BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Kategori
4.2.4 Kejelasan petunjuk pada rak
Petunjuk rak adalah pemasangan label petunjuk yang ditempel pada sisi-sisi rak yang berisi informasi mengenai buku dengan nomor klas berapa yang disusun di rak tersebut. Pada Dispusar Kota Medan petunjuk rak menggunakan kertas HVS dan ditempelkan menggunakan double tape pada sisi rak. Hal ini kompatibel dengan pengakuan yang diberikan informan (I2 dan I3) berikut ini:
I2: Pada setiap rak buku sudah ditempelkan petunjuk nomornya. Misalnya petunjuk nomor kelas 297.1 sudah tertera di rak. Jika pengunjung bertanya mencari buku tertentu maka akan diarahkan berdasarkan nomor kelasnya.
Jika belum ketemu dan bertanya lagi, melapor bahwa bukunya tidak ada maka pustakawan akan turun tangan untuk melihat dan mengambil dari rak.
I3: Petunjuk pada rak pada umumnya jelas tetapi pada kenyataannya terkadang ada juga yang sudah ditempel di rak namun masih tetap ada pemustaka yang bertanya.
Berdasarkan jawaban dari informan dapat diambil kesimpulan bahwa petunjuk rak pada Dispusar Kota Medan masih kurang informatif bagi pemustaka.
Hal ini ditunjukkan dengan masih banyaknya pemustaka yang bertanya pada
petugas. Lalu, untuk menunjukkan batas-batas wilayah pada rak tetap menggunakan kertas yang sudah diketikkan nomor-nomor kelas buku. Setiap rak akan diikuti tanda yang mewakili isi rak tersebut. Dalam satu baris rak bisa memuat lebih dari satu klas. Berikut contoh petunjuk rak di Perpustakaan Kota Medan:
Gambar 4. Contoh Petunjuk Rak di Perpustakaan Kota Medan 4.2.5 Perlengkapan Shelving
Dalam melaksanakan suatu kegiatan diperlukan alat-alat untuk membantu dan mempermudah kerja shelving. Begitu juga dengan melaksanakan shelving dibutuhkan alat-alat yang dapat meringankan beban petugas dalam melaksanakan tugasnya. Perihal ini serupa dengan penegasan informan (I2 dan I3) berikut ini:
I2: Alat yang dibutuhkan selama pelaksanaan shelving untuk mempermudah kerja pustakawan adalah besi penyangga, rak dan petunjuk nomor kelas.
Besi penyangga dibutuhkan sebagai pembatas antara buku dengan nomor kelas berbeda namun di satu barisan rak yang sama. Besi penyangga juga berfungsi sebagai penahan buku tidak jatuh atau tumbang. Buku akan berdiri tegak dan lebih terlihat rapi. Selain itu alat kebersihan seperti kemoceng, kain lap karena sesekali perpustakaan akan mengadakan kebersihan dan sewaktu-waktu dalam waktu 3 bulan sekali juga disebar kapur barus I3: Alat yang digunakan untuk melaksanakan shelving yang terutama adalah rak, besi penyangga dan troli. Troli menjadi penting karena dalam sehari buku yang keluar dari rak belum tentu sedikit sehingga diperlukan bantuan untuk membawa buku-bukunya ke rak.
390 – 391
001.1 – 001.4
004.60 – 004.69
700 – 719
Namun kenyataannya ditemukan adanya kekurangan sarana shelving.
Kondisi ini tampak dari ungkapan informan berikut:
I2: Sejauh ini perpustakaan memiliki keterbatasan pada rak dan ketiadaan tangga di perpustakaan untuk menjangkau rak-rak yang tinggi.
I3: Kekurangan alat yang dibutuhkan untuk shelving adalah tangga untuk membantu pegawai yang terbatas mencapai rak-rak tinggi.
