BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI PENYELESAIAN
2.1.2 Penyelesaian Sengketa Konsumen Melalui Peradilan Umum
Dalam UU No 8 Tahun 1999 memberikan 2 alternatif penyelesaian sengketa dalam menyelesaikan sengketa antara konsumen dengan pelaku usaha yang dimana ketentuan itu terdapat didalam pasal 45 ayat (2) penyelesaian sengketa konsumen dapat ditempuh melalui pengadilan atau diluar pengadilan berdasarkan pilihan sukarela para pihak yang bersengketa.
a. Penyelesaian sengketa konsumen diluar pengadilan berpedoman pada pasal 47 yang menentukan penyelesaian sengketa konsumen diluar pengadilan diselenggarakan untuk mencapai kesepakatan mengenai bentuk dan besarnya ganti rugi dan/atau mengenai tindakan tertentu untuk menjamin tidak ada terjadi kembali atau tidak akan terulang kembali kerugian yang diderita oleh konsumen18. Penyelesaian sengketa diluar pengadilan yang sering juga disebut nonlitigasi yang artinya penyelesaian sengketa diluar pengadilan yang didasarkan kepada hukum, dan penyelesaian tersebut dapat digolongkan kepada penyelesaian yang berkualitas tinggi, karena sengketa yang diselesaikan secara demikian akan dapat selesai tuntas tanpa meninggalkan sisa kebencian dan dendam19. Cara penyelesaian sengketa ini dapat memberi kesempatan yang lebih luas kepada masyarakat untuk menentukan pilihan terbaiknya, karena karena tidak harus melalui jalur litigasi. Metode ini sebenarnya sudah lama mengakar di dalam masyarakat asli Indonesia dan sangat sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Cara penyelesaian sengketa melalui
“musyawarah mufakat’ merupakan suatu metode yang sudah lama dikenal oleh masyarakat asli Indonesia, meskipun dengan istilah yang berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya.20 Dalam hal ini Penyelesaian sengketa konsumen dapat juga melalui cara penyelesain
18 M Sadar, MOH Taufik Makarao, dan Habloel Mawadi , 2012, Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia, Akademia, Jakarta, h. 172.
19 I Wayan Wiryawan dan I Ketut Artadi, 2009, Penyelesaian Sengketa Diluar Pengadilan, Udayana Universty Pers, Denpasar-Bali, h 4
20 I Made Widnyana, 2007, Alternatif Penyelesaian Sengketa (ADR), Indonesia Buisness Law Center (IBLC), Jakarta, h. 71
sengketa diluar pengadilan yang dapat ditempuh melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK), BPSK adalah pengadilan khusus konsumen (small claim court) yang sangat diharapkan dapat menjawab tuntutan masyarakat agar proses berperkara berjalan cepat,sederhana dan murah21. supaya terciptanya asas manfaat, keadilan, keseimbangan, keamanan dan keselamatan konsumen, serta kepastian hukum dimana asas ini terdapat dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen.
b. Penyelesaian sengketa melalui pengadilan terdapat di pasal 48 Undang-Undang Perlindungan Konsumen yang menentukan penyelesaian sengketa konsumen melalui pengadilan mengacu pada ketentuan tentang peradilan umum yang berlaku dengan memperhatikan ketentuan dalam pasal 45.22 Gugatan melalui pengadilan hanya dapat ditemput jika penyelesaian sengeketa konsumen melalui cara diluar pengadilan tidak menemukan keberhasilan maka gugatan kepengadilan baru dapat dilakukan oleh para pihak yang bersengketa.
2.2 Mengenai Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen 2.2.1 Pengertian Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen
BPSK merupakan penyelesaian sengketa melalui diluar pengadilan (nonligasi) yang menggunakan mekanisme gugatan dilakukan dengan secara sukarela dari kedua belah pihak yang bersengketa. BPSK merupakan
21 Celina Tri Siwi Kristiyanti, op.cit, h 126
22 M Sadar, MOH Taufik Makarao, dan Habloel Mawadi, loc. Cit.
pengadilan khusus konsumen (small claim court) yang sangat diharapkan dapat menjawab tuntutan masyarakat agar proses berperkara berjalan cepat, sederhana dan murah23. Badan ini dibentuk disetiap daerah tingkat II untuk menyelesaikan sengketa konsumen diluar pengadilan pasal 49 ayat (1).
