Program Pembangunan Nasional (Propenas) Indonesia tahun 2001-2005 memiliki kebijakan dan program pembangunan yang menitikberatkan pada penguatan lembaga dan organisasi masyarakat, pemberdayaan masyarakat miskin, dan keswadayaan masyarakat. Salah satu sasaran umum Propenas adalah upaya peningkatan keberdayaan masyarakat dalam kehidupan ekonomi, sosial dan politik khususnya masyarakat miskin, rentan sosial, dan pelaku ekonomi kecil. Propenas sejalan dengan prinsip penyelenggaraan otonomi daerah pada UU nomor 32 tahun 2004 yang menjelaskan bahwa otonomi daerah harus berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan selalu memperhatikan kepentingan dan aspirasi yang tumbuh dalam masyarakat.
Penyelenggaraan otonomi daerah pada akhirnya harus disertai pula dengan meningkatnya kemampuan lembaga-lembaga di masyarakat untuk mengembangkan pilihan dalam kehidupan sosial ekonomi serta partisipasi masyarakat secara aktif dalam pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan masyarakat. Mekanisme partisipasi lembaga dan organisasi masyarakat belum berkembang secara efektif dan demokratis dalam proses pengambilan keputusan sehingga pembangunan yang dilaksanakan belum dapat mengakomodasi kreasi dan aspirasi masyarakat secara optimal.
Upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam pemulihan ekonomi dan penanggulangan kemiskinan tidak akan berjalan secara optimal jika pemerintah tidak dapat memberdayakan kemampuan usaha pelaku ekonomi khususnya masyarakat kecil dan memberikan dukungan untuk menggerakkan kegiatan ekonomi melalui penyedian akses bagi masyarakat untuk memperoleh input sumberdaya ekonomi dan kesempatan dalam kegiatan produksi dan pemanfaatan sumberdaya alam yang tersedia di daerah. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi kondisi tersebut dengan mewujudkan keterkaitan kegiatan sosial-ekonomi perdesaan dan perkotaan, peningkatan akses masyarakat terhadap sumber daya lokal, pengembangan jaringan usaha, dan pengurangan kendala peraturan/birokrasi. Dukungan terhadap peningkatan
kondisi sosial-ekonomi masyarakat miskin masih diperlukan melalui upaya pemberdayaan dan pemihakan kepada masyarakat miskin untuk menghadapi berbagai masalah struktural yang tidak dapat dipecahkan oleh masyarakat sendiri.
Penyusunan program pemberdayaan usaha sektor informal di Kelurahan Campaka Kecamatan Andir merupakan sarana pengimplementasian Program Pembangunan Nasional dan otonomi daerah dalam kerangka penanggulangan kemiskinan dan pengembangan ekonomi lokal secara aspiratif, partisipatif dan demokratis. Penggalian masalah, kebutuhan dan penyusunan program pemberdayaan usaha sektor informal di Kelurahan Campaka Kecamatan Andir dilakukan melalui diskusi kelompok, kuesioner analisis SWOT, wawancara dan observasi. Pelaku usaha sektor informal memiliki potensi untuk mengembangkan perekonomian lokal sehingga dapat mencapai kemajuan usaha dan peningkatan taraf kesejahteraan masyarakat.
Keterhambatan dalam kemajuan usaha yang dialami pelaku usaha sektor informal disebabkan ketidakmampuan dalam mengakses dan mengontrol sumber daya yang dapat digunakan untuk mengembangkan usaha mereka. Pelaku usaha sektor informal di Kelurahan Campaka mengalami kesulitan dalam mencapai akses terhadap permodalan, pemasaran, dan program-program pengembangan masyarakat. Oleh karena itu, pemberdayaan usaha sektor informal diarahkan untuk mengembangkan kemampuan pelaku usaha sektor informal dalam mencapai akses dan kontrol terhadap permodalan, pemasaran, dan program-program pengembangan masyarakat sehingga dapat memajukan usahanya secara mandiri dan berkelanjutan didukung oleh adanya sinergi antara pelaku usaha sektor informal dan kelompok-kelompok masyarakat maupun keterpaduan kelembagaan komunitas melalui jejaring sosial.
