BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN …
B. Analisa dan Pembahasan
1. Penyebab yang Melatarbelakangi Proses Terjadinya Culture
Dalam penelitian ini, konsep mahasiswa perantauan menggunakan definisi Mochtar Naim, ia menyebutkan merantau merupakan tipe khusus dari migrasi dengan konotasi budaya tersendiri yaitu seorang individu yang datang dari luar daerah, meninggalkan kampung halaman atau tanah kelahiran untuk pergi merantau ke kota, wilayah atau bahkan luar negeri, dengan kemauan sendiri, dalam kurun waktu tertentu/untuk jangka waktu lama atau tidak biasanya dengan maksud kembali pulang, dan dengan tujuan melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Berbagai alasan mengapa mereka melanjutkan studi diluar daerah, antara lain memperluas wawasan, memperoleh pendidikan yang lebih baik, memperoleh pengalaman baru dan mengharapkan tingkat kehidupan yang lebih baik (Mochtar Naim, 1984: 2).
Menjadi hal umum bahwa para pelajar di berbagai provinsi di luar pulau Jawa banyak yang lebih memilih perguruan tinggi di pulau Jawa untuk meneruskan pendidikan tingginya. Hingga akhirnya kumpulan pelajar tersebut memusat di beberapa kota besar di Indonesia untuk satu tujuan yang sama yaitu berkuliah melanjutkan pendidikan ketingkat yang lebih tinggi setelah selesai menempuh pendidikan di bangku sekolah menengah atas. Selain banyaknya perguruan tinggi, kualitas perguruan tinggi di pulau Jawa dinilai lebih baik dibandingkan perguruan tinggi di luar pulau Jawa. Beberapa daerah yang menjadi pilihan bagi pelajar dari berbagai daerah di Indonesia untuk meneruskan studi ke tingkat pendidikan perguruan tinggi yaitu kota Jakarta, Bandung, Bogor, Yogyakarta, Semarang, Solo, Malang dan Surabaya. Daerah-daerah tersebut dikenal memiliki sarana dan prasarana perkuliahan lengkap, didukung dengan tempat yang kondusif dalam proses belajar mengajar dan mampu menghasilkan daya saing prestasi tinggi antar universitas. Seperti pada pernyataan dari informan SC mahasiswa perantau asal luar jawa mengenai alasannya menjadi perantau sebagai berikut:
“Keinginan sendiri lalu didukung oleh orang tua, agar aku bisa mandiri, mampu berkembang lalu tahu dunia luar. Lagi pula orang-orang didaerah kami menganggap kalau kualitas perguruan tinggi di pulau Jawa itu lebih baik dibanding perguruan tinggi di luar pulau Jawa. Jadi orang tua semakin antusias agar aku merantau ke Jawa demi prospek kedepannya yang penuh peluang begitu kak” (Berdasarkan hasil wawancara dengan SC, informan asal Padang pada tanggal 13 November 2013 pukul 14.00 WIB).
Sama halnya dengan keadaan kota Yogyakarta yang sudah sejak lama dikenal sebagai kota dengan nuansa akademik yang menonjol, kota yang berjamur dan berkembang pesat berbagai lembaga pendidikan yang maju dalam dunia ilmu pendidikan sehingga banyak menarik minat para pelajar hingga mahasiswa perantau untuk datang kemudian menetap sementara waktu selama menuntut ilmu di Yogyakarta begitu terus dari dahulu hingga saat ini. Wajar jika Yogyakarta telah banyak menyedot minat pelajar dari seluruh Indonesia untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat perguruan tinggi berkualitas yang banyak terdapat di Yogyakarta.
Yogyakarta sebagai kota pelajar didukung oleh pemerintah daerah D.I.Yogyakarta dengan di dirikannya perpustakaan sebagai salah satu sarana mendapatkan informasi pada tahun 2013 tercatat sebanyak 3.408 unit. Sebagian besar merupakan perpustakaan sekolah yaitu 85,45%, sedangkan perpustakaan desa 12,85%, perpustakaan umum 0,18%, perpustakaan keliling 0,56% dan perpustakaan internet sebesar 0,97% (BPS Provinsi D.I. Yogyakarta, Dalam Angka, 2014: 110). Selain sebagai kota pendidikan, Yogyakarta dikenal dengan kota bersejarah, kota wisata juga merupakan kota besar dengan sarana prasarana dan fasilitas kota bervariasi yang kesemuanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup penduduknya. Sehingga dapat dibayangkan tingginya daya tarik yang mampu diberikan untuk menyedot minat para pendatang dengan tujuannya masing-masing, baik dari pendatang yang sekedar berkunjung ketempat-tempat wisata di Yogyakarta hingga pendatang untuk merantau ke Yogyakarta.
