2 TINJAUAN PUSTAKA
3 METODE PENELITIAN
3.2.2 Peralatan penelitian
3.2.2 Peralatan penelitian
Peralatan yang di gunakan untuk pengambilan data dalam penelitian ini adalah pal sebagai tanda jarak, stopwatch, meter gulung, jangka sorong, waterpass, alat tulis menulis, untuk pengolahan data digunakan satu unit komputer, perangkat lunak program microsoft office excel untuk menyelesaikan perhitungan matematis serta tampilan-tampilan grafik, minitab untuk pengelolaan data statistik.
3.3 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi lapang eksperimental yaitu salah bentuk dasar penelitian yang dilakukan dengan merubah suatu keadaan untuk melihat suatu kejadian yang timbul dari akibat dari perubahan tersebut (Arikunto 1991). Perubahan yang akan dilakukan adalah pergantian ukuran/nomor baling-baling pada setiap daya mesin yang akan diuji cobakan sehingga terlihat perubahan kecepatan. Penelitian ini dilakukan dengan cara mempelajari suatu kasus tertentu dan objek tebatas (Mantjoro dkk. 1989), serta
pengukuran ukuran pokok kapal. Pengukuran kecepatan kapal untuk berbagai ukuran/nomor baling-baling (5-6, 6,5,dan 5), daya mesin, poros baling-baling di Ur Pulau Kabupaten Maluku Tenggara dengan cara :
1) Pengambilan data primer dan sekunder
2) Menentukan dua titik didarat yaitu titik A dan titik B, sebagai titk pengamatan yang jaraknya 100 m, dimana pada masing-masing titik dipasang sejajar mengarah ke laut.
3) Kapal yang diukur kecepatannya mulai berjalan jauh sebelum melewti titik A, pengamat yang berada pada titik tersebut akan memberikan tanda pada pengamat yang berada pada titik B dan pengamat yang berada diatas kapal. 4) Pengukuran secara menyeluruh kapal untuk mendapatkan data demensi
utama kapal. 3.3.1 Jenis Data
Jenis data yang akan dikumpulkan adalah
1) Dimensi utama kapal, efesiensi baling-baling yang merupakan perbandingan antara daya yang dihasilkan oleh baling-baling untuk menggerakan kapal dan daya yang disalurkan ke baling-baling (variableterkait).
2) Pitch adalah jarak maju (aksial) sebenarrnya yang ditempuh oleh baling-baling bila berputar sebanyak satu putaran(variablebebas).
3) Daya mesin yang mempunyai kemampuan untuk membawa atau menggerakan kapal jukung dan daya yang disalurkan ke baling-baling, kondisi kapal setelah penambahan sejumlah beban tertentu.
4) Kemiringan katinting disesuaikan dengan kondisi dilapangan/kemiringan yang selalu dipakai oleh nelayan.
5) Sudut jatuh poros
Untuk mengetahui berapa besarnya sudut jatuh poros yang masuk kedalam air dengan menggunakan alat ukur waterpass pada satu sudut yang sejajar dengan permukaan air yang berdekatan dengan panjang poros sehingga sudut yang terbentuk dapat terlihat dibusur (Gambar 16).
Poros Fondasi mesin
Baling-baling
Gambar 16 Sudut jatuh poros baling-baling
7) Panjang poros seluruh
Pengukuran panjang poros dilakukan berawal dari flens mesin dengan poros sampai pada batas pertemuan poros dengan baling-baling (Gambar 17).
Panjang poros baling-baling
Baling-baling Diameter poros Mesin
Sirip
Gambar 17 Panjang poros baling-baling 3.3.2 Metode Pengumpulan Data
Jenis data yang dikumpulkan merupakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan cara wawancara dan pengamatan serta melakukan eksperimental. Eksperimental dilakukan pada 2 unit kapal jukung dengan menggunakan semang dan tanpa semang dari 154 buah kapal yang beroperasi di perairan Ur Pulau Kabupaten Maluku Tenggara. Data primer yang diambil adalah dimensi utama kapal, pengukuran kecepatan kapal pada beberapa ukuran baling-baling dengan menghitung waktu yang dibutuhkan kapal untuk menempuh jarak 100
meter, panjang poros baling-baling, dan sudut jatuh poros baling-baling. Adapun langkah-langkahnya sebagai seberikut :
1) Pengambilan data primer dan sekunder
2) Menentukan dua titik didarat yaitu titik A dan titik B, sebagai titik pengamatan yang jaraknya 100 m, di mana pada masing-masing titik dipasang sejajar mengarah kelaut.
3) Pengambilan data kecepatan kapal dengan perlakuan ukuran baling-baling dari nomor 5-6, 6,5, 5 pada saat pengoperasian menggunakan dua daya mesin dengan jumlah baling-baling yang digunakan adalah dua buah, sedangkan pada saat menggunakan satu mesin, jumlah baling –baling yang digunakan adalah satu buah untuk berbagai jenis ukuran baling, dua jenis ukuran panjang poros baling-baling, sudut jatuh jatuh poros baling-baling.
