di Indonesia merupakan salah satu cermin keberhasilan kepemimpinan Indonesiadan peran diplomasi Indonesia, khususnya dalam hal menjadi tuan rumah. Selama tahun 2013, dilaksanakan 12 forum multilateral di dalam negeri. Di antaranya adalah Senior Officials Meeting (SOM) KKP ke-6 Indonesia-Timor Leste (Bali, 6-7 Mei 2013), Global Counter Terrorism Forum (GCTF) South East Asia Capacity Building Working Group (SEA WG) (Yogyakarta, 18-19 November 2013), Pertemuan ke-4 High-Level Panel of Eminent Persons (HLP) on Post-2015 Development Agenda (Bali, 25-27 Maret 2013), dan International Workshop on Indusrial Development Strategy Generating Sustainable Indonesia through UNIDO (Batam, 17-18 Oktober 2013).
No Bidang 2010 2011 2012 2013
1 HAM dan Kemanusiaan (HAM) 4 3 3 2
2 Keamanan Internasional dan Perlucutan Senjata (KIPS) 8 1 6 7 3 Pembangunan, Ekonomi, dan Lingkungan Hidup (PELH) 5 2 1 1 4 Perdagangan, Perindustrian, Investasi, dan Hak Kekayaan
Intelektual (PPIH) 0 3 2 2
5 Sosial, Budaya, dan Organisasi Internasional Negara Berkembang
(Sosbud OINB) 0 1 1 0 TOTAL 17 10 13 12 0 5 10 15 20 2010 2011 2012 2013 17 10 13 12
Penyelenggaraan Forum Multilateral di Indonesia
55 “Prioritas Nasional Indonesia dalam Diplomasi
Multilateral:
Mendukung Reformasi Dewan Keamanan PBB”
Pada pertemuan tingkat Menteri kelompok
Uniting for Consensus (UfC) mengenai reformasi
Dewan Keamanan PBB di Roma, 4 Februari 2013, Indonesia:
• menyampaikan dukungan terhadap upaya reformasi Dewan Keamanan PBB untuk menjadi suatu lembaga yang lebih akuntabel, demokratis, efektif, responsive, dan equitably
representative;
• menekankan bahwa reformasi Dewan Keamanan PBB harus bersifat all inclusive dan transparan;
• menekankan posisinya yang menginginkan agar kelima key issues reformasi DK dinegosiasikan sebagai suatu paket yang komprehensif dan tidak terpisahkan.
Pada Intergovernmental Negotiations (IGN) on the
Question of the Equitable Representation on and Increase in the Membership of the Security Council and Other Matters Related to the Council putaran
ke-9, New York, 16-17 April 2013, Indonesia: • mendorong agar dapat dipertimbangkan suatu
pendekatan intermediate dengan mekanisme tinjau ulang yang jelas untuk dapat bergerak menuju converging points dalam isu reformasi Dewan Keamanan PBB.
Pada tahun 2013, IKU-2 SS-2 ditargetkan dengan Indeks 6 dengan realisasi Indeks 8 (91,79%) diperoleh dari komponen dan pembobotan sebagai berikut:
No Komponen Bobot Realisasi Pembobotan Realisasi
1 Persentase posisi Indonesia yang diterima dalam forum
multilateral (Komponen 1 IKU-2 SS-2) 40 92,84% 37,14% 2 Persentase kepemimpinan Indonesia dalam forum
multilateral (Komponen 2 IKU-2 SS-2) 30 100% 30% 3 Persentase keberhasilan pencalonan
pemerintah/individu Indonesia dalam
keanggotaan/jabatan pada Organisasi Internasional (Komponen 3 IKU-2 SS-2)
15 73,34% 11%
4 Jumlah implementasi kesepakatan multilateral pada
tingkat nasional (Komponen 4 IKU-2 SS-2) 15 91,03% 13,65%
Capaian SS-2 91,79%
Dalam pencapaian kinerja SS-2, Kementerian Luar Negeri menghadapi kendala diantaranya:
1. Di bidang HAM dan Kemanusiaan, penjadwalan ulang sejumlah pertemuan internasional dan bilateral maupun implementasi
kesepakatan multilateral pada tingkat nasional yang disebabkan oleh masih diperlukannya pembahasan lebih lanjut mengenai waktu penyelenggaraan kegiatan maupun isu yang akan dibahas serta faktor koordinasi dan komitmen para pemangku kepentingan yang masih perlu ditingkatkan lagi. Di bidang Keamanan Internasional dan Perlucutan Senjata, upaya untuk mendorong reformasi Dewan Keamanan PBB menemui kendala pada posisi dasar negara-negara yang sangat berbeda terkait isu reformasi DK PBB. Akibatnya, proses reformasi berjalan lambat dan hingga kini masih terus dalam proses pembahasan.