Hal ini diperkuat dengan sumber data sekunder yang peneliti dapatkan dari majalah campusmagz mengenai beberapa alasan mengapa Wilayah D.I.Yogyakarta, dengan Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta di Daerah Istimewa Yogyakarta yang tersebar baik di kota hingga ke beberapa kabupaten di DIY seperti Sleman, Bantul, Gunung Kidul semuanya tidak surut dari minat mahasiswa perantau untuk meneruskan pendidikannya sehingga Yogyakarta layak disebut sebagai kota pendidikan dengan julukan surganya pelajar mengenyam pendidikan kejenjang perguruan tinggi yaitu: a. Aman dan nyaman. Jika dibandingkan dengan kota-kota besar
yang juga merupakan kota pendidikan lainnya seperti Jakarta serta bandung, tingkat kriminalitas atau tindak kejahatan di Yogyakarta jauh lebih minim dan terkendali. Sehingga kota Yogyakarta terbilang cukup mampu menciptakan rasa tenang dan nyaman bagi para mahasiswa perantau yang datang melanjutkan pendidikan keperguruan tinggi yang banyak terdapat di Yogyakarta (Majalah campusmagz no.36, edisi april 2014: 38).
b. Biaya hidup murah. Indekos yang tersedia di Yogyakarta harga semanya sangat bervariatif dari yang paling murah sampai yang paling mahal tergantung tipe dan fasilitasnya. Harga makanan dan kebutuhan mahasiswa lainnya juga terbilang murah, sesuai dengan kantong mahasiswa.
c. Akses transportasi mudah. Di Yogyakarta dapat dengan mudah berpergian dengan angkutan umum yang tersedia dari fasilitas kota bus transyogya, bus PPD, bus antar kota antar provinsi, kereta api listrik, hingga taxi, ojek motor, becak, delman dan lain-lain.
d. Asrama mahasiswa. Yogyakarta menjalin kerjasama dengan berbagai pemerintah daerah lain baik tingkat kabupaten, kota, maupun propinsi untuk secara resmi mendirikan asrama mahasiswa di Yogyakarta yang bertujuan untuk memudahkan mahasiswa perantauan di Yogyakarta yang ingin bergabung dengan orang-orang dari daerah sendiri dapat mengakses asrama mahasiswa yang banyak terdapat di Yogyakarta. e. Akses kuliner variatif. Di Yogyakarta banyak terdapat penjaja
makanan dari berbagai harga, jenis, dan fasilitas yang dapat disesuaikan dengan selera serta kondisi keuangan. Warung burjo, angkringan, warteg, rumah makan Padang, cafe, resto sampai kedai makan franchise pun ada di Yogyakarta. f. Komunitas kreatif. Komunitas-komunitas kreatif hadir
meramaikan kota Yogyakarta seperti komunitas pecinta sepeda, pecinta binatang, pecinta olahraga ekstrim dan berbagai komunitas lain yang dapat di akses secara khusus di
kampus masing-masing atau diluar kampus seperti di tempat umum (Majalah campusmagz no.36, edisi april 2014: 39). g. Acara-acara menarik. Di Yogyakarta sering di gelar berbagai
pameran seni, pertunjukan teater, konser musik, performing arts, dan sebagaianya. Ada acara yang bersifat rutin di gelar setiap setahun sekali, ada acara yang hanya incidental. Kawasan malioboro dan alun-alun merupakan tempat favorit para penggelar acara karena kawasan ini memang titik wisata paling ramai di Yogyakarta.
h. Akses pergaulan yang luas. Di Yogyakarta tidak hanya menemukan mahasiswa-mahasiswa perantau dari segala penjuru Indonesia saja, tetapi juga dari luar negeri. Orang-orang asing dari negeri tetangga ini juga tercatat sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Sehingga terdapat banyak kesempatan untuk melebarkan sayap pergaulan dengan menjalin hubungan baik dengan orang-orang yang sama-sama memiliki status mahasiswa perantauan dari berbagai daerah di Indonesia bahkan luar negeri.
