• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

G. Penyebaran Nepenthes spp

Nepenthes tumbuh dan tersebar mulai dari Australia bagian utara, Asia

dan Sumatera sebagai surga habitat tanaman ini. Dari 64 jenis yang hidup di Indonesia, 32 jenis diketahui terdapat di Borneo (Kalimantan, Serawak, Sabah, dan Brunei) sebagai pusat penyebaran Nepenthes. Pulau Sumatera menempati urutan kedua dengan 29 jenis yang sudah berhasil diidentifikasi. Keragaman jenis Nepenthes di pulau lainnya belum diketahui secara pasti. Namun berdasarkan hasil penelusuran spesimen herbarium di Herbarium Bogoriense, Bogor, ditemukan bahwa di Sulawesi minimum 10 jenis, Papua 9 jenis, Maluku 4 jenis, dan Jawa 2 jenis (Mansur, 2006).

Borneo (Kalimantan, Serawak, Sabah dan Brunei) merupakan pusat penyebaran Nepenthes di dunia karena ditemukan sebantak 32 jenis. Selanjutnya di Sumatera

ditemukan sebanyak 29 jenis (Clarke, 2001), sedangkan di Sumatera Barat ditemukan sebanyak 18 jenis (Nepenthes Team 2004). Penyebaran Jenis-jenis Nepenthes di dunia dapat di lihat pada Gambar 2.

Sumber : Based on Kurata Iden 26 (10) : 43-51, 1972, Clarke 2001, Schlauer CP Database 2007, and others, with modifications. Carnivorous Plants Distribution Map based on Juniper et al.(1989), Komiya (1994), Lowrie (1998), Schnell (2002), and others.

Gambar 2. Peta penyebaran jenis-jenis Nephentes di dunia.

Sumatera merupakan urutan kedua setelah Kalimantan sebagai tempat penyebaran spesies, tapi dari segi jumlah populasi Sumatera dapat mengimbangi

Kalimantan. Dari jenis-jenis yang sudah ditemukan di Sumatera, 12 di antaranya masih dalam proses identifikasi (Anonimus, 2006). Semua jenis Nepenthes spp. yang ada di Sumatera tersebar dari dataran rendah sampai ke dataran tinggi. Nepenthes spp. di Sumatera memiliki beberapa sebutan seperti periuk monyet di Riau, kantung beruk di Jambi,dan Ketakung atau calong beruk di Bangka. Bahkan di Gunung Kerinci (Sumatera Barat) ada sebutan terompet gunung untuk jenis Nepenthes aristolochioides. Pada awalnya, Nepenthes spp. di Sumatera sangat mudah ditemukan di hampir seluruh tipe hutan dan tersebar hampir merata di setiap provinsi, kecuali untuk jenis endemik tertentu, akan tetapi sekarang sudah mulai sulit dijumpai. Sebenarnya masih banyak lagi jenis silangan alami lainnya. Sekitar 71 jenis silangan alami yang telah ditemukan di Sumatera, Semenanjung Malaysia, dan Borneo, tapi hanya tiga jenis saja yang populer di Sumatera (N. xhooveriana, N. xtrichocarpa, dan N. xneglecta) (Mansur, 2006).

Keadaan Umum Hutan Lindung Pakpak Bharat

Kabupaten Pakpak Bharat terdiri atas 8 kecamatan yaitu: Salak, Sitellu Tali Urang Jehe, Kerajaan, Sitellu Urang Julu, Pergetteng-getteng Sengkut, Pagindar, Siempat Rube, dan Tinada. Kabupaten Pakpak Bharat masih membutuhkan lahan untuk rencana pembangunan ke depannya, dimana 87,3 % (106.404.32 Ha) dari luas wilayah (121.830 Ha) adalah kawasan hutan dengan status sebagai berikut :

̶ Hutan Lindung : 43.938,61 Ha

̶ Hutan Produksi : 7.916,71 Ha

̶ Hutan Produksi Terbatas : 48.894,00 Ha

̶ Hutan Konservasi : 5.657,00 Ha (Dephut,2005).

Utara : Kabupaten Dairi Kecamatan Pungga-pungga, Lae parira, dan Sidikalang.

Selatan : Kabupaten Hasundutan Kecamatan Tarabintang dan Kabutapaten Tapanuli Tengah Kecamatan Manduamas.

Barat : Provinsi Aceh Kabupaten Aceh Singkil.

Timur : Kabupaten Dairi Kecamatan Parbuluan, Kabupaten Toba samosir Kecamatan harian dan Kabupaten Humbang Hasundutan Kecamatan Parlilitan.

