• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 Hasil Kerja praktek

5.5 Penyelesaian Studi Kasus

Tahap mendapatkan masalah utama / root cause dari tingginya biaya empty running truck digunakan fishbone diagram sperti yang terlihat pada gambar dibawah ini :

Gambar 4 Diagram fishbone empty running truck cost

Berdasarkan diagram fishbone diatas terdapat tiga cabang dari masalah yang dihadapi perusahaan (empty running truck cost). Cabang yang pertama yaitu masalah nya adalah dari pallet, pallet pada PT ADM sangat beragam, masing-masng ragam nya pada perusahaan hanya dapat menangani item yang sesuai dengan fungsinya, artinya setiap pallet mempunyai fungsi yang spesifik. Pallet pada PT ADM juga berukuran besar, hampir seluruh pallet berukuran panjang dan lebar lebih dari 1 meter, maka tidak baik untuk menyimpannya pada plant tujuan karena akan mengorbankan area untuk menyimpan barang lain yang akan di produksi. Pada cabang kedua terdapat masalah yang muncul dari plant, pada plant tujuan tidak terdapat ruang penyimpanan yang cukup untuk menampung pallet dari tempat asalnya dan juga ada tempat asal yang memiliki kebutuhan barang yang berasal dari plant tujuan awal. Terdapat juga masalah pada tulang ketiga yang bersumber dari material yang diproduksi atau yang akan dibawa oleh pallet. Bentuk dan ukuran material yang di produksi sangat beragam sehingga tidak ada pallet yang dapat menangani beberapa material yang sangat berbeda bentuk dan ukuran nya. Hasil pemikiran dan berdiskusi dengan pekerja dibagian departemen logistik press plant PT ADM didapatkan bahwa masalah utama dari empty running truck cost adalah pallet yang memiliki fungsi spesifik, sehingga pallet tidak membawa barang untuk keperluan produksi mobil pada plant asal.

Setelah mendapatkan masalah utama / root cause dari empty running truck cost, tahap selanjutnya adalah memunculkan sebuah pemecahan terhadap masalah tersebut. Untuk memecahkan masalah fungsi pallet yang spesifik digunakan metode KTDA (Kepner Tregoe decision Analysis). Berikut ini adalah tabel KTDA yang dibuat oleh penulis :

Tabel 2 Kepner Tregoe decision Analysis

Pada tabel KTDA diatas terdapat 3 solusi alternatif yang dapat dilakukan oleh perusahaan, yaitu yang pertama adalah pemberian engsel pada bagian pallet, kedua yaitu pembuatan pallet baru yang multi guna dan yang terakhir adalah pembuatan pallet yang lebih kecil. Terdapat juga kriteria yang wajib dipenuhi, yaitu implementasi yang cepat dan juga tidak menggunakan vendor. Untuk alternatif pembuatan pallet baru yang multi guna mendapatkan no go karena untuk memunculkan ide desain pallet baru akan memakan waktu yang lama, dan juga untuk membuatnya harus menggunakan vendor pembuat pallet karena pembuatan nya akan dilakukan dari awal lagi. Sedangkan untuk alternatif solusi pertama dan ketiga mendapatkan go pada kedua kriteria yang wajib, karena pembuatan nya mudah dan juga hanya memodifikasi pallet yang sudah ada. Sehingga implementasinya dapat dilakukan dengan cepat dan tidak memerlukan vendor untuk mewujudkannya. Alternatif solusi yang mendapatkan go untuk setiap kriteria wajibnya, akan lolos untuk diberikan rating berdasarkan keinginan perusahaan. Pada keinginan/wants yang pertama yaitu pembuatan mudah, alternatif solusi pertama mendapatkan rating 8 dan lebih tinggi 4 poin dari alternatif ketiga karena menambahkan engsel pada bagian yang diperlukan lebih mudah dari alternatif ketiga yang harus membongkar pallet dan melakukan penyesuaian ukurannya. Pada keinginan kedua yaitu memanfaatkan resource (berupa pallet ) yang sudah ada, alternatif pertama dan ketiga mendapatkan rating 8 karena sama-sama dapat menggunakan pallet yang sebelumnya telah tersedia. Pada keinginan yang ketiga yaiu biaya murah, alternatif pertama mendapatkan rating 8 dan lebih tinggi 2 poin dari alternatif ketiga, karena alternatif pertama tidak membutuhkan banyak pekerja, alat dan material tambahan dibandingkan dengan alternatif ketiga. Setelah masing-masing rating dikalikan dengan weight dari keinginan pada setiap alternatif dan di jumlahkan, alternatif pertama lebih mendapatkan score sebesar 152, yaitu lebih unggul sebanyak 36 poin dari alternatif ketiga yang mendapatkan score sebanyak 116. Berdasarkan perbandingan score tersebut maka alternatif pertama adalah jawaban dari pemecahan masalah empty running truck cost pada PT ADM.

