• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan-hubungan internasional yang diadakan antar negara, negara dengan individu atau negara dengan organisasi internasional tidak selamanya terjalin dengan baik. Seringkali hubungan tersebut menimbulkan sengketa. Sengketa dapat bermula dari berbagai sumber potensi sengketa. Sumber potensi sengketa antar negara dapat disebabkan karena alasan politik, strategi militer, ekonomi maupun ideologi atau perpaduan antara kepentingan-kepentingan tersebut.111

Dalam menyelesaikan serngketa internasional dapat ditempuh dengan 2 cara yaitu, penyelesaian sengketa secara damai dan penyelesaian sengketa secara kekerasan atau dipaksakan. Penyelesaian secara damai dapat dibedakan lagi menjadi penyelesaian diluar pengadilan dan penyelesaian melalui pengadilan.

Pada pokoknya hukum internasional menghendaki agar sengketa-sengketa antar negara dapat diselesaikan secara damai.112 Berbagai metode penyelesaian sengketa telah berkembang sesuai dengan tuntutan jaman. Metode penyelesaian sengketa dengan kekerasan, misalnya perang, invasi, dan lainnya,

      

 111  Huala Adolf, Hukum Penyelesaian Sengketa Internasional, (Bandung; Sinar

Grafika, 2004), hlm. 1.

112 Peran Hukum Internasional Dalam Menjaga Perdamaian DuniaBerikut ini ada beberapa

contoh mengenai perananhukum internasional (berdasarkan sumber-sumbernya)dalam menjaga perdamaian dunia :1. Perjanjian pemanfaatan Benua Antartika secara damai (Antartika Treaty) pada tahun 1959.2. Perjanjian pemanfaatan nuklir untuk kepentingan perdamaian (Non-Proliferation Treaty) tahun 1968.3. Perjanjian damai Dayton (Ohio- AS) tahun 1995 yang mengharuskan pihak Serbia, Muslim Bosnia, dan Kroasia untuk mematuhinya. Untuk itu, NATO menempatkan pasukannya guna meneggakkan hukum internasional yang telah disepakati.

telah menjadi solusi bagi negara sebagai aktor utama dalam hukum internasional klasik.113 Cara-cara yang digunakan tersebut akhirnya tidak digunakan lagi semenjak lahirnya The Hague Peace Conference114. Namun karena sifatnya yang rekomendatif dan tidak mengikat, konvensi tersebut tidak mempunyai kekuatan memaksa untuk melarang negara-negara melakukan kekerasan sebagai metode penyelesaian sengketa.

Pada umumnya hukum internasional membedakan sengketa internasional atas sengketa yang bersifat politik dan sengketa yang bersifat hukum. Sengketa politik adalah sengketa dimana suatu negara mendasarkan tuntutannya atas pertimbangan non yuridis, misalnya atas dasar politik atau kepentingan nasional lainnya,115 sedangkan sengketa hukum ialah sengketa dimana suatu negara mendasarkan sengketa atau tuntutannya atas ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam suatu perjanjian atau yang telah diakui oleh hukum internasional.116

Perbedaan antara penyelesaian secara diplomatik atau politik dan secara hukum terletak pada pengawasan para pihak terhadap prosedur dan hasil dari penyelesainnya, penyelesaian secara hukum diulakukan manakala para pihak

      

113 Huala Adolf, Op.Cit, hlm 1

114 Pengaturan secara damai dalam menyelesaikan sengketa pertama kali lahir sejak

diselenggarakannya The Hague Peace Conference ( Konfrensi Perdamaian Den Haag) tahun 1899

dan 1907. Konvensi ini menhasilkan “The Convention on the Pacific Settlement of International

Disputes” tahun 1907. Memuat suatu mekanisme dan aturan pembentukan komisi konsiliasi.

Badan seperti ini hanya bisa dibentuk dengan persetujuan bersama-sama para pihak. Pada umumnya, badan ini diberi mandat untuk mencari dan melaporkan fakta-fakta yang ada di sekitar pokok sengketa.