Kabupaten Pakpak Bharat merupakan kabupaten yang memiliki kawasan hutan yang cukup luas. Keberadaan kawasan hutan ini merupakan aset daerah yang harus terus dikelola dan dikembangkan ke arah yang lebih baik, agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Untuk pengembangan dan pengelolaan ini perlu dilakukan berbagai penelitian dan pengembangan.

Keadaan Umum Kawasan Suaka Margasatwa Siranggas Sejarah Kawasan

Kawasan Suaka Margasatwa Siranggas sebelum ditunjuk sebagai kawasan suaka margasatwa merupakan bagian kelompok hutan Siranggas Register 70 dan Sikulaping register 71 wilayah Kecamatan Salak Kabupaten Dairi. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 71/Kpts-II/1989 tanggal 6 Februari 1989 tentang penunjukan kelompok Hutan Siranggas seluas ± 5.657 Ha yang terletak di Kabupaten Dati II Dairi, Propinsi Dati I Sumatera Utara sebagai Suaka Margasatwa, yang selanjutnya diberi nama Suaka Margasatwa Siranggas.

Secara administratif SM. Siranggas berada di 5 (lima) kecamatan yaitu Kecamatan Kerajaan (Desa Majanggut I, Majanggut II) Kecamatan Salak (Desa Sibongkaras, Salak) Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe (Desa Mahala dan Desa Tinada), Kecamatan Pergetteng-getteng Sengkut (Desa Simarpara, Desa Kecupak I dan Desa Kecupak II), Kabupaten Pakpak Bharat.

Suaka Margasatwa Siranggas memiliki batas-batas sebagai berikut: a) Sebelah Utara berbatasan dengan kabupaten Pakpak Bharat b) Sebelah Timur berbatasan dengan kabupaten Pakpak Bharat c) Sebelah Selatan berbatasan dengan kabupaten Pakpak Bharat d) Sebelah Barat berbatasan dengan Propinsi NAD

Topografi, Geologi, Tanah dan Iklim

Suaka Margasatwa Siranggas memiliki topografi relative bergelombang dan terjal dengan PH tanah berkisar 3 – 4. Berdasarkan peta topografi, kawasan berada pada ketinggian 500 – 1194 m dpl, dengan persentase kelerengan berkisar 15% - 45 % sehingga SM. Siranggas termasuk dalam kategori Ekosistem Hutan Tropis Dataran Tinggi. Berdasarkan peta geologi Propinsi Sumatera Utara Skala 1 : 500.000 tahun 1986, SM. Siranggas terdiri atas batuan beku endapan dan metamorf, pegunungan patahan dengan jenis tanah latosol, kompleks podsolik merah kuning, litosol dengan fisiografi vulkanik.

Menurut klasifikasi kepekaan tanah terhadap erosi, jenis tanah tergolong keadaan jenis tanah yang sangat peka erosi. Karakteristik iklim adalah iklim tropika dengan curah hujan berkisar antara 2.010 sampai dengan 2.327 mm/tahun. Menurut klasifikasi iklim Oldemann dkk wilayah ini berada pada zona iklim D, sebuah zona dengan 3 – 4 bulan basah (curah hujan lebih dari 200mm/bulan) berturut-turut dan 2 –

6 bulan kering (curah hujan kurang dari 100/bulan) berturut-turut (Giesen dan Sukotjo, 1991 diacu oleh BKSDASU, 2011).

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Hutan adalah suatu wilayah yang ditumbuhi pepohonan, juga termasuk tanaman kecil lainnya seperti lumut, semak belukar, herba dan paku-pakuan. Dimana beberapa komponen tersebut saling berkaitan membentuk suatu ekosistem hutan yang sangat penting bagi kehidupan di bumi. Dengan maraknya kerusakan hutan di khawatirkan dapat menyebabkan kerusakan populasi tumbuhan yang berpotensi secara langsung maupun tidak langsung. Seperti tumbuhan Nepenthes spp. atau yang lebih dikenal dengan nama kantung semar yang berpotensi sebagai tanaman obat dan tanaman hias (Bailey, 1929).

Usaha penggalian dan pemanfaatan keanekaragaman tumbuhan yang berpotensi terus dilakukan, jika di ekploitasi secara terus-menerus tanpa dibudidayakan maka populasi dan keanekaragamannya dapat berkurang bahkan punah. Kantung semar merupakan salah satu flora unik dan menarik, pemanfaatan Nepenthes sebagai tanaman hias sudah sangat popular di Mancanegara, lebih dari 280 hibrid telah dihasilkan (Jebb dan Cheek, 1997). bahkan antar jenis juga mudah terjadi persilangan secara alami. Jenis ini memiliki daya tarik bukan pada bunganya melainkan kantungnya yang beranekaragam baik bentuk maupun warnanya.

