BAB 3 METODE PENELITIAN
3.5 Bagan Penelitian
3.5.1 Penyiapan Serat Halus Tandan Kosong Kelapa Sawit 28
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
3.5.2 Isolasi ๐ถ-selulosa dari Serat Kering Tandan Kosong Kelapa Sawit (Ohwoavworhua, 2009)
30
3.5.3 Pembuatan Carboxymethyl Cellulose (CMC) (Bono, et al. 2009)
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
3.5.4 Pemurnian Carboxymethyl Cellulose (CMC) (Hong, 2013)
32
3.5.5 Analisa Kualitatif Carboxymethyl Cellulose (CMC) (COEI-1-CMC:2009)
3.5.6 Penambahan Carboxymethyl Cellulose (CMC) pada Madu Dehumidified
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
3.5.7 Analisa Kualitas Madu
3.5.7.1 Uji Aktivitas Enzim Diastase (SNI 3545-2013)
34
3.5.7.2 Uji Kadar Air (SNI 3545-2013)
3.5.7.3 Uji Bilangan Asam (SNI 3545-2013)
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
3.5.7.4 Uji Viskositas
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Hasil Isolasi ๐ถ-Selulosa dari Serbuk Tandan Kosong Kelapa Sawit
Isolasi ๐ผ-selulosa dari serbuk tandan kosong kelapa sawit meliputi proses delignifikasi, pemutihan dan pemurnian. Dari proses tersebut diperoleh ๐ผ-selulosa yang berwarna putih. Sebanyak 75 gram serbuk tandan kosong kelapa sawit yang digunakan didapatkan sebanyak 23 gram ฮฑ-selulosa murni (30,667% dari massa awal serat tandan kosong kelapa sawit). Hasil isolasi ฮฑ-selulosa murni dapat dilihat pada Gambar 4.1 berikut ini.
Gambar 4.1 Hasil isolasi ฮฑ-selulosa murni
4.1.2 Hasil Pembuatan Carboxymethyl cellulose (CMC)
Pembuatan karboksimetil selulosa (CMC) yaitu melalui proses alkalisasi, dimana ๐ผ-selulosa ditambahkan isopropanol, NaOH 17,5% dan proses karboksimetilasi dengan penambahan natrium monokloro asetat, selanjutnya direndam dengan methanol. Kemudian kristalnya dinetralkan dengan asam asetat.
Dicuci dengan etanol 70%. Lalu dikeringkan didalam oven. Selanjutnya dilakukan
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
pemurnian lebih lanjut dengan proses sentrifugasi akan menghasilkan serbuk CMC berwarna putih. Hasil pembuatan Carboxymethyl cellulose (CMC) dari ๐ผ-selulosa berasal dari serat tandan kosong kelapa sawit dapat dilihat pada Gambar 4.2.
Gambar 4.2 CMC dari ๐ผ-selulosa tandan kosong kelapa sawit
Dari 5 gram ๐ผ โ selulosa yang digunakan telah diperoleh 8,3817 gram CMC.
Dari CMC yang telah didapatkan, digunakan 5 gram CMC untuk proses pemurnian selanjutnya diperoleh 3,066 gram CMC yang lebih murni. Hasil pembuatan Carboxymethyl cellulose (CMC) yang diperoleh dari penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 4.3.
Gambar 4.3 Carboxymethyl Cellulose (CMC) murni
38
4.1.3 Hasil Analisa Kualitatif Carboxylmethyl Cellulose (CMC)
CMC yang telah didapatkan diuji secara kualitatif dengan penambahan beberapa pereaksi kimia dan mengalami perubahan warna yang sesuai dengan literatur. Beberapa pereaksi kimia yang digunakan antara lain sebagai berikut:
1. Aseton
Gambar 4.4 Uji kualitatif CMC + aseton
Dalam literatur, CMC yang dilarutkan dengan aquadest dan ditambahkan dengan aseton maka akan membentuk flokulan putih. Dari Gambar 4.4 dapat dilihat uji kualitatif dari CMC yang dihasilkan dalam penelitian ini memberikan uji positif yaitu membentuk flokulan berwarna putih.
