AKSI KEKERASAN WESTERLING DI KOTA MEDAN (1945-1946) Skripsi Sarjana
Dikerjakan O
L E H
NAMA : YANDI SYAPUTRA HASIBUAN NIM : 170706007
PROGAM STUDI ILMU SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2021
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi Rabbil Alamin, penulis ucapkan kepada Allah SWT karena atas berkah dan ridho-Nya segala sesuatu dapat diselesaikan. penulis sebagai calon peneliti dan sejarahwan di masa depan telah menyelesaikan karya ilmiah dalam bentuk skripsi. Sholawat dan Salam kepada ruh junjungan alam Nabi Muhammad Saw, mudah-mudahan kita semua mendapatkan syafaat-Nya di hari kemudian nanti.
Skripsi ini penulis ajukan sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sastra di Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara. Dalam kesempatan ini Saya mengangkat judul skripsi “AKSI KEKERASAN WESTERLING DI KOTA MEDAN (1945-1946).”
Skripsi ini masih jauh dari kata “sempurna”, untuk itu kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat diharapkan oleh penulis. Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih atas segala perhatiannya, semoga tulisan ini dapat diperbaharui lagi dan dapat dibaca oleh berbagai kalangan serta menambah khazanah pengetahuan sejarah kita untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah.
Demikian, semoga rahmat Tuhan Yang Maha Esa selalu menyertai kita semua.
Medan, Februari 2021 Penulis
Yandi Syaputra Hasibuan 170706007
UCAPAN TERIMAKASIH
Penelitian dan penulisan skripsi ini dapat terselesaikan atas motivasi, bantuan, kritik, saran, dan doa dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak. Ucapan terimakasih ini penulis haturkan kepada:
1. Bapak Dr. Budi Agustono, M. S, selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara, beserta para Wakil Dekan dan seluruh staf atas bantuan dan fasilitas yang Saya peroleh selama menempuh pendidikan di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Drs. Edi Sumarno, M. Hum, selaku Ketua Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara sekaligus dosen pembimbing skripsi penulis. Selama bimbingan skripsi, beliau telah banyak memberikan waktu, nasihat, kritik, dan saran yang sangat memotivasi penulis untuk menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi ini.
3. Ibu Dra. Nina Karina, M. SP, selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.
4. Ibu Dra. Junita Setiana Ginting, M. Si, selaku Dosen Penasehat Akademik penulis selama menempuh pendidikan di Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara. Beliau tidak kunjung henti dalam memotivasi penulis untuk tetap serius selama menempuh bangku pendidikan.
5. Kepada seluruh Dosen Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan sepenuh hati ilmu pengetahuan, wawasan, motivasi, nasihat dan pengalaman selama penulis menempuh bangku pendidikan, serta Pak Ampera selaku pegawai administratif yang telah banyak membantu dalam urusan administrasi, kiranya tanpa beliau penelitian skripsi ini tidak akan berjalan sebagaimana semestinya.
6. Skripsi ini penulis persembahkan kepada orangtua tercinta Bapak Almarhum H. Bakhtaruddin Hasibuan dan Ibu Hj. Sari Bulan Hasibuan tanpa mereka studi ini tidak akan terselesaikan sebagaimana semestinya.
7. Abang-abang dan Kakak-kakak penulis, Rizal Saqdi Hasibuan, Muhammad Hanafi Hasibuan, Emil Salim Hasibuan, Armin Iskandar Hasibuan, Siti Arifah Hasibuan, dan Nur Sakinah Hasibuan. Merekalah anggota keluarga penulis, dalam ranah pendidikan mereka tidak kunjung lelah untuk mendorong supaya tetap serius dan semangat untuk menyelesaikan pendidikan.
8. Mahasiswa Ilmu Sejarah Angkatan 2017, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara, selama pendidikan berlangsung telah memberikan banyak pengalaman berarti dan semoga kita semua nanti tetap abadi dalam kenangan.
9. Minum Kopi Medan, yang telah memberikan banyak fasilitas selama penelitian dan penulisan skripsi ini berlangsung.
10. Abang Syaifuddin Ansori Nasution dan Kakak Rizky Hayati Siregar, selama menempuh pendidikan merekalah yang menjadi wali penulis di rantau orang ini di kala jauh dari orangtua tercinta.
11. Sahabat Saya Rahmad Yamin Harahap, dialah yang mengarahkan penulis bagaimana menghadapi tantangan di kala jauh dengan orangtua dan untuk terus bersemangat dalam menyelesaikan studi.
Akhir kata penulis ucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam penelitan dan penulisan skripsi ini. Semoga kebaikan selalu menyertai kita semua, Amin.
Medan, Februari 2021 Penulis
Yandi Syaputra Hasibuan 170706007
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
UCAPAN TERIMAKASIH... ii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR PETA ... vii
DAFTAR GAMBAR ... vii
ABSTRAK ... viii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 9
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 9
1.4 Tinjauan Pustaka ... 11
1.5 Metode Penelitian ... 14
BAB II KOTA MEDAN SEBELUM AKSI KEKERASAN WESTERLING (1945-1946) ... 18
2.1 Masa Pendudukan Jepang ... 19
2.2 Peralihan Kekuasaan Jepang Kepada Republik Indonesia... 30
2.3 Kota Medan Awal Kemerdekaan ... 38
BAB III LATAR BELAKANG AKSI KEKERASAN WESTERLING DI KOTA MEDAN (1945-1946) ... 47
3.1 Obsesi Menjadi Seorang Militer ... 48
3.2 Mengintegrasikan Bekas Jajahan ... 56
3.3Dari Kolombo ke Kota Medan ... 58
3.4 Pembebasan Tawanan Perang ... 67
BAB IV AKSI-AKSI KEKERASAN WESTERLING DI KOTA MEDAN (1945-1946) ... 77
4.1 Dua Tembakan di Jalan Bali ... 78
4.2 Mencari Tarigan ... 88
4.3 Kepala di Trotoar Masjid Sultan Deli ... 94
4.4 Pembentukan Pasukan Teror Pao An Tui (PAT) ... 100
BAB V DAMPAK AKSI KEKERASAN WESTERLING DI KOTA MEDAN (1945-1946) ...`107
5.1 Westerling Meninggalkan Kota Medan ... 107
5.2 Dampak Aksi Kekerasan Westerling Bagi Republiken dan Belanda .... 113
BAB VI KESIMPULAN 6.1 Kesimpulan ... 117
6.2 Saran ... 119
DAFTAR PUSTAKA ... 120
DAFTAR PETA
Kota Medan 1945 ... 19 DAFTAR GAMBAR
Pasukan Jepang Mendarat di Tanjung Tiram ... 21 Raymond Paul Piere Westerling ... 49 Westerling di “usia senja” ... 50 Lapangan terbang Polonia Kota Medan tempat yang mana Westerling pertama kali menginjakkan kaki-nya di Indonesia ... 66 Lapangan terbang Polonia di lihat dari foto udara ... 67 Salah satu koran Belanda yang menceritakan teror Westerling
di Kota Medan ... .70 Bekas Pension Wilhelmina yang diserbu warga Kota Medan pada Peristiwa Jalan Bali ... 78
ABSTRAK
Skripsi ini berjudul “Aksi Kekerasan Westerling di Kota Medan (1945- 1946).” Sebagai sebuah kajian sejarah, kajian ini termasuk kepada Sejarah Lokal yang erat kaitannya dengan Politik dan Mentalitas. Secara politik, aksi kekerasan yang dilakukan Westerling di Kota Medan merupakan salah satu upaya Belanda untuk kembali menguasai Indonesia pada awal kemerdekaan. Didukung pula kondisi psikologis Westerling yang terampil dalam melancarkan aksi-aksi kekerasan.
Kota Medan pada awal kemerdekaan sudah diselimuti aneka ragam kekerasan. Westerling selama berlabuhnya di Kota Medan, terhitung dari tahun 1945 sampai 1946 mempunyai tugas menjaga keamanan dan ketertiban sebelum Sekutu mendarat. Tetapi, tugas yang diembannya berujung pada teror aksi kekerasan yang turut mewarnai sejumlah kekerasan yang terjadi di Kota Medan. Hal semacam ini juga merupakan upaya Belanda untuk kembali menguasai Indonesia. Atas dasar tersebut Westerling melakukan kontra spionase, operasi senyap, sabotase dan lain-lain yang terus berdampak bagi pihak Republiken dan Belanda hingga ia meninggalkan Kota Medan.
Proses penelitian ini menggunakan Metode Sejarah, diawali dengan menentukan topik. Selanjutnya tahap heuristik (pengumpulan sumber), penulis menggunakan sumber-sumber primer berupa koran, artikel, majalah, dan surat kabar yang dapat diakses melalui situs online, seperti Delpher.nl, Gahetna.nl, dan Library University Leiden KITLV. Lalu menggunakan sumber sekunder berupa buku-buku, diktat, dan jurnal. Sumber-sumber itu kemudian diverifikasi (dikritik), melalui kritik eksternal untuk memperoleh keautentikan sumber dan kritik internal untuk menghasilkan kredibilitas fakta-fakta sejarah. Kemudian, hasil verifikasi tersebut diinterpretasi berupa analisis dan sintesis untuk menghasilkan sebuah narasi sejarah.