Kantung semar memiliki daya tarik yang unik dengan bentuk kantungnya (pitcher) yang sangat beragam sehingga di sebut juga dengan Pitcher Plant. Variasi dari morfologi kantung semar ini sedemikian lebar dan merupakan daya tarik yang sangat spesifik serta memungkinkan untuk dilakukan silangan-silangan baru guna mendapat variasi bentuk kantung yang lebih banyak lagi. Selain itu kantung ini juga merupakan satu jebakan bagi serangga yang ada di sekitarnya untuk dijadikan sumber

nutrient (protein), sehingga tumbuhan ini disebut insektivora atau tumbuhan pemakan serangga (Handayani dan Syamsudin, 1998).

Populasi kantung semar di alam diprediksikan akan terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Kondisi ini disebabkan oleh beberapa hal di antaranya kebakaran hutan, penebangan kayu secara eksploitatif, pengembangan pemukiman, pertanian, dan perkebunan serta eksploitasi yang berlebihan untuk tujuan komersil. Hutan rawa gambut di Sumatera dan Kalimantan sebagai salah satu habitat alami kantung semar, hampir setiap tahun mengalami kebakaran. Konversi lahan hutan untuk pengembangan pemukiman, pertanian, dan perkebunan menjadi suatu hal yang harus dilakukan seiring dengan semakin bertambahnya populasi penduduk. Hal ini pulalah yang ditengarai sebagai penyebab makin berkurangnya habitat kantung semar di alam (Mansur, 2006).

Ancaman terbaru yang masuk belakangan ini adalah pengeksploitasian terhadap Nepenthes spp. oleh masyarakat untuk kepentingan bisnis. Eksploitasi yang tidak

memperhatikan kaidah ekologi-konservasi tentu akan mempercepat kepunahan Nepenthes spp. di habitat alaminya. Banyak pedagang di Sumatera yang menjual jenis

ini bukan dari hasil tangkaran atau budidaya tetapi dari hasil cabutan alam. Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan pedagang, pada umumnya para pedagang ini tidak mengetahui status Nepenthes spp. yang mereka jual. Mereka hanya mengambil langsung dari alam dan menjualnya dengan harga murah sekitar Rp 25.000,- sampai Rp 100.000,- /tanaman, bahkan ada yang menjual Rp 10.000,-/tanaman yang diambil dari habitat alaminya (sistem pesan banyak tanpa pot). Hal ini sangat memprihatinkan mengingat populasi Nepenthes sp. di alam yang sudah semakin sedikit (Kunarso dan Azwar, 2006).

Status tanaman Nepenthes termasuk tanaman yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Hayati dan Ekosistemnya serta Peraturan Pemerintah No.7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Hal ini sejalan dengan regulasi Convention on International Trade in Endangered Species (CITES), dari 103 spesies Nepenthes di dunia yang sudah

dipublikasikan, 2 jenis: N. rajah dan N. khasiana masuk dalam kategori Appendix-1. Sisanya berada dalam kategori Appendix-2. Itu berarti segala bentuk kegiatan perdagangan sangat dibatasi (Azwar dkk., 2006).

Latar belakang pemilihan lokasi

Peneliti memilih tempat di Suaka Margasatwa (SM) Siranggas Desa Kecupak Kecamatan Pergetteng-getteng Sengkut Kabupaten Pakpak Bharat. Penelitian ini bermaksud untuk mendapatkan informasi mengenai keberadaan jenis Nepenthes spp.sehingga dapat menjadi bahan informasi dan acuan data bagi pihak terkait dalam pengembangan SM. Siranggas. dimana pada kawasan SM. Siranggas ini belum ada diteliti tentang keberadaan dan jenis Nepenthes spp. Mengingat ancaman keberlangsungan hidup tumbuhan tersebut yang tinggi, salah satu dengan cara di eksploitasi sebagai tanaman hias namun upaya konservasinya kurang mendapat perhatian. Sehingga dikhawatirkan populasi Nepenthes spp. akan menurun bahkan punah di habitat aslinya yang akhirnya dapat mengganggu keberlangsungan ekosistem di hutan. Dari Sumatera atau Kalimantan penduduk lokal sering mendapat pesanan pemanenan di alam untuk dijual ke Jawa. Hal ini juga dapat menyebabkan terkikisnya populasi Nepenthes di alam bila usaha budidaya tidak dilakukan. Oleh sebab itu pengungkapan informasi tentang keragaman jenis suatu spesies di suatu kawasan penting dan perlu dilakukan sebelum benar-benar punah di alamnya. Kabupaten

Pakpak Bharat merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Dairi. Kabupaten ini terbentuk berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 9 Tahun 2003. Kabupaten ini memiliki wilayah seluas 121.830 hektar.