UNIVERSITAS PERTAMINA

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

TEKNIK LOGISTIK

26

Gambar 5 Pallet PSO sebelum dimodifikasi

Gambar 4 menunjukan kondisi awal pallet PSO sebelum dimodifikasi untuk meningkatkan efisiensi dalam pengiriman item PSO dan PB. Kondisi awal pallet PSO adalah tidak terdapat sama sekali engsel pada hanger maupun dudukan part yang akan dibawa. Pada kondisi ini juga belum terdapat alas dudukan untuk menumpuk pallet PB.

Gambar 5 menunjukan pallet PSO yang sudah dimodifikasi. Setiap kotak diberikan huruf untuk mempermudah pembaca dalam memahami modifikasi pallet. Huruf A adalah modifikasi dengan memberikan dudukan/alas untuk pallet PB saat dimasukan ke pallet PSO. Huruf B adalah pemberian engsel untuk dudukan karet, fungsinya adalah agar bisa dilipat sebesar 90° searah jarum jam. Modifikasi pada huruf C adalah pemberian engsel pada hanger pallet agar bisa dilipat, sehingga memperluas ruang didalam pallet PSO. Huruf D menunjukan modifikasi dengan pemberian kunci besi/penahan, fungsinya adalah untuk menahan hanger saat diluruskan, namun ketika kunci besi/penahan di lepas maka hanger dapat ditekuk. Modifikasi pada huruf E yaitu pemotongan hanger menjadi dua bagian agar bisa dilipat.

Gambar 7 Pallet PB

Gambar 6 menunjukan penggambaran pallet PB menggunakan AutoCAD yang nantinya akan ditumpuk ke dalam pallet PSO.

UNIVERSITAS PERTAMINA

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

TEKNIK LOGISTIK

28

Gambar 8 Step 1 pengoperasian bagian pallet PSO

Step 1 dalam pengoperasian pallet PSO adalah dengan cara membuka kunci besi/penahan agar hanger dapat leluasa bergerak sesuai dengan arah putar dari engselnya.

Step 2 adalah menekuk hanger bagian depan (bagian yang lebih kecil) sebesar 90° searah jarum jam. Hal ini dilakukan agar nantinya saat hanger ditekuk ke kiri dapat memperluas area pallet.

Gambar 10 Step 3 pengoperasian bagian pallet PSO

Step 3 yaitu menekuk kembali hanger bagian yang lebih kecil (terlihat pada Step 2) sebesar 90° searah jarum jam, sehingga sejajar dengan hanger bagian belakang (hanger yang lebih besar).

UNIVERSITAS PERTAMINA

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

TEKNIK LOGISTIK

30

Gambar 11 Step 4 pengoperasian bagian pallet PSO

Step 4 yaitu menekuk seluruh hanger dari porosnya (engsel bagian belakang yang menempel di pallet) agar dapat memperluas ruang pada pallet PSO. Hanger di tekuk berlawanan arah jarum jam agar tidak mempersempit ruang pada pallet untuk menaruh pallet PB.

