BAB 7
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR PERMUKIMAN
7.1. PENGEMBANGAN PERMUKIMAN
7.1.1. Arahan Kebijakan dan Lingkup Kegiatan
A. Arah Kebijakan
Arahan kebijakan pengembangan permukiman mengacu pada amanat peraturan perundang-undangan, antara lain :
1. Undang-undang No. 17 Tahun 2007 tentang rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional.
2. Undang-undang No. 1 tahun 2011 tentang Perumahan dan kawasan Permukiman.
3. Undang-undang No. 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun
4. Peraturan Presiden No. 15 Tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan.
5. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 14/PRT/M/2010 tentang standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Tata Ruang.
B. Lingkup Kegiatan
Mengacu pada Permen PU No. 08/PRT/M/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan Umum maka Direktorat Pengembangan Permukiman mempunyai tugas di bidang perumusan dan pelaksanaan kebijakan, pembinaan teknik dan pengawasan teknik, serta standarisasi teknis dibidang pengembangan permukiman. Adapun fungsi Direktorat Pengembangan Permukiman adalah :
a. Penyusunan kebijakan teknis dan strategi pengembangan permukiman di perkotaan;
c. Pembinaan teknik, pengawasan teknik dan fasilitasi peningkatan kualitas permukiman kumuh termasuk peremajaan kawasan dan pembangunan rumah susun sederhana;
d. Pembinaan teknik, pengawasan teknik dan fasilitasi peningkatan kualitas permukiman di kawasan tertinggal, terpencil, daerah perbatasan dan pulau-pulau kecil termasuk penanggulangan bencana alam dan kerusuhan sosial;
e. Penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria, serta pembinaan kelembagaan dan peran serta masyarakat di bidang pengembangan permukiman;
f. Pelaksanaan tata usaha Direktorat.
Isu Strategis, Kondisi Eksisting, Permasalahan dan Tantangan
A. Isu Strategis Pengembangan Permukiman
Kondisi permukiman dan perumahan yang ada di Kota Baubau saat in masih memerlukan penataan dan pengaturan yang lebih baik. Berikut ini gambaran isu-isu mengenai perumahan dan permukiman penduduk yang ada di Kota Baubau.
Tabel 6.1
Isu-isu Strategis Sektor Pengembangan Permukiman Skala Kota Baubau
No. Isu Strategis Keterangan
1. Isu Kesenjangan Pelayanan a. Dinamika kependudukan dan fenomena urbanisasi yang beragam di wilayah Kota Bau Bau.
b. Sistem penyediaan perumahan yang peduli orang miskin (
Propoor
Housing Delivery Sistem)
,2. Isu Manajemen
Pembangunan
a. Pembangunan perumahan masih didekati sebagai sektor yang belum terpadu dengan sistem pembangunan perkotaan.
b. Tanah merupakan isu kunci dalam pembangunan perumahan.
kebijakan-praktek, serta misskoordinasi.
3. Isu Lingkungan a. Pendataan dan pengetahuan bidang perumahan dan permukiman (praktek unggulan, informasi peluang dsb) masih terbatas.
b. Perumahan dan Permukiman sebagai
Instrumen Penanggulangan
Kemiskinan.
Sumber : SPPIP Kota Baubau 2011
Kondisi Eksisting Pengembangan Permukiman
Kondisi eksisting pengembangan permukiman di Kota Baubau dalam menyediakan kawasan permukiman yang layak huni, Terlebih dahulu perlu di ketahui peraturan perundangan yang mendukung seluruh proses tahapan perencanaan, pembangunan, dan pemanfaatan pembangunan permukiman di Kota Baubau. Adapun peraturan tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 7.2
Perda/Peraturan Gubernur/Peraturan Walikota/Peraturan lainnya terkait Pengembangan Permukiman
No. Perda/Peraturan Gubernur/Perwali/Peraturan lainnya Ket
No. Peraturan Perihal Tahun
1. 1 Rencana Tata Ruang Wilayah Kota
Baubau. 2012
2. 2 Peraturan Daerah Kota Baubau
tentang Garis Sempadan. 2009
3. 6 Peraturan Daerah Kota Baubau
tentang Pengelolaan Persampahan 2009
4. 7
Peraturan Daerah Kota Baubau tentang Retribusi Pelayanan Kebersihan.
2009
tumbuhnya kantong-kantong permukiman kumuh demikian juga di wilayah Kota Baubau, dari data yang ada, kawasan kumuh di Kota Baubau sampai dengan tahun 2011 tercatat 69,39 ha, yang tersebar di 43 Kelurahan. selengkapnya data kawasan kumuh di Kota Baubau sebagai berikut :
Tabel 7.3
Data Kawasan Kumuh di Kota Baubau Tahun 2011
No Lokasi Kawasan
Kumuh
1. Bataraguru 4,95 664 129 184 8.314
2. Tomba 1,3 `102 181 196 4.176
Kecamatan Murhum
3. Nganganaumala 4,82 230 252 129 3.548
4. Wameo 1,68
5. Kaobula 3,75 199 23 183 2.101
6. Wajo 1,55 380 200 20 4.351
7. Kampeonaho 1,08 85 68 46 893
8. Liabuku 0,72 85 191 202 1.415
9. Ngkaringkaring 2,22 198 119 64 1.964
10. Tampuna 1,6 76 50 37 911
11. Waliabuku 1,57 102 113 68 1.349
Kecamatan Sorawolio
12. Bugi 0,3 124 120 71 1.815
13. Gonda Baru 1,32 109 170 47 2.115
15. Karya Baru 1,06 154 122 73 1.707
III.
Kawasan Kampung Nelayan Kecamatan Kokalukuna
16. Lakologou 1,15 156 140 128 1.987
17. Liwuto 0,34 133 84 86 2.180
18. Sukanayo 0,25 70 135 76 2.424
Kecamatan Lea-Lea
19. Kalia-Lia 2,84 3 83 87 1.288
20. Kantalai 0,81 4 98 60 859
21. Kolese 0,48 45 37 42 1.096
22. Lowu-Lowu 2,18 80 3 126 2.060
23. Palabusa 5,58 158 76 102 1.651
Kecamatan Betoambari
24. Sulaa 0,64 120 9 139 1.280
25 Lipu 0,97 721 153 105 4.244
IV.
Kawasan Kampung Tradisional Kecamatan Betoambari
26. Katobengke 3,18 597 324 232 6.478
27. Labalawa 1,6 59 107 59 1,261
28. Waborobo 1,33 31 31 44 983
Kecamatan Murhum
29. Baadia 1,22 158 141 151 2.163
30. Melai 1,15 153 115 102 1.859
V.
Kawasan Permukiman Padat Perkotaan Kecamatan Murhum
32. Lanto 0,61 104 485 39 5.098
33. Tarafu 1,37 543 237 124 4.886
Kecamatan Wolio
34. Batulo 0,61 302 120 60 4.833
35. Wale 0,47 182 14 28 1.760
36. Wangkanapi 1,41 595 170 68 6.638
Kecamatan Kokalukuna
37. Kadolo 1,56 257 66 25 2.006
38. Kadolomoko 3,37 637 164 63 4.164
39. Waruruma 2,7 122 57 52 2.977
Kecamatan Murhum
40. Lamangga 0,5 462 229 34 5.240
41. Tanganapada 0,42 261 112 156 3.945
Kecamatan Wolio
42. Bukit Wolio
Indah 0,62 520 237 178 4.859
43. Kadolokatapi 0,75 146 99 172 3.319
Jumlah 69,39
9.669 5.642 4.146 122.760
Sumber : Up Date Kawasan kumuh Kota Baubau, 2011
Tabel 7.4:
Data Kondisi RSH di Kota Baubau
N o
Nama
Perumahan Lokasi RSH
Tahun 3. Medy Brata
Indah 4. BTN Palatiga Jl. Bakti
ABRI Kel.
Kokalukuna 1998 300
Terhun 6. Kuda Putih
Residence
Kelurahan Kadolokatap
i Kec. Wolio 2005
Develope i Kec. Wolio
2009 Develope
r 12
Terhun
i Tidak Ada
8. Perumahan
9. Bukit Wolio Residence
i Tidak Ada
10. Sorawolio
11.. Perumahan
12. Palm Beach Residence
i Tidak Ada 17. Perumahan
i Tidak Ada Sumber : Dinas Tata Kota dan Tata Bangunan Kota Baubau 2013
Tabel 7.5:
Data Rusunawa di Kota Baubau
No Lokasi
2006-2008 Terhuni Pemkot/Ba dan pengelola Rusunawa
±200 orang
Baik Air Bersih, Jalan Masuk, Sarana Persampahan
2. Rusunawa bagi MBR di Kel. Wameo Kecamatan Murhum
2006-2008 Terhuni Pemkot/ Badan pengelola Rusunawa
196 KK Baik Air Bersih, Jalan, Sarana Persampahan, Pengelolaan Limbah domestik. 3. Rusunawa bagi
MBR di Kel. Kaobula Kec. Batu Poaro (Kawasan Kota Maara)
2011 Tidak Pemkot Belum
Ada Sumber : Dinas Tata Kota dan Tata Bangunan Kota Baubau 2013
C. Permasalahan dan Tantangan
Rencana pengembangan kawasan permukiman di Kota Baubau dilakukan melalui 3 pendekatan yaitu : perumahan swadaya, perumahan bagi pengembang/pemerintah dan juga rumah susun. Perumahan swadaya lebih diutamakan dikembangkan pada wilayah pusat kota dan kawasan-kawasan pengembangan. Sedangkan perumahan bagi pengembang/pemerintah akan lebih difokuskan di wilayah kawasan pengembangan di masing-masing kecamatan dengan pola penyediaan perumahan skala besar (Kasiba), dan rumah susun akan didistribusikan pada kawasan-kawasan dengan kebutuhan rumah sewa tinggal atau pada kawasan-kawasan yang diremajakan/direvitalisasi.