Anggota dari BPSK ini terdiri dari kalangan pemerintah, konsumen dan pelaku usaha, setiap kalangan tersebut terdiri dari tiga orang atau sebanyak lima orang yang kesemua kalangan itu diangkat dan diberhentikan oleh penjabat pemerintah yaitu Menteri perindustrian dan perdagangan.
2.2.2 Tugas dan Wewenang Badan penyelesaian Sengketa Konsumen.
Setiap melakukan sengketa mengenai konsumen wajib dilakukan oleh majelis yang dibentuk oleh ketua BPSK dan dibantu oleh panitera susunan angota majelis BPSK harus ganjil, dengan ketentuan minimal tiga orang yang mewakili semua kalangan sebagaimana ditentukan dalam pasal 54 ayat (2), yaitu kalangan pemerintah, konsumen dan pelaku usaha. Salah satu anggota majelis tersebut wajib berpendidikan dan berpengetahuan di bidang hukum (pasal 18 SK Kepmenrperindag No 350/MPP/Kep/12/2001) dan ketua majelis BPSK harus dari unsur pemerintah, walaupun tidak berpendidikan hukum.24
Mengenai tugas dan wewenang BPSK diatur dalam pasal 52 UU No 8 Tahun 1999 jo. Kepmenperindag No. 350/MPP/Kep/12/2001, tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen yaitu :
23 Celina Tri Siwi Kristiyanti, loc.cit.
24 Susanti Adi Nugroho, op. cit, h. 81
a. Melaksanakan penanganan dan penyelesaian sengketa konsumen, dengan cara melalui mediasi atau arbitrase atau konsiliasi;
b. Memberikan konsultasi perlindungan hukum;
c. Melakukan pengawasan terhadap pencatuman klasula baku;
d. Melaporkan kepada penyidik umum apabila terjadi pelanggaran ketentuan dalam undang – undang ini;
e. Menerima pengaduan baik tertulis maupun tidak tertulis dan konsumen tentang terjadinya pelanggaran terhadap perlindungan konsumen;
f. Melakukan penelitian dan pemeriksaan sengketa perlindungan konsumen;
g. Memanggil pelaku usaha yang diduga telah melakukan pelanggaran terhadap perlindungan konsumen;
h. Memanggil dan menghadirkan saksi, saksi ahli dan/atau setiap orang yang dianggap mengetahui pelanggaran terhadap undang-undang ini;
i. Meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan pelaku usaha, saksi, saksi ahli, atau setiap orang sebagaimana dimaksud pada huruf g dan huruf h, yang tidak bersedia memenuhi panggilan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen;
j. Mendapatkan, ,meneliti dan/atau menilai surat, dokumen, atau alat bukti lain guna penyelidikan dan/atau pemeriksaan;
k. Memutuskan dan menetapkan ada atau tidak adanya kerugian di pihak konsumen;
l. Memberitahukan putusan kepada pelaku usaha yang melakukan pelanggaran terhadap perlindungan konsumen;
m. Menjatuhkan sanksi administrasi kepada pelaku usaha yang mealnggar ketentuan undang-undang ini;
Jika dilihat dari tugas dan wewenag tersebut diatas, maka dengan demikian terdapat beberapa fungsi strategis dari BPSK yaitu:
a. BPSK berfungsi sebagai instrument hukum penyelesaian sengketa diluar pengadilan (alternative dispute resolution), yaitu melalui konsiliasi, mediasi dan arbitrase.
b. Melakukan pengawasan terhadap pencatuman klasula baku (one-sided standard form contract) Oleh pelaku usaha (pasal 52 butir c).
c. Salah satu fungsi strategis ini adalah untuk menciptakan keseimbangan kepentingan-kepentingan pelaku usaha dan konsumen. Jadi, tidak hanya klasula baku yang dikeluarkan oleh pelaku usaha atau badan usaha
perusahaan-perusahaan swasta saja, tetapi juga pelaku usaha atau perusahaan-perusahaan milik negara.
