• Tidak ada hasil yang ditemukan

PARADIGMA BERPIKIR

A. Analisa Data 1 Responden

2. Penyesuaian Seksual a Perilaku terhadap seks

Sejak kecil hingga dewasa, RW tidak pernah mendapatkan informasi mengenai seks dari orangtua atau pun dari keluarganya. Hal ini dikarenakan mengkomunikasikan masalah seksual dianggap sebagai hal yang tabu oleh

keluarganya. Informasi mengenai seksual mulai di dapatkan RW ketika ia memasuki masa remajanya. Informasi seksual tersebut di dapatkan RW dari berbagai sumber, seperti informasi seksual yang diberikan dari sekolah ketika ia menduduki bangku SMA, dari obrolan bersama teman temannya, dari majalah atau pun di dapatkan melalui berbagai literature, majalah dan buku.

Nggak ada! Karena tabu gitu, malu untuk bicarain hal seperti itu, jadi nggak pernah dapet informasi lah kalo dari orangtua.

(W2.R1.B. 867-871/hal.41)

Sebelum menikah, pernah. Infomasinya itu kan dari sekolah ya kan ada pelajarannya SMA, kadang dari teman-teman, kalo dulu kan internet nggak gitu mudah diakses kayak sekarang. Selain itu juga dari buku-buku atau majalah lah.

(W2.R1.B. 855-863/hal.41)

i. Pengalaman seks masa lalu

Tanggapan RW mengenai perilaku seksual sebelum menikah adalah boleh dilakukan, seperti berciuman atau berpelukan bersama pasangan. Hal ini dikarenakan ada perasaan cinta dan keinginan untuk melakukan hal tersebut bersama pasangan. Namun, perilaku seksual tersebut dilakukan hanya sekedarnya saja dan tidak boleh melawati batas, seperti melakukan hubungan intim. Menurut RW, perilaku seksual yang berlebihan adalah perilaku yang tidak seharusnya dilakukan sebelum menikah dan memiliki konsekuensi negatif yaitu menyebabkan kehamilan yang nantinya akan mempermalukan keluarga.

Jadi ya, kalo tanggapan kakak tentang seks sebelum menikah yah sekedar aja lah, jangan sampai berlebihan gitu. Memang sih kalo kita cinta, suka, keinginan untuk seksual itu pasti ada, palingan kaya ciuman atau pelukan itu udah cukup lah. Soalnya sebelum menikah kita juga jaga diri kita lah jangan sampai kelewatan gitu sampai berhubungan intim, terus hamil kan buat malu keluarga, diri kita juga. Jadi nggak lah kalo yang berlebihan.

Pengalaman seksual RW sebelum menikah juga tidak sampai pada tahap melakukan hubungan intim. Perilaku seksual yang RW lakukan bersama pasangannya sebelum ia menikah adalah berciuman. RW menganggap perilaku seksualnya dimasa lalu adalah hal yang wajar, karena ia tidak melakukan hubungan intim dan tetap bisa menjaga kesuciannya sebagai seorang wanita yaitu keperawanan. RW juga menganggap bahwa perilaku seksualnya dulu merupakan wujud dari perasaan cinta dan rasa suka terhadap kekasihnya.

(tertawa) kalo kakak sih waktu pacaran itu yahkissing ya ciuman di bibir, di bagian muka lah sama bagian leher (tertawa) itu sih. Tapi biasanya cuma sampai ciuman bibir.

(W2.R1.B. 915-921/hal.42)

Kalo kakak ya anggapnya itu wajar gitu, toh kakak kan nggak melakukan sampai kelewatan batas. Kakak tetap menjaga apa yang wanita jaga gitu kan, kesucian kakak. Jadi kalo Cuma ciuman-ciuman aja itu wajar, namanya juga pacaran itu kan sebagai tanda kita cinta, suka sama pacar kita, itu juga bedanya kita bekawan sama pacaran kan.

(W2.R1.B. 924-937/hal.42)

c. Dorongan seksual

Setelah menikah, RW merasa puas dengan kehidupan seksualnya. RW juga menganggap bahwa hubungan seksual didalam pernikahannya adalah hal yang paling penting. Ketika RW akan melakukan melakukan hubungan seksual di malam pertamanya bersama suami, ia merasa sedikit cemas, namun setelah dijalani ia pun merasa terbiasa. Dari pengalaman pertamanya RW belajar mengenai seks.

Kalo kakak bilang kakak merasa puas dengan hubungan seksual kakak ya (tertawa). Hubungan seksual itu kalo menurut kakak sih penting, nomor satu gitu soalnya kan kebahagian itu nggak akan sempurna kalo nggak ada kepuasan dalam seksual.

