BAB II KAJIAN SUMBER DAN METODE PENCIPTAAN
B. Proses Visualisasi
Alat, bahan serta teknik atau cara-cara pengerjaan dalam rangka menuangkan ide dan gagasan perupa kedalam sebuah lukisan merupakan hal yang penting demi menunjang proses berkarya. Setiap perupa tentu mempunyai pilihannya sendiri terhadap bahan, alat, serta teknik yang digunakannya, sebab pemilihan tersebut akan menjadi penunjang utama yang menentukan hasil pada karya lukisannya.
Gambar 3: Alat dan Bahan (Dokumentasi pribadi)
a. Alat
Adapun alat yang digunakan dalam proses penciptaan karya antara lain: 1) Pensil
Penggunaan pensil disini yaitu, untuk membuat sketsa pada kertas sebagai acuan dalam mengerjakan lukisan. Pensil yang digunakan berwarna hitam ukuran 2B mempunyai sifat lunak dan tidak terlalu tebal sehingga apabila terjadi kesalahan dalam menyeket, maka akan lebih mudah dalam menghapusnya.
2) Kuas
Kuas yang digunakan adalah kuas cat minyak yang memiliki berbagai ukuran, mulai dari ukuran terkecil sampai kuas ukuran besar yang terdiri dari kuas cat tembok. Kuas besar digunakan untuk mengecat dasar kanvas, serta untuk menerapkan blok-blok warna ukuran besar. Kuas ukuran sedang untuk membuat warna yang di blok sedang, dan kecil untuk membuat detail objek atau garis-garis kecil.
(Dokumentasi pribadi)
3) Palet
Penggunaan palet dalam proses melukis yaitu, sebagai tempat untuk menampung cat yang telah dituangkan dan juga berfungsi untuk mencampur warna-warna cat yang diinginkan perupa.
Gambar 5: Palet (Dokumentasi pribadi) 4) Wadah berisi Bensin
Penggunaan wadah yang berisi bensin yaitu, untuk membersihkan kuas pada saat melukis atau setelah selesai melukis, supaya kuas tidak kaku dan tetap bersih sehingga bisa digunakan kembali untuk melukis.
5) Kain Lap
Kain lap dalam proses melukis digunakan untuk membersihkan kuas dari sisa cat yang masih menempel pada kuas. Kain lap juga digunakan untuk membersihkan cat atau oil yang tercecer disekitar tempat melukis.
Gambar 6: Kain Lap (Dokumentasi pribadi)
b. Bahan
Di dalam proses penciptaan lukisan, pemilihan alat dan bahan serta teknik yang baik adalah kunci bagi banyak pelukis untuk mencapai hasil yang memuaskan secara teknis. Setiap bahan mempunyai karakteristik masing-masing antara kelebihan dan kekurangannya. Berikut bahan dan alat serta teknik yang penulis gunakan dalam penciptaan lukisan
1) Cat Minyak
Jenis cat minyak yang digunakan dalam melukis yaitu, cat produk dari
Marrie’s dan Tallent. Cat produk ini mempunyai kualitas warna dan ketahanan yang cukup baik dan harganya yang terjangkau.
Gambar 7: Cat Minyak (Dokumentasi pribadi)
Cat minyak mempunyai sifat yang tidak cepat kering, sehingga memudahkan perupa dalam mendetail karya dan membuat gradasi pada karya lukis.
2) Pelarut (minyak)
Oil painting digunakan sebagai pelarut atau pencampur warna cat minyak. Pelarut cat yang digunakan yaitu menggunakan minyak cat (linseed oil) Astro
Gambar 8: Pelarut (minyak) (Dokumentasi pribadi) 3) Kanvas
Kanvas yang digunakan merupakan kanvas mentah yang diolah sendiri.Pengolahan sendiri memungkinkan untuk memberikan hasil yang diinginkan. Kanvas yang digunakan adalah kanvas yang berserat halus, sehingga proses pembentukan objek pada lukisan akan lebih mudah
Gambar 9: Kanvas (Dokumentasi pribadi
c. Teknik
Teknik juga mempunyai peranan penting dalam penciptaan lukisan dari awal sampai menjadi lukisan yang seutuhnya, dalam penciptaan lukisan ini menggunakan teknik basah, teknik basah dipilih cat minyak, karena warna yang dihasilkan akan lebih pekat, dan lebih mudah dalam proses pewarnaannya karena cat minyak tidak cepat kering dan dapat ditemukan di pasaran. Dengan penggunaan warna secara opaque agar warna lebih tegas dan lebih pekat dan mudah untuk ditutup, dan ada juga penggunaan kuas secara impasto.
