• Tidak ada hasil yang ditemukan

V GAMBARAN UMUM LOKASI DAN RESPONDEN

5.3. Budidaya Paprika Hidroponik

5.3.2. Penyemaian dan Pembibitan

Pada bagian dalam greenhouse penanaman dibuat bedengan-bedengan dimana polybag akan diletakkan di atasnya. Bedengan dibuat dengan lebar 100 cm, tinggi 20-40 cm, dan jarak antar bedengan 80-100 cm, sedangkan panjang bedengan disesuaikan dengan lahan. Bedengan ini sengaja dibuat lebih tinggi dari lantai agar air yang keluar dari polybag akan mengalir sehingga daerah sekitar perakaran tidak akan tergenang oleh air dan mencegah pembusukan akar. Seperti yang terlihat pada Gambar 5b, bedengan juga ditutupi oleh plastik mulsa untuk menghindari kontak langsung dengan tanah yang berpotensi menghasilkan gulma dan bibit penyakit.

Sebelum penanaman, petani melakukan persiapan lahan yang meliputi sanitasi dan sterilisasi greenhouse. Sanitasi dilakukan dengan membuang sisa tanaman yang masih ada dan gulma di dalam greenhouse untuk menghindari penularan penyakit dari tanaman lama. Sementara sterilisasi dilakukan dengan menyemprotkan bahan kimia sejenis lysol dan gramoxone untuk membunuh bibit penyakit yang dapat menyerang tanaman paprika. Untuk musim tanam berikutnya, secara rutin dilakukan pencucian polybag tanam, plastik mulsa, dan atap greenhouse. Pencucian atap greenhouse bertujuan untuk membersihkan plastik UV dari lumut agar tidak menghalangi sinar matahari yang masuk.

5.3.2. Penyemaian dan Pembibitan

Varietas benih paprika merah yang umumnya digunakan oleh petani paprika Desa Pasirlangu adalah Edison, sedangkan benih paprika kuning yang digunakan adalah Sunny dan Capino. Baik varietas paprika merah dan kuning semuanya merupakan benih hibrida F1.

Proses penyemaian benih paprika dilakukan dalam greenhouse khusus dengan ukuran yang lebih kecil yaitu sekitar 16 meter persegi. Sebelum penyemaian, benih terlebih dahulu direndam dalam air hangat selama kurang lebih 60 menit untuk merangsang perkecambahan. Setelah direndam, benih kemudian dikeringkan di tempat teduh. Setelah kering, benih dimasukkan satu per satu ke dalam tray yang telah berisi arang sekam basah. Setelah itu, tray ditutup oleh plastik mulsa hitam perak sampai sekitar 10 hari. Selama benih disemai, petani harus selalu mengontrol suhu, tingkat kelembaban, dan kebasahan media

arang sekam. Suhu yang baik untuk penyemaian berkisar 20-25 C dengan tingkat kelembaban antara 70-90 persen.

Gambar 6. Penyemaian dan Pembibitan Paprika Hidroponik

Benih akan mulai berkecambah setelah berumur 10 hari. Umumnya dari semua benih yang disemai, hanya sekitar 90 persen benih yang berhasil berkecambah. Rata-rata jumlah benih yang disemai oleh responden untuk lahan seluas 1.000 m2 adalah sebanyak 3.869 benih, sehingga potensi bibit yang mungkin dihasilkan yaitu kurang lebih sebanyak 3.482 bibit. Jika telah berkecambah, bibit sudah dapat dipindahkan ke polybag kecil dan diletakkan di tempat yang terang. Selama proses pembibitan, petani harus tetap melakukan penyiraman (tergantung cuaca dan keadaan media arang sekam) dan pengendalian hama seperti thrips.

