Good governance menjadi kata kunci dan standar penilaian praktik
politik yang dianggap baik dan ideal dalam penyelenggaraan pemerintahan dan non-pemerintahan termasuk kegiatan ekonomi dalam satu dekade terakhir. Dalam perspektif politik, dengan tidak adanya good governance dipandang sebagai sumber ketidakstabilan yang memunculkan konflik-konflik serta kekacauan internal yang terjadi di berbagai negara di dunia. Gerakan-gerakan demokratisasi di dunia saat ini, dipandang bukan jaminan bagi lahirnya sebuah masyarakat dan pemerintahan yang akan lebih baik dan lebih stabil, jika demokratisasi tidak menghasilkan atau tidak disertai dengan praktik-praktik good governance.
Apakah good governance itu? Governance secara umum berarti proses
pengambilan keputusan dan proses pelaksanaan keputusan-keputusan yang telah diambil. Dengan demikian good governance dapat diartikan sebagai
sebuah proses pengambilan keputusan dan cara pelaksanaan keputusan yang dilakukan dengan baik. Dalam konteks politik masa kini, pengambilan keputusan tersebut telah dilakukan secara demokratis dengan jujur dan adil dan keputusan-keputusan dilaksanakan tanpa hambatan, sehingga hasilnya sesuai dengan rencana atau target yang ingin dicapai. Dengan demikian dilihat dari artinya, maka yang penting dalam good governance adalah bagaimana proses pengambilan atau pelaksanaan keputusan tersebut berlangsung.
Konsep good governance dapat diterapkan baik pada institusi pemerintah maupun pada lembaga non-pemerintah. Pada lembaga non pemerintah, konsep good governance dapat diterapkan pada korporasi-korporasi atau perusahaan-perusahaan yang bergiat dalam bidang ekonomi; termasuk organisasi-organisasi masyarakat seperti organisasi atas inisiatif warga, dan lain-lain. Pada lembaga pemerintah, konsep good governance dapat diterapkan pada tingkat internasional (misalnya pada birokrasi Uni Eropa, atau Perserikatan Bangsa-Bangsa), pada tingkat nasional (misalnya pada birokrasi di departemen dalam negeri, departemen pertanian, dan seterusnya), pada tingkat pemerintahan daerah (misalnya pada birokrasi di tingkat propinsi, kabupaten dan seterusnya). Namun demikian, pemerintah
hanyalah salah satu dari berbagai macam aktor yang berperan dalam melakukan governance. Oleh sebab itu, pengambilan keputusan dapat dilakukan oleh aktor-aktor yang ada baik di dalam pemerintahan maupun di luar pemerintahan atau oleh struktur yang formal maupun informal dalam sebuah sistem.
Dalam analisis sistem politik, konsep good governance dipakai untuk melihat keterlibatan berbagai pihak dalam pembuatan dan pelaksanaan keputusan. Apakah aktor-aktor, baik itu struktur-struktur (formal ataupun informal) maupun individu-individu, telah melaksanakan tugasnya sesuai dengan aturan yang ada, dan hasilnya sesuai dengan yang telah diperhitungkan. Sebagai contoh misalnya, jika Undang-Undang Anti Monopoli disusun hanya oleh perusahaan yang memegang monopoli dalam bidang telekomunikasi dan informasi, dan bukan oleh lembaga DPR atau tanpa melibatkan unsur-unsur lain seperti lembaga konsumen, kelompok pemerhati masalah teknologi dan informasi, atau kelompok pemerhati masalah monopoli, dan lain-lain, maka dapat dipastikan bahwa undang-undang yang dihasilkan menjadi pro-perusahaan yang melakukan monopoli tersebut. Dan kemungkinan hasilnya, UU Anti Monopoli tidak dapat mengontrol praktik monopoli telekomunikasi dan informasi. Praktik pengambilan keputusan oleh struktur informal yang demikian ini, bertentangan dengan prinsip good governance, karena mungkin dihasilkan lewat praktik yang korup atau kolusi antara pihak-pihak yang berkepentingan dengan hasil pembuatan undang-undang tersebut.