115 Sengketa bersifat politik biasa juga disebut dengan sengketa penyelesaian secara diplomatik.

Mekanisme penyelesaian sengketa dengan memeberikan tuntutannya atas pertimbangan non yuridis, dilakukan dengan diplomatis.

116 Boer Mauna, Hukum Internasional Pengertian Peranan Dan Fungsi Dalam Era Dinamika

sudah melepaskan pengawasannya terhadap (beberapa) prosedur (hukum acara) penyelesainnya. Sebaliknya secara diplomatik manakala para pihak menghendaki persetujuannya mengenai syarat-syarat atau peraturan-peraturan penyelesaian sengketanya. Selain itu, manakala pihak-pihak menyerahkannya kepada penyelesaian secara diplomatis, penyelesainya secara sepihak dapat dibatalkan oleh masing-masing pihak. Hal ini disebabkan karena pada hakekatnya persyaratan-persyaratan penyelesainnya melalui cara ini harus disepakati oleh para pihak dan tidak dapat begitu saja mengikat tanpa kesepakatan mereka.117

Dalam perjanjian internasional, Piagam PBB mengakui wewenang dan peran organisasi regional dalam menyelesaikan sengketa yang timbul di antara negara anggotanya. Pasal 33 ayat (1) Piagam PBB ini menjadi dasar hukum pengakuan PBB terhadap penyelesaian sengketa organisasi regional

.

Penyelesaian sengketa secara diplomatik sesuai dengan Piagam PBB tersebut adalah negosiasi; enquiry atau penyelidikan; mediasi; konsiliasi; dan jasa-jasa baik (good offices). Kelima metode tersebut memiliki ciri khas, kelebihan, dan kekurangan masing-masing.

a)Negosiasi

Negosiasi merupakan cara penyelesaian sengketa secara damai yang cukup lama dipakai. Sampai pada permulaan abad ke-20, negosiasi menjadi satu-satunya cara yang dipakai dalam penyelesaian sengketa.118

      

117 Huala Adolf, Hukum Ekonomi Internasional, ( Jakarta; PT. Raja Grafindo Persada, cetakan

ke-3, 2003), hlm 247.

118 Cara penyelesaian melalui negosiasi biasanya adalah cara yang pertama kali ditempuh oleh

para pihak yang bersengketa. Penyelesaian sengketa ini dilakukan secara langsung oleh para pihak yang bersengketa melalui dialog tanpa ada keikutsertaan dari pihak ketiga.

Negosiasi merupakan suatu teknik penyelesaian sengketa yang paling tradisional dan paling sederhana. Dalam teknik penyelesaian sengketa tidak melibatkan pihak ketiga. Pada dasarnya negosiasi hanya berpusat pada diskusi yang dilakukan oleh pihak-pihak yang terkait. Perbedaan persepsi yang telah dimiliki oleh keduabelah pihak akan diperoleh jalan keluar dan menyebabkan pemahaman atas inti persoalan menjadi lebih mudah untuk dipecahkan. Bilamana jalan keluar ditemukan oleh pihak-pihak, maka akan berlanjut pada pemberian konsesi dari tiap pihak kepada pihak lawan.119

Negosiasi atau perundingan merupakan suatu pertukaran-pertukaran pendapat atau usul-usul antar pihak yang bersengketa untuk mencari kemungkinan tercapainya penyelesaian sengketa secara damai, sedangkan pokok perundingan biasanya merupakan apa yang menjadi pokok dari sengketa internasional yang telah melibatkan pihak-pihak perundingan. Negosiasi merupakan suatu proses yang di dalamnya secara eksplisit diajukan usul secara nyata untuk tercapainya suatu persetujuan.120

Dalam pelaksanaannya, negosiasi memiliki dua bentuk utama, yaitu bilateral dan multilateral. Negosiasi dapat dilangsungkan melalui saluran diplomatik pada konferensi internasional atau dalam suatu lembaga atau organisasi internasional. Dalam praktek negosiasi, ada dua bentuk prosedur yang dibedakan, pertama adalah negosiasi ketika sengketa belum muncul, lebih dikenal dengan konsultasi, dan yang kedua adalah negosiasi ketika sengketa telah lahir.       

