BAB II KOTA MEDAN SEBELUM AKSI KEKERASAN WESTERLING
2.2 Peralihan Kekuasaan Jepang Kepada Republik Indonesia
Perang Dunia Kedua berakhir setelah blok poros (Jerman, Itali, dan Jepang) takluk di bawah blok Inggris, Amerika Serikat, dan Uni Soviet setelah beberapa tahun (1939-1945) perang terus berkecamuk. Dalam hal ini Indonesia dengan segera memanfaatkan kekalahan Jepang, walaupun pada tahun 1944 Jepang telah menjanjikan kemerdekaan bagi Indonesia. Bagian ini akan menjelaskan secara kronologis bagaimana peralihan kekuasaan Jepang kepada Republik Indonesia.
Sejak Oktober 1944, segera setelah Perdana Menteri Koiso mengumumkan bahwa Indonesia akan diberi kemerdekaan “dalam waktu dekat”, terlihat perkembangan berupa perubahan nyata dalam kebijakan Jepang. Hampir secara tiba-tiba, pengurus Angkatan Bersenjata Jepang di Jawa dan Madura mengurangi pengawasan mereka hingga separuhnya atas Jawa Hokokai, Sukarno, Hatta, dan para juru bicara kaum nasionalis lainnya diberi kesempatan yang lebih besar untuk menjalin hubungan dengan massa dan lebih bebas berbicara tentang kemerdekaan Indonesia tanpa takut-takut, bahkan tidak perlu menyelipkan nada pro-Jepang secara
berlebihan dalam pidato mereka.47 Memang hal semacam ini cukup mengejutkan, jika masa awal pendudukan Jepang di Indonesia pidato-pidato oleh tokoh-tokoh Indonesia, seperti Sukarno hampir sebagian besar menyelipkan keagungan „saudara tua‟ itu. Kebijakan Jepang dalam hal ini bukan tanpa berdasar, karena pada masa-masa tersebut Jepang sudah mulai banyak mengalami kekalahan, seperti serangan yang dilancarkan Amerika di Filipina.
Pada 1 Maret 1945, dibentuklah Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK). Jepang memilih Dr. Radjiman Wediodiningrat sebagai ketuanya. Sebagai wakil ketua ditunjuk Ichibangase (orang Jepang) dan Suroso (orang Indonesia). Sementara itu, sisa 59 anggota lainnya mencakup perwakilan dari semua kelompok sosial dan etnis di Jawa dan Madura, termasuk Sukarno, Hatta, dan para pemimpin nasionalis lainnya, ditambah tujuh orang Jepang. Dalam BPUPK diangkat pula dua wakil sekretaris, yaitu Abdul Gafar Pringgodigdo dan seorang Jepang yang tidak dapat berbahasa Indonesia, bahasa umum yang dipakai dalam badan itu.
BPUPK menyelenggarakan dua sidang pleno, yaitu pada 28 Mei-2 Junia, dan 10-17 Juli 1945, dan mencapai kesepakatan dasar mengenai masalah perundang-undangan dan ekonomi. Suatu kepanitiaan yang dibebani tugas kira-kira sama dengan BPUPK tetapi diawasi secara lebih ketat, dibentuk oleh pemerintah militer Jepang di Sumatera pada 25 Juli 1945. Kepanitiaan tersebut diketuai oleh Mohammad Sjafei
47 Kahin, op.cit., hal. 163-164.
yang sebelumnya menjabat Kepala Badan Penasihat Pusat Sumatera yang lebih dulu dibentuk dan Adinegoro sebagai sekretaris.
Pada Juni 1945, Jepang mengadakan rapat umum yang dihadiri oleh sekitar 4.000 mahasiswa. Tema rapat adalah bahwa kemerdekaan Indonesia akan tercapai melalui perjuangan bersama Jepang dalam melawan Sekutu. Rapat itu disiarkan di seluruh Jawa melalui radio. Salah satu pembicara dari Indonesia yang merupakan anggota Angkatan Muda Surabaya mengamini bahwa Indonesia memang harus berjuang untuk mencapai kemerdekaannya, tetapi sangat menentang dan dengan tegas menolak pendapat Jepang bahwa perjuangan tersebut adalah dalam bentuk melawan Sekutu. Pernyataan orang tersebut disambut dengan tepuk tangan bergemuruh yang ikut disiarkan bersamaan dengan pidatonya. Rapat itu kemudian berubah menjadi kacau, dan Jepang baru dapat meredakan kekacauan itu dengan cara membunyikan sirene tanda serangan udara.48
Pada tanggal 6 Agustus 1945 bom atom pertama dijatuhkan di Hiroshima.
