∴
33
PENYEMBUHAN WASWAS DAN
KESURUPAN MELALUI RUQYAH
Pada dasarnya, semua penyakit dapat disembuhkan dengan ruqyah apabila memenuhi tiga syarat yang disebutkan di atas. Namun, untuk penyakit-penyakit jasmani dianjurkan untuk mencari obatnya yang cocok dari material-material yang ada sambil berdoa memohon kesembuhan kepada Allah. Dalam tradisi umat Islam, khususnya di Indonesia, ruqyah selalu digunakan untuk penyakit-penyakit yang ditimbulkan oleh setan, baik melalui cara-cara menciptakan perasaan waswas maupun dengan merasuk ke dalam tubuhnya. Inilah yang akan diuraikan pada bagian ini, insya Allah.
A. Hakikat Penyakit Waswas dan Kesurupan Para ulama salaf mengakui bahwa jin dapat merasuk ke dalam jasad manusia karena adanya wahyu mengsinyalir hal tersebut. Namun, kalangan rasional Islam, khususnya muktazilah, sebagaimana
dikemukakan Ibrahim Kamal, bahwa kesurupan yang sering dialami seseorang bukanlah karena melihat sesuatu dalam alam sadarnya.
Di samping itu, ada pula pendapat yang mencoba mengambil jalan tengah dengan melihatnya dari sudut pandang agama dan ilmu pengetahuan. Pendapat ini dari satu sisi mengakui bahwa jin tidak mungkin merasuki manusia tetapi di sisi lain juga menyetujui bahwa penyakit waswas itu memang ada dalam kenyataan. Mereka mengatakan bahwa jin dapat menghembuskan perasaan waswas dalam dada manusia. Perasaan waswas itu sendiri merupakan potensi dalam jiwa manusia dan kalau sudah muncul lalu dibenarkan dan mengikuti informasinya, maka bisikan-bisikan itu akan menggiring manusia untuk berbuat dan mengikuti bisikan dan sugesti tersebut. Inilah yang sering digunakan atau dimanfaatkan oleh para ahli hipnotis. Sugesti yang dilakukan oleh tukang hipnotis kepada seseorang akan mengendalikan orang tersebut sesuai dengan keinginannya. Pengaruh hipnotis tersebut dapat berlangsung hanya beberapa saat, tetapi juga dapat berlangsung lama. Demikianlah hanya dengan antara manusia dan jin. Jin dapat diposisikan sebagai tukang hipnotis dan obyeknya adalah manusia. Jin atau setan kemudian melakukan sugesti atau bisikan-bisikan sesuai dengan keinginannya kepada manusia tersebut. Bila manusia mengikuti keinginan setan, maka dalam keadaan itulah ia akan dapat berbuat sesuatu yang di luar kendali kesadarannya, seperti halnya orang gila.
Namun, apapun alasannya, pendapat tersebut di satu sisi dapat dibenarkan. Namun, suatu hal yang pasti bahwa jin atau setan dalam mengganggu manusia tidak hanya pada tingkat perasaan saja, tetapi lebih dari itu, mereka dapat merasuki manusia sehingga dapat merusak akal pikirannya, sehingga perbuatan-perbuatannya menyalahi perbuatan orang waras. Seseorang yang terkena penyakit waswas senantiasa merasa ragu-ragu atas keabsahan suatu ibadah yang telah dilakukannya, misalnya ketika selesai berwudhu, tiba-tiba saja muncul perasaan bahwa wudhunya itu belum sempurna atau belum sah sehingga biasanya melakukan wudhu berkali-kali untuk satu shalat fardhu. Perasaannya senantiasa tidak yakin atas apa yang telah dilakukannya.
Bagaimana membedakan antara orang yang terkena penyakit waswas dengan orang kesurupan? Berikut beberapa hal yang membedakan antara waswas dan kesurupan:
1. Orang waswas tidak mungkin disembuhkan dengan hanya satu kali pengobatan, sedangkan orang kesurupan dapat disadarkan dengan satu kali atau beberapa kali pengobatan.