Dilihat dari ketentuan pasal 52 huruf b, c dan e dapat diketahui BPSK tidak hanya bertugas menyelesaikan sengketa di luar pengadilan sebagaiamana diatur dalam pasal 49 ayat (1), tetapi meliputi kegiatan berupa pemberian konsultasi, pengawasan terhadap pencatuman klasula baku, dan sebagai tempat pengaduan dari konsumen tentang adanya pelanggaran ketentuan perlindungan konsumen serta berbagai tugas dan wewenang lainnya yang terkait dengan pemeriksaan pelaku usaha yang diduga melanggar ketentuang Undang-Undang Perlindungan Konsumen.25
2.3 Pengadilan Umum
2.3.1 Pengertian Pengadilan Umum
Didalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2008 Tentang Peradilan Umum memberikan definisi tentang Pengadilan Umum yang disebut dengan Peradilan Umum yaitu salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan pada umumnya, terdapat pada pasal 2. Sedangkan menurut beberapa refrensi buku pengertian dari pengadilan umum adalah salah satu proses dalam sistem peradilan pidana yang tidak dapat berjalan tanpa adanya proses-proses lainnya yang mendahului, yaitu penyidikan dan penuntutan karena dalam tahap ini suatu perkara akan dinilai dari hasil yang dikumpulkan pada tahap penyidikan dan penuntutan, apakah perkara tersebut melanggar hukum atau tidak dan apakah pelaku perbuatan tersebut dapat dipertanggung
25 Ibid, h 84
jawabkan secara pidana. Dan juga, pada tahapan ini, masyarakat akan mendapatkan keadilan sebagai akibat dari adanya perbuatan yang telah mengakibatkan kerugian dalam masyarakat, baik kerugian fisik maupun mental.26
2.3.2 Tugas dan Wewenang Pengadilan Umum Dalam Hal Menyelesaikan Sengketa Konsumen
Tugas dan wewenang dari pengadilan umum memiliki tugas dan wewenang yang sama dalam menyelesaikan sengketa konsumen lainnya yang dimana ketentuan ini dapat dilihat dalam UU No 8 Tahun 1999 pasal 48 yang menentukan penyelesaian sengketa konsumen melalui pengadilan mengacu pada ketentuan tentang peradilan umum yang berlaku dengan memperhatikan ketentuan dalam pasal 45. Dalam hal ini pengadilan diberikan kekuasaan untuk menyelesaikan sengketa konsumen dengan berpedoman pada ketentuan peradilan umum, jadi tugas dan wewenang dari pengadilan ditentukan dalam Undang-Undang No 8 Tahun 2008 Tentang Peradilan Umum pasal 50 yang menentukan Pengadilan Negeri bertugas dan berwenag memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara pidana dan perkara perdata ditingkat pertama.
26 Tolib Effendi, 2013, Sistem Peradilan Pidana Perbandingan Komponen dan Proses Sistem Peradilan Pidana di Beberapa Negara, Pustaka Yustisia, Yogyakarta, h. 158
BAB III
PERBEDAAN DAN PERSAMAAN PENYELESAIAN SENGKETA PADA BADAN PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN KOTA
DENPASAR DAN PENGADILAN NEGERI DENPASAR
3.1 Dasar hukum Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kota Denpasar untuk melaksanakan tugas dan wewenangnya
BPSK merupakan badan penyelesaian sengketa konsumen diluar pengadilan yang mempunyai wewenang untuk mengadili sengketa mengenai konsumen dan pelaku usaha. Didalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai penyelesaian sengketa konsumen, BPSK mempunyai dasar untuk melakukan tugas dan wewenangnya. Dalam wawancara penulis dengan Bapak Jarot Agung Iswayudi sebagai kepala seketariat BPSK disebutkan bahwa dasar hukum BPSK dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya yaitu UU No 8 Tahun 1999 Tentang perlindungan konsumen, Kepmenrindag No:
350/MPP/Kep/12/2001 Tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang BPSK, Keputusan Presiden Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Pengangkatan Anggota BPSK Kota Denpasar, Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 61/M-DAG/KEP/1/2011 Tentang Surat Penugasan Anggota BPSK, Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 142/M-DAG/ST/1/2011 Tentang Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Anggota BPSK Kota Denpasar, Keputusan Walikota Denpasar Nomor 188.45/182/HK/2011 Tentang Penunjukan Anggota Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kota Denpasar Periode Tahun 2011-2016 (wawancara tanggal 12 April 2016).
