BAB III TINJAUAN UMUM TENTANG PENARIKAN
D. Peradilan Perdata dan Juru Sita Pengadilan sebagai Aparat
bergerak sesuai Undang-undang
Proses peradilan perdata merupakan suatu aktifitas penegakan hukum yang bertujuan untuk mencari dan menemukan kebenaran formil. Mencari kebenaran secara formil berarti bahwa hakim tidak boleh melampaui batas-batas yang diajukan oleh para pihak yang berperkara.
Suatu perkara perdata yang diajukan ke Pengadilan sebelumnya dibuat dalam suatu gugatan untuk menuntut suatu hak (petitum) dengan didasari dasar serta alasan-alasan dari tuntutan (posita) tersebut. Selanjutnya gugatan dapat ditolak atau dikabulkan oleh Pengadilan bergantung pada terbukti atau tidaknya gugatan tersebut di depan persidangan. Dalam praktek tidak semua dalil yang menjadi dasar gugatan yang harus dibuktikan kebenarannya. Namun Hakim dalam membuktikan suatu gugatan yang diajukan dalam persidangan bersandar pada kedudukan hukum yang sebenarnya berdasarkan keyakinan Hakim pada dalil-dalil yang dikemukakan para pihak yang bersengketa.
Pada acara pemeriksaan perkara perdata pihak-pihak yang terlibat biasanya penggugat dan tergugat, dimana masing-masing dalam proses pemeriksaan mempunyai hak untuk membuktikan kebenaran apa yang dikemukakannya, sesuai dengan isi Pasal 163 HIR yang menyebutkan bahwa, “Barang siapa yang mengatakan mempunyai barang suatu hak atau menyebutkkan suatu kejadian untuk meneguhkan haknya itu, atau untuk membantah hak orang lain, maka orang itu harus membuktikan adanya hak itu atau adanya kejadian itu”.25
Kemudian dapat dilihat juga dalam pasal 1865 KUH Perdata, “Setiap orang yang mendalilkan bahwa ia mempunyai suatu hak atau guna meneguhkan haknya sendiri maupun membantahkan suatu hak orang lain, menunjuk pada suatu peristiwa, diwajibkan membuktikan adanya hak atau peristiwa tersebut”.26
25
Pasal 163 HIR
26
Berbicara mengenai Jurusita penulis mengemukakan bahwa Jurusita merupakan bagian dari pelaksana tugas Pengadilan Negeri dalam memeriksa dan mengadili perkara perdata mempunyai peran yang tidak kalah penting dengan pejabat lain di Pengadilan, karena keberadaannya diperlukan sejak belum dimulainya persidangan hingga pelaksanaan putusan Pengadilan.
Sebagai pejabat peradilan, keberadaannya diatur di dalam undang-undang (Peradilan Umum, Peradilan Agama dan Peradilan TUN) sedangkan bekerjanya diatur dalam hukum acara (RBg /HIR). Tidak mudah menemukan Literatur, khususnya yang membahas tentang kejurusitaan, tidak banyak mendapat perhatian dari para sarjana hukum kita dibandingkan dengan bidang tugas hukum lainnya di Pengadilan, disamping itu bidang kejurusitaan ini kurang diajarkan secara mendalam dalam pendidikan ilmu hukum. Padahal, bidang tugas kejurusitaan merupakan hal yang sangat penting dan sangat menentukan untuk memeriksa, mengadili dan menyelesaikan suatu perkara. Suatu perkara tidak mungkin dapat diselesaikan dengan baik dan benar menurut hukum, tanpa peran dan bantuan tugas di bidang kejurusitaan. Hakim tidak mungkin dapat menyelesaikan perkara tanpa dukungan jurusita/jurusita pengganti, sebaliknya jurusita/jurusita pengganti juga tidak mungkin bertugas tanpa perintah Hakim. Keduanya dalam melaksanakan tugasnya tidak mungkin lepas sendiri-sendiri, kedua-duanya saling memerlukan satu sama lain. Khususnya di dalam penyitaan benda bergerak dalam ruang lingkup perjanjian fidusia yang mana Juru Sita sebagai aparatur negara yang diamanatkan oleh Undang-undang untuk melakukan penyitaan.