2. Orang waswas yang telah sembuh setelah melalui beberapa kali terapi, suatu saat kemungkinan untuk muncul kembali sangat besar, sedangkan orang yang kesurupan jarang sekali kambuh kembali setelah diobati.
3. Orang waswas membutuhkan penyembu-han melalui terapi psikologis, sementara orang kesurupan tidak memerlukan terapi psikologis, tetapi bila dibacakan ayat-ayat al-Qur’an tertentu, atau tekhnik tertentu maka jin yang merasukinya akan berteriak-teriak dan meminta dihentikan bacaan atau kegiatan tersebut.
4. Yang membisikan rasa waswas akan meng-gunakan bahasa yang umum dimeng-gunakan oleh penderita sehingga ucapan-ucapannya dapat dimengerti, tetapi orang kesurupan terkadang menggunakan bahasa yang aneh, bahkan dengan bahasa yang tidak dapat dipahami oleh orang sekitarnya.
5. Orang waswas tidak akan hilang penge-tahuan yang telah dimiliki sebelumnya, sementara orang kesurupan lupa atas pengetahuan itu dan mengemukan infor-masi lain.
6. Orang waswas kalau dipukul maka dia akan merasakan sakit, dan mungkin dapat bertahan lama, sementara orang kesurupan bila dipukul, maka tidak merasakan apa-apa selama jin masih ada dalam tubuhnya. Rasa sakit akan ia rasakan manakala jin sudah keluar dari tubuhnya.
B. Metode Penyembuhan Waswas
Cara yang paling manjur untuk menyembuhkan penyakit waswas adalah kembali memahami al-Qur’an dan Sunnah, memperkuat
tauhid secara murni kepada Allah, dan menghadap kepadanya melalui zikir dan doa. Di samping itu, seseorang yang terkena penyakit waswas ini juga harus mempersiapkan diri jiwa dan raganya untuk memerangi setan. Artinya, seorang mukmin harus dapat membentengi diri untuk tidak terpengaruh apalagi menjadi kaki tangan setan yang justru merupakan sumber penyakit waswas ini. Setan memang memiliki kepentingan dengan menimbulkan rasa waswas dalam diri seorang mukmin, yaitu agar memiliki kawan di dalam neraka jahannam.
Muhammad ibn Muflih dalam bukunya
Mashaib al-Insan, menceritakan bahwa Ibn Aqil pernah ditanya tentang seseorang yang berkali-kali menceburkan diri ke dalam air lalu bertanya, apakah mandinya itu sah atau tidak? Kepada orang itu, Ibn Aqil mengatakan, “Pergilah! Kamu tidak wajib shalat.” Orang itu bertanya, “Mengapa tidak wajib?” Ibn Aqil menjawab, “Karena Rasulullah Saw pernah bersabda, “Kewajiban diangkat dari tiga kelompok, salah satunya adalah orang gila sampai ia waras.” (HR. Abu Dawud, Nasai dan Ahmad). Orang yang berkali-kali menceburkan diri ke dalam air lalu merasa tidak terkena air maka orang itu gila.”
