1
SAMPUL DALAM ... i
PERSYARATAN GELAR SARJANA HUKUM ... ii
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
HALAMAN SURAT PERNYATAAN KEASLIAN ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... viii
ABSTRAK ... xii
ABSTRACT ... xiii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 8
1.3 Ruang Lingkup Masalah ... 8
1.4 Orisinalitas Penelitian ... 9
1.5 Tujuan Penelitian ... 14
a. Tujuan Umum ... 14
b. Tujuan Khusus ... 14
1.6 Manfaat Penelitian ... 15
1.7 Landasan Teoritis ... 15
1.8 Metode Penelitian ... 19
a. Jenis Penelitian ... 19
b. Jenis Pendekatan ... 19
c. Sifat Penelitian ... 20
d. Data dan Sumber Data ... 20
e. Teknik Pengumpulan Data ... 22
f. Teknik Penentuan Sampel Penelitian ... 23
g. Pengolahan dan Analisis Data ... 23
BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN DI BADAN PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN DAN DI PENGADILAN UMUM 2.1 Penyelesaian Sengketa Konsumen ... 24
2.1.1 Pengertian Sengketa Konsumen ... 24
2.1.2 Penyelesaian Sengketa Konsumen Melalui Peradilan Umum dan Diluar Peradilan ... 26
2.2 Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen ... 28
2.2.1 Pengertian Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen ... 28
2.2.2 Tugas Dan Wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen ... 29
2.3 Peradilan Umum ... 31
2.3.1 Pengertian Peradilan Umum ... 31
2.3.2 Tugas Dan Wewenang Pengadilan Umum Dalam Hal
Menyelesaikan Sengketa Konsumen ... 32
BAB III PERBEDAAN DAN PERSAMAAN PENYELESAIAN SENGKETA PADA BADAN PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN KOTA DENPASAR DAN PENGADILAN NEGERI DENPASAR
3.1 Dasar Hukum Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kota Denpasar Untuk Melaksanakan Tugas dan Wewenangnya ... 33 3.2 Jenis-Jenis Penyelesaian Sengketa Yang Dapat Diselesaikan Di
Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kota Denpasar ... 34 3.3 Keberatan Terhadap Putusan Badan Penyelesaian Sengketa
Konsumen yang Diajukan ke Pengadilan Negeri ... 35 3.4 Persamaan dan Perbedaan Penyelesaian Sengketa Konsumen di
Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kota Denpasar Dengan di PengadilanNegeri ... 37 3.4.1 Persamaan Penyelesaian Sengketa Konsumen di Badan
Penyelesaian Sengketa Konsumen Kota Denpasar dan di Pengadilan Negeri Denpasar ... 37 3.4.2 Perbedaan Penyelesaian Sengketa konsumen di Badan
Penyelesaian Sengketa Konsumen Kota Denpasar dan di Pengadilan Negeri Denpasar ... 38
BAB IV FAKTOR-FAKTOR YANG MENGHAMBAT PELAKSANAAN PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN MELALUI BADAN PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN KOTA DENPASAR DAN DI PENGADILAN NEGERI DENPASAR
4.1. Pelaksanaan Penyelesaian Sengketa Konsumen Melalui Badan
Penyelesaian Sengketa Konsumen Kota Denpasar dan di
Pengadilan Negeri Denpasar ... 39
4.1.1 Pelaksanaan Penyelesaian Sengketa Konsumen Melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kota Denpasar ... 39 4.1.2 Pelaksanaan Penyelesaian Sengketa Konsumen Melalui
Pengadilan Negeri Denpasar ... 48 4.2. Faktor-Faktor yang Menghambat Pelaksanaan Penyelesaian
Sengketa Konsumen Pada Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kota Denpasar dan Pengadilan Negeri Denpasar ... 50 4.2.1 Faktor-Faktor yang Menghambat Pelaksanaan Penyelesaian
Sengketa Konsumen Pada Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kota Denpasar ... 50 4.2.2 Faktor-Faktor yang Menghambat Penyelesaian Sengketa
Konsumen Pada Pengadilan Negeri Denpasar ... 51
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ... 53 5.2 Saran ... 54
DAFTAR PUSTAKA
DATA INFORMAN
ABSTRAK
Penyelesaian sengketa konsumen dapat dilakukan dengan cara penyelesaian sengketa melalui pengadilan dan di luar pengadilan, dimana penyelesaian sengketa konsumen ini terdapat dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen pasal 47 mengatur mengenai penyelesaian di luar pengadilan dan pasal 48 mengatur penyelesaian di dalam pengadilan.
Penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan dilakukan di Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen dalam hal ini BPSK Kota Denpasar, dalam melaksanakan tugasnya BPSK Kota Denpasar dapat melakukan tiga cara penyelesaian sengketa diantaranya Mediasi, Konsiliasi, dan Arbitrase. Putusan dalam penyelesaian sengketa yang dilakukan BPSK memiliki kekuatan hukum tetap, namun pada pasal 56 menentukan putusan BPSK tersebut dapat diajukan keberatan ke Pengadilan Negeri dalam hal ini Pengadilan Negeri Denpasar.
Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan ini yaitu mengenai persamaan dan perbedaan penyelesaian sengketa serta mekanisme penyelesaian sengketa dan faktor yang menghambat penyelesaian sengketa dalam BPSK Kota Denpasar dan Pengadilan Negeri Denpasar. Adapun tujuan dalam penulisan ini adalah untuk mengetahui mekanisme penyelesaian sengketa konsumen hingga putusan yang dikeluarkan oleh BPSK yang memiliki kekuatan hukum tetap namun dapat diajukan keberatan ke Pengadilan Negeri.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian yuridis empiris. Metode ini digunakan untuk melakukan penelitian langsung di lapangan dan mengkaji berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku di masyarakat.
Mekanisme mengenai penyelesaian sengketa konsumen melalui BPSK ditentukan dalam Kepmenperindag No. 350/MPP/Kep/12/2001 mekanisme di Pengadilan mengacu pada HIR/RBg dan peraturan yang mengatur mengenai konsumen. Dalam menyelesaikan penyelesaian sengketa konsumen sebaiknya BPSK dan Pengadilan melakukan kerja sama dalam bidang penyelesaian konsumen supaya terwujudnya kepastian hukum yang baik dan jujur.
Kata Kunci: Penyelesaian Sengketa, Konsumen, BPSK, Pengadilan,
ABSTRACT
The settlement of dispute the consumer can be done by the sentlement of dispute outside the court or the settle, emt of dispute in court. The settlement of dispute the consumer are in The Act number 8 year 1999 about Consumer Protection Law. Article 47 is about the settlement of disputes outside the court.
And article 48 ia about the settlement of disputes in court. The settlement of disputes outside the court was did by the Consumer Dispute Settlement Agency or CDSA in Denpasar, in carrying out of his duty CDSA Denpasar can did 3 ways of settlement dispute such as mediation, conciliation, and arbitration. The injuction of settlement of diapute that did by CDSA has a law enforcement officer persistent. But, in article 56, the injuction of CDSA can be sued to the District Court in case of Denpasar. The problem that will discussed in this research is about the similarity and differnces of the settlement of dispute and also the mechanism of the settlement of dispute and the factor that impeding the settlement of dispute and the factor that impeding the settlement of dispute by CDSA in Denpasar. The purpose is to knowing the mechanism of the settlement of dispute until the injuction of CDSA that has a law enforcement officer persistent can be sued to the district court.
The method that used in this research is the legal empirical research. This method is used to doing research directly in the field and judging by the social law.
The mechanism about the settlement of dispute the consumer through CDSA specified in Kepmenperindag No. 350/MPP/Kep/12/2001 mechanism of the court referring on HIR/RBg and ather The Act about the consumer. The settlement of dispute the consumer, the CDSA and court must to has cooperation in the field of consumer, so that the establishment of legal certainly is good and honest.