119 Jawahir Thontowi dan Pranoto Iskandar, Hukum Internasional Kontemporer, (Bandung;

Refika Aditama, 2006), hlm 226.

120 Mirza Satria Buana, Hukum Internasional Teori dan Praktek, (Kalimantan Selatan;

Keuntungan yang diperoleh ketika negara yang bersengketa menggunakan mekanisme negosiasi, antara lain:

a. Para pihak memiliki kebebasan untuk menentukan penyelesaian sesuai dengan kesepakatan diantara mereka.

b. Para pihak mengawasi dan memantau secara langsung prosedur penyelesaiannya.

c. Dapat menghindari perhatian publik dan tekanan politik dalam negeri.

d. Para pihak mencari penyelesaian yang bersifat win-win solution, sehingga dapat diterima dan memuaskan kedua belah pihak.

Sedangkan, kelemahan utama penggunaan cara negosiasi di dalam penyelesaian sengketa adalah, pertama, manakala kedudukan dari para pihak tidak seimbang, salah satu pihak kuat sedang pihak yang lain lemah. Dalam keadaan ini, pihak yang kuat berada dalam posisi untuk menekan pihak lainnya. Hal ini acapkali terjadi manakala dua pihak bernegosiasi untuk menyelesaikan sengketa di antara mereka. Kedua, bahwa proses berlangsungnya suatu negosiasi acapkali lambat dan memakan waktu lama. Hal ini terutama dikarenakan suatu permasalahan antarnegara yang timbul. Selain itu juga, jarang sekali adanya persyaratan penetapan batas waktu bagi para pihak untuk menyelesaikan sengketanya melalui negosiasi. Ketiga, manakala salahsatu pihak terlalu keras dengan pendiriannya, keadaan ini dapat mengakibatkan proses negosiasi menjadi tidak produktif.

b) Enquiry121

      

121 Menurut J.G. Starke, tujuan dari penyelidikan, tanpa membuat rekomendasi-rekomendasi

yang spesifik untuk menetapkan fakta yang mungkin diselesaikan dengan cara memperlancar suatu penyelesaian yang dirundingkan.

Enquiry atau penyelidikan J.G.Merrills menyatakan bahwa salah satu penyebab munculnya sengketa antar negara adalah karena adanya ketidaksepakatan para pihak mengenai fakta. Untuk menyelesaikan sengketa ini, akan bergantung pada penguraian fakta-fakta para pihak yang tidak disepakati. Untuk menyelesaikan sengketa tersebut, para pihak kemudian membentuk sebuah badan yang bertugas untuk menyelidiki fakta-fakta yang terjadi di lapangan. Fakta-fakta yang ditemukan ini kemudian dilaporakan kepada para pihak, sehingga para pihak dapat menyelesaikan sengketa diantara mereka.

Dalam beberapa kasus, badan yang bertugas untuk menyelidiki fakta-fakta dalam sengketa internasional dibuat oleh PBB.122 Namun dalam konteks ini,

enquiry yang dimaksud adalah sebuah badan yang dibentuk oleh negara yang

bersengketa. Enquiry telah dikenal sebagai salah satu cara untuk menyelesaikan sengketa internasional semenjak lahirnya The Hague Convention pada tahun 1899, yang kemudian diteruskan pada tahun 1907.

c)Mediasi

Ketika negara-negara yang menjadi para pihak dalam suatu sengketa internasional tidak dapat menemukan pemecahan masalahnya melalui negosiasi, intervensi yang dilakukan oleh pihak ketiga adalah sebuah cara yang mungkin untuk keluar dari jalan buntu perundingan yang telah terjadi dan memberikan solusi yang dapat diterima oleh kedua belah pihak. Pihak ketiga yang

      