Ada delapan karakteristik good governance dalam konteks politik atau dalam penyelenggaraan kehidupan politik. Pemerintahan yang memenuhi persyaratan good governance adalah pemerintahan yang memperhatikan kedelapan ciri dalam penyelenggaraan pemerintahan yang baik, yaitu : 1. Partisipasi (participation)
2. Peraturan Hukum (Rule of Law) 3. Transparansi (Transparancy) 4. Tanggap (Responsiveness)
5. Berorientasi konsensus (Concensus oriented) 6. Berkeadilan dan inklusif (Equity and inclusiveness) 7. Efektif dan efisien (Effectivity and efficiency) 8. Akuntabel (Accountability)
Saat ini kebaikan dan keberhasilan sebuah pemerintahan atau sistem politik akan dinilai berdasarkan standar ’good governance’. Ini artinya kedelapan ciri tersebut di atas akan diterapkan untuk melihat apakah sebuah pemerintahan telah diselenggarakan dengan baik atau tidak. Di negara-negara di mana ciri-ciri tersebut tidak ditemukan maka pemerintahan yang bersangkutan dikategorikan sebagai tidak melaksanakan good governance. Tidak cuma itu, negara-negara yang hendak mendapatkan bantuan dari lembaga-lembaga internasional termasuk dari Perserikatan Bangsa-Bangsa mensyaratkan dikembangkannya praktek-praktek ’good governance’ tersebut dalam negara. Budaya politik yang baik saat ini, harus pula menunjukkan kehadiran kedelapan ciri tersebut dalam perpolitikan dan penyelenggaraan pemerintahannya.
Good governance dalam masyarakat sipil juga harus dapat dilaksanakan.
Tuntutan untuk mempraktikkan good governance dalam masyarakat kewargaan atau civil society sama besarnya dengan tuntutan terhadap institusi pemerintahan atau pada struktur formal. Organisasi atau kelompok kemasyarakatan misalnya organisasi mahasiswa, organisasi non-pemerintah, organisasi pemuda mesjid atau gereja, organisasi perempuan, organisasi masyarakat adat, dan sebagainya diharapkan memainkan pula peran mereka sesuai dengan aturan main yang merefleksikan kedelapan ciri good
governance tersebut di atas. Sebagai contoh misalnya, organisasi Nadhatul
Ulama (NU) harus pula memungkinkan terjadinya partisipasi dari para pengikutnya dalam memilih ketua, menaati peraturan yang berlaku dan mempunyai peraturan hukum yang berlaku, serta menerapkan prinsip transparansi baik dalam urusan keuangan organisasi maupun dalam penggunaannya. Para pimpinan NU harus tanggap atas berbagai persoalan yang terjadi dalam partai atau di dalam masyarakat; melibatkan sebanyak mungkin anggota, bersifat terbuka untuk semua kelompok yang berkepentingan. Selain itu organisai ini juga harus bersifat efektif dan efisien serta harus akuntabel.
Isu penyelenggaraan yang baik atau good governance juga menjadi perhatian penting dalam kegiatan ekonomi. Dan khususnya pada sektor ekonomi, penyelenggaraan kegiatan yang bersih, transparan, dan bertanggung jawab serta akuntabel sangat dihargai. Bahkan dapat dikatakan dari kegiatan ekonomi inilah pertama-tama isu penyelenggaraan yang baik bermula sebab penyelenggaraan kegiatan ekonomi yang tidak baik dapat membawa kerugian yang besar. Penyelenggaraan yang tidak baik dapat disebabkan oleh berbagai
sebab di antaranya adalah penempatan orang yang tidak kapabel dan praktik korupsi. Khususnya mengenai praktik korupsi banyak disoroti di negara-negara yang sedang berkembang. Dalam salah satu laporan Bank Dunia di akhir tahun 1990-an dikatakan bahwa kurang lebih 30 persen bantuan ekonomi yang diberikan kepada Indonesia di masa Orde Baru menguap dan tidak jelas penggunaannya; di antara sejumlah penggunaannya adalah untuk membayar para pejabat baik di tingkat nasional ataupun daerah untuk melicinkan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan. Tuntutan good
governance diharapkan dapat menghapuskan atau mengurangi praktik
penyelenggaraan ekonomi yang merugikan seperti itu. Kini sudah umum badan-badan internasional mensyaratkan dilaksanakannya good governance dalam berbagai bantuan yang mereka berikan untuk negara-negara berkembang.
1) Jelaskan dan diskusikan pengaruh perubahan yang terjadi dalam perpolitikan di dunia terhadap gagasan kewarganegaraan. Apa saja yang terjadi dalam politik di dunia dan dampaknya!