Penyusunan program pemberdayaan usaha sektor informal dilakukan dengan tahap-tahap pemahaman dan pengungkapan masalah dan Design
(Kerangka Penyusunan Program). Penyusunan program melalui tahap
asessment dan design merupakan kerangka dasar yang perlu dilakukan untuk dapat menyusun suatu program yang dapat diaplikasikan kepada masyarakat.
Pengungkapan dan Pemahaman Masalah
Pengungkapan dan pemahaman masalah merupakan tahap dalam proses penyusunan program pemberdayaan usaha sektor informal. Tahap ini merupakan penggalian masalah dan sumber yang dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah yang dialami oleh pelaku usaha sektor informal dalam komunitas. Pengungkapan dan pemahaman masalah dilakukan melalui analisa SWOT.
a. Identifikasi Masalah Pelaku Usaha Sektor Informal
Pengidentifikasian masalah usaha sektor informal diperlukan sebagai dasar untuk menyusun program pemberdayaan usaha sektor informal secara partisipatif. Hal tersebut artinya melibatkan mereka mulai dari mengenali masalah dan kebutuhannya, menyusun rencana program, melaksanakan dan evaluasi program. Keterbatasan pelaku usaha sektor informal dalam mengakses sumber daya merupakan salah satu permasalahan yang berkaitan dengan beberapa permasalahan lainnya.
Gambaran masalah yang dialami oleh pelaku usaha sektor informal dapat dilihat pada Gambar 4yaitu :
Keterbatasan dalam mengakses pemasaran sehingga kurang kuat/tangguh dalam menghadapi persaingan usaha Keterbatasan dalam mengakses sumber daya Belum mampu mengorganisir diri dan mengembangkan jejaring usaha Keterbatasan kapasitas diri pelaku usaha sektor
informal Keterbatasan permodalan usaha sektor informal Ketimpangan Produktivitas Kerja dan Laba
Usaha Sektor Informal
Ketidaktahuan mengenai informasi yang dibutuhkan dalam mengembangkan usaha
Ketidakberdayaan Usaha Sektor Informal
AK IB AT MAS A LA H Tidak mengetahui program-program pengembangan masyarakat Taraf pendapatan Rendah
Keuntungan usaha hanya untuk pemenuhan kebutuhan
sehari-hari
Usaha yang dilakukan tidak berkembang INTI MAS A LAH S E BA B MA SA LAH
Gambar 4 : Analisis Pohon Masalah Usaha Sektor Informal di Kelurahan Campaka Kecamatan Andir Kota Bandung Ketidaksampaian Informasi mengenai program-program pengembangan masyarakat kepada masyarakat Modal Kecil (modal sendiri, modal pinjaman) Rentang waktu kerja/jam kerja cukup lama, dan laba usaha sangat
kecil
Kelembagaan masyarakat kurang berfungsi dengan baik
dan belum mengutamakan penyampaian informasi
Gambar 4 menjelaskan bahwa inti masalah yang dialami oleh pelaku usaha sektor informal usaha di Kelurahan Campaka Kecamatan Andir adalah ketidakberdayaan usaha sektor informal. Ketidakberdayaan ini berawal dari keterbatasan kapasitas diri pelaku usaha sektor informal terutama ketidaktahuan terhadap adanya informasi-informasi yang dibutuhkan dalam pengembangan usahanya. Keterbatasan permodalan merupakan salah satu kendala dimana modal yang dimiliki masih kecil yang berasal dari modal sendiri atau modal pinjaman (pinjaman dari kerabat, tetangga, atau bahkan rentenir). Ketimpangan produktivitas kerja dan laba usaha mengindikasikan bahwa hasil usaha (laba) yang diperoleh relatif sangat kecil dan hal itu merupakan hasil kerja dengan susah payah. Ketidaksampaian informasi-informasi penting mengenai program pengembangan masyarakat kepada masyarakat merupakan salah satu dampak dari ketidakberfungsian kelembagaan masyarakat dalam menyampaikan informasi-informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Beberapa hal tersebut akhirnya menyebabkan ketidakberdayaan usaha sektor informal. Ketidakberdayaan usaha sektor informal tersebut mengakibatkan usaha sektor informal mengalami keterbatasan dalam memperoleh akses terhadap sumberdaya yang ada di Kelurahan Campaka, keterbatasan dalam mengorganisir diri pelaku usaha sektor informal dan mengembangkan jejaring usaha, ketidaktahuan atau ketidakpahaman mengenai program-program pengembangan masyarakat, dan usaha sektor informal menjadi kurang kuat dalam menghadapi persaingan usaha dan hanya mampu bertahan. Kondisi tersebut pada akhirnya menyebabkan taraf pendapatan usaha sektor informal relatif kecil, laba usaha lebih dimanfaatkan pada pemenuhan kebutuhan sehari- hari, dan usaha yang dilakukan tidak berkembang dengan baik.
