• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERADILAN AGAMA SEBELUM PEMERINTAHAN HINDIA BELANDA

BAB V PRAKTIK PERSIDANGAN PENGADILAN AGAMA DAN MAHKAMAH SYAR’IYAH KHAS INDONESIA

SEJARAH PERADILAN AGAMA

B. PERADILAN AGAMA SEBELUM PEMERINTAHAN HINDIA BELANDA

Peradilan atau Qadha’ dalam ajaran Islam hukumnya fardlu kifayah, sehingga timbulnya peradilan bersamaan berlukunya hukum Islam kepada umat Islam, Dan fungsi peradiln dalam arti qodhi atau hakim merupakan alat perlengkapan dari pelaksanaan hukum Islam. Kemudian peradilan memperoleh bentuk yang kongkrit sebagaimana yang kita kenal seperti sekarang ini atau dalam sistem ketatanegaraan dengan berdirinya negara-negara Islam seperti dalam negara kerajaan-kerajaan Islam. Seperti kerajaan di Aceh, di Demah, di Mataram dan lain sebagaianya.

Pada awalmya fungsi peradilan sebelum ada negara dapat dilakukan dengan tahkim oleh seorang muhakam. Kemudian pada suatu kelompok masyarakat yang telah teratur maka jabatan qadli atau hakim dilakukan secara pemilihan dan ba’i’at oleh “ahlilhilal wal aqdi” sedangkan dalam suatu negara seperti sekarang ini, maka jabatan tersebut adalah merupakan ‘tauliyah” (delegation of athority) dari pihak Wliyul Amri yaitu penguasa tertinggi negara.

Peradilan Agama di Indonesia hanya terbatas kepada Peradilan Agama Islam, meskipun di Indonesia selain agama Islam ada agama lain, seperti agama Hindhu, Budha dan Kresten, hal ini berdasarkan realita bahwa selain agama Islam tidak mengenal hukum, tetapi hanya menganal ajaran2 Dengan demikian

eksistensi Peradilan Agama di Indonesia merupakan perkembangan hukum Islam di Indonesia dan merupakan bentuk sistem masyarakat Indonesia yang menyatu dengan agama,khususnya agama Islam.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sistem ketatanegaraan di Indonesia telah terjadi alkuturasi dengan sistem hukum Islam, hal ini dapat dilihat dalam bentuk struktur kelembagaan maupun dalam jabatan di dalam sistem ketatanegaraan, Umpamanya bentuk bangunan kerajaan di Jawa, baik dalam bentuk sistem bangunan kerajaan dan dibawahnya seperti Kadipaten, Ketemenggungan dan lain-lain, bangunan tersebut Bangunan gedung kerajaan Masjid dan alun-alun atau lapangan menyatu dalam satu sistem. Dan diantara Masjid dan rumah raja terdapat daerah Suranatan yang merupakan rrumah Penghulu atau Ketua Pengadilan Agama.. Demikian jabatan mulai dari bawa seperti jabatan di tingkat Desa/Kelurahan dosebut Modin, atau lebay, ditingkat Kecamatan disebut Penghulu, ditingkat Kadipaten Penghulu Ageng dan di tingkat Kerajaan Penghulu Agung. Jabatan tersebut mempunyai fungsi kewenangan menyelesaikan urusan keagamaan Islam termasuk masalah-masalah perkawinan, perceraian, kewarisan, hibah, wakaf dan lain-lain. Bahkan pada masa kerajaan Islam perkara hukum pidana, atau jinayah menjadi kewenangan Peradilan Agama.

2 Hukum dan ajaran sebagaimana pendapat Snoutch Horgronje dalam membedakan adat dan hukum adat, bila adat tidak mempunyai sanksi,sedangkan hukum adat mempunyai sanksi, demikain juga kita dapat menginterprestasikan pendapat tersebut, sehingga hukum itu mempunyai sangsi, sehingga ajaran meskipun juga merupakan norma tetapi ia tidak mempunyai saksi.