2) Jelaskan mengapa konsep kewarganegaraan yang dikembangkan oleh T.H. Marshall dipandang lebih luas daripada konsep-konsep kewarganegaraan yang pernah ada sebelumnya.
3) Jelaskan perbedaan antara tradisi kewarganegaraan liberal dan tradisi republikan dilihat dari hak-hak dan kewajiban warga negara terhadap negara dan antar warga negara?
4) Jelaskan arti good governance. Apa yang dianggap penting dalam konsep tersebut dan di mana konsep tersebut relevan untuk diterapkan? 5) Apa konsekuensinya jika pada organisasi-organisasi kemasyarakatan
dikenai tuntutan untuk melaksanakan praktik good governance? Kaitkan dengan ciri-ciri good governance!
L A T I H A N
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!
Petunjuk Jawaban Latihan
1) Akhir Perang Dunia II dan pembangunan kembali Eropa menjadi latar belakang munculnya gagasan tentang kewarganegaraan Marshallian. Perubahan yang terjadi pada dekade akhir 1900-an khususnya dengan runtuhnya kekuasaan Uni Soviet dan transformasi politik di negara-negara komunis Eropa Timur, memunculkan kesadaran baru akan pentingnya mengangkat kembali soal kewarganegaraan dan pentingnya berbagai unsur dalam negara untuk saling bekerja sama membangun kembali tatanan kehidupan bersama yang lebih baik. Selain itu beberapa fenomena yang perlu diperhatikan antara lain meningkatnya ideologi kanan baru (konservatif) dan peningkatan migrasi baik secara sukarela atau karena terpaksa (pengungsi).
2) Definisi kewarganegaraan sebelum Marshall umumnya bermakna status atau keanggotaan. Konsep Marshall bermakna lebih dari itu, konsep tersebut juga bermakna persamaan yang terwujud dalam hak dan kewajiban. Dimensi yang terkandung dalam definisi Marshall antara lain aturan hukum dan hubungan sosial. Konsep dan definisi terbaru lebih luas lagi dari konsep Marshall karena memasukkan dimensi kesempatan untuk berpartisipasi, hak-hak universal sebagai anggota sebuah negara
3) Perbedaan kewarganegaraan Marshallian dan republikan antara lain dapat dilihat berdasarkan isu hak dan kewajiban baik dari warga negara terhadap negara, dan sebaliknya dari negara terhadap warga negara, serta hubungan di antara keduanya dan di antara sesama warga negara di dalam masyarakat.
4) Secara umum good governance berarti proses pengambilan keputusan dan proses pelaksanaan keputusan-keputusan tersebut. Dalam sistem yang demokratis maka proses ini harus mengikuti kaedah-kaedah dan prinsip-prinsip yang demokratis. Yang penting diperhatikan dalam pemahaman good governance ini adalah ‘proses’, baik dalam pengambilan maupun pelaksanaan keputusan. Dalam artian demikian maka konsep good governance dapat diterapkan baik pada
lembaga-lembaga pemerintah maupun nonpemerintah (masyarakat) baik sosial, ekonomi, politik maupun budaya..
5) Konsekuensi bagi organisasi kemasyarakatan (juga bagi organisasi pemerintahan) jika mereka dituntut untuk mempraktekkan good
governance, organisasi-organisasi kemasyarakatan harus dapat memainkan peran mereka sesuai dengan aturan permainan yang merefleksikan ciri-ciri good governance sebagaimana tercantum dalam materi kegiatan belajar tentang tema ini
Perhatian pada isu kewarganegaraan dan good governance meningkat pesat setelah terjadinya perubahan-perubahan perpolitikan di dunia. Perhatian pada kelompok-kelompok dan meningkatnya isu hak-hak kelompok telah mendorong sejumlah ilmuwan untuk mengangkat soal kewarganegaraan. Sementara itu isu good governance tidak dapat diabaikan dalam pemerintahan di negara-negara yang sedang mengalami proses demokratisasi. Jika isu kewarganegaraan melihat hubungan antara warga negara dengan negara, tapi dengan penekanan pada individu warga negara; maka isu good governance terkait dengan perilaku kelompok, organisasi, lembaga, yang dapat diterima di dalam sistem yang lebih terbuka dan demokratis. Kedua bidang ini tidak dapat ditinggalkan jika kita mempelajari nilai, norma, atau sikap dan perilaku politik yang dapat diterima di dalam sistem yang demokratis.