Keyword : Settlement Of Dispute, consumer, CDSA, Court
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara yang mengedepankan semua penyelesaian
masalah atau sengketanya melalui cara berdasarkan hukum yang berlaku,
ketentuan tersebut dapat dilihat di Undang–Undang Dasar 1945 Pasal 1 ayat (3) yang menentukan Negara Indonesia adalah Negara hukum. Semua perbuatan dan kegiatan harus mempunyai payung hukum atau dasar hukum untuk mengatur semua perbuatan dan kegiatan yang dilakukan tersebut, permasalahan yang mengenai hukum yang menarik dan menjadi perhatian pemerintah Indonesia pada saat ini yaitu kegiatan mengenai konsumen dengan pelaku usaha dan kegiatan ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen selanjutnya disebut UU No 8 Tahun 1999. Diharapkan dengan adanya undang-undang ini kegiatan mengenai konsumen dan pelaku usaha bisa terjaga secara harmonis dan supaya terwujudnya masyarakat yang sejahtera dalam kaitannya dengan berkembangnya kegiatan–kegiatan transaksi perdagangan di era globalisasi ini. Dalam beberapa hari terkahir ini ada kasus mengenai kerugian terhadapat konsumen, contoh kasus itu sebagai berikut:
1. Makanan yang telah kadaluarsa yang digunakan untuk parcel dan makanan–
makanan yang sudah kadarluarsa yang didiamkan hingga tumbuh jamur sehingga menyebakan timbulnya bakteri.
2. Masih banyak ditemukan bahan makanan dan makanan yang mengadung
formalin atau boraks yang mengadung zat kimia berbahaya bila makanan itu
dikonsumsi akan memberikan efek yang kurang baik untuk tubuh manusia.
3. Penggunaan sisa makanan yang seperti daging dan kue sisa untuk mendapatkan biaya yang lebih murah padahal daging dan kue sisa itu sudah tidak layak dikonsumsi kembali.
1Beberapa contoh masalah yang ada diatas itu diakibatkan oleh beberapa produsen atau pelaku usaha yang kurang mementingkan kesehatan para konsumennya hanya mementingkan keutungannya semata. Didalam UU No 8 Tahun 1999 ini diharapkan permasalahan-permasalahan mengenai perlindungan konsumen dan pelaku usaha bisa ditangani secara adil dan bermanfaat. Didalam undang-undang ini mengutamakan perlindungan konsumen yang bermanfaat, keadilan, keseimbang dan kepastian hukum serta undang-undang ini dibuat bertujuan untuk menciptakan sistem perlindungan kosumen yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi dan juga bertujuan menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan konsumen sehingga tumbuh sikap jujur dan bertanggung jawab dalam berusaha. Dalam implementasinya undang-undang ini diharapkan bisa bermanfaat bagi semua kalangan baik pelaku usaha maupun konsumen. Peran pemerintah dalam hal ini sangat diperlukan untuk memberikan infomasi mengenai undang-undang ini dimana peran pemerintah ini diwujudkan dalam hal membentuk organisasi yang bergerak di bidang perlindungan konsumen seperti di tingkat nasional ada Badan Perlindungan Konsumen Nasional selanjutnya disebut dengan BPKN yang memiliki fungsi untuk memberikan saran dan pertimbangan
1
Detiknews, 2016, 5 “Masalah yang dihadapi BPSK”,
http://news.detik.com/berita/2444430/ini-5-masalah-perlindungan-konsumen-yang-dihadapi-bpsk
diakses tanggal 29 januari 2016
kepada pemerintah dalam upaya mengembangkan perlindungan konsumen di Indonesia.
2Peran masyarakat juga diperlukan dalam memberikan informasi mengenai undang-undang tentang perlindungan kosnumen ini, wujud nyata dari keterlibatan masyarakat dalam hal memberikan informasi mengenai undang-undang ini diwujudkan dalam mebentuk organisasi yang bernama Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat selanjutnya disebut dengan LPKSM. Oleh karena terbentuknya LPKSM ini diharapkan supaya masyarakat bisa ikut mengontrol dengan sungguh-sungguh kelayakan produk barang yang dipasarkan melalui penyuluhan kepada masyarakat tentang tertib niaga dan hukum perlindungan kosumen agar konsumen tidak terjebak oleh tindakan pelaku usaha yang hanya memprioritaskan keuntungan dengan mengorbankan masyarakat.
3Namun masih saja ada masyarakat yang belum mengetahui hak dan kewajibannya sebagai konsumen yang dimana hak dan kewajibannya diatur dalam pasal 4 dan pasal 5 mengenai hak dan kewajiban konsumen sedangkan pasal 6 dan 7 mengenai hak dan kewajiban pelaku usaha yang terdapat pada UU No 8 Tahun 1999.
Hak dan kewajiban itu wajib diketahui oleh konsumen maupun pelaku usaha agar terhindar dari perbuatan-perbuatan yang merugikan kedua belah pihak baik dari konsumen maupun pelaku usaha. Ada beberapa kasus yang mengenai permasalahan tentang konsumen dan pelaku usaha seperti kasus tentang penjual bakso yang menggunakan daging babi kasusnya sebagai berikut ‘TEMPO.CO, Jakarta - Seorang pedagang daging giling terbukti menjual daging celeng yang disamarkan sebagai daging sapi. Daging giling
2
Celina Tri Siwi Kristiyanti,2008, Hukum Perlindungan Konsumen, Sinar Grafika, Jakarta, h 119
3 Ibid, h 121
itu biasa digunakan untuk bahan baku bakso. ‘Sudah diperiksa di laboratorium, hasilnya memang benar itu daging celeng,’ kata Kepala Seksi Pengawasan dan Pengendalian Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Jakarta Barat, Pangihutan Manurung, Senin, 5 Mei 2014. Menurut Pangihutan, instansinya mendapat laporan tentang penjualan daging celeng di di Jalan Pekojan III Tambora, Jakarta Barat. Penjualnya bernama bernama Sutiman Wasis Utomo, 55 tahun. ‘Laporannya pekan lalu, dan langsung kami tindaklanjuti,’ kata Pangihutan. Sutiman selama ini dikenal sebagai pengusaha rumahan yang menjual bakso olahan untuk penjual bakso keliling. Sehari setelah laporan masuk, seorang pegawai Suku Dinas Peternakan membeli bakso tersebut dan memeriksanya di laboratorium.
Hasil pemeriksaan menyatakan daging bakso itu mengandung daging babi hutan atau celeng. Kepada para anggota tim pengawasan dari Suku Dinas Peternakan, Sutiman mengaku membeli daging tersebut dari seorang lelaki bernama John, yang berdomisili di Cengkareng, Jakarta Barat. Anggota tim saat ini sedang melacak arus distribusi bakso olahan Sutiman. Menurut Pangihutan, daging celeng yang dijual Sutiman tak melalui pengawasan oleh Suku Dinas Peternakan. Celeng tersebut diburu di berbagai daerah di Pulau Jawa dan langsung dipasarkan secara terselubung. ‘Tak ada jaminan daging yang dipasarkan itu sehat dan layak dikonsumsi,’ katanya. Atas perbuatan tersebut, Dinas Peternakan melaporkan Sutiman ke Polsek Penjaringan. Dia dijerat Pasal 62 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen. Sutiman dianggap menipu konsumen karena tak menyebutkan bahan baku sebenarnya dan mengabaikan standar kesehatan. ‘Dia melanggar karena tak melewati proses pengawasan dengan menggunakan babi dari rumah potong dan berterus terang kepada pembeli,’ kata Pangihutan.’
