• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyimpanan Sumber Belajar Digital

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pemanfaatan Sumber Belajar Digital Berbasis Repositori Institusi

1. Penyimpanan Sumber Belajar Digital

Penyimpanan sumber belajar digital dapat dilakukan dengan menggunakan fitur-fitur tertentu yang memungkinkan suatu sumber belajar itu dapat terlihat dalam LMS. Strategi penyimpanannya dapat dilakukan dengan memanfaatkan teks, gambar, video, dan link. Untuk menyimpan teks secara digital, pengembang dapat menggunakan tombol file, buku, atau folder (jika file-file itu dikumpulkan melalui folder. Sedangkan untuk penyimpanan gambar, pengembang cukup menggunakan

29

label dan penyimpanan video dilakukan dengan memilih fitur halaman (page).

Adapun fitur lainnya adalah untuk penyimpanan sumber-sumber digital yang berbasis pada link. Untuk lebih jelasnya, dapat diilustrasikan dalam gambar 3 berikut ini.

Gambar 3. Fitur-fitur untuk Penyimpan Sumber Belajar

Tampak jelas pada gambar 3 bahwa fitur-fitur tersebut dapat diarahkan untuk penyimpanan teks, gambar, video dan link. Namun khusus untuk gambar sangat jarang digunakan kecuali untuk kebutuhan untuk menandai sebuah lambang dari masing-masing sumber tersebut. Penyimpanan sumber belajar digital lebih lanjut dapat dianalisis melalui beberapa pernyataan di bawah ini.

Pemanfaatan sumber belajar digital dalam LMS sampai saat ini di Pascasarjana IAIN Palopo masih dalam bentuk sendiri-sendiri tergantung dari dosen yang bersangkutan. Tetapi secara umum masih dominan menggunakan aplikasi google classroom dan sebagaian yang lain menggunakan zoom meeting. Untuk LMS kita sudah beberapa kali melakukan pelatihan dan mendatangkan Bapak sendiri sebagai narasumber. Saat ini kami belum melakukan secar kelembagaan, tetapi beberap dosen telah menggunakannya

Penyimpanan sumber belajar dapat dipilih sesuai dengan jenis sumber belajar yang digunakan dalam LMS.

secara pribadi. Begitu pula dengan sumber belajar digital yang berbasis pada repositori (MZA, Direktur Pascasarjana IAIN Palopo, wawancara tatap muka pada pada tanggal 2 Juli, 2021).

Pemanfaatan sumber belajar digital sudah banyak diterapkan secara pribadi oleh setiap dosen baik melalui google classroom, google meet, zoom meeting, maupun melalui LMS yang dihubungkan secara langsung dengan repositori IAIN Palopo. Hal ini disadari karena belum ada pedoman teknis untuk menggunakan penyimpanan sumber belajar digital pada Pascasarjana sehingga seluruh dosen dan mahasiswa dapat memanfaatkannya.

Pemanfaatan sumber belajar digital dalam LMS bagi saya hanya untuk menyimpan sumber yang saya langsung hubungkan dengan google drive saya.

Hal ini saya lakukan untuk memudahkan bagi mahasiswa dalam memanfaatkan sumber. Saya baru menyadari begitu penting memanfaatkan repositori IAIN Palopo untuk dimanfaatkan sebagai penyimpanan sumber belajar digital. Sekarang saya harus menggunakannya agar berguna bagi dosen dan mahasiswa, begitu pula dapat menaikkan rating IAIN itu sendiri (HLM, Dosen Pascasarjana IAIN Palopo, wawancara online melalui telefon WA pada pada tanggal 20 Juli, 2021).

Pemanfaatan sumber belajar digital sudah sering dilakukan, terutama melalui google drive. Adapun penyimpanan melalui repositori belum banyak dilakukan.

Namun demikian, beberapa pelatihan sudah dapat mengarahkan ke sana setahap demi setahap. Pernyataan dosen lain justru pada semester yang berjalan sudah menjalankannya.

Dalam mata kuliah metodologi penelitian yang saya jalankan, sebenarnya saya sudah menyimpan beberapa dokumen pada repositori, termasuk buku referensi yang saya gunakan dalam pembelajaran. Hanya saja belum tersimpan untuk setiap kali pertemuan seperti yang kita gambarkan dalam pelatihan dosen. Saya juga menggunakan LMS Sistem Informasi Belajar Terpadu (SIBEDDU) dan menghubungkannya atau membuat link dengan repositori IAIN Palopo. Suatu hasil kreasi teknologi yang sangat bagus menurut saya, tetapi perlu juga dukungan nyata dari pimpinan yang ada.

Bersyukurlah saat ini sudah ada orang seperti kita yang dipanggil untuk memperbaiki sistem yang ada (SRN, Dosen Pascasarjana IAIN Palopo, wawancara online melalui telefon WA pada pada tanggal 20 Juli, 2021).