Ibn al-Qayyim mengatakan bahwa bagi orang yang terkena penyakit waswas dan ingin sembuh maka dia harus meyakini bahwa kebenaran itu adalah dengan mengikuti segala ucapan dan perbuatan Rasulullah Saw serta bertekad untuk mengikuti jalan hidup beliau dan berkeyakinan
bahwa dirinya sedang berada dalam jalan yang benar dan segala yang bertentangan dengan itu merupakan bisikan dan waswas yang dihembuskan oleh setan. Orang waswas harus meyakini bahwa setan adalah musuh yang tidak pernah mengajak kepada kebaikan, sebagaimana firman Allah :
ﱠنِإ
َنﺎَﻄْﻴـــﱠﺸﻟا
ْﻢـــُﻜَﻟ
ﱞوُﺪـــَﻋ
ُﻩوُﺬـــِﺨﱠﺗﺎَﻓ
اًوُﺪـــَﻋ
ﺎـــَﻤﱠﻧِإ
ﻮُﻋْﺪـــَﻳ
ُﻪـــَﺑْﺰِﺣ
اﻮُﻧﻮُﻜَﻴِﻟ
ْﻦِﻣ
ِبﺎَﺤْﺻَأ
ِﺮﻴِﻌﱠﺴﻟا
Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Q.S. Fathir : 6)
Selain itu, orang waswas harus mampu meninggalkan segala hal yang tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah Saw karena jalan beliaulah yang merupakan jalan kebenaran. Orang yang tidak meyakini akan kebenaran Rasulullah Saw tidaklah termasuk seorang muslim, dan kalau sudah tahu akan hal itu, maka jalan mana lagi yang harus dipilih selain mengikuti sunnahnya! Orang waswas harus mengatakan kepada dirinya sendiri, “Bukankah kamu tahu bahwa ajaran Rasulullah Saw adalah suatu kebenaran? Kalau ia menjawab, “Ya”, maka katakan kepadanya, “Apakah Rasulullah Saw melakukan apa kamu lakukan?.” Jika ia mengatakan, “Tidak”, maka katakan padanya, “Kalau begitu, bukankah selain kebenaran itu pasti
adalah kesesatan! Bukankah selain jalan ke surga adalah jalan ke neraka! Bukankah selain jalan Allah dan Rasulullah Saw adalah jalannya setan! Dan, jika engkau mengikuti jalan setan, berarti kamu temannya setan! Kamu pasti akan membacakan firman Allah :
َﺖْﻴَﻟﺎَﻳ
ﻲِﻨْﻴَـﺑ
َﻚَﻨْـﻴَـﺑَو
َﺪْﻌُـﺑ
ِﻦْﻴَـﻗِﺮْﺸَﻤْﻟا
َﺲْﺌِﺒَﻓ
ُﻦﻳِﺮَﻘْﻟا
Sehingga apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada Kami (di hari kiamat) dia berkata: "Aduhai, semoga (jarak) antaraku dan kamu seperti jarak antara masyriq dan maghrib, maka syaitan itu adalah sejahat-jahat teman (yang menyertai manusia)". (Q.S. al-Zukhruf : 38)
Untuk itu, seorang yang mengalami penyakit waswas hendaklah belajar dari bagaimana para sahabat dan generasi Islam awal dalam mengikuti cara hidup Rasulullah Saw. Hanya dengan begitu, penyakit itu lambat laun akan hilang.
Ibn al-Qayyim menceritakan tentang ulama salaf yang bertanya kepada murid, “Apa yang akan kamu lakukan jikalau setan mengajakmu kepada kejahatan?” Sang murid menjawab, “Saya akan melawannya.” Guru bertanya lagi, “Bagaimana kalau setan itu kembali lagi?” Sang murid menjawab lagi, “Saya akan melawannya.” Pertanyaan dan jawaban yang sama diulang berkali-kali antara guru dan murid. Guru kemudian berkata, “Usaha ini tentu panjang. Bagaimana pendapatmu jika kamu
membawa kambing lalu ada anjing yang menggonggong kepadamu atau menghalangi kamu untuk menyeberang jalan?” Murid menjawab, “Saya akan mengusirnya dan mungkin berkali-kali.” Guru berkata, “Itu memang sesuatu yang akan lama prosesnya, tetapi sambil berusaha kamu harus memohon kepada pemilik kambing itu untuk mencegah anjing-anjing itu mengganggumu!”