3.2 Jenis – Jenis penyelesaian sengketa yang dapat diselesaikan di BPSK Bapak Jarok Agung Iswayudi sebagai kepala seketariat BPSK Kota Denpasar, dalam menyelesaikan sengketa konsumen di BPSK tentunya sengketa yang diselesaikan diBPSK itu hanya sengketa yang mengenai konsumen akhir saja dan dalam melakukan cara penyelesaian sengketa BPSK menggunakan cara mediasi, konsiliasi dan arbitrase (wawancara tanggal 12 April 2016). Yang dimaksud dengan konsumen akhir adalah pengguna atau pemanfaat akhir suatu produk tersebut.27
Penyelesaian sengketa mediasi adalah proses penyelesaian sengketa konsumen diluar pengadilan dengan perantara BPSK sebagai penasihat dan penyelesaianyadiserahkan kepada para pihak. Sedangkan konsiliasi adalah proses penyelesaian sengketa konsumen diluar pengadilan dengan perantara BPSK untuk mempertemukan para pihak yang bersengketa, dan penyelesaiannya diserahkan kepada para pihak.28 Penyelesaian dengan cara arbitrase adalah proses penyelesaian sengketa konsumen diluar pengadilan yang dalam hal ini para pihak yang bersengketa menyerahkan sepenuhnya penyelesaian sengketa kepada BPSK dimana ketentuan ini terdapat dalam Kepmenperindag No 350/MPP/Kep/2001/12/. Penyelesaian sengketa konsumen di BPSK Kota Denpasar dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2015 mencapai 219 kasus mengenai sengketa konsumen, cara penyelesaian yang digunakan di BPSK Kota Denpasar terdiri dengan cara:
27 Intan Nur Rahmawati dan Rukiyah Lubis, 2014, Win – Win Solution Sengketa Konsumen, Pustaka Yustisia, Yogyakarta, h.23
28Ibid, h. 110
a. Mediasi 78 kasus sengketa konsumen.
b. Konsiliasi 4 kasus sengketa konsumen.
c. Arbitrase 104 kasus sengketa konsumen.
d. Sepakat untuk tidak sepakat 6 kasus sengketa konsumen, 17 kasus sengketa konsumen yang tidak selesai, 9 kasus sengketa konsumen yang gugatannya dicabut dan 1 kasus konsumen yang pindah ke BPSK Badung.
Dari 219 kasus yang telah diselesaikan di BPSK Kota Denpasar dari Tahun 2012 sampai dengan tahun 2015 kasus yang paling dominan terjadi yaitu kasus mengenai finance dan jual beli property. Ibu Komang Lestari Kusuma Dewi sebagai ketua BPSK Kota Denpasar mengatakan putusan sepakat untuk tidak sepakat adalah sebuah hasil akhir dari penyelesaian sengketa konsumen apabila para pihak konsumen dan pelaku usaha menggunakan cara mediasi dan kosiliasi dalam menyelesaikan sengketanya. Hasil akhir mediasi dan konsiliasi ini bisa para pihak berdamai bisa juga tidak berdamai dan meneruskan kasusnya ke jalur litigasi atau Pengadilan Negeri (wawancara tanggal 10 Mei 2016).
3.3 Keberatan Terhadap Putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Yang Diajukan ke Pengadilan Negeri
Dalam menyelesaikan sengketa konsumen BPSK Kota Denpasar menggunakan cara mediasi, konsiliasi dan arbitrase, sesuai dengan pasal 52 huruf a UU No 8 Tahun 1999. Putusan BPSK yang bersifat final dan mengikat
bagi para pihak itu hanya penyelesaian sengketa dengan cara mediasi dan konsiliasi saja yang mengikat dan final bagi para pihak. Yang dimaksud dengan pasal 56 ayat 2 para pihak dapat mengajukan keberatan ke Pengadilan Negeri atas putusan BPSK, itu hanya penyelesaian sengketa dengan cara arbitase saja yang dapat diajukan keberatan ke Pengadilan Negeri.
