• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Penyiapan Media Air

Penyiapan media air bertujuan untuk sebagai langkah awal persiapan pemeliharaan/ budidaya lobster. Dengan adanya penyiapan media air, lobster diharapkan dapat bertahan hidup dan bertumbuh secara optimum. Kualitas dari air merupakan faktor penting dalam proses pemeliharaan lobster air tawar karena diperlukan sebagai media hidup baginya. Beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas air adalah derajat keasaman (pH); kesadahan; DO; kandungan klor karbondioksida; suhu; kekeruhan air (Lukito dan Prayugo, 2007). Pada penelitian ini, parameter kualitas air yang dicari adalah pH, kesadahan, DO, suhu, kandungan klor. Air yang digunakan untuk melakukan uji adakah air sumr (kos).

1. Derajat Keasaman (pH)

pH merupakan suatu perwujudan dari konsentrasi ion hidrogen (H+) di

dalam air. pH air yang baik untuk pertumbuhan lobster air tawar berkisar 6,5 – 9.

Jika angka pH kurang dari 5 akan menyebabkan kematian bagi lobster, dan jika angka pH lebih dari 9 maka akan menurunkan nafsu makan lobster sehingga menghambat pertumbuhan (Lukito dan Prayugo, 2007). Pada penelitian ini

didapatkan hasil pengukuran pH dengan menggunakan kertas pH universal adalah

berkisar pada angka 6. Berdasarkan hasil tersebut angka pH air dinyatakan masih aman digunakan untuk pemeliharaan lobster air tawar. Dalam pengukuran angka pH tidak dapat diketahui secara pasti angka pH itu sendiri, karena pengukuran

dilakukan dengan menggunakan kertas pH universal yang pada dasarnya tidak

diketahui nilai angka dibelakang koma. Metode pengukuran pH lainnya yang lebih baik adalah dengan mengunakan pH meter, tetapi penggunaan kertas pH

universal tetap digunakan karena kisaran pH yang ditentukan lebar, sehingga

dengan menggunakan kertas pH universal saja mampu memberikan hasil yang

baik.

2. Penetapan Kesadahan dengan Titrasi Kompleksometri

Kesadahan merupakan ukuran yang menunjukan jumlah ion kalsium

(Ca2+) dan ion magnesium (Mg2+) dalam air (Lukito dan Prayugo, 2007).

Penetapan kesadahan yang dilakukan dengan menggunakan metode titrasi

kompleksometri. Titrasi kompleksometri digunakan untuk menentukan

kandungan garam-garam logam (Gandjar dan Rohman, 2007). Pada penelitian ini,

anggur menjadi biru. Reaksi umum yang terjadi dari penetapan kesadahan dengan metode titrasi kompleksometri adalah sebagai berikut :

Berdasarkan hasil yang didapatkan oleh peneliti, nilai kesadahan yang didapatkan adalah sebesar 53 ppm. Berdasarkan ketentuan kesadahan yang ditetapkan oleh Lukito dan Prayugo (2007), nilai kesadahan yang cocok untuk kehidupan lobster dan pertumbuhan adalah sebesar 100-200 ppm. Dapat disimpulkan bahwa nilai kesadahan dalam air yang digunakan tidak sesuai dengan kriteria, tetapi air masih dapat digunakan karena setelah dilakukan orientasi kehidupan, lobster mampu beradaptasi dengan air yang digunakan. Dengan nilai kesadahan yang kurang dari kisaran 100-200 ppm menyebabkan salah satu faktor kurang optimum nya pertumbuhan lobster, tetapi hal ini dapat diatasi dengan adanya perlakuan yang sama pada masing-masing kelompok, sehingga dapat meminimalkan bias pada penelitian.

3. Penetapan Dissolve Oxygen (DO)

DO merupakan oksigen yang terlarut di dalam air. Lobster air tawar memerlukan kadar oksigen terlarut lebih dari 4 ppm (Lukito dan Prayugo, 2007). Untuk mendapatkan nilai DO digunakan alat DO meter. Prinsip kerja alat DO meter adalah menggunakan probe oksigen yang terdiri dari katoda dan anoda yang direndam dalam larutan elektrolit, difusi oksigen dari sampel ke elektroda berbanding lurus terhadap konsentrasi oksigen. Dalam penelitian ini didapatkan hasil seperti pada Tabel VI. Sebelum dilakukan aerasi nilai DO yang didapatkan adalah sebesar 7,9 dan setelah di lakukan aerasi selama 24 jam nilai DO menjadi

8,3. Hal ini dapat diartikan bahwa dengan penambahan aerasi dapat menambah nilai DO. Berdasarkan nilai DO tersebut dapat dikatakan bahwa air yang digunakan sudah masuk dalam kriteria yang disebutkan oleh Lukito dan Prayugo (2007). Selama perlakuan dalam penelitian ini dilakukan penambahan aerasi agar kadar oksigen terlarut tetap terjaga.