Tabel 7.6
Identifikasi Permasalahan dan Tantangan Pengembangan Permukiman di Kota Baubau
No 1. Aspek Teknis Permasalahan Lokasi
Permukiman yang tidak sesuai RTRW;
Sarana dan prasarana lingkungan permukiman yang menurun
kualitasnya.
Adanya Perda No.1 Tahun 2012 Tentang Rencana pola Kasiba dan Lisiba yang Berdiri Sendiri.
2. Aspek Kelembagaan
Belum adanya Dinas / Badan/ Lembaga Teknis pada SOPD yang secara khusus menangani pembangunan dan Pengembangan perumahan dan Permukiman;
Lemahnya pelaksanaan koordinasi antar instansi terkait;
Belum terbangunnya sistem informasi manajemen perumahan permukiman yang terpadu dan terintegrasi;
Pengembangan kualitas SDM yang masih terbatas terutama di bidang Perumahan dan Permukiman;
Terbatasnya lahan murah untuk pembangunan perumahan dan permukiman karena harga lahan yang tidak
terkontrol
Pembentukan Dinas yang menangani perumahan dan permukiman Peningkatan Kapasitas
SDM dan Pelaku Pembangunan Perumahan dan Permukiman
Peningkatan Kerjasama dengan pihak lain yang terkait
3. Aspek Pembiayaan
Dana alokasi untuk sektor perumahan yang masih sedikit.
4. Aspek Peran Serta Masyarakat
Kurangnya Pemahaman Rumah Sehat Di
Masyarakat
Mendorong peran KSM (Kelompok Swadaya Masarakat) dalam hal penyediaan perumahan
permukiman yg tinggal di bantaran sungai/kali; 2. Permasalahan
permukiman yg tinggal di pesisir pantai 3. Permasalahan
permukiman kumuh; 4. Permasalahan
permukiman yang berada di lahan yang mudah longsor dan curam.
5. Kondisi topografi cenderung berbukit dan penyediaan air bersih mengingat sumber air bersih yang sangat terbatas
Pengembangan kawasan perumahan di Kota Baubau cenderung terpusat di Kecamatan Wolio dan Murhum
1. Penetapan dan pembuatan batas GSS dan jalan inspeksi dengan penatapan sempadan sungai 60 meter dan penataan ulang kawasan kumuh di luar GSS melalui pembangunan infrastruktur.
2. Revitalisasi dan Optimalisasi kawasan permukiman dan keterpaduan dengan kegiatan perdagangan untuk permukiman di pesisir pantai
(pemukiman kota pantai).
3. Dilakukan dengan konsep land
konsolidation dan urban renewal pada
permukiman padat dan kumuh;
4. Program relokasi dan pembangunan tanggul untuk daerah
permukiman yang rawan longsor.
5. Rencana pengembangan pemukiman diatur berdasarkan tingkat kepadatan dan
dengan KDB<0.6 dan 16-25% untuk
kepadatan rendah dengan KDB <0.4.
Analisis Kebutuhan Pengembangan Permukiman
Analisis kebutuhan merupakan tahapan selanjutnya dari identifikasi kondisi eksisting. Analisis kebutuhan mengaitkan kondisi eksisting dengan target kebutuhan yang harus dicapai. Analisis kebutuhan juga harus mengacu pada target pengembangan permukiman yang termuat dalam RPIJM, RTRW maupun Renstra SKPD. Kebutuhan program pengembangan permukiman perkotaan di Kota Baubau, selengkapnya tersaji pada Tabel 6.7
Tabel 7.7
Perkiraan Kebutuhan Program Pengembangan Permukiman di Kota Baubau Untuk 5 Tahun
No. Uraian Unit
Tahun 2014
Tahun 2015
Tahun 2016
Tahun 2017
Tahun
2018 Ket. Proyeksi
1. Jumlah Penduduk Jiwa 148.394 151.392 154.450 157.570 160.753
2. Kepadatan Penduduk Jiwa/Km
2 671 685 699 713 727
3. Proyeksi Persebaran Penduduk
Jiwa/Km
2 671 685 699 713 727
4. Proyeksi Persebaran penduduk miskin
Jiwa/Km
2 53 48 44 40 36
5. Sasaran Penurunan
Kawasan Kumuh Ha 62,057 55,118 48,873 43,252 38,194 6. Kebutuhan Rusunawa TB 1 TB 1 TB 1 TB 1 TB 1 TB 7. Kebutuhan RSH Unit 29.679 30.278 30.890 31.514 32.151
8.
Kebutuhan Pengembangan Permukiman Baru
Kawasan 20 21 22 23 24
Usulan Program dan Kegiatan
A. Usulan Program dan Kegiatan Pengembangan Permukiman
Kegiatan pengembangan permukiman kawasan perkotaan di Kota Baubau sesuai Renstra dari SKPD Terkait terdiri – dari :
1. Program Pengembangan Perumahan
a. Koordinasi penyelenggaraan pengembangan perumahan b. Sosialisasi peraturan perundang-undangan di bidang
perumahan
c. Pembangunan Sarana Dan Prasarana Rumah Sederhana Sehat
d. Fasilitasi pembangunan prasarana dan sarana dasar pemukiman berbasis masyarakat
2. Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum dan Air Limbah
a. Penyediaan Sarana dan Prasarana Air Minum bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah
b. Penyediaan Prasarana dan Sarana Air Limbah c. Pembangunan Sarana Air Bersih di Kawasan Kumuh
d. Pengembangan Teknologi Pengelolaan Air Minum dan Air Limbah
3. Program Pemberdayaan Komunitas Perumahan
a. Fasilitasi pembangunan prasarana dan sarana dasar pemukiman berbasis masyarakat
4. Program PNPM-Mandiri Perkotaan (P2KP)
a. Pembangunan Infrastruktur Ekonomi dan Sosial (Penanggulangan Kemiskinan PNPM-MP)
b. Penataan Lingkungan Berbasis Komunitas (PLPBK)
5. Program Penyusunan dan Sinkronisasi Data Bidang Perumahan a. Pengadaan Aplikasi Sistem Informasi Kawasan
Pemukiman/Perumahan Kumuh (Tidak Layak Huni)
b. Penyusunan Database kawasan Pemukiman dan Perumahan Kumuh (Tidak Layak Huni)
6. Program Perencanaan Pengembangan Kota-Kota Menengah dan besar
a. Fasilitas Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya dan Penataan Kawasan Pemukiman
B. Kriteria Kesiapan Daerah
Dalam pengembangan permukiman di Kota Baubau, kriteria kesiapan daerah yang sudah ada dan yang akan dilaksanakan meliputi:
1. Dokumen RTRW Kota Baubau Tahun 2002 – 2020; 2. Dokumen RP4D Kota Baubau tahun 2011;
3. Dokumen SPPIP dan RPKPP Kota Baubau Tahun 2011; 4. Dokumen RPJMD Kota Baubau Tahun 2013 – 2017
5. Kesiapan lahan seluas 8 ha di Kawasan Palagimata untuk pembangunan Rusunami;
6. Kesiapan Instansi Pengelola Rusunawa yakni UPTD Rusunawa Kota Baubau;
C. Program – Program Sektor Pengembangan Permukiman
a. Usulan Program dan Kegiatan Pengembangan Permukiman
Setelah dilakukan tahapan analisis Kebutuhan untuk mengisi kesenjangan antara kondisi eksisting dengan kebutuhan maka perlu disusun usulan program dan kegiatan untuk jangka waktu lima tahun berdasarkan prioritasnya seperti pada tabel berikut ini :
Tabel 7.8
Usulan dan Prioritas Program Infrastruktur Permukiman Kota Baubau untuk 5 Tahun
No. Kegiatan Volume Satuan Biaya Lokasi
(Rp)
1. Pembangunan sarana dan prasarana
rumah sederhana sehat 5 Paket 500.000.000
Kota Baubau
2.
Fasilitasi pembangunan prasarana dan sarana dasar pemukiman berbasis masyarakat
5 Tahun 150.000.000 Kota
Baubau
3.
Pembangunan Infrastruktur, Ekonomi dan Sosial
(Penanggulangan Kemiskinan PNPM-MP)
43 Kelurahan 300.000.000.000 Kota Baubau
4. Penataan Lingkungan Berbasis
Komunitas (PLPBK) 5 Kelurahan 2.500.000.000
5.
Pengadaan Aplikasi Sistem Informasi Kawasan Pemukiman/ Perumahan kumuh (Tidak Layak Huni)
1 Paket 150.000.000 Kota
Baubau
6.
Penyusunan Database Kawasan Pemukiman & Perumahan kumuh (Tidak Layak Huni)
1 Paket 80.000.000 Kota
Baubau
7.
Penyediaan Sarana dan Prasarana Air Minum bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah
5 Paket 11.535.000.000 Kota
Baubau
8. Pengembangan Teknologi
Pengelolaan Air Limbah (DAK) 5 Paket 6.374.000.000
Kota Baubau
9.
Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya dan Penataan Kawasan Pemukiman
5 Tahun 15.000.000.000 Kota
Baubau
10. Fasilitasi Pembangunan PSU
Kawasan dan PLBK 5 Tahun 300.000.000
Kota Baubau
Jumlah 336.589.000.000
Sumber : Renstra Dinas PU Kota Baubau, Renstra Bappeda Kota Baubau
a. Usulan Pembiayaan Pembangunan Permukiman
Pembiayaan usulan program terdiri-dari pembiayaan dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kota, Swadaya masyarakat, dan pihak swasta serta CSR. Dana dari Pemerintah Kota merupakan dana pendamping atau dana sharing yang diwajibkan oleh Pemerintah Pusat.
7.2. PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN
7.2.1. Arahan Kebijakan dan Lingkup Kegiatan PBL
Arahan kebijakan penataan bangunan dan lingkungan di Kota Baubau mengacu pada amanat peraturan perundang-undangan yang berlaku, antara lain :
1. UU No. 1 Tahun 2011 Tentang perumahan dan Kawasan Permukiman
2. UU No. 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan gedung
3. Undang-Undang No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. 4. PP 36 Tahun 2005 Tentang Peraturan Pelaksanaan UU No. 28
Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung
5. Peraturan Menteri PU No. 29/PRT/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung.
6. Peraturan Menteri PU N0. 30/PRT/M/2006 tentang Persyaratan Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Umum dan Lingkungan.
7. Permen PU No. 06/PRT/M/2007 Tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan
8. Permen PU No. 14/PRT/M/2010 Tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang
9. Peraturan Pemerintah No. 39 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan. 10. Peraturan Daerah Kota Baubau No. 4 Tahun 1996 tentang
Kebersihan, Ketertiban, dan Keindahan.
11. Peraturan Daerah Kota Baubau No. 2 Tahun 2002 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Baubau.
12. Peraturan Daerah Kota Baubau No. 15 Tahun 2008 tentang Garis Sempadan.
13. Peraturan Daerah Kota Baubau No. 1 Tahun 2011 tentang Peraturan Bangunan Gedung.
Kemudian selanjutnya pada pasal 609 disebutkan bahwa Direktorat Penataan Bangunan dan Lingkungan menyelenggarakan fungsi :
a. Penyusunan kebijakan teknis dan strategi penyelenggaraan penataan bangunan dan lingkungan termasuk gedung dan rumah negara; b. Pembinaan teknik, pengawasan teknik, fasilitasi serta pembinaan
pengelolaan bangunan gedung dan rumah negara termasuk fasilitasi bangunan gedung istana kepresidenan;
c. Pembinaan teknik, pengawasan teknik dan fasilitasi penyelenggaraan penataan bangunan dan lingkungan dan pengembangan keswadayaan masyarakat dalam penataan bangunan;
d. Pembinaan teknik, pengawasan teknik dan fasilitasi revitalisasi kawasan dan bangunan bersejarah/tradisional, ruang terbuka hijau, serta penanggulangan bencana alam dan kerusuhan sosial;
e. Penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria, serta pembinaan kelembagaan penyelenggaraan penataan bangunan dan lingkungan; dan
f. Pelaksanaan tata usaha Direktorat
Lingkup kegiatan untuk dapat mewujudkan lingkungan binaan yang baik sehingga terjadi peningkatan kualitas permukiman dan lingkungan meliputi :
a. Kegiatan penataan lingkungan permukiman
Penyusunan rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL); Bantuan Teknis pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH); Pembangunan Prasarana dan Sarana peningkatan lingkungan
permukiman kumuh dan nelayan;
Pembangunan Prasarana dan Sarana penataan lingkungan permukiman tradisional.
b. Kegiatan pembinaan teknis bangunan dan gedung
Diseminasi peraturan dan perundangan tentang penataan bangunan dan lingkungan;
Peningkatan dan pemantapan kelembagaan bangunan dan gedung;
Pengembangan sistem informasi bangunan gedung dan arsitektur;
Pelatihan Teknis.
c. Kegiatan pemberdayaan masyarakat di perkotaan
7.2.2. Isu Strategis Penataan Bangunan dan Lingkungan
A. Isu Strategis
Untuk dapat merumuskan isu strategis bidang PBL, maka dapat melihat dari agenda Nasional dan Internasional yang mempengaruhi sektor PBL. Untuk agenda Nasional, salah satunya adalah Program PNPM Mandiri, yaitu Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri, sebagai wujud kerangka kebijakan yang menjadi dasar acuan pelaksanaan program – program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat. Agenda Nasional lainnya adalah Pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, khususnya untuk sektor PBL yang mengamanatkan terlayaninya masyarakat dalam pengurusan IMB di Kab/Kota dan tersedianya pedoman harga Standar Bangunan Gedung Negara (HSBGN) di Kab/Kota.
Agenda Internasional yang terkait diantaranya adalah pencapaian MDG’s 2015, khususnya tujuan 7 yaitu memastikan kelestarian lingkungan hidup. Target MDG’s yang terkait bidang cipta karya adalah target 7C, yaitu menurunkan hingga separuhnya proporsi penduduk tanpa akses terhadap air minum layak dan sanitasi layak pada 2015, serta target 7D, yaitu mencapai peningkatan yang signifikan dalam kehidupan penduduk miskin di permukiman kumuh pada tahun 2020.
Agenda Internasional lainnya adalah isu pemanasan global (Global Warming). Pemanasan Global yang disebabkan bertambahnya karbondioksida CO2 sebagai akibat konsumsi energi yang berlebihan mengakibatkan naiknya suhu permukaan bumi hingga 6,4 C antara tahun 1990 dan 2100, serta meningkatnya tinggi muka laut di seluruh dunia hingga mencapai 10-25 cm selama abad ke-20. Kondisi ini memberikan dampak bagi kawasan-kawasan yang berada di pesisir pantai, yaitu menculnya bencana alam seperti banjir, kebakaran serta dampak sosial lainnya.
World
”, sebagai kerangka dalam penyediaan perumahan dan permukiman yang layak bagi masyarakat.Dari agenda – agenda tersebut maka isu strategis tingkat nasional bidang PBL dapat dirumuskan sebagai berikut :
1) Penataan Lingkungan Permukiman
a. Pengendalian pemanfaatan ruang melalui RTBL;
b. PBL mengatasi tingginya frekuensi kejadian kebakaran di perkotaan;
c. Pemenuhan kebutuhan ruang terbuka publik dan ruang terbuka hijau (RTH) di perkotaan;
d. Revitalisasi dan pelestarian lingkungan permukiman tradisional dan bangunan bersejarah berpotensi wisata untuk menunjang tumbuh kembangnya ekonomi lokal;
e. Peningkatan kualitas lingkungan dalam rangka pemenuhan standar pelayanan minimal;
f. Pelibatan Pemerintah daerah dan swasta serta masyarakat dalam penataan bangunan dan lingkungan.
2) Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara
a. Tertib pembangunan dan keandalan bangunan gedung (keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan);
b. Pengendalian penyelenggaraan bangunan gedung dengan perda bangunan gedung di kab/kota;
c. Tantangan untuk mewujudkan bangunan gedung yang fungsional, tertib, andal dan mengacu pada isu lingkungan berkelanjutan;
d. Tertib dalam penyelenggaraan dan pengelolaan aset gedung dan rumah negara;
e. Peningkatan kualitas pelayanan publik dalam pengelolaan gedung dan rumah Negara.
3) Pemberdayaan Komunitas dalam Penanggulangan Kemiskinan
a. Jumlah masyarakat miskin pada tahun 2012 sebesar 29,13 juta orang atau sekitar 11,96 % dari total penduduk Indonesia;
b. Realisasi DDUB tidak sesuai dengan komitmen awal termasuk sharing in cash sesuai MOU PAKET;
c. Keberlanjutan dan sinergi program bersama pemerintah daerah dalam penanggulangan kemiskinan.
prioritas dan manfaat dari rencana tindak yang meliputi a) Revitalisasi, b) RTH, c) Bangunan Tradisional/bersejarah dan d) Penanggulangan kebakaran, bagi pencapaian terwujudnya pembangunan lingkungan permukiman yang layak huni, berjati diri, produktif dan berkelanjutan.
Seperti halnya kota-kota lain di Indonesia tentunya isu – isu strategis sektor penataan bangunan dan lingkungan pasti ada, begitu pula di Kota Baubau. Adapun gambaran isu strategis sektor PBL dapat dilihat seperti pada tabel berikut ini :
Tabel 7.10
Isu Strategis Sektor PBL di Kota Baubau
No. Kegiatan Sektor PBL Isu Strategis Sektor PBL di Kota Baubau
1. Penataan Lingkungan Permukiman 1. Masih kurangnya penerapan dan pengawasan aturan garis SEMPADAN Jalan dan Sungai. 2. Kepadatan bangunan dan ketinggian
bangunan pada kawasan pusat perdagangan tidak sesuai dengan RTRW Kota Baubau 2. Penyelenggaraan Bangunan
Gedung dan Rumah Negara
1. Masih kurang ditegakkannya aturan keselamatan, keamanan dan kenyamanan Bangunan Gedung.
2. Masih banyak bangunan gedung yang pengembangannya belum berdasarkan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan. 3. Masih banyak bangunan gedung yang belum
dilengkapi sarana dan prasarana bagi penyandang cacat.
4. Kota Baubau belum memiliki atau belum membentuk lembaga institusi dan Tim Ahli Bangunan Gedung yang bertugas dalam pembinaan penataan bangunan dan lingkungan.