Pada tanggal 7 Agustus lembaga Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dimumkan di Saigon. Kemerdekaan akan berlaku untuk seluruh Indonesia, dan sekarang untuk pertama kalinya pemerintah Jepang mengubah politik pembagian tiga atas Indonesia. Oleh karena itu di dalam Panitia tersebut juga duduk wakil-wakil dari seluruh Indonesia (termasuk dari Sumatera T.M. Hassan, Dr. Amir dan Mr. Abbas).
Pada tanggal 9 Agustus Sukarno, Hatta, Radjiman Wediodiningrat, Ketua Badan
48 Ibid., hal. 170.
Penyelidik, Soerharto- dokternya Sukarno- dan dua orang pengantar- orang-orang Jepang- berangkat ke Saigon melalui Singapura. Pada 11 Agustus oleh Laksmana Terauchi Sukarno dan Hatta dilantik sebagai ketua dan wakil ketua PPKI di Dalat.
Pada tanggal 13 Agustus perjalanan pulang; dan pada tanggal 14 Agustus penerbangan yang penuh resiko- karena ruang angkasa telah dikuasai Sekutu- berakhir dengan selamat. Kedua pemimpin Indonesia itu mendapat sambutan yang megah, dari para pembesar tertinggi Jepang, antara lain Laksmana Laut Maeda.49
Pada 15 Agustus 1945 tersiar kabar berita menyerahnya Jepang kepada sekutu. Namun, berita ini tidak serta-merta tersebar luas ke seluruh wilayah Indonesia. Penguasa Jepang di Jakarta yang merupakan pusat kekuasaan Jepang di Indonesia tidak yakin bagaimana menyikapi perubahan situasi yang tiba-tiba ini dan tidak menyiarkan berita itu kepada khalayak. Informasi akurat tentang menyerahnya Jepang hanya diketahui Jepang dan orang-orang Indonesia yang memiliki hak istimewa atau mendapatkan akses gelap untuk mendengarkan radio.50 Sementara itu para pembesar pemerintah pendudukan Jepang merasa kaget akan berita itu, begitu juga terhadap semua tokoh Indonesia yang terkait dengan kemerdekaan yang akan datang. Tidak lama setelah pidato radio itu Sukarno, Hatta, dan Soebardjo mendapat
49 Harry A. Poeze, 2019, Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia (Jilid 1: Agustus 1945- Maret 1946) Jakarta: YOI, hal. 3-4.
50 Robert Cribb, 2010, Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949, Jakarta:
Masup, hal. 63.
kepastian tentang berita penyerahan itu dari Maeda.51 Berita ini menjadi tanda bahwa Indonesia harus segera merumuskan kemerdekaannya.
Di sisi lain, pemimpin nasionalis golongan tua seperti Sukarno secara umum memilih bersikap hati-hati. Menurutnya tindakan tergesa-gesa dapat memancing kemarahan Jepang dan Sekutu yang akan berdampak pada hancurnya gerakan nasionalis. Golongan nasionalis muda meyakini perlunya segera menyatakan kemerdekaan, pertentangan ini berbuntut panjang hingga penculikan Sukarno dan Hatta yang dibawa ke Rengasdengklok.52
Pertentangan masih terus berlanjut, sekalipun Sukarno dan Hatta sudah dibawa kembali pulang ke Jakarta. Juga pada bunyi teks proklamasi masih menjadi ajang pertentangan yang sengit hingga 17 Agustus 1945 dini hari. Golongan muda mengajukan teks proklamasi bernada militan:
“Bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.
Seluruh elemen kepemerintahan akan segera diambilalih dari pihak asing yang mempertahankannya.”
Teks tersebut masih terlalu vulgar bagi Sukarno, Hatta dan pemimpin generasi tua lainnya yang hadir pada pertemuan final, termasuk banyak anggota dari PPKI.
Akhirnya, mereka semua sepakat dengan teks yang lebih diplomatis sebagai berikut:
“Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahaan kekuasaan d.l.l
51 Poeze, loc.cit.,
52 Cribb, loc.cit.,
diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.”53
Dengan begitu, kemerdekaan Indonesia sudah diproklamirkan, Indonesia sudah berdiri sebagai nation-state (negara-bangsa) setelah melalui proses yang panjang.