122 Pada tanggal 18 Desember 1967, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluarkan

resolusi yang menyatakan pentingnya metode pencarian fakta (fact finding) yang tidak memihak

sebagai cara penyelesaian damai dan meminta negara-negara anggota untuk lebih mengefektifkan metode-metode pencarian fakta. Serta meminta Sekertaris Jenderal untuk mempersiapkan suatu daftar para ahli yang jasanya dapat dimanfaatkan melalui perjanjian untuk pencarian fakta dalam hubungannya dengan suatu sengketa

melaksanakan mediasi ini tentu saja harus bersifat netral dan independen. Sehingga dapat memberikan saran yang tidak memihak salah satu negara pihak sengketa.

Intervensi yang dilakukan oleh pihak ketiga ini dapat dilakukan dalam beberapa bentuk. Misalnya, pihak ketiga memberikan saran kepada kedua belah pihak untuk melakukan negosiasi ulang, atau bisa saja pihak ketiga hanya menyediakan jalur komunikasi tambahan. Dalam menjalankan tugasnya, mediator tidak terikat pada suatu hukum acara tertentu dan tidak dibatasi pada hukum yang ada. Mediator dapat menggunakan asas ex aequo et bono123 untuk menyelesaikan sengketa yang ada.124

Gerald Cooke125 juga mengingatkan bahwa penyelesaian melalui mediasi ini tidaklah mengikat, artinya para pihak meski telah sepakat untuk menyelesaikan sengketanya melalui mediasi, namun mereka tidak wajib atau harus menyelesaikan sengketanya melalui mediasi. Ketika para pihak gagal menyelesaikan sengketanya melalui mediasi, mereka masih dapat menyerahkan ke forum yang mengikat, yaitu penyelesaian melalui hukum, yaitu dengan pengadilan atau arbitrase.

Berbagai faktor yang menjelaskan kegagalan untuk mencoba mediasi diantaranya. Pertama, kurangnya pengetahuan mereka tentang mediasi dan       

123 Asas ex aequo et bono adalah kebebasan para pihak untuk menentukan hukum ini termasuk

kebebasan untuk memilih kepatutan dan kelayakan.

124 Pelaksanaan mediasi dalam penyelesaian sengketa internasional diatur dalam beberapa

perjanjian internasional, antara lain The Hague Convention 1907; UN Charter; The European

Convention for the Peaceful Settlement of Disputes.

125 Gerald Cooke menggambarkan kelebihan mediasi ini sebagai berikut : “where mediation is

successfully used, it generally provides a quick, cheap and effective result. It is clearly appropriate, therefore to consider providing for mediation or other alternative dispute resolution techniques in the contractual dispute resolution clause”.

ketersediaan layanan mediasi. Kedua, fakta bahwa perusahaan cenderung untuk memberikan control sengketa mereka ke pengacara profesional yang memilih proses litigasi, dan ketiga, keyakinan bahwa mediasi hanyalah mengulur-ulur taktik untuk penundaan sehingga terhindar dari proses arbitrase, refleksi akan sebuah ketakutan kekalahan.

d)Konsiliasi126

Menurut J. G. Starke, istilah konsiliasi mempunyai suatu arti yang luas dan sempit. Dalam pengertian luas, konsiliasi mencakup berbagai ragam metode dimana suatu sengketa diselesaikan secara damai dengan bantuan negara-negara lain atau badanbadan penyelidik dan komite-komite penasihat yang tidak berpihak. Dalam pengertian sempit, konsiliasi berarti penyerahan suatu sengketa kepada sebuah komisi atau komite untuk membuat laporan beserta usulan-usulan kepada para pihak bagi penyelesaian sengketa tersebut, usulan itu tidak memiliki sifat mengikat.

