• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

D. Instrumen Pengumpul Data

1. Penyusunan Instrumen Data Penelitian

Dalam penelitian ini alat pengumpulan data (instrumen) yang digunakan oleh peneliti adalah sebagai berikut:

a. Bentuk instrumen tes

Tes dapat berupa serentetan pertanyaan, lembar kerja, atau sejenisnya yang dapat digunakan untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, bakat, dan kemampuan dari subjek penelitian.

Lembar instrumen berupa tes ini berisi soal-soal tes yang terdiri dari butir-butir soal tulisan. Adapun instrumen tes ini digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa (variabel terikat). Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar soal pendidikan Agama Islam yang sudah dilakukan uji coba.

b. Bentuk instrumen angket atau kuesioner

Kuesioner atau angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden atau sampel penelitian untuk dijawabnya.35 Tujuan dari kuesioner ini adalah untuk memperoleh informasi dari responden berkaitan dengan apa yang dialami dan diketahui oleh responden.

Adapun pengukuran kuesioner ini peneliti menggunakan bentuk kuesioner tertutup (responden tinggal memilih jawaban pertanyaan atau pernyataan yang telah disediakan dengan cara menceklis, bentuknya sama dengan kuesioner pilihan ganda). Kuesioner dalam penelitian ini digunakan untuk mengukur variabel Gerakan Literasi Sekolah dan penerapan konsep Sekolah Ramah Anak (variabel bebas)

Daftar pertanyaan yang disajikan diukur dengan menggunakan model skala Likert. Ridwan mengemukakan model skala Likert dapat digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau kelompok tentang kejadian atau gejala sosial, dengan mengunakan model skala Likert maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi dimensi, dimensi dijabarkan menjadi sub variabel kemudian dijabarkan lagi menjadi indikator-indikator yang akan di ukur36. Secara umum teknik dalam pemberian skor yang digunakan dalam kuesioner penelitian ini adalah teknik skala Likert.

Penggunaan skala Likert menurut Sugiyono adalah “skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang

35Sugiyono, Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif R&D, Bandung:

Alfabeta, 2010, hal. 142.

36 Riduwan, Skala Pengukuran Variabel-variabel Penelitian, Bandung: Alfa Beta 2013, hal. 12.

atau sekelompok orang tentang fenomena sosial”.37 Jawaban setiap instrumen mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif yang berupa kata-kata seperti tertera pada tabel dibawah ini:

Tabel 3.1 Skala Likert

No. Frekuensi (%) Jawaban Sifat Skor

1. 81 – 100 Selalu (SL) Sangat

positif 5

2. 61 – 80 Sering (SR) Positif 4

3. 41 – 60 Kadang-kadang (KK) Netral 3

4. 21 – 40 Jarang (J) Negatif 2

5. 1 – 20 Sangat Jarang (SJ) Sangat

negatif 1

Ciri khas dari skala likert adalah bahwa makin tinggi skor yang diperoleh oleh seorang responden merupakan indikasi bahwa responden tersebut sikapnya makin positif terhadap objek yang diteliti

Data yang terkumpul akan diolah dengan beberapa metode.

Pertama, editing yaitu setelah angket diisi oleh responden dan dikembalikan kepada peneliti, maka peneliti segera meneliti angket tersebut dan diberi nomor. Hal tersebut bertujuan agar angket yang telah diedit tidak tertukar sehingga tidak terjadi perhitungan ganda.

Kedua, skoring yaitu untuk menentukan skoring dalam hasil penelitian ditetapkan bahwa responden yang menjawab pernyataan-pernyataan yang diberikan oleh peneliti, diberi bobot sebagai berikut:

a) Pernyataan Positif:

(1) Alternatif jawaban sangat positif mempunyai bobot nilai 5 (2) Alternatif jawaban positif mempunyai bobot nilai 4 (3) Alternatif jawaban netral mempunyai bobot nilai 3 (4) Alternatif jawaban negatif mempunyai bobot nilai 2

(5) Alternatif jawaban sangat negatif mempunyai bobot nilai 1 b) Pernyataan Negatif:

(1) Alternatif jawaban sangat negatif mempunyai bobot nilai 1 (2) Alternatif jawaban negatif mempunyai bobot nilai 2

(3) Alternatif jawaban netral mempunyai bobot nilai 3

37Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R dan D,…., hal.132.

