IKK WARURUMA
7. Tabel 6.3.3 Eksisting Pipa Distribusi Zona
7.4. PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
7.4.1. AIR LIMBAH
7.4.1.1. Arah Kebijakan dan Lingkup Kegiatan Pengelolaan Air Limbah a. Arahan Kebijakan Pengelolaan Air Limbah
Beberapa peraturan perundangan yang mengatur pengelolaan air limbah, antara lain :
1. Undang – undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional.
2. Undang – undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air 3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1966 Tentang
Hygiene.
4. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1992 Tentang Kesehatan
5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.
6. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air
7. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah.
8. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antar Pemerintah Pusat dan Daerah.
9. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang.
10. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025.
11. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Perumahan dan Kawasan Pemukiman.
12. Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum
13. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 1990 Tentang Pengendalian Pencemaran Air.
14. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 14/PRT/M/2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Tata Ruang
15. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 02/MENKLH/I/1998 tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan
16. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 112 Tahun 2003 tentang Baku Mutu air Limbah Domestik.
[Year] 17. Peraturan Daerah Kota Baubau Nomor 6 Tahun 2005 tentang
Pengendalian, Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup.
18. Peraturan Daerah Kota Baubau Nomor 27 Tahun 2012 tentang Retribusi Pengolahan Limbah Cair.
19. Keputusan Walikota Baubau No.690 Tentang Tarif Mobil Tinja Dalam Kota Baubau.
20. Keputusan Walikota Baubau No.690 Tentang Tarif WC Umum Mobile Container Area Pantai Kamali Kota Baubau.
Lingkup Pengelolaan Air Limbah
Pada dasarnya pengelolaan air limbah permukiman dapat dilakukan dengan sistem on-site atau sistem off-site atau kombinasi dari kedua sistem ini :
1. Sistem pengelolaan air limbah terpusat (off-site system) adalah sistem penanganan air limbah domestik melalui jaringan pengumpul yang diteruskan ke Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL).
2. Sistem pengelolaan air limbah setempat (on-site system) adalah sistem penanganan air limbah domestik yang dilakukan secara individual dan/atau komunal dengan fasilitas dan pelayanan dari satu atau beberapa bangunan, yang pengolahannya diselesaikan secara setempat atau dilokasi sumber.
Saat ini, penduduk Kota Baubau membuang air limbahnya keberbagai macam saluran pembuangan yang ada. Sebagian ada yang membuangnya langsung kesungai/kali dan sebagian lagi ada yang membuang ke saluran drainase yang sudah tersedia salurannya, disamping itu sebagian masyarakat membuangnya ke
septic tank
pribadi. Untuk pengolahan limbah padat domestik (blackwater)
dengan pembuatan MCK sistem Komunal dan MCK++ dengan menggunakan teknologi biogester. MCK sistem Komunal terdapat di Kelurahan Wameo, Kelurahan Kaobula, Kelurahan Bone-Bone, Kelurahan Sulaa dan Kelurahan Lamangga. Sedangkan untuk MCK++ dengan sistem teknologi Biogester terdapat di Kelurahan Bataraguru, Tomba, Pondok Pesantren Hidayatullah Kadolokatapi dan Pondok Pesantren Al Amanah Liabuku. Pemilihan Sistem/Teknologi yang digunakan tergantung dari kondisi dan kepadatan penduduk selaku pengguna, dan hasil kesepakatan warga calon pengguna MCK. Pengolahan limbah padat domestik (Black Water) di Kota Baubau sudah ada yang ideal dimana limbah padat dari user interface masuk ke tangki septik kemudiann diangkut oleh mobil tinja ke Instalasi Pengelolaan Lumpur Tinja (IPLT) untuk diolah terlebih dahulu sebelum dibuang kebadan air. Sistem seperti ini[Year] terdapat di kecamatan Wolio tetapi belum semua warga menggunakan layanan tinja ini.
Sedangkan limbah rumah tangga berupa air buangan dari dapur/kamar mandi (
greywater
) belum ada sistem pengolahan khusus, dan untuk saat ini limbah rumah tangga tersebut dibuang langsung ke saluran drainase yang terhubung ke sungai atau bahkan masih terdapat beberapa rumah tangga yang membuang langsung limbahnya ke tanah.Pengelolaan air limbah dapat dibedakan menjadi dua sistem yaitu sistem pengelolaan limbah domestik dan limbah non domestik. Kebijakan dasar pengelolaan air limbah adalah limbah domestik maupun non domestik harus dilakukan pengelolaan/pengolahan terlebih dahulu sebelum dibuang ke aliran sungai atau saluran drainase dan memenuhi baku mutu air buangan.