Terakhir historiografi, merekonstruksi fakta-fakta sejarah yang sudah dikumpulkan.
Kata Kunci: kekerasan, Westerling, Medan (1945-1946), politik, psikologis, keamanan dan ketertiban.
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Raymond Paul Pierre Westerling1 atau yang sering dikenal dengan Westerling adalah salah satu nama yang begitu melekat pada sejarah bangsa Indonesia, khususnya pada masa revolusi. Hal ini disebabkan Westerling telah banyak melakukan aksi kekerasan dan pembunuhan terhadap rakyat Indonesia di berbagai wilayah di Indonesia.2 Aksi kekerasan yang paling dikenal adalah di Sulawesi Selatan pada periode 1946-1947 yang menelan korban hingga 3.500 orang.3 Bahkan dalam sumber lain dinyatakan menelan korban mencapai 40.000 orang.4
Setelah selesai dari Sulawesi Selatan, Westerling kembali mengulangi aksi kekerasan di Cikampek daerah Jawa Barat yang semula berpenduduk 35.000 jiwa seolah-olah menjadi kota mati.5 Tahun 1950 Westerling juga membentuk APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) yang bertujuan untuk mengkudeta pemerintahan
1 Petrik Matanasi, 2007, Westerling: Kudeta yang Gagal, Yogyakarta: Media Pressindo, hal.
13. Westerling adalah seorang tentara komando yang sudah sangat berpengalaman ketika Perang Dunia ke-II meletus. Kedatangannya ke Indonesia pada masa revolusi sudah dirancang oleh Belanda, yakni untuk melatih pasukan khusus atau Depot Special Troepel yang kemudian terlibat dalam kampanye pasifikasi di Sulawesi Selatan pada 1947-1948.
2 Maarten Hidskes, 2018, Di Belanda Tak Seorang Pun Mempercayai Saya: Korban Metode Westerling di Sulawesi Selatan 1946-1947, Jakarta: YOI, hal. xvi.
3 Remy Limpach, 2019, Kekerasan Ekstrem Belanda di Indonesia: Perang Kemerdekaan Indonesia 1945-1949, Jakarta: YOI, hal. 67.
4 Trouw, 27 November 1987, No. 1.
5 Ibid., hal. 31.
Soekarno-Hatta sekaligus mempertahankan Negara Pasundan.6 Kudeta Westerling ini dengan cepat direspon oleh pihak Tentara Indonesia sekaligus menggagalkan rencana kudeta. Dengan gagalnya rencana kudeta Westerling, maka berakhir pula aksi kekerasannya di Indonesia.
Westerling lahir di Istanbul, Turki, pada 31 Agustus 1919 dari pasangan Paul Westerling dan Sophia Moutzhou. Ia mempunyai kebiasaan yang terbilang „aneh‟
pada anak se-usianya (lima tahun). Jika anak-anak pada usia lima tahun suka menonton televisi dan bermain boneka, ia lebih memilih memelihara ular, tikus dan beberapa kadal di kamarnya. Menginjak usia enam tahun Westerling sangat tertarik pada cerita detektif, terutama yang paling berdarah-darah. Usia tujuh tahun Westerling sudah mampu menembak, kemudian seiring bertambah usianya membuatnya terobsesi untuk bergabung dengan militer.7
Meletusnya Perang Dunia Kedua menjadi sebuah kesempatan untuk mewujudkan cita-citanya menjadi militer. Pada tahun 1942, di Skotlandia, Westerling mendapatkan pelatihan komando. Tugas utama komando ini adalah melakukan penyusupan ke pertahanan lawan sebelum pasukan dalam jumlah yang lebih besar tiba. Hal ini juga dipraktikkan Westerling di Kota Medan. Saat Perang Dunia Kedua
6 Het Vrij Vlok: Demoratisch-Sosialitisch Dagblad, 27 November 1987, No. 3.
7 Bonnie Triyana, 2019, “Drama Sebabak Lelaki Stambul” dalam (Ed. Hendri F. Isnaeni) Westerling: Aksi Brutal Sang Jagal, Jakarta: Buku Kompas, hal. 4-6.
berakhir Westerling diberangkatkan ke Kolombo (Srilangka), sebagai persiapan pendaratan di Kota Medan.8
Westerling mendarat di Kota Medan 14 September 19459 bersama tim penerjun payung10 sebagai kontra spionase dengan tugas menjaga keamanan dan ketertiban serta mengamankan pasukan sekutu yang akan datang menyusul. Pasukan sekutu tiba di Kota Medan pada bulan Oktober 194511, saat mana Proklamasi Kemerdekaan di Kota Medan baru terlaksana.12 Pasukan sekutu ini dipimpin oleh Brigadir T.E.D Kelly yang mendarat di Pelabuhan Belawan.13 Aksi-aksi kekerasan selama bulan-bulan pertama pasca-Proklamasi semakin mencekam dan berada di luar kontrol pemerintah. Kota Medan, saat itu seakan-akan menjadi sebuah kota tanpa pimpinan.14 Derasnya arus revolusi melahirkan sentimen asing. Toko-toko Tionghoa di Kota Medan banyak dijarah. Tidak hanya orang-orang Tionghoa saja yang menjadi sasaran, semua yang dianggap pro-Belanda menjadi sasaran amarah rakyat.15
Kendati tugas Westerling selama kurun tahun 1945-1946 sebagai kontra spionase untuk menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi, tugas yang diembannya
8 Matanasi, loc.cit.,
9 Anthony Reid, 2012, Sumatera: Revolusi dan Elite Tradisional, Jakarta: Komunitas Bambu, hal. 213.
10 Raymond Westerling, 2011, Challenge to Terror, London: Readbooks, hal. 36.
11 M.C. Ricklefs, 2017, Sejarah Indonesia Modern, Yogyakarta: UGM Press, hal. 324.
George Mc Turnan Kahin, 2013, Nasionalisme dan Revolusi Indonesia, loc.cit.,
12 Suprayitno, 2001, Mencoba (Lagi) Menjadi Indonesia, Yogyakarta: YUI, hal. 53.
13 Ibid., hal. 56.
14 Mestika Zed, 2010, “Kasus Sumatera Timur”, dalam (Ed. Taufik Abdullah) Indonesia Dalam Arus Sejarah: Perang dan Revolusi, Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, hal. 281.
15 Anthony Reid, op.cit., hal. 215.
berujung pada teror aksi kekerasan di Kota Medan. Ia pernah memenggal kepala
seorang
pemuda Indonesia yang dianggap ikut membuat kekacauan di Kota Medan, dan meletakkan kepala yang sudah dipenggal tersebut di trotoar Masjid Sultan Deli.16 Aksi lain kekerasan Westerling adalah memotong leher seorang gerilyawan yang bernama Tarigan. Pihak Inggris yang sudah kewalahan dibuat Tarigan memaksa Westerling harus turun tangan dan menangkapnya, lalu membunuhnya.17
Westerling yang terkenal kejam pada Oktober 1945 sudah mempunyai pasukan berkekuatan hampir 200 orang dengan persenjataan yang lumayan dan cukup terlatih.18 Pasukan ini mulai menyerbu kamp konsentrasi Jepang Siringo-ringo di Deli untuk membebaskan para tawanan yang pro-Belanda. Selain itu, Westerling juga mengkoordinasikan orang-orang Tionghoa untuk membentuk pasukan teror Poh An Tui (PAT).19
Pasukan Westerling mulai membuat kekacauan di Kota Medan setelah seorang pedagang bernama Abdul Wahid lewat di depan Pension Wilhelmina yang merupakan markas KNIL pasukan Westerling. Pasukan Westerling menyuruh Wahid agar menelan lencana merah putih yang tersemat di dadanya. Wahin menolak menelannya, hingga akhirnya disiksa. Wahid dapat meloloskan diri dan meminta bantuan kepada para pemuda. Kekacauan pun terjadi yang menewaskan enam orang
16 Maarten Hidskes, op.cit., hal. 71.
17 M.F. Mukhti, op.cit., hal. 25.
18 Anthony Reid, loc.cit.,
19 Tim Tempo, 2020, Westerling: Ratu Adil dan Tragedi Pembantaian. Jakarta: Tempo Publishing, hal. 20-21
Aceh dan dua orang berkebangsaan Swiss. Di pihak Westerling sendiri tujuh serdadu KNIL tewas.20 Peristiwa ini dikenal dengan “Peristiwa Jalan Bali”. Setelah semua tugas Westerling selesai di Kota Medan, pada 26 Juli 1946 Westerling meninggalkan Kota Medan, aksi kekerasan-nya ini kemudian juga berdampak pada pihak Republik dan Belanda.21 Beberapa peristiwa besar yang terjadi di Kota Medan tersebut seringkali dituliskan secara berdiri sendiri tanpa ada faktor keterkaitan dengan Westerling. Faktanya sejumlah peristiwa tersebut turut diinisiasi ole Westerling sendiri, yang ikut memperkeruh suasana Kota Medan pada awal kemerdekaan.