(4) Alternatif jawaban positif mempunyai bobot nilai 4

(5) Alternatif jawaban sangat positif mempunyai bobot nilai 5 Langkah ketiga, tabulating yaitu pengolahan data dengan memindahkan skor jawaban yang diperoleh dari angket ke dalam tabel tabulasi/penjumlahan sehingga diketahui total skor angket dari setiap responden.

c. Bentuk instrumen observasi

Observasi adalah cara pengumpulan data berdasarkan tinjauan dari pengamatan secara langsung terhadap aspek-aspek yang terkait.38 Menurut Hidayah observasi merupakan teknik untuk merekam data keterangan atau informasi tentang diri seseorang yang dilakukan secara langsung atau tidak langsung terhadap kegiatan-kegiatan yang sedang berlangsung39. Observasi dalam sebuah penelitian diartikan sebagai pemusatan perhatian terhadap suatu objek dengan melibatkan seluruh indera untuk mendapatkan data. Jadi observasi merupakan pengamatan langsung dengan menggunakan penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan, atau kalau perlu dengan pengecapan. Instrumen yang digunakan dalam observasi dapat berupa pedoman pengamatan tes, kuesioner, rekaman gambar, dan rekaman suara. Observasi pada penelitian ini digunakan untuk melihat keadaan atau kondisi siswa kelas V SDIT Miftahul Ulum disaat melakukan aktifitas pembelajaran.

d. Bentuk instrumen dokumentasi

Dokumentasi sudah lama digunakan dalam penelitian sebagai sumber data dan dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan bahkan untuk meramalkan, metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, notulen, agenda dan lain-lain40. Adapun kegunaan dokumentasi adalah untuk menelaah segi-segi subjektif dan hasilnya sering dianalisis secara induktif, sehingga bermanfaat menghasilkan data deduktif41.

Metode ini digunakan untuk mendapatkan data mengenai keadaan sekolah, visi dan misi serta tujuan yang ada di dalam SDIT Miftahul Ulum Cinere Depok Jawa Barat.

38 Toha Anggoro, et al.,Metode Penelitian, …, hal.47.

39Nur Hidayah, Pemahaman Individu, Malang: Universiti Brawijaya1998, hal. 4.

40 Syarifudin Azwar, Metode Penelitian, Yokyakarta: Pustaka Belajar, 2007, hal.22.

41 Melong, Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007, hal.

160.

e. Bentuk instrumen Wawancara atau interview

Metode Interview yang sering disebut dengan wawancara atau kuesionar lisan, adalah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara. Wawancara adalah cara pengumpulan data dengan mengadakan tanya jawab langsung kepada objek yang di teliti atau kepada perantara yang mengetahui persoalan dari objek yang diteliti.42 Instrumen interview dilakukan untuk mengetahui sejarah dan latar belakang sekolah yang akan diteliti.

2. Kisi-kisi instrumen penelitian a. Hasil Belajar Siswa

1) Definisi konseptual

Dari beberapa pemamparan diatas mengenai hasil belajar siswa dapat disintesakan bahwa hasil belajar adalah pencapaian belajar yang didapatkan oleh seseorang berupa beberapa kemampuan, keterampilan atau kecakapan yang dapat dilihat dari perubahan tingkah laku yang mencakup ranah kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotorik setelah melakukan kegiatan atau proses belajar, dan perubahan tersebut dapat diamati dan diukur melalui evaluasi atau penilaian.

2) Definisi operasional

Dari beberapa pemamparan diatas mengenai hasil belajar siswa dapat disintesakan bahwa hasil belajar siswa adalah pencapaian belajar yang didapatkan oleh seseorang berupa beberapa kemampuan, keterampilan atau kecakapan yang dapat dilihat dari perubahan tingkah laku yang mencakup ranah kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotorik setelah melakukan kegiatan atau proses belajar, dan perubahan tersebut dapat diamati dan diukur melalui evaluasi atau penilaian.

Hasil belajar siswa yang akan diteliti di sini adalah Penilain yang diambil dari hasil tes berupa soal pilihan ganda penulis buat berdasarkan materi yang telah diajarkan di kelas 5 pada semester ganjil pada tahun pelajaran 2019/2020. Dan nilai dari hasil belajar ini biasanya nilai murni. Hal ini peneliti lakukan agar mendapat gambaran yang lebih obyektif tentang hasil belajar siswa khususnya aspek kognitif.

42 Misbahuddin Dan Iqbal Hasan, Analisis Data Penelitian Dengan Statistik, Jakarta: Bumi Aksara, 2013, hal. 27.

b. Gerakan Literasi Sekolah 1) Defnisi konseptual

Gerakan Literasi Sekolah adalah usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah khususnya peserta didik, akademisi, penerbit, media massa, masyarakat, dan pemangku kepentingan di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menumbuhkan minat dan budaya baca peserta didik.