1) Meningkatnya perhatian pada isu kewarganegaraan disebabkan karena berbagai faktor, yang tidak termasuk dalam faktor-faktor tersebut di antara jawaban di bawah ini adalah….
A. runtuhnya kekuasaan rezim komunis di Eropa Timur dan Uni Soviet B. meningkatnya ideologi kanan baru di negara-negara Eropa Barat
dan Amerika Serikat
C. penyerbuan Amerika Serikat ke Afganistan dan Iraq
D. peningkatan migrasi antara negara termasuk pengungsi ke negara-negara yang lebih aman dan lebih baik secara ekonomi
T E S F O R M A T I F 2
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat! R A N G K U M A N
2) Definisi kewarganegaraan Marshall mempunyai beberapa makna lebih dari sekedar status seseorang dalam negara. Yang tidak termasuk dalam definisi tersebut adalah ….
A. hak-hak dan kewajiban B. aturan hukum
C. persamaan D. keanggotaan
3) Definisi Marshall tentang kewarganegaraan khususnya yang mengatur hubungan antara individu serta hak dan kewajiban negara dan warganegaranya, merupakan bagian dari dimensi ….
A. kesempatan yang sama untuk berpotensi B. pengaturan masyarakat
C. hubungan sosial D. aturan hukum
4) Isu-isu utama kewarganegaraan adalah sebagai yang tercantum di bawah ini, kecuali satu yaitu ….
A. keanggotaan dalam sebuah komunitas B. hubungan antara individu dan negara
C. hubungan antara satu negara dengan negara lain D. status, hak-hak atau praktik kebaikan bersama
5) Teori kewarganegaraan Marshall dikembangkan berdasarkan satu pemikiran dasar yang menyatakan ….
A. ketidakadilan secara ekonomi dapat dihapuskan
B. ketidaksamaan kelas akan dapat diterima jika ada kesamaan kewarganegaraan
C. kemiskinan dan perbedaan kelas dapat dihilangkan secara bertahap D. kemiskinan dan perbedaan kelas tidak menjadi penghalang integrasi
dalam masyarakat
6) Tradisi kewarganegaraan liberal menekankan ….
A. kewajiban warga negara terhadap negara dan warga negara lain B. kewajiban warga negara untuk berpartisipasi dalam masyarakat C. hak-hak terbatas dengan kewajiban tidak terbatas terhadap negara,
masyarakat, dan sesama warga negara D. hak-hak dan kewajiban terbatas pada negara
7) Tradisi kewarganegaraan republikan dibentuk dari banyak pemikiran tokoh-tokoh sejak masa Yunani Kuno. Sumbangan Aristoteles terhadap teori tentang kewarganegaraan adalah ….
A. mengutamakan pelayanan publik, tidak menginginkan kekayaan untuk diri sendiri, bertingkah laku sesuai norma yang berlaku akan menguntungkan negara dan warganegara sendiri
B. kemampuan berpikir secara rasional dan berbicara seseorang, harus digunakan demi kebajikan
C. setiap orang memberikan bagi komunitas dirinya dan kemampuannya di bawah bimbingan general will.
D. Virtue akan menyelamatkan dan melanggengkan negara; virtue
didapat lewat pendidikan
8) Pandangan yang mengatakan bahwa ’kebebasan individu didapat dalam republik dan republik dapat terus eksis dengan dukungan warganegara’ dikemukakan oleh ….
A. Machiavelli B. Cicero C. Rousseau D. Marshall
9) ’Good governance’ atau penyelenggaraan yang baik berkenaan dengan pengambilan atau pelaksanaan keputusan menekankan unsur ….
A. input
B. proses C. hasil
D. pelaksanaan hasil
10) Konsep ’good governance’ dapat diterapkan untuk melihat lembaga-lembaga yang tersebut di bawah ini, kecuali satu, yaitu ….
A. birokrasi pemerintahan seperti departemen pendidikan B. badan-badan internasional seperti UNICEF, World Bank C. organisasi kemasyarakatan seperti NU, Lembaga Konsumen D. individu-individu.
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 2.
Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali 80 - 89% = baik 70 - 79% = cukup < 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan Kegiatan Belajar 3. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang belum dikuasai.
Tingkat penguasaan = Jumlah Jawaban yang Benar 100%