Sama seperti mediasi, penyelesaian sengketa melalui cara konsiliasi menggunakan intervensi pihak ketiga. Pihak ketiga yang melakukan intervensi ini biasanya adalah negara, namun bisa juga sebuah komisi yang dibentuk oleh para pihak. Komisi konsiliasi yang dibentuk oleh para pihak dapat saja terlembaga atau bersifat ad hoc, yang kemudian memberikan persyaratan penyelesaian yang diterima oleh para pihak. Namun keputusan yang diberikan oleh komisi konsiliasi ini tidak mengikat para pihak.

      

126 Menurut the Institute of International Law melalui the Regulations the Procedur of

International Conciliation yang diadopsinya pada tahun 1961 dalam Pasal 1 disebutkan sebagai suatu metode penyelesaian pertikaian bersifat internasional dalam suatu komisi yang dibentuk oleh pihak-pihak, baik sifatnya permanen atau sementara berkaitan dengan proses penyelesaian pertikaian

Pada prakteknya, proses penyelesaian sengketa melalui konsiliasi mempunyai kemiripan dengan mediasi. Pembedaan yang dapat diketahui dari kedua cara ini adalah konsiliasi memiliki hukum acara yang lebih formal jika dibandingkan dengan mediasi. Karena dalam konsiliasi ada beberapa tahap yang biasanya harus dilalui, yaitu penyerahan sengketa kepada komisi konsiliasi, kemudian komisi akan mendengarkan keterangan lisan para pihak, dan berdasarkan fakta-fakta yang diberikan oleh para pihak secara lisan tersebut komisi konsiliasi akan menyerahkan laporan kepada para pihak disertai dengan kesimpulan dan usulan penyelesaian sengketa.

e)Good Offices atau Jasa-jasa Baik

Jasa-jasa baik adalah cara penyelesaian sengketa melalui bantuan pihak ketiga. Pihak ketiga berupaya agar para pihak yang bersengketa menyelesaikan sengketanya dengan negosiasi.127 Pada pelaksanaan di lapangan, jasa baik dapat dibedakan dalam dua bentuk, yaitu jasa baik teknis (technical good offices), dan jasa baik politis (political good offices). Jasa baik teknis adalah jasa baik oleh negara atau organisasi internasional dengan cara mengundang para pihak yang bersengketa ikut serta dalam konferensi atau menyelenggarakan konferensi.

Tujuan dari jasa baik teknis ini adalah mengembalikan atau memelihara hubungan atau kontak langsung di antara para pihak yang bersengketa setelah hubungan diplomatik mereka terputus. Sedangkan jasa baik politis adalah jasa baik yang dilakukan oleh negara atau organisasi internasional yang berupaya       

127 Menurut pendapat Bindschedler, yang dikutip oleh Huala Adolf, jasa baik dapat

didefinisikan sebagai berikut: the involvement of one or more States or an international

menciptakan suatu perdamaian atau menghentikan suatu peperangan yang diikuti dengan diadakannya negosiasi atau suatu kompetensi.

Penyelesaian sengketa melalui jalur hukum atau judicial settlement

juga dapat menjadi pilihan bagi subyek hukum internasional yang bersengketa satu sama lain.128 Bagi sebagian pihak, bersengketa melalui jalur hukum seringkali menimbulkan kesulitan, baik dalam urusan birokrasi maupun besarnya biaya yang dikeluarkan. Namun yang menjadi keuntungan penyelesaian sengketa jalur hukum adalah kekuatan hukum yang mengikat antara masing-masing pihak yang bersengketa.

f)Arbitrase129

Umumnya sengketa-sengketa dagang kerap didahului dengan penyelesaian sengketa dengan cara negosiasi. Jika cara penyelesaian negosiasi gagal atau tidak berhasil, barulah ditempuh cara-cara lainnya seperti penyelesaian sengketa melalui pengadilan atau arbitrase. Arbitrasi adalah sebuah salah satu cara alternatif penyelesaian sengketa yang telah dikenal lama dalam hukum internasional. Dalam penyelesaian suatu kasus sengketa internasional, sengketa diajukan kepara para arbitrator yang dipilih secara bebas oleh pihak-pihak yang bersengketa.130

      

128 Sugeng F Istanto, Hukum Internasional,(Yogyakarta:Universitas Atma Jaya, 1998) hlm

94; Penyelesaian yudisial berarti suatu penyelesaian yang dihasilkan melalui suatu pengadilan yudisial internasional yang dibentuk sebagaimana mestinya dengan memperlakukan dari suatu kaidah-kaidah hukum. Dapat disamakan juga dengan suatu peradilan internasional.