3. Pemberdayaan Komunitas dalam Penanggulangan Kemiskinan
1. Rendahnya partisipasi masyarakat dalam perencanaan, implementasi dan pengendalian pembangunan
3. Rendahnya kesadaran kritis masyarakat terhadap masalah dan kebutuhan lokal
B. Kondisi Eksisting
Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 06/PRT/M/2007 Penataan bangunan dan lingkungan adalah kegiatan pembangunan untuk merencanakan, melaksanakan, memperbaiki, mengembangkan atau melestarikan bangunan dan lingkungan/kawasan tertentu sesuai dengan prinsip pemanfaatan ruang dan pengendalian bangunan gedung dan lingkungan secara optimal, yang terdiri atas proses perencanaan teknis dan pelaksanaan konstruksi, serta kegiatan pemanfaatan, pelestarian dan pembongkaran bangunan gedung dan lingkungan. Hasil dari proses perencanaan penataan bangunan dan lingkungan yaitu dokumen RTBL yang memuat panduan-panduan dalam penataan bangunan dan lingkungan.
Kondisi eksisting penataan bangunan di Kota Baubau adalah sebagai berikut. Kepadatan bangunan tertinggi adalah di sepanjang jalan Jl. Yos Sudarso dan RA Kartini sebagai Kawasan Pusat Kegiatan. Karena tingginya nilai lahan dan intensitas kegiatan di kawasan tersebut (sebagai kawasan komersial), maka KDB minimal yang diharuskan adalah 80%, sedangkan KDB maksimal yang diijinkan mencapai 90%.
Selanjutnya KDB untuk kawasan perdagangan eceran di BWK I dan BWK II ditetapkan antara 60% hingga 80%. Untuk kawasan industri KDB mencapai 40-60% demikian pula kawasan komersial pada pusat pelayanan jenjang kedua.
Khusus pengaturan KDB di kawasan perumahan terbagi menjadi tiga, yaitu intensitas tinggi (KDB 60%-80%), intensitas sedang (KDB 40%-60%) dan intensitas rendah (KDB >40%). Perumahan yang termasuk dalam kategori intensitas tinggi adalah perumahan dengan kepadatan penduduk diatas 80 jiwa/Ha yaitu perumahan di BWK II. Demikian pula perumahan satu lapis sepanjang jalan arteri. Perumahan kategori intensitas sedang antara lain perumahan di Waruruma dan Bukit Wolio Indah. Sisanya perumahan dianggap sebagai perumahan intensitas rendah dan diatur dengan KDB maksimal 40%.
Tabel 4.11
Peraturan Daerah/Peraturan Walikota terkait Penataan Bangunan dan Lingkungan
No. Perda /Peraturan Gubernur/ Perwali/Peraturan lainnya Ket
No Tahun Tentang
1. 2 2009 Peraturan Daerah Kota Baubau tentang Garis Sempadan.
3. 7 2009 Peraturan Daerah Kota Baubau tentang Retribusi Pelayanan Kebersihan..
Untuk kegiatan penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara Kota Baubau dapat digambarkan kondisi eksistingnya seperti pada tabel berikut ini :
Tabel 7. 12
Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara
No Kawasan
Jumlah bangunan
Gedung berdasarkan
fungsi
Status Kepemilikan
Kondisi Bangunan
Ketersediaan Utilitas BG
1. Wolio
Fungsi Hunian :
7.873 unit milik Baik ada
Fungsi Agama :
35 unit Pemkot Baik ada
Fungsi Usaha (Hotel) : 20 unit
Swasta Baik ada
Fungsi Sosial :
43 unit Pemkot/Swasta Baik ada
2. Murhum
Fungsi Hunian :
unit milik Baik ada
Fungsi Agama :
19 unit Pemkot Baik ada
Fungsi Usaha (Hotel) : 12 unit
Fungsi Sosial :
42 unit Pemkot/Swasta Baik ada
3. Betombari
Fungsi Hunian :
unit milik Baik ada
Fungsi Agama :
18 unit Pemkot Baik ada
Fungsi Usaha (Hotel) : 5 unit
Swasta Baik ada
Fungsi Sosial :
28 unit Pemkot/Swasta Baik ada
4. Batu Poaro
Fungsi Hunian :
unit milik Baik ada
Fungsi Usaha (Hotel) : 8 unit
Swasta Baik ada
Fungsi Sosial :
26 unit Pemkot/Swasta Baik ada
5. Sorawolio
Fungsi Hunian :
unit milik Baik ada
Fungsi Agama :
13 unit Pemkot Baik ada
Fungsi Usaha
(Hotel) : unit Swasta Baik ada
Fungsi Sosial :
20 unit Pemkot/Swasta Baik ada
6. Bungi
Fungsi Hunian :
unit milik Baik ada
Fungsi Agama :
20 unit Pemkot Baik ada
Fungsi Usaha
(Hotel) : unit Swasta Baik ada
Fungsi Sosial :
17 unit Pemkot/Swasta Baik ada
7. Lea-Lea
Fungsi Hunian :
unit milik Baik ada
Fungsi Agama :
Fungsi Usaha
(Hotel) : unit - -
-Fungsi Sosial :
22 unit Pemkot/Swasta Baik ada
8. Kokalukuna
Fungsi Hunian :
unit milik Baik ada
Fungsi Agama :
16 unit Pemkot Baik ada
Fungsi Usaha (Hotel) : 10 unit
- -
-Fungsi Sosial :
27 unit Pemkot/Swasta Baik ada
Sumber : Kota Baubau Dalam Angka 2013.
Kondisi eksisting untuk kegiatan Pemberdayaan dalam penanggulangan Kemiskinan di Kota Baubau dapat di lihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 7.13
Pemberdayaan Komunitas dalam Penanggulangan Kemiskinan
No. Kota Baubau /Kelurahan
Kegiatan PNPM
Mandiri Kegiatan lainnya
1. Palabusa Pelatihan Souvenir Kerang
1. Peningkatan Program Bedah Rumah, Perbaikan Rumah Tidak layak Huni; 2. Bantuan Raskin Gratis Pada Kondisi
Darurat;
3. Program Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (P2MK);
4. Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP);
5. Program Pelayanan Kesehatan Dasar Gratis bagi Seluruh Masyarakat Kota Baubau Melalui Jamkesda;
6. Sertifikasi Tanah bagi MBR;
7. Subsidi Pemasangan Daya Listrik Gratis Bagi MBR;
8. Program Keluarga Harapan 2. Karya Baru Pelatihan Kerajinan
Ngentu
3. Liabuku
Pelatihan Menjahit Pelatihan
Percetakan Sablon 4 Lamangga Pelatihan Menjahit
5. Lipu
Pelatihan Menjahit Pelatihan
6. Wajo
Pelatihan Pengolahan Sampah
9. IMB Gratis untuk RSS bagi MBR;
10. Pelatihan dan Sertifikasi Keterampilan Tenaga Kerja (Tukang Kayu, Bangunan, Home Industri, Dll);
11. Akte Kelahiran Gratis Bagi MBR; 7. Tomba
Pelatihan
Pembuatan Sabun Pelatihan Tata Boga
8. Kadolokatapi Pelatihan Komputer
9. Waruruma Pelatihan Menjahit
10. Bugi Pelatihan Pemb.
Pupuk Kompos
Permasalahan dan Tantangan
Dalam kegiatan penataan bangunan dan lingkungan terdapat beberapa permasalahan dan tantangan yang dihadapi, antara lain :
a. Penataan Lingkungan Permukiman
Masih kurang diperhatikannya kebutuhan sarana sistem proteksi kebakaran;
Landasan hukum dan landasan operasional berupa RTBL perlu disosialisasikan untuk lebih melibatkan Pemerintah daerah dan swasta dalam penyiapan infrastruktur guna pengembangan lingkungan permukiman;
Masih rendahnya dukungan pemda dalam pembangunan lingkungan permukiman yang diindikasikan dengan masih kecilnya alokasi anggaran daerah untuk peningkatan kualitas lingkungan dalam rangka pemenuhan SPM.
b. Penyelenggaraan bangunan Gedung dan Rumah Negara
Masih lemahnya pengaturan penyelenggaraan bangunan gedung serta rendahnya kualitas pelayanan publik dan perijinan. Belum tegaknya aturan keselamatan, keamanan dan kenyamanan bangunan gedung termasuk daerah-daerah rawan bencana;
Belum tertibnya pendataan mengenai jumlah dan kerapatan bangunan Masih rendahnya peran masyarakat dalam penyelenggaraan bangunan
gedung sebagai perwujudan kehendak dan keinginan masyarakat untuk memantau dan menjaga ketertiban, memberi masukan, menyampaikan pendapat dan pertimbangan, serta melakukan gugatan perwakilan berkaitan dengan penyelenggaraan bangunan gedung. Masih kurangnya perda bangunan gedung untuk kota Metropolitan,
Meningkatnya kebutuhan NSPM terutama yang berkaitan dengan pengelolaan dan penyelenggaraan bangunan gedung (keselamatan, kenyamanan dan kemudahan);
Masih kurangnya prasarana dan sarana hidran kebakaran;
Banyaknya Bangunan Gedung Negara yang belum memenuhi persyaratan keselamatan, keamanan dan kenyamanan;
Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara kurang tertib dan efisien;
c. Penyelenggaraan Sistem Terpadu Ruang Terbuka Hijau
Masih kurang diperhatikannya kebutuhan sarana lingkungan hijau terbuka dan sarana olahraga.
d. Kapasitas Kelembagaan Daerah
Masih terbatasnya kesadaran aparatur dan SDM pelaksana dalam pembinaan penyelenggaraan bangunan gedung termasuk pengawasan; Masih adanya tuntutan reformasi peraturan perundang-undangan dan
peningkatan pelaksanaan otonomi dan desentralisasi;
Masih perlunya peningkatan dan pemantapan kelembagaan bangunan gedung di daerah dalam fasilitasi penyediaan perangkat pengaturan.