5.3.3. Penanaman

Rata-rata umur bibit yang digunakan oleh petani responden adalah yang berumur 30 hari. Sementara rekomendasi umur bibit dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran yaitu yang berumur sekitar enam minggu setelah semai. Bibit yang ditanam sebaiknya adalah bibit yang sehat atau tidak terserang hama dan penyakit serta memiliki daun sebanyak 5-8 helai. Media tanam yang akan ditanami bibit terlebih dahulu dibasahi dengan nutrisi kurang lebih sebanyak 500 ml per polybag. Agar bibit tidak patah dan tidak merusak daerah perakaran, maka saat pemindahan ke polybag tanam bibit dilepas dari polybag kecil bersama medianya dengan hati-hati. Bagian bawah polybag penanaman sebelumnya diberi lubang sebanyak 5-10 lubang agar air yang diberikan tidak tergenang untuk mencegah pembusukan akar. Dalam satu polybag biasanya hanya berisi satu

55 tanaman dengan jarak antar tanaman yaitu sekitar 30 x 30 cm. Rata-rata populasi tanaman paprika petani responden yaitu 3,48 pohon per m2.

5.3.4. Pemeliharaan

Pemeliharaan merupakan bagian penting dari tahap budidaya yang akan menentukan keberhasilan produksi paprika. Pemeliharaan tanaman paprika meliputi penyiraman dan pemupukan, pengajiran, pembentukan dan pemilihan batang produksi, pewiwilan, dan pengendalian hama dan penyakit.

5.3.4.1. Penyiraman dan pemupukan

Penyiraman dan pemupukan atau pemberian larutan nutrisi merupakan kegiatan yang sangat vital dalam menunjang pertumbuhan paprika hidroponik. Hal ini disebabkan dalam media tanam arang sekam yang digunakan tidak ada penunjang air dan makanan layaknya tanah. Pemberian air dan pupuk dilakukan secara bersamaan dalam bentuk larutan nutrisi. Sistem tersebut disebut juga fertigasi. Sistem fertigasi yang dilakukan oleh petani responden dan sebagian besar petani paprika hidroponik yang ada di Desa Pasirlangu masih manual, yaitu masih menggunakan selang.

Nutrisi yang digunakan untuk tanaman paprika terdiri atas dua campuran yaitu pupuk A dan B yang dijual sepaket dan dikenal dengan sebutan pupuk AB Mix. Dalam pupuk AB MIX terkandung unsur makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman seperti KNO3, KH2PO4, K2O, MgSO4, CaNO3, SO4, Tenso Fe, MnSO4, H3BO3, CuSO4, dan MO. Dalam penggunaannya, paket pupuk A dan B masing-masing dilarutkan dalam drum terpisah hingga menjadi 100 liter larutan pekat. Untuk menghasilkan larutan nutrisi yang siap siram, dari masing-masing larutan pekat A dan B diambil 5-7 liter dan diencerkan dengan 1.000 liter air.

Gambar 7. Pupuk AB Mix (a) dan Tangki Penampung Nutrisi (b)

Pemberian nutrisi pada tanaman paprika dilakukan setiap hari dengan frekuensi pemberian nutrisi yang dianjurkan sebanyak dua kali per hari pada saat cuaca normal. Dari 59 orang responden, terdapat 12 orang atau 20,34 persen responden yang memberikan nutrisi hanya satu kali per hari ditambah satu kali penyiraman dengan air biasa. Volume pemberian nutrisi diberikan secara berpola sesuai dengan umur tanaman. Tanaman muda diberi nutrisi sebanyak 400 ml per tanaman per hari, tanaman yang sudah mulai berbunga diberi nutrisi sebanyak 600 ml per tanaman per hari, dan tanaman yang sudah memasuki usia produktif atau berbuah diberi nutrisi sebanyak 1.000 ml per tanaman per hari. Untuk tanaman yang menjelang dibongkar maka pemberian nutrisi diturunkan kembali menjadi 400 ml per tanaman per hari. Akan tetapi, para petani responden sebenarnya tidak dapat memastikan secara tepat jumlah nutrisi yang diberikan untuk setiap tanaman karena terkendala oleh sistem fertigasi manual yang mereka gunakan. Rata-rata pupuk AB Mix yang dihabiskan responden untuk satu musim tanam pada greenhouse 1.000 m2 atau 3.482 pohon adalah sekitar 25 paket atau jika dikonversi yaitu sekitar 354.380 liter larutan nutrisi siap pakai.