b. Identifikasi Sumber Daya
Pengidentifikasian sumber daya berupaya memilah sumber-sumber yang ada pada diri pelaku usaha sektor informal (internal) dan lingkungan dimana mereka tinggal (eksternal). Potensi sumber yang berasal dari diri pelaku usaha sektor informal antara lain adanya motivasi tinggi pelaku usaha sektor informal dalam mengembangkan usaha yang berasal dari dirinya sendiri yang didukung oleh pihak keluarga/kerabat maupun tetangga. Motivasi tinggi ini merupakan dasar keinginan untuk mengubah nasib dan memajukan usaha. Motivasi ini perlu
mendapat dukungan dari berbagai pihak baik dari masyarakat, kelembagaan lokal maupun peraturan yang ada. Keuletan usaha yang dimiliki pelaku usaha sektor informal merupakan potensi yang perlu didukung dengan berbagai bantuan usaha yang dapat dimanfaatkan untuk memajukan usaha.
Potensi sumber yang berasal dari lingkungan (external resources) antara lain adanya program-program pengembangan masyarakat yang ditujukan untuk mengembangkan perekonomian lokal khususnya usaha sektor informal, adanya kelembagaan formal dan informal. Kelembagaan formal dan informal yang ada di Kelurahan Campaka antara lain keluarga, kelompok arisan, rentenir, LPM Kelurahan, Pemerintah Daerah (pemerintah propinsi, pemerintah kota, pemerintah kecamatan, dan pemerintah kelurahan. Potensi eksternal ini perlu diperkuat melalui pengembangan jejaring kelembagaan sehingga lebih memperkuat pencapaian kemajuan usaha sektor informal.
Perumusan Tujuan Program Pemberdayaan Usaha Sektor Informal
Penyusunan rancangan program pemberdayaan usaha sektor informal dilandasi tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum dan tujuan khusus merupakan fokus program pemberdayaan usaha sektor informal.
a. Tujuan Umum
Tujuan umum yang akan dicapai dalam upaya pemberdayaan usaha sektor informal antara lain :
”Mengembangkan kemampuan pelaku usaha sektor informal untuk mencapai peningkatan taraf pendapatan dan kemajuan usaha secara berkesinambungan”.
Tujuan umum ini memiliki pengertian bahwa pengembangan usaha dan peningkatan taraf pendapatan para pelaku usaha sektor informal dapat dicapai melalui pengembangan kemampuan pelaku usaha sektor informal sebagai upaya mengatasi keterbatasan diri pelaku usaha, keterbatasan modal, ketimpangan produktivitas kerja dan laba usaha, dan ketidaksampaian informasi-informasi pengembangan usaha kepada pelaku usaha sektor informal.
b. Tujuan Khusus
Tujuan khusus pemberdayaan usaha sektor informal dilakukan sebagai upaya pemecahan masalah yang ditujukan untuk menanggulangi akibat masalah yang perlu dipecahkan. Tujuan khusus tersebut adalah:
1. Meningkatkan akses terhadap sumber daya
Pelaku usaha sektor informal diarahkan untuk mampu melakukan dan memperoleh akses dan kontrol terhadap permodalan dengan melibatkan kelembagaan yang ada di dalam maupun di luar komunitas Kelurahan Campaka baik formal maupun informal. Selain itu, pelaku usaha sektor informal diperkuat kemampuannya untuk dapat mengambil keputusan tanpa dipengaruhi oleh pihak lain dalam melakukan akses dan kontrol terhadap sumber daya yang ada di Kelurahan Campaka sehingga dapat dimanfaatkan bagi pengembangan kemajuan usaha mereka. Sumber daya yang perlu diakses tersebut adalah sumber daya financial (bantuan keuangan dari program-program pengembangan masyarakat) dan sumber daya sosial berupa kelembagaan dan modal sosial. Peningkatan akses terhadap sumber daya ini diharapkan dapat meningkatkan kecukupan modal sehingga diharapkan dapat mengembangkan usaha mereka dengan sebaik-baiknya.