2. CuSO4 (aq) 1,2 N
Gambar 4.5 Uji kualitatif CMC + CuSO4 (aq) 1,2 N
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Dalam literatur, uji kualitatif CMC yang dilarutkan dengan aquadest dan ditambahkan dengan CuSO4(aq) 1,2 N akan membentuk flokulan biru, dan uji kualitatif dari CMC yang dihasilkan dalam penelitian ini memberikan uji positif membentuk flokulan berwarna biru seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.5.
3. 1-naftol + H2SO4(p)
Gambar 4.6 Uji kualitatif CMC + 1-naftol + H2SO4(p)
Dalam literatur, uji kualitatif CMC yang dilarutkan dengan aquadest, ditambahkan dengan 1-naftol dan H2SO4(p) akan membentuk cincin ungu, dan uji kualitatif dari CMC yang dihasilkan dalam penelitian ini memberikan uji positif membentuk cincin ungu seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.6.
40
4.1.4 Hasil Analisa Gugus Fungsi dengan Spektroskopi FTIR
Gambar 4.7 Spektrum FTIR ๐ผ-selulosa dari Tandan Kosong Kelapa Sawit dan ๐ผ-selulosa Komersil
Gambar 4.8 Spektrum FTIR CMC dari Tandan Kosong Kelapa Sawit dan CMC Komersil
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Tabel 4.1 Bilangan gelombang ๐ผ-selulosa komersil, ๐ผ-selulosa dari tandan kosong kelapa sawit, CMC komersil, CMC dari tandan kosong kelapa sawit
Bilangan Gelombang (cm-1) ฮฑ-Selulosa
3410,15 3439,89 3448,72 3272,30 Stretching O-H 2900,94 2891,18 2924,09 2915,60 Stretching C-H
- - 1635.64 1584.91 Asymmetric C=O
4.1.5 Hasil Penambahan Carboxymethyl Cellulose (CMC) pada Madu Dehumidified
Madu dehumidified ditambahkan CMC dengan variasi konsentrasi 0,01%, 0,02%, 0,03%, 0,04%, 0,05% dan juga tanpa penambahan CMC sebagai kontrol.
Dari pengamatan, endapan terbentuk dengan utuh setelah 48 jam, maka setelah 48 jam endapan dipisahkan dari cairan madu dan dihitung berat endapan tersebut yang hasilnya ditunjukkan pada Tabel 4.2.
42
(a) (b) (c)
(d) (e) (f)
Gambar 4.9 Penambahan CMC dengan konsentrasi (a) tanpa penambahan CMC ; (b) 0,01% ; (c) 0,02% ; (d) 0,03% ; (e) 0,04% ; (f) 0,05%
Tabel 4.2 Berat endapan madu dehumidified setelah penambahan CMC
No. Variasi Berat Endapan
1. Kontrol 12,7798 gram
2. 0,01% CMC 13,2503 gram
3. 0,02% CMC 13,5697 gram
4. 0,03% CMC 10,3427 gram
5. 0,04% CMC 11,8279 gram
6. 0,05% CMC 14,3242 gram
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
4.1.6 Hasil Analisa Kualitas Madu 4.1.6.1 Aktivitas Enzim Diastase
Dari hasil penelitian diperoleh nilai DN untuk aktivitas enzim diastase di dalam madu dehumidified yang terlihat pada Tabel 4.3
Tabel 4.3 Hasil Aktivitas Enzim Diastase setelah penambahan CMC No. Variasi Aktivitas Enzim Diastase
1. Kontrol 10 DN
2. 0,01% CMC 6,67 DN
3. 0,02% CMC 7,6 DN
4. 0,03% CMC 6 DN
5. 0,04% CMC 15 DN
6. 0,05% CMC 20 DN
4.1.6.2 Kadar Air
Dari hasil penelitian diperoleh kandungan kadar air di dalam madu dehumidified seperti terlihat pada Tabel 4.4
Tabel 4.4 Kadar air pada madu dehumidified setelah penambahan CMC
No. Variasi Kadar Air