Dari uraian di atas, penelitian diberi judul “AKSI KEKERASAN WESTERLING DI KOTA MEDAN (1945-1946).” Dalam perkembangan penulisan sejarah banyak sekali-kalau tidak sebagian besar-karya sejarah yang dapat digolongkan sebagai sejarah naratif, terutama yang dihasilkan oleh penulisan bukan ahli sejarah. Jenis sejarah ini ditulis tanpa memakai teori dan metodologi.
Dalam melakukan analisis pengkaji memerlukan alat-alat yang dibutuhkan untuk memudahkan analisis itu. Lagi pula, alat-alat analisis itu harus memenuhi syarat-syarat sehingga dapat berfungsi secara operasional; jadi, relevan dan cocok dengan objek yang dianalisis itu.
Langkah yang sangat penting dalam melakukan analisis sejarah ialah menyediakan suatu kerangka pemikiran atau kerangka referensi yang mencakup
20 M.F. Mukhti, op.cit., hal. 22-23.
pelbagai konsep dan teori yang akan dipakai dalam membuat analisis itu. Oleh sebab itu, penulis menggunakan beberapa konsep kekerasan yang relevan pada topik penulisan skripsi ini.22
Berikut beberapa konsep kekerasan menurut para ahli yang digunakan oleh penulis, yakni sebagai berikut:
Robert Paul Wolf mendefenisikan kekerasan dibedakan dari konsep-konsep lain yang bertetangga dengannya, yaitu: kekuasaan (power), kekuatan (force), dan wewenang (authority). Kekuasaan adalah “kemampuan untuk membuat dan melaksanakan keputusan-keputusan mengenai persoalan-persoalan yang penting bagi masyarakat”, sementara wewenang adalah “hak untuk memerintah dan, berhubungan dengan itu juga, hak untuk dipatuhi”, maka wewenang dapat dimengerti juga sebagai hak untuk melaksanakan kekuasaan.23 Secara sederhana teori kekerasan Robert Paul Wolf dapat dipahami jika kekuasaan, kekuataan dan wewenang digunakan untuk melakukan sesuatu terhadap individu atau masyarakat, sekalipun dampaknya berupa kekerasan, itu tidak bisa dikatakan sebagai kekerasan.
Galtung dalam analisisnya berjudul “Cultural Violence” mengelompokkan kekerasan ke dalam dua jenis, yaitu: kekerasan langsung (direct violence) dan kekerasan sturuktural (structural violence). Disebut kekerasan langsung karena terjadi
22 Sartono, Kartodirdjo, 2019. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah, Yogyakarta: Ombak, hal. 2-3.
23 F. Budi Hardiman, 2018, Demokrasi dan Sentimentalitas: Dari Bangsa Setan-setan, Radikalisme, Agama, sampai Post-Sekularisme. Yogyakarta: Kanisius, hal. 127-128.
langsung dari pelaku ke korbannya, sementara kekerasan sturuktural terjadi dengan mediasi organisasi, sistem atau struktur sosial yang berciri impersonal (terlembaga).24
Teori kekerasan terakhir yang digunakan oleh penulis dikemukakan Prancis George Sorel, menurutnya kekerasan adalah strategi perjuangan hegemonial dari pihak yang mengalami defisit aset-aset kekuasaan.25
Dari ketiga konsep kekerasan menurut para ahli tersebut dapat ditarik benang merah bahwa konsep kekerasan adalah upaya untuk menundukkan individu atau kelompok agar supaya patuh terhadap aturan-aturan kekuasaan yang telah ditetapkan.
Westerling merupakan seorang militer yang terkenal kejam, ia adalah keturunan Yunani dan Belanda sesuai yang telah dideskripsikan sebelumnya.
Kedatangnnya ke Indonesia dengan tugas kontra spionase, sabotase, menjaga keamanan dan ketertiban. Di Medan, ia memburu para pemuda rakyat yang dianggapnya sebagai kaum-kaum ekstremis yang meresahkan masyarakat setempat.
Sebagai militer yang mendapat pelatihan komando, pembunuhan-pembunuhan yang ia lakukan terkesan tidak diketahui banyak orang (pembunuhan senyap) seperti yang dilakukannya kepada Tarigan.
Setelah kekalahan Jepang pada Perang Dunia Kedua khususnya di Kota Medan mengalami ketidakstabilan. Kondisi Kota Medan awal kemerdekaan tidak terkendali, terjadi penjarahan kepada orang-orang Tionghoa yang dianggap pro-
Ibid.,
Belanda. Atas dasar semacam inilah, Westerling bertindak “bak pahlawan” untuk menjaga keamanan dan ketertiban lewat jalan kekerasan. Sebenarnya, pada awal kemerdekaan ketidakstabilan rentan terjadi, seperti di Pematang Siantar, Tebing Tinggi, dan lain-lain.
Selama kurun tahun 1945-1946 Westerling berada di Kota Medan, itulah sebabnya batasan penelitian ini berada pada kurun tahun tersebut. Tetapi, walaupun ia di Kota Medan kurang dari dua tahun, namun ia berhasil memecah belah rakyat, mengintimidasi, dan memperkeruh suasana.
Penulisan skripsi ini dimulai deskripsi Kota Medan sebelum aksi kekerasan Westerling, yang memuat: masa pendudukan Jepang, peralihan kekuasaan Jepang kepada Republik Indonesia, dan Kota Medan awal kemerdekaan. Selanjutnya penjelasan latar belakang aksi kekerasan Westerling di Kota Medan, terdiri dari : obsesi menjadi seorang militer, dari Kolombo ke Kota Medan, Westerling tiba di Kota Medan, dan pembebasan tawanan perang. Kemudian, deskripsi jalannya aksi kekerasan Westerling di Kota Medan, yaitu: mencari Tarigan, peristiwa Jalan Bali, kepala di trotoar Masjid Sultan Deli, dan pembentukan pasukan teror Pao An Tui.
Selanjutnya penjelasan dampak aksi kekerasan Westerling di Kota Medan, yakni:
Westerling meninggalkan Kota Medan dan dampak aksi kekerasan Westerling bagi Republik dan Belanda. Terakhir ditutup kesimpulan dan saran.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah merupakan bagian kunci dalam penelitian. Masalah tersebut dapat diidentifikasikan dalam wujud rumusan masalah yang disusun secara terstruktur sesuai dengan topik penulisan. Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini ada empat, sebagaimana dinyatakan dalam pertanyaan sebagai berikut :
1. Bagaimana kondisi Kota Medan sebelum aksi kekerasan Westerling (1945- 1946)?
2. Apa latar belakang aksi kekerasan Westerling di Kota Medan (1945-1946)?
3. Bagaimana aksi-aksi kekerasan Westerling di Kota Medan (1945-1946)?
4. Apa dampak aksi kekerasan Westerling di Kota Medan (1945-1946)?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan penulisan ini adalah sebagai berikut :
1. Mendeskripsikan kondisi Kota Medan sebelum aksi kekerasan Westerling (1945-1946).
2. Menjelaskan latar belakang aksi kekerasan Westerling di Kota Medan (1945- 1946).
3. Mendeskripsikan aksi-aksi kekerasan Westerling di Kota Medan (1945-1946).
4. Menjelaskan dampak aksi kekerasan Westerling di Kota Medan (1945-1946).
Adapun manfaat penulisan ini adalah :
1. Dalam bidang Ilmu Sejarah, penelitian ini kiranya dapat menambah referensi tentang kiprah Westerling yang banyak melakukan aksi kekerasan di Indonesia pada periode Perang Kemerdekaan, termasuk di Kota Medan.
2. Penelitian ini juga diharapkan dapat melengkapi mozaik sejarah Sumatera Utara, khusunya di Kota Medan, pada awal Perang Kemerdekaan di Sumatera Utara terutama di tahun 1945 dan 1946.
3. Manfaat praktis dari penelitian ini adalah sebagai refleksi untuk masyarakat agar dapat dijadikan sebagai pelajaran dan dapat diimplementasikan pada kehidupan sehari-hari, bahwa kekerasan masih sering terjadi di Kota Medan, penulis menyadari kata “kekerasan” penelitian ini sendiri mempunyai konteks zaman yang berbeda. Akan tetapi, bukan berarti kekerasan itu tidak dapat dihentikan dan bersifat absolut, kecuali dengan mempelajari sejarah supaya lebih arif dan bijaksana untuk menyongsong masa-masa yang akan datang.
1.4 Tinjauan Pustaka
Penulisan skripsi ini melakukan studi pustaka menggunakan berbagai buku sebagai sumber informasi seputar aksi kekerasan Westerling di Kota Medan. buku- buku ini telah dikumpulkan oleh penulis, setelah diamati mempunyai keterkaitan satu sama lain, Raymond Westerling dalam “Challenge to Terror” (2011) buku ini merupakan memoar Westerling, digunakan untuk mendeskripsikan tentang pengalaman hidupnya dari kecil hingga dewasa. Dalam deskripsinya, terlihat bahwa
obsesi menjadi seorang militer itu telah ada sejak ia kecil dan ia mempunyai kepribadian yang berbeda dengan anak-anak seusianya.