4) Pengambilan data dimensi utama kapal yaitu untuk :
Mengukur dimensi utama kapal jukung meliputi panjang (LOA) adalah jarak secara horisontal dari ujung buritan sampai ke ujung haluan kapal yang merupakan panjang keseluruhan dan (LWL), adalah jarak yang dihitung dari Fore perpediculer (Fp) sampai After perpendicular (Ap) pada water line lebar (B) karena panjang yang digunakan adalah LWL, maka lebar adalah breadth moulded
yang diukur spada bagian tengah kapal terlebar dan terhitung pada kulit luar kapal dan lebar (D).
Data sekunder diperoleh melalui pendekatan dengan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Maluku Tenggara serta untuk melengkapi hasil penelitian dan penulisan tesis ini dilakukan studi literatur.
3.3.3 Pengolahan Data
Data yang dikumpulkan untuk dapat mengidentifikasikan karekteristik dimensi kapal jukung, dimensi ukuran baling-baling, daya mesin terhadap kecepatan kapal jukung di Ur Pulau, selanjutnya diolah dengan landasan perhitungan dan kemudian dikelompokkan serta dideskripsikan melalui tabulasi dan grafik. Hasil pengolahan data kemudian dianalisis dengan SPSS 16 untuk membandingkan
Baling1 Baling2 Baling3 Baling1 Baling2 Baling3 Semang Daya1 A111 Daya2 Daya3 Tanpa Daya1 --- --- --- --- --- --- semang Daya2 Daya3 --- --- --- --- --- Anjkl Keterangan: A= kecepatan kapal
n = 1 – 2, dimana n1= perahu dengan semang dan n2= perahu tanpa semang j = 1 – 3, dimana j1= daya mesin 5,5, HP; j2= daya mesin 6,5 HP dan j3=
daya mesin 5,5 + 6,5 HP
k = 1 – 2, dimana k1= poros panjang dan k2= poros pendek
l = 1 – 3, dimana l1= baling-baling no 5-6; l2= baling-baling no 6,5 dan l3= baling-baling no 5
3.3.3.1 Kecepatan Kapal
Menghitung kecepatan kapal dengan menggunakan rumus (Halliday 1985) sebagai berikut : V = m / det
………
( 1 ) Keterangan : V = Kecepatan (m/s) S = Jarak (m) t = Waktu (s)Data kecepatan kapal dalam m/s akan dikonversikan menjadi knot, setelah itu data kecepatan kapal yang diperoleh maka dapat dibuat grafik dari kecepatan kapal.
3.3.3.2 Poros Dengan Moemen Puntir dan Lentur
Poros umumnya berfungsi sebagai penerus daya melalui sabuk, roda gigi dan rantai. Dengan demikian maka poros tersebut akan memdapatkan beban puntir dan
lentur sehingga pada permukaan poros akan terjadi tegangan geser τ(=T/Zp) karena momen puntir T dan tegangan σ(=M/Z) karena momen lentur. Beban yang bekerja
pada poros umumnya adalah beban berulangan. Apabila poros tersebut memiliki roda gigi agar dapat meneruskan daya besar maka kejutan akan terjadi pada saat poros mulai atau sedang berputar. Dengan mengingat macam beban, sifat beban dan lainnya, maka ASME menganjurkan suatu rumus untuk dapat mennghitung diameter poros secara sederhana dimana sudah dimasukkan pengaruh kelelahan karena beban berulang. Dengan demikian berlaku persamaan (Sularso, 1983) :
1) Daya rencana Pd (HP)
Pd = fc. P ( kG.mm) ……… ( 2 )
Dimana :
fc = factor koreksi
P = daya yang ditransmisikan
2) Momen Puntir (momen rencana)
T = 9,74 x 104 (kG.mm) ……… ( 3 ) Dimana : n = putaran poros ( rpm ) Pd = daya rencana (kg.mm) 3) Momen lentur (kG.mm) M = ( ) + ( ) (kG. mm) ……….. ( 4 )
yaitu salah bentuk dasar penelitian yang dilakukan dengan merubah suatu keadaan untuk melihat suatu kejadian yang timbul dari akibat dari perubahan tersebut (Arikunto 1991). Perubahan yang akan dilakukan adalah pergantian ukuran/nomor baling-baling pada setiap daya mesin yang akan diuji cobakan sehingga terlihat perubahan kecepatan. Penelitian ini menggunakan dasar studi kasus dimana penelitian dilakukan dengan cara mempelajari suatu kasus tertentu dan objek tebatas (Mantjoro dkk. 1989).
Untuk menganalisis kecepatan kapal jukung dengan menggunakan ukuran/nomor baling-baling, ukuran poros baling-baling yang berbeda dan daya mesin di lapang maka dapat dihitung berdasarkan pendekatan teori. Untuk membandingkan perbedaan antara ukuran baling-baling (5-6, 6,5 dan 5) serta daya mesin (5,5 HP, 6,5 HP dan kombinasi 5,5 HP dan 6,5 HP), ukuran poros digunakan two way anova (anova dua arah) terhadap kapal yang menggunakan katir (semang) dan kapal yang tidak menggunakan semang menurut Sokal dan Rohif (1995).