4Kasus yang diatas merupakan beberapa contoh kasus yang terjadi di Indonesia, cara penyelesaian kasus seperti itu dapat di selesaikan melalui jalur pengadilan dan diluar pengadilan dimana ketentuan ini diatur di UU No 8 Tahun 1999 pada pasal 46 ayat (2) ‘penyelesaian sengketa konsumen dapat ditempuh melalui pengadilan atau diluar pengadilan berdasarkan pilihan sukarela para pihak yang bersengketa’. Penyelesaian sengketa melalui cara diluar pengadilan ada peran serta pemerintah dalam menyelesaikanya. Yang dimaksud sebagai pemerintah adalah instansi atau penjabat yang bersangkutan menangani
4
Radida T, 2015, “Jual Bakso Daging Celeng”,
http://radidatia.blogspot.co.id/2015/07/contoh-kasus-pelanggaran-perlindungan.html dikases tgl 30
Desember 2015
masalahnya secara ideal pada umumnya instansi/penjabat pemerintah yang bersangkutan menerima dan menganggap penting masalah perlindungan konsumen.
5Wujud nyata pemerintah dalam hal ini dengan cara mendirikan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen yang selanjutnya disebut dengan BPSK, Badan Penyelesaian Konsumen ini bertujuan untuk menyelesaikan sengketa mengenai konsumen diluar pengadilan dengan cara melalui mediasi, arbitrase dan konsiliasi.
BPSK ini berkedudukan di Daerah tingkat II, BPSK ini sudah terdapat di beberapa Daerah di Indonesia salah satunya di Daerah Kota Denpasar Bali di Jalan Melati No. 21 kehadiran BPSK di Kota Denpasar ini meberikan alternatif penyelesaian sengketa bagi para konsumen dan pelaku usaha yang berada di wilayah Indonesia umumnya dan wilayah Kota Denpasar khususnya. Dikarenakan BPSK merupakan pengadilan khusus konsumen (small claim court) yang sangat diharapkan dapat menjawab tuntutan masyarakat agar proses berperkara berjalan cepat, sederhana dan murah.
6BPSK Kota Denpasar ini dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 23 tahun 2006. Pengangkatan anggota BPSK Kota Denpasar, berdasarkan keputusan Menteri Perdagangan Nomor 61/M- DAG/KEP/1/2011, tanggal 31 Januari 2011. Surat penugasan Menteri Perdagangan Nomor 142/M-DAG/ST/1/2011, tanggal 31 Januari 2011, tentang pelantikan dan pengambilan sumpah anggota BPSK pada Pemerintahan Kota Denpasar. Berdasarkan keputusan tersebut anggota BPSK Kota Denpasar dilantik
5
Tanpa Penerbit, 1986, Simposium Aspek-Aspek Hukum Masalah Perlindungan
Konsumen, Badan Pembinaan Hukum Nasional, Jakarta, h. 226
Celina Tri Siwi Kristiyanti, Op.cit, h.126
pada Kamis, 17 Maret 2011.
7BPSK Kota Denpasar memberikan alternative penyelesaian perkara konsumen dengan memberikan solusi dengan cara konsiliasi, mediasi dan arbitrase semua cara penyelesaian tersebut terdapat dalam ketentuan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 350/MPP/Kep/12/2001 Pasal 3 huruf a yang selanjutnya disebut dengan Kepmenperindag No 350/MPP/Kep/12/2001.
Selain penyelesaian sengketa konsumen dapat dilakukan dengan cara diluar pengadilan dan dapat juga penyelesaian sengketa konsumen dilakukan melalui pengadilan umum ketentuan ini terdapat di pasal 48 UU No 8 Tahun 1999 yang menyebutkan “penyelesaian sengketa konsumen melalui pengadilan mengacu pada ketentuan tentang peradilan umum yang berlaku dengan memperhatikan ketentuan dalam pasal 45. Selain itu putusan perkara yang dikeluarkan oleh Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen juga dapat dilakukan pengajuan keberatan ke Pengadilan Negeri jika salah satu pihak merasa keberatan atas keputusan yang dikeluarkan oleh BPSK dimana ketentuan ini terdapat dalam UU No 8 Tahun1999 Pasal 56 ayat 2. Salah satu cara penyelesaian sengketa di BPSK yang mengeluarkan keputusan yaitu keputusan arbitrase. Dikarenakan dalam ketentuan Kepmenperindag No: 350/MPP/Kep/12/2001 dalam pasal 5 ayat (3) yang menentukan penyelesaian sengketa konsumen dengan cara arbitase dilakukan sepenuhnya dan diputuskan oleh majelis yang bertindak sebagai arbiter.
Namun jika para pihak yang bersengketa tidak setuju dengan keputusan arbitrase
7
BPSK Kota Denpasar, 2011, “Sejarah BPSK Kota Denpasar”
http://bpsk.denpasarkota.go.id/index.php/tentangkami/17/Sejarah dikases Tanggal 30 Desember
2015
BPSK tersebut, para pihak diperbolehkan untuk mengajukan keberatan ke Pengadilan Negeri.
Dengan dasar pada pasal 56 ayat 2 UU No 8 Tahun1999 yang sudah disebutkan diatas, dengan diberikan peluang oleh UU No 8 Tahun 1999 atas pengajuan keberatan ke Pengadilan Negeri atas putusan arbitrase yang dikeluarkan oleh BPSK ini sangat berbeda dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa selanjutnya disebut dengan UU No 30 Tahun 1999 dalam pasal 60 yang mentukan bahwa penyelesaian sengketa melalui cara arbitrase bersifat final dan memiliki kekuatan hukum tetap dan mengikat para pihak. Artinya jika para pihak yang bersengketa menyepakati klasula arbitrase, maka berlaku sebagai choice of forum bagi para pihak, tidak ada cara lain untuk menyelesaikan semua sengketa yang terjadi sebagai akibat pelaksanaan perjanjian tersebut, kecuali melalui arbitrase, dan pengadilan harus menyatakan tidak berwenang untuk memeriksa sengketa tersebut, tanpa perlu diajukan eksepsi oleh para pihak.
8Dengan adanya pengajuan keberatan atas putusan BPSK, BPSK merupakan cara penyelesaian sengketa konsumen diluar pengadilan yang dimana tujuan penyelesaian sengketa diluar pengadilan untuk mendapatkan win-win solution antara kedua belah pihak yang bersengketa dengan adanya pengajuan keberatan atas putusan BPSK tersebut ke Pengadilan Negeri maka tidak terjadi win-win solution yang terjadi hanya win lose solution karena ada pihak yang dirugikan oleh putusan BPSK tersebut.
8
Susanti Adi Nugroho, 2011, Proses Penyelesaian Sengketa Konsumen Ditinjau Dari
Hukum Acara Serta Kendala Implementasinya, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, h. 81Dari uraian latar belakang diatas dapat diangkat judul dalam tulisan ini adalah “PERBANDINGAN PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN PADA BADAN PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN KOTA DENPASAR DAN PENGADILAN NEGERI DENPASAR”
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana perbedaan dan persamaan penyelesaian sengketa pada Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kota Denpasar dan Pengadilan Negeri Denpasar?
2. Faktor – faktor apa yang menghambat dalam menyelesaikan sengketa baik dalam Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kota Denpasar dan di Pengadilan Negeri Denpasar?
1.3 Ruang Lingkup Masalah
Untuk menghindari adanya sesuatu kekeliruan di dalam pembahasan skripsi ini sehingga tidak jauh menyimpang dari uraian yang dimaksud, maka perlu dibatasi ruang lingkup pada permasalahan pertama akan membahas mengenai bagaimana perbedaan dan persamaan penyelesaian sengketa pada badan penyelesaian sengketa konsumen Kota Denpasar dan Pengadilan Negeri Denpasar dan faktor-faktor apa yang menghambat dalam menyelesaikan sengketa dalam badan penyelesaian sengketa konsumen Kota Denpasar dan di Pengadilan Negeri Denpasar.