Untuk mengatasi keterbatasan rak maka Dispusar Kota Medan mengambil strategi untuk melaksanakan penyiangan. Hal ini berdasarkan pernyataan informan berikut:
I2: Untuk mengatasi keterbatasan rak adalah siasat pustakawan atau petugas shelving. Intinya setiap petugas harus mengenal buku yang disimpannya adalah bukunya. Misalnya kelas 813 itu novel dan raknya sudah kepenuhan maka buku yang lama dan jarang disentuh dipilih lalu ditaruh di kotak dan ditandai di kotaknya kelas 813. Nanti suatu saat akan diadakan penyiangan.
Saat ini perpustakaan sedang perpindahan masuk ke inlislite jadi semua koleksi dibongkar. Jika ada rak yang tersisa, koleksi lainnya masih berantakan maka akan disusun lagi dan disesuaikan. Mungkin dapat disusun semua dan dilayankan lagi sesuai dengan klasifikasi.
Hal ini didukung dengan pernyataan informan sebelumnya terkait penataan bahan pustaka yang memiliki jumlah eksemplar terlalu banyak:
I2: Koleksi peraturan pemerintah dari kantor walikota diberikan 50 eksemplar dan tidak mungkin 50 eksemplar dipajang di rak. Kebijakan yang dilakukan adalah dipilih 5 atau sampai 10 eksemplar untuk dipajangkan dan yang lainnya disimpan. Namun, tetap ditandai di kotak yang disimpan tersebut bahwa didalam kotak adalah buku peraturan walikota. Kalau-kalau kebetulan ada pemeriksaan atau pun pengunjung ada yang memang membutuhkan lebih dari yang dipajang tersebut.
Ada pun kriteria penyiangan bahan pustaka yang digunakan Dispusar Kota Medan, yakni adalah:
1. Bahan pustaka yang tidak lagi searah dengan keinginan pemustaka 2. Bahan pustaka yang sudah lama atau tidak up to date isinya
3. Bahan pustaka yang fisiknya hancur dan tidak dapat dibetulkan lagi 4. Bahan pustaka yang jarang disentuh atau pegunaannya rendah 5. Bahan pustaka yang memiliki beberapa eksemplar jadi sisanya akan
disimpan
Jadi, bahan pustaka hasil penyiangan akan dikarduskan dengan catatan nomor klasnya dipermukaan kardus. Hal ini dilakukan bertujuan untuk menghemat tempat dan menciptakan wadah lebih luas untuk perpindahan buku.
Berdasarkan pernyataan informan diatas dapat diterima bahwa Dispusar Kota Medan telah melibatkan alat-alat dalam melaksanakan shelving untuk meringankan kerja shelving. Alat-alat yang digunakan berupa rak, besi penyangga buku agar buku dapat berdiri tegak dan troli untuk mengangkut buku-buku ke rak.
Namun berdasarkan kebutuhannya masih terdapat kekurangan rak buku dan tangga untuk menjangkau rak yang tinggi. Dispusar Kota Medan telah melaksanakan penyusunan bahan bacaan sudah searah sama SOP tentang peralatan serta perlengkapan yang digunakan saat shelving.
1.2.6 Temu Kembali Bahan Pustaka
Temu kembali merupakan kegiatan menemukan dan memberikan informasi yang dibutuhkan pemustaka. Informasi tersebut terkandung di dalam buku yang disusun pada rak-rak buku. Alat temu kembali yang dipakai oleh Dispusar Kota Medan yaitu OPAC, namun OPAC tersebut sedang dalam masa perbaikan sehingga temu kembali dapat dilakukan melalui petugas perpustakaan atau langsung menuju rak. Sesuai dengan pernyataan informan berikut:
I2: Sarana yang digunakan untuk mempermudah proses temu kembali yang digunakan oleh perpustakaan kota Medan adalah opac. Jika pengunjung mungkin tidak memahami menggunakan opac atau buku yang mereka cari tidak ditemukan maka petugas perpustakaan yang akan turun tangan
mencarikan atau menunjukkan raknya. Misalnya ingin mencari kelas manajemen, akan diberitahu raknya atau manajemen sumber daya manusia akan ditunjukkan, mencari manajemen sumber daya manusia yang lebih spesifik sesuai kebutuhan pengguna semuanya dipersilahkan ambil sendiri.