Selain Hakim dan Panitera, pada setiap pengadilan ditetapkan adanya jurusita (deurwaander) dan jurusita pengganti (Pasal 40 sampai dengan Pasal 43 UU No. 8 tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 2 tahun 1986 tentang Peradilan Umum). Jurusita Pengadilan Negeri diangkat dan diberhentikan oleh Mahkamah Agung atas usul Ketua Pengadilan yang bersangkutan. Sedangkan jurusita pengganti diangkat dan diberhentikan oleh Ketua Pengadilan yang bersangkutan (Pasal 41 UU No. 8 tahun 2004).
Adapun sebagai syarat untuk diangkat menjadi jurusita, sorang calon antara lain harus memenuhi syarat berpengalaman sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun sebagai jurusita pengganti, sedangkan untuk dapat diangkat menjadi jurusita pengganti, seorang calon harus berpengalaman sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun sebagai pegawai negeri pada Pengadilan Negeri (Pasal 40 UU No. 8 tahun 2004). Dalam menjalankan tugasnya kecuali ditentukan lain oleh atau berdasarkan undang-undang jurusita/jurusita pengganti tidak boleh merangkap menjadi wali, pengampu, dan pejabat yang berkaitan dengan perkara yang didalamnya ia sendiri berkepentingan. Disamping itu, ia juga tidak boleh merangkap menjadi advokad. Jabatan yang tidak boleh dirangkap oleh jurusita akan diatur lebih lanjut oleh Mahkamah Agung (Pasal 43 UU No. 8 tahun 2004).
Sebelum memangku jabatannya, jurusita atau jurusita pengganti wajib diambil sumpah atau janji menurut agamanya oleh Ketua Pengadilan yang bersangkutan (Pasal 42 UU No. 8 tahun 2004). Dengan demikian jurusita/jurusita pengganti adalah pegawai negeri yang diangkat berdasarkan peraturan
perundangan-undangan untuk melakukan tugas kejurusitaan di Pengadilan (Negeri) dimana ia bertugas.
Memperhatikan syarat-syarat pengangkatan dan pelaksanaan tugas seorang jurusita/jurusita pengganti yang diatur secara khusus oleh undang-undang, sesungguhnya dapat menyadarkan kita betapa pentingnya kedudukan dan tugas seorang jurusita/jurusita pengganti di Pengadilan. Oleh karena itulah pandangan yang meremehkan tugas seorang jurusita/jurusita pengganti tidaklah dapat diterima, mengingat tugas seorang jurusita/jurusita pengganti dapat menentukan berlangsung atau tidaknya suatu pemeriksaan di persidangan.
Kedudukan dan syarat-syarat pengangkatan seorang jurusita/jurusita pengganti diatur secara khusus dalam Undang-undang tentang Peradilan Umum, karena tugas-tugas yang dilakukan oleh seorang jurusita/jurusita pengganti tersebut, termasuk tugas yang sangat penting. Sebagaimana diketahui, tugas Pengadilan itu meliputi :
1. Tugas peradilan teknis justisial (Iurisdictio Contentiosa) ; 2. Tugas non justisial (Iurisdictio Voluntaria) ;
3. Tugas lain menurut Undang-Undang ;
4. Administerasi peradilan (admistration of justice),yang meliputi : a) Administerasi perkara
b) Administerasi keuangan perkara 5. Administerasi Umum 27
27
Soebyakto, Tentang Kejurusitaan Dalam Praktik Peradilan Perdata, Penerbit Djambatan, Jakarta, 1998, hal. 32. Mahkamah Agung RI dalam berbagai petunjuknya pada pokoknya telah membagi tugas di Pengadilan meliputi administerasi perkara dan administerasi umum. Tugas administerasi perkara merupakan tugas teknis justisial yang dilakukan oleh Hakim, Panitera
Tugas seorang jurusita/jurusita pengganti merupakan tugas teknis justisial. Tugas pengadilan yang bersifat teknis justisial pada dasarnya dimulai sejak pendaftaran perkara, management (pengelolan) biaya perkara, penyelesaian administerasi perkara, pengelolaan administerasi perkara, pengiriman atau penerimaan berkas ke Pengadilan Tinggi dan atau Mahkamah Agung (manakala ada upaya hukum banding dan atau kasasi), serta pelaksanaan putusan perkara perdata.