1.4 Orisinalitas Penelitian
Dengan ini penulis menyatakan bahwa penulis skripsi ini merupakan hasil buah karya asli dari penulis merupakan suatu hasil buah pemikiran penulis yang dikembangkan sendiri oleh penulis. Sepanjang sepengetahuan penulis dan setelah melakukan pengecekan atau pemeriksaan baik dalam ruangan gudang skripsi Fakultas Hukum Universitas Udayana dan didalam Internet tidak ditemukan adanya suatu karya ilmiah atau skripsi yang membahas atau menyangkut permasalahan tentang Perbandingan penyelesaian sengketa konsumen pada Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kota Denpasar dengan Pengadilan Negeri Denpasar, penulis akan menampilkan dua penulisan penelitian terdahulu yang pembahasannya berkaitan dengan judul penulisan usulan penelitian ini.
1. Skripsi yang ditulis oleh Andi Kurniasari berjudul “Perlindungan Konsumen Atas Kode Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) pada Produk Kopi”, permasalahan yang diangkat adalah bagaimanakah peranan badan pengawas obat dan makanan (BPOM) terhadap produk kopi yang berkode fiktif dan bagaimana peranan Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) terhadap kerugian yang timbul pada konsumen akibat produk kopi yang berkode fiktif.
2. Skripsi yang ditulis oleh Intan Herdanareswari berjudul “Implementasi Pasal
52 Huruf C Tentang Pengawasan Klausula Baku Oleh BPSK Dalam Undang-
Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen” permasalahan
yang diangkat adalah bagaimana implementasi Pasal 52 huruf C tentang tugas
dan wewenang BPSK dalam pengawasan pencatuman klausula baku dalam
undang-undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen dikota
Malang dan apa yang menjadi hambatan bagi BPSK kota Malang dalam pelaksanaan tugas dan wewenang terkait pengawasan pencatuman klasula baku dan bagaimana upaya mengatasi hambatan yang dihadapi oleh BPSK kota Malang dalam pelaksanaan Tugas dan wewenang terkait pengawasan pencatuman klausula baku
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 1.1 penelitian yang berkaitan dengan usulan penelitian penulis.
No Judul Penulis Rumusan Masalah
1 Perlindungan Konsumen Atas Kode Badan Pengawasan
Obat dan
Makanan
(BPOM) pada Produk Kopi
Andi Kurniasari (Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas
Hasanuddin Makasar Tahun 2013)
1. Bagaimana peranan Badan Pengawasan
Obat dan
Makanan (BPOM)
terhadap produk
kopi yang
berkode fiktif?
2. Bagaimanan
peranan lembaga
perlindungan
Konsumen
Swadaya Masyarakat (LPKSM) Terhadap
kerugian yang timbul pada konsumen akibat produk kopi yang berlebel fiktif?
2 Implementasi Pasal 52 Huruf C Tentang Pengawasan Klausula Baku Oleh BPSK Dalam Undang- Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang
Perlindungan Konsumen
Intang Herdanareswari (Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas
Brawijaya
Malang Tahun 2014)
1. Bagaimana
implementasi
pasal 52 huruf C
tentang tugas
dan wewenang
BPSK dalam
pengawsan
pencatuman
klausula baku
dalam undang-
undang nomor 8
tahun 1999
tentang perlindungan konsumen oleh
BPSK kota
Malang
2. Apa yang menjadi
hambatan bagi
BPSK kota
malang dalam pelaksanaan
tugas dan
wewenang terkait pengawasan pencatuman klasula baku
Tabel 1.2 Daftar Usulan Penelitian Penulis
No Judul Penulis Rumusan Masalah
1 Perbandingan
Penyelesaian Sengketa Konsumen Pada Badan Penyelesaian Sengketa
Konsumen Kota
Denpasar dan Pengadilan Negeri Denpasar
I Gusti Made Triana Surya Pranatha (Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Udayana Tahun 2017)
1. Bagaimana perbedaan dan persamaan
penyelesaian sengketa pada Badan
penyelesaian sengketa konsumen Kota Denpasar dengan Pengadilan Negeri Denpasar
2. Faktor-faktor yang menghambat dalam menyelesaikan sengketa baik dalam bdan penyelesaian sengketa konsumen kota Denpasar dan di Pengadilan Negeri Denpasar ?
1.5 Tujuan Penelitian
a. Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian dalam penyusunan skripsi ini adalah merupakan tujuan yang bersifat akademis, yaitu:
1. Untuk melatih diri dalam upaya menyatakan pikiran secara tertulis.
2. Untuk melaksanakan tri dharma perguruan tinggi khususnya di bidang pendidikan yang berhubungan dengan perbandingan penyelesaian sengketa konsumen pada Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kota Denpasar dan Pengadilan Negeri Denpasar.
3. Untuk memperdalam ilmu pengetahuan khususnya bidang hukum tentang cara penyelesaian sengketa konsumen.
b. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dalam penelitian skripsi ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui bagaimana perbedaan dan persamaan penyelesaian pada Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kota Denpasar dengan Pengadilan Negeri Denpasar.
2. Untuk mengetahui faktor-faktor apa yang menghambat dalam menyelesaikan sengketa baik dalam Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kota Denpasar dan di Pengadilan Negeri Denpasar.
1.6 Manfaat Penelitian
a. Manfaat Teoritis
Secara Teoritis penelitian ini ditulis untuk mendapatkan hal-hal yang bermafaat bagi ilmu pengetahuan khususnya ilmu dan juiga sebagai upaya pendalam ilmu hukum khususnya mengenai perbandingan penyelesaian sengketa konsumen pada Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kota Denpasar dan Pengadilan Negeri Denpasar.
b. Manfaat Praktis
Secara praktis hasil penelitian ini ditulis diharapkan memberikan sumbangan berupa masukan, ide-ide atau tindakan bagi pihak-pihak yang berkepentingan guna membangun lingkungan yang tertib sesuai peraturan yang ada.
1.7 Landasan Teoritis
Landasan teoritis merupakan landasan berpijak atau dasar untuk mengambil analisa permasalahan yang timbul dalam kaitannya dengan judul skripsi ini. Sebelum sampai pada jawaban sementara dari penulisan skripsi ini, terlebih dahulu akan disajikan beberapa teori dasar sebagai teori penulisan ini.
Pada prinsipnya suatu teori adalah hubungan antara dua fakta atau lebih,
atau pengaturan fakta menurut cara-cara tertentu fakta tersebut merupakan suatu
yang dapat diamati dan pada umumnya dapat diuji secara empiris, oleh sebab itu
dalam bentuknya yang paling sederhana, suatau teori merupakan hubungan antara
dua variable atau lebih yang telah diuji kebenarannya.
9Adapun kerangka teori tersebut adalah sebagai berikut: menurut teori perlindungan hukum, perlindungan mengandung makna suatu tindakan perlindungan atau tindakan melindungi dari pihak-pihak tertentu yang ditunjukan untuk pihak tertentu dengan menggunakan cara-cara tertentu. Menurut Philipus M. Hadjon, mengartikan perlindungan hukum sebagai tindakan melindungi atau memberikan pertolongan kepada subyek hukum dengan perangkat-perangkat hukum. Bila melihat pengertian perlindungan hukum diatas, maka dapat diketahui unsur-unsur dari perlindungan hukum, yaitu: subyek yang dilindungi, obyek yang akan dilindungi, maupun upaya yang digunakan untuk tercapainya perlindungan tersebut.