2) Definisi operasional

Gerakan Literasi Sekolah adalah usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah khususnya peserta didik, akademisi, penerbit, media massa, masyarakat, dan pemangku kepentingan di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menumbuhkan minat dan budaya baca peserta didik.

Adapun indikator-indikator Gerakan Literasi Sekolah antara lain:

Kecakapan literasi yang ditumbuhkan pada tahap pembiasaan, Sarana dan lingkungan fisik sekolah kaya teks, dan literasi pada tahap pembiasaan, Fokus dan prinsip-prinsip membaca pada tahap pembiasaan, Langkah langkah membaca tahap pembiasaan, beragam pengalaman membaca siswa, warga sekolah gemar membaca dan menulis, memilih pengayaan fiksi dan non fiksi, langkah-langkah kegiatan tahap pengembangan minat baca, menyediakan pembelajaran terpadu berbasis literasi, menata kelas berbasis literasi, mengorganisasikan material, melaksanakan literasi terpadu sesuai dengan tema dan mata pelajaran, konfrensi literasi warga sekolah dan Asesmen dan evaluasi.

3) Kisi-kisi instrumen

Dalam penelitian ini Gerakan Literasi Sekolah yang akan diukur dari beberapa dimensi sebagai berikut:

a) Tahap pembiasaan

b) Tahap pengembangan minat baca

c) Tahap pembelajaran yang berbasis literasi

Tabel 3.2

Kisi- Kisi Instrumen Gerakan Literasi Sekolah

No. Dimensi Indikator Nomor

No. Dimensi Indikator Nomor dilaksanakan oleh satuan pendidikan formal, nonformal, dan informal untuk mewujudkan kondisi aman, bersih, sehat, peduli, dan berbudaya lingkungan hidup, yang mampu menjamin pemenuhan hak dan perlindungan anak dari kekerasan, diskriminasi, dan perlakuan salah lainnya, selama anak berada di satuan pendidikan, serta mendukung partisipasi anak terutama dalam perencanaan, kebijakan, pembelajaran dan, pengawasan, dan mekanisme pengaduan terkait pemenuhan hak dan perlindungan anak di pendidikan sehingga anak-anak belajar dengan senang.

2) Definisi operasional

Sekolah Ramah Anak yang dimaksud adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan oleh satuan pendidikan formal, nonformal, dan informal untuk mewujudkan kondisi belajar yang aman, bersih,

sehat, peduli, dan berbudaya lingkungan hidup, yang mampu menjamin pemenuhan hak dan perlindungan anak dari kekerasan, diskriminasi, dan perlakuan salah lainnya, selama anak berada di satuan pendidikan, serta mendukung partisipasi anak terutama dalam perencanaan, kebijakan, pembelajaran dan, pengawasan, dan mekanisme pengaduan terkait pemenuhan hak dan perlindungan anak di pendidikan.

Adapun indikator-indikator Sekolah Ramah Anak antara lain:

tersedianya kebijakan anti kekerasan, adanya uapaya pelaksanaan anti kekerasan terhadap siswa, penerapan prinsip-prinsip Sekolah Ramah Anak, Program kesehatan, komitmen program kesehatan, komitmen program sekolah; bebas rokok, narkoba, dan anti kekerasan, pelaksanaan proses belajar yang aman dan nyaman, penilaian hasil belajar mengacu kepada hak anak, memiliki kelas yang ramah anak, sarana prasarana memenuhi persyaratan;

keselamatan, kesehatan, kenyamanan, kemudahan, dan keamanan, ruang kreatifitas siswa, kantin sehat, media edukasi ramah anak, siswa sebagai anggota tim pelaksana Sekolah Ramah Anak, Ekstrakulikuler yang sesuai minat siswa, siswa berani melakukan pengaduan, dan adanya partisipasi dari; orang tua/wali murid, komite sekolah, dan dunia usaha.

3) Kisi-kisi instrumen

Dalam penelitian ini Sekolah Ramah Anak yang akan diukur dari beberapa dimensi sebagai berikut:

a) Kebijakan dan program SRA

b) Pelaksanaan proses belajar yang ramah anak c) Sarana prasarana yang ramah anak

d) Partisipasi anak dalam pembelajaran

e) Partisipasi orang tua, komite sekolah dan dunia usaha.

Tabel 3.3

Kisi- Kisi Instrumen Sekolah Ramah Anak

No Dimensi Indikator Nomor

Butir Jumlah butir 1

Kebijakan dan

program SRA 1. Tersedianya kebijakan anti

kekerasan 21, 29,36 3

2. Adanya upaya