Sedangkan tugas-tugas yang harus dilakukan oleh seorang juru sita/jurusita penganti terdapat dalam berbagai peraturan perundang-undangan antara lain dalam Pasal 65 UU No. 2 tahun 1986 tentang Peradilan Umum yang sudah diubah dengan UU No. 8 tahun 2004 (bandingkan juga dengan ketentuan Pasal 716 Rbg). Berdasarkan ketentuan tersebut, tugas jurusita/jurusita pengganti antara lain meliputi :
Melaksanakan pemanggilan atas perintah Ketua Pengadilan atau atas perintah Hakim ;
Menyampaikan pengumuman-pengumuman, teguran-teguran, dan pemberitahuan putusan Pengadilan menurut cara-cara yang ditentukan undang-undang ;
Melakukan penyitaan atas perintah Ketua Pengadilan Negeri/Hakim;
Membuat berita acara penyitaan yang salinan resminya diserahkan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
(Panitera Pengganti) dan jurusita (jurusita pengganti). Sedangkan tugas administerasi umum dilakukan oleh pejabat kesekretariatan pengadilan.
Selanjutnya berdasarkan Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI Nomor :KMA/055/SK/X/1996 tentang Tugas dan Tanggung Jawab serta Tata Kerja Jurusita pada Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama28
Didalam skripsi ini penulis memfokuskan perhatian untuk membahas tugas juru sita untuk melakukan penyitaan (beslag)
, dalam Pasal 5 diatur jurusita mempunyai tugas untuk melakukan pemanggilan, melakukan tugas pelaksanaan putusan, membuat berita acara pelaksanaan putusan yang salinan resminya disampaikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan, melakukan penawaran pembayaran uang, serta membuat berita acara penawaran pembayaran uang dengan menyebutkan jumlah dan uraian jenis mata uang yang ditawarkan.
Ada 3 (tiga) macam penyitaan (beslag), yaitu :
a. Executorial beslag (Pasal 208, 209 Rbg dan seterusnya, bandingkan dengan Pasal 197 HIR)
b. Revindicatoir beslag (Pasal 260 Rbg/226 HIR) c. Conservatoir beslag (Pasal 261 Rbg/227 HIR) Ad. a. Executorial Beslag
Penyitaan ini merupakan yang terpenting dari ketiga jenis sita yang lain, karena mengenai pelaksanaan suatu putusan Hakim sebagai hasil sengketa perdata. Sebelum dilaksanakan, lebih dahulu harus ada permohonan eksekusi dari pihak yang menang, maka atas perintah Ketua Pengadilan Negeri pihak yang kalah harus dipanggil untuk mendapat “teguran (aanmaning)” supaya memenuhi putusan (Pasal 207 RBg). Apabila ternyata dalam waktu yang ditetapkan, pihak
28
Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor: KMA/055/SK/X/1996 tentang Tugas dan Tanggung Jawab serta Tata Kerja Jurusita pada Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama
yang ditegur tetap membangkang tidak mau melaksanakan putusan, maka Ketua Pengadilan Negeri memerintahkan kepada Panitera atau penggantinya dengan suatu surat perintah agar supaya menyita barang-barang kepunyaan (miliknya) tergugat. Setelah selesai menjalankan penyitaan, jurusita harus membuat berita acara tentang penyitaan tersebut dengan memberitahukan segala sesuatu kepada si pemilik barang-barang yang disita, jika ia ikut hadir. Dalam menjalankan tugasnya tersebut, jurusita tersebut harus dibantu oleh 2(dua) orang saksi yang sudah dewasa dan dikenalnya. Segala barang milik tergugat boleh disita, kecuali hewan-hewan termasuk alat-alat yang digunakan untuk membantu pekerjaannya. Setelah selesai melakukan penyitaan barang-barang harus diserahkan atau ditinggalkan kepada pemiliknya, dalam hal mana jurusita melaporkan kepada Kepala Desa agar barang-barang tersebut tidak dijual/dipindahtangankan.