a. Tahap Visualisasi 1. Sketsa
Gambar 10:Proses Pembuatan (Dokumentasi pribadi)
Dalam proses ini penulis mengkomposisikan perspektif bentuk pohon yang agar terlihat lebih nyata tanpa menhilangkan keorisinalan warna dari pohon tersebut.
2. Proses Pewarnaan
Proses pewarnaan dasar merupakan proses yang penting karena pemilihan warna yang tepat dari awal akan menentukan pencapaian warna pada tahap akhir. Pewarnaan dasar berorientasi pada gelap terang atau tingkatan value.
Gambar 11: Proses Pewarnaan (Dokumentasi Pribadi)
Dalam tahap ini penulis mengutamakan kesan cahaya dengan semaksimal mungkin objek utama pada lukisan kali ini adalah potongan pohon yang sudah tertebang dengan latar belakang pohon yang masih bersemi dan belum tertebang dalam lukisan ini garis garis lengkung dan lurus mendominasi terlihat pada objek pohon yang sudah tertebang dan tersusun rapi, bagian latar belakanng adalah pohon yang masih bersemi pelukis menggunakan warna brown umber, brunt
sienna, sap green, Yellow ocher dan white titanium pada daunya pelukis menggunakan warna sapp green, Brunt Sienna, dengan sedikit Yellow Ocher dan
White Titanium untuk bagian daun yang muda. Kemudian pada objek utama yaitu
barisan pohon yang tertebang pelukis banyak menggunakan warna Brunt Sienna,
Brown Umber dan warna Yellow Ocher, White Titanium untuk menimbukan efek
tekstur pada bagian pohon, begitu juga dengan tanah prosesnya hampir sama hanya dibuat sedikit halus. Penulis menggunakan tekhnik campuran yaitu teknik yang menggambungkan teknik basah dan kering dengan Linseed Oil dengan cara menggoreskan kuas secara terus menerus agar mendapatkan kehalusan pada lukisan.
3. Finishing (Penyelesaian)
Finishing atau penyelesaian yaitu tahap pengerjaan secara mendetail pada obyek dengan menambahkan atau menumpukkan warna-warna dengan lebih kompleks dan jeli berdasarkan sifat benda, gelap terang serta pencahayaan beserta bayangan yang ada pada objek sehingga setiap objek mempunyai kekayaan warna yang berbeda-beda tetap memperhitungkan keharmonisan keseluruhan warna pada objek.
Proses ini merupakan tahap yang lebih rumit. Memanfaatkan sifat cat minyak yang lebih lama untuk mengering . Cat minyak yang mengering dengan lambat akan mempermudah pengerjaan ulang untuk memperbaiki bagian-bagian yang tedapat kesalahan. Pada tahap ini proses penggarapaan lukisan berada pada titik paling sensitif. Disebut demikian karena setiap bagian terkecil diperhatikan
dengan seksama seperti memperhatikan warna secara tepat berdasarkan jernih atau suramnya warna (intensity).