Hal ini dapat dilihat bahwa seperti kabupaten-kabupaten Priangan Timur di bawah kekuasaan Susuhunan di Mataram, dan ketika itu persatuan kehakiman dan diatasnya langsung di bawah kekuasaan Susuhunan Mataram.3 Semua

perkara yang oleh pegawai (yang dahulu disebut jaksa sekarang hakim) kebupaten yang mengadili harus disampaikan kepada Susuhunan Mataram. Bentuk perkara-perkara tersebut ada dua macam yaitu:

1. Perkara yang kepadanya dapat dijatuhi hukuman mati atau siksaan badan lainya;

2. Perkara-perkara lainnya yang atasnya dapat dijatuhi hukuman denda

Kedua kedua jenis perkara tersebut perkara jenis pertama harus diteruskan ke Susuhunan Mataram untuk diadili langsung Susuhunan Mataram, sedangkan jenis perkara yang kedua diputus oleh jaksa sekarang hakim di Kebupaten.

Perkara-perkara yang dikirim ke Mataram telah terpengaruhn hukum Islam, dan karena pegawai-pegawai yang disebut jaksa waktu itu sekarang hakim adalah pegawai-pegawai agama Islam (godsdienst-ambtenaren).4 Serta

pertimbangan putusan-putusan pegawai-pegawai agama Islam yang waktu itu disebut “Penghulu5 yang ada masing-masing tiap Kabupaten.

Sehinga dengan demikian dalam hukum ketatanegaraan dalam pemerintahan Islam di Indonesia sudah ada lembaga peradilan, meskipun nananya berbeda satu sama lain, seperti di Jawa yaitu:

3 . Soepomo dan Djoko Soetono, Sejarah Politik Hukum Adat (dari Zaaman Kompeni sehingga Tahun 1848). Jakarta : Pradnya Paramita, 1951. hlm 24-25.

4 . Sajuti Thalib, Politik Hukum Baru, Jakarta : Binacipta , 1984, hlm. 11

5 . Penghulu adalah hakim Pengadilan Agama dan Pejabat Urusan Agama yang pada waktu itu masih belum terpisah..Kemudian sekarang antara Penghulu dengan hakim Pengadilan Agama terpisah, Penghulu sekarang adalah Pejabat Kantor Urusan Agama di tingkat Kecamatan, sedangkan Hakim Agama, sebagai hakim di Pengadilan Agama di bawah Mahkmah Agung.

1. Paradilan Agama 2. Peradilan Pradata, dan 3. Peradilan padu.

Ketiga peradilan tersebut, kewenangannya adalah untuk Peradilan Pradata mengurusi perkara-perkara yang menjadi urusan raja. Hukum materiilnya umumnya bersumber pada hukum Hindu dalam bentuk “papekem” atau “kitab hukum”, sehingga hukum ini berbentuk hukum tertulis. Kemudian Peradilan

padu menyelesaikan urusan-urusan yang bukan menjadi urusan raja, hukum materiilnya bersumber kepada hukum=hukum kebiasaan dalam praktik sehari- hari dalam masyarakat, sehingga hukum materiil peradilan ini, hukum tidak tertulis. Sedangkan Peradilan Agama menyelesaikan perselisihan anggota masyarakat berdasarkan hukum Islam, kewenangannya selain hukum perdata termasuk hukum jinayah atau hukum pidana.6

Selain kerajaan Islam di Jawa juga di kabupaten-kabupaten di daerah di Priangan dibawah kekuasaan Susuhunan Mataram terdapat pula isntitusi peradilan yaitu:

1. Peradilan Agama, 2. Peradilan Drigama, dan 3. Peradilan Cilaga.

Disamping di pulau Jawa bentuk peradilan sebagaimana disebutkan seperti di atas, hampir semua kerajaan Islam di Indonesia, baik di pulau Jawa, pulau Sumatera, Kalimantan dan pulau-pulau lainnya terdapar peradilan agama, meskipun istilah nama peradilan berbeda satu lainnya. Seperti di daerah Sumatera, Kalimanatn selain Banjarmasi dan pulau lainnya seperti Sulawesi,

maluku dan lain-lain dengan istilah Mahkamah Syari’ah. Sedangkan di Banjarmasin dengan istilah Kerapatan Kadi.

Keberadaan peradilan agama di Indonesia ini merupakan pelaksanaan syari’at ajaran agama Islam, hal ini juga dikarenakan Islam masuk ke Indonesia secara damai dan hukum Islam telah diterima msyarakat Indonesia bersamaan dengan masuknya masyarakat Indonesia ke dalam agama Islam. Selain itu juga peradilan agama Islam merupakan sarana pelaksanaan hukum Islam, dengan sendirinya institusi peradilan agama Islam di Indonesia dalam sistem pemerintahan kerajaan Islam merupakan bagian dari sistem pemerintahan, karena hukum keberadaan peradilan dalam hukum Islam adalah fardu kifayah.