2. Meningkatkan akses terhadap pemasaran
Pelaku usaha sektor informal harus ditingkatkan kemampuannya dalam melakukan dan memperoleh akses terhadap peluang pemasaran sehingga mereka menjadi pelaku usaha sektor informal yang tangguh dalam menghadapi persaingan usaha dan memahami langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk memajukan usaha mereka.
3. Mengembangkan pengorganisasian diri pelaku usaha sektor informal dan pengembangan jejaring usaha
Pelaku usaha sektor informal harus dilibatkan dalam siklus perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program yang ada di kelurahan Campaka. Pelibatan pelaku usaha sektor informal dalam siklus perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program harus diarahkan terhadap pengorganisasian diri pelaku usaha sektor informal dalam suatu kesatuan jaringan yang dapat mengembangkan kapasitas internal komunitas dan
mampu menjangkau akses dan kontrol terhadap berbagai sumber daya termasuk program-program pengembangan masyarakat.
4. Meningkatkan akses pengetahuan dan keterampilan
eterbatasan pengetahuan dan keterampilan pelaku usaha sektor informal perlu diatasi melalui upaya penambahan pengetahuan/wawasan dan keterampilan usaha bagi mereka. Penambahan pengetahuan/wawasan dapat dikelola dengan penguatan arus informasi melalui keorganisasian intra komunitas pelaku usaha sektor informal didukung penguatan jejaring komunikasi dan informasi ke berbagai pihak. Penguatan arus komunikasi dan informasi dapat mengarahkan mereka untuk dapat menentukan informasi dan keterampilan apa yang diperlukan untuk mengembangkan diri mereka dan memajukan usahanya.
Kerangka Penyusunan Program
Perancangan Program Pengembangan Masyarakat pada kajian pemberdayaan usaha sektor informal menggunakan metoda analisis SWOT. Tahapan penggunaan analisis SWOT dalam kajian ini, adalah sebagai berikut :
1. Penetapan stakeholder utama, karena banyaknya stakeholder yang terlibat serta dengan berbagai tujuan berbeda dapat mengakibatkan kekacauan dalam penentuan S dengan O atau O dengan W yang dapat saling bertukar, maka pemilihan stakeholder dilakukan untuk mempersempit domain dokumen perencanaan agar mudah dikelola (manageable) (Soesilo, 2002). Stakeholder utama yang dipilih sebagai unit analisis SWOT adalah seluruh responden yang merupakan para pelaku usaha sektor informal sebanyak 20 orang.
2. Identifikasi SWOT melalui perumusan faktor internal dan eksternal sehingga diperoleh empat strategi (SO, ST, WO, WT) digambarkan kedalam matriks analisis SWOT. Pemilihan strategi yang akan dikembangkan dari empat strategi (SO, ST, WO, WT) dilakukan berdasarkan perhitungan nilai bobot dan urgensi dari masing-masing faktor melalui kuesioner yang telah diisi oleh responden. Strategi terpilih dijabarkan kembali ke dalam bentuk rencana tindakan (action plan) berupa program dan kerangka pelaksanaan program.
