• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PEMBAHASAN

5.4.9 Peralatan Depot Air minum

Peralatan yang digunakan terbuat dari bahan tara pangan antara lain pipa pengisian air baku, tandon air baku, pompa penghisap dan penyedot, filter, mikrofilter, kran pengisian air minum, kran pencucian/pembilasan galon, kran penghubung, dan peralatan desinfeksi, seperti Tandon air sebaiknya terbuat dari bahan tara pangan (food grade), seperti stainless steel atau poly-vinyl-carbonate dan dilakukan pembersihan dalam tendon secara berkala dan tidak mengandung unsur logam berbahaya antara lain timah hitam (Pb), tembaga (Cu), seng (Zn), dan kadmium (Cd) (Permenkes RI, 2014).

Mesin peralatan harus dirawat secara berkala, jika sudah habis umur pakai harus diganti sesuai dengan ketentuan teknisnya. Permukaan peralatan yang kontak dengan bahan baku dan air minum harus bersih dan disanitasi setiap hari, permukaan yang kontak dengan air minum harus bebas kerak dan residu lain. Proses pengisian dan penutupan dilakukan diruang yang higienis (Purnawijayanti, 2009).

5.4.9.1 Tandon Air Baku

Berdasarkan hasil penelitian seluruh depot telah mempunyai bahan yang tata pangan, terbuat dari stainless steel atau poly-vinyl-carbonate dalam masa pakai. Tandon penyimpan air baku baku juga seluruhnya diletakkan pada posisi yang tidak terkena sinar matahari langsung, sebab jika terkena matahari langsung dapat membuat kualitas air baku berubah.

5.4.9.2 Tabung Filter

Tabung filter yang digunakan oleh depot sudah sesuai dengan ketentuan yaitu terbuat dari bahan tara pangan dan yang mudah pemeliharaanya. Tabung filter yang ditemukan peneliti sudah baik, namun selalu saja penempatan peralatan tersebut tidak semestinya.

Penempatan tabung filter tersebut seharusnya pada ruangan khusus pengolahan, naman pada kenyataannya tabung filter dan peralatan untuk proses pengolahan berada pada satu ruangan, termasuk ruang tunggu pengunjung. Hal ini dapat dilihat bahwa penerapan higiene sanitasi depot masih belum terlaksana dengan baik.

5.4.9.3 Mikro Filter

Mikro filter terdapat lebih dari satu buah dengan ukuran berjenjang dari besar ke kecil. Contoh 10 µ, 5 µ, 1µ, 0,4 µ (µ = mikron) agar penyaringan kotoran/bakteri dalam air baku dapat berjalan dengan baik (Kemenkes RI, 2014), Fungsi mikro filter adalah saringan halus berukuran 0,1 mikron sampai maksimal 10 mikron (Depkes RI, 2006).

Semakin banyak penyaring yang digunakan dengan ukuran yang semakin mengecil akan membantu dalam menyaring partikel yang lembut. Pada depot air minum yang diteliti, seluruhnya telah memakai mikro filter dengan ukuran berjenjang yang lebih dari satu dan masih dalam masa pakai/ tidak kadaluarsa tetapi tidak ada waktu tertentu untuk mengganti filter.

pengisian harus dibersihkan dengan cara dibilas terlebih dahulu dengan air produksi minimal selama 10 (sepuluh) detik dan setelah pengisian diberi tutup yang bersih, wadah/galon yang telah diisi air minum harus langsung diberikan kepada konsumen dan tidak boleh disimpan pada depot air minum lebih dari 1x24 jam untuk menghindari kemungkinan tercemar.

Pada beberapa depot wadah yang dibawa oleh pelanggan tidak dicuci terlebih dahulu, melainkan hanya membilas bagian dalam botol, kemudian langsung diisi air minum lalu ditutup dengan penutup botol yang tidak saniter. Hal ini dapat terjadi karena sebagian besar depot air minum tidak memiliki sarana pencucian galon yang mana syarat pencucian galon pada depot air minum yaitu menggunakan mesin penyikat dan dilakukan dalam ruangan yang tertutup penggunaan mesin pembersih dapat menghindari kontak antara produk dengan pekerja (Asfawi, 2004).

5.4.9.5 Peralatan Sterilisasi/Desinfeksi

Peralatan sterilisasi merupakan salah satu penentu kualitas air minum yang akan dihasilkan oleh usaha depot air minum, sebab jika penggunaan alat sterilisasi yang tidak dalam masa pakai tidak dapat membebaskan air minum dari mikro organisme yang terdapat dalam air. Sehingga mikro organisnme tersebut tetap hidup dalam air, dan mengkontaminasi orang-orang yang mengkonsumsi air minum (Simbolon, 2012).

Semua depot memiliki peralatan desinfeksi yaitu berupa sinar UV, (Ultraviolet) dan sistem RO (reserved Osmosis) dan ada yang mengkombinasi dua peralatan sterilisasi sekaligus. Peralatan sterilisasi masih berfungsi dengan baik dan digunakan dengan benar oleh penjamah depot air minum, tetapi dalam penggunaannya masih ada depot yang hanya menghidupkan lampu pada saat pengisian. Seharusnya lampu ultraviolet tersebut dinyalakan saat depot mulai beroperasi sampai tutup, baru setelah itu dimatikan.

5.4.9.6 Fasilitas Pencucian Botol

Fasilitas pencucian botol (galon) adalah sarana pencucian botol untuk membersihkan botol yang terdapat pada depot, dengan cara memutarkan botol/galon secara bersamaan dengan menyemprotkan air produk selama 15 detik. Sebelum dilakukan pencucian penjamah memeriksa kondisi fisik luar botol/galon, apakah ada kebocoran, apakah umur botol/galon masih dalam batas aman, dan lain lain (Permenkes RI, 2014).

Penjamah juga wajib memeriksa botol/galon terhadap bau apapun, apabila didapati bahwa botol/galon berbau, maka segera disarankan ke pelanggan untuk menggati dengan yang tidak berbau dan apabila ditemukan indikasi adanya kotoran, maka botol/galon dapat disikat terlebih dahulu dengan mesin sikat yang dilengkapi dengan pembilasan menggunakan air produk.

Pada penelitian yang dilakukan hanya ada beberapa depot yang mempunyai fasilitas untuk mencuci bagian luar galon, penjamah hanya menyikat bagian luar dengan mesin sikat serta dilakukan pembilasan pada bagian dalam botol.

5.4.9.7 Fasilitas Pengisian Botol dan Pemasangan Tutup Botol

Fasilitas pengisian adalah sarana pengisian produk air minum ke dalam botol (galon) yang terdapat dalam ruangan tertutup (Permenkes RI, 2014). Pada hasil penelitian masih ditemukan adanya penjamah depot yang tidak mengisi air minum dalam ruangan tertutup, alasannya untuk mempercepat proses kerja dan pengangkatan galon. Pengisian botol (galon) dalam ruangan yang terbuka dapat mencemari air minum yang berasal dari lokasi sekitar sepot seperti debu dan kotoran lain.

Setiap galon yang telah diisi langsung diberi tutup yang baru dan bersih, tetapi bukan metoda memasang segel (wrapping) dan dilakukan pengelapan wadah dari luar dengan menggunakan kain/ lab bersih. Pada penelitian masih ditemukan saat mengisi galon, tangan dari operator sering terbilas dengan air dari kran setelah itu langsung menutup galon sehingga menjadi celah terjadinya kontaminasi bakteri kedalam air galon yang diisi.

Dokumen terkait