I3: saat ini ada dua, pertama sipus dan kedua inlislite karena perpustakaan akan mengubah sipus ke inlislite tetapi pada temu baliknya sebenarnya sama keduanya namun ada OPAC versi sipus dan OPAC versi inlislite. Jika inlislite dari perpusnas jadi dapat disinkronisasi ke perpustakaan nasional RI. Maka pemustaka dapat mencari sendiri ke rak atau dibantu oleh petugas dulu untuk sementara waktu ini.
Berdasarkan pernyataan informan diatas dapat ditegaskan yakni OPAC di Dispusar Kota Medan belum melayani kepentingan pemustakanya dalam aktivitas penelusuran, hal ini disebabkan informasi yang minim sehingga pengguna keseringan langsung mendatangi rak atau menanyakan langsung ke petugas. Maka dari itu shelving berperan penting agar memudahkan penelusuran langsung di rak.
Pihak perpustakaan juga sedang melakukan perubahan dari SIPUS ke INLISLITE sebagai usaha atau solusi dari banyaknya pemustaka yang bertanya kepada petugas perpustakaan untuk menunjukkan rak yang harus dituju apabila membutuhkan informasi yang mereka butuhkan. Dispusar Kota Medan sedang melakukan input data koleksi pada sistem OPAC inlislite lalu saat ini masih belum semua data dari koleksi diinput ke dalam OPAC.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Shelving menggambarkan pekerjaan penghabisan dari tahap-tahap pengelolaan bahan pustaka yaitu menyusun bahan bacaan ke dalam rak menggunakan sistem tertentu. Tujuannya yaitu untuk mempercepat pengguna dalam memperoleh bahan bacaan yang mereka butuhkan. Untuk menjajarkan bahan pustaka di rak agar rapi dan teratur serta mudah ditemukembali tentunya dibutuhkan suatu pelaksanaan yang baik dan benar.
Untuk mengetahui pelaksanaan shelving pada suatu perpustakaan peneliti melakukan penelitian dengan mengangkat judul Analisis Pelaksanaan Shelving untuk Kemudahan Temu kembali Bahan Pustaka di Dispusar Kota Medan. Berdasarkan data interview dan pengamatan yang diperoleh dari beberapa informan bisa diambil beberapa kesimpulan seperti berikut ini :
1. Kelengkapan dari bahan bacaan bertujuan selain untuk memperlancar kegiatan pelayanan, juga untuk memudahkan penyusunan di rak. Melengkapi atribut bahan pustaka adalah bagian dari kegiatan pengolahan bahan bacaan di Dispusar Kota Medan dilakukan oleh seksi pengembangan dan pengolahan bahan pustaka.
2. Sistem penyusunan bahan pustaka di Dispusar Kota Medan berdasarkan DDC edisi 23 yaitu buku akan disusun berdasarkan nomor klasifikasinya. Diurutkan dari nomor klasifikasi terkecil hingga nomor klas terbesar, tiga alfabet awal nama penulis dan satu alfabet awal judul bahan bacaan. Kemudian ada bahan pustaka yang disusun menurut judulnya yaitu majalah dan menurut tanggal terbitnya yaitu koran. Koleksi refrensi, koleksi anak, dan koleksi difabel disusun berdasarkan jenisnya dan diletakkan di ruangan terpisah.
3. Sistem pengaturan bahan pustaka di rak yaitu berpedoman pada DDC edisi 23. Penyusunan bahan bacaan di Dispusar Kota Medan melalui langkah berikut:
1. Buku disusun berdasarkan nomor klas yang tertera pada masing-masing punggung buku. Dibariskan mulai bilangan klasifikasi paling kecil hingga nomor klas paling besar.