1. Kontrol 20,4%
2. 0,01% CMC 18,0%
3. 0,02% CMC 17,8%
4. 0,03% CMC 17,6%
5. 0,04% CMC 17,4%
6. 0,05% CMC 16,8%
44
4.1.6.3 Bilangan Asam
Hasil penelitian untuk menguji bilangan asam di dalam madu dehumidified dapat dilihat pada Tabel 4.5
Tabel 4.5 Nilai 6pada madu dehumidified setelah penambahan CMC
No. Variasi Bilangan Asam
1. Kontrol 45
Dari hasil penelitian uji viskositas menggunakan metode Viskometer Ostwald didapat hasil pada tabel 4.6
Tabel 4.6 Nilai viskositas madu dehumidified setelah penambahan CMC
No. Variasi Viskositas (cp)
1. Kontrol 30,385 x 102
Uji organoleptik untuk penambahan madu dehumidified dengan CMC meliputi uji rasa khas madu dan uji bau khas madu (SNI 3545:2013) yang dilakukan panelis tidak terlatih sebanyak 25 orang. Hasil uji organoleptik rasa dapat dilihat pada Tabel 4.7 dan hasil uji organoleptik bau dapat dilihat pada Tabel 4.8.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Tabel 4.7 Hasil uji organoleptik rasa madu setelah penambahan CMC
Parameter Uji Kontrol 0,01% 0,02% 0,03% 0,04% 0,05%
Khas Madu 20 20 15 18 22 17
Tidak Khas
Madu 5 5 10 7 3 8
Tabel 4.8 Hasil uji organoleptik bau madu setelah penambahan CMC
Parameter Uji Kontrol 0,01% 0,02% 0,03% 0,04% 0,05%
Khas Madu 14 18 11 13 18 17
Tidak Khas
Madu 11 7 14 12 7 8
4.2 Pembahasan
4.2.1 Isolasi ๐ถ - Selulosa dari Tandan Kosong Kelapa Sawit
Tahapan pertama dalam proses isolasi ฮฑ-selulosa adalah proses delignifikasi menggunakan HNO3 3,5% dan NaNO2 yang bertujuan menghilangkan lignin dari serbuk tandan kosong kelapa sawit dalam bentuk nitrolignin. Hasil delignifikasi tersebut kemudian dilakukan proses swelling menggunakan NaOH 2% dan Na2SO3
2%, proses ini membuat serat dari selulosa membengkak dan membuka pori-pori selulosa sehingga zat-zat pengotor yang tidak diinginkan keluar. Selulosa yang telah mengalami proses swelling ini berwarna kuning kecoklatan. Oleh karena itu dilakukan proses pemutihan dengan menggunakan NaOCl 17,5% sehingga dihasilkan selulosa berwarna putih (Ohwoavworhua, 2005).
Selulosa yang diperoleh tersebut terdiri dari ๐ผ, ๐ฝ, dan ๐พ โ selulosa maka untuk memperoleh ๐ผ-selulosa dipisahkan menurut kelarutannya dalam NaOH 17,5%, dimana ๐ผ-selulosa tidak larut dalam NaOH 17,5% sedangkan ๐ฝ-selulosa dan ๐พ-selulosa larut dalam NaOH 17,5%. Endapan ๐ผ-๐พ-selulosa yang dihasilkan pada tahap ini berwarna kuning. Untuk menghilangkan warna tersebut maka dilakukan pemutihan menggunakan H2O2 10% sehingga berubah menjadi berwarna putih, kemudian dikeringkan di dalam oven pada suhu 60โ. Dari penelitian ini didapatkan
46
sebanyak 23 gram ฮฑ-selulosa murni (30,667% dari massa awal serat tandan kosong kelapa sawit).
4.2.2 Pembuatan Carboxymethyl cellulose (CMC)
Pembuatan carboxymethyl cellulose (CMC) melalui 2 tahap. Tahap pertama adalah proses alkalisasi. Alkalisasi dilakukan dengan NaOH bertujuan untuk mengaktifkan gugus-gugus OH pada molekul selulosa dan mengembangkan selulosa.