Analisis Stakeholder
Analisis stakeholder diperlukan untuk melihat peran stakeholder dan sejauhmana kondisi kemampuan keorganisasian pihak-pihak yang perlu terlibat dalam program pengembangan masyarakat yang dilaksanakan di Kelurahan Campaka Kecamatan Andir. Analisis stakeholder berupaya mengemukakan bagaimana interest dan komitmen stakeholder terhadap program pengembangan masyarakat dan bagaimana pula pengaruh setiap stakeholder terhadap program pengembangan masyarakat. Analisis stakeholder dapat dilihat secara jelas pada tabel berikut :
Tabel 13
Analisis Stakeholder dalam Pemberdayaan Usaha Sektor Informal Di Kelurahan Campaka Kecamatan Andir Kota Bandung
Stakeholder Peranan Kondisi Kapabilitas Keorganisasian
Interest/Komitmen Kualitas Pengaruh
S ta tu s Quo T er b u ka T e rh ad ap Pe ruba h a n Tin g g i Sedan g Ren d ah 1 2 3 4 5 6 7 8 Pemerintah Kota Bandung Memfasilitasi pemberian program pengembangan masyarakat
Memiliki perhatian terhadap
Pengembangan usaha sektor informal Melakukan perencanaan program
pengembangan masyarakat Keterbatasan dana dan tim teknis
-
9
9
- -Pemerintah Kecamatan
Memfasilitasi pelaksanaan program pengembangan masyarakat
Keterbatasan tim teknis -
9
9
- - Pemerintah Kelurahan Memfasilitasi pelaksanaan program pengembangan masyarakat
Keterbatasan tim teknis -
9
9
- -Kamar Dagang dan Industri
Memfasilitasi pengembangan usaha dalam kerangka pengembangan ekonomi lokal
Memiliki perhatian terhadap
pengembangan usaha sector informal Keterbatasan fokus perhatian Focus perhatian lebih tertuju pada
penguatan perekonomian secara makro
1 2 3 4 5 6 7 8
Lembaga Swadaya Masyarakat
Mengawasi dan memberikan saran terhadap pelaksanaan program pengembangan masyarakat
Perlu adanya peningkatan perhatian -
9
9
- - LPM dari PerguruanTinggi
Memberikan saran terhadap pelaksanaan program pengembangan masyarakat
Perancangan strategi pemecahan masalah
usaha sektor informal -
9
9
- - Pengurus LPMKelurahan
Membantu melaksanakan dan mengawasi pelaksanaan program pengembangan masyarakat
Perlu adanya penataan kembali tata laksana dan tata tertib keorganisasian Perlu adanya pembenahan visi dan misi
keorganisasian
9
9
- -Komunitas Usaha Sektor Informal
Menjadi pemrakarsa dan pelaksana program-program pengembangan masyarakat Penyiapan dan penentuan
koordinator dan anggota kelompok usaha sektor informal Pengembangan
pengetahuan/wawasan tentang berbagai program
pengembangan masyarakat Pendisiplinan diri dalam
melaksanakan program pengembangan masyarakat Penguatan inisiatif lokal dan
peningkatan kemandirian dalam mengembangkan usaha sektor informal
Keterbatasan kemampuan dalam mengembangkan usaha
Keterbatasan dalam mengakses dan mengkontrol sumber daya
Keterbatasan dalam melakukan jejaring usaha
Keterbatasan dalam pengorganisasian diri Keterbatasan dalam mengorganisir diri
dalam lingkup intra komunitas
1 2 3 4 5 6 7 8
Ketua RT
Pendataan ulang pelaku usaha sektor informal
Penyiapan perwakilan anggota masyarakat pelaksana program- program pengembangan masyarakat
Melakukan keterlibatan dalam perencanaan program
pengembangan masyarakat Pengelolaan pembelajaran
kedisiplinan pembayaran angsuran dana bergulir
Perlu adanya peningkatan
pengetahuan/wawasan mengenai program- program pengembangan masyarakat Perlu adanya pemahaman dan pemikiran
yang kritis dalam pelaksanaan program- program pengembangan masyarakat
-
9
9
- -Ketua RW
Penyiapan perwakilan anggota masyarakat pelaksana program pengembangan masyarakat Melakukan keterlibatan dalam
perencanaan program pengembangan masyarakat Pengelolaan pembelajaran
kedisiplinan pembayaran angsuran dana bergulir pada setiap program pengembangan masyarakat
Perlu adanya peningkatan
pengetahuan/wawasan mengenai program- program pengembangan masyarakat Perlu adanya pemahaman dan pemikiran
yang kritis dalam pelaksanaan program- program pengembangan masyarakat
-
9
9
- -Tokoh Masyarakat
Melakukan keterlibatan dalam perencanaan program
pengembangan masyarakat
Peningkatan pengetahuan, pemahaman dan pemikiran yang kritis dalam
pelaksanaan program pengembangan masyarakat
Menumbuhkan partisipasi dan keswadayaan masyarakat.