2. Penyusunan dibariskan dari sisi kiri lalu ke kanan kemudian dari atas turun ke bawah. Jika satu baris pada rak atas sudah penuh maka dilanjutkan ke bawah
3. Sesuaikan dengan urutan abjad yaitu tiga huruf pertama nama pengarang atau nama keluarga sesuai urutan alfabetis
4. Lalu perhatikan urutan abjad pertama judul buku yang disusun sesuai urutan alfabetis. Jika ada yang memiliki lebih dari satu eksemplar maka diletakkan sejajar dengan nomor kelas yang sama. Dengan catatan jika terlalu banyak jumlah eksemplarnya maka selebihnya akan disimpan.
5. Jika terdapat penambahan bahan bacaan baru yang mau disusun pada barisan yang telah ada, maka amati bilangan klasifikasi buku-buku yang sudah tertata di rak. Letakkan buku bersangkutan berdampingan dengan buku-buku yang telah lebih dulu disusun di barisan nomor klasifikasi yang benar.
4. Petunjuk pada rak masih kurang informatif dan sulit dibaca karena keterbatasan media penulisan dan peletakkan yang kurang strategis.
Beberapa petunjuk pada rak ada yang masih tertempel dengan rapi, kemudian yang lain ada yang sudah lepas dan buram hanya ditulis menggunakan pena.
5. Sarana temu balik pada Dispusar Kota Medan yang tersedia adalah OPAC. Namun Opac tersebut belum memenuhi kebutuhan pemustakanya karena metadata yang kurang lengkap sehingga penelusuran di lakukan langsung ke rak atau sebelumnya bertanya ke petugas. Artinya, temu kembalinya masih secara manual. Namun sudah dilakukan perbaikan yaitu perubahan dari Sipus ke Inlislite.
Pihak perpustakaan sedang melaksanakan pengentrian data ke dalam OPAC.
5.2 Saran
1. Dalam kacamata pemuasan kebutuhan informasi pengguna, perpustakaan bisa melaksanakan pengelolaan koleksi supaya dapat dijajaki dengan lekas dan murah. Maka dari itu teramat diinginkan Dispusar Kota Medan melihat keadaan perpustakaan dan mengaplikasikan metode temu balik informasi dan metode shelving yang baik dan benar.
2. Mengoptimalkan kegiatan shelving supaya bahan bacaan tertata dengan apik dan bisa ditemu kembali oleh pengguna. Saat melaksanakan shelving sebaiknya mencermati barisan, tatanan juga kerapian bahan pustaka supaya semakin rapi serta meningkatkan kesuksesan ketika proses temu kembali bahan pustaka.
Melaksanakan shelving dengan rutin untuk memeriksa tatanan koleksi perpustakaan agar bahan pustaka tetap teratur dan rapi.
3. Penambahan petugas shelving yang ahli di bidang perpustakaan di Dispusar Kota Medan mengingat banyaknya petugas yang belajar secara autodidak juga setiap staf sudah memiliki beban kerjanya masing-masing selain shelving.
4. Memungkinkan metode shelving yang terkomputerisasi sehingga dapat diaplikasikan praktis dan secara teknis mampu mengoptimalkan kinerja pustakawan dengan lebih efisien.
5. Mengedukasi metode shelving tidak hanya kepada pustakawan, melainkan juga kepada para pemustaka dan pengunjung.
Daftar Pustaka
Alam, Umar Falahul. "Shelving dan Disorientasi Pengelolaan Jajaran Koleksi (Analisis terhadap persoalan yang mengemuka dan tawaran solusinya)."
Jurnal Iqra, 2016: 14.
Ayunda, Durga. Tingkat Kepuasan Pemustaka Terhadap Shelving di Upt.Perpustakaan Uin Ar-Raniry Banda Aceh. Darussalam-Banda Aceh:
Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, 2019.
Bafadal, Ibrahim. Pengelolaan Perpustakaan Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara, 2006.
Basuki, Sulistyo. Teknik dan Jasa Dokumentasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1992.
Darmono. Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan Sekolah. Jakarta: Grasindo, 2001.
Darmono. Perpustakaan Sekolah: Pendekatan Aspek Manajemen dan Tata Kerja.