129 Pembahasan mengenai arbitrase lihat lebih lanjut; Huala Adolf, Arbitrase Komersial

International, (Jakarta; Rajawali Pers, cet.2, 1994) 130

Menurut F. Sugeng Istanto, arbitrasi adalah suatu cara penyelesaian sengketa dengan mengajukan sengketa kepada orang-orang tertentu, yang dipilih secara bebas oleh pihak-pihak yang bersengketa untuk memutuskan sengketa itu tanpa harus memperhatikan ketentuan hukum secara ketat. Sedangkan menurut Konvensi Den Haag Pasal 37 Tahun 1907 memberikan definisi arbitrasi internasional bertujuan untuk menyelesai sengketa-sengketa internasional oleh hakim-hakim pilihan mereka dan atas dasar ketentuan-ketentuan hukum internasional. Dengan penyelesaian melalui jalur arbitrasi ini negara-negara harus melaksanakan keputusan dengan itikad baik.

Penyerahan sengketa, baik kepada pengadilan maupun ke arbitrase, kerap kali didasarkan pada suatu perjanjian di antara para pihak didasari secara sukarela kepada pihak ketiga tersebut. Langkah yang biasa ditempuh adalah dengan membuat suatu perjanjian atau memasukkan suatu klausul penyelesaian sengketa ke dalam kontrak atau perjanjian yang mereka buat, baik ke pengadilan atau ke badan arbitrase.

Dasar hukum bagi forum atau badan penyelesaian sengketa yang akan menangani sengketa adalah kesepakatan para pihak. Kesepakatan tersebut diletakkan baik pada waktu kontrak ditandatangani atau setelah sengketa timbul, di samping forum pengadilan atau badan arbitrase, para pihak dapat pula menyerahkan sengketanya kepada cara alternatif penyelesaian sengketa, yang lazim dikenal sebagai ADR (Alternative Dispute Resolution) atau APS (Alternatif Penyelesaian Sengketa ).131

Hukum internasional telah mengenal arbitrase sebagai alternatif penyelesaian sengketa, dan cara ini telah diterima oleh umum sebagai cara penyelesaian sengketa yang efektif dan adil. Para pihak yang ingin bersengketa dengan menggunakan metode arbitrase dapat menggunakan badan arbitrase yang telah terlembaga, atau badan arbitrase ad hoc. Meskipun dianggap sebagai penyelesaian sengketa internaisonal melalu jalur hukum, keputusan yang dihasilkan oleh badan arbitrase tidak dapat sepenuhnya dijamin akan mengikat

      

131 Arbitrase dipandang sebagai bagian integral dari penyelesaian sengketa yang diakui dalam

sistem hukum nasional suatu negara, misalnya, hukum nasional Indonesia, dalam Undang-Undang nomor 30 tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Sedangkan dalam

instrumen hukum internasional, termuat dalam Pasal 7 ayat (2) UNCITRAL Model Law on

International Commercial Arbitration 1985, atau pasal II Konvensi New York 1958. (ratifikasi Konvensi New York 1958 dengan Keppres Nomor 34 tahun 1981).

masing-masing pihak, meskipun sifat putusan arbitrase pada prinsipnya adalah final dan mengikat.