Proses alkalisasi ๐ผ-selulosa menggunakan isopropanol dan NaOH 17,5% dengan pengadukan selama 1 jam pada suhu 30โ. Pada proses ini dilakukan untuk membuat ๐ผ-selulosa berubah menjadi alkali selulosa dalam suasana alkali yang dibuat oleh pelarut isopropanol dan sumbangan gugus Na+ dari NaOH 17,5% yang digunakan.
Reaksi alkalisasi ๐ผ โ selulosa dapat lihat pada gambar 4.10.
Gambar 4.10 Reaksi Alkalisasi ๐ผโselulosa dengan Menggunakan Isopropanol dan NaOH (Latif, A et al. 2007)
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Tahap kedua adalah proses karboksimetilasi atau eterifikasi dengan menggunakan natrium kloro asetat dengan pengadukan selama 2 jam pada suhu 55โ. Menurut Bono et al bahwa semakin lama waktu reaksi akan meningkatkan degradasi polimer dan akan mereduksi nilai DS dengan baik. Penambahan natrium kloro asetat menyebabkan terjadinya substitusi gugus antara gugus Na+ pada alkali selulosa dengan CH2COONa pada natrium kloro asetat. Dimana gugus Na+ pada alkali selulosa akan berikatan Cl- dari natrium kloro asetat. Sedangkan gugus metilen dari natrium kloro asetat yang bersifat elektrofilik akan diserang oleh ion O -yang bersifat nukleofilik dan membentuk CMC. Reaksi karboksimetilasi atau eterifikasi alkali selulosa menjadi karboksimetil selulosa dapat di lihat pada Gambar 4.11.
Gambar 4.11 Reaksi karboksimetilasi atau eterifikasi alkali selulosa menjadi karboksimetil selulosa (Latif, A et al. 2007)
Adanya gugus OH- dan berbagai penambahan, mulai dari isopropanol dan NaOH menyebabkan suasana campuran CMC menjadi bersifat lebih basa sehingga perlu dilakukan penetralan menggunakan CH3COOH 90% hingga pH = 6-8, kemudian dilakukan penyaringan untuk memisahkan endapan yang terbentuk dengan filtratnya. Endapan tersebut kemudian di cuci dengan etanol untuk menhilangkan hasil samping produk yang tidak diinginkan berupa NaCl yang masih melekat pada CMC sehingga CMC yang dihasilkan lebih murni (Latif, A et al. 2007).
48
Selanjutnya dilakukan proses sentrifugasi selama 1 menit dengan kecepatan 4000 rpm untuk menetralkan dan menghilangkan sisa-sisa asam pada proses sebelumnya serta ditambahkan aseton untuk menguapkan sisa air yang melekat pada CMC kemudian dikeringkan didalam oven pada suhu 60โ (Hong, 2013). Dari penelitian ini diperoleh 3,066 gram CMC yang lebih murni dari 5 gram ๐ผโselulosa yang digunakan.
4.2.3 Analisa Kualitatif Carboxymethyl Cellulose (CMC)
Pada pembuatan Carboxymethyl Cellulose (CMC) hasil yang diperoleh dilakukan analisa kualitatif yang bertujuan untuk memastikan bahwa senyawa yang dibuat memang merupakan uji positif senyawa Carboxymethyl Cellulose (CMC) menggunakan pereaksi spesifik. Hal ini sesuai berdasarkan literatur dari COEI-1-CMC:2009 yang menunjukkan bahwa jika ada penambahan pereaksi kimia lain seperti aseton yang akan membentuk flokulan putih, penambahan CuSO4 1,2 N yang akan membentuk flokulan biru dan aquadest + 1 naftol + H2SO4(p) akan membentuk cincin ungu maka CMC yang dihasilkan adalah positif. Pemanasan CMC dengan air pada analisa kualitatif ini dilakukan pada suhu 60 - 70 โ bertujuan untuk melarutkan CMC secara sempurna kedalam air sehingga ketika diuji dengan pereaksi yang ada langsung memberikan hasil yang sesuai.