A. Rencana Pengelolaan Limbah Domestik
Pengelolaan limbah domestik dilakukan dengan dua cara yaitu sistem individu/rumah tangga dan sistem komunal. Sistem individu diterapkan pada kawasan-kawasan permukiman dengan tingkat kepadatan sedang dan rendah, dimana masih memungkinkan setiap individu/rumah tangga untuk membangun sendiri septic tank pengolah air limbah. Sedangkan sistem komunal diterapkan pada kawasan-kawasan permukiman dengan tingkat kepadatan tinggi, dimana setiap individu tidak mempunyai lahan untuk membuat septic tank sendiri. Sistem komunal dilakukan dengan membangun septic tank bersama yang digunakan oleh beberapa kelompok rumah tangga.
Pengelolaan limbah komunal direncanakan dibeberapa titik di Kecamatan Sorawolio, Kecamatan Lea-lea dan Kecamatan Bugi.
B. Rencana Pengelolaan Limbah Non Domestik
Pengelolaan air limbah non domestik yaitu diperuntukkan bagi kegiatan-kegiatan non rumah tangga/perumahan, dalam hal ini kegiatan-kegiatan industri, perdagangan, rumah sakit, dan perkantoran. Setiap kegiatan-kegiatan non rumah tangga baik berskala besar maupun menengah diwajibkan untuk memiliki Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) baik berdiri sendiri maupun dikelola secara terpadu dalam satu kawasan. Sedangkan kualitas dan tata cara pembangunan IPAL harus memenuhi dengan standar kajian
[Year] UKL/UPL untuk kegiatan menengah dan AMDAL untuk kegiatan bersakala besar.
Rencana pengelolaan IPAL untuk skala kawasan dibeberapa titik yaitu: i. Rumah Sakit Umum Daerah Palagimata .
ii. Pelabuhan Murhum
iii. Kawasan Pusat Bisnis, Perdagangan, dan perkantoran. iv. Kawasan terminal tipe B di Kecamatan Lea-Lea.
Isu Strategis Pengembangan Air Limbah
Isu-isu strategis dalam pengelolaan air limbah permukiman di Indonesia antara lain:
1. Akses masyarakat terhadap pelayanan pengelolaan air limbah permukiman
Sampai saat ini walaupun akses masyarakat terhadap prasarana sanitasi dasar mencapai 90,5% di perkotaan dan di pedesaan mencapai 67% (Susenas 2007) tetapi sebagian besar fasilitas pengolahan air limbah setempat tersebut belum memenuhi standar teknis yang ditetapkan. Sedangkan akses layanan air limbah dengan sistem terpusat baru mencapai 2,33% di 11 kota (Susenas 2007 dalam KSNP Air Limbah).
2. Peran Masyarakat
Peran masyarakat berupa rendahnya kesadaran masyakat dan belum diberdayakannya potensi masyarakat dan dunia usaha dalam pengelolaan air limbah serta terbatasnya penyelenggaraan pengembangan sistem pengelolaan air limbah permukiman berbasis masyarakat.
3. Peraturan perundang-undangan
Peraturan perundang-undangan meliputi lemahnya penegakan hukum dan belum memadainya perangkat peraturan perundangan yang dibutuhkan dalam sistem pengelolaan air limbah permukiman serta belum lengkapnya NSPM dan SPM pelayanan air limbah.
4. Kelembagaan
Kelembagaan meliputi kapasitas SDM yang masih rendah, kurang koordinasi antar instansi dalam penetapan kebijakan di bidang air limbah, belum terpisahnya fungsi regulator dan operator, serta lemahnya fungsi lembaga bidang air limbah.
5. Pendanaan
Pendanaan terutama berkaitan dengan terbatasnya sumber pendanaan pemerintah dan rendahnya alokasi pendanaan dari pemerintah yang
[Year] merupakan akibat dari rendahnya skala prioritas penanganan pengelolaan air limbah. Selain itu adalah rendahnya tarif pelayanan air limbah sehingga berakibat pihak swasta kurang tertarik untuk melakukan investasi di bidang air limbah.
[Year] 7.4.1.2 Isu Strategis, Kondisi Eksisting, Permasalahan dan Tantangan Air Limbah Permukiman