T. Luckman Sinar dalam “Sejarah Medan Tempo Doeloe”(2011) buku ini berisi informasi secara singkat masa pendudukan Jepang di Kota Medan dan bentuk- bentuk administrasi yang dibentuknya. Buku ini digunakan untuk mendeskripsikan Kota Medan pada masa pendudukan Jepang dan sebagai deskripsi awal sebelum Westerling mendarat di Kota Medan.
Biro Sejarah Prima dalam “Medan Area Mengisi Proklamasi” 1976, buku ini memaparkan perjuangan rakyat dalam mengawal kemerdekaan di Sumatera Utara umumnya dan Kota Medan khususnya, serta membahas seputar aktivitas Westerling sebelum dan sesudah diterjunkan di Kota Medan. Buku ini digunakan untuk menjelaskan aktivitas Brondgeest di Kolombo dan dalam perkembangannya melakukan kerjasama dengan Westerling dalam menebarkan terror kekerasan di Kota Medan.
Dominique Venner dalam “Westerling De Eenling” (1987), buku ini merupakan biografi Westerling yang terkesan komprehensif. Kajian ini digunakan untuk menjelaskan aksi kekerasannya di Kota Medan berupa sabotase dengan mengadu domba para laskar. Ia juga mempunyai mata-mata di pihak Republik untuk memberikan sejumlah informasi yang akan menjadi sasaran aksi kekerasannya, seperti yang ia lakukan kepada Tarigan. Analisisnya menunjukkan bahwa Westerling terlibat pada peristiwa revolusi sosial 1946.
George McTurnan Kahin dalam “Nasionalisme dan Revolusi Indonesia”
(2013), buku digunakan untuk menjelaskan peralihan kekuasaan dari Jepang kepada Republik dan benih-benih nasionalisme para pemuda yang ditumpahkakan masa revolusi. Sebagai buku babon, buku ini dipakai untuk mendeskripsikan secara umum masa revolusi di Indonesia sebelum masuk pada ranah Kota Medan.
Petrik Matanasi dalam “Westerling: Kudeta yang Gagal” (2007), buku ini sebenarnya berfokus rencana kudeta Westerling untuk menggulingkan pemerintahan Soekarno-Hatta. Tetapi, buku ini penting digunakan untuk mendeskripsikan karir Westerling militer pada Perang Dunia Kedua sampai berakhirnya perang. Demikian halnya kedatangan Westerling di Kota Medan dan melatih bekas tawanan perang yang nantinya memperkuat tentara Belanda sebelum NICA mendarat di Indonesia.
Tim Historia dalam “Westerling: Aksi Brutal Sang Jagal” (2019), merupakan kumpulan tulisan tentang kiprah Westerling yang banyak melakukan pembunuhan di Indonesia, seperti di Sulawesi Selatan, Medan, dan Jawa Barat. Buku menjadi penting untuk memberikan deskripsi awal aksi kekerasan Westerling terhadap seorang gerilyawan Indonesia yang bernama Tarigan. Selain itu, buku ini juga memberi deskripsi cikal-bakal pembentukan Pao An Tui.
Muhammad TWH dalam “Sumatera Utara Bergelora (Kisah-kisah Nyata Perang Kemerdekaan RI)” (1999) dan “Belanda Gagal Rebut P. Berandan” (1997).
Berisi perjuangan rakyat Sumatera Utara dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang berupa aksi-aksi heroik, seperti Peristiwa Jalan Bali. Buku digunakan
untuk memberikan analisis keterlibatan Westerling pada Peristiwa Jalan Bali yang masih jarang diketahui.
Anthony Reid dalam “Sumatera: Revolusi dan Elite Tradisional” (2012), buku ini analisisnya berfokus pada peristiwa revolusi sosial 1946 yang terjadi di Sumatera Timur. Buku ini digunakan karena juga menjelaskan tugas-tugas Westerling di Kota Medan, seperti mengamankan pelabuhan untuk pendaratan sekutu, patroli-patroli rutin di Kota Medan, dan mengamankan instalasi-instalasi penting seperti listrik dan persediaan air bersih, serta melakukan kontra spionae terhadap laskar-laskar.
Kemudian, Maarten Hidkses dalam “Di Belanda Tak Seorang Pun Mempercayai Saya: Korban Metode Westerling di Sulawesi Selatan 1946-1947”
(2018) buku ini sebenarnya sebagian besar berisi pembunuhan Westerling di Sulawesi Selatan dan semacam pembelaan kepadanya. Bahwa pembunuhan di Sulawesi Selatan tidak sepenuhnya dibebankan di pundak Westerling. Selain itu, buku ini juga menyinggung sedikit pembunuhannya di Kota Medan. Buku digunakan untuk mendeskripsikan salah satu aksi kekerasan Westerling pada peristiwa pemenggalan kepala seorang pemuda Indonesia dan meletakkannya di trotoar Masjid Sultan Deli sekaligus proses Westerling meninggalkan Kota Medan.
Veer, A.L. van der. dalam “The Pao An Tui in Medan” (2013) dan
“Komunitas Cina di Medan dalam Lintasan Tiga Kekuasaan 1930-1960” (2018) oleh Nasrul Hamdani. Kedua buku tersebut menjelaskan pasang surut masyarakat Tionghoa di Kota Medan dari zaman kolonial hingga kemerdekaan. Buku ini
digunakan untuk menjelaskan proses terbentuknya Pao An Tui (Tentara Cina) awal kemerdekaan Indonesia yang dikoordinasikan oleh Westerling.
1.5 Metode Penelitian
Kuntowijoyo dalam “Pengantar Ilmu Sejarah” menjelaskan ada lima tahap penelitian sejarah, yaitu: pemilihan topik, heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi.26
Pemilihan topik merupakan langkah awal untuk menulis sejarah, dengan menentukan topik berarti kita sudah mengetahui peristiwa sejarah seperti apa yang ingin dikaji.
Heuristik merupakan langkah kedua yang dilakukan penulis berupa penelusuran sumber-sumber yang berhubungan dengan aksi kekerasan Westerling di Kota Medan (1945-1946). Penulis melakukan studi pustaka dengan mengunjungi beberapa perpustakaan di Kota Medan, yaitu: perpustakaan Universitas Sumatera Utara di sana penulis mendapatkan buku-buku antara lain: “Sumatera Utara” (1957),
“Sejarah Perkembangan Daerah Propinsi Tingkat 1 Sumatera Utara” (1993), dan
“Republik Indonesia Propinsi Sumatera Utara” (tanpa tahun). Di perpustakaan Tengku Luckman Sinar penulis mendapatkan buku-buku yang telah dijadikan sebagai referensi, yaitu: “Belanda Gagal Rebut P. Berandan” (1997), “Sumatera Utara Bergelora: Kisah-kisah Nyata Perang Kemerdekaan RI” (1999), “Perjuangan Rakyat: Revolusi dan Hancurnya Kerajaan di Sumatra” (1987), “Medan Area Mengisi Proklamasi” (1976), “Sejarah Medan Tempo Doeloe” (2011), dan “Tan
26 Kuntowijoyo, 2013, Pengantar Ilmu Sejarah, Yogyakarta: Tiara Wacana, hal. 69.
Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia Jilid 1” (2018). Di perpustakaan Kota Medan penulis mendapatkan buku-buku juga sebagai bahan informasi penulisan skripsi ini, yakni: “Jihad Akbar di Medan Area” (1990), “Gyugun: Cikal Bakal Tentara Nasional Indonesia (2005), “Revolusi, Diplomasi, Diaspora Indonesia Tiongkok dan Etnik Tionghoa” (2019), “Runtuhnya Hindia Belanda” (1987), dan
“Kisah-kisah Zaman Revolusi Kemerdekaan” (2015). Di perpustakaan dan arsip daerah Sumatera Utara buku-buku yang didapatkan penulis, yaitu: “Invasi ke Sumatra” (2019), “Tragedi Westerling” (2014), dan “Revolusi di Nusa Damai”
(1965). Terakhir beberapa koleksi buku pribadi penulis, yaitu: “Westerling De Eenling” (1987), “Challenge to Terror” (2011), “Westerling: Ratu Adil dan Tragedi Pembantaian” (2020), “Westerling: Aksi Brutal Sang Jagal” (2019), “Sejarah Indonesia Modern” (2017), “Nasionalisme dan Revolusi Indonesia” (2013),
“Westerling Kudeta yang Gagal” (2007), “Sang Komandan” (2011), “Di Belanda Tak Seorang Pun Mempercayai Saya: Korban Metode Westerling di Sulawesi Selatan 1946-1947” (2018), “Kekerasan Ekstrem Belanda di Indonesia: Perang Kemerdekaan Indonesia 1945-1949” (2019), “Sumatera: Revolusi dan Elite Tradisional” (2012) dan lain-lain. Buku-buku tersebut sudah lama dikumpulkan oleh penulis, terhitung dari bulan Januari 2020 sampai Oktober 2020.