(W2.R1.B. 942-951/hal.42-43)

Deg-degan rasanya, tapi waktu dijalanin biasa aja sih, nerima aja. Cuman jadinya setelah itu kakak nanggepinya punya suami dia itu kita mesti kuat fisik, terus mesti pande roman Pande ini lah belai-belai, merangsang dia supaya bisa bergairah gitu kan.

(W2.R1.B.1062-1073/hal.45)

Dorongan seksual wanita biasanya berkembang dan muncul secara periodik dengan turun naik selama siklus menstruasi. Hal ini biasanya akan mempengaruhi minat dan kenikmatan akan seks. Ketika RW sedang mendapatkan menstruasi, ia dan suaminya biasnya tidak melakukan hubungan intim. Hal ini dikarenakan RW dan suami memang tidak ingin melakukannya.

Kalo lagi haid nggak, dianya juga nggak mau, kakak juga nggak mau. Paling nggak setelah bersih seminggu baru lah berhubungan gitu. Tapi dulu pernah sih kakak pancing, mau tahu aja mau atau nggak, tapi dianya tetap nggak mau.

(W2.R1.B.955-963/hal.43)

Ketika dorongan seksual RW sedang turun, biasanya RW tidak berniat untuk melakukan hubungan intim. Saat masa ini terjadi, untuk menolak ajakan suaminya melakukan hubungan intim, biasanya RW akan tidur lebih cepat. Tindakan RW tersebut membuat suami memberikan komplain kepada RW.

Paling kakak tidur duluan gitu, soalnya kita kan tahu tuh kode-kode (tertawa) seperti nungguin di kamar, atau dia mandi sebelum tidur atau misalnya dia siap-siap untuk lah untuk berhubungan, jadi kakak tidur duluan gitu kalo nolaknya secara halus lah.

(W2.R1.B.959-968/hal.43)

Dia juga nggak pernah maksa kalo kakak udah tidur, cuman besok paginya pasti komplain gitu (tertawa) kamu kok tidur sih, gitu.

Cara lainnya untuk menolak keinginan suami yang ingin melakukan hubungan intim adalah dengan menyampaikan secara langsung kepada suami bahwa ia sedang tidak bergairah untuk melakukan hubungan intim. Namun, suami RW biasanya akan mencoba untuk merangsang RW dan membuat RW bergairah untuk melakukan hubungan intim tersebut. Ketika RW tetap tidak bergairah untuk melakukannya, maka suami RW tidak akan memaksakan RW untuk harus melakukan hubungan tersebut.

Kalo nggak kakak bilang, lagi nggak mood nih, gitu. (W2.R1.B.974-975/hal.43)

Sebenarnya sih dia punya cara gimana pada akhirnya dia mau yang tadinya kita nggak kepingin, dia tahu /gimana caranya kita jadi mau. Cuman dia lihat kondisi kita dulu, kalo misalnya memang kakaknya dilihat nggak pengen terus dirangsang lah untuk mau tapi dia tahu kita lagi nggak pingin, dianya juga jadi nggak mood gitu. Dia Jadinya nggak mau maksain. Jadi dia itu maunya kita siap, dia juga siap.

(W2.R1.B.976-1001/hal.43-44)

Namun, ketidakinginan RW untuk melakukan hubungan seksual tidak pernah menjadi pemasalahan besar diantara mereka, karena suami RW tidak pernah memaksa RW untuk melakukan hubungan intim jika RW memang tidak berminat dan tidak bergairah. Hal ini dikarenakan kebutuhan seksual suami sendiri sebenarnya sudah terpenuhi ketika dorongan seksual RW naik, dalam artian disaat RW bergairah dan siap untuk melakukan hubungan intim, maka suaminya pun siap untuk melakukannya.

Nggak pernah sih, dia cuma bilang kalo nggak mau nggak usah paksain, saya juga jadi nggak semangat. Gitu sih katanya, tapi dia nggak pernah marah atau paksain kakak harus mau gitu, nggak.

Kalo kakak siap dia oke,oke aja tuh. Karena dia kan kesini juga butuh hubungan seks itu juga kan, jadi itu tugas kakak lah melayani suami.