Sehari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, rapat kilat dilaksanakan (sidang PPKI pertama). Setelah diskusi singkat, PPKI memutuskan untuk mengadopsi konstitusi negara yang sebelumnya disusun BPUPK dengan beberapa perubahan di dalamnya. Salah satu perubahan yang dimaksud adalah presiden harus beragama Islam dan menjalankan syariah Islam. Hal ini juga menjadi perdebatan yang panjang, tetapi atas kebijaksanaan orang Islam-lah yang ikut pada sidang tersebut dalam hal menjalankan syariah Islam dapat dibuang. Salah satu tokoh yang gigih dalam memperjuangkan hal itu adalah Teuku Hassan wakil dari Sumatera.
Menurut Hassan harus menjaga pentingnya kesatuan nasional. Agar minoritas-minoritas utamanya Kristen (Batak, Manado, Ambon) tidak terdorong masuk ke dalam lingkungan Belanda yang sedang berusaha datang kembali.54 Kelengkapan lain yang dibutuhkan adalah pendirian kantor presiden dan wakilnya, badan legislatif, serta kabinet yang bertanggung jawab kepada presiden. Serangkaian peraturan peralihan mementahkan konstitusi untuk sementara. Salah satunya memberikan kekuasaan absolut selama 6 bulan kepada presiden dan yang lainnya mengatur bahwa
53 Smail, 2011, Bandung Awal Revolusi 1945-1946, Depok: Komunitas Bambu, hal. 31.
54 Anderson, op.cit., hal. 97-98.
sampai dengan terbentuknya badan legislatif dan badan-badan yang lain maka fungsi mereka akan dilakukan oleh presiden dengan bantuan komite nasional.
Tidak ada kesulitan dalam menentukan pengisi jabatan kepresidenan. Dalam pertemuan yang sama, Sukarno dipilih sebagai Presiden dan Hatta dipilih sebagai Wakil Presiden secara aklamasi. Pada tanggal 19 Agustus 1945, PPKI menentukan pembagian tugas untuk 12 kementerian dan pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Sementara itu, kabinet masih belum terbentuk karena urusan menyangkut kontrol pemerintahan secara praktik berkaitan dengan hubungan yang dengan Jepang dan hal ini harus ditangani dengan hati-hati.
Pada sidang PPKI yang terakhir tanggal 22 Agustus 1945, PPKI mendeklarasikan bahwa Komite Nasional harus ada di setiap tingkat dan mendeskripsikan fungsi-fungsinya sebagai berikut:
1. Mengekspresikan keinginan rakyat Indonesia untuk hidup sebagai bangsa merdeka.
2. Menyatukan rakyat dari seluruh kelas dan pekerjaan demi mencapai kesatuan nasional yang sempurna.
3. Membantu menenangkan rakyat dan melindungi kesejahteraan umum.
4. Membantu presiden dalam menjalankan aspirasi rakyat Indonesia dan di tingkat lokal membantu pemerintah lokal unruk menjaga ketertiban umum.55
55 Smail, op.cit., hal. 32-33.
Sidang PPKI yang terakhir ini mengindikasikan bahwa tugas-tugas kenegaraan sudah „dirampungkan‟ secara tekstual. Bagi kepala-kepala daerah yang sudah ditunjuk dari hasil sidang tersebut, kiranya kembali ke daerahnya masing-masing untuk menyampaikan hasil sidang ini, termasuk ke Sumatera yang diamanahkan kepada Teuku Hassan.
Tetapi, walaupun proklamasi kemerdekaan Indonesia sudah dilaksanakan dan sampai pada pembentukan tugas-tugas negara. Hal tersebut belum diketahui oleh seluruh penjuru masyarakat Indonesia dan yang lebih miris, berita proklamasi yang tinggalnya jauh dari Jakarta tidak mempercayainya. Baru-lah pada tanggal 22 Agustus pihak Jepang akhirnya mengeluarkan suatu pengumuman mengenai menyerahnya mereka, tetapi baru pada bulan September 1945 fakta bahwa kemerdekaan telah diproklamirkan diketahui di wilayah-wilayah terpencil, sedangkan di Kota Medan baru terlaksana pada bulan Oktober.56