Pada saat ini, terdapat sebuah badan arbitrase internasional yang terlembaga, yaitu Permanent Court of Arbitration (PCA). Dalam menjalankan tugasnya sebagai jalur penyelesaian sengketa, PCA menggunakan UNCITRAL Arbitration Rules 1976.132

Adapun alasan utama mengapa badan arbitrase ini banyak dimanfaatkan untuk menyelesaikan sengketa adalah :

e. Kelebihan penyelesaian sengketa melalui arbitrase relatif lebih cepat dari pada proses berperkara melalui pengadilan. Dalam arbitrase tidak dikenal upaya banding, kasasi atau peninjauan kembali seperti yang kita kenal dalam sistem peradilan. Putusan arbitrase sifatnya final dan mengikat. Kecepatan penyelesaian ini sangat dibutuhkan oleh dunia usaha.

f. Keuntungan lainnya dari penyelesaian sengketa melalui arbitrase adalah sifat kerahasiannya, baik kerahasiaan mengenai persidangannya maupun kerahasiaan putusan arbitrasenya.

g. Dalam penyelesaian melalui arbitrase, para pihak memiliki kebebasan untuk memilih “hakimnya” (arbiter) yang menurut mereka netral dan ahli mengenai pokok sengketa yang mereka hadapi. Pemilihan arbiter sepenuhnya berada pada kesepakatan para phak. Biasanya arbiter yang dipilih adalah mereka yang tidak saja ahli, tetapi juga arbiter tidak selalu harus ahli hukum. Bisa saja

      

132 Peran arbitrase difasilitasi oleh adanya lembaga-lembaga arbitrase internasional

terkemuka. Badan-badan tersebut misalnya adalah the London Court of International Arbitration

(LCIA), the Court of Arbitration of the International Chamber of Commerce (ICC) dan the

seorang arbiter pimpinan perusahaan, insinyur, ahli asuransi, ahli perbankan dan lain-lain.

h. Keuntungan lainnya dari badan arbitrase ini adalah dimungkinkannya para arbiter untuk menerapkan sengketanya berdasarkan kelayakan dan kepatutan (apabila para pihak menghendakinya).

i. Dalam hal arbitrase internasional, putusan arbitrasenya relatif lebih dapat dilaksanakan di Negara lain dibandingkan apabila sengketa tersebut diselesaikan melalui misalnya pengadilan.

g) Pengadilan Internasional

Selain arbitrase, lembaga lain yang dapat ditempuh untuk menyelesaikan sengketa internasional melalui jalur hukum adalah pengadilan internasional. Pada saat ini ada beberapa pengadilan internasional dan pengadilan internasional regional yang hadir untuk menyelesaikan berbagai macam sengketa internasional. Misalnya International Court of Justice (ICJ)133, International Criminal Court, International Tribunal on the Law of the Sea, European Court for Human Rights, dan lainnya.

Kehadiran pengadilan internasional sesungguhnya telah dikenal sejak eksisnya Liga Bangsa-Bangsa, yaitu melalui Permanent Court of International

Justice (PCIJ). Namun seiring dengan bubarnya LBB pasca Perang Dunia II,

      

133 ICJ rnenyatakan yang dimaksud dengan sengketa hukurn adalah "a dispute of being

settle by the application of principle and rulesof international law”. Dalam prosedur

penyelesaian sengketa internasional melalui Mahkamah Internasional, dikenal dengan istilah Adjudication, yaitu suatu teknik hukum untuk menyelesaikan persengkataan internasional dengan menyerahkan putusan kepada lembaga peradilan. Adjudikasi berbeda dari arbitrase, karena adjudikasi mencakup proses kelembagaan yang dilakukan oleh lembaga peradilan tetap, sementara arbitrase dilakukan melalui prosedur ad hoc.

maka tugas dari PCIJ diteruskan oleh ICJ sejalan dengan peralihan dari LBB kepada PBB.

Penyelesaian sengketa juga diatur dalam Piagam PBB. Dalam praktek hubungan antar negara pada saat ini, PBB telah menjadi organisasi intergovernmental yang besar. Dengan keanggotaan sebanyak itu, UN Charter

telah dijadikan sebagai rujukan utama oleh banyak negara untuk menyelesaikan sengketa dengan damai. Pencantuman penyelesaian sengketa secara damai di dalam Piagam, memang mutlak diperlukan. Selain karena PBB bertujuan untuk