Muhammad ibn Muflih juga mengutip kisah Ahmad ibn Abi al-Harawi yang mengadu kepada Abu Sulaiman al-Darani tentang waswas dalam shalatnya. Abu Sulaiman berkata kepadanya, “Jika kamu ingin lepas dari rasa waswas tersebut, maka jika perasaan itu datang, bergembiralah! Sesungguhnya jika engkau bergembira maka perasaan waswas itu akan hilang karena salah satu yang paling dibenci oleh setan adalah gembiranya seorang mukmin. Tetapi, jika kamu ragu, maka setan akan menambah keraguanmu itu. Sebagian ulama berpendapat, waswas itu merupakan ujian yang ditujukan kepada orang yang sempurna imannya sebagai target para setan, karena pencuri saja tidak akan memilih rumah yang sudah rubuh.
Syaikh Abdurrahman al-Nashir al-Sa’adiy dalam al-Fataawa al-Sa`adiyah menjelaskan hadis tentang waswas sebagai bukti iman yang kuat dengan mengatakan bahwa hal itu disebabkan karena perasaan waswas yang ada di dalam hati akan menafikan akan apa yang diajarkan oleh Allah dan rasul-Nya, sementara seorang mukmin yang sejati tidak akan ragu dengan apa yang disampaikan oleh Allah dan rasul-Nya. Setan senantiasa akan
terus melakukan bisikan-bisikan yang dapat membuat orang ragu-ragu terhadap kebenaran yang sudah diterimanya. Akan tetapi, seorang mukmin yang kuat iman dan keyakinannya akan menafikan semua bisikan setan tersebut dan akan sangat membencinya, hatinya akan selalu dalam keadaan aman tak tergoyahkan. Bahkan, bagi seorang mukmin, keraguan itu justru akan meningkatkan kualitas imannya karena adanya tantangan baru baginya. Dengan adanya waswas tersebut, seorang mukmin akan semakin dekat dengan tuhannya karena senantiasa akan berlindung kepada-Nya dari segala perasaan yang dapat menggoyahkan imannya.
Kalau seorang mukmin memohon perlindungan Allah dari perasaan waswas tersebut itu berarti memohon terhindar dari kejahatan dan hal-hal yang tidak disenangi. Kembali kepada Allah dan rasul-Nya serta mengakui keesaan dan sifat-sifat-Nya termasuk bentuk kembali kepada sesuatu yang sudah pasti yang dengan sendirinya dapat menolak segala bentuk keraguan. Memohon perlindungan Allah artinya memohon pertolongan Allah untuk melawannya. Inilah faktor-faktor yang dapat menghilangkan segala bentuk keraguan akibat waswas. Apabila kebenaran itu telah terpatri di dalam hati seorang mukmin dan mengetahuinya dengan sungguh-sungguh maka tidak dirinya tidak akan pernah lagi merasa waswas. Seorang mukmin mengetahui betul bahwa apa yang tidak benar pasti kebatilan. Semuanya tentu dengan memohon pertolongan kepada Allah Swt dan hanya
kepada-Nyalah kita harus memohon segala kebaikan dan perlindungan dari segala kejahatan.
Bagi al-Sa`adiy, obat satu-satunya untuk penyakit waswas adalah memohon kesembuhan kepada Allah, berlindung kepada-Nya dari gangguan setan yang terkutuk, berjuang untuk menghilangkan perasaan waswas, tidak membiarkan pikiran larut dalam perasaan itu karena bila tenggelam di dalamnya maka perasaan waswas akan semakin kuat, tetapi bila ada usaha untuk melepaskan diri daripadanya maka insya Allah, lambat laun akan hilang dengan sendirinya.
Syaikh Abdullah ibn Abdurrahman al-Jibrin mengemukakan sejumlah hal-hal yang dapat menghindarkan manusia dari perasaan waswas yang ditiupkan oleh setan sebagai berikut.
1. Harus memperbanyak mohon perlindungan kepada Allah dan kejahatan dan bisikan setan dan berkeyakinan penuh bahwa yang dapat menghindarkan dan menjauhkan manusia daripadanya hanyalah Allah semata.