Penulis juga mengakses situs arsip online seperti Delpher.nl untuk mengakses koran-koran berupa: “De Groot, Kolf & Co” (1950), “Deli Courant” (1952), De Maasbode” (1955), “De Telegraaf” (1956), “De Tijd” (1969), “Leewarder
Courant” (1987) “Nederlansche Dagbladpers” (1947), Nieuwsblad van het Noorden, (1984 dan 1987), “Nieuwe Courant” (1948), “NRC Handelsblad” (1979 1982, dan 1987), “NV De Volksrant” (1950), “Het Vrij Vlok: Demoratisch-Sosialitisch Dagblad” (1987), dan “Trouw” (1987). Koran-koran tersebut baru memberikan banyak informasi setelah Westerling kembali ke Belanda. Gahetna.nl untuk mengakses foto Westerling dan Bandara Polonia yang mana pertama kali ia menginjakkan kaki di Kota Medan. Leiden University KITLV untuk mengakses peta Kota Medan. Sebenarnya penulis juga ingin mengunjungi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dan Perpustakaan nasional (Perpusnas) untuk mendapatkan sumber-sumber terkait aksi kekerasan Westerling di Kota Medan (1945-1946), agar supaya penulisan skripsi ini lebih baik. Tetapi, pada saat skripsi ini ditulis dunia masih mengalami pandemi (virus corona) termasuk Indonesia, sehingga untuk mengakses data secara langsung ke ANRI dan Perpusnas belum dapat dilakukan penulis. Karena kendala tersebut, maka penulis baru bisa melakukan studi pustaka di Kota Medan, mengakses situs online, dan menggunakan koleksi buku-buku pribadi penulis.
Tahap ketiga yang telah dilakukan penulis adalah kritik sumber, yaitu kritik eksternal dan kritik internal. Kritik eskternal adalah menyelidiki keautentikan dari luar sumber dengan memahami jenis kertas, bahan kertas, format dan sebagainya.
Selanjutnya kritik internal dengan melihat dan menyelidiki isi sumber yang akan
digunakan. Tujuannya untuk mengetahui keabsahan sumber dengan memahami isi, bahasa yang digunakan, situasi di saat penulisan, style, ide dan sebagainya.27
Tahap keempat yang dilakukan penulis adalah interpretasi, di mana penulis telah melakukan analisis yang tentunya nilai-nilai subjektifitas dikurangi dengan cara diseleksi, disusun, diberi atau dikurangi tekanan, dan ditempatkan di dalam suatu macam urutan-urutan kausal.28 Data yang dituliskan sesuai dengan objek yang diteliti setelah dilakukan interpretasi analisis dan sintesis.
Tahap terakhir yaitu historiografi, aspek kronologis sangat penting dalam penulisan sejarah. Penulis ini dalam bentuk deskriptif-analisis sehingga akan ditemukan gambaran yang jelas mengenai aksi kekerasan Westerling di Kota Medan (1945-1946).
27 Nasir, 1985, Metode Peneltian, Jakarta: Ghalia Indonesia, hal. 59-61.
28 Louis Gottschalk, 2015, Mengerti Sejarah, Jakarta: UI Press, hal. 169.
BAB II
KOTA MEDAN SEBELUM AKSI KEKERASAN WESTERLING (1945-1946)
Salah satu ciri khas penulisan sejarah tidak langsung membahas inti permasalahan, terlebih dahulu ditarik ke belakang sesuai kurun waktu yang diinginkan oleh penulis. Hal ini dipraktikkan untuk mendapatkan hubungan kausal sebab-akibat terhadap peristiwa yang dikaji. Penulis sendiri mengambil dari periode pendudukan Jepang. Hal ini didasarkan pada dua faktor, yaitu: pertama, periode sejarah Indonesia yang paling dekat sebelum kemerdekaan adalah masa Jepang dan kedua, situasi masa pendudukan Jepang terus berkelindan pada awal kemerdekaan Indonesia, setidaknya di Kota Medan29 yang menjadi ruang penelitian ini. Pada bab dua ini berisi deskripsi Masa Pendudukan Jepang, Peralihan Kekuasaan Jepang Kepada Republik Indonesia, dan Situasi Kota Medan Awal Kemerdekaan.
Pada bab ini, penulis mendeskripsikan masa pendudukan Jepang, disebabkan masa itu terjadi perubahan drastis di masa pendudukannya. Sehingga pada awal kemerdekaan Indonesia, masa pendudukan Jepang tersebut menjadi modal awal untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.
29 Kota Medan yang dimaksud di sini adalah Medan yang dipadukan dengan wilayah kesultanan di masa kolonial Belanda. Pada konteks kemerdekaan, tidak ada lagi wilayah kesultanan secara khusus, semua diintegrasikan kepada wilayah Republik yang disebut “Kota Medan.”
Peta 1.
Kota Medan 1945
Sumber: Maps D C 54, 9 KITLV, Leiden University Libraries Digital Collections
(diakses dari: http://hdl.handle.net/1887.1/item:816358 pada 20 Desember 2020).
2.1 Masa Pendudukan Jepang
Perang Dunia Kedua diawali setelah Jerman menyerang Polandia pada tahun 1939 yang berakibat pada kekuasaan Belanda atas koloni-nya Hindia Belanda. Jika
pada Perang Dunia Pertama Belanda masih bisa bertindak netral tanpa memihak pada salah satu blok perang. Namun, pada Perang Dunia Kedua ini (1939-1945) Belanda harus memutuskan pilihan, Belanda kemudian bersekutu dengan blok Inggris, Amerika Serikat dan Uni Soviet. Dalam hal itu, Belanda harus menghadapi keganasan blok poros Jerman, Itali, dan Jepang.30
Hal itu kemudian terjadi, pada tanggal 10 Mei Hitler (Jerman) menyerbu negeri Belanda dan pemerintah Belanda lari ke pengasingan di London.31 Pada hari yang sama di Hindia Belanda diberlakukan undang-undang darurat perang dan segala rapat-rapat politik umum dilarang.32 Ketakutan akan keganasan blok poros semakin menjadi-jadi.
Bagi Jepang sendiri tidak perlu waktu lama untuk melakukan invasi, setelah menyerang Amerika Serikat dalam perang Pearl Harbour pada 7 Desember 1941.
Jepang kemudian melebarkan sayapnya untuk menginvasi Hindia Belanda. Tepatnya pada 14 Februari 1942, Jepang menyerang Hindia Belanda dan segera menguasai Sumatera Selatan. Pada 1 Maret 1942 dini hari, mereka mendarat di Jawa dan dalam waktu delapan hari, Letnan Jenderal Hein Ter Poorten, Komandan Tentara Kerajaan
30 Onghokham, 1987, Runtuhnya Hindia Belanda, Gramedia Pustaka Utama: Jakarta, hal. 89.
31 Ibid., hal. 92.
32 Ricklefs, op.cit., hal. 291-292.
Hindia Belanda (KNIL), menyerah atas nama seluruh angkatan perang Sekutu di Jawa.33
Di Sumatera Timur pada awal tahun 1942 pemerintah Hindia Belanda sibuk mengadakan persiapan untuk membumihanguskan lapangan minyak pangkalan Berandan/Pangkalan Susu, gedung-gedung penting, jembatan, kereta api dan instalasi-intalasi penting lainnya.
Gambar 1.
Pasukan Jepang mendarat di Tanjung Tiram
Sumber: Diolah dari buku Nino Oktorino: Invasi ke Sumatera (2019).
33 Kahin, op.cit., hal 145. Sumatera Selatan (Palembang) tepatnya di daerah Plaju merupakan penghasil minyak, tidak mengherankan pada masa invasi Jepang ke Hindia Belanda sebagian besarnya berfokus di daerah-daerah penghasil minyak.
Pada tanggal 12 Maret kesatuan-kesatuan tentara Jepang telah mendarat di Tanjung Tiram, kemudian dengan naik sepeda yang dirampas dari penduduk, sebagian dari mereka menuju Medan yang dimasuki pada tanggal 13 Maret 1942.
Konvoi pasukan-pasukan Belanda dan Stadswacht telah berangkat menuju Tanah Karo dan terus ke benteng pertahanan Belanda yang terakhir di Kotacane/Blang Kejeren yang berpusat di Gunung Setan.34
Kekalahan Belanda kepada Jepang bukanlah tanpa perlawanan, di Jawa tentara Belanda melakukan perlawanan. Tetapi, perlawanan itu tidak sanggup untuk menahan laju kekuatan tentara Jepang yang lebih unggul, baik dari segi jumlah maupun persenjataan. Spoor yang merupakan panglima militer Belanda pada waktu itu berpendapat bahwa kebanyakan perwira senior berperan di bawah standar. Secara fisik maupun mental mereka tidak mampu menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi perang.35 Di pihak Indonesia sendiri kebencian terhadap Belanda semakin menggunung, sehingga bersatu-padu untuk mengamini kekalahan Belanda. Di samping itu, kekurangan akan inistiatif dan daya tindak, perintah yang bertentangan, dan perpecahan dalam struktur komando memblokir penanganan yang energik dan ofensif memuluskan kekalahan Belanda pada pihak Jepang.36
34 T. Luckman Sinar, 2011, Sejarah Medan Tempo Doeloe. Medan: Sinar Budaya, hal. 118.
Lihat juga Nino Oktorino, 2019, Invasi ke Sumatera, Kompas Gramedia: Jakarta, hal. 102.