2. Di bidang Perdagangan, Perindustrian, Investasi, dan Hak Kekayaan Intelektual, belum optimalnya koordinasi dan kerja sama dalam pelaksanaan kegiatan antar-Kementerian/Lembaga (K/L) terkait, padatnya jadwal kegiatan, sehingga terdapat waktu yang sama antara suatu
56
kegiatan dengan kegiatan lainnya, terbatasnya jumlah SDM akibat tidak terpenuhinya jumlah bezetting yang tersedia.
3. Pada usaha pencalonan pemerintah/individu Indonesia dalam keanggotaan/jabatan pada Organisasi Internasional, terdapat kendala yang menyebabkan tidak berhasilnya beberapa pencalonan, di antaranya koordinasi antara focal point yang kurang, yang kemudian menyebabkan tidak selarasnya pandangan antara Kementerian Luar Negeri dengan focal point Kementerian atau Lembaga RI. Hal tersebut kemudian menyebabkan upaya penggalangan dukungan menjadi tidak efektif. Selain itu, notifikasi akan majunya Indonesia dalam beberapa pemilihan diinformasikan pada waktu yang sangat dekat dengan hari pemilihan. Hal tersebut menyebabkan pula kurang efektifnya penggalangan dukungan, walaupun Kementerian Luar Negeri dan Perwakilan RI di luar negeri telah mengupayakan kampanye seoptimal mungkin.
4. Selain itu juga terdapat kendala teknis—khususnya pada bidang Sosial Budaya dan Organisasi Negara Berkembang serta Pembangunan, Ekonomi, dan Lingkungan Hidup— berupa munculnya kegiatan prioritas yang muncul secara mendadak dan berada di luar perencanaan, perubahan jadwal seperti pembatalan acara yang dilakukan secara mendadak sehingga sulit dipenuhi—terutama pada OI Negara Berkembang, serta keterbatasan staf sebagai akibat mutasi pegawai ke Perwakilan RI di luar negeri.
Untuk mengatasi kendala-kendala tersebut, telah dilakukan langkah-langkah pemecahan masalah sebagai berikut:
1. Terus berperan aktif dalam mendorong reformasi DK PBB di setiap forum internasional dan melakukan pendekatan-pendekatan dengan negara-negara kunci dengan tetap mengutamakan kepentingan nasional RI dalam reformasi Dewan Keamanan PBB.
2. Mengoptimalkan pelaksanaan kegiatan berdasarkan prioritas dan urgensi serta upaya melakukan penjadwalan ulang beberapa kegiatan atau pertemuan yang tertunda.
3. Meningkatkan keterlibatan berbagai stakeholders dalam perumusan dan implementasi kebijakan luar negeri sesuai dengan sistem politik Indonesia yang demokratis.
4. Menyusun skala prioritas terhadap pertemuan di luar perencanaan dengan memperhatikan tujuan jangka panjang yang ingin dicapai, serta menjaga konsistensi pelaksanaan Polugri karena sering kali target yang diinginkan memang tidak dapat tercapai dalam jangka pendek. Namun diyakini dalam jangka panjang akan menguntungkan bagi postur internasional Indonesia.