Gambar 12: Proses Penyelesaian Pada Lukisan Diatas Kanvas (Dokumentasi pribadi)
b. Deskripsi Karya 1. Kesuburan Pohon
Gambar 13: Kesuburan Pohon
Cat Minyak di atas Kanvas, 2014 Ukuran 140x120 cm
Pada lukisan ini terdapat pohon besar sebagai objek utama, warna putih ke coklatan dengan tekstur semu, sebelah kiri kanannya terdapat daun daun berbentuk lonjong ,warna hijau tua dan muda mendominasi pada objek tersebut,sebuah bukit yang tampak terlihat jauh dengan warna muda yang tersinari matahari langsung, juga terlihat sedikit bagian langit dengan warna biru muda, dan sebuah kalimat yang bertuliskan “Rawatlah aku, jangan kau tebang aku, jangan kau rusak aku, dan sayangi aku “
Analisis bentuk dalam pengelolaan prinsip penyusunan elemen rupa, pohon yang besar posisi dibagian agak kiri dengan diimbangi daun-daun yang berwarna hijau muda dan tua di kanan dan kiri untuk menciptakan keseimbangan yang dinamis, pohon besar tersebut merupakan “Point of Interest” didukung oleh dedaunan dan langit,selain untuk memperjelass objek, pohon besar juga menciptakan kesatuan (unity) secara keseluruhan, proposi pohon besar juga menciptakan pusat perhatian, juga pada sisi kanan lukisan untuk menciptakan ruang,dalam lukisan ini menggunakan harmoni yang setiap objek dalam lukisan ini memiliki kedekatan dalam perwarnaan agar tidak terlalu kontras objek satu dengan lainya seperti pada objek dedaunan,ranting serta pohon memiliki kedekatan dalam pewarnaan,warna dan goresan pada setiap objek memiliki kekuatan yang sama kemudian prinsip balance asimetris yaitu memusatkan objek pohon disebelah kanan dan bagian kiri dengan ranting-ranting dan dedaunan.
Pada lukisan ini pelukis menggunakan warna Red,Green,Ultramarine Blue,dan White thitanium untuk objek tulisan yang menempel dipohon, sedangkan objek pohon dan ranting pelukis menggunakan warna Brown Umber, Brunt sienna, yellow ocher,dan White thitanium dengan sedikit campuran warna Sapp Green, Begitu juga pada ranting pohon sama dengan warna pohon, untuk daun menggunakan warna Brown Umber,brunt sienna,Green,sapp Green, dan Yellow Ocher.
Untuk tekhnik pelukis menggunakan teknik campuran yaitu menggambungkan teknik basah dan teknik kering dengan cara menggoreskan kuas secara terus menerus dan perlahan agar terbentuk sempurna, dalam
mencampur warna cat terlebih dahulu dicampur pada palet,namun juga kadang dicampur diatas kanvas dan menggunakan Linseed Oi.Dengan teknik ini diharapkan menemukan kehalusan bentuk dari goresan kuas, kuas yang digunakan adalah kuas no 01 sampai dengan kuas no 13.
Lukisan ini bercerita tentang pohon yang besar dan gagah, yang sebagian tersinari oleh cahaya matahari, namun sebagiannya lagi tidak, dengan tekstur semu nampak jelas pada kulit-kulit kayu yang membentuk garis lurus tidak beraturan, dengan didepanya terdapat tulisan yang mengajak kita untuk bisa menyadarkan diri berbuat baik terhadap alam, agar manusia bisa sadar akan pentingnya pohon untuk kehidupan, disekitar pohon terdapat ranting ranting yang bercabang dengan dedaunan yang berbentuk segitiga dan didominasi dengan warna kehijau-hijauan nampak jelas pohon tersebut seakan-akan mampu berdiri menaungi isi bumi. Setiap guratan coklat tua dan muda yang menyelimuti, adalah pertanda usia yang panjang dan penanda hidupnya nyaris abadi, semakin menyejukkan siapapun yang bersantai bahkan dibawah terik mentari. Sungguh pohon adalah ciptaan Tuhan yang memberi kesan nyaman serta asri.Hijau muda dan tua daun-daun membaur membuat harmoni seni. Angin yang bergulir menggoyangkan ribuan daun hingga tercipta sepoi-sepoi udara penyejuk hati.