Tata cara melakukan penyelesaian sengketa konsumen yang dilakukan oleh BPSK Kota Denpasar dengan cara arbitrase berbeda dengan UU No 30 Tahun 1999. Dimana tata cara penyelesaian sengketa yang dilakukan oleh BPSK dengan cara Arbitrase berpedoman dengan ketentuan Kepmenperindag No 350/MPP/Kep/2001/12/, pasal 32 ayat (1) menentukan dalam penyelesaian sengketa konsumen dengan cara Arbitrase, para pihak memilih arbiter dari anggota BPSK yang berasal dari unsur pelaku usaha dan konsumen sebagai anggota Majelis. Dan ayat (2) menentukan arbiter yang dipilih oleh para pihak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memilih arbiter ketiga dari anggota BPSK yang berasal dari unsur Pemerintah sebagai ketua majelis. Sedangkan tata cara penyelesaian sengketa arbitrase yang berpedoman dengan UU No 30 Tahun 1999 para pihak yang bersengketa berhak bebas untuk memilih arbiter yang sesuai dengan kesepakatan para pihak yang bersengketa dengan syarat pasal 12 ayat (1) yang dapat ditunjuk sebagai arbiter harus memenuhi syarat:
a. Cakap melakukan tindakan hukum, b. Berumur paling rendah 35 tahun,
c. Tidak mempunyai hubungan keluarga sedarah atau semenda sampai dengan derajat kedua dengan salah satu pihak bersengketa,
d. Tidak mempunyai kepentingan finasial dan kepentingan lain atas putusan arbitrase, dan
e. Memiliki pengalaman serta menguasai secara aktif di bidangnya paling sedikit 15 tahun
Selain putusan BPSK dengan cara Arbitrase dapat diajukan keberatan ke Pengadilan Negeri dan dapat juga diajukan upaya kasasi ke Mahkamah Agung yang dimana ketentuan ini terdapat pada UU No 8 Tahun 1999 dan Perma No 1 Tahun 2006.
3.4 Persamaan dan perbedaan penyelesaian sengketa konsumen di BPSK Kota Denpasar dengan di Pengadilan Negeri Denpasar
3.4.1 Persamaan penyelesaian sengketa di BPSK Kota Denpasar dan di Pengadilan Negeri Denpasar
Ibu Komang Lestari Kusuma Dewi sebagai ketua BPSK Kota Denpasar dan bapak Ahcmad Peten Sili sebagai Hakim di Pengadilan Negeri Denpasar mengatakan persamaan dalam kedua instansi lembaga tersebut merupakan sama-sama merupakan mengajukan gugatan ganti rugi yang dimana gugatan ganti rugi ini dapat diajukan di BPSK Kota Denpasar maupun gugatan ganti rugi ini dapat di ajukan di Pengadilan negeri sesuai kesepakatan para pihak yang bersengketa dan sama – sama bergerak dalam bidang gugatan keperdataan (wawancara tanggal 10 Mei dan 6 Juni 2016).
3.4.2 Perbedaan penyelesaian sengketa di BPSK Kota Denpasar dan di Pengadilan Negeri Denpasar
Ibu Komang Lestari Kusuma Dewi sebagai ketua BPSK Kota Denpasar dan bapak Ahcmad Peten Sili sebagai Hakim di Pengadilan Negeri Denpasar mengatkan perbedaan dalam cara penyelesaian sengketa konsumen antara kedua instansi ini di BPSK Kota Denpasar cara penyelesaian sengketanya melalui cara diluar pengadilan atau non litigasi dengan cara penyelesaiang sengketanya melalui kesepakatan para pihak untuk memilih cara penyelesaiannya dan di Pengadilan Negeri Denpasar cara penyelesaian sengketanya melalui jalur litigasi dengan cara penyelesaian sengketanya sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku mengenai Perlindungan Konsumen (wawancara tanggal 10 Mei dan 6 Juni 2016).