i. High Quality Campus. Dari seratus lebih kampus yang tersebar di Yogyakarta terbukti menelurkan generasi-generasi yang berprestasi dan mampu bersaing secara kualitas dengan lulusan dari kampus luar daerah Yogyakarta lainnya.
j. Pariwisata yang variatif. Yogyakarta merupakan daerah wisata kedua setelah Bali yang sangat ramai dikunjungi oleh wisatawan baik domestic maupun mancanegara. Yogyakarta memiliki berbagai obyek wisata baik alam maupun buatan, dari pantai, gunung merapi, dataran tinggi, sungai, goa, dan tebing, candi, museum kraton dan lain-lain (Majalah campusmagz no.36, edisi april 2014: 40).
Hal tersebut sama seperti pada pernyataan yang peneliti peroleh dari informan mahasiswa perantauan mengenai alasan mengapa mereka memilih untuk merantau ke Yogyakarta:
“...Yogyakarta memang sudah lama dikenal sebagai kota pelajar
dengan banyak pilihan universitas dan jurusan yang tersedia, tidak hanya itu kualitas perguruan tingginya jauh lebih baik dibanding perguruan tinggi didaerahku. Biaya hidup di Jogja juga lebih terjangkau dari kota-kota pendidikan lain seperti kota Bogor, Bandung, Semarang, Surabaya, Malang, dan Jakarta…” (Berdasarkan
hasil wawancara dengan KMG, informan asal Bedugul Bali pada tanggal 23 November 2013 pukul 10.00 WIB).
Sehingga menjadi fenomena wajar jika Yogyakarta terlihat sebagai daerah yang multietnik, tingginya tingkat karakteristik sosial budaya di Yogyakarta ini disebabkan oleh arus datang budaya asing yang ikut terbawa masuk oleh individu perantau ke dalam Yogyakarta. Terkadang mereka datang merantau secara berkelompok dengan orang-orang satu daerah yang saling mengenal, banyak juga yang datang hanya seorang diri ke Yogyakarta, bahkan tidak sedikit ada mereka datang menghimpun kelompok pertemanan mahasiswa daerah khusus tertentu baik secara resmi maupun yang hanya sekedar mengelompok tanpa dikoordinir secara resmi di Yogyakarta.
Mahasiswa perantauan sendiri peneliti menyimpulkan sebagai yaitu seorang mahasiswa yang berasal dari lingkungan yang secara budaya berbeda dengan daerah tempat rantauan. Mereka datang dengan tujuan berkuliah, menetap dalam kurun waktu tertentu/untuk jangka waktu lama atau tidak yang biasanya dengan maksud kembali pulang dan dengan satu hal yang menjadi motivasi utama yaitu untuk menyelesaikan studinya di perguruan tinggi yang terdapat di lingkungan barunya tersebut.
Culture shock atau dalam bahasa Indonesia disebut gegar budaya, adalah istilah untuk menggambarkan keadaan dan perasaan seseorang dalam menghadapi kondisi lingkungan sosial budaya yang berbeda. Kalervo Oberg mendefinisikan culture shock sebagai penyakit kecemasan
yang diderita oleh individu dalam usaha menyesuaikan diri terhadap lingkungan baru yang berbeda dengan budaya asal, dipicu oleh kecemasan yang timbul akibat hilangnya tanda dan simbol hubungan sosial yang selama ini familiar dikenalnya dalam interaksi sosial, terutama terjadi ketika individu tersebut hidup di luar lingkungan kulturnya dan tinggal dalam budaya baru dalam jangka waktu yang relatif lama (dikutip dari Mulyana dan Rahman, 2006: 174).