Selain nutrisi, beberapa petani paprika di Desa Pasirlangu juga memberikan pupuk daun dan pupuk pelengkap cair untuk tanaman paprika. Pupuk daun yang digunakan antara lain Growmore yang berbentuk padat, dosis pemakaiannya yaitu 1 gram per liter air. Sementara pupuk pelengkap cair yang digunakan antara lain Trubus dan Atonic dengan dosis pemakaian 1 ml per liter air. Pupuk daun biasanya dicampurkan bersama dengan larutan pekat pupuk B, sedangkan pupuk pelengkap cair digunakan secara terpisah. Akan tetapi pemberian kedua jenis pupuk ini bersifat kondisional, dapat disesuaikan dengan kondisi tanaman paprika di lahan. Dalam satu musim tanam, rata-rata pupuk daun yang dibutuhkan per 1.000 m2 adalah sebanyak 1,81 kg dan pupuk pelengkap cair sebanyak 2,82 liter.

5.3.4.2. Pengajiran

Pengajiran tanaman paprika dilakukan saat usia 14 hari setelah tanam. Tali yang akan digunakan untuk pengajiran telah diikatkan pada kawat yang melintang. Ujung atas tali ajir diikatkan pada kawat yang melintang di bagian langit-langit greenhouse, sedangkan bagian bawah tali diikatkan pada kawat yang

57 melintang di dekat perakaran tanaman. Pengajiran dilakukan dengan melilitkan tali penyangga tersebut pada batang tanaman paprika.

Gambar 8. Tanaman Paprika yang Dililitkan Tali

Pelilitan harus dilakukan secara rutin karena batang tanaman akan terus tumbuh tinggi. Selain itu lilitan juga harus sesuai, tidak terlalu kencang agar tidak merusak tanaman dan tidak terlalu longgar agar tanaman tidak roboh. Pengajiran bertujuan agar tanaman dapat tumbuh tegak lurus dan kokoh seperti yang terlihat pada Gambar 8.

5.3.4.3. Pemilihan dan Pembentukan Batang Produksi

Pemilihan dan pembentukan batang produksi dilakukan pada saat tanaman paprika berumur 21-30 hari. Dari tiga atau empat cabang yang tumbuh pada ujung batang utama, maka hanya dipilih dua cabang saja yang akan tetap dipelihara. Cabang yang dipilih adalah cabang yang kokoh dan membentuk sudut paling lebar. Cabang yang dibuang dipatahkan secara manual dengan tangan tanpa menggunakan alat bantu. Pemilihan cabang dimaksudkan agar pertumbuhan tanaman optimal sehingga dapat menghasilkan produk yang memiliki kuantitas dan kualitas yang baik.

5.3.4.4. Pewiwilan

Pewiwilan dilakukan dengan melakukan pemangkasan terhadap tunas air dan cabang yang tidak dipelihara, pemangkasan daun dan mahkota bunga, serta penjarangan buah. Pewiwilan atau pemangkasan perlu dilakukan agar nutrisi yang

diberikan tidak terbagi kepada bagian tanaman yang memang tidak memerlukannya. Dengan kata lain, dengan adanya kegiatan pewiwilan maka nutrisi yang diberikan dapat dimanfaatkan dengan tepat sehingga produksi lebih optimal. Kegiatan pewiwilan ini harus dilakukan secara rutin dan kontinyu.

Proses pemangkasan terhadap tunas air dan cabang yang tidak dipelihara serupa dengan proses pemilihan cabang produksi utama yaitu memilih dua dari tiga atau empat cabang yang tumbuh di bagian ketiak daun, sedangkan pemangkasan daun dilakukan dengan membuang daun yang sudah tua atau terkena penyakit seperti embun tepung yang menyebabkan daun menjadi putih dan busuk. Sementara pemangkasan mahkota bunga dilakukan dengan membuang mahkota bunga yang menjadi tempat persembunyian bagi hama thrips. Pemangkasan tunas air yang tidak dipelihara dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9. Proses Pemangkasan Tunas Air yang Tidak Dipelihara