10Dasar hukum adanya perlindungan kosumen di Indonesia adalah UU No 8 Tahun 1999, asas dan tujuan dari terbentuknya peraturan perundang-undangan ini terdapat dalam pasal 2 menentukan, perlindungan kosumen berasaskan manfaat, keadilan, keseimbangan, keamanan dan keselamatan konsumen, serta kepastian hukum. Dan pasal 3 menentukan perlindungan konsumen bertujuan:
a. Meningkatkan kesadaran, kemapuan, dan kemandirian konsumen untuk melindungi diri.
b. Mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkanya dari eksis negatif pemakaian barang dan/atau jasa.
c. Meningkatkan pemerdayaan konsumen dalam memilih, menentukan, dan menuntut hak-haknya sebagai konsumen.
d. Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi.
9
Soejono Soekanto, 2001, Sosiologi Suatu Pengantar, PT Raja Gravindo Persada, Jakarta, h.30
10
Philipus M. Hadjon,dkk, 2011, Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, Gadjah
Mada University Press, Yogyakarta, h.10
e. Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan konsumen sehingga tumbuh sikap yang juijur dan bertanggung jawab dalam berusaha.
f. Meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa menjamin kelangsungan usaha produksi barang dan/atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan keselamatan konsumen.
Upaya pelaksanan peraturan UU No 8 Tahun 1999 ini yang dijelaskan diatas perlu disertai dengan pengawasan baik oleh pemerintah maupun masyarakat hal ini ditentukan dalam pasal 30 ayat (1) pengawasan terhadap penyelengaraan perlidungan kosumen serta penerapan ketentuan UU No 8 Tahun 1999 diselenggarakan oleh pemerintah, masyarakat, dan lembaga perlindungan kosumen swadaya masyarakat. Diharapakn dalam melakukan pengawasan baik melakukan pembinaan atau melakukan penyelesaian sengketa tentang kosumen dan pelaku usaha diharapkan peran BPSK dan Pengadilan dalam melakukan hal tersebut berlandaskan asas dan tujuan yang sesuai dengan ketentuan pasal 2 dan 3 UU No 8 Tahun 1999. Didalam melakukan penerapan peraturan ini BPSK juga mempunyai payung hukum dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya. Tugas dan wewenang BPSK ini terdapat dalam Kepmenperindag No:
350/MPP/Kep/12/2001 Tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Pasal 3 yang menentukan:
Dalam melaksanakan fungsi BPSK mempunyai tugas dan wewenang:
a. melaksanakan penanganan dan penyelesaian sengketa konsumen, dengan cara Konsiliasi, Mediasi atau Arbitrase.
b. memberikan konsultasi perlindungan konsumen.
c. melakukan pengawasan terhadap pencantuman klausula baku.
d. melaporkan kepada penyidik umum apabila terjadi pelanggaran ketentuan
dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen.
e. menerima pengaduan baik tertulis maupun tidak tertulis, dari konsumen tentang terjadinya pelanggaran terhadap perlindungan konsumen.
f. melakukan penelitian dan pemeriksaan sengketa perlindungan konsumen;
g. memanggil pelaku usaha yang diduga telah melakukan pelanggaran terhadap perlindungan konsumen;
h. memanggil dan menghadirkan saksi, saksi ahli dan atau setiap orang yang dianggap mengetahui pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen;
i. meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan pelaku usaha, saksi, saksi ahli, atau setiap orang sebagaimana dimaksud pada huruf g dan huruf h, yang tidak bersedia memenuhi panggilan BPSK.
j. mendapatkan, meneliti dan/atau menilai surat, dokumen, atau alat bukti lain guna penyelidikan dan/atau pemeriksaan.
k. memutuskan dan menetapkan ada atau tidak adanya kerugian di pihak konsumen;
l. memberitahukan putusan kepada pelaku usaha yang melakukan pelanggaran terhadap perlindungan konsumen;
m. menjatuhjan sanksi administratif kepada pelaku usaha yang melanggar ketentuan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya BPSK diharapkan
melaksanakan sesuai dengan apa yang ditentukan dalam keputusan menteri ini
agar tercapainya kesejahteraan dan harmonisasi antara konsumen dan pelaku
usaha. Selain BPSK sebagai sarana untuk menyelesaikan senketa konsumen
dengan pelaku usaha peran pengadilan negeri juga sangat penting dalam
menyelesaikan sengketa dimana penyelesaian sengketa melalui pengadilan negeri
ini terdapat dalam UU No 8 Tahun 1999 pasal 48 yang menentukan penyelesaian
sengketa konsumen melalui pengadilan mengacu pada ketentuan tentang peradilan
umum yang berlaku. Disamping itu peran Pengadilan Negeri juga berupa sebagai
tujuan akhir dari penyelesaian sengketa melalui BPSK Jika didalam keputusan
BPSK para pihak dalam bersengketa masih tidak menerima keputusan BPSK, para
pihak yang bersengketa boleh mengajukan keberatan ke Pengadilan Negeri sesuai
dengan ketentuan pasal 56 ayat (2) para pihak dapat mengajukan keberatan
kepada Pengadilan Negeri paling lambat 14 (empat belas) hari kerja setelah menerima pemberitahuan putusan tersebut.
1.8 Metode Penelitian
a. Jenis Penelitian
Dalam penulisan skripsi ini menggunakan metode penelitian Hukum Empiris, merupakan penelitian ilmiah yang menjelaskan fenomena hukum tentang terjadinya kesenjangan antara norma dengan perilaku masyarakat (kesenjangan antara das sollen dan das sein atau antara the ought dan the is atau antara yang seharusnya dengan senyatanya di lapangan. Dengan kata lain terhadap permasalahan yang terdapat dalam skripsi ini akan dikaji dari ketentuan-ketentuan hukum yang terkait dan kemudian mengkaitkannya dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi di lapangan.
b. Jenis Pendekatan
Jenis pendekatan yang penulis terapkan dalam penulisan skripsi ini, mengacu pada beberapa pendekatan, yaitu:
1. Pendekatan perundang-undangan (The Statute Approach), yaitu pendekatan masalah yang berdasarkan pada teori-teori hukum dan peraturan perundang - undangan yang berlaku, yang ada kaitannya dengan permasalahan yang akan dibahas.
1111
Peter Mahmud Marzuki, 2008, Penelitian Hukum, Cetakan ke IV, Kencana Prenada
Media Group, Jakarta, h.35
2. Pendekatan fakta (The Fact Approach) dengan melihat fakta-fakta yang ada dilapangan berdasarkan atas permasalahan yang akan dikaji yang selanjutnya dikaitkan dengan penerapan hukum yang berlaku.
12c. Sifat Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif. Penelitian ini bertujuan menggambarkan secara tepat sifat - sifat suatu individu, keadaan, gejala atau kelompok tertentu, atau untuk menentukan penyebaran suatu gejala, atau untuk menentukan ada tidaknya hubungan antara suatu gejala dengan gejala lain dalam masyarakat.
Penelitian ini menggambarkan tentang perbandingan penyelesaian sengketa konsumen pada badan penyelesaian sengketa konsumen Kota Denpasar dan Pengadilan Negeri Denpasar.
d. Data dan Sumber Data
Dalam penulisan skripsi ini pada umumnya dibedakan antara data yang diperoleh secara langsung dari masyarakat yang dinamakan data primer (data dasar) dan diperoleh dari bahan-bahan pustaka dinamakan data sekunder.
13Adapun data yang dipergunakan dalam penelitian ini diperoleh dari 2 (dua) sumber, yaitu:
1. Data Primer
Untuk mendapatkan data primer dilakukan penelitian lapangan (fied Research), yaitu dengan cara melakukan penelitian secara langsung ke lapangan yakni pada kantor badan penyelesaian sengketa konsumen kota Denpasar serta di Pengadilan Negeri Denpasar dan melakukan wawancara
12
Ibid h. 93
13
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, 2001, Penelitian Hukum Normatif, PT. Raja
Grafindo Persada, Jakarta h.12
medalam dengan penjabat dan staff serta dari kasus-kasus mengenai permasalahan yang akan dibahas.