Adapun permasalahan dan tantangan sektor PBL yang ada di Kota Baubau antara lain :
Tabel 7.14
Identifikasi Permasalahan dan Tantangan Penataan bangunan dan Lingkungan Kota Baubau
No.
Pengembangan Alternatif Solusi I. Kegiatan Penataan Lingkungan Permukiman
1. Aspek Teknis Regulasi yang mengatur penataan bangunan gedung, perda cagar budaya dan perda RTH belum ada Kondisi lahan
dengan tutupan batu sehingga pemanfaatan lahan menjadi terbatas. Terbatasnya fasilitas
Penyediaan ruang bagi pejalan kaki yang hijau dan nyaman
Penetapan Perda tentang Peraturan Bangunan gedung di Kota Baubau harus segera dilaksanakan. Penetapan perda RTH
Kota
Penetapan perda Cagar Budaya
No.
Pengembangan Alternatif Solusi Jalan lingkungan
permukiman yang rusak
2. Aspek Kelembagaan
Masih Rendahnya SDM aparatur yang membidangi persoalan bangunan gedung
Amanat Undang-Undang No.28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung dan Peraturan Pemerintah No. 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan UUBG, bahwa semua Bangunan Gedung harus layak fungsi pada tahun 2010.
Mengikutsertakan staf aparatur untuk
Masih rendahnya pengalokasian
Adanya Kebijakan dan Strategi nasional pembangunan perkim (KSNPP) yang salah satu sasaranya yaitu
peningkatan kualitas lingkungan permukiman
Mengalokasikan anggaran APBD untuk kegiatan Penataan Lingkungan Permukiman.
4. Aspek Peran Serta
Masyarakat/Sw asta
Belum mantapnya kelembagaan komunitas untuk meningkatkan peran masyarakat dan swasta.
Adanya Pengetahuan dan sumber daya yang dimiliki masyarakat
Dilibatkannya
masyarakat secara aktif dalam proses
Banyaknya rumah – rumah warga yang berada di kawasan yang bukan peruntukan untuk permukiman
Komitmen terhadap kesepakatan
internasional MDGs, bahwa pada tahun 2015, 200 Kabupaten/Kota bebas kumuh, dan pada tahun 2020 semua Kabupaten/Kota bebas kumuh.
Perlu di perketat pemberian ijin untuk membangun rumah, agar sesuai dengan rencana peruntukan lahan yang diatur dalam RTRW.
II. Kegiatan Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara 1. Aspek Teknis Banyaknya
Bangunan Gedung Negara yang belum memenuhi
persyaratan keselamatan, keamanan dan
Amanat Undang-Undang No.28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung dan Peraturan Pemerintah No. 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan
No.
Pengembangan Alternatif Solusi kenyamanan. UUBG, bahwa semua
Bangunan Gedung harus layak fungsi pada tahun 2010.
2. Aspek
Kelembagaaan
Masih banyaknya aset negara yang tidak
teradministrasikan dengan baik. Penyelenggaran
Bangunan Gedung dan Rumah Negara kurang tertib dan efisien.
Amanat Undang-Undang No.28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung dan Peraturan Pemerintah No. 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan UUBG, bahwa semua Bangunan Gedung harus layak fungsi pada tahun 2010.
Pelatihan Manajemen Bangunan gedung dan Aset Negara untuk meningkatkan kinerja
Program pemutihan IMB bagi masyarakat yang belum mempunyai IMB Sosialisasi pengurusan
IMB.
4. Aspek Peran Serta
Masy/Swasta
Belum mantapnya kelembagaan komunitas untuk meningkatkan peran masyarakat.
Pelatihan bagi masyarakat tentang bagaimana sebaiknya membangun bangunan Gedung yang memenuhi persyaratan keamanan
Ada sekitar 14.400 jiwa penduduk miskin yang ada di Kota Baubau tahun 2012.
Penciptaan
keseimbangan tata guna lahan yang berorientasi pada pemakai
bangunan dan ramah pejalan kaki;
setiap bangunan gedung yang didirikan tidak boleh melebihi RGTRKP dan RTBL. III. Kegiatan Pemberdayaan Komunitas dalam Penanggulangan Kemiskinan
1. Aspek Teknis 2. Aspek
Kelembagaaan
Tidak dilibatkannya komunitas dalam
Adanya Perpres No. 15 Tahun 2010 tentang
No.
Pengembangan Alternatif Solusi pengambilan
sesuai jenis usahanya. Dilibatkan komunitas
masyarakat pada pertemuan-pertemuan yang membahas persoalan orang miskin. 3. Aspek
Adanya hak atas perlindungan dan pemenuhan kesempatan berusaha dan bekerja, dan SDA.
Memberikan bantuan modal usaha atau pembiayaan dalam skala mikro.
Menigkatkan keterampilan dan manajemen usaha. 4. Aspek Peran
Serta
Masy/Swasta
Belum dilibatkannya masyarakat secara aktif dalam proses perencanaan dan penetapan prioritas pembangunan diwilayahnya.
Adanya hak bagi setiap warga negara untuk berkumpul,
mengeluarkan pendapat yang membahas
persoalan orang miskin.
Dilibatkan komunitas masyarakat pada pertemuan-pertemuan yang membahas persoalan orang miskin.
5. Aspek turut serta bekerja membersihkan dan menjaga lingkungan permukimannya
Adanya kawasan – kawasan kumuh di Kota Baubau yang perlu dibenahi.
Pengalokasian program fisik berbasis pada komunitas masyarakat
7.2.3. Analisis Kebutuhan Penataan Bangunan dan Lingkungan
A. Kegiatan Penataan Lingkungan Permukiman
Kebutuhan Program dan Kegiatan untuk sektor PBL Kota Baubau mengacu pada lingkup tugas DJCK untuk sektor PBL yang dinyatakan pada Permen PU No. 8 Tahun 2010, antara lain yaitu :
a. Kegiatan Penataan Lingkungan Permukiman
RTBL ( Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan )
RTBL berdasarkan Permen PU No. 6 Tahun 2007 tentang pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan didefinisikan sebagai panduan rancang bangun suatu lingkungan/kawasan yang dimaksudkan untuk mengendalikan pemanfaatan ruang, penataan bangunan dan lingkungan, serta memuat materi pokok ketentuan program bangunan dan lingkungan, rencana umum dan panduan rancangan, rencana investasi, ketentuan pengendalian rencana, dan pedoman pengendalian pelaksanaan pengembangan lingkungan/kawasan. Materi pokok dalam Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan meliputi :
Program bangunan dan lingkungan; Rencana Umum dan Panduan Rancangan; Rencana Investasi;
Ketentuan pengendalian Rencana; Pedoman pengendalian pelaksanaan.
RISPK atau Rencana Induk Sistem Proteksi Kebakaran
RISPK atau rencana Induk Sistem Proteksi Kebakaran seperti yang dinyatakan dalam permen PU No. 26 tahun 2008 tentang persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung dan lingkungan, bahwa sistem Proteksi Kebakaran pada bangunan Gedung dan Lingkungan adalah sistem yang terdiri atas peralatan, kelengkapan dan sarana, baik yang terpasang maupun yang terbangun pada bangunan yang digunakan baik untuk tujuan sistem proteksi aktif, sistem proteksi pasif maupun cara-cara pengelolaan dalam rangka melindungi bangunan dan lingkungannya terhadap bahaya kebakaran.
Penyelenggaraan sistem proteksi kebakaran pada bangunan gedung dan lingkungan meliputi proses perencanaan teknis dan pelaksanaan konstruksi, serta kegiatan pemanfaatan, pelestarian dan pembongkaran sistem proteksi kebakaran pada bangunan gedung dan lingkungannya.
Penataan Lingkungan Permukiman Tradisional/bersejarah
1. Koordinasi dan sinkronisasi dengan Pemerintah Daerah;
2. Pemberdayaan terhadap aspek manusia, lingkungan dan kegiatan ekonomi masyarakat setempat;
3. Azas “ berkelanjutan” sebagai salah satu pertimbangan penting untuk menjamin kelangsungan kegiatan;
4. Rembug warga dalam upaya mengali sebanyak mungkin aspirasi masyarakat, selain itu juga melakukan pelatihan keterampilan teknis dalam upaya pemberdayaan masyarakat.
Standar Pelayanan Minimal (SPM)
Analisa kebutuhan Program dan Kegiatan juga mengacu pada Permen PU No. 14 tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang. Khusus untuk sektor PBL, SPM juga terkait dengan SPM penataan Ruang dikarenakan kegiatan Penataan Lingkungan Permukiman yang salah satunya melakukan pengelolaan kebutuhan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Perkotaan. Standar SPM terkait dengan sektor PBL yang dijadikan acuan bagi Kota Baubau untuk menyusun kebutuhan akan sektor Penataan Bangunan dan Lingkungan sebagaimana terlihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 7. 15
SPM Sektor Penataan Bangunan dan Lingkungan
No Jenis Pelayanan Dasar Standar Pelayanan Minimal Waktu
Pencapaian Keterangan pengurusan IMB di Kab/Kota.
100% 2014 Dinas yang membidangi Gedung Negara di Kabupaten/Kota.