5. Meningkatkan koordinasi dengan para pemangku kepentingan baik di dalam maupun di luar negeri.
6. Mengupayakan terpenuhinya jumlah SDM sesuai bezetting yang tersedia.
Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, pada tahun 2013 Indonesia banyak mengajukan posisi pada forum-forum internasional. Peningkatan target tersebut menunjukkan peran Indonesia yang semakin signifikan di dunia internasional. Selengkapnya dapat dilihat tabel di bawah ini:
57
No Kinerja 2010 2011 2012 2013
T R C T R C T R C T R C
1. Jumlah
posisi/rekomendasi yang diterima dalam forum-forum internasional
86 70 82,05 147 134 91,16 123 122 99,12 349 324 92,84
Ket: T : Target; R : Realisasi; C: Capaian (dalam %)
Grafik Posisi/Rekomendasi dari Tahun ke Tahun
ANALISIS IKU-2 SS-2: Indeks Peran Diplomasi Indonesia dalam Penanganan Isu Multilateral
Indeks peran dan kepemimpinan ini diperoleh dari 4 komponen dengan pembobotan yang berbeda, yaitu:
Komponen IKU-2 SS-2 Bobot 1 Persentase posisi Indonesia yang diterima dalam forum multilateral
(Komponen 1 IKU-2 SS-2) 40
2 Persentase kepemimpinan Indonesia dalam forum multilateral
(Komponen 2 IKU-2 SS-2) 30
3 Persentase keberhasilan pencalonan pemerintah/individu Indonesia dalam keanggotaan/jabatan pada Organisasi Internasional
(Komponen 3 IKU-2 SS-2)
15 4 Jumlah implementasi kesepakatan multilateral pada tingkat nasional
(Komponen 4 IKU-2 SS-2) 15
Analisis Komponen 1 IKU-2 SS-2: Persentase posisi Indonesia yang diterima dalam forum multilateral
Komponen 1
IKU-2 SS-2 Target Capaian Informasi kinerja Jumlah % Dukung Data
Persentase posisi Indonesia yang diterima dalam forum multilateral
80% 116,05% Jumlah posisi yang diterima dalam forum multilateral 324 92,84 Laporan Delri, resolusi, keputusan Presidensial/ Chairman statement,dll
Jumlah posisi yang disampaikan dalam forum multilateral 349 0 100 200 300 400 posisi/rekomendasi 2010 2011 2012 2013
58
Sepanjang tahun 2013, dalam hal capaian Komponen 1 IKU-2 SS-2, Kementerian Luar Negeri mencatat bahwa dari target sebanyak 80% posisi yang disampaikan dalam forum multilateral, sebanyak 92,84% posisi Indonesia diterima (324 posisi diterima dibandingkan dengan 349 posisi yang disampaikan). Capaian posisi yang diterima dalam persidangan di forum-forum multilateral adalah sebanyak 116,05%. Dari 324 posisi yang diterima dalam forum-forum multilateral selama tahun 2013, beberapa posisi bernilai strategis bagi Indonesia, di antaranya:
1. Diterimanya posisi Indonesia dalam rancangan resolusi, rancangan keputusan dan presidential statement pada sesi persidangan Dewan HAM PBB, sesuai dengan posisi Indonesia menjadi anggota Dewan HAM untuk periode 2011-2014, yang terkait dengan penanganan berbagai isu HAM dan Kemanusiaan yang bersifat strategis dan sejalan dengan kepentingan nasional Indonesia.
2. Diterimanya posisi Indonesia Dalam pertemuan Nuclear Security Summit, Sous Sherpa, Den Haag Belanda, 4-5 April 2013, yangmenyampaikan bahwa isu keamanan nuklir merupakan isu yang nyata saat ini sehingga pada NSS 2012 di Seoul, Indonesia telah mengusulkan penyusunan National Legislation Implementation Kit on Nuclear Security. Model tersebut bertujuan untuk membantu negara-negara dalam mengembangkan legislasi nasionalnya secara komprehensif dan sebagai sebagai referensi yang merangkum elemen-elemen dari berbagai kerangka hukum terkait keamanan nuklir. 3. Indonesia berhasil mendorong investasi infrastruktur mendapatkan kemajuan cukup
signifikan di KTT G20 St. Petersburg, dengan disepakatinya G20 Work Plan on Long Term Financing for Investment.
4. Pada sidang ICC ke-100 dan sidang ICO terkait lainnya, London, 4-8 Maret 2013, proposal Indonesia dengan judul "Pest Control Model and Good Agricultural Practices (GAP) Application on Different Coffee Gwowing Areas in Indonesia" masuk dalam kategori under consideration oleh CFC dan dipertimbangkan oleh Project Appraisal Committee CFC;
5. Melalui SOM KTM OKI di Jeddah, 5-7 November 2013 diterima usulan Pemri terkait resolusi mengenai Filipina Selatan dimana OKI mengapresiasi peran Keketuaan Indonesia pada OIC-PCSP;
6. Diterimanya dua posisi Pemri pada Sidang ke-66 World Health Assembly (WHA), Jenewa, 20-24 Mei 2013, yaitu rencana pemberlakuan sistem jaminan kesehatan nasional untuk mencapai Universal Health Coverage, serta Pencegahan dan pengendalian penyakit Non-Communicable Diseases, kesehatan jiwa, kesehatan mata, serta kesehatan ibu dan anak.