Menurut pengalaman, jurusita sebelum melakukan penyitaan sebaiknya terlebih dahulu memberitahukan akan dilakukannya penyitaan kepada Kepala Desa. Kalau barang-barangnya ada diluar daerah Pengadilan Negeri yang memutus, maka Ketua Pengadilan Negeri meminta bantuan kepada Ketua Pengadilan Negeri didalam daerah barang yang harus disita berada (Pasal 206 ayat 2-3 RBg).
Ad. b. Revindicatoir Beslag
Diatur dalam asal 260 RBg (Pasal 226 ayat (1) HIR). Seseorang pemilik barang bergerak yang berada ditangan orang lain, karena tidak mau mengembalikan barang tersebut secara sukarela, maka pemilik tersebut dapat mengajukan permohonan kepada Ketua Pengadilan Negeri dalam daerah mana
pemegang barang tersebut berada, untuk menyita barang miliknya yang berada ditangan orang lain tersebut.
Cara-cara penyitaannya sama dengan yang telah diterangkan pada bagian
Executie beslag tersebut di atas.
Ad. c. Conservatoir beslag
Diatur dalam Pasal 261 RBg (Pasal 227 HIR). Dapat diajukan terhadap barang-barang bergerak maupun tidak bergerak milik tergugat. Permohonannya biasanya dibuat bersama-sama dengan surat gugatan, dengan alasan bahwa tergugat berusaha untuk menjual atau menyingkirkan barang-barangnya sebelum ada putusan.
Menurut Retnowulan Sutantio, perbedaan antara sita conservatoir dan sita revindicatoir adalah :
1. Barang-barang yang disita dengan cara conservatoir adalah barang milik tergugat, sedangkan barang-barang yang disita dengan revindicatoir adalah barang-barang milik penggugat, yang dikuasai/dipegang oleh tergugat.
2. Barang-barang yang disita dengan sita conservatoir adalah barang bergerak dan barang tidak bergerak, termasuk tanah, sedangkan barang-barang yang disita dengan sita revindicatoir hanya barang bergerak saja.
3. Untuk sita conservatoir harus ada sangka yang beralasan, bahwa tergugat sedang berdaya upaya untuk menghilangkan barang-barangnya dengan maksud menghindari tuntutan penggugat. Untuk sita revindicatoir hal ini tidaklah perlu.
4. Apabila gugat dikabulkan, sita conservatoir akan dinyatakan sah dan berharga dan dalam rangka eksekusi barang-barang tersebut akan diserahkan secara nyata kepada penggugat atau dalam hal yang digugat adalah sejumlah uang, barang-barang tersebut akan dilelang cukup untuk memenuhi putusan, termasuk biaya perkara, sedangkan apabila gugat ditolak atau dinyatakan tidak dapat diterima, sita conservatoir akan diperintahkan untuk diangkat. Sedangkan dalam sita revindicatoir. Apabila gugat dikabulkan, dan sita dinyatakan sah dan berharga, dalam rangka eksekusi barang itu akan diserahkan kepada Penggugat. Kata revindicatoir berarti, meminta kembali. 5. Oleh karena itu, barang yang disita dengan sita revindicatoir harus disebutkan
dengan jelas, juga ciri-cirinya, secara lengkap. Untuk sita conservatoir hal itu tidak perlu.29
Sedangkan persamaannya adalah :
1. Baik sita conservatoir, maupun sita revindicatoir, dalam hal gugat ditolak atau dinyatakan tidak dapat diterima, akan diperintahkan untuk diangkat.