100% 2014 Dinas Yang membidangi
3. Tersedianya luasan RTH publik sebesar 25% dari luas wilayah kota/Kawasan Perkotaan.
100% 2014 Dinas/SKPD yang membidangi Penataan Ruang
Kegiatan penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara meliputi :
1. Menguraikan kondisi bangunan gedung negara yang belum memenuhi persyaratan keandalan yang mencakup (keselamatan, kenyamanan dan kemudahan);
2. Menguraikan kondisi Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Rumah Negara;
3. Menguraikan aset negara dari segi administrasi pemeliharaan.
C. Kegiatan Pemberdayaan Komunitas dalam Penanggulangan Kemiskinan
Program yang mencakup pemberdayaan komunitas dalam penanggulangan kemiskinan adalah PNPM Mandiri, yang dilaksanakan dalam bentuk kegiatan P2KP (Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan). P2KP merupakan program pemerintah yang secara subtansi berupaya menanggulagi kemiskinan melalui pemberdayaan masyarakat dan pelaku pembangunan lokal lainnya, termasuk Pemerintah Daerah dan kelompok peduli setempat.
Adapun kebutuhan sektor Penataan Bangunan dan Lingkungan di Kota Baubau untuk jangka waktu 5 tahun ke depan dengan mengacu pada program dan capaian Renstra Nasional dan RPJMD Kota Baubau serta Renstra SKPD sebagaimana tergambarkan pada tabel di bawah ini :
Tabel 7. 16
Kebutuhan Sektor Penataan Bangunan dan Lingkungan
No. Uraian Satuan
Kebutuhan
Ket Tahun
2014
Tahun 2015
Tahun 2016
Tahun 2017
Tahun 2018 I Kegiatan Penataan Lingkungan Permukiman
1. Ruang Terbuka
Hijau (RTH) M2 14.847.200 19.194.920 23.542.640 27.890.360 32.238.080 2. Ruang Terbuka M2
3. PSD Unit
4. PS Lingkungan Unit
5. HSBGN Laporan
6. Pelatihan Teknis Tenaga Pendata HSBGN
Laporan
II Kegiatan Penyelenggaraan bangunan Gedung dan Rumah Negara 1. Bangunan fungsi
hunian Unit
2. Bangunan fungsi
Keagamaan Unit 3. Bangunan fungsi
4. Bangunan fungsi
sosbud Unit
III Kegiatan Pemberdayaan Komunitas dalam Penanggulangan Kemiskinan 1. PNPM
2.
Kriteria Kesiapan Sektor Penataan Bangunan dan Lingkungan
Untuk mendukung program dan kegiatan penataan bangunan dan lingkungan di Kota Baubau, kriteria kesiapan daerah yang sudah ada dan yang akan dilaksanakan meliputi :
1. Dokumen masterplan RTRW Kota Baubau 2012 – 2032;
2. Dokumen Master Plan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Tahun 2012; 3. Dokumen Program Kota Hijau (Green City);
4. Dokumen RDTR kawasan Betoambari Kota Baubau Tahun 2013 -2022;
5. Dokumen RTBL Keraton Tahun 2005
6. Dokumen RTBL Kawasan Kotamara Kota Baubau Tahun 2008
7. Dokumen Kawasan Industri perikanan Terpadu Pulau Makassar Tahun 2008
8. Dokumen Rencana Aksi Kota Pusaka Kota Baubau Program Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka Tahun 2013.
SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM
7.3.1. Aspek Teknis
Kota Baubau dengan luas wilayah 221 Ha telah memiliki sistem pengelolaan air bersih yang dikelola oleh PDAM Kota Baubau walaupun PDAM Kabupaten Buton hingga saat masih tetap beroperasi di wilayah Kota Baubau. Data Teknis Tiap Zona PDAM Kota Baubau diperlihatkan dalam tabel 3.1. Sistem pengolahan di PDAM Kota Baubau terdapat 4 zona, yaitu:
Zona 1 Zona 2
Zona 3 (melayani Pulau Makasar)
Tabel 6.3.1. Data Teknis Tiap Zona PDAM Kota Baubau
ZONA I ZONA II ZONA
III
Mata Air & Air
detik 100,00 100,00 100,00 15,00 30,00
4
detik 31,00 35,00 7,50 5,00 6,00
5
sasi Grafitasi Grafitasi
Sumber: Data PDAM Kota Baubau, 2014
a. Unit Air Baku
Sumber-sumber air yang dimanfaatkan sebagai sumber air baku pada sistem penyediaan air minum PDAM Kota Baubau saat ini adalah bersumber dari air permukaan dan mata air. Total kapasitas sumber yang digunakan dari 6 (enam) sumber tersebut adalah 330 sampai 415 lt/det, sedangkan kapasitas terpasang tahun 2012 sebesar 74 lt/det sementara kapasitas produksi tahun 2012 baru mecapai 27 lt/det.
Sungai Balanga yang biasa juga disebut sungai Uweogena dan Sungai Baubau, adalah merupakan sungai yang membelah Kota Baubau yang membelah Kota Baubau.
Sungai ini dapat menghasilkan air dengan kapasitas 100 – 120 l/ dtk. Sumber Air Baku PDAM Kota Baubau ini menggunakan sitem pengolahan koagulasi, flokulasi, sedimentasi dan filtrasi.
2) Mata Air Kasombu dan Ntowu
Mata air Kasombu dan Ntowu ini terletak di kelurahan Karya Baru dan Kaisabu Baru Kecamatan Sorawolio. Sistem pengolahan ini dibangun pada tahun anggaran 2006 dengan Sumber Dana APBD II/Dana Alokasi Khusus (DAK).
Adapun sistem pengolahan mata air ini adalah Koagulan/ Flokulasi/ Filterisasi. Kapasitas air yang dihasilkan dari 2 (dua) Mata Air ini sebesar 80 – 100 ltr/dtk.
Mata Air ini akan dimanfaatkan dan dibangun pada tahun anggaran 2009 dengan
sumber dana APBN 2009 melalui program IKK Sorawolio
Mata air Ntowu ini terletak di kelurahan Karya Baru kecamatan Sorawolio, sementara kapasitas air yang dihasilkan dari mata air Liabuku ini sebesar 70 – 80 l/dtk.
kembali 27,3%, sehingga nilainya menjadi 36,2%, kondisi ini dapat dimungkinkan akibat kondisi sumber air yang berfluktuasi atau kondisi sistemnya yang kinerjanya kurang baik.
3) Sumber Mata Air Air Jatuh/Tirta Rimba
Sumber mata air ini terletak di Kelurahan Waruruma Kecamatan Bungi. Kapasitas air yang dihasilkan dari mata air ini sebesar 20 – 40 l/dtk. Sistem pengolahan mata air ini di bangun pada tahun 2006 dengan sumber dana dari APBD/ DAK dan APBN Dekon.
4) Mata Air Wamembe
Mata Air Wamember terletak di Kelurahan Kalia-lia kecamatan Bungi. Kapasitas air yang dihasilkan oleh mata air ini adalah sebesar 60 - 80 l/dtk. Mata Air ini dibangun Melalui Dana APBN (PDPSE AB) pada tahun 2003 .
5) Mata Air Waeni
Mata air Waeni terletak di Kelurahan Kampoenaho Kecamatan Bungi. Kapasitas ait yang dihasilkan dari mata air ini sebesar 60 – 75 l/dtk. Sistem pengolahan air ini yang menggunakan sistem Koagulasi, Filterisasi dan Sedimentasi ini dibangun pada tahun anggaran
2005 dengan sumber dana APBD dan pada tahun 2006 dengan sumber dana APBN (NUSSP & PKPS BBM).
b. Unit Produksi
Kapasitas produksi yang telah dibangun belum semuanya dimanfaatkan, demikian juga terhadap kapasitas produksi riil juga belum didistribusikan maksimal, data terpasang, produksi, distribusi dan idle sebagaimana ditunjukkan dalam tabel 3.2.