2. Menghilangkan segala bentuk khayalan dan bisikan yang dapat menyebabkan timbulnya keraguan dalam akidah, agama, kesucian, shalat, dan sebagainya. Selain itu, ia harus memiliki keyakinan mutlak bahwa apa yang diajarkan Allah itulah yang sebenarnya dan apa yang dibisikkan oleh setan itu adalah kebatilan.
Sementara itu, Syaikh Muhammad ibn Shalih al-`Atsimin memberikan beberapa langkah untuk mengatasi penyakit waswas, sebagai berikut:
1. Memohon perlindungan Allah dan menghentikan secara total hal-hal yang dapat menimbulkan keraguan.
2. Mengingat (zikir) kepada Allah dan melatih dan memastikan diri untuk tidak larut dalam perasaan waswas.
3. Bersungguh-sungguh dalam ibadah akan mengalihkan perhatian kepada Allah dan meninggalkan larut dalam perasaan waswas. 4. Banyak-banyak bergantung kepada Allah
dan berdoa kepada-Nya.
Selain itu, Nabi Saw juga mengajarkan bahwa apabila timbul perasaan ragu-ragu dalam suatu ibadah maka hendaklah melakukan sujud sahwi karena sujud sahwi itu akan dapat menuddukkan setan. Hal ini didasarkan pada riwayat Abu Said al-Khudhri yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda:
اَذِإ
ﱠﻚـــَﺷ
ْﻢُﻛُﺪـــَﺣَأ
ﻰـــِﻓ
ِﻪِﺗَﻼـــَﺻ
ْﻢـــَﻠَـﻓ
ِرْﺪـــَﻳ
ْﻢـــَﻛ
ﻰﱠﻠـــَﺻ
ﺎـــًﺛَﻼَﺛ
ْمَأ
ﺎًﻌَـﺑْرَأ
ِحَﺮْﻄَﻴْﻠَـﻓ
ﱠﻚﱠﺸﻟا
ِﻦْﺒَﻴْﻟَو
ﻰَﻠَﻋ
ﺎـَﻣ
َﻦَﻘْـﻴَـﺘـْﺳا
ﱠﻢـُﺛ
ُﺪُﺠـْﺴَﻳ
َﻞـْﺒَـﻗ
ْنَأ
َﻢﱢﻠَﺴُﻳ
ْنِﺈَﻓ
َنﺎَﻛ
ﻰﱠﻠَﺻ
ﺎًﺴْﻤَﺧ
ِﻦَﻌَﻔَﺷ
ُﻪـَﻟ
،ُﻪُﺗَﻼـَﺻ
ْنِإَو
ـَﻛ
َنﺎ
ﻰﱠﻠَﺻ
ﺎًﻣﺎَﻤْﺗِإ
ٍﻊَﺑْرَﻷ
ﺎَﺘَـﻧﺎَﻛ
ﺎًﻤْﻴِﻏْﺮَـﺗ
ِنﺎَﻄْﻴﱠﺸﻠِﻟ
“Apabila di antara kalian ragu dalam shalatnya dan tidak tahu berapa rakaat yang telah
dilakukannya, apakah tiga atau empat, maka hendaklah ia tinggalkan keraguan itu dan memilih apa yang diyakini di antaranya kemudian hendaklah ia bersujud sebelum melakukan salam. Kalau shalatnya ternyata lima rakaat, maka (kelebihan) itu akan menjadi syafaat baginya; dan ternyata shalatnya empat rakaat maka dua kali sujud sahwi itu akan menundukkan setan” (HR. Muslim)
C. Metode Penyembuhan Kesurupan/Kerasukan Cara melakukan ruqyah untuk orang kesurupan atau kerasukan adalah : 1) membacakan ayat, nama atau sifat Allah tertentu lalu meniupkan kepada orang sakit; atau 2) membacakan pada air lalu diminumkan kepada orang sakit. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah Saw.