Jakarta: Grasindo, 2007.
Daryanto. Pengetahuan Praktis Bagi Pustakawan. Malang: Binacipta, 1986.
Hermawan, Iwan. Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif, Kualitatif dan Mixed Methode. Kuningan: Hidayatul Quran Kuningan, 2019.
Hs, Lasa. Kamus Istilah Perpustakaan. Jakarta: Kanisius, 1990.
Hs, Lasa. Manajemen Perpustakaan Sekolah. Yogyakarta: Pinus Book Publisher, 2007.
Lailatul, Husni, Doddy Rusmono, and Hada Hidayat Margana. "Hubungan Antara Shelving dengan Proses Temu Balik Informasi pada Perpustakaan Universitas Pendidikan Indonesia." Journal of Library and Information Science, 2016: 41.
Noerhayati, S. Pengelolaan Perpustakaan. Bandung: Alumni, 1988.
NS, Sutarno. Manajemen Perpustakaan. Jakarta: Sagung Seto, 2006.
NS, Sutarno. Perpustakaan dan Masyarakat. Jakarta: Sagung Seto, 2006.
NS, Sutarno. Perpustakaan dan Masyarakat. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003.
Perpustakaan Perguruan Tinggi: Buku Pedoman Edisi Ketiga. Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional RI Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, 2004.
Sumardji, P. Mengelola Perpustakaan. Yogyakarta: Kanisius, 1978.
P, Sumardji. Pelayanan Perpustakaan. Yogyakarta: Kanisius, 1990.
Prastowo, Andi. Manajemen Perpustakaan Sekolah Profesional. Jogjakarta: Diva Press, 2012.
Prastowo, Andi. Sumber Belajar & Pusat Sumber Belajar. Depok: Prenadamedia Group, 2018.
Purwono. Dokumentasi. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010.
Rahmah, Elva. Akses dan Layanan Perpustakaan. Jakarta: Kencana, 2018.
Rahmah, Elva, and Testiani Makmur. Kebijakan Sumber Informasi Perpustakaan.
Yogyakarta: Graha Ilmu, 2015.
Semiawan, Conny R. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Grasindo, 2010.
Sinaga, Dian. Perpustakaan Sekolah Peranannya Dalam Proses Belajar Mengajar.
Jakarta: Kreasi Media Utama, 2005.
Sjahrial-Pamuntjak, Rusiana. Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan. Jakarta:
Djambatan, 2000.
Soeatminah. Perpustakaan Kepustakawanan dan Pustakawan. Yogyakarta:
Kanisius, 1992.
Suhendar, Yaya. Cara Mengelola Perpustakaan Sekolah Dasar. Jakarta:
Prenadamedia Group, 2014.
Sutoyo, Agus, and Joko Santoso. Strategi dan Pemikiran Perpustakaan visi Hernandono. Jakarta: Sagung Seto, 2001.
Suwarno, Wiji. Pengetahuan Dasar Kepustakaan. Bogor: Ghalia Indonesia, 2010.
Suwarno, Wiji. Psikologi Perpustakaan. Jakarta: Sagung Seto, 2009.
Yusuf, Muri. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif & Penelitian Gabungan.
Jakarta: Kencana, 2014.
Yusup, Pawit M. Pedoman Praktis Mencari Informasi. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995.
Yusuf, Pawit M, and Priyo Subekti. Teori dan Praktik Penelusuran Informasi (Informasi Retrieval). . Jakarta: Kencana Prenada Media, 2010.
Yani Marliani, Ardoni. "Tinjauan Terhadap Keberadaan Bahan Pustaka di Rak Dan Di Dalam Database Digilib Perpustakaan Universitas Negeri Padang." Ilmu Informasi dan Kearsipan, 2013: 348.
Yusuf, Pawit M. Ilmu Informasi, Komunikasi, dan Kepustakaan. Jakarta: Bumi Aksara, 2016.