Presiden RI pada KTT G20 di St. Petersburg, Rusia, September 2013
59 Meskipun capaian kinerja Komponen 1 IKU-2 SS-2 mencapai 116,05%, dalam pelaksanaannya Kementerian Luar Negeri menghadapi beberapa kendala utama, yaitu:
• Adanya persidangan yang waktunya bersamaan dengan kegiatan lain yang lebih prioritas • Kurangnya koordinasi antar Kementerian/Lembaga dalam mempersiapkan posisi
Indonesia yang akan diperjuangkan dalam perundingan
Untuk mengatasi kendala tersebut, Kementerian Luar Negeri telah melakukan langkah-langkah solutif. Langkah-langkah-langkah tersebut di antaranya peningkatan koordinasi dengan Kementerian/Lembaga terkait dengan cara memperluas jaringan dan mengefektifkan intensitas komunikasi.
Analisis Komponen 2 IKU-2 SS-2: Persentase Kepemimpinan Indonesia dalam Forum Multilateral
Komponen
2 IKU-2 SS-2 Target Capaian Informasi Kinerja Jumlah % Dukung Data
Persentase
kepemimpinan Indonesia
dalam forum multilateral 80% 125%
Jumlah kepemimpinan yang dilaksanakan dalam forum multilateral 18 100% Laporan Delri, resolusi, keputusan Presidensial/ Chairman statement,dll Jumlah pertemuan atau event yang disepakati untuk dipimpin oleh Indonesia dalam forum multilateral
18
Sepanjang tahun 2013, dalam hal capaian Komponen 2 IKU-2 SS-2, Kementerian Luar Negeri mencatat bahwa dari target sebanyak 80% forum internasional yang direncanakan dipimpin oleh Indonesia, seluruhnya berjalan sesuai rencana (target sebanyak 18 kali Indonesia harus dapat memimpin forum multilateral, pada realisasinyapun 18 kali Indonesia berhasil memimpin forum multilateral). Dengan demikian, capaian untuk IKU tersebut adalah sebesar 125%.
Sepanjang tahun 2013, Indonesia berhasil memimpin forum-forum strategis sebagai bukti kepemimpinan Indonesia dalam forum multilateralyang bisa membantu peningkatan citra dan pencapaian kepentingan nasional. Forum-forum tersebut di antaranya adalah:
1. Kepemimpinan Indonesia sebagai tuan rumah Jakarta Conference: Regional Conference on
International Migration and Development, Jakarta, 29-30 Agustus 2013. Konferensi ini
membantu Indonesia memperkuat strategi perlindungan pekerja migran dan mekanisme kerjasama kawasan dalam kerangka pembangunan dan ekonomi.
2. Melakukan Demarche kepada Kepala Perwakilan negara-negara anggota FATF di Jakarta dalam rangka memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi Sidang Pleno FATF terkait Isu Pendanaan Terorisme, Jakarta, 13 Februari 2013.
3. Menyelenggarakan Pertemuan ke-4 High-Level Panel of Eminent Persons (HLP) on
Post-2015 Development Agenda, Bali, Indonesia, tanggal, 25-27 Maret 2013. Pertemuan
membahas mengenai kemitraan global dan means of implementation dari agenda pembangunan pasca-2015.Pertemuan di Bali menggaris bawahi limakey areas yang dapat mendorong pencapaian visi agenda pembangunan pasca-2015, yang juga akan member dampak positif bagi Indonesia, yaitu: i) reshaped and revitalized global governance and
60
partnerships; ii) protection of the global environment; iii) sustainable production and consumption; iv) strengthened means of implementation; dan v) data availability and
better accountability in measuring progress.
4. Kegiatan Workshop Tingkat Regional Mengenai Isu Perdagangan dan Lingkungan Hidup untuk Ekonomi-Ekonomi di Kawasan Asia Pasifik, 17-19 September 2013: Indonesia menjadi host sebagai upaya peningkatan kapasitas negara berkembang untuk memahami peraturan perdagangan Internasional WTO dan keterkaitannya dengan Perjanjian Internasional dibidang Lingkungan Hidup.Workshop ini merupakan bentuk nyata partisipasi aktif Indonesia dalam rangka peningkatan kapasitas para pembuat kebijakan di negara-negara berkembang, dalam rangka penyusunan kebijakan perdagangan yang mendukung pembangunan berkelanjutan. Dari berbagai topik paparan yang disampaikan para peserta mendapatkan banyak pengetahuan yang bermanfaat baik teori maupun contoh kasus. Dalam suatu sesi khusus, para peserta melakukan presentasi untuk dapat saling bertukar best practices mengenai keterkaitan perdagangan dan lingkungan hidup yang mengemuka di negara masing-masing. Indonesia menyampaikan presentasi mengenai kebijakan ecolabeling di Indonesia.