Sebagai makhluk sosial mereka dituntut untuk mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitarnya yang baru. Dalam lingkungan yang baru tersebut akan memungkinkan terdapatnya tuntutan-tuntutan untuk dapat mampu memahami budaya yang berlaku, dan respon yang mereka berikan tidak selalu dapat langsung menunjukkan hasil yang dikehendaki dikarenakan adanya perbedaan bahasa, adat-istiadat, tata cara dalam berhubungan atau berkomunikasi, yang kesemuanya memerlukan proses dalam mempelajari suatu hal baru yang kemudian akan dipahami dan diterapkan oleh individu perantau dalam kehidupan sehari-harinya ditempat rantauan. Hal inilah yang menimbulkan gegar budaya bagi mahasiswa perantau, menghasilkan sejumlah reaksi yang berpotensi mengakibatkan masalah yang mengganggu pada diri Individu perantau. Paling tidak gegar budaya dapat menyebabkan perasaan tidak nyaman, lelah hingga putus asa. Hal ini seperti yang disebutkan oleh informan mahasiswa perantauan asal luar jawa semester awal dari hasil wawancara sebagai berikut:
“…Sangat menyakitkan bagi aku karena orang-orang Yogyakarta tidak mengerti aku, orang-orang disini memandang aku dengan tatapan yang membuatku tak nyaman, itu tersirat dari mata lho kak bagaimana cara mereka melihatku dengan tatapan yang aneh yang otomatis membuatku kesal, risih, benci, dan akhirnya malas untuk berinteraksi dengan orang-orang yang ada di lingkungan baru ini, buat apa capek-capek memahami mereka kalau mereka saja tidak bisa menghargai perbedaan pada diri aku. Jangan mentang-mentang ini
tanah merekalah.” (Berdasarkan hasil wawancara dengan SC,
informan asal Padang pada tanggal 13 November 2013 pukul 14.00 WIB)
Dari hasil wawancara dan pengamatan yang peneliti lakukan terhadap informan mahasiswa perantauan di Yogyakarta, peneliti menyimpulkan mahasiswa yang mengalami gegar budaya paling besar dialami oleh mahasiswa perantau yang masih berkatagori sebagai mahasiswa baru, dimana mereka berada diantara transisi budaya yang berbeda, serta dituntut untuk segera beradaptasi dengan lingkungan baru. Sedangkan bagi sebagian besar mahasiswa rantauan, untuk mengatasi masalah transisi budaya dengan baik mereka membutuhkan beberapa waktu dalam proses menyesuaikan diri dengan lingkungan dan kebudayaan baru yang ditemuinya saat ini baru kemudian mereka dapat hidup normal terbebas dari ketidaknyamanan baik secara fisik maupun psikis. Hanya saja tingkat gegar budaya ini bebeda-beda tergantung seberapa jauh perbedaan antara budaya asal yang dimilikinya terhadap kebudayaan yang berlaku di lingkungan baru yang ia datangi. Seperti pada hasil wawancara dengan beberapa orang informan mahasiswa perantauan asal luar Jawa semester awal antara lain sebagai berikut:
“Sepertinya aku terlalu angkuh sok berani memutuskan untuk merantau ke Jogja sendirian jauh dari keluargaku hanya demi pendidikan yang berkualitas, tapi ya bagaimana lagi mau tidak mau bisa tidak bisa aku harus benar-benar mempertanggungjawabkan keputusanku merantau. Karena sebelumnya aku tidak pernah punya pengalaman merantau dan ini kali pertamaku, mungkin wajar kalau aku tidak bisa segera menyesuaikan diri dengan segala perbedaan dengan orang-orang sekitar dilingkungan baruku disini. Bahkan untuk saat ini aku belum memiliki teman yang cocok, paling ya cuma sebatas kenal biasa kalau yang benar-benar dekat dan mengerti bagaimana aku masih belum ada. Setiap kali akan memulai mencoba membaur itu selalu saja timbul perasaan cemas, canggung, dengan orang-orang lokal alhasil maju mundur dan amannya milih untuk nutup diri. Di Jogja aku menjadi sedikit pendiam, bukan karena aku berprilaku sombong tapi aku sering bingung, kurang percaya diri saat hendak memulai pembicaraan dengan orang-orang sekitarku, rasa malu, takut dan ragu bercampur menjadi satu...”(Berdasarkan hasil wawancara dengan WLLY, informan perempuan asal Mamuju, Sulawesi Barat pada tanggal 27 November 2013 pukul 14.00 WIB)
“…karena masih ditemani bapak ibu jadi aku tenang-tenang saja nah
setelah mereka nak balik ke Padang langsung ya masuk babak baru nusuk sedihnya! Disini benar-benar sendiri kesepian ditengah kota besar, merasa benar-benar berada ditempat asing, tersesat! rasanya campur aduk jadi satu susah jelasinnya. Mendadak melankolis sama kenyataan kalau inilah yang namanya merantau jauh dari rumah, dari keluarga, dari apapun itu ya mungkin karena masih baru-baru saja tinggal di Jogja jadi masih belum terima kenyataan” (Berdasarkan hasil wawancara dengan SC, informan asal Padang pada tanggal 13 November 2013 pukul 14.00 WIB)
Pengalaman culture shock (gegar budaya) ini sebenarnya merupakan hal wajar dialami oleh individu ketika sedang berada di dalam daerah dengan lingkungan baru yang secara budaya berbeda dari lingkungan asalnya. Aspek-aspek yang terdiri dari ketegangan, perasaan kehilangan, tidak menyukai perbedaan, perasaan tidak berdaya berada jauh dari budaya asal, adanya kebingungan terhadap peran, perasaan, identitas diri, nilai yang dianut dan tidak mudah membaur atau berinteraksi hingga penolakan
terhadap hubungan sosial orang-orang yang ada dilingkungan baru, dapat mengakibatkan individu merasa tertekan.