35 J.A., Moor, de, 2015, Jenderal Spoor: Kejayaan dan Tragedi Panglima Tentara Belanda Terakhir di Indonesia, Jakarta: Buku Kompas, hal. 133.
36 Ibid., hal. 136.
Umumnya setelah Jepang berhasil menancapkan kekuasaanya di Indonesia, Jepang kemudian membagi Indonesia menjadi tiga wilayah administrasi, Sumatera ditempatkan di bawah Angkatan Darat ke-25 yang berpusat di Bukit Tinggi, sedangkan Jawa dan Madura berada di bawah Angkatan Darat Wilayah ke-16; kedua wilayah ini berada di bawah Angkatan Darat ke-7 dengan markas besarnya di Singapura.37 Jadi, Sumatera Timur yang di dalamnya termasuk Kota Medan berada pada pemerintahan Angkatan Darat ke-25.
Pendudukan Jepang disebut juga sebagai “pemerintahan militer” karena hampir semua aktivitas birokrasi dipegang oleh militer dan berorientasi untuk memenangkan perang yang sedang berlangsung. Pusat pemerintahan militer berada di Singapura, di bawah pimpinan Letnan Jenderal Tomoyuki Yamashita yang kemudian dikenal dengan Tomi Group (Tomi Syudan). Struktur pemerintahan untuk kawasan Sumatera dan Malaya adalah: Panglima Tentara, Kepala Staf, Pemerintahan Militer (Guseikanbu) yang terdiri dari beberapa departemen, yaitu Departemen Perusahaan dan Industri, Polisi, Kehakiman, Penerangan, Pemindahan dan Pengiriman, Meteorologi, Dalam Negeri, Pekerjaan Umum, dan Keuangan. Dalam struktur pemerintahan militer (Guisekanbu) pembagian struktur pemerintahan Hindia Belanda masih tetap dipertahankan.
Di Kota Medan sendiri sebagai penguasa diangkatlah Walikota dengan nama Sico. Adminsitrasi pemerintahan di Sumatera Timur dibagi dalam empat bagian: 1.
37 Ricklefs, op.cit., hal. 297.
Bagian Pemerintahan umum (Somubu), 2. Kepolisian (Keimubu), 3. Bagian Ekonomi (Sangyobu), 4. Bagian Penerangan.38 Empat bagian yang telah disebutkan tidak bisa dijelaskan satu persatu karena memang bukan pembahasan inti dalam penulisan ini dan karena keterbatasan sumber. Tetapi, pada bagian Kepolisian akan dideskripsikan secara singkat dan juga akan mendeskripsikan bagian peradilan sebagai tambahan mengenai pembahasan ini.
Polisi berada di bawah Residen Sumatera Timur (Shuchokan) dan dipimpin oleh Keimu Buncho dengan seksi-seksinya seperti Tokoka (Jawatan Intelijen Politik) dan Hoanka (Jawatan Keamanan). Pangkat Kepala Polisi Distrik di Medan (Keihatsu Shocho) setingkat dengan Bunshu Cho (Bupati). Otonom dari pasukan polisi biasa ada lagi Tokobetsu Keisatsu Tai, yaitu pasukan semi-militer yang khusus, kira-kira seperti Brigade Mobil kita sekarang, yang langsung dipegang Suchokan. Kemudian barulah datang Kenpetai (Polisi Rahasia) yang ditakuti dan amat berkuasa itu dikepalai oleh Mayor Jenderal Hirano Toyoji yang juga merangkap Kepala Staf Tentara ke-25 di Bukit Tinggi. Di samping ini ada lagi lembaga yang disebut Tekikan (Jawatan Rahasia dan Ilntelijen Militer Tertinggi). Kepala Tekikan di Medan adalah Mayor Jenderal Ue, yang juga merangkap Ketua Pengadilan. Pembantu utamanya adalah Kapten Inouye, yang kemudian terkenal selaku pendiri TALAPETA di Serdang dan Mokutai (Barisan Harimau Liar).
38 Suprayitno, 1998, Diktat: Sejarah Pergerakan di Sumatera Timur, Medan: Jurusan Sejarah Fakultas Sastra USU (Belum diterbitkan), hal. 31-32.
Pembantu-pembantu di Mokutai ini adalah Yacob Siregar dan Saleh Umar. Di samping bertugas untuk mencari dan menginfiltrir jaringan kegiatan bawah tanah terhadap Jepang, Tekikan juga mempunyai tugas-tugas lain, yaitu:
1. Mempersiapkan daftar hitam semua kaum cerdik cendekiawan dan orang- orang terkemuka yang dianggap tidak mendukung Jepang.
2. Mengorganisir jaringan sabotase dan kelompok-kelompok gerilya seandainya tentara Sekutu mengusai wilayah ini.
3. Membakar perasaan anti barat, anti feodal dan anti kaum bangsawan.
Dalam hal Peradilan sampai tahun 1943 semua tanggung jawab soal-soal pidana di dalam wilayah Kotapraja Medan berada di tangan Polisi Distrik. Begitu juga peradilan berada di dalam satu tangan. Tetapi pada tahun 1944 peraturan baru diumumkan untuk mengorganisir kembali semua lembaga peradilan KU HOIN (Lanregerecht/Magistraatsrecht) mengenai perkara-perkara perdata yang besar gugatannya tak lebih dari F 1. 100 dan mengenai perkara pidana dimana dendanya tak lebih dari ancaman hukuman 3 bulan kurungan atau maksimum denda F 1. 100.39
Jepang juga membentuk organisasi-organisasi militer, seperti TALAPETA, Gyugun, dan BOEMPA. TALAPETA (Taman Latihan Pemuda Tani) dibentuk atas dasar untuk mempersiapkan diri dalam perang gerilya jika seandainya musuh mendarat. TALAPETA dinisiasi oleh Kapten Inouye sekaligus mendirikan sekolahnya di Sarangpua (Gunung Rintih-Serdang Hulu) sekolah ini dimulai dalam
39 T. Luckman Sinar, op.cit., hal. 120.
tahun 1943. TALAPETA diberi latihan militer dan bercocok tanam serta cara-cara sabotase dan melenyapkan kaki tangan musuh.
Gyugun dibentuk oleh Mayor Jenderal Inada Masazumi, Wakil Kepala Staf dari Bala Tentara Wilayah Selatan dalam bulan Juli 1943, yang dikirimkannya kepada Staf Umum dan Kementerian Angkatan Darat di Tokyo. Ide Gyugun terinspirasi dari Heiho yang diperoleh Inada Masazumi ketika menyaksikannya berdemonstarsi cara-cara perang yang baik di Jawa.40 Pusat-pusat pelatihan Gyugun berada di Kota Medan dan Sibolga.41 Medan dan Sibolga dipilih sebagai pusat pelatihan karena mempunyai tempat yang sesuai untuk melaksanakan pelatihan militer dan jika sewaktu-waktu Sekutu datang menyerang akan lebih mudah mengorganisir para anggota Gyugun.
Ada beberapa karakteristik umum yang sama pada saat setiap pusat pelatihan militer itu. Pertama, program pelatihan Gyugun sejak awal dirancang untuk membantu memperkuat pertahanan dan melindungi daerah-daerah pendudukan Jepang di Indonesia dari kemungkinan serangan balik Sekutu yang mulai melakukan manuvernya sejak awal 1943. Kedua, Gyugun Sumatera tidak memiliki sentral organisasi yang mengatur seluruh pusat pelatihan di pulau ini, berbeda dengan pusat pelatihan PETA di Jawa yang dipusatkan di Kota Bogor.42
40 Ibid., hal. 125.
41 Mestika Zed, 2005, Gyugun: Cikal-bakal Tentara Nasional di Sumatera, Jakarta: LP3S, hal. 32.
42 Ibid., hal. 35.
BOEMPA (Badan Oentoek Membantoe Pertahanan Asia) dibentuk pada tahun 1943 untuk mengantisipasi serangan balasan Sekutu. BOEMPA adalah sebuah badan untuk menyatukan semua kekuatan rakyat di seluruh Sumatera Timur dalam mendukung Pemerintahan Militer Jepang. Tujuan BOEMPA secara resmi menjamin, bahwa semua rakyat Indonesia di Sumatera Timur sebagai anggota bersama Asia Timur Raya. Mereka diwajibkan untuk mengorbankan jiwa dan hartanya demi mencapai kemenangan akhir dalam perang melawan Sekutu. Ketua BOEMPA yang pertama adalah Soengkoepoen kemudian digantikan oleh Mr. Mohammad Yusuf.
Wakil Yusuf adalah Xarim M.S. dan tokoh-tokoh lainnya adalah Mr. Loeat Siregar, Dr. Pirngadi, Adnan Nur Lubis.43 Tokoh-tokoh tersebut mempunyai peranan penting pada awal kemerdekaan di Sumatera Timur.