Step 5 yaitu menekuk dudukan item PSO bagian bawah sebesar 90° searah jarum jam, hal ini dilakukan untuk memperbesar ruang pada pallet PSO.

Gambar 13 Penumpukan pallet PB ke dalam pallet PSO

Gambar 13 menunjukan penempatan pallet PB ke dalam pallet PSO setelah dilakukan step 5 pada pallet PSO. Penumpukan pallet ini bertujuan untuk mengangkut item PB saat pallet PSO kembali ke plant asalnya. Setelah menyelesaikan model desain pallet maka tahap selanjutnya adalah pembuatan prototype.

UNIVERSITAS PERTAMINA

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

TEKNIK LOGISTIK

32

Gambar 14 Realisasi penumpukan pallet PB ke dalam pallet PSO

Gambar 13 Menunjukkan prototype dari modifikasi pallet PSO yang bisa dimasukan pallet PB sekaligus item PB ke dalamnya untuk meningkatkan efisiensi logistik dalam hal pengiriman barang antar plant.

Setelah melakukan realisasi terhadap pallet, dapat dilihat dari tabel dibawah ini adalah penambahan muatan truk saat kembali ke plant asal dengan menggunakan pallet PSO saat sebelum dimodifikasi dan setelah dimodifikasi serta biaya untuk sekali pengirimannya.

Tabel 3 Perbandingan muatan Truk sebelum dan setelah modifikasi pallet PSO

Berdasarkan Tabel diatas dapat disimpulkan bahwa setelah pallet PSO dimodifikasi, truk dapat memuat barang yang dibutuhkan oleh plant asal dengan biaya pengiriman yang sama dibandingkan dengan saat sebelum dimodifikasi. Biaya/pengiriman sejumlah Rp.1.560.000 adalah biaya yang dikeluarkan satu unit truk dalam mengangkut pallet PSO maupun PB dalam sekali kegiatan pengiriman dari plant asal ke plant tujuan. Hal tersebut membuktikan bahwa modifikasi pallet PSO dengan menggunakan engsel pada bagian pallet berhasil menghilangkan biaya empty running truck cost sebesar Rp.1.560.000 pada saat pallet PSO dan truk saat kembali ke plant asal.

Diketahui juga sebelum pallet PSO dimodifikasi diperlukan 6 kali pengiriman item PSO dan PB dalam satu hari, namun setelah pallet PSO dimodifikasi item PB hanya membutuhkan 3 kali pengirimman karena item tersebut dibawa bersamaan dengan pallet

PSO saat kembali ke plant asalnya. Berdasarkan pernyataan tersebut, dapat dihitung peningkatan efisiensi dari pengiriman pallet PB dengan menghilangkan empty running truk cost sebagai berikut :

Tabel 4 Perbandingan biaya pengiriman sebelum dan setelah modifikasi pallet PSO

Berdasarkan Tabel 4 dapat dihitung peningkatan efisiensi dari kegiatan pengiriman item PSO dan PB yaitu dengan cara membandingkan total biaya/hari sebelum modifikasi pallet PSO dan sesudah modifikasi sebagai berikut.

18.720.000 − 14.040.000

1.872.000 ∗ 100%

Maka hasil dari perhitungan diatas adalah 25%, artinya kegiatan pengiriman item PSO dan PB mengalami peningkatan efisiensi dari biaya pengiriman sebanyak 25%.

Item PSO PB Item PSO PB

Jumlah pengiriman/Hari (kali) 6 6 Biaya/pengiriman (Rupiah) 1.560.000 1.560.000 9.360.000 6 1.560.000 3 1.560.000

Sebelum modifikasi pallet PSO

Setelah modifikasi pallet PSO

Total pengiriman/Hari Biaya/pengiriman (Rupiah) Total biaya/hari 9.360.000 4.680.000 Total biaya/hari 18.720.000 Total biaya/hari 14.040.000 Total biaya/hari 9.360.000

Dokumen terkait