2. Dalam rangka eksekusi, kedua sita tersebut akan secara otomatis berubah menjadi sita eksekusi.30
29
Retnowulan Sutantio, Jurusita, Tugas dan Tanggung jawabnya, Proyek Pembinaan Teknis Yustisial Mahkamah Agung RI, MARI, Jakarta, tahun 1993, hal 16
30
BAB IV
A. Perjanjian Leasing Sebagai Lembaga Pembiayaan Dan Kaitannya Dengan Kitab Undang-undang Hukum Perdata
Pada umumnya masyarakat lebih dekat dan akrab dengan lembaga perbankan, kemudian disusul dengan sekelompok lembaga keuangan bukan bank dan dalam era delapan puluhan dikenal lagi suatu lembaga pembiayaan lain yang salah satunya adalah leasing. Leasing (equipment funding) secara umum dapat didefinisikan dengan : ”Pembiayaan peralatan/barang modal untuk digunakan pada proses produksi suatu perusahaan baik secara langsung maupun tidak”.
Leasing sebagai suatu lembaga pembiayaan, saat ini masih cukup muda
usianya di Indonesia. Meski begitu, mengingat fungsi leasing dengan lembaga pembiayaan yang setingkat dengannya lebih baik, leasing sangat memiliki potensi yang besar untuk terus berkembang.
Perjanjian leasing sebagai suatu perjanjian jenis baru tidak ada diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang mengatur tentang hukum perikatan. Akan tetapi ketentuan umum yang terdapat dalam Buku Ketiga Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tersebut dapat diterapkan juga terhadap perjanjian-perjanjian yang sama sekali belum diatur dalam undang-undang.
Asas kebebasan berkontrak yang dianut KUHPerdata ini memungkinkan perkembangan dalam hukum perjanjian, karena masyarakat maupun kebutuhannya dapat menciptakan sendiri bermacam-macam perjanjian di samping perjanjian-perjanjian khusus yang diatur dalam KUHPerdata, asal tidak
bertentangan dengan undang-undang, ketertiban umum, atau kesusilaan (mempunyai causa yang halal menurut Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata). Adapun yang menentukan apakah suatu perjanjian mempunyai causal yang halal atau tidak adalah Hakim.
Perjanjian bernama adalah perjanjian yang disebutkan dengan nama tertentu dan diatur dalam perundang-undangan, sedangkan yang dimaksud dengan perjanjian tidak bernama adalah perjanjian yang tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan tetapi merupakan perjanjian-perjanjian yang timbul dalam lalu lintas hukum kemasyarakatan. Salah satu contoh perjanjian tidak bernama ini adalah leasing.
Untuk lebih lanjutnya ada baiknya menilik tentang sejarah leasing.
“leasing adalah bangunan hukum yang tak lain adalah merupakan
improvisasi dari pranata hukum konvensional yang disebut “sewa menyewa”
(lease). Dikatakan konvensional, karena ternyata sewa menyewa itu merupakan
bangunan tua dan sudah lama sekali ada dalam sejarah peadaban umat manusia. Pranata hukum sewa menyewa yang dikembangkan sebagai ilmu pengetahuan telah terekam dalam sejarah, paling tidak telah terekam lebih kurang 4500 tahun Sebelum Masehi. Yakni sewa menyewa yang dipraktekkan dan dikembangkan oleh orang-orang Sumeria.31
Sementara leasing dalam arti modern pertama kali berkembang di Amerika Serikat, dan kemudian menyebar ke Eropa dan ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Di Amerika Serikat, leasing dalam arti modern ini pertama
31
Munir Fuady, Hukum Tentang Pembiayaan dalam Teori dan Praktek,
kali diperkenalkan yaitu leasing yang berobjekkan kereta api. Bahkan dalam tahun 1850, telah tercatat perusahaan leasing yang pertama kali di Amerika Serikat yang beroperasi di bidang leasing kereta api.32
Selanjutnya masih di Amerika Serikat, pada tahun 1877, The Bell
Telephone Company memperkenalkan leasing di bidang pelayanan telefon kepada
para pelanggannya. Dan selanjutnya, yaitu pada tahun 1952, perusahaan leasing di San Fransisco (USA) telah juga memperkenalkan leasing dalam bentuk-bentuk tertentu. Selanjutnya pranata hukum leasing ini berkembang ke seluruh antero dunia seiring dengan arus globalisasi.33
Di Amerika Serikat perkembangan pranata hukum leasing ini cukup pesat. Selama dasawarsa 1980-an, volume leasing bertambah rata-rata 15% setiap tahunnya. Dan menjelang dasawarsa 1980-an tersebut, lebih kurang sepertiga pengadaan peralatan bisnis baru disana dilakukan dalam bentuk leasing.