Kegiatan pewiwilan selanjutnya adalah penjarangan buah. Kegiatan penjarangan buah akan menghasilkan buah yang terseleksi dengan baik. Buah yang sebaiknya tidak dipelihara adalah buah yang tumbuh di dekat cabang utama karena jika buah tersebut dibiarkan maka sebagian besar nutrisi akan terserap oleh buah tersebut sehingga dapat menghambat pertumbuhan batang dan mengganggu pertumbuhan buah lainnya. Selain itu jika ada dua buah yang tumbuh secara berdempetan maka harus dipilih salah satu saja, yaitu yang memiliki pertumbuhan lebih baik. Adapun buah yang sudah terserang hama juga sebaiknya tidak perlu dipelihara karena hanya akan menghasilkan buah yang berkualitas rendah.

satu dari tiga tunas air

59

5.3.4.5. Pengendalian Hama dan Penyakit

Tanaman paprika tidak terlepas dari serangan hama dan penyakit. Hama yang menjadi musuh utama petani paprika adalah thrips yaitu berupa serangga kecil. Sementara jenis penyakit yang menyerang tanaman paprika sebagian besar disebabkan oleh jamur, seperti embun tepung serta busuk akar dan batang. Pengendalian hama dan penyakit dapat dilakukan dengan melakukan pengamatan terhadap hama dan penyakit sejak dini, serta pengendalian secara kimia dan mekanik. Pengendalian secara kimia dilakukan dengan menyemprotkan pestisida pada tanaman yang terkena serangan hama dan penyakit, sedangkan pengendalian mekanik dilakukan dengan memasang kertas perangkap berwarna kuning untuk hama thrips dan juga dengan membuang tanaman yang sudah terjangkit penyakit dan berpotensi untuk mati.

Jenis insektisida yang umumnya digunakan antara lain Demolish, Agrimec, Supmax, Tracer, dan Buldok. Petani di Desa Pasirlangu biasa mencampurkan dua jenis insektisida secara bersamaan karena penggunaan dua jenis insektisida dinilai lebih efektif untuk mengendalikan hama thrips dibandingkan dengan hanya menggunakan satu jenis insektisida. Dosis insektisida yang digunakan adalah 0,5-1 ml per liter air per jenis pestisida, sebagai contoh dalam satu liter air petani dapat mencampurkan 0,5 ml Demolish dengan 1 ml Buldok atau 0,5 ml Supmax dengan 1 ml Buldok. Jenis insektisida pencampur yang selalu dipakai adalah Buldok, sedangkan insektisida utama yang digunakan selalu berganti-ganti setiap kegiatan penyemprotan. Penggunaan insektisida yang berganti-ganti dilakukan agar hama thrips tidak menjadi kebal terhadap satu jenis insektisida tertentu.

Penyemprotan insektisida rutin dilakukan setiap satu minggu sekali. Rata-rata insektisida yang dibutuhkan oleh responden dalam satu kali penyemprotan adalah sebanyak 294,98 ml untuk satu greenhouse dengan luas 1.000m2 atau 3.482 tanaman. Jika serangan hama sedang tinggi penyemprotan insektisida dapat dilakukan hingga dua kali dalam seminggu. Selain disemprotkan ke tanaman paprika, petani juga menyemprotkan insektisida pada greenhouse untuk mencegah penyebaran hama yang tersebar melalui lubang kasa pada dinding greenhouse.

Selain insektisida, petani juga menggunakan fungisida untuk mengendalikan penyakit pada tanaman paprika yang disebabkan oleh jamur. Jenis fungsisida yang umumnya digunakan petani adalah Score dan Amistartop dengan dosis pemakaian 0,25-0,5 ml per liter air. Sama seperti pupuk daun, penggunaan fungisida juga bersifat kondisional yaitu dapat disesuaikan dengan kondisi tanaman di lapang. Dalam satu musim tanam, rata-rata kebutuhan fungisida untuk lahan seluas 1.000 m2 adalah sebanyak 909,32 ml. Penyemprotan fungsida dapat dilakukan bersamaan dengan penyemprotan insektisida maupun secara terpisah.

Dokumen terkait