Peningkatan perhatian dan dukungan terhadap program-program pengembangan masyarakat
1 2 3 4 5 6 7 8
Masyarakat
Melakukan keterlibatan dalam perencanaan program
pengembangan masyarakat Pengembangan pengetahuan
mengenai program-program pengembangan masyarakat Pengembangan kesadaran dan
kedisiplinan anggota komunitas dalam program pengembangan masyarakat
Peningkatan kapasitas partisipasi/keswadayaan dan kemandirian masyarakat Peningkatan kapasitas
masyarakat dalam kelembagaan dan modal sosial
Perlu adanya peningkatan
pengetahuan/wawasan mengenai program- program pengembangan masyarakat Perlu adanya pemahaman dan pemikiran
yang kritis dalam pelaksanaan program- program pengembangan masyarakat
-
9
9
- -Keterangan :
Stakeholder : Pihak-pihak yang perlu terlibat dalam proses pemberdayaan usaha sektor informal Peranan : Peran yang dilaksanakan untuk melakukan proses pemberdayaan usaha sektor informal Kondisi Kapabilitas
Keorganisasian : Keadaan yang dihadapi dan kemampuan yang dimiliki dalam mengorganisir diri untuk melakukan pemberdayaan usaha sektor informal
Interest/Komitmen : Kecenderungan pelaksanaan program
Status quo : Suatu arah pemikiran yang tidak menghendaki adanya perubahan Terbuka Terhadap
Perubahan : Suatu arah pemikiran yang terbuka dan menghendaki adanya perubahan
Data pada tabel 13 menunjukkan bahwa stakeholder yang perlu dilibatkan terdiri dari Pemerintah Kota Bandung (Badan Pemberdayaan Masyarakat Kota Bandung, Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Perekonomian), pemerintah Kecamatan dan Kelurahan, Kamar Dagang dan Industri, Lembaga Swadaya Masyarakat, LPM dari Perguruan Tinggi, LPM Kelurahan, Komunitas Usaha Sektor Informal, Ketua RW, Ketua RT, Tokoh Masyarakat, dan perwakilan Masyarakat. Pemerintah Kota Bandung melalui Badan Pemberdayaan Masyarakat Kota Bandung, Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Perekonomian memberikan perhatian yang sangat kondusif terhadap pengembangan usaha sektor informal dengan menghadirkan beberapa program yang berlandaskan pemberdayaan ekonomi rakyat. Kamar Dagang dan Industri Kota Bandung memberikan perhatian yang baik terhadap pengembangan usaha sektor informal. Stakeholder lainnya yang memiliki perhatian adalah LPM dari Perguruan Tinggi (salah satu diantaranya LPM STKS Bandung). Stakeholder yang berasal dari lingkungan Kelurahan Campaka antara lain LPM Kelurahan Campaka, Komunitas Usaha Sektor Informal, Ketua RW dan Ketua RT, Tokoh Masyarakat, dan perwakilan masyarakat. Pemerintah Kota berperan sebagai fasilitator dan pemberi bantuan pinjaman dan menjalin kerjasama dengan Kamar Dagang dan Industri. Pihak LPM dari Perguruan Tinggi berperan memberikan dukungan terhadap eksistensi dan pengembangan usaha sektor informal. LPM Kelurahan Campaka berperan sebagai pemberi dukungan dan saran terhadap kemajuan usaha sektor informal. Stakeholder utama dilakukan oleh komunitas usaha sektor informal dibantu oleh Ketua RW, Ketua RT, dan segenap unsur masyarakat yang memiliki perhatian terhadap pemberdayaan usaha sektor informal. Keterpaduan tiga komponen utama (Pemerintah, Swasta, dan Masyarakat) merupakan dasar strategi pengembangan masyarakat.