4.2.4 Analisa Gugus Fungsi Dengan Spektroskopi FTIR
Fourier Transform Infra Red (FT-IR) menganalisa struktur kimia dengan cara mengidentifikasi gugus fungsi yang muncul pada setiap sampel yang dianalisa. Dari hasil analisis FTIR untuk kedua spektrum ๐ผ-selulosa tandan kosong kelapa sawit dan ๐ผ-elulosa komersil tidak terdapat perbedaan yang mencolok antara pita ๐ผ-selulosa komersil dan ๐ผ-selulosa tandan kosong kelapa sawit. Hal ini dikarenakan keduanya sama-sama berasal dari selulosa.
Gugus โOH muncul pada bilangan gelombang 3417 cm-1 yang menunjukkan vibrasi ulur โOH (Pescok et al 1976). Dari spektra FTIR, terdapat pita yang melebar pada daerah 3410,15, 3448,72 dan 3272,30 cm-1 yang menunjukkan adanya vibrasi regangan O-H dari alkohol dalam molekul selulosa, yang diikuti oleh vibrasi
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
regangan C-H dari rantai alkana pada daerah serapan 2900,94, 2891,18 dan 2915,60 cm-1. Selain itu, puncak vibrasi juga terlihat pada daerah serapan 1319,31, 1334,74 dan 1334,74 cm-1 serta 1056,99, 1018,89, dan 1026,13 cm-1 yang menunjukkan adanya regangan C-O di dalam cincin selulosa (Nacos et al. 2006; Garside et al.
2003). Sedangkan vibrasi ayunan C-H dari selulosa terdapat pada daerah serapan 894,09 dan 896,10 cm-1 yang menunjukkan adanya ikatan ๐ฝ-glikosida yang merupakan penghubung antar unit glukosa pada selulosa pada struktur tersebut (Alemdar et al. 2008). Dari hasil analisis FTIR tersebut dapat diperoleh kesimpulan bahwa ๐ผ-selulosa komersil dan ๐ผ-selulosa tandan kosong kelapa sawit benar merupakan senyawa selulosa.
Pada spektrum FTIR dari karboksimetil selulosa komersil, dan karboksimetil selulosa tandan kosong kelapa sawit terlihat perubahan puncak serapan. Dari spektrum FTIR, daerah serapan 1635,64, dan 1584,91 serta 1427,32 dan 1410,08 menunjukkan adanya vibrasi regangan COO- karboksil dan ikatan CH2 yang berasal dari gugus ester. Menurut Pescok et al (1976), gugus karboksil dan garamnya menunjukkan dua puncak serapan pada bilangan gelombang antara 1600 โ 1640 cm-1 dan 1400 โ 1450 cm-1 yang mengindikasikan kehadiran substituen karboksil. Hal tersebut menunjukkan ciri khas dari senyawa karboksimetil selulosa yang mengandung gugus karboksil hasil substitusi antara senyawa natrium kloro asetat dan selulosa. Berdasarkan hasil FTIR tersebut dapat diperoleh kesimpulan bahwa karboksimetil selulosa komersil, dan karboksimetil selulosa tandan kosong kelapa sawit adalah benar senyawa karboksimetil selulosa.
50
4.2.5 Penambahan Carboxymethyl Cellulose (CMC) pada Madu Dehumidified
Gambar 4.12 Grafik hasil berat endapan yang terjadi pada madu dehumidified setelah penambahan CMC
Madu dehumidified mengandung gula seperti glukosa, fruktosa dan sukrosa.
Gula ini merupakan golongan dari karbohidrat. CMC juga merupakan turunan selulosa yang sama-sama dari golongan karbohidrat berbentuk polimer. CMC mempunyai kemampuan sebagai penstabil sehingga dapat mempertahankan kekentalan madu dan memperlama masa pengendapan glukosa. Penambahan CMC dalam madu dehumidified mengakibatkan perubahan sifat fisiknya, madu dehumidified mempertahankan dan meningkatkan viskositas madu dengan mengikat air dan berinteraksi secara kimia didalamnya membentuk partikel tersuspensi terperangkap dalam sistem dispersi koloid. Proses pengendapan dapat dipertahankan dan tidak terpengaruh oleh gaya gravitasi sehingga pengendapan glukosa dapat diperlama (Kamal,2010). Pada penelitian ini terlihat pada grafik bahwa penambahan CMC dengan konsentrasi 0,03% dapat memperlama proses pengendapan dengan berat endapan 10,3427 gram yang lebih sedikit daripada madu dehumidified kontrol tanpa penambahan CMC.