Demikianlah di USA, maka bank-bank dan perusahaan leasing hidup subur sebagai lessor. Di samping itu, bahkan perusahaan pemegang trademark terkenal juga ikut menjadi lessor.34
Eksistensi pranata hukum leasing di Indonesia baru terjadi di awal dasawarsa 1970-an, dan baru diatur untuk pertama kali dalam perundangan RI di tahun 1974, Beberapa peraturan di 1974 itu merupakan tonggak sejarah perkembangan hukum tentang leasing di Indonesia. Peraturan-peraturan tersebut adalah: 32 Ibid 33 Ibid 34 Ibid
1. Surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No.KEP-122/MK/IV/2/1974, No.32/M/SK/2/1974, No.30/Kpb/1/1974, tertanggal 7 pebruari 1974 tentang Perizinan Usaha Leasing.
2. Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia
No.KEP/649/MK/IV/5/1974, tanggal 6 Mei 1974 tentang Perizinan Usaha
Leasing.
3. Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia
No.KEP.650/MK/51974, tanggal 6 Mei 1974 tentang Perizinan Usaha
Leasing.
4. Pengumuman Direktur Jendral Moneter Nomor Peng- 307/DJM/III.1/7/1974, tanggal 8 Juli 1974 tentang Pedoman Pelaksanaan Peraturan Leasing.
Setelah beberapa peraturan yang dikeluarkan pada tahun 1974 tersebut, ada beberapa peraturan lain yang terbit di tahun-tahun berikutnya. Dan perkembangan sejarah leasing di Indonesia sangat terkait secara erat dengan
policy pemerintah yang terutang dalam peraturan-peraturan tersebut.
Perkembangan leasing dalam sejarah di Indonesia dapat diklasifikasikan dalam tiga fase sebagai berikut:
1. Fase Pengenalan
Fase pertama yang merupakan fase pengenalan dari bisnis leasing di Indonesia terjadi antara tahun 1974 sampai tahun 1983 diawali dengan keluarnya peraturan khusus yang mengatur tentang leasing. Dalam faase ini leasing belum begitu dikenal di masyarakat.
2. Fase Pengembangan
Fase ini kira-kira pada tahun 1984 sampai dengan tahun 1990. Dalam fase ini
leasing cukup pesat perkembangannya seiring dengan pesatnya pertumbuhan
ekonomi di Indonesia.
Pada fase kedua ini, beberapa segi operasional leasing telah berubah, misalnya dalam hal metode perhitungan, penyusutan aset untuk kepentingan perpajakan. Hal ini merupakan akibat dari bentuknya Undang-Undang Pajak 1984.
3. Fase Konsolidasi
Fase ini terjadi pada sekitar tahun 1991 sampai sekarang. Pada periode ini izin-izin pendirian perusahaan leasing yang sebelumnya agak diperketat, kemudian dibuka kembali. Perusahaan multi finance juga banyak didirikan pada tahap ini. Dan salah satu perubahan yang terjadi pada fase konsolidasi ini adalah diubahnya sistem perpajakan, dari semula dengan operating method berubah menjadi financial method. Perubahan sistem perhitungan perpajakan ini mulai berlaku sejak tanggal 9 Januari 1991, berdasarkan ketentuan dalam SK Menteri Keuangan No.1169/KMK.01/1991.
Sungguhpun perkembangan usaha leasing sudah mulai terasa di Indonesia, banyak pihak mengatakan bahwa perkembangannya masih jauh dari yang diharapkan”.