2. Terbakar Sudah
Gambar 14: Terbakar Sudah
Cat Minyak di atas Kanvas, 2014 Ukuran 160x110 cm
Objek utama pada lukisan ini adalah pepohon yang sudah hangus akibat terbakar, sebagian lagi api masih berkorbar dengan sedikit asap yang masih menjulang keatas,dengan latar belakang awan biru, pohon dengan komposisi yang tidak beraturan sedangkan sebagian pohon sudah hangus terbakar yang tersisa hanyalah akar akar dan ranting yang berserakan
Pengelolaan prinsip penyusunan elemen rupa, dalam lukisan ini penulis menggunakan proposi perbandingan antara bagian-bagian pohon satu dengan lainya yang serasi. Kemudian kontras dalam warna yaitu perbedaan yang mencolok dan tegas antara objek pepohonan yang terbakar dengan langit yang
biru didalam lukisan pohon-pohon yang besar yang ada ditengah lukisan dengan kanan kiri sebagian kecil agar terwujudnya kesatuan, asap yang menjulang keatas memeberi kesan ruang antara objek pohon asap dan api. Warna api pada lukisan sangat kontras dengan warna langit yang biru, untuk menggambungkan dan terciptanya harmoni pada objek tersebut penulis menggunakan warna coklat tua agar bisa menyatu, didalam lukisan, garis-garis lengkung sangat mendominasi pada ranting-ranting pohon yang terbakar menjadikanya kesatuan yang terlihat utuh, peran pohon besar yang ada dikiri lukisan sangat penting yaitu menggambungkan objek api dengan langit agar terciptanya keseimbangan
Warna yang digunakan pada lukisan ini adalah didmoniasi warna warna panas seperti Yellow Ocher, Yellow Hue,White titanium. Pada bagian pohon warna yang digunakan adalah Brown umber dengan sedikit Brown Sienna, warna tersebut dikombinasikan sesuai kebutuhan untuk menciptakan warna gelap yang beragam pada objek pohon yang terbakar, pada bagian tanah warna yang digunakan Brunt Sienna, Brown Umber dan Yellow Oche nya guna mendapatkan sedikit cahaya api yang memantul dari sinar api ke tanah, pada bagian langit menggunakan warna Prussian Blue,White Titanium dan sedikit yellow ocher,
sedikit kontras dengan warna objek agar terlihat jauh.
Teknik yang digunakan sama dengan lukisan sebelumnya dengan goresan kuas secara terus menerus agar terlihat halus dan rata, kuas yang digunakan no 01 hingga no 15 menggunakan Linseed Oil agar terlihat lukisan terlihat halus dan tidak bertekstur.
Pada lukisan ini bercerita tentang pepohonan yang terbakar ataupun sengaja dibakar, ketika manusia tidak lagi memikirkan alam sekitar tanpa memperdulikan lingkungannya ketika manusia tidak paham akan pentingnya sebuah pohon yang menjadi point point penting dalam sebuah hutan, pohon yang menjadi cerita atau ikon dari sebuah daerah, kita banya belajar dari pohon tentang bagaimana ia bisa hidup tinggi besar, berbuah dan beranak dengan tunas-tunas mudanya yang kemudian akan kembali tumbuh besar, namun ketika pohon tersebut sudah terbeli ataupun terjarah oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab mereka melakukan apa saja untuk merusaknya guna membuka lahan baru. tidak akan ada lagi kesuburan kesejukan pada alam ini terutama pohon yang selama ini bisa menjadi inspirasi bagi para orang-orang yang telah memperhatikanya, tidak akan ada tempat lagi untuk penghuninya.Harus berlama lama lagi menunggu ia tumbuh besar dan perkasa.
3. Tak Pernah Mati
Gambar 15: Tak Pernah Mati
Cat Minyak di atas Kanvas, 2014 Ukuran 160x110cm
Objek utama pada lukisan ini dua buah adalah pohon yang sudah mati akibat ditebang sebagian batang pohon tersebut sudah lapuk, namun tumbuh kembali dengan terlihatnya tumbuh ranting muda dan dedaunan muda yang terlihat pada pohon tersebut, dan disisi kanan kirinya terdapat pohon kecil yang baru ditebang juga tumbuh dengan ranting dan dedaunan muda,sedangkan pada bagian tanah sebagian terdapat bekas ranting ranting pohon yang berserakan sisa penembangan pohon yang sudah lama dengan sedikit kering bahkan sudah menyatu dengan tanah, juga menonjolkan bentuk tekstur semu pada tanah yang tidak rata.
Dalam lukisan ini Point Of Interest (titik pusat) perhatian pada objek lukisan terlihat pada dua objek pohon yang paling besar berada disisi kanan dan kiri lukisan dengan banyak tunas tunas muda yang sudah mulai tumbuh kembali, harmoni atau keselarasan pada lukisan ini terlihat pada warna tanah dan objek pohon yang sudah mati tersebut yaitu dengan warna yang kecoklatan menyesuaikan warna asli pada objek sesungguhnya,kemudian keseimbangan pada objek satu dengan yang lain agar tidak ada ketimpangan dalam penempatan unsur elemen elemen rupa, pohon disisi kanan kiri lukisan juga untuk mewujudkan keseimbangan, tekstur semu nampak pada objek tanah yang tidak rata karena sudah bercampurnya tanah dengan sebagian ranting-ranting yang sudah lama. Pada objek lukisan pohon satu dengan lainya saling berdekatan secara warna dan bentuk serta baground lukisanagar terciptanya proporsi yang dinamis.