4.2.6 Hasil Analisa Kualitas Madu 4.2.6.1 Enzim Diastase
Enzim diastase adalah enzim yang mengubah karbohidrat kompleks (polisakarida) menjadi karbohidrat yang sederhana (monosakarida) (Suranto, 2004).
Enzim diastase merubah pati sebagai substratnya menjadi molekul karbohidrat sederhana. Enzim diastase berpengaruh pada masa simpan madu. Pada madu dehumidified yang digunakan, masa simpan setelah penambahan CMC adalah 48 jam dan diukur aktivitas enzim diastasenya.
Gambar 4.13 Grafik hasil uji aktivitas enzim diastase
Enzim diastase pada madu dehumidified meningkat aktivitas enzim diastasenya. Madu dehumidified dapat meningkatkan nilai aktivitas enzim diastasenya karena metode penururan kadar airnya yang tidak melalui pemanasan sehingga enzim-enzimnya masih terjaga dan dipengaruhi juga dengan penambahan CMC. CMC juga sebagai aktivator substrat dimana enzim diastase meningkat aktivitasnya karena penambahan konsentrasi CMC sebagai substrat, dari penelitian ini terlihat semakin banyak penambahan CMC maka semakin meningkatkan pula nilai aktivitas enzim diastase (Siregar, 2002).
0
52
4.2.6.2 Kadar Air
Penambahan CMC terhadap madu dehumidified mempengaruhi kadar airnya.
CMC akan mengikat air didalam madu dan dapat membentuk sistem dispersi koloid dan meningkatkan viskositas sehingga partikel-partikel yang tersuspensi akan tertangkap dalam sistem tersebut dan tidak mengendap oleh pengaruh gaya gravitasi (Kamal, 2000).
Gambar 4.14 Grafik hasil uji kadar air pada madu dehumidified setelah penambahan CMC
Kadar air dalam madu menentukan keawetan madu. Madu yang kadar airnya tinggi, mudah berfermentasi. Fermentasi terjadi karena khamir dari genus Zygosaccharomyces yang tahan terhadap konsentrasi gula tinggi, sehingga dapat hidup dalam madu. Sel khamir akan mendegradasi gula dalam madu (khususnya glukosa dan fruktosa) menjadi alkohol (etanol). Jika alkohol bereaksi dengan oksigen, alkohol tersebut akan membentuk asam asetat yang mempengaruhi kadar bilangan asam, rasa dan aroma madu (White, 1979; Achmadi, 1991).
Pada penelitian ini terlihat dari grafik bahwa madu dehumidified dengan penambahan CMC 0,05% memiliki kadar air terendah menandakan CMC yang ditambahkan telah mengikat air yang masih terkandung di dalam madu dehumidified.
0,00%
4.2.6.3 Bilangan Asam
Dalam kandungan madu terdapat sejumlah asam organik yang memainkan peranan penting dalam proses metabolisme tubuh. Jenis-jenis asam tersebut adalah asam format, asam asetat, asam sitrat, asam laktat, asam butirat, asam oksalat, dan asam suksinat (Al Jamili, 2004). Keasaman madu merupakan salah satu parameter yang digunakan untuk menentukan kualitas madu. Kadar bilangan asam ini menunjukkan jumlah asam bebas per kg madu (Wulandari, 2017).
Gambar 4.15 Grafik hasil uji bilangan asam pada madu dehumidified setelah penambahan CMC
Peningkatan bilangan asam seiring dengan bertambahnya konsentrasi CMC dikarenakan adanya efek dilusi. Dilusi adalah penambahan zat tertentu kedalam suatu bahan yang mengakibakan penurunan komposisi semula dari bahan tersebut. Tingkat dilusi yang terjadi tergantung dari jumlah bahan penstabil yang digunakan (Alkali et al., 2008). Dalam grafik terlihat semakin bertambah konsentrasi CMC maka semakin menurun kandungan asam di dalam madu dehumidified, dan yang paling rendah nilai bilangan asamnya yaitu madu dehumidified dengan penambahan CMC 0,05%. CMC telah mengikat air dalam madu dehumidified maka fermentasi tidak terjadi lagi maka bilangan asam ikut menurun (Wulandari, 2017).