(W2.R1.B.1017-1022/hal.44)

Saat dorongan seksual RW sedang naik, tetapi suami sedang berada di Prancis, maka cara RW untuk menyalurkan dorongan seksualnya adalah dengan membaca cerita seks atau menonton film porno. Selain itu, RW pernah meminta suaminya untuk membeli vibrator yang merupakan alat yang menyerupai penis. Namun suami belum membelikan alat tersebut karena tahu bahwa RW tidak suka memasuki sesuatu kedalam vagina. RW juga merasa tidak yakin untuk menggunakan alat tersebut, sehingga RW tidak memaksakan suaminya untuk membeli alat tersebut.

Yang pasti kakak nggak banyak melamun, soalnya kalo melamun keingat- ingat jadinya pingin gitu. Tapi kalo memang lagi naik ntar kakak lihat internet, kakak kadang baca tentang cerita dewasa gitu (tertawa), ya gitu aja sih kan klimaksnya cepat itu Cuma buat puas-puasin aja, nggak martubasi juga. Kadang juga nonton film biru.

(W2.R1.B.1026-1038/hal.44-45)

Kemarin kakak pernah sempat minta beli vibrator yang mirip-mirip, maaf ya.. penis itu kan, dia alat bisa getar gitu tapi belum dibeliin sih. Cuma dia tahu kakak, kakak modelnya nggak mau memasuki sesuatu kedalam itu nggak mau kakak, jadi katanya ntar saya beli kamu nggak mau gunain. Kakak pun nggak maksain juga, soalnya kalo kita gunain, dimasukin sendiri rasanya sakit, perempuan punya kan fleksibel, kalo dipaksain masukin kan jadinya sakit, makanya nggak mau lah (tertawa).

(W2.R1.B.1038-1057/hal.45)

d. Pengalaman seks marital awal

Di kehidupan seksualnya bersama suami, RW dan suami tidak menggunakan alat kontrasepsi atau pun menggunakan alat dan obat yang berhubungan dengan mengontrol kehamilan. Hal ini dikarenakan sikap suaminya

yang tidak percaya terhadap alat kontrasepsi seperti kondom yang dapat mengontrol dan mencegah kehamilan. Selain itu juga, RW enggan mengkonsumsi obat kontrasepsi, sehingga RW mengikuti keinginan suaminya untuk berhubungan seks tanpa menggunakan alat dan obat kontrasepsi.

Nggak ada! Karena dia nggak percaya, kalo pake kondom nanti bocor. Kalo kita KB takut lupa makan obat.

(W2.R1.B.1092-1096/hal.46)

Nggak suka sih, risih kalo pake kondom gitu, kan ada ya buat cewek kan, dulu pernah digunain tapi nggak suka. Kalo KB kakak rasa ribet kayak minum pil kan. Terus kalo pasang KB juga nggak mau karena suami juga nggak usah katanya.

(W2.R1.B.1076-1084/hal.45-46)

Selain itu, ada berbedaan keinginan antara RW dan suami dalam hal memiliki jumlah anak. RW memiliki keinginan untuk menambah anak, sedangkan suaminya tidak ingin menambah anak atau memberikan adik untuk anak mereka Kayla. Alasan suami untuk tidak menambah anak dikarenakan kondisi ekonomi di dalam pernikahan mereka. Suami merasa bahwa lebih baik ia dan RW memiliki anak satu dari pada memiliki anak dengan jumlah yang banyak namun nutrisi pada anak tidak terpenuhi.

Kakak sebenanya mau cuma dianya nggak mau, dia lihat dari segi ekonomi juga kan. Mending punya anak satu dari pada banyak makannya, gizinya nggak terpenuhi, bagus satu.

(W2.R1.B.1098-1105/hal.46)

Karena alasan untuk tidak memiliki anak tersebut, maka ketika melakukan hubungan seks mereka akan berusaha untuk mengontrol dan mencegah kehamilan. Hal yang dilakukan RW dan pasangannya adalah melakukan

pencegahan secara natural, yaitu dengan mengeluarkan sperma diluar vagina. Selain tidak percaya untuk menggunakan alat kontrasepsi, ternyata RW juga tidak melakukan metode pencegahan kehamilan dengan cara menghitung masa suburnya. Hal ini dikarenakan RW tidak percaya bahwa metode tersebut dapat mencegah kehamilan.

Oh itu lah pande-pande sendiri supaya nggak jadi. TL. (tertawa) tembak luar, jadi keluar spermanya itu nggak didalem. Karena kalo seperti itu kan keliatan nyata, nampak, sedangkan kalo pake kondom kan nggak tau ntah bocor, nggak ketahuan jadi nggak percaya.

(W2.R1.B.1111-1123/hal. 46)

Nggak juga, nggak percaya dia, soalnya ada kejadian orang kaya gitu tapi hamil juga.

(W2.R1.B.1129-1132/hal.47)