5. Menyelenggarakan Expert Meeting of Foreign Policy and Global Health (FPGH) oleh Perwakilan Tetap RI di Jenewa pada tanggal 21 Juni 2013. Pada awalnya, pertemuan dimaksud direncanakan untuk diadakan di Indonesia, namun mengingat kesulitan dari para pakar yang sebagian besar berada di Jenewa untuk datang ke Indonesia pada waktu yang diusulkan, maka atas arahan pimpinan, pertemuan dialihkan ke Jenewa dengan hasil disepakatinya rumusan awal resolusi foreign policy and global health.Dalam Pertemuan tersebut para Expert FPGH menyampaikan penghargaannya kepada Menteri Kesehatan RI dan Delegasi RI selaku host dari FPGH Health Ministers Breakfast Meeting pada tanggal 21 Mei 2013.
Meskipun capaian kinerja Komponen 2 IKU-2 SS-2 melebihi target yang ditetapkan, dalam pelaksanaannya Kementerian Luar Negeri tidak lepas dari kendala seperti permasalahan komitmen pemangku kepentingan terkait dengan penetapan waktu penyelenggaraan serta isu-isu yang akan dibahas yang disesuaikan dengan perkembangan yang ada. Untuk
mengatasi kendala tersebut, Kementerian Luar Negeri telah melakukan langkah-langkah
solutif. Langkah-langkah tersebut di antaranya adalah mengefektifkan koordinasi dengan Kementerian/Lembaga terkait dengan cara memperluas jaringan dan meningkatkan intensitas komunikasi, serta melakukan sistem co-sharing pembiayaan kegiatan.
Analisis Komponen 3 IKU-2 SS-2: Persentase Keberhasilan Pencalonan Pemerintah/Individu Indonesia dalam Keanggotaan/Jabatan pada Organisasi Internasional
Komponen 2 IKU-2 SS-2 Target Capaian Informasi
Kinerja Jumlah % Data Dukung Persentase keberhasilan pencalonan pemerintah/individu Indonesia dalam keanggotaan/jabatan pada Organisasi Internasional
70% 104,78% Jumlah pencalonan yang berhasil 11 73,34% Laporan Delri, resolusi, keputusan Presidensial/ Chairman statement,dll Jumlah pencalonan yang diusulkan 15
61 Pencalonan pada Organisasi Internasional merupakan upaya strategis Pemerintah Indonesia untuk memperjuangkan kepentingan nasional melalui jabatan strategis pada organisasi internasional. Dengan menduduki jabatan tersebut, Indonesia berkesempatan untuk turut serta menyusun kebijakan suatu organisasi internasional; menyusun dan melaksanakan program-program kerja organisasi internasional yang dapat dimanfaatkan dan disesuaikan untuk memperjuangkan kepentingan nasional Indonesia, maupun memperjuangkan kepentingan regional dan negara-negara berkembang guna meningkatkan postur internasional Indonesia; dan dalam rangka meningkatkan peran aktif Indonesia dalam berbagai kerja sama internasional dan menjadi bagian dari solusi permasalahan global.
Sejumlah kegiatan telah diselenggarakan dalam mengupayakan pemenangan setiap pencalonan Indonesia, yaitu penyelenggaraan atau menghadiri rapat koordinasi dengan satker internal Kemlu, Perwakilan RI di luar negeri, maupun interkementerian guna membahas strategi pencalonan Indonesia maupun penyusunan materi kampanye pencalonan seperti brosur pencalonan dan aide memoire; penyelenggaraan resepsi diplomatik dengan mengundang perwakilan asing di Jakarta dan Kementerian serta Lembaga RI terkait dalam rangka penggalangan dukungan; sertamenghadiri pertemuan internasional yang berkaitan dengan pencalonan guna melakukan observasi secara langsung atas upaya pencalonan, melakukan penggalangan dukungan, dan menyebarkan materi kampanye pencalonan.