BAB IV
FAKTOR-FAKTOR YANG MENGHAMBAT PELAKSANAAN PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN MELALUI BADAN PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN KOTA DENPASAR DAN DI
PENGADILAN NEGERI DENPASAR
4.1.Pelaksanaan penyelesaian sengketa melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen kota Denpasar dan Pengadilan Negeri Denpasar.
4.1.1 Pelaksanaan penyelesaian sengketa konsumen melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kota Denpasar.
Setiap konsumen yang dirugikan dapat mengajukan permohonan penyelesaian sengketa konsumen kepada BPSK, baik secara tertulis maupun lisan melalui sekretariat BPSK kota Denpasar di Jalan Melati no 21 Denpasar. Pemohon tersebut dapat juga diajukan oleh ahli waris atau kuasanya apabila konsumen meninggal dunia, sakit atau telah berusia lanjut, belum dewasa, atau orang asing (warga negara asing). Permohonan yang diajukan secara tertulis oleh pemohon dan diterima oleh sekretariat BPSK dalam suatu format yang disediakan, dan diberi tanda tangan atau cap stempel oleh konsumen, atau ahli warisnya atau kuasanya dan kepada pemohon diberikan bukti tanda terima. Berkas permohonan tersebut, baik tertulis ,maupun tidak tertulis dicatat oleh sekertariat BPSK dan diberi tanggal dan nomor registrasi. Pemohonan penyelesaian sengketa konsumen secara tertulis harus memuat secara benar dan lengkap
1. Nama dan alamat lengkap konsumen, ahli waris atau kuasanya disertai bukti diri,
2. Nama dan alamat lengkap pelaku usaha, 3. Barang atau jasa yang diadukan,
4. Bukti perolehan (bon, faktur, kwitansi, dan dokumen bukti lain) 5. Keterangan tempat, waktu dan tanggal diperoleh barang atau
jasa tersebut,
6. Saksi yang mengetahui barang atau jasa tersebut diperoleh, 7. Foto-foto barang dan kegiatan pelaksanaan jasa, bila ada.
Permohonan penyelesaian sengketa dapat ditolak jika, tidak terpenuhi persyaratan-persyaratan seperti diatas dan permohonan gugatan bukan kewenangan BPSK maka permohonan penyelesaian sengketa tersebut dapat ditolak oleh BPSK.
Pasal 26 ayat (1) Kepmenperindag No 350/MPP/Kep/12/2001 menentukan pemanggilan pelaku usaha untuk hadir dipersidangan BPSK, dilakukan secara tertulis disertai dengan copy permohonan penyelesaian sengketa konsumen dalam 3 (tiga) hari kerja sejak permohonan penyelesian sengketa konsumen diterima secara lengkap dan benar telah memenuhi persyaratan pasal 16. Pasal 26 ayat (2) dalam surat panggilan tersebut dalam ayat (1) dicantumkan secara jelas mengenai hari, tanggal, jam dan tempat persidangan serta kewajiban pelaku usaha untuk memberikan surat jawaban terhadap penyelesaian sengketa konsumen dan disampaikan pada hari persidangan pertama.
Persidangan pertama, yaitu pada hari ke -7 (ketujuh) terhitung sejak diterimanya secara formal permohonan penyelesian sengketa konsumen oleh BPSK. Waktu yang dimilki oleh ketua BPSK dari memulai
pemeriksaan kelengkapan dan kebenaran secara formal permohonan penyelesaian sengketa konsumen sampai dengan dilaksanakanya persidangan pertama, yaitu maksimal 10 (sepuluh) hari kerja, tidak termasuk hari libur nasional. Didalam melaksanakan penyelesaian sengketa konsumen BPSK mempunyai 3 (tiga) tata cara persidangan, yaitu:
1. Persidangan dengan tata cara konsilidasi, 2. Persidangan dengan tata cara mediasi, 3. Persidangan dengan tata cara arbitrase.
Ketiga tata cara persidangan tersebut dapat menghadirkan kuasa (hukum), memang didalam Permenperindag No 350/MPP/Kep/12/2001 menentukan pasal 15 ayat (2) sebagai berikut permohonan penyelesaian sengketa konsumen dapat diajukan oleh ahli waris atau kuasanya.