36
54
4.2.6.4 Viskositas
Semakin bertambah konsentrasi CMC sebagai bahan pengental dan penstabil akan menyebabkan bobot molekul yang terdapat dalam madu dehumidified semakin bertambah, sehingga dapat meningkatkan nilai viskositas madu dehumidified.
Menurut Rini dkk (2012) kenaikan pemberian konsentrasi CMC dalam larutan dapat mengakibatkan banyaknya air yang terikat, dengan meningkatnya air yang terikat, maka semakin besar kenaikan viskositas.
Gambar 4.16 Grafik hasil uji viskositas pada madu dehumidified setelah penambahan CMC
Dari grafik terlihat nilai viskositas semakin meningkat dan yang paling tinggi nilainya adalah madu dehumidified dengan penambahan CMC 0,05%. Semakin banyak konsentrasi CMC maka semakin banyak CMC mengikat kandungan air dalam madu dehumidified dan meningkatkan viskositasnya.
4.2.6.5 Organoleptik
Berdasarkan Standar Nasional Indonesia Nomor 3545 tahun 2013 untuk standar madu dengan uji organoleptik berdasarkan uji rasa dan uji aroma dengan kategori khas madu dan tidak khas madu. Jika uji rasa dan uji aroma memiliki khas madu maka dikategorikan sebagai normal dan jika uji rasa dan uji aroma tidak memiliki khas madu maka dikategorikan sebagai tidak normal.
29000
Gambar 4.17 Grafik hasil uji organoleptik rasa pada madu dehumidified setelah penambahan CMC
Terlihat pada grafik bahwa sekitar 74,67% panelis memilih rasa madu dengan khas madu dan yang paling tinggi rasa khas madu adalah madu dehumidified dengan penambahan 0,04% CMC. Ini menyimpulkan bahwa penambahan CMC tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap rasa madu dehumidified dan rasa madu dehumidified dengan penambahan CMC dapat dikategorikan sebagai rasa madu normal yang manis alami.
Gambar 4.18 Grafik hasil uji organoleptik pada madu dehumidified setelah penambahan CMC
Kontrol0,01% CMC0,02% CMC0,03% CMC0,04% CMC0,05% CMC
Khas Madu
Kontrol0,01% CMC0,02% CMC0,03% CMC0,04% CMC0,05% CMC
Khas Madu Tidak Khas Madu
56
Berdasarkan grafik terdapat 60,67% panelis memilih bau khas madu seperti bau nektar bunga yang dihisap lebahnya dan yang paling tinggi aroma khas madu adalah madu dehumidified dengan penambahan CMC 0,01% dan 0,04%.
Penambahan CMC tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perubahan aroma khas madu dan aroma madu dehumidified dengan penambahan CMC dapat dikategorikan sebagai aroma madu normal.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Carboxymethyl cellulose (CMC) dari selulosa tandan kosong kelapa sawit tidak begitu mempengaruhi kualitas madu dehumidified dapat dilihat pada perbedaan hasil uji kualitas untuk setiap penambahan konsentrasi CMC dalam madu dehumidified tersebut yang tidak begitu jauh dari nilai kontrolnya dan tidak melewati batas dari Standar Nasional Indonesia.
2. CMC dari selulosa tandan kosong kelapa sawit dapat mempertahankan proses pengkristalan madu dehumidified selama 48 jam dan pada penambahan CMC berkonsentrasi 0,03% merupakan hasil terbaik dikarenakan endapan yang terbentuk lebih sedikit daripada madu dehumidified kontrol (tanpa penambahan CMC) sebanyak 10,3427 gram.
3. CMC sebagai penstabil untuk madu dehumidified mampu mengubah sifat fisik madu dehumidified yang mempertahankan dan meningkatkan viskositas madu dengan mengikat air dan berinteraksi secara kimia didalamnya membentuk partikel tersuspensi terperangkap dalam sistem dispersi koloid, sehingga proses pengendapan dapat dipertahankan dan tidak terpengaruh oleh gaya gravitasi dalam jangka waktu tertentu.