4. Suhu

Secara umum lobster air tawar telah beradaptasi untuk hidup pada kisaran suhu tertentu. Pertumbuhan lobster air tawar akan dapat dicapai bila

dipelihara pada suhu 25 - 290C (Lukito dan Prayugo, 2007). Dalam penelitian ini

suhu yang terukur setelah aerasi 24 jam adalah sebesar 25,5; sesuai dengan kisaran suhu optimum bagi pertumbuhan lobster yang disebutkan oleh Lukito dan Prayugo (2007). Hal ini dapat disebabkan karena peneliti menjaga lokasi pemeliharaan agar tidak terpapar sinar matahari langsung yang dapat mengubah suhu air.

5. Penetapan Ion Klor

Penetapan ion klor dilakukan secara kualitatif yaitu dengan melakukan penambahan larutan perak nitrat. Dengan penambahan larutan perak nitrat akan terjadi kabut berwarna putih jika air mengandung ion klor. Penetapan ini dilakukan seara kualitatif karena dalam penelitian ini peneliti hanya ingin melihat keberadaan ion klor di dalam air sumur yang nantinya akan digunakan untuk pemeliharaan lobster. Berikut adalah reaksi pembentukan endapan

Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel VI, diketahui bahwa air yang digunakan untuk pemeliharaan yaitu air sumur mengandung ion klor. Menurut Lukito dan Prayugo (2007), berbagai laporan menunjukan bahwa lobster air tawar muda sensitif terhadap klorin tinggi, sehingga saat ingin menggunakan air untuk pemeliharaan diharapkan untuk menuarkan air terlebih dahulu. Dalam penelitian tidak dilakukan penghilangan kandungan klor dalam air terlebih dahulu sebelum air digunakan untuk pemeliharaan, hal ini disebabkan karena lobster tidak terjadi kematian pada ion klor yang ada pada air, dapat dibuktikan dengan tidak adanya kematian pada lobster saat dibudidayakan oleh peternak lobster. Lobster yang digunakan di dapat dari peternak lobster, berdasarkan hasil pengamatan jika lobster mampu beradaptasi dan bertahan hidup pada air peternak lobster yang mengandung ion klor, maka dapat disimpulkan bahwa lobster juga mampu beradaptasi dengan ion klor dari air sumur yang digunakan untuk pemeliharaan.

Dari hasil penetapan ion klor pada Tabel III juga dapat diketahui bahwa sedimen yang digunakan mengandung ion klor. Hal ini dapat dibuktikan dengan membandingkan akuabides yang awalnya tidak mengandung ion klor yang ditandai dengan ketidakmunculan kabut, menjadi berkabut ketika ditambahkan sedimen. Dari data pengamatan ini, dapat disimpulkan bahwa keberadaan ion klor dalam pemeliharaan tidak dapat dihindari.

Tabel III. Hasil penetapan ion klor

Sumber Air Keberadaan Kabut Intensitas

Air kos (sumur) Ada ++

Air peternak lobster Ada ++

Akuabides Tidak ada -

B. Pembuatan Pakan 1. Uji Lactobacillus sp. Cairan Probiotik Merek X

Uji Lactobacillus sp. bertujuan untuk memastikan bahwa cairan probiotik

Merek X yang didapat dari produsen benar - benar memiliki kandungan bakteri

yaitu Lactobacillus sp. dari hasil yang di dapat oleh peneliti menunjukkan bahwa

cairan probiotik Merek X mengandung Lactobacillus sp. yang ditunjukan dengan

adanya hasil positif pada uji Lactobacillus sp. yang dilakukan oleh Laboratorium

Mikrobiologi Balai Kesehatan Yogyakarta. Hasil uji pada lampiran 11 2. Pembuatan Pakan Lobster Berprobiotik

Dosis dari produsen cairan probiotik Merek X adalah 5 ml dan diencerkan dalam 1 L air, kemudian disemprotkan pada 1 kg pakan. Dari dosis yang diberikan oleh produsen dilakukan konversi, dan untuk pengurangan air untuk pengenceran. Hal ini disebabkan karena air yang digunakan untuk pengenceran terlalu banyak akan menyebabkan pelet terlalu basah dan mudah rapuh.

C. Preparasi Pemeliharaan Lobster

Dokumen terkait