Penyusunan Strategi Program
Pemulihan perekonomian nasional merupakan salah satu solusi makro yang dapat memberikan pengaruh positif dan peluang bagi usaha sektor informal untuk mengembangkan usaha dan mencapai kemajuan usaha sebagaimana yang diharapkan. Keberadaan pihak yang memberikan perhatian dan pembelaan terhadap usaha sektor informal memang diperlukan. Keberadaan pihak luar
komunitas usaha sektor informal sangat diperlukan dimana mereka pada saat ini berupaya memperhatikan dan memperjuangkan aspirasi, harapan dan tujuan pelaku usaha sektor informal dalam memajukan usaha mereka.
Pemecahan masalah persaingan usaha sejenis dilakukan melalui pembentukan kelompok usaha sejenis. Antar anggota kelompok yang memiliki tempat usaha berdekatan masing-masing mengupayakan pembedaan produk yang dijualnya dan harga yang relatif sama jika ada produk yang sama di tempat usaha anggota yang lain. Hal tersebut dapat dilakukan melalui komunikasi yang terjalin antar anggota kelompok usaha sejenis yang dikembangkan secara berkesinambungan melalui suatu jaringan informasi.
Penyusunan strategi program didasarkan pada ruang lingkup internal dan eksternal komunitas usaha sektor informal. Program ditujukan kepada internal dan eksternal komunitas melalui pengembangan Jaringan Informasi Usaha Sektor Informal. Jaringan ini mengupayakan peningkatan kemampuan komunitas usaha sektor informal sehingga dapat memberdayakan usaha sektor informal oleh pelaku usaha sektor informal. Jaringan ini mengupayakan terciptanya jaringan usaha yang kuat dan komunikasi yang baik antar pelaku usaha, serta penyebaran informasi secara menyeluruh kepada seluruh pelaku usaha sektor informal. Rincian kegiatan pembentukan Jaringan Informasi Usaha Sektor Informal dapat dilihat dalam tabel berikut :
Tabel 14
Pembentukan Jaringan Informasi Usaha Sektor Informal Kelurahan Campaka Kecamatan Andir Kota Bandung
No. Item Penjelasan
1 2 3
1. Nama Kegiatan Pembentukan Jaringan Informasi Usaha Sektor Informal
Deskripsi Kegiatan Kegiatan ini merupakan upaya penciptaan suatu wadah yang dapat membantu pelaku usaha sektor informal dalam memperoleh berbagai informasi yang dibutuhkan bagi pengembangan usaha sektor informal Penanggung
jawab
Pemerintah Kelurahan Campaka
Pelaksana Lembaga Pengabdian Masyarakat Kelurahan Campaka
Stakeholder terkait 1. Pemerintah Kota Bandung (Bagian Perekonomian, Badan Pemberdayaan Masyarakat, Dinas Koperasi dan UKM) 2. Pemerintah Kecamatan Andir
3. Pemerintah Kelurahan Campaka 4. LPM Kelurahan Campaka 5. Ketua RW dan Ketua RT 6. Tokoh Masyarakat
7. Komunitas Usaha Sektor Informal Tujuan 1. Tujuan Umum :
Mengembangkan kemampuan pelaku usaha sektor informal untuk mencapai peningkatan taraf pendapatan dan kemajuan usaha secara
berkesinambungan. 2. Tujuan Khusus :
a. Meningkatkan akses terhadap sumber daya finansial dengan memanfaatkan sumber daya kelembagaan dan modal sosial
1 2 3
b. Meningkatkan akses terhadap pemasaran
c. Mengembangkan pengorganisasian diri pelaku usaha sektor informal dan pengembangan jejaring usaha
d. Meningkatkan akses pengetahuan dan keterampilan usaha.
Jenis Kegiatan 1. Sosialisasi penyamaan persepsi mengenai kebutuhan pembentukan jejaring untuk mengatasi permasalahan usaha sektor informal.
2. Pendataan ulang pelaku usaha sektor informal di setiap Rukun Tetangga 3. Musyawarah pembentukan jaringan
a. Merumuskan latar belakang pembentukan jaringan
b. Merumuskan cakupan jaringan c. Merumuskan dan mengesahkan
susunan pengurus, keanggotaan dan sekretariat tingkat Kelurahan, rukun warga, dan rukun tetangga
d. Merumuskan agenda kegiatan, sumber dan alokasi dana, serta mekanisme