5.2 Saran
Dari penelitian yang telah dilakukan, diharapkan peneliti selanjutnya melakukan aplikasi pada endapan madu dehumidified yang telah terbentuk.
DAFTAR PUSTAKA
Achmadi, S. 1991. Analisis Kimia Produk Lebah Madu dan Pelatihan Staf
Laboratorium Pusat Perlebahan Nasional Parung Panjang. [Skripsi]. Bogor:
Institut Pertanian Bogor.
Al Jamili S. 2004. Khasiat Madu Dalam Al-qurโan & Sunnah. Cendekia Sentra Muslim. Jakarta.
Alemdar, A., and Sain, M., 2008. Isolation and Characterization of Nanofibers From Agricultural Residue-Wheat Straw and Soy Hulls. Bioresource and Technology. 99: 1664-1671
Alkali, J.S., Okonkwo, T.M., and Lordye, E.M. 2008. Effect Of Stabilizers On Physico - chemical and Sensory Attributes Of hermized Yoghurt. Journal Of Biotechnology. 7(2): 158-163
Anggraini, D.N. 2016. Penambahan Carboxymethyl Cellulose (CMC) Pada Minuman Madu Sari Apel Ditinjau dari Rasa, Aroma, Warna, pH,
Viskositas, dan Kekeruhan. Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Ternak. 11 (1):
59-68. Universitas Brawijaya.
[Balai HHBK] Darmawan, dkk, 2011. Penurunan Kadar Air Madu Hutan Alam Sumbawa. Balai Penelitian Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu. NTB.
Bono, A., dkk. 2009. Synthesis and Characterization of Carboxymethyl Cellulose From Palm Kernel Cake. Advances in Natural and Applied Sciences. 3(1):
5-11.
[BP2SDMK] Siswari, 2015. Dehumidifikasi Bagi Si Manis (Penurunan Kadar Air Madu). Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia.
Jakarta.
[BSN] SNI. 1992. Cara Uji Gula. Badan Standarisasi Nasional. SNI 01-2892-1992.
ICS 67.180.10.
[BSN] SNI. 2013. Madu. Badan Standarisasi Nasional. SNI 3545-2013.
ICS 65.020.99.
COEI-1-CMC: 2009. OIV-Oeno 366-2009 and CAS 9004-32-4.
Darnoko. 1992. Potensi Pemanfaatan Limbah Lignoselulosa Kelapa Sawit Melalui Biokonversi. Berita penelitian perkebunan. 2 (2): 85-97. Medan:
Puslitbun (RISPA).
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Deviwings. 2008. The Science of Bakery Product. The Royal Society of Chemistry.
Cambridge.
Ditjen Perkebunan. 2004. Prospek Perkebunan dan Industri Minyak Kelapa Sawit.
Erlin, 2006. Pengembangan Produk Minuman Berbasis Madu Untuk Konsumen Remaja Dengan Menggunakan Metode Quality Function Deployment (QFD).
[Skripsi]. Semarang: Universitas Katolik Soegijapranata.
Fardiaz, S. 1986. Mikrobiologi Pangan I. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Fauzi,Y. 2012. Kelapa Sawit. Edisi Revisi. Penebar Swadaya. Jakarta.
Fessenden. J., 1982. Kimia Organik. Erlangga. Jakarta.
Fuadi, A. M., Pranoto, H., 2016. Pemanfaatan Limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit Sebagai Bahan Baku Pembuatan Glukosa. Chemica. 3 (1): 1-5.
Garside, P. And Wyeth, P. 2003. Identification of Cellulosic Fibres by FTIR Spectroscopy : Thread and Single Fibre Analysis by Attenvated Total Reflectance.
Studies in Conservation. 48(4): 269-275.
Gojmerac, W. L. 1983. Bees, Beekeeping, Honey and Pollination. Saybrook Press.
Gojmerac, W. L. 1983. Bees, Beekeeping, Honey and Pollination. Saybrook Press.