Lampiran 1
Hasil Dokumentasi
Nomor klasifikasi pada punggung buku adalah dasar penempatan bahan pustaka di rak. Nomor klasifikasi ini dibuat berdasarkan DDC edisi 23 dan diperoleh pada saat proses pengolahan bahan pustaka.
Lampiran 1
Foto diatas merupakan tempat untuk meletakkan buku-buku yang sudah selesai dibaca. Hal ini bertujuan agar hanya petugas yang dapat menyusun kembali ke dalam rak sehingga teratur dan sesuai.
Lampiran 1
Disebabkan kekurangan rak buku maka tidak semua koleksi disusun ke dalam rak. Selebihnya akan dikarduskan dengan catatan buku klas berapa, berasal darimana, jumlah judul dan eksemplar.
Lampiran 1
Petunjuk pada rak dituliskan menggunakan kertas. Di beberapa rak ada yang masih tertempel dengan rapi namun ada yang sudah usang sehingga mempersulit pembacaannya.
Penggunaan besi penyangga buku yang bertujuan menyokong buku agar tidak miring atau tumbang. Hal ini juga bertujuan untuk memisahkan buku dengan nomor klas berbeda jika masih disusun pada satu baris rak yang sama.
Lampiran 1
Gambar diatas merupakan rak majalah. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Medan mempunyai dua buah rak majalah. Dapat dilihat dari gambar majalah disusun berdasarkan judulnya. Jadi, satu buah majalah akan disusun berlapis dengan judulnya yang sama.
Penempelan label pada buku yang tipis. Pada beberapa buku ditemukan label-nya yang masih belum digeser ke bagian muka buku.
Lampiran 1
Rak surat kabar (koran) dan troli untuk mengangkut buku di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Medan
Penyusunan bahan pustaka pada rak diurutkan sesuai urutan alfabetis.
Lampiran 1
Rak buku di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Medan.
Lampiran 2
PEDOMAN WAWANCARA
ANALISIS PELAKSANAAN SHELVING UNTUK KEMUDAHAN TEMU KEMBALI BAHAN PUSTAKA DI DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN
KOTA MEDAN
Informan I : Kasi Layanan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Medan Informan II & III : Staf Pegawai Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Medan
Pertanyaan informan 1 (I1)
1. Berapa total petugas perpustakaan yang ikut serta melaksanakan shelving, apakah sudah memahami prinsip penyusunan bahan pustaka yang baik dan benar?
2. Apa pedoman shelving di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Medan?
3. Bagaimana kebijakan penjadwalan dan pembagian nomor-nomor kelas untuk semua staf pegawai yang melaksanakan penyusunan bahan pustaka di rak?
4. Apakah sistem klasifikasi sudah mempermudah kerja staf pegawai dalam melakukan shelving?
5. Bagaimana SOP pelaksanaan shelving bahan pustaka di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Medan, apakah sudah ada?
Pertanyaan Informan dua (I2) dan Informan tiga (I3)
Wawancara dilakukan secara mendalam guna mendapatkan data yang akurat.
Pedoman yang dilakukan dalam wawancara, yaitu : Kelengkapan Bahan Pustaka:
1. Apakah syarat bahan pustaka yang siap disusun di rak?
2. Untuk bahan pustaka yang tidak lengkap, apakah mempengaruhi penyusunan bahan pustaka?
Penyusunan Bahan Pustaka Pada Rak:
3. Apakah dasar penempatan dan penyusunan bahan pustaka di rak yang sama?
Lampiran 2
4. Apa yang dilakukan petugas jika ada ditemukan bahan pustaka yang berantakan atau penomorannya tidak sesuai pada jajaran kelasnya?