Sebenarnya pada masa pendudukan Jepang terkhusus di daerah kota tidak banyak mengalami perubahan, karena bagi Jepang sendiri, kota tidak begitu banyak memberikan peran yang berkesinambungan pada Perang Dunia Kedua. Yang menjadi basis ekploitasi Jepang adalah wilayah-wilayah pedesaan yang salah satunya mampu memberikan kebutuhan logistik perang.
Jika berkaca pada wilayah-wilayah pedesaan di Jawa, Jepang memberlakukan
“wajib serah.” Maksud dari wajib serah ini adalah para petani pedesaan di Jawa wajib memberikan hasil panen kepada pemerintahan Jepang, yang dalam hal ini ditangani
43 Suprayitno, Diktat: Sejarah Pergerakan di Sumatera Timur, Medan: Jurusan Sejarah Fakultas Sastra USU, op.cit., hal. 37-38.
oleh kucho (kepala desa) sesuai dengan kebijakan yang telah diputuskan oleh pemerintahan Jepang. Wajib serah ini sebenarnya sudah diterapkan pada Oktober 1940 di wilayah-wilayah jajahan Jepang. Kemudian praktik wajib serah ini diterapkan juga di Jawa pada April 1943.44
Demikian halnya Kota Medan, banyak penduduk setempat yang meninggalkan-nya untuk pergi ke daerah-daerah rural (pedesaan) untuk memenuhi kebutuhan hidup dan bergabung dengan organisasi yang telah dibentuk oleh Jepang.
Umumnya penduduk Kota Medan adalah orang-orang kelas pertama (Eropa), kemudian Timur Asing (China dan India) dan Kaum Bangsawan Melayu. Klaster penduduk Kota Medan ini sebenarnya diinisiasi perkebunan di Sumatera Timur yang dimulai abad ke-19. Masuknya Jepang, orang Eropa (Belanda) menjadi tawanan sedangkan Timur Asing dan Bangsawan Melayu mulai pudar kekuasaannya pada masa pemerintahan militer Jepang. Kota Medan hanya dijadikan sebagai pusat administrasi seperti yang telah dideskripsikan di atas sebelumnya.
Salah satu yang paling identik pada masa Pemerintahan Militer Jepang adalah krisis pangan. Untuk menanggulangi hal tersebut di Sumatera Timur Jepang membentuk Badan Pengurus Pertanian pada tahun 1944. Dalam di daerah perkebunan sekitar Kota Medan sebelah utara, barat, dan selatan Langkat diubah menjadi areal persawahan sebagai penghasil padi dan sayur-sayuran.
44 Aiko Kurasawa, 2015, Kuasa Jepang di Jawa: Perubahan Sosial di Pedesaan 1942-1945, Depok: Komunitas Bambu, hal. 81-82.
Kebijaksanaan Jepang ini tentu saja mendapat sambutan hangat buruh-buruh perkebunan, petani Karo, dan Batak Toba. Mereka segera berdatangan ke Sumatera Timur membuka tanah-tanah kosong dan hutan lebat dijadikan persawahan. Sebagian orang Jawa, Toba, dan Karo serta Cina menduduki tanah-tanah perkebunan itu, dan menganggap sebagai miliknya sendiri.45 Itulah sebabnya pada awal kemerdekaan Indonesia, di Sumatera Timur termasuk di Kota Medan masyarakat-nya semakin plural.
Pemerintahan Militer Jepang di Indonesia secara umum hanya berusia tiga setengah tahun, tetapi sangat banyak mengubah perilaku masyarakat Indonesia, dengan cara propaganda dan indoktrinasi lewat organisasi-organisasi yang telah dibentuk Jepang. Hal ini sangat berdampak pada masyarakat Indonesia pada masa awal kemerdekaan, semangat berani mati pun nantinya pada masa kemerdekaan akan nampak, khususnya di kalangan pemuda.
Jepang memang pada tahun 1945 memberikan janji kemerdekaan kepada Indonesia lewat Menteri Koiso. Tetapi, itu hanyalah janji belaka yang belum jelas kepastiannya. Hal yang pasti adalah wilayah Jepang di Filipina sudah diserang Amerika pada Oktober 1944 dan dikuasai pada Februari 1945. Kemudian, Inggris melancarkan serangan-nya ke Birma pada Maret 1945 dan dengan mudah dikuasai.46 Sejak saat itu, kekuatan Jepang di kontestasi Perang Dunia Kedua sudah tidaklah
45 Suprayitno, Mencoba (Lagi) Menjadi Indonesia, op.cit., hal. 46-47.
46 Benedict Anderson, 2018, Revolusi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946, Tangerang: Marjin Kiri, hal. 54-55.
berdaya. Jepang semakin hancur setelah Kota Hirosima dan Nagasaki di bom atom oleh Sekutu pada bulan Agustus 1945. Ketidakberdayaan Jepang ini kemudian dimanfaatkan dengan baik oleh pihak Indonesia, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya.
2.2 Peralihan Kekuasaan Jepang Kepada Republik Indonesia
Perang Dunia Kedua berakhir setelah blok poros (Jerman, Itali, dan Jepang) takluk di bawah blok Inggris, Amerika Serikat, dan Uni Soviet setelah beberapa tahun (1939-1945) perang terus berkecamuk. Dalam hal ini Indonesia dengan segera memanfaatkan kekalahan Jepang, walaupun pada tahun 1944 Jepang telah menjanjikan kemerdekaan bagi Indonesia. Bagian ini akan menjelaskan secara kronologis bagaimana peralihan kekuasaan Jepang kepada Republik Indonesia.
Sejak Oktober 1944, segera setelah Perdana Menteri Koiso mengumumkan bahwa Indonesia akan diberi kemerdekaan “dalam waktu dekat”, terlihat perkembangan berupa perubahan nyata dalam kebijakan Jepang. Hampir secara tiba- tiba, pengurus Angkatan Bersenjata Jepang di Jawa dan Madura mengurangi pengawasan mereka hingga separuhnya atas Jawa Hokokai, Sukarno, Hatta, dan para juru bicara kaum nasionalis lainnya diberi kesempatan yang lebih besar untuk menjalin hubungan dengan massa dan lebih bebas berbicara tentang kemerdekaan Indonesia tanpa takut-takut, bahkan tidak perlu menyelipkan nada pro-Jepang secara
berlebihan dalam pidato mereka.47 Memang hal semacam ini cukup mengejutkan, jika masa awal pendudukan Jepang di Indonesia pidato-pidato oleh tokoh-tokoh Indonesia, seperti Sukarno hampir sebagian besar menyelipkan keagungan „saudara tua‟ itu. Kebijakan Jepang dalam hal ini bukan tanpa berdasar, karena pada masa- masa tersebut Jepang sudah mulai banyak mengalami kekalahan, seperti serangan yang dilancarkan Amerika di Filipina.
Pada 1 Maret 1945, dibentuklah Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK). Jepang memilih Dr. Radjiman Wediodiningrat sebagai ketuanya. Sebagai wakil ketua ditunjuk Ichibangase (orang Jepang) dan Suroso (orang Indonesia). Sementara itu, sisa 59 anggota lainnya mencakup perwakilan dari semua kelompok sosial dan etnis di Jawa dan Madura, termasuk Sukarno, Hatta, dan para pemimpin nasionalis lainnya, ditambah tujuh orang Jepang. Dalam BPUPK diangkat pula dua wakil sekretaris, yaitu Abdul Gafar Pringgodigdo dan seorang Jepang yang tidak dapat berbahasa Indonesia, bahasa umum yang dipakai dalam badan itu.
BPUPK menyelenggarakan dua sidang pleno, yaitu pada 28 Mei-2 Junia, dan 10-17 Juli 1945, dan mencapai kesepakatan dasar mengenai masalah perundang- undangan dan ekonomi. Suatu kepanitiaan yang dibebani tugas kira-kira sama dengan BPUPK tetapi diawasi secara lebih ketat, dibentuk oleh pemerintah militer Jepang di Sumatera pada 25 Juli 1945. Kepanitiaan tersebut diketuai oleh Mohammad Sjafei
47 Kahin, op.cit., hal. 163-164.
yang sebelumnya menjabat Kepala Badan Penasihat Pusat Sumatera yang lebih dulu dibentuk dan Adinegoro sebagai sekretaris.
Pada Juni 1945, Jepang mengadakan rapat umum yang dihadiri oleh sekitar 4.000 mahasiswa. Tema rapat adalah bahwa kemerdekaan Indonesia akan tercapai melalui perjuangan bersama Jepang dalam melawan Sekutu. Rapat itu disiarkan di seluruh Jawa melalui radio. Salah satu pembicara dari Indonesia yang merupakan anggota Angkatan Muda Surabaya mengamini bahwa Indonesia memang harus berjuang untuk mencapai kemerdekaannya, tetapi sangat menentang dan dengan tegas menolak pendapat Jepang bahwa perjuangan tersebut adalah dalam bentuk melawan Sekutu. Pernyataan orang tersebut disambut dengan tepuk tangan bergemuruh yang ikut disiarkan bersamaan dengan pidatonya. Rapat itu kemudian berubah menjadi kacau, dan Jepang baru dapat meredakan kekacauan itu dengan cara membunyikan sirene tanda serangan udara.48
Pada tanggal 6 Agustus 1945 bom atom pertama dijatuhkan di Hiroshima.