Lukisan ini mengutamakan kesan cahaya yang nampak dihasilkan oleh matahari dengan sebagian gelap dan sebagian lagi terang, lukisan ini dikombinasikan dengan warna warna gelap, dianataranya Brown Umber,Brunt Sienna,dengan yellow ocher dan white titanium untuk menimbulkan sedikit tekstur tanah yang berserakan karna tertutupi oleh sebagian ranting yang sudah lama terpendam dan menyatu pada tanah. Pada objek ranting pohon pelukis menggunakan warna Green, Sapp Green,Yellow Ocher dengan sedikit campuran
White Thitanium agar terlihat ranting tersebut masih muda dan tampak segar. Teknik yang digunakan sama dengan lukisan sebelumnya yaitu teknik campur yaitu mengkombinasikan teknik basah dan kering, dengan menggunakan
Lukisan ini menceritakan tentang pohon yang sudah tampak lama mati, mungkin itu akibat ditebang , karena nampak jelas bekas potongan pada salah satu objek pohon, tanah yang tidak rata bercampur dengan bekas-bekas ranting yang sudah menyatu dengan tanah menandakan bahwa pohon tersebut pernah subur dimasanya, namun pohon tersebut kembali tumbuh dengan kuasa Nya, berusaha kembali bangkit dari kepunahan, dengan tampaknya tunas-tunas muda yang masih kecil diantara sela-sela lekukan pohon tersebut. Seolah tak mau kalah menyerah pada kondisi, setetes air cukuplah membasahkan tanah membuat batang batang ini tak pernah mati. Mungkin hanya dua batang, atau tiga, atau lima, entah. Tapi kita yakin ada banyak korban serupa, di tanah subur kita, lumbung oksigen sengaja dibabat oleh keserakahan anak adam. Memang sakit merasakan tipisnya udara bersih. Namun itulah yang terjadi jika penebangan diteruskan.
Mungkin tunas muda itu tak banyak menahu untuk alasan apa mereka dibabat. Mungkin tiada yang memberi tahu mereka untuk alasan serupa. Mereka hanya tumbuh menjalankan hajat naturalnya saja, berkembang biak, merimbun, dan menaungi. Berbuah barangkali. Tanah subur seolah menjadi mesiah penyelamat balok merana dalam karya tersebut. Memberikan daya dukung untuk terus tumbuh mengulangi siklus. Tak pernah mati. Tidak, sampai kiamat.
4. Tepian Hutan
Gambar 16: Tepian Hutan
Cat Minyak di atas Kanvas, 2014 Ukuran 160x110 cm
Objek utama pada lukisan ini adalah pepohonan yang subur yang berada ditepian jalan perbukitan dengan latar belakang langit yang biru, warna hijau muda dan tua serta coklat mendominasi pada lukisan ini,pembentukan bentuk objek pada lukisan kali ini berbeda dengan aslinya, pohon dan daun pada lukisan ini dibuat sedikit tidak terlalu rindang tidak terlalu menutupi pohon,hampir semua objek pada lukisan tersebut terlihat terkena cahaya matahari dan langit dibuat cerah dengan warna biru muda,kemudian jalan menikung yang belum diaspal dengan warna kecoklatan.
Pengelolaan prinsip penyusunan elemen rupa,dalam lukisan ini penulis menggunakan garis sejajar vertikal pada objek lukisan yaitu barisan pepohonan yang lurus, objek pepohonan yang berbaris ditepian jalan tersebut ada yang besar juga ada yang kecil guna mewujudkan kesatuan (unity), kemudian antara pohon satu dengan lainya yatu pada objek pohon yang besar mendominasi disisi kanan dan kiri lukisan agar terwujudnya ruang pada lukisan tersebut, yaitu antara pohon yang terlihat jauh dan dekat, perbedaan sedikit mencolok (kontras) terlihat pada warna objek jalan dengan pepohonan agar bisa membedakan warna tanahpada jalan tersebut dengan objek lainya. Warna daun pepohonan satu dengan lainya juga rerumputan saling berdekatan itu dibuat agar terciptanya keseimbangan (balance) pada setiap unsur elemen rupa pada lukisan ini.