Secara keseluruhan, capaian indikator kinerja ini mencapai 104,78%. Selama tahun 2013, Indonesia berhasil menjadi anggota 11 Organisasi Internasional, beberapa diantaranya: 1. Indonesia terpilih sebagai anggota Board 10-Year Framework of Programs on Sustainable
Consumption and Production Patterns (10-YFP);
2. Indonesia terpilih sebagai anggota Standing Committee (SC) Convention on International
Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora;
3. Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, terpilih sebagai Board Chair of the Global Fund (TGF);
4. Indonesia terpilih sebagai anggota Commission on Narcotics and Drugs (CND), periode 2014-2017;
Jika dibandingkan dengan tahun 2012, pada tahun 2013 jumlah pencalonan Pemerintah/individu dalam keanggotaan/jabatan di Organisasi Internasional meningkat sebagaimana tabel dibawah ini:
No Kinerja 2010 2011 2012 2013 T R C T R C T R C T R C 1. Jumlah pencalonan pemerintah/individu dalam keanggotaan/jabatan di OI 9 8 88,89 19 16 84,21 10 9 90 15 11 73,34
Ket: T : Target; R : Realisasi; C: Capaian (dalam %)
62
Dapat disampaikan juga bahwa Indonesia tidak berhasil terpilih pada sejumlah pencalonan sebagai berikut:
1. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu, sebagai Direktur Jenderal World Trade Organization (WTO);
2. Dr. Justian Suhandinata, sebagai Presiden Badminton World Federation (BWF), periode 2013-2017;
3. Muhammad Aras, sebagai Direktur Asia Pacific Postal Union (APPU), periode 2014-2017;
4. Indonesia sebagai anggota Dewan International Civil Aviation Organization (ICAO) bagian III, periode 2013-2016.
Ketidakberhasilan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya: koordinasi antara focal point yang kurang, yang kemudian menyebabkan tidak selarasnya pandangan antara Kementerian Luar Negeri dengan focal point Kementerian atau Lembaga RI. Hal tersebut kemudian menyebabkan upaya penggalangan dukungan menjadi tidak efektif. Selain itu, notifikasi akan majunya Indonesia dalam beberapa pemilihan diinformasikan pada waktu yang sangat dekat dengan hari pemilihan. Hal tersebut menyebabkan pula kurang efektifnya penggalangan dukungan, walaupun Kementerian Luar Negeri dan Perwakilan RI di luar negeri telah mengupayakan kampanye seoptimal mungkin.
Analisis Komponen 4 IKU-2 SS-2: Jumlah Implementasi Kesepakatan Multilateral pada Tingkat Nasional
Komponen 4 IKU-2 SS-2 Target Capaian Informasi Kinerja Jumlah Data Dukung
Jumlah implementasi
kesepakatan multilateral pada tingkat nasional 145 91,03% Jumlah Implementasi Kesepakatan Multilateral pada tingkat nasional yang dilaksanakan 137 Laporan Delri, resolusi, keputusan Presidensial/ Chairman statement,dll Grafik Pencalonan dari Tahun ke Tahun
Kementerian Luar Negeri, Jalan Taman Pejambon No. 6, Jakarta Pusat 62 0 5 10 15 20 pencalonan 2010 2011 2012 2013
63 Sepanjang tahun 2013, dalam hal capaian Komponen 4 IKU-2 SS-2, Kementerian Luar Negeri mencatat bahwa dari target sebanyak 145 kesepakatan multilateral yang diimplementasikan pada tingkat nasional, realisasinya 137 kesepakatan yang benar-benar diimplementasikan sehingga capaian kinerjanya 91,03%. Kinerja tersebut dilakukan melalui sosialisasi ke masyarakat luas mengenai kesepakatan multilateral tertentu, penerbitan buku, hingga keikutsertaan dalam implementasi kesepakatan multilateral.
Kendala utama yang muncul dalam pencapaian kinerja tersebut diantaranya kesulitan pengaturan waktu dengan pejabat di Kementerian lain. Hal ini berakibat pada minimnya tingkat kehadiran dan menyebabkan pertemuan menjadi tidak efektif. Selain itu, terbenturnya waktu kegiatan dengan kegiatan lain yang muncul sebagai hasil dari komitmen baru yang dibuat setelah perumusan rencana kegiatan tahunan, serta permasalahan komitmen pemangku kepentingan terkait dengan implementasi kesepakatan yang telah ditetapkan. Untuk mengatasi kendala-kendala dimaksud, Kementerian Luar Negeri telah melakukan koordinasi dengan Kementerian/Lembaga terkait dengan cara memperluas jaringan dan meningkatkan intensitas komunikasi.
64
Kementerian Luar Negeri, Jalan Taman Pejambon No. 6, Jakarta Pusat 64