Mahasiswa perantau yang mengalami culture shock akan merasakan tahap kecemasan akan hal-hal baru yang belum pernah ia jumpai selama ini, hal ini terkait dengan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan asing, hanya saja tingkat gangguan yang dialami oleh individu tersebut berbeda antara satu individu dengan individu yang lain, tergantung dari seberapa jauh penyebab culture shock dapat mempengaruhi diri individu tersebut.
Culture shock terjadi biasanya dipicu oleh salah satu atau lebih dari tiga penyebab berikut ini, yaitu:
4) Kehilangan cues atau tanda-tanda yang dikenalnya. Padahal cues adalah bagian dari kehidupan sehari-hari seperti tanda-tanda, gerakan bagian-bagian tubuh (gestures), ekspresi wajah ataupun kebiasaan-kebiasaan yang dapat menceritakan kepada seseorang bagaimana sebaiknya bertindak dalam situasi-situasi tertentu.
5) Putusnya komunikasi antar pribadi baik pada tingkat yang disadari yang mengarahkan pada frustasi dan kecemasan. Halangan perbedaan bahasa adalah penyebab jelas dari gangguan ini.
6) Krisis identitas dengan pergi keluar daerahnya seseorang akan kembali mengevaluasi gambaran tentang dirinya (dikutip dari Dayakisni, 2012: 265).
Berdasarkan hasil dari wawancara dengan delapan orang informan mahasiswa perantau di Yogyakarta maka peneliti menemukan penyebab culture shock serta gejala dan reaksi culture shock pada mahasiswa perantauan yaitu sebagai berikut:
a)Penyebab Internal,
Psikologis yang menunjukkan kemampuan intrapsikis untuk menghadapi lingkungan baru yang di kehendaki. Hal ini di kehendaki oleh pusat kendali internal (Dayakisni, 2012: 270). Adanya pengaruh intrapersonal dalam diri individu, diantaranya keterampilan berkomunikasi, pengalaman dalam setting lintas budaya, kemampuan bersosialisasi dan ciri karakter individu (toleransi atau kemandirian berada jauh dari keluarga sebagai orang-orang penting dalam hidupnya yang berperan dalam sistem dukungan dan pengawasan). Seperti pada hasil wawancara dari WLLY informan mahasiswa perantauan asal luar pulau Jawa yang sedang menempuh semester awal berkuliah di Perguruan Tinggi Yogyakarta yang menunjukkan penyebab internal pembentuk culture shock yaitu sebagai berikut:
“Yang membuat stress itu jarak, karena jarak membuatku merasa kehilangan orang-orang yang telah ku kenal sebelumnya, sedih berada di lingkungan yang tidak kukenali ini, terlebih jauh dari orang tua itu sangat menyiksa dan sering membuatku gampang menangis, bahkan bisa sampai jatuh sakit saat tidak terbendung lagi rasa rinduku. Sekarang amat terasa sekali kalau ternyata jauh dari orang tua itu sangat berat, dampaknya hingga membuat moodku berantakan, apa-apa jadi malas, tidak ada yang menyemangati. Saat rasa itu mulai datang dan tak terbendung, aku akan lebih memilih untuk menyendiri di kamar kosku bahkan bisa sampai nafsu makanku hilang kadang juga bisa sampai jatuh sakit karena tak terbendung rasa rinduku
dengan rumah kampung halaman terlebih dengan keluargaku. Disini apa-apa harus mengurus sendiri, saat sakit pun harus pintar merawat diri sendiri pergi berobat sendiri itu sangat memilukan kak, semua itulah yang membuatku merasa tertekan karena jarak. Aku merasa
sebatang kara disini ditempat asing ini.”(Berdasarkan hasil