Pada tanggal 7 Agustus lembaga Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dimumkan di Saigon. Kemerdekaan akan berlaku untuk seluruh Indonesia, dan sekarang untuk pertama kalinya pemerintah Jepang mengubah politik pembagian tiga atas Indonesia. Oleh karena itu di dalam Panitia tersebut juga duduk wakil-wakil dari seluruh Indonesia (termasuk dari Sumatera T.M. Hassan, Dr. Amir dan Mr. Abbas).
Pada tanggal 9 Agustus Sukarno, Hatta, Radjiman Wediodiningrat, Ketua Badan
48 Ibid., hal. 170.
Penyelidik, Soerharto- dokternya Sukarno- dan dua orang pengantar- orang-orang Jepang- berangkat ke Saigon melalui Singapura. Pada 11 Agustus oleh Laksmana Terauchi Sukarno dan Hatta dilantik sebagai ketua dan wakil ketua PPKI di Dalat.
Pada tanggal 13 Agustus perjalanan pulang; dan pada tanggal 14 Agustus penerbangan yang penuh resiko- karena ruang angkasa telah dikuasai Sekutu- berakhir dengan selamat. Kedua pemimpin Indonesia itu mendapat sambutan yang megah, dari para pembesar tertinggi Jepang, antara lain Laksmana Laut Maeda.49
Pada 15 Agustus 1945 tersiar kabar berita menyerahnya Jepang kepada sekutu. Namun, berita ini tidak serta-merta tersebar luas ke seluruh wilayah Indonesia. Penguasa Jepang di Jakarta yang merupakan pusat kekuasaan Jepang di Indonesia tidak yakin bagaimana menyikapi perubahan situasi yang tiba-tiba ini dan tidak menyiarkan berita itu kepada khalayak. Informasi akurat tentang menyerahnya Jepang hanya diketahui Jepang dan orang-orang Indonesia yang memiliki hak istimewa atau mendapatkan akses gelap untuk mendengarkan radio.50 Sementara itu para pembesar pemerintah pendudukan Jepang merasa kaget akan berita itu, begitu juga terhadap semua tokoh Indonesia yang terkait dengan kemerdekaan yang akan datang. Tidak lama setelah pidato radio itu Sukarno, Hatta, dan Soebardjo mendapat
49 Harry A. Poeze, 2019, Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia (Jilid 1: Agustus 1945- Maret 1946) Jakarta: YOI, hal. 3-4.
50 Robert Cribb, 2010, Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949, Jakarta:
Masup, hal. 63.
kepastian tentang berita penyerahan itu dari Maeda.51 Berita ini menjadi tanda bahwa Indonesia harus segera merumuskan kemerdekaannya.
Di sisi lain, pemimpin nasionalis golongan tua seperti Sukarno secara umum memilih bersikap hati-hati. Menurutnya tindakan tergesa-gesa dapat memancing kemarahan Jepang dan Sekutu yang akan berdampak pada hancurnya gerakan nasionalis. Golongan nasionalis muda meyakini perlunya segera menyatakan kemerdekaan, pertentangan ini berbuntut panjang hingga penculikan Sukarno dan Hatta yang dibawa ke Rengasdengklok.52
Pertentangan masih terus berlanjut, sekalipun Sukarno dan Hatta sudah dibawa kembali pulang ke Jakarta. Juga pada bunyi teks proklamasi masih menjadi ajang pertentangan yang sengit hingga 17 Agustus 1945 dini hari. Golongan muda mengajukan teks proklamasi bernada militan:
“Bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.
Seluruh elemen kepemerintahan akan segera diambilalih dari pihak asing yang mempertahankannya.”
Teks tersebut masih terlalu vulgar bagi Sukarno, Hatta dan pemimpin generasi tua lainnya yang hadir pada pertemuan final, termasuk banyak anggota dari PPKI.
Akhirnya, mereka semua sepakat dengan teks yang lebih diplomatis sebagai berikut:
“Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahaan kekuasaan d.l.l
51 Poeze, loc.cit.,
52 Cribb, loc.cit.,
diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat- singkatnya.”53
Dengan begitu, kemerdekaan Indonesia sudah diproklamirkan, Indonesia sudah berdiri sebagai nation-state (negara-bangsa) setelah melalui proses yang panjang.
Sehari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, rapat kilat dilaksanakan (sidang PPKI pertama). Setelah diskusi singkat, PPKI memutuskan untuk mengadopsi konstitusi negara yang sebelumnya disusun BPUPK dengan beberapa perubahan di dalamnya. Salah satu perubahan yang dimaksud adalah presiden harus beragama Islam dan menjalankan syariah Islam. Hal ini juga menjadi perdebatan yang panjang, tetapi atas kebijaksanaan orang Islam-lah yang ikut pada sidang tersebut dalam hal menjalankan syariah Islam dapat dibuang. Salah satu tokoh yang gigih dalam memperjuangkan hal itu adalah Teuku Hassan wakil dari Sumatera.
Menurut Hassan harus menjaga pentingnya kesatuan nasional. Agar minoritas- minoritas utamanya Kristen (Batak, Manado, Ambon) tidak terdorong masuk ke dalam lingkungan Belanda yang sedang berusaha datang kembali.54 Kelengkapan lain yang dibutuhkan adalah pendirian kantor presiden dan wakilnya, badan legislatif, serta kabinet yang bertanggung jawab kepada presiden. Serangkaian peraturan peralihan mementahkan konstitusi untuk sementara. Salah satunya memberikan kekuasaan absolut selama 6 bulan kepada presiden dan yang lainnya mengatur bahwa
53 Smail, 2011, Bandung Awal Revolusi 1945-1946, Depok: Komunitas Bambu, hal. 31.
54 Anderson, op.cit., hal. 97-98.
sampai dengan terbentuknya badan legislatif dan badan-badan yang lain maka fungsi mereka akan dilakukan oleh presiden dengan bantuan komite nasional.
Tidak ada kesulitan dalam menentukan pengisi jabatan kepresidenan. Dalam pertemuan yang sama, Sukarno dipilih sebagai Presiden dan Hatta dipilih sebagai Wakil Presiden secara aklamasi. Pada tanggal 19 Agustus 1945, PPKI menentukan pembagian tugas untuk 12 kementerian dan pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Sementara itu, kabinet masih belum terbentuk karena urusan menyangkut kontrol pemerintahan secara praktik berkaitan dengan hubungan yang dengan Jepang dan hal ini harus ditangani dengan hati-hati.
Pada sidang PPKI yang terakhir tanggal 22 Agustus 1945, PPKI mendeklarasikan bahwa Komite Nasional harus ada di setiap tingkat dan mendeskripsikan fungsi- fungsinya sebagai berikut:
1. Mengekspresikan keinginan rakyat Indonesia untuk hidup sebagai bangsa merdeka.
2. Menyatukan rakyat dari seluruh kelas dan pekerjaan demi mencapai kesatuan nasional yang sempurna.
3. Membantu menenangkan rakyat dan melindungi kesejahteraan umum.
4. Membantu presiden dalam menjalankan aspirasi rakyat Indonesia dan di tingkat lokal membantu pemerintah lokal unruk menjaga ketertiban umum.55
55 Smail, op.cit., hal. 32-33.
Sidang PPKI yang terakhir ini mengindikasikan bahwa tugas-tugas kenegaraan sudah „dirampungkan‟ secara tekstual. Bagi kepala-kepala daerah yang sudah ditunjuk dari hasil sidang tersebut, kiranya kembali ke daerahnya masing- masing untuk menyampaikan hasil sidang ini, termasuk ke Sumatera yang diamanahkan kepada Teuku Hassan.
Tetapi, walaupun proklamasi kemerdekaan Indonesia sudah dilaksanakan dan sampai pada pembentukan tugas-tugas negara. Hal tersebut belum diketahui oleh seluruh penjuru masyarakat Indonesia dan yang lebih miris, berita proklamasi yang tinggalnya jauh dari Jakarta tidak mempercayainya. Baru-lah pada tanggal 22 Agustus pihak Jepang akhirnya mengeluarkan suatu pengumuman mengenai menyerahnya mereka, tetapi baru pada bulan September 1945 fakta bahwa kemerdekaan telah diproklamirkan diketahui di wilayah-wilayah terpencil, sedangkan di Kota Medan baru terlaksana pada bulan Oktober.56
2.3 Kota Medan Awal Kemerdekaan
Arsip historis menunjukkan bahwa tanggal 14 Agustus 1945 adalah saat bertekut-lututnya Jepang kepada Sekutu. Peristiwa yang demikian pentingnya, dengan segenap daya hendak disembunyikan oleh Tentara Jepang di Sumatera dari pengetahuan rakyat Indonesia. Setidak-tidaknya untuk suatu jangka waktu tertentu.
Mulai pagi hari yang bersejarah itu semua radio umum yang band-nya telah disegel sehingga tidak sembarangan siaran dapat ditangkap (radio-radio perorangan hampir
56 Ricklefs, op.cit., hal. 320.