Tujuan

Untuk menginventarisasi dan mengetahui keanekaragaman jenis kantung semar (Nepenthes spp.) yang terdapat di Kawasan Suaka Margasatwa Siranggas.

Manfaat Penelitian

1. Memberikan informasi tentang keberadaan dan keragaman jenis Nepenthes spp. yang terdapat di kawasan Suaka Margasatwa Siranggas, Desa Kecupak, Kecamatan Pergetteng-getteng Sengkut, Kabupaten Pakpak Bharat.

2. Sebagai pelengkap dari data-data penelitian, sebagai dasar yang dapat dijadikan acuan bagi peneliti selanjutnya sehingga dapat dibedakan keanekaragaman jenis saat ini, dengan keanekaragaman jenis di masa yang akan datang.

ABSTRACT

MAIDITA FITRI KAROLINA br PURBA, biodiversity of pitcher plant (Nepenthes spp.) in Siranggas Wildlife Reserve, Pakpak Bharat Region Supervised by Yunasfi and Pindi Patana

Pitcher plant (Nepenthes spp.)is one of carnivorous plant. This plant decercase nature. Degradation of pitcheer plant was caused by human activity and exsploitation as houseplant. The purpose of this study is to identify and analysis vegetation of pitcher plant using purpossive sampling metodh as and systematic sampling metodh with < 1100 m asl, 1100 - 1200 m asl and ≥ 1200 m asl in Siranggas Wildlife Reserve, Result showed that 8 species find in sound at Siranggas Wildlife reserve were from Nepenthes spp. Nepenthes grasilis, Nepenthes mirabilis, Nepenthes reinwardtiana, Nepenthes rhombicaulis, Nepenthes tobaica, and 3 unknown species (sp.1, sp.2, sp.3).

ABSTRAK

MAIDITA FITRI KAROLINA br PURBA, Keanekaragaman Jenis Kantung Semar (Nepenthes spp.) di Kawasan Suaka Margasatwa Siranggas Kabupaten Pakpak Bharat di bawah bimbingan Yunasfi, dan Pindi Patana.

Kantung semar (Nepenthes spp.) merupakan salah satu jenis tumbuhan karnivora yang unik, jumlahnya terus mengalami penurunan di alam. Kerusakan habitat yang disebabkan oleh aktivitas manusia dan eksploitasi sebagai tanaman hias tanpa dibudidayakan sehingga keberadaannya terancam langka. Tujuan penelitian ini untuk menginventarisasi dan mengetahui keanekaragaman jenis kantung semar (Nepenthes spp.) yang terdapat di Kawasan Suaka Margasatwa Siranggas.Penelitian dilakukan pada kategori ketinggian tempat : < 1100 m dpl, 1100 - 1200 m dpl dan ≥ 1200 m dpl. Pengamatan dilakukan pada tiga jalur yang berbeda pada setiap kategori ketinggian. Panjang jalur pengamatan adalah 100 m. Penentuan jalur pertama dilakukan dengan metode purpossive sampling, jalur selanjutnya ditentukan secara systematic sampling. Pengamatan dan dokumentasi tumbuhan Nepenthes spp. menggunakan metode sampling plot berukuran 20 m x 20 m. Nepenthes spp. yang ditemukan di Suaka Margasatwa Siranggas sebanyak 8 jenis yaitu Nepenthes grasilis, Nepenthes mirabilis, Nepenthes reinwardtiana, Nepenthes rhombicaulis, Nepenthes tobaica, dan 3 jenis yang tidak tidak diketahui (sp.1, sp.2, sp.3).

KEANEKARAGAMAN JENIS KANTUNG SEMAR (Nepenthes spp.) DI KAWASAN SUAKA MARGASATWA SIRANGGAS KABUPATEN PAKPAK

BHARAT

SKRIPSI

Oleh:

Maidita Fitri Karolina Br Purba 091201024/BUDIDAYA HUTAN

PROGRAM STUDI KEHUTANAN

Dokumen terkait