wawancara dengan WLLY, informan perempuan asal Mamuju, Sulawesi Barat pada tanggal 27 November 2013 pukul 14.00 WIB) Dan hasil wawancara dari ADTY informan mahasiswa perantauan asal luar pulau Jawa yang telah menempuh semester lanjut berkuliah di Perguruan Tinggi Yogyakarta yang menunjukkan penyebab internal pembentuk culture shock yaitu sebagai berikut:
“…diawal datang itu butuh waktu untuk rileks, tidak dipungkiri ya
walau aku cowok tapi perasaan gerogi, gugup, tidak percaya diri karena berada ditempat asing, merasa sendiri tidak ada kelompok teman-teman yang biasanya bersamaku itu ada. Aku merasa kehilangan jati diri selama berada di lingkungan baru ini, tidak ada orang tua hanya ada pacar itupun berbeda jurusan denganku, disini aku kehilangan semuanya ya walau tidak secara langsung tapi aku kehilangan sosok orang yang lama kukenal sebelumnya orang-orang yang familiar dikampung halaman. Ini hal-hal yang tidak kuperhitungkan saat memutuskan untuk merantau, tapi kalau aku tidak merantau bagaimana pacarku kasian dia jika tanpaku menjalani semua ini sendiri di sini bisa gila dia nanti. Semua ini berat dan beratnya tidak seperti yang kami berdua bayangkan saat memutuskan untuk merantau, dari yang kami kira mudah ternyata tidak semudah
perkiraan”(Berdasarkan hasil wawancara dengan ADTY informan
pria asal Pematang Siantar, Sumatera Utara pada tanggal 19 November 2013 pukul 12.00 WIB)
Dari hasil wawancara yang peneliti peroleh menunjukkan bahwa pengaruh intrapersonal dalam diri individu, seperti keterampilan berkomunikasi, pengalaman dalam setting lintas budaya, kemampuan bersosialisasi dan ciri karakter individu (toleransi atau kemandirian berada jauh dari keluarga sebagai orang-orang penting dalam hidupnya yang
berperan dalam sistem dukungan dan pengawasan) benar berpengaruh pada besar-kecil terjadinya penyebab culture shock pada diri individu.
Peneliti menyimpulkan bahwa pada umumnya individu yang belum pernah melakukan pengalaman lintas budaya dan kurangnya informasi faktual tetang lingkungan dan lokasi tempat rantauan akan lebih mudah mengalami gegar budaya, yang dikarenakan individu tersebut belum cukup siap mempersiapkan strategi terhadap semua hal mengenai seperti pemahaman lintas budaya pada dirinya di tempat rantauan sebagai lingkungan barunya yang kemudian dapat menjalar pada masalah ketidaknyamanan secara luas dan lebih kompleks (mood).
b)Penyebab Eksternal,
Adanya variasi sosiokultural yaitu kemampuan yang berhubungan dengan tingkat perbedaan budaya yang mempengaruhi tinggi rendahnya transisi antara budaya asal ke budaya baru ( Dayakisni, 2012: 270). Gegar budaya terjadi lebih cepat jika budaya tersebut semakin berbeda, hal ini meliputi perbedaan sosial, budaya, adat istiadat, agama, iklim, rasa makanan, bahasa, gerak tubuh/ ekspresi tubuh hingga mimik wajah, cara berpakaian/ gaya hidup, teknologi, pendidikan, aturan-aturan dan norma sosial dalam masyarakat serta perbedaan perilaku warga tuan rumah.
Seperti pada hasil wawancara dari delapan orang informan mahasiswa perantauan yang menunjukkan penyebab eksternal pembentuk culture shock yaitu sebagai berikut:
(1) Pola, jenis, rasa dan porsi makan
Salah satu perbedaan terbesar antara pendatang dengan tuan rumah yang biasanya menjadi masalah bagi individu pendatang itu ialah makanan. Pola, jenis, rasa dan porsi makan seseorang sangat berkaitan erat dengan kultur dimana ia tinggal dan telah melekat pada diri individu. Oleh karenanya, ketika individu