Untuk pewarnaan pada langit pelukis menggunakan Prussian Blue,White Titanium dan dicampur dengan yellow ocher agar menghasilkan keharmonisan warna, pada objek pohon menggunakan warna Brunt Sienna,Brown Umber dengan sedikit Yellow Ocher dan White Titanium sedangkan pada daun pelukis menggunakan warna Green,Sapp Green, Brunt Sienaa, Yellow Ocher dengan sedikit warna Brown Umber untuk bagian daun yang gelap,begitu juga pada bagian rumput.
Tekhnik yang digunakan pada dasarnya sama dengan lukisan sebelumnya, menggunakan Linseed Oil goresan warna pada lukisan ini dibuat harmonis warna yang saling berkaitan satu objek dengan objek lainya seperti warna daun dan rumput juga warna langit agar tidak terlalu kontras.
Pada lukisan ini bercerita tentang pepohonan yang ada ditepian hutan, ditengah tengahnya terdadapat jalan yang menikung, dengan latar belakang langit biru, tepian hutan yang sepintas terlihat seram, hanya bayangan mereka-mereka yang tak akrab pada dunia luar yang sebenarnya.Tepian hutan yang mencekam dianggap pintu gerbang menuju alam satwa liar yang mengancam manusia. Tepian hutan yang sepertinya teduh, sejujurnya menawarkan kesejukan secara penuh, sejatinya adalah ruangan bagi siapapun yang ingin menjauh dari ibu kota yang semakin hari kian gaduh,tepian hutan pinus. Lurus, kokoh, nan gagah. Sumber energi dunia tak terbantah.Menyimpan tabir misteri juga indahnya, membagi manfaat, juga petakanya. Petaka kala tepian hutan tergusur perlahan kemudian sirna. Diganti hutan beton yang tak ramah dengan sinar langit yang menaunginya.
5. Tertebang I
Gambar 17: Tertebang I
Cat Minyak di atas Kanvas, 2014 Ukuran 140x120 cm
Objek utama pada lukisan ini adalah potongan-potongan pohon yang sudah tertebang tertumpuk bertekstur semu dengan warna putih kecoklatan dan tanah yang tidak rata juga pepohon yang masih bersemi dan belum tertebang dibelakang objek utama dengan warna hijau muda dan tua mendominasi pada objek tersebut,serta latar belakangnya yaitu sedikit terlihat langit dengan warna biru.
Prinsip elemen rupa pada lukisan ini terlihat pada garis yang sejajar dan lengkung mendominasi pada objek pohon yang tertumpuk dengan menonjolkan tekstur semu pada objek pohon, tumpukan pepohonan yang tertebang tersebut secara keseluruhan menciptakan kesatuan (unity), irama dalam bentuk objek pepohonan diwujudkan dengan adanya keseimbangan bentuk pada pohon tersebut yaitu terlihat pada tumpukan pohon satu dengan lainya dengan berbaris sejajar lurus agar terwujudnya ruang. Warna yang berdekatan pada objek pohon dan tanah tersebut diciptakan agar terwujudnya harmoni atau keselarasan, kemudian pada objek pepohonan yang hijau warna sedikit kontras dengan pepohonan yang tertumpuk, agar terlihat objek utamanya yaitu pepohonan yang sudah ditebang, pepohonan yang tertumpuk tersebut dibuat seperti warna aslinya tekstur semu terlihat jelas pada kulit-kulit bagian pepohonan yang terkena cahaya
Penulis menggunakan warna Brown Umber, Brunt Sienna,Sap Green,
Yellow Ocher dan White Titanium pada daunya pelukis menggunakan warna Sapp
Green, Brunt Sienna, dengan sedikit Yellow Ocher dan White Titanium untuk bagian daun yang muda. Kemudian pada objek utama yaitu barisan pohon yang tertebang pelukis banyak menggunakan warna Brunt Sienna, Brown Umber, dan