5. Bagaimana dengan buku yang tidak berurut dari nomor klas terkecil hingga terbesar dan tidak beurut secara alfabetis?
6. Apakah cara penyusunan bahan pustaka tercetak seperti buku, majalah dan koran memiliki cara yang berbeda?
Keteraturan Penyusunan Bahan Pustaka:
7. Bagaimana jika terdapat penambahan bahan pustaka baru?
8. Bagaimana jika satu rak telah penuh dengan nomor klas tertentu?
9. Bagaimana dengan punggung buku yang tipis agar labelnya mudah terlihat dengan jelas?
10. Bagaimana jika terdapat bahan pustaka dengan satu judul beberapa eksemplar?
11. Bagaimana bila saat shelving didapati bahan pustaka yang rusak?
Kejelasan Petunjuk Pada Rak:
12. Apakah petunjuk pada rak sudah jelas, komunikatif dan mudah dibaca pemustaka?
13. Bagaimana cara menunjukkan batas-batas kelas tertentu pada rak?
Perlengkapan Shelving:
14. Apa saja sarana yang digunakan untuk membantu pelaksanaan shelving di perpustakaan ini?
15. Apakah sarana yang digunakan sudah sesuai kebutuhan dan meringankan kerja shelving?
16. Apa saja kendala yang muncul untuk rak penyimpanan yang digunakan?
Temu Kembali Bahan Pustaka:
17. Sarana apa yang digunakan untuk mempermudah proses temu kembali bahan pustaka di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Medan?
Lampiran 2
18. Bagaimana proses temu kembali bahan pustaka di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Medan?
19. Apa kendala dalam proses temu kembali bahan pustaka di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Medan?
Lampiran 3
71 Transkrip Wawancara
Nama Informan: Ibu Nurhayati SmHk Tanggal Wawancara: 23 Oktober 2020 Pukul: 11.16 wib
Tempat: Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Medan Keterangan
P : Peneliti I1 : Informan 1
P: Selamat Siang, bu. Bu, saya boleh tanya-tanya sedikit tentang shelving ya, bu?
I1: Silahkan. Apa itu?
P: Berapa total petugas perpustakaan yang ikut serta melaksanakan shelving, apakah sudah memahami prinsip penyusunan bahan pustaka yang baik dan benar?
I1: Kami di perpustakaan kota Medan ini ada berjumlah lebih kurang 18 orang petugas shelving. Iya rata-rata mereka telah memahami cara penyusunan buku sesuai dengan klasifikasinya yang sebelumnya telah di kasih arahan juga sebelumnya karena kan di perpustakaan ini kan latar belakang pegawainya yang tidak semuanya pendidikan perpustakaan cuman kalau sudah bekerja di perpustakaan kan otomatis dia harus tahu perpustakaan. Jadi sebelum yang belum tahu ya diberi arahan atasan bawa menyusun buku ini sesuai dengan klasifikasi buku yang ada di dalam buku tersebut.
P: Berarti belajarnya otodidak?
I1: iya otodidak, secara kilat jugalah gitu.
P: Jadi yang ke-18 ini memang semuanya melaksanakan shelving?
Lampiran 3
72
I1: Iya kami setiap pagi melaksanakan shelving. ada kami bagi-bagi tugas nya misalnya si A kelas 000-100, si B kelas 100 sampai kelas 200 gitu jadi setiap pagi kami memilah-milah Bukunya ada yang yang dipinjam atau yang dipulangkan atau yang dibaca pengunjung kami pilah kami sesuaikan dengan kelasnya disamakan baru di bagi perpegawai yang ada Diperintahkan sesuai surat perintah tugasnya.
P: apa pedoman shelving yang digunakan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Medan?
I1: pedoman shelvingnya sesuai dengan peraturan DDC buku kan sebelum dilayankan kan sudah di olah sama bagian koleksi bahwa misalnya buku matematika kelasnya kelas 500. Jadi kami menyusunnya sesuai dengan kelas yang ada Dirak dan kami Sesuaikan dengan klasifikasi buku jadi sesuai dengan peraturan kami melaksanakan shelvingnya.
P: Bagaimana kebijakan penjadwalan dan pembagian nomor-nomor kelas untuk staf pegawai yang melaksanakan shelving?
I1: sebelum kami melaksanakan shelving terlebih dahulu kami telah menerima
I1: sebelum kami melaksanakan shelving terlebih dahulu kami telah menerima