu kerjasama tidak hanya dalam melakukan suatu pengawasan terhadap aksi-aksi kejahatan Laut Lepas, tetapi juga kerjasama dalam melakukan koordinasi terhadap pengejaran di lapangan dan penegakan hukum.
5.Lemahnya sistem hukum di bidang maritim
Selama ini persoalan penegakan hukum dan peraturan di Laut Lepas senantiasa tumpang tindih dan cenderung menciptakankonflik antar institusi dan aparat pemerintah, serta konflik horizontal antar masyarakat.Oleh karenanya dibutuhkan perangkat hukum dan peraturan yang dapat menjamin interaksi antar sektor yang saling menguntungkan dan menciptakan hubungan yang optimal.