NO URAIAN
LAPORAN SATUAN
WILAYAH PELAYANAN
ZONA I ZONA II ZONA III ZONA KOMERSIAL
IKK WARURUMA
1 Nama Sumber Nama Kali Baubau/ Uwebalanga
Kasombu, Ntowu, Kali
Besar
Wamembe Air Jatuh Tirta
Rimba Kali Bungi
2 Jenis Sumber Air
Permukaan
Mata Air & Air Permukaan
Mata Air Air Permukaan Air Permukaan
3 Kapasitas
Sumber Liter/Detik 100,00 100,00 100,00 15,00 30,00
4 Kapasitas
Terpasang Liter/Detik 31,00 35,00 7,50 5,00 6,00
5 Sistim
Jaringan Pompanisasi Grafitasi Pompanisasi Grafitasi Grafitasi
6 Kapasitas
Produksi Liter/Detik 16,00 17,00 7,00 2,10 0,71
7 Jam Produksi Jam 19,78 24,00 17,19 24,00 24,00
8
Jumlah Air Yang Diproduksi
M3/Bln 35.328,00 45.532,80 13.431,60 5.624,64 1.945,95
9
M3/Bln 35.328,00 45.532,80 13.431,60 5.624,64 1.945,95
11 Jumlah Air
Yang Terjual M3/Bln 31.361,00 29.637,00 7.996,00 3.122,00 1.542,00
12
Tingkat Kehilangan Air
M3/Bln 3.967,00 15.895,80 5.435,60 2.502,64 403,95
13 Prosentase
Kebocoran % 11,23 34,91 40,47 44,49 20,76
14
Rata-rata Prosentase Kebocoran
NO URAIAN
LAPORAN SATUAN
WILAYAH PELAYANAN
NO URAIAN
LAPORAN SATUAN
WILAYAH PELAYANAN
ZONA I ZONA II ZONA III ZONA KOMERSIAL
IKK WARURUMA
minum
27 Pemakaian
solar bulan ini Liter 4.148
28
Pemakaian solar s/d bulan ini
Liter 42.595
29
Pemakaian bahan pelumas bulan ini
Liter 39
30
Pemakaian bahan pelumas s/d bulan ini
Liter 318
Sumber: Data PDAM Kota Baubau, Tahun 2015
c. Unit Transmisi Distribusi Zona 1
Eksisting Distribusi Zona 1, dilayani oleh pipa distribusi yaitu:
Pipa GI
1. Dia. 8” sepanjang 2,5 km 2. Dia. 6” sepanjang 23 km 3. Dia. 4” sepanjang 16 km 4. Dia. 3” sepanjang 37,3 km 5. Dia. 2,5” sepanjang 3 km 6. Dia. 2” sepanjang 6 km 7. Dia. 1” sepanjang 2,5 km Pipa PVC
5. Dia. 1” sepanjang 1,5 km 6. Zona 2
7. Tabel 6.3.3 Eksisting Pipa Distribusi Zona 2
Pipa GI Pipa HDPE Pipa PVC
1. Dia. 8” sepanjang 20 km 1. Dia. 3” sepanjang 5
km 1. Dia. 4” sepanjang 2 km
2. Dia. 6” sepanjang 19 km 2. Dia. 3” sepanjang 8 km
3. Dia. 4” sepanjang 5 km 3. Dia. 2” sepanjang 10 km
4. Dia. 3” sepanjang 37 km 4. Dia. 1,5” sepanjang 2
km 5. Dia. 2,5” sepanjang 3
km 5. Dia. 1” sepanjang 3 km
6. Dia. 2” sepanjang 6 km 7. Dia. 1” sepanjang 2,5 km
Sumber: Data PDAM Kota Baubau, Tahun 2015
Zona Komersial (Pelabuhan)
Eksisting Distribusi Zona Komersial (Pelabuhan), dilayani oleh pipa distribusi yaitu:
Pipa GI
1. Dia. 6” sepanjang 600 m 2. Dia. 4” sepanjang 1,2 km 3. Dia. 3” sepanjang 500 m
(Sumber: Wawancara Dengan Bagian Teknik PDAM Kota Baubau)
d. Pelayanan
Tabel 7.3.4. Perkembangan Sambungan Pelanggan PDAM “Tirta Semerbak” Kota Baubau
Sumber: Data PDAM Kota Baubau, Tahun 2015
Konsumsi Air Pelanggan
Konsumsi Pelanggan sampai dengan bulan Juli 2015 jumlah sambungan 6.659 pelanggan. Dari seluruh sambungan tersebut sebagian besar sambungan kelompok rumah tangga sebesar 95% atau sebanyak 6.362 pelanggan.
Pemakaian air kurang dari10 m3 terbesar ada dikelompok rumah tangga yaitu 57% atau 3.684 pelanggan dari total jumlah sambungan rumah tangga.
Tabel 7.3.5 Konsumsi Pelanggan Per Juli 2015
Sumber: Data PDAM Kota Baubau, Tahun 2015
0 m3 1-10 m3 11-20 m3 .20 m3
1 Sosial 10 35 48 28 67 178
2 Instansi 20 15 24 8 11 58
3 Rumah Tangga 30 924 2,760 1,696 982 6,362
4 Niaga 40 22 18 8 11 59
5 Khusus 90 - - - 2 2
996 2,850 1,740 1,073 6,659 Pemakaian Air
Kelompok Pelanggan
No Gol.
Jumlah
Gambar 7.3.5
Eksisting Blok Wilayah Pelayanan PDAM Kota Baubau
7.3.1.1. Eksisting Jaringan Pipa PDAM Kota Baubau
Jaringan perpipaan distribusi belum seluruhnya menjangkau wilayah perkotaan Baubau sehingga pelayanan masih terbatas terlebih lagi wilayah-wilayah yang berada pada daerah ketinggian, ditambah dengan banyaknya pipa distribusi yang tidak optimal. Pada gambar 7.3.6 disajikan peta eksisting Jaringan Pelayanan Air Minum PDAM Kota di kota Baubau.
EKISTING BLOK W
ILAYAH
EKISTING BLOK W
ILAYAH
PELAYANAN PDAM
KOTA BAU
PELAYANAN PDAM
KOTA BAU
BAU
BAU
DaerahPelayananIVdengansumbermata air MataWamembe
DaerahPelayananKhusus DaerahPelayananIdengansumbermataair
Balanga/KaliAmbon
DaerahPelayananIIdengansumbermataair Mata IdanMata II /Sorawolio
DaerahPelayananIIIdengan sumbermataair Rumbia/Sorawolio DaerahPelayananVdengansumbermata
airWaeni
DaerahPelayananVIdengansumbermata airAirJatuh
[Year]
Gambar 6.3.6
[Year]
7.3.1.2. Sistim Bukan Jaringan Perpipaan Perkotaan
Selain jaringan perpipaan dari PDAM, pemenuhan kebutuhan air bersih di wilayah Kota Baubau dilayani pula oleh sumber bukan jaringan perpipaan. Pada umumnya masyarakat yang tidak terlayani air bersih dari PDAM memanfaatkan air tanah sebagai sumber air bersih dengan membuat sumur gali terbuka. Dari data Dinas ESDM Kota Baubau pemanfaatan air tanah baik dengan menggunakan sumur bor maupun sumur gali dapat dilihat pada tabel 7.3.6.
Tabel 7.3.6. Daftar Invetarisasi Air Tanah
NO KECAMATAN KELURAHAN
PEMANFAATAN
JUMLAH SUMUR KOMERSIL
NON KOMERSIL
1 WOLIO
WALE 24 0 24
TOMBA 1 2 3
BATARAGURU 5 17 22
BATULO 1 7 8
WANGKANAPI 3 5 8
KADOLOKATAPI 0 1 1
BUKIT WOLIO
INDAH 0 1 1
2 MURHUM
LAMANGGA
TANGANAPADA 5 26 31
WAJO
MELAI 0 0 0
BAADIA 0 0 0
3 BETOAMBARI
SULAA 6 4 10
[Year]
NO KECAMATAN KELURAHAN
PEMANFAATAN
JUMLAH SUMUR KOMERSIL
NON KOMERSIL
KATOBENGKE 15 6 21
LABALAWA 0 3 3
WABOROBO 0 2 2
4 BATUPOARO
BONE-BONE 6 41 47
TARAFU 2 10 12
WAMEO 1 1 2
NGANGANAUMALA 4 32 36
KAOBULA 0 5 5
LANTO 0 31 31
5 SORAWOLIO
KARYA BARU 0 3 3
KAISABU BARU 1 9 10
GONDA BARU 0 0 0
BUGI 0 6 6
6 KOKALUKUNA
KADOLO 0 0 0
KADOLOMOKO 0 0 0
WARURUMA LIWUTO
LAKOLOGOU 1 18 19
SUKANAYO
[Year]
NO KECAMATAN KELURAHAN
PEMANFAATAN
JUMLAH SUMUR KOMERSIL
NON KOMERSIL
WALIABUKU 0 1 1
NGKARI-NGKARI KAMPEONAHO TAMPUNA
[Year]
Gambar 6.3.7
Peta Eksisting Jaringan Bukan Perpipaan Kota Baubau
[Year]
Gambar 6.3.7
Peta Eksisting Jaringan Bukan Perpipaan Kota Baubau
[Year]
Gambar 6.3.7
[Year]
7.4. PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
7.4.1. AIR LIMBAH
7.4.1.1. Arah Kebijakan dan Lingkup Kegiatan Pengelolaan Air Limbah a. Arahan Kebijakan Pengelolaan Air Limbah
Beberapa peraturan perundangan yang mengatur pengelolaan air limbah, antara lain :
1. Undang – undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional.
2. Undang – undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air 3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1966 Tentang
Hygiene.
4. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1992 Tentang Kesehatan
5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.
6. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air
7. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah.
8. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antar Pemerintah Pusat dan Daerah.
9. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang.
10. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025.
11. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Perumahan dan Kawasan Pemukiman.
12. Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum
13. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 1990 Tentang Pengendalian Pencemaran Air.
14. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 14/PRT/M/2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Tata Ruang
15. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 02/MENKLH/I/1998 tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan
[Year] 17. Peraturan Daerah Kota Baubau Nomor 6 Tahun 2005 tentang
Pengendalian, Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup.
18. Peraturan Daerah Kota Baubau Nomor 27 Tahun 2012 tentang Retribusi Pengolahan Limbah Cair.
19. Keputusan Walikota Baubau No.690 Tentang Tarif Mobil Tinja Dalam Kota Baubau.
20. Keputusan Walikota Baubau No.690 Tentang Tarif WC Umum Mobile Container Area Pantai Kamali Kota Baubau.
Lingkup Pengelolaan Air Limbah
Pada dasarnya pengelolaan air limbah permukiman dapat dilakukan dengan sistem on-site atau sistem off-site atau kombinasi dari kedua sistem ini :
1. Sistem pengelolaan air limbah terpusat (off-site system) adalah sistem penanganan air limbah domestik melalui jaringan pengumpul yang diteruskan ke Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL).
2. Sistem pengelolaan air limbah setempat (on-site system) adalah sistem penanganan air limbah domestik yang dilakukan secara individual dan/atau komunal dengan fasilitas dan pelayanan dari satu atau beberapa bangunan, yang pengolahannya diselesaikan secara setempat atau dilokasi sumber.
[Year] terdapat di kecamatan Wolio tetapi belum semua warga menggunakan layanan tinja ini.