A. Tata Cara Persidangan di Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kota Denpasar
a. Tata cara persidangan dengan konsiliasi
Konsiliasi merupakan salah satu alternative penyelesaian sengketa yang juga bisa ditempuh diluar pengadilan, konsiliasi ini juga dimungkinkan sebagai alternatife penyelesian sengketa konsumen berdasarkan UUPK. Penyelesaian sengketa ini menyerahkan penyelesaiannya kepada pihak ketiga untuk memberikan pendapatnya
tentang sengketa yang disampaikan oleh para pihak.29 Selain itu konsiliasi merupakan proses penyelesaian sengketa konsumen diluar pengadilan dengan perantara BPSK untuk mempertemukan para pihak yang bersengketa, dan penyelesaiannya diserahkan oleh para pihak.30 Yang dimaksud dalam penjelasan diatas tentang pihak ketiga yaitu BPSK sebagai mediator dalam memberikan saran dan pendapat bagi pihak yang bersengketa.
Mekanismen tata cara persidangan mengani cara konsiliasi ini ditentukan didalam Keppermenrindag No: 350/MPP/Kep/12/2001 pasal 28 menentukan BPSK hanya bertugas :
1. Memanggil konsumen dan pelaku usaha yang bersengketa, 2. Memanggil saksi dan saksi ahli apabila diperlukan,
3. Menyediakan forum bagi konsumen dan pelaku usaha yang bersengketa,
4. Menjawab pertanyaan konsumen dan pelaku usaha perihal peraturan perundang-undangan di bidang perlindungan konsumen.
Menurut pasal 29 yang menentukan prinsip tata cara penyelesaian sengketa konsumen dengan cara konsiliasi ada 2 cara yaitu:
1. Proses penyelesaian sengketa konsumen menyangkut bentuk maupun jumlah ganti rugi diserahkan sepenuhnya kepada
29 Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo,Op.cit, h. 254
30 Intan Nur Rahmawati dan Rukiyah Lubis, Op.cit, h.110
para pihak sedangkan majelis Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) bertindak pasif sebagai konsiliator, 2. Hasil musyawarah konsumen dan pelaku usaha dikeluarkan
dalam bentuk keputusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK).
b. Tata cara persidangan dengan Mediasi
Mediasi sebagai salah satu alternatife penyelesaian sengketa diluar pengadilan, selain itu penyelesaian sengketa melalui mediasi harus didahului dengan kesepakatan para pihak untuk menyelesaikan sengketanya melelui mediasi. Kesepakatan ini dapat dilakukan sebelum timnulnya sengketa, yaitu dengan memasukan sebagai klausula perjanjian (mediation clause agreement), atau setelah timbulnya sengketa kemudian para pihak membuat kesepakatan untuk menyerahkan penyelesaiannya melalui mediasi (mediation submission).31 Selain itu penyelesaian dengan cara mediasi ini merupakan proses penyelesaian sengketa konsumen diluar pengadilan dengan perantara BPSK seabagai penasihat dan penyelesaiannya diserahkan kepada para pihak untuk mecapai kesepakatan.32
Dimana majelis BPSK bersifat aktif sebagai perantara dan atau penasehat bagi para pihak. Pada dasarnya mediasi adalah suatu proses dimana pihak ketiga (a third party), suatu pihak luar yang netral (a netral outsider) terhadap sengketa, mengajak pihak yang bersengketa
31 Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo, 2010, Hukum Perlindungan Konsumen, Rajawali Pers, Jakarta, h.255
32 Intan Nur Rahmawati dan Rukiyah Lubis, loc.cit.
pada suatu penyelesaian sengketa yang telah disepakati. Sesuai batasan tersebut, mediator (BPSK) berada di tengah-tengah dan tidak memihak.33 Tata cara persidangan mediasi di BPSK menurut pasal 30 Keppermenrindag No. 350/MPP/Kep/12/2001 yang menentukan penyelesaian sengketa konsumen dengan cara mediasi yang bertugas:
a. Memanggil konsumen dan pelaku usaha yang bersengketa, b. Memanggil saksi dan saksi ahli bila diperlukan,
a. Memanggil konsumen dan pelaku usaha yang bersengketa, b. Memanggil saksi dan saksi ahli bila diperlukan,