Pemanfaatan ripositori dalam pembelajaran sudah dilakukan, walaupun belum maksimal dalam setiap kali pertemuan. Penyimpanannya juga baru berupa buku belum diarahkan pada bahan pembelajaran seperti video, gambar dan link. Walaupun

31

demikian, sudah dapat dikembangkan lebih lanjut sehingga semakin hari semakin berkembang dan dapat mengangkat repositori untuk sering diakses dan dijadikan rujukan dalam penulisan tesis. Hal senada disampaikan pula oleh dosen pascasarjana yang lain yang mengatakan bahwa.

Sebagai salah satu pengembang SIBEDDU, saya sudah menyimpan sumber belajar secara digital melalui repositori IAIN Palopo dan menghubungkannya dengan LMS untuk diajarkan baik pada jenjang S1 maupun S2. Hal ini dilakukan karena penyimpanan online melalui SIBEDDU sendiri sangat terbatas karena jumlah kuota yang masih terbatas. Itulah sebabnya saya selalu meminta kepada pimpinan untuk mendukung menyediakan tempat penyimpanan yang besar sehingga seluruh dosen dapat langsung menyimpan di situ. Tetapi jika belum, memang bagus melalui repositori saja karena berkontribusi positif juga bagi IAIN secara keseluruhan (ED, Dosen Pascasarjana IAIN Palopo, wawancara online melalui telefon WA pada pada tanggal 20 Juli, 2021).

Pemanfaatan LMS dan repositori dalam pembelajaran sangat penting untuk menciptakan sistem pembelajaran terpadu, mudah dikontrol dan dapat menjalankan pembelajaran online secara baik dan teratur. Walaupun belum dilakukan secara kelembagaan, tetapi penggunaannya sudah dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh masing-masing dosen dan mahasiswa di dalamnya. Situasi yang terjadi di IAIN Palopo, tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di IAIN Parepare. Hal ini dapat dipahami dari beberapa pernyataan berikut ini.

Saya senang sekali bisa berinteraksi dengan kita terkait dengan ide-ide pengembangan sistem pembelajaran pada Pascasarjana IAIN Parepare. Kalau dilihat dari segi kelembagaan, pemanfaatan LMS dan repositori seperti yang kita tanyakan itu belum terbangun saat ini. Tetapi saya sangat optimis dengan perubahan yang terjadi saat ini, semakin hari semakin baik. Hanya saja situasi Pandemi yang sedikit menghambat akselerasinya. Tetapi gara-gara Pandemi Covid-19 ini pula kita dapat menciptakan inovasi-inovasi baru. Saya bisa katakan bahwa untuk menggunakan repositori saya kira baru secara personal terjadi pada individu dosen yang bersangkutan (MSI, Direktur Pascasarjana IAIN Parepare, wawancara Tatap Muka pada 5 Agustus, 2021).

Kelihatannya, pemanfaatan repositori institusi dalam pembelajaran belum berkembang secara kelembagaan karena sampai saat ini di IAIN Parepare masih menyerahkan kepada individu dosen dalam membuat inovasi pembelajaran. Hal ini disadari bahwa untuk dapat melakukannya perlu persiapan menyeluruh termasuk berbagai perangkat penunjangnya. Walaupun demikian kreativitas dosen memang

sangat diharapkan untuk melakukan inovasi-inovasi dalam mendesain dan melaksanakan pembelajaran.

Saya menggunakan LMS yang berbasis pada Edlink di situs IAIN Parepare tetapi kelihatannya masih sangat terbatas penggunaanya. Saya lebih senang menggunakan google classroom walaupun fitur-fiturnya relatif masih terpisah-pisah antara satu dengan yang lainnya. Tetapi linknya sangat bagus.

Makanya pemanfaatan repositori institusi seperti yang kita tanyakan saya melinkkan dengan google classroom. Tetapi banyak kawan-kawan yang lebih senang menggunakan Edlink, termasuk saya pernah merancang mata kuliah saya disitu, tetapi saya lebih nyaman menggunakan google classroom (AB, Dosen Pascasarjana IAIN Parepare, wawancara Tatap Muka pada 5 Agustus, 2021).

Pemanfaatan repositori dalam pembelajaran di Pascasarjana Parepare sudah memanfaatkan repositori institusi tetapi dilinkkan dengan google classroom bukan pada LMS yang berbasis pada Edlink. Tetapi pengalaman dosen lain repositori yang dihubungkan dengan LMS sudah dijalankan walaupun tidak secara sistematis untuk setiap kali pertemuan seperti pernyataan berikut.

Pengalaman saya dalam menghandal kelas pada Pascasarjana IAIN Parepare sudah dapat menggunakan LMS dan menghubungkannya dengan repositori karena memang saya meminta kepada pegawai perpustkaan untuk mengupload beberapa hasil penelitian saya dan juga buku pada repositori.

Saya mencari situs kemudian saya menyuruh mahasiswa untuk mencari referensi melalui link yang saya berikan. Pemanfaatan sumber belajar digital ini juga masih perlu dibenahi karena belum banyak dosen yang menggunakannya. Dari yang menggunakan itu pula mengalami kendala karena sumber belajar yang mereka kembangkan sangat terbatas (HMD, Dosen Pascasarjana IAIN Parepare, wawancara Tatap Muka pada 5 Agustus, 2021).