2. Data Sekunder
Untuk mendapatkan data sekunder dilakukan penelitian keperpustakaan (Library Research), yaitu pengumpulan berbagai data yang diperoleh dari menelaah literature, majalah di bidang hukum guna menemukan teori yang relevan dengan permasalahan yang akan dibahas. Mengenai data sekunder ini berdasarkan kekuatan mengikat dari isinya dapat dibagi menjadi 3 (tiga), yaitu:
a) Bahan Hukum Primer, yaitu bahan yang isinya mengikat, karena dikeluarkan oleh pemerintah, seperti berbagai peraturan perundang- undangan yaitu Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 Tentang Alternatif Penyelesaian Sengketa dan Arbitrase, Keputusan Meteri Perindutrian dan Perdagangan Nomor: 350/MPP/Kep/12/2001 Tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen, dan Peraturan Mahkamah Agung Nomor: 01 Tahun 2006 Tentang Tata Cara Pengajuan Keberatan Terhadap Putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen.
b) Bahan Hukum Sekunder, yaitu bahan-bahan yang isinya membahas
bahan primer, seperti buku, majalah, artikel.
c) Bahan Hukum Tersier, Yaitu bahan-bahan yang bersifat menunjang bahan primer dan bahan sekunder yaitu kamus besar bahasa Indonesia, kamus besar Hukum serta diperoleh melalui browsing internet.
e. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan bahan hukum dilakukan melalui studi dokumentasi.
Bahan hukum yang diperolehnya adalah diinfentarisasi dan diidentifikasi serta kemudian dilakukan pengkasifikasian bahan-bahan sejenis, mencatat dan mengolahnya secara sistematis sesuai dengan tujuan dan kebutuhan penelitian.
Tujuan dari teknik dokumentasi ini adalah untuk mencari konsepsi-konsepsi, teori-teori, pendapat-pendapat, penemuan-penemuan yang berhubungan dengan permasalahan penelitian.
a) Teknik Studi Dokumen
Teknik studi dokumen merupakan teknik awal yang digunakan dalam melakukan penelitian ini dengan cara mengumpulkan data berdasarkan pada benda-benda berbentuk tulisan, dilakukan dengan cara mencari, membaca, mempelajari dan memahami data-data sekunder yang berhubungan dengan hukum sesuai dengan permasalahan yang dikaji yang berupa buku-buku, majalah, literature, dokumen, peraturan yang ada relevansinya dengan masalah yang diteliti.
b) Teknik Wawancara
Metode wawancara adalah metode untuk mengumpulkan data
dengan cara Tanya jawab. Dalam penelitian ini wawancara yang
merupakan teknik untuk memperoleh data dilapangan dipergunakan untuk
menunjang dari data-data yang diperoleh melalui studi dikumen. Dimana peneliti sebagai penanya dan sumber informan sebagai obyek yang akan diminta keterangan dan informasi terkait penelitian tersebut. Pedomana daftar pertanyaan dibuat secara sistematis dan telah disiapkan oleh peneliti. Penelitian yang dilakukan dengan wawancara kepada narasumber.
f. Teknik Penentuan Sampel Penelitian
Didalam penulisan skripsi ini teknik untuk penentuan sampel penelitian penulis menggunakan teknik Non Probability Sampling Snowball Sampling, yang dimaksud dengan Snowball Sampling adalah penarikan sampel dengan teknik ini dipilih berdasarkan penunjukan atau rekomendasi dari sampel sebelumnya. Dalam penulisan skripsi ini penulis sendiri yang mencari informasi orang yang dianggap ahli dalam membahas masalah yang dibahas dalam skripsi ini, seperti permasalah Perbandingan penyelesaian sengketa pada Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kota Denpasar dan Pengadilan Negeri Denpasar.
g. Pengolahan dan Analisis Data
Apabila keseluruhan data yang diperoleh dan sudah terkumpul baik
melalui studi keperpustakaan dan kasus yang ada ataupun dengan wawancara,
kemudian mengolah dan menganalisis secara kualitatif yaitu dengan
menghubungkan antara data yang ada yang berkaitan dengan pembahasan dan
selanjutnya disajikan secara deskriptif analisis. Data yang telah rampung tadi
dipaparkan dengan di sertai analisis sesuai dengan teori yang terdapat pada
buku-buku literatur dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, guna
mendapatkan kesimpulan sebagai akhir dari penulisan ini
BAB II
TINJAUAN UMUM MENGENAI PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN DI BADAN PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN
DAN DI PENGADILAN UMUM 2.1 Mengenai penyelesaian sengketa konsumen
2.1.1 Pengertian sengketa konsumen
Di dalam peraturan UU No 8 Tahun 1999 tidak memberikan suatu definisi mengenai tentang sengketa konsumen. Namun yang pasti yang namanya sengketa (confict,dispute) bisa saja terjadi antara konsumen dengan pelaku usaha. Suatu sengketa disamping bersifat merusak (destructive), juga bersifat merugikan (harmful) hubungan konsumen dengan pelaku usaha.
14Keberadaan sengketa konsumen hanya ada di beberapa pasal dalam UU No 8 Tahun 1999 di pasal 45 ayat (1) setiap konsumen yang dirugikan dapat menggugat pelaku usaha melalui lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha atau melalui peradilan yang berada di lingkungan peradilan umum. Didalam pasal ini hanya menjelaskan bagaimana cara menyelesaikan semgketa konsumen saja tetapi tidak menjelaskan dari apa yang dimaksud dengan sengketa konsumen. Namun menurut beberapa pendapat para ahli sengketa konsumen adalah sengketa antara konsumen dengan pelaku usaha (publik atau privat) tentang produk
14
Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, 2008, Hukum Tentang Perlindungan Konsumen,
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, h.32.
konsumen, barang dan/atau jasa konsumen tertentu menurut AZ Nasution
15. Sedangkan menurut pendapat Sidharta, sengketa konsumen adalah sengketa berkenaan dengan pelanggaran hak-hak konsumen lingkupnya mencangkup semua segi hukum, baik keperdataan, pidana maupun tata negara
16. Dan definisi dari sengketa konsumen terdapat juga dalam Kepmenperindag No:
350/MPP/Kep12/2001 yang menyebutkan sengketa konsumen adalah sengketa antara pelaku usaha dengan konsumen yang menuntut ganti rugi atas kerusakan, pencemaran dan/atau yang menderita kerugian akibat mengkonsumsi barang dan/atau memanfaatkan jasa.
a. Pengertian konsumen
Yang dimaksud dengan konsumen terdapat 3 pengertian mengenai konsumen, yaitu:
1. Konsumen adalah setiap orang yang mendapatkan barang dan/atau jasa yang digunakan untuk tujuan tertentu.
2. Konsumen antara adalah setiap orang yang mendapatkan barang dan/atau jasa yang digunakn untuk diperdagangkan/komersial. Melihat pada sifat penggunaan barang dan/atau jasa tersebut, konsumen antara ini sesungguhnya adalah pengusaha, baik pengusaha perorangan maupun pengusaha yang berbentuk badan hukum atau tidak, baik pengusaha swasta maupun pengusaha public (perusahaan milik negara), dan dapat terdiri dari penyedia dana (investor), pembuat produk akhir yang digunakan oleh konsumen akhir atau produsen, atau penyedia atau penjual produk akhir seperti supplier, distributor, atau pedagang.
3. Konsumen akhir adalah setiap orang alami (natuurlijke person) yang mendapatkan barang dan/atau jasa, yang dipergunakan untuk tujuan memenuhi kebutuhan hidup pribadinya,bkeluarga dan/atau rumah tangganya dan tidak untuk diperdagangkan kembali.