ﱠنَأ
ﱠﻲـــِﺒﱠﻨﻟا
ﻰﱠﻠــــَﺻ
ُﷲا
ِﻪـــْﻴَﻠَﻋ
َﻢﱠﻠــــَﺳَو
َﺬـــَﺧَأ
ﺎــــًﺑاَﺮُـﺗ
ْﻦـــِﻣ
ٍنﺎــــَﺤْﻄَﺑ
،
ُﻪَﻠَﻌَﺠَﻓ
ﻲِﻓ
ٍحْﺪَﻗ
،
ﱠﻢُﺛ
َﺚﱠﻔَـﻧ
ِﻪْﻴَﻠَﻋ
،
ُﻪﱠﺒَﺻَو
ِﻪْﻴَﻠَﻋ
Bahwasanya Nabi Saw mengambil debu dari tanah kerikil dan menaruhnya ke dalam gelas kemudian ditiupnya gelas itu lalu ditempelkan pada bagian yang sakit. (HR. Abu Dawud dari Tsabit ibn Qais).
Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa kalau ada orang mengadu sakit ayan atau luka, kepada Nabi Saw maka beliau mengambil air liur dari mulutnya dengan menggunakan jari telunjuk. Setelah itu, jari
telunjuknya disentuhkan ke tanah kemudian mengusapkan pada bagian yang luka atau sakit sambil membaca doa:
ِﻢْﺳﺎِﺑ
،ِﷲا
َﺑْﺮُـﺗ
ُﺔ
،ﺎَﻨِﺿْرَأ
ِﺔَﻘْـﻳِﺮِﺑ
ﺎَﻨِﻀْﻌَـﺑ
َﻰِﻔْﺸُﻴِﻟ
ِﻪِﺑ
،ﺎَﻨَﻤْﻴِﻘَﺳ
ِنْذِﺈـِﺑ
ﺎَﻨﱢـﺑَر
Dengan nama Allah, dengan debu bumi kita dan air liur dari sebagian kita, untuk menyembuhkan penyakit kita dengan ijin Allah, tuhan kita. (HR. Bukhari dan Muslim)
Utsman ibn Abi al-`Ash al-Tsaqafiy men-ceritakan bahwa dirinya pernah datang kepada Rasulullah mengadukan bahwa sejak masuk Islam perutnya selalu sakit kemudian Rasulullah Saw menyuruh dirinya untuk meletakkan tangannya pada bagian yang sakit sambil membaca basmalah tiga kali :
ِﺑ
ْﺴ
ِﻢ
ِﷲا
Dengan nama Allah.
Dan membaca doa berikut sebanyak tujuh kali :
ُذْﻮُﻋَأ
ِﷲﺎِﺑ
ِﻪِﺗَرْﺪُﻗَو
ْﻦِﻣ
ﱢﺮَﺷ
ﺎَﻣ
ُﺪِﺟَأ
ُرِذﺎَﺣُأَو
Aku berlindung kepada Allah dan kekuasannya dari segala keburukan yang saya rasakan dan khawatirkan. (HR. Muslim).
Utsman ibn Abi al-`Ash al-Tsaqafiy juga menceritakan bahwa ketika dirinya diminta oleh
Rasulullah bertugas ke Thaif, maka ketika shalat selalu saja ada yang mengganggu sehingga tidak tahu sedang menunaikan shalat apa yang diperbuatnya. Lalu, Utsman ibn al-`Ash mendatangi Rasulullah Saw dan menceritakan apa yang dialaminya, lalu Rasulullah Saw bersabda, “Itu adalah setan”. Rasulullah Saw meminta dirinya untuk mendekat sambil duduk di atas dua telapak kakinya. Rasulullah Saw lalu memukul dada Utsman dan membuka mulutnya kemudian meludahinya seraya berkata, “Keluar wahai musuh Allah”. Tindakan itu dilakukan Rasulullah sebanyak tiga kali kemudian Rasulullah Saw bersabda, “Kebenaran itu apa yang kamu lakukan.” Sejak itu, Utsman ibn al-`Ash tidak lagi pernah merasakan gangguan dalam shalatnya. (HR. Ibn Majah dengan sanad yang shahih)