Pengintegrasian sumber belajar yang terdapat pada repositori disadari masih menemui kendala karena terbatasnya sumber belajar seperti buku yang relevan tidak memiliki versi online. Penggunaannya pun masih sangat kurang dikembangkan oleh para dosen. Diperlukan adanya kesadaran baru untuk melakukan inovasi secara revolusioner agar secara kelembagaan dapat menyiapkan, mengelola, dan disertai dengan tenaga yang handal untuk membantu para dosen dan mahasiswa dalam penggunaanya. Situasi yang terdapat pada dua perguruan tinggi Islam tersebut sedikit berbeda dengan yang terdapat di UIN Alauddin Makassar. Banyak dosen Pascasarjana telah memanfaatkan repositori ini untuk mempermudah pelaksanaan

33

pembelajaran. Puluhan mata kuliah pun sudah mengintegrasikan sumber belajar berbasis repositori dengan learning management system. Beberapa mata kuliah yang secara sistematis memanfaatkannya termasuk (1) Teknologi Pembelajaran, (2) Media Pembelajaran, (3) Sistem Informasi Manajemen Pendidikan, (4) Teori Belajar dan Pembelajaran, (5) Desain Pembelajaran PAI, (6) Tafsir Tarbawi, (7) Strategi Pembelajaran, (8) Sejarah Pendidikan Islam, (9) Kawasan Penelitian Pendidikan, dan (10) Teori Pembelajaran. Dari kesepuluh mata kuliah tersebut penggunaannya secara bertingkat-tingkat; ada yang secara keseluruhan berbasis pada repositori, ada yang sebagian saja, dan ada pula yang hanya beberapa untuk beberapa sumber.

Saya sudah memanfaatkan sumber belajar digital berbasis repositori ini selama tiga semester saya mengajarkan mata kuliah teori belajar dan pembelajaran pada program doktoral (S3) Pascasarjana dan sangat menikmatinya. Bagusnya karena sistem kita terintegrasi, misalnya repositori untuk menyimpan sumber belajar, LMS untuk pelaksanaan pembelajaran, dan Monev daring untuk memantau sistem perkuliahan. Namun, pemanfaatan sumber belajar digital ini kelihatannya belum ada panduan untuk mengintegrasikan ketiganya. Tetapi baru dalam batas dosen yang melakukannya, Kita beruntung karena sudah banyak dosen-dosen yang memiliki skill mumpuni untuk melakukannya (MND, Dosen Pascasarjana UINAM, wawancara Tatap Muka pada 14 Juli 2021).

Pemanfaatan sumber belajar digital menunjukkan sudah terintegrasi dalam suatu kesatuan yang utuh antara Lentera (LMS), repositori, dengan Monev Daring yang disediakan oleh UINAM. Namun demikian, pengintegrasian ini masih didominasi oleh ilmuan pendidikan karena sangat terlihat dalam lentera yang digunakan oleh para dosen Pascasarjana UINAM. Hal senada disampaikan pula bahwa pemanfaatan sumber belajar secara online telah menerapkan fitur-fitur khusus dalam Lentera.

Saya memaksimalkan pemanfaatan sumber belajar digital berbasis repositori melalui penggunaan fitur-fitur Lentera seperti file, buku, halaman dan URL.

Buku dan file untuk menyimpan teks seperti jurnal dan buku dalam bab-bab tertentu, halaman untuk menyimpan video pembelajaran, dan URL untuk menghubungkan sumber-sumber belajar yang saya sudah menguploadnya pad repositori, kemudian dihubungkan dengan Lentera (MRP, Dosen Pascasarjana UINAM, wawancara Tatap Muka pada 14 Juli 2021).

Jelas sekali bahwa integrasi berbagai sumber sudah dapat memfasilitasi pelaksanaan pembelajara yang diselenggarakan secara online baik melalui

singkronus maupun asynchronus. Senada dengan pernyataan ini, dalam mata kuliah lain terjadi hal serupa seperti dikatakan berikut ini.

Setelah mengenal repositori, LMS, dan Monev Daring, saya merasa sangat terbantu, apalagi jika berpasangan dengan Bapak dalam mata kuliah-mata kuliah tertentu. Mata kuliah teknologi pembelajaran bahasa Arab misalnya, kita dapat mengupload dulu buku-buku, jurnal, dan sumber lain direpositori, kemudian kita linkkan dengan lentera dan ketika kita mengisi monev daring itu saja yang dicopy-paste, mudah kan? Hanya perlu menyediakan waktu yang banyak untuk melakukannya (AZH, Dosen Pascasarjana UINAM, wawancara Tatap Muka pada 14 Juli 2021).

Pernyataan tersebut memberi isyarat bahwa pemanfaatan sumber belajar digital berbasis repositori sudah membawa dampak positif bagi pengembangan atau inovasi pembelajaran di kalangan dosen Pascasarjana UINAM. Bukan hanya penyimpanan sumber belajar berbasis repositori, melainkan juga dalam menyediakan aktivitas belajarnya.

Dokumen terkait