1715
AZ Nasution, 1995, Konsumen dan Hukum, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, h 221
16
Shidartha, 2000, Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia, PT Grasindo, Jakarta, h 135
17
Susanti Adi Nugroho, Op.cit, h. 62
Pengertian konsumen menurut ketentuan pasal 1 butir 2 UUPK dan Kepmenperindag No 350/MPP/Kep/12/2001 adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, kelurga, orang lain, maupun mahluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.
b. Pengertian pelaku usaha
Yang dimaksud dengan pelaku usaha pada pasal 1 butir 3 UUPK dan Kepmenperindag No 350/MPP/Kep/12/2001 pasal 1 butir 3 pelaku usaha adalah setiap orang perseorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk bdan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi. Dalam penjelasan pasal 1 butir 3 ini yang termasuk dalam pelaku usaha adalah perusahaan, korporasi, BUMN, koperasi, Importir, pedagang, distributor, dan lain-lain.
2.1.2 Penyelesaian sengketa konsumen melalui peradilan umum dan diluar peradilan
Dalam UU No 8 Tahun 1999 memberikan 2 alternatif penyelesaian
sengketa dalam menyelesaikan sengketa antara konsumen dengan pelaku
usaha yang dimana ketentuan itu terdapat didalam pasal 45 ayat (2)
penyelesaian sengketa konsumen dapat ditempuh melalui pengadilan atau
diluar pengadilan berdasarkan pilihan sukarela para pihak yang bersengketa.
a. Penyelesaian sengketa konsumen diluar pengadilan berpedoman pada pasal 47 yang menentukan penyelesaian sengketa konsumen diluar pengadilan diselenggarakan untuk mencapai kesepakatan mengenai bentuk dan besarnya ganti rugi dan/atau mengenai tindakan tertentu untuk menjamin tidak ada terjadi kembali atau tidak akan terulang kembali kerugian yang diderita oleh konsumen
18. Penyelesaian sengketa diluar pengadilan yang sering juga disebut nonlitigasi yang artinya penyelesaian sengketa diluar pengadilan yang didasarkan kepada hukum, dan penyelesaian tersebut dapat digolongkan kepada penyelesaian yang berkualitas tinggi, karena sengketa yang diselesaikan secara demikian akan dapat selesai tuntas tanpa meninggalkan sisa kebencian dan dendam
19. Cara penyelesaian sengketa ini dapat memberi kesempatan yang lebih luas kepada masyarakat untuk menentukan pilihan terbaiknya, karena karena tidak harus melalui jalur litigasi. Metode ini sebenarnya sudah lama mengakar di dalam masyarakat asli Indonesia dan sangat sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Cara penyelesaian sengketa melalui
“musyawarah mufakat’ merupakan suatu metode yang sudah lama dikenal oleh masyarakat asli Indonesia, meskipun dengan istilah yang berbeda- beda antara satu daerah dengan daerah lainnya.
20Dalam hal ini Penyelesaian sengketa konsumen dapat juga melalui cara penyelesain
18
M Sadar, MOH Taufik Makarao, dan Habloel Mawadi , 2012, Hukum Perlindungan
Konsumen Indonesia, Akademia, Jakarta, h. 172.19
I Wayan Wiryawan dan I Ketut Artadi, 2009, Penyelesaian Sengketa Diluar
Pengadilan, Udayana Universty Pers, Denpasar-Bali, h 420
I Made Widnyana, 2007, Alternatif Penyelesaian Sengketa (ADR), Indonesia Buisness
Law Center (IBLC), Jakarta, h. 71
sengketa diluar pengadilan yang dapat ditempuh melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK), BPSK adalah pengadilan khusus konsumen (small claim court) yang sangat diharapkan dapat menjawab tuntutan masyarakat agar proses berperkara berjalan cepat,sederhana dan murah
21. supaya terciptanya asas manfaat, keadilan, keseimbangan, keamanan dan keselamatan konsumen, serta kepastian hukum dimana asas ini terdapat dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen.
b. Penyelesaian sengketa melalui pengadilan terdapat di pasal 48 Undang- Undang Perlindungan Konsumen yang menentukan penyelesaian sengketa konsumen melalui pengadilan mengacu pada ketentuan tentang peradilan umum yang berlaku dengan memperhatikan ketentuan dalam pasal 45.
22Gugatan melalui pengadilan hanya dapat ditemput jika penyelesaian sengeketa konsumen melalui cara diluar pengadilan tidak menemukan keberhasilan maka gugatan kepengadilan baru dapat dilakukan oleh para pihak yang bersengketa.
2.2 Mengenai Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen 2.2.1 Pengertian Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen
BPSK merupakan penyelesaian sengketa melalui diluar pengadilan (nonligasi) yang menggunakan mekanisme gugatan dilakukan dengan secara sukarela dari kedua belah pihak yang bersengketa. BPSK merupakan
21
Celina Tri Siwi Kristiyanti, op.cit, h 126
22
M Sadar, MOH Taufik Makarao, dan Habloel Mawadi, loc. Cit.
pengadilan khusus konsumen (small claim court) yang sangat diharapkan dapat menjawab tuntutan masyarakat agar proses berperkara berjalan cepat, sederhana dan murah
23. Badan ini dibentuk disetiap daerah tingkat II untuk menyelesaikan sengketa konsumen diluar pengadilan pasal 49 ayat (1).
Anggota dari BPSK ini terdiri dari kalangan pemerintah, konsumen dan pelaku usaha, setiap kalangan tersebut terdiri dari tiga orang atau sebanyak lima orang yang kesemua kalangan itu diangkat dan diberhentikan oleh penjabat pemerintah yaitu Menteri perindustrian dan perdagangan.
2.2.2 Tugas dan Wewenang Badan penyelesaian Sengketa Konsumen.
Setiap melakukan sengketa mengenai konsumen wajib dilakukan oleh majelis yang dibentuk oleh ketua BPSK dan dibantu oleh panitera susunan angota majelis BPSK harus ganjil, dengan ketentuan minimal tiga orang yang mewakili semua kalangan sebagaimana ditentukan dalam pasal 54 ayat (2), yaitu kalangan pemerintah, konsumen dan pelaku usaha. Salah satu anggota majelis tersebut wajib berpendidikan dan berpengetahuan di bidang hukum (pasal 18 SK Kepmenrperindag No 350/MPP/Kep/12/2001) dan ketua majelis BPSK harus dari unsur pemerintah, walaupun tidak berpendidikan hukum.
24Mengenai tugas dan wewenang BPSK diatur dalam pasal 52 UU No 8 Tahun 1999 jo. Kepmenperindag No. 350/MPP/Kep/12/2001, tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen yaitu :
23
Celina Tri Siwi Kristiyanti, loc.cit.