Timbulnya leasing sebagai perjanjian tidak bernama adalah sebagai konsekuensi dari kebebasan untuk mengikat perjanjian dan adanya open
B. Keuntungan dan Kerugian Dalam Menggunakan Perjanjian Leasing Sebagai suatu pranat pembiayaan bisnis, leasing sudah tentu mempunyai plus minusnya. Namun demikian, apabila ditimbang-timbang, leasing banyak manfaatnya dan kelebihannya yang tidak dapat dikover oleh jenis-jenis pembiayaan lainnya. Terutama bagi pembiayaan golongan menengah. Bahkan untuk jenis-jenis barang tertentu, leasing juga dirasakan cocok untuk pembiayaan besar. Misalnya pembiayaan terhadap pengadaan pesawat terbang atau kapal laut, yang harganya sampai miliaran rupiah.
Adapun yang merupakan kelebihan-kelebihan leasing bila dibandingkan dengan metode-metode pembayaran lainnya, terutama dengan kredit bank, dapat disebutkan sebagai berikut :
1. Unsur Fleksibilitas
Salah satu unggulan yang merupakan andalan dari leasing adalah adanya unsur fleksibilitas. Unsur fleksibilitas ini terutama dalam hal dokumentasi,
collateral. Struktur kontraknya, besarnya dan jangka waktu pembayaran cicilan
oleh lessee, nilai residu , hak opsi dan lain-lain. 2. Ongkos yang Relatif Murah
Karena sifatnya yang relatif sederhana, maka untuk dapat ditandatangani kontrak dan direalisasi suatu leasing relatif tidak memerluka memerlukan ongkos/biaya yang besar, yang biasanya dalam praktek semua biaya tersebut diakumulasikan ke dalam satu paket.Termasuk dalam komponen biaya ini antara lain adalah consultant fee, pengadaan dan pemasangan barang , asuransi dan lain-lain.
3. Penghematan Pajak
Sistem perhitungan pajak untuk leasing menyebabkan/seyogianya menyebabkan pembayaran pajaknya lebih hemat.
4. Pengaturan Tidak Terlalu Complicated
Pengaturan terhadap leasing tidak terlalu complicated. Tidak seperti pengaturannya terhadap kredit bank misalnya. Ini terutama sangat menguntungkan bagi lessor mengingat perusahaan pembiayaan tidak perlu harus melaksanakan banyak hal seperti diwajibkan untuk suatu bank.
5. Kriteria bagi Lessee yang Longgar
Dibandingkan debitur yang memanfaatkan fasilitas kredit bank, maka persyaratan bagi perusahaan lessee untuk menerima fasilitas leasing jauh lebih aman bagi lessor, karena setiap saat barang modal dapat dijual, dengan perhitungan harga tidak lebih rendah dari sisa hutang lessee. Karena itu pula dimungkinkan pemberian fasilitas leasing untuk perusahaan menengah ke bawah, perusahaan-perusahaan mana sulit mendapatkan fasilitas lewat kredit perbankan. 6. Pemutusan Kontrak Leasing oleh Lessee
Sering juga didapati bahwa dalam kontrak leasing diberikan hak yang begitu mudah bagi lessee untuk memutuskan kontrak di tengah jalan. Karena sering juga harga barang modal dapat dijual kapan saja oleh lessor dengan harga yang dapat menutupi bahkan seringkali melebihi dari sisa hutang lessee. Dengan demikian, tidak banyak resiko yang harus dipikul oleh lessor maupun lessee jika terjadi pemutusan kontrak di tengah jalan. Tetapi tentunya ada beberapa jenis barang modal yang tidak gampang dilakukan penjualan dalam keadaan bekas,
seperti yang terjadi pada beberapa jenis mesin. Maka biasanya, untuk leasing seperti ini, tidak diberikan kemudahan bagi lessee untuk memutuskan kontrak di tengah jalan.
7. Pembukuan yang Lebih Mudah
Dari segi pembukuan, leasing lebih mudah dan menguntungkan bagi