Sedangkan limbah rumah tangga berupa air buangan dari dapur/kamar mandi (
greywater
) belum ada sistem pengolahan khusus, dan untuk saat ini limbah rumah tangga tersebut dibuang langsung ke saluran drainase yang terhubung ke sungai atau bahkan masih terdapat beberapa rumah tangga yang membuang langsung limbahnya ke tanah.Pengelolaan air limbah dapat dibedakan menjadi dua sistem yaitu sistem pengelolaan limbah domestik dan limbah non domestik. Kebijakan dasar pengelolaan air limbah adalah limbah domestik maupun non domestik harus dilakukan pengelolaan/pengolahan terlebih dahulu sebelum dibuang ke aliran sungai atau saluran drainase dan memenuhi baku mutu air buangan.
A. Rencana Pengelolaan Limbah Domestik
Pengelolaan limbah domestik dilakukan dengan dua cara yaitu sistem individu/rumah tangga dan sistem komunal. Sistem individu diterapkan pada kawasan-kawasan permukiman dengan tingkat kepadatan sedang dan rendah, dimana masih memungkinkan setiap individu/rumah tangga untuk membangun sendiri septic tank pengolah air limbah. Sedangkan sistem komunal diterapkan pada kawasan-kawasan permukiman dengan tingkat kepadatan tinggi, dimana setiap individu tidak mempunyai lahan untuk membuat septic tank sendiri. Sistem komunal dilakukan dengan membangun septic tank bersama yang digunakan oleh beberapa kelompok rumah tangga.
Pengelolaan limbah komunal direncanakan dibeberapa titik di Kecamatan Sorawolio, Kecamatan Lea-lea dan Kecamatan Bugi.
B. Rencana Pengelolaan Limbah Non Domestik
[Year] UKL/UPL untuk kegiatan menengah dan AMDAL untuk kegiatan bersakala besar.
Rencana pengelolaan IPAL untuk skala kawasan dibeberapa titik yaitu: i. Rumah Sakit Umum Daerah Palagimata .
ii. Pelabuhan Murhum
iii. Kawasan Pusat Bisnis, Perdagangan, dan perkantoran. iv. Kawasan terminal tipe B di Kecamatan Lea-Lea.
Isu Strategis Pengembangan Air Limbah
Isu-isu strategis dalam pengelolaan air limbah permukiman di Indonesia antara lain:
1. Akses masyarakat terhadap pelayanan pengelolaan air limbah permukiman
Sampai saat ini walaupun akses masyarakat terhadap prasarana sanitasi dasar mencapai 90,5% di perkotaan dan di pedesaan mencapai 67% (Susenas 2007) tetapi sebagian besar fasilitas pengolahan air limbah setempat tersebut belum memenuhi standar teknis yang ditetapkan. Sedangkan akses layanan air limbah dengan sistem terpusat baru mencapai 2,33% di 11 kota (Susenas 2007 dalam KSNP Air Limbah).
2. Peran Masyarakat
Peran masyarakat berupa rendahnya kesadaran masyakat dan belum diberdayakannya potensi masyarakat dan dunia usaha dalam pengelolaan air limbah serta terbatasnya penyelenggaraan pengembangan sistem pengelolaan air limbah permukiman berbasis masyarakat.
3. Peraturan perundang-undangan
Peraturan perundang-undangan meliputi lemahnya penegakan hukum dan belum memadainya perangkat peraturan perundangan yang dibutuhkan dalam sistem pengelolaan air limbah permukiman serta belum lengkapnya NSPM dan SPM pelayanan air limbah.
4. Kelembagaan
Kelembagaan meliputi kapasitas SDM yang masih rendah, kurang koordinasi antar instansi dalam penetapan kebijakan di bidang air limbah, belum terpisahnya fungsi regulator dan operator, serta lemahnya fungsi lembaga bidang air limbah.
5. Pendanaan
[Year] 7.4.1.2 Isu Strategis, Kondisi Eksisting, Permasalahan dan Tantangan Air Limbah Permukiman
A. Isu Strategis Pengembangan Air Limbah Permukiman
Berikut ini adalah isu-isu strategis dalam pengelolaan Air Limbah Permukiman di Kota Baubau antara lain :
Tabel 7.25 Isu Strategis dan Permasalahan Mendesak Sub Sektor Air Limbah Kota Baubau Tahun 2012
NO PRODUK / DAUR ULANG Aspek Terknis
1. Aspek Teknis - Masih ada warga sebesar 5,54% yang belum memiliki jamban pribadidan belum terlayani Jamban umum
- Masih ada sarana jamban pribadi yang tidak sesuai standar teknis& Kesehatan sebanyak 7%
- Seluruh warga yang masih membuang grey water (air Sisa
mandi/cuci) langsung ke badan air/tanah
- Sistem pengelolaan Black Water dari user
- Masih ada tangki septik yang tidak sesuai standar teknis sebanyak 71%%
- Sebanyak 18 % jamban yang tidak memiliki tangki septik
- belum ada Kolam Penengkap Lemak dan IPAL skala perumahan untuk penanganan grey water (Air Sisa mandi dan cuci)
- Sudah memiliki Armada sedot tinja 1 unit
- Terdapat beberapa usaha sedot tinja dan pengangkutan tinja ilegal yang tidaksesuai dangan standar teknis dan berkontribusi dalam pencemaran
- Sudah Memiliki IPLT
- Belum optimalnya pemanfaatan IPLT
- Belum ada uji mengenai data buangan limbah dari IPLT yang ada (volume, kualitas hasil pengolahan (effluen), efisiensi pengolahan / IPLT, hasil
sampingan/lumpur, dll)
- Belum optimalnya pemanfaatan hasil sedimentasi IPLT sebagai pupuk
- Belum optimalnya pemanfaatan gas metan hasil
[Year]
interface hingga ke pembuangan akhir telah berjalan.
- Terbatasnya database mengenai air limbah baik air limbah permukiman maupun air limbah industri
++
2 Operasional Biaya operasional lebih
besar dari income Aspek Non Teknis
1 Aspek
Legal/kebijakan
- Belum Memiliki Master plan air Limbah skala kota Jamban yang sesuai standar teknis
- Implementasi aturan, tatacara perizinan septiktank yang sesuai standar teknis
- Belum ada
aturan/sanksi yang mengatur kewajiban menyedot lumpur tinja bagi masyarakat,
- Sudah ada PERDA mengenai tarif jasa penyedotan Tinja
- Belum ada aturan dan sanksi yang mengatur standar operasional kegiatan jasa
pengangkutan limbah cair dan penyedia layanan air limbah lainnya
- Belum ada aturan, tatacara perizinan mengenai kegiatan pembuangan air limbah bagi permukiman, industri rumah tangga dan perkantoran
- Belum ada aturan/sanksi yang mengatur kewajiban menyediakan sarana pengelolaan air limbah bagi industri rumah tangga
[Year]
pembuangan air limbah bagi
permukiman, industri rumah tangga dan perkantoran belum maksimal
- sanksi tatacara perizinan mengenai kegiatan pembuangan air limbah bagi permukiman, industri rumah tangga dan perkantoran belum maksimal
industri rumah tangga, perkantoran pemilik
- Sudah ada SKPD yang menangani Air limbah yakni Bapedalda dan Dinas kebersihan - Sistem Monitoring dan
evaluasi Air limbah domestik, indutri rumah tangga dan limbah medis masing rendah
- Belum optimal adanya pelatihanKSM,
kelompok peduli& masyarakat dalam pengelolaan (O&M) sarana umum air limbah
- Kesadaran
masyarakat dalam pembayaran retribusi pengelolaan sarana umum air limbah belum optimal - Belum optimal
adanya pelatihanKSM, kelompok peduli& masyarakat dalam pengelolaan (O&M) sarana umum air limbah
- Belum optimalnya fungsi regulator dan operator dalam pengelolaan air limbah
- SDM dalam bidang air limbah masih terbatas
- Peningkatan
pengelolaan O & M IPLT belum optimal
3 Aspek
Pemberdayaan
- Kurangnya kesadaran warga dalam
- Kurangnya kesadaran warga dalam
[Year]
/ PMJK pengelolaan O&M sarana umum air limbah (Jamban Umum, MCK Umum dsb)
- Kesadaran masyarakat dalam pembayaran retribusi pengelolaan sarana umum air limbah masih rendah
- Peran swadaya masyarakat & kelompok peduli dalam pembangunan /pengadaan jamban, MCK belum optimal
pengelolaan O&M sarana umum( septiktank komunal)
prakarsa masyarakat dan swasta yang sesuai dengan standar teknis
4 Aspek
Komunikasi & Media
- kampanye PHBS tentang kampanye cuci tangan pake sabun & komunikasi tentang Pemeliharaan fungsi dan kebersihan jamban belum optimal
- Belum optimalnya kampanye kesehatan lingkungan tentang kampanye jamban yang sehat
- Belum optimal mendesain metode sosialisasi dan media yang kreatif, inovatif
- Belum optimalnya kegiatan
sosialisasi/komunikasi yang terkait dengan pembangunan/ pemeliharaan
septiktank yang sesuai standar teknis dan kesehatan
- Belum optimal mendesain metode sosialisasi dan media yang kreatif, inovatif dan efektif
- Belum optimalnya sosialisasi & komunikasi tentang masalah
penyedotan/pengangkut an lumpur tinja sesuai standar teknis
- Informasi pengangkutan lumpur tinja melalui media (radio dan televisi lokal) belum optimal
Sosialisasi akan pentingnya semi pengolahan akhir terpusat belum pernah dilaksanakana
Informasi mengenai komponen