24
Susanti Adi Nugroho, op. cit, h. 81
a. Melaksanakan penanganan dan penyelesaian sengketa konsumen, dengan cara melalui mediasi atau arbitrase atau konsiliasi;
b. Memberikan konsultasi perlindungan hukum;
c. Melakukan pengawasan terhadap pencatuman klasula baku;
d. Melaporkan kepada penyidik umum apabila terjadi pelanggaran ketentuan dalam undang – undang ini;
e. Menerima pengaduan baik tertulis maupun tidak tertulis dan konsumen tentang terjadinya pelanggaran terhadap perlindungan konsumen;
f. Melakukan penelitian dan pemeriksaan sengketa perlindungan konsumen;
g. Memanggil pelaku usaha yang diduga telah melakukan pelanggaran terhadap perlindungan konsumen;
h. Memanggil dan menghadirkan saksi, saksi ahli dan/atau setiap orang yang dianggap mengetahui pelanggaran terhadap undang-undang ini;
i. Meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan pelaku usaha, saksi, saksi ahli, atau setiap orang sebagaimana dimaksud pada huruf g dan huruf h, yang tidak bersedia memenuhi panggilan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen;
j. Mendapatkan, ,meneliti dan/atau menilai surat, dokumen, atau alat bukti lain guna penyelidikan dan/atau pemeriksaan;
k. Memutuskan dan menetapkan ada atau tidak adanya kerugian di pihak konsumen;
l. Memberitahukan putusan kepada pelaku usaha yang melakukan pelanggaran terhadap perlindungan konsumen;
m. Menjatuhkan sanksi administrasi kepada pelaku usaha yang mealnggar ketentuan undang-undang ini;
Jika dilihat dari tugas dan wewenag tersebut diatas, maka dengan demikian terdapat beberapa fungsi strategis dari BPSK yaitu:
a. BPSK berfungsi sebagai instrument hukum penyelesaian sengketa diluar pengadilan (alternative dispute resolution), yaitu melalui konsiliasi, mediasi dan arbitrase.
b. Melakukan pengawasan terhadap pencatuman klasula baku (one-sided standard form contract) Oleh pelaku usaha (pasal 52 butir c).
c. Salah satu fungsi strategis ini adalah untuk menciptakan keseimbangan
kepentingan-kepentingan pelaku usaha dan konsumen. Jadi, tidak hanya
klasula baku yang dikeluarkan oleh pelaku usaha atau badan usaha
perusahaan-perusahaan swasta saja, tetapi juga pelaku usaha atau perusahaan-perusahaan milik negara.
Dilihat dari ketentuan pasal 52 huruf b, c dan e dapat diketahui BPSK tidak hanya bertugas menyelesaikan sengketa di luar pengadilan sebagaiamana diatur dalam pasal 49 ayat (1), tetapi meliputi kegiatan berupa pemberian konsultasi, pengawasan terhadap pencatuman klasula baku, dan sebagai tempat pengaduan dari konsumen tentang adanya pelanggaran ketentuan perlindungan konsumen serta berbagai tugas dan wewenang lainnya yang terkait dengan pemeriksaan pelaku usaha yang diduga melanggar ketentuang Undang-Undang Perlindungan Konsumen.
252.3 Pengadilan Umum
2.3.1 Pengertian Pengadilan Umum
Didalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2008 Tentang Peradilan Umum memberikan definisi tentang Pengadilan Umum yang disebut dengan Peradilan Umum yaitu salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan pada umumnya, terdapat pada pasal 2. Sedangkan menurut beberapa refrensi buku pengertian dari pengadilan umum adalah salah satu proses dalam sistem peradilan pidana yang tidak dapat berjalan tanpa adanya proses-proses lainnya yang mendahului, yaitu penyidikan dan penuntutan karena dalam tahap ini suatu perkara akan dinilai dari hasil yang dikumpulkan pada tahap penyidikan dan penuntutan, apakah perkara tersebut melanggar hukum atau tidak dan apakah pelaku perbuatan tersebut dapat dipertanggung
25
Ibid, h 84
jawabkan secara pidana. Dan juga, pada tahapan ini, masyarakat akan mendapatkan keadilan sebagai akibat dari adanya perbuatan yang telah mengakibatkan kerugian dalam masyarakat, baik kerugian fisik maupun mental.
262.3.2 Tugas dan Wewenang Pengadilan Umum Dalam Hal Menyelesaikan Sengketa Konsumen
Tugas dan wewenang dari pengadilan umum memiliki tugas dan wewenang yang sama dalam menyelesaikan sengketa konsumen lainnya yang dimana ketentuan ini dapat dilihat dalam UU No 8 Tahun 1999 pasal 48 yang menentukan penyelesaian sengketa konsumen melalui pengadilan mengacu pada ketentuan tentang peradilan umum yang berlaku dengan memperhatikan ketentuan dalam pasal 45. Dalam hal ini pengadilan diberikan kekuasaan untuk menyelesaikan sengketa konsumen dengan berpedoman pada ketentuan peradilan umum, jadi tugas dan wewenang dari pengadilan ditentukan dalam Undang-Undang No 8 Tahun 2008 Tentang Peradilan Umum pasal 50 yang menentukan Pengadilan Negeri bertugas dan berwenag memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara pidana dan perkara perdata ditingkat pertama.
26
Tolib Effendi, 2013, Sistem Peradilan Pidana Perbandingan Komponen dan Proses
Sistem Peradilan Pidana di Beberapa Negara, Pustaka Yustisia, Yogyakarta, h. 158BAB III
PERBEDAAN DAN PERSAMAAN PENYELESAIAN SENGKETA PADA BADAN PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN KOTA
DENPASAR DAN PENGADILAN NEGERI DENPASAR
3.1 Dasar hukum Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kota Denpasar untuk melaksanakan tugas dan wewenangnya
BPSK merupakan badan penyelesaian sengketa konsumen diluar pengadilan yang mempunyai wewenang untuk mengadili sengketa mengenai konsumen dan pelaku usaha. Didalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai penyelesaian sengketa konsumen, BPSK mempunyai dasar untuk melakukan tugas dan wewenangnya. Dalam wawancara penulis dengan Bapak Jarot Agung Iswayudi sebagai kepala seketariat BPSK disebutkan bahwa dasar hukum BPSK dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya yaitu UU No 8 Tahun 1999 Tentang perlindungan konsumen, Kepmenrindag No:
350/MPP/Kep/12/2001 Tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang BPSK,
Keputusan Presiden Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Pengangkatan Anggota
BPSK Kota Denpasar, Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 61/M-
DAG/KEP/1/2011 Tentang Surat Penugasan Anggota BPSK, Keputusan
Menteri Perdagangan Nomor 142/M-DAG/ST/1/2011 Tentang Pelantikan dan
Pengambilan Sumpah Anggota BPSK Kota Denpasar, Keputusan Walikota
Denpasar Nomor 188.45/182/HK/2011 Tentang Penunjukan Anggota Badan
Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kota Denpasar Periode Tahun
2011-2016 (wawancara tanggal 12 April 2016).
3.2 Jenis – Jenis penyelesaian sengketa yang dapat diselesaikan di BPSK Bapak Jarok Agung Iswayudi sebagai kepala seketariat BPSK Kota Denpasar, dalam menyelesaikan sengketa konsumen di BPSK tentunya sengketa yang diselesaikan diBPSK itu hanya sengketa yang mengenai konsumen akhir saja dan dalam melakukan cara penyelesaian sengketa BPSK menggunakan cara mediasi, konsiliasi dan arbitrase (wawancara tanggal 12 April 2016). Yang dimaksud dengan konsumen akhir adalah pengguna atau pemanfaat akhir suatu produk tersebut.
27Penyelesaian sengketa mediasi adalah proses penyelesaian sengketa konsumen diluar pengadilan dengan perantara BPSK sebagai penasihat dan penyelesaianyadiserahkan kepada para pihak. Sedangkan konsiliasi adalah proses penyelesaian sengketa konsumen diluar pengadilan dengan perantara BPSK untuk mempertemukan para pihak yang bersengketa, dan penyelesaiannya diserahkan kepada para pihak.
28Penyelesaian dengan cara arbitrase adalah proses penyelesaian sengketa konsumen diluar pengadilan yang dalam hal ini para pihak yang bersengketa menyerahkan sepenuhnya penyelesaian sengketa kepada BPSK dimana ketentuan ini terdapat dalam Kepmenperindag No 350/MPP/Kep/2001/12/. Penyelesaian sengketa konsumen di BPSK Kota Denpasar dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2015 mencapai 219 kasus mengenai sengketa konsumen, cara penyelesaian yang digunakan di BPSK Kota Denpasar terdiri dengan cara:
27
Intan Nur Rahmawati dan Rukiyah Lubis, 2014, Win – Win Solution Sengketa
Konsumen, Pustaka Yustisia, Yogyakarta, h.2328Ibid, h. 110