• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KEWENANGAN PEMUNGUTAN PBB P2 SEBELUM DAN

C. Peralihan Pemungutan PBB P2

2. Peralihan Pemungutan PBB P2 dari Pemerintah Pusat

Mengingat arti pentingnya desentralisasi dan otonomi daerah yang berkembang selama ini dalam wujud penyelenggaraan pemerintahan daerah, memperlihatkan bahwa UUD 1945 merupakan dasar hukum tertulis yang tertinggi dalam negara, UUD 1945 menjadi dasar dalam penyelenggaraan pemerintahan baik di pusat maupun di daerah. Oleh karena itu, di dalam sistem pemerintahan daerah berdasarkan UUD 1945 berikut peraturan perundang-undangan yang pernah berlaku, sendi-sendi atau asas desentralisasi dan otonomi selalu menjadi dasar dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, walaupun dalam lingkup subtansi dan perwujudannya masih sedang mencari bentuk serta berbagai perkembangan.

Pemerintahan daerah akan dapat terselenggara dengan baik apabila masyarakatnya yakin bahwa mereka adalah bagian dari pemerintahan itu, dan

83Fahmi, Sudi, 2007,Penyelesaian Konflik Pengaturan Peraturan Perundang-undangan Pada Era Otonomi Daerah (Studi Kasus Bidang Kehutanan)hal. 165-166

kepentingan mereka dapat terjamin bagi kelanjutan kesejahteraan masyarakat tersebut, dimana hal ini dapat memperkuat pandangan bahwa konsep otonomi sebaiknya berada dalam kerangka acuan pemerintahan yang demokratis. Pemerintahan demokrasi modern tidak lain dari pemerintahan yang “representative” dan “responsible” serta “legitimate. Fungsi-fungsi pokok pemerintah dalam demokrasi modern mencakup: pelayanan masyarakat atau public service,

pemberdayaan masyarakat atausocial empowerment, pembangunan masyarakat atau

communityserta regulasi.84

Pemungutan tersebut dapat diartikan berdasarkan pasal 1 angka 49 Undang-Undang Nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang menerangkan bahwa pemungutan adalah suatu rangkaian kegiatan mulai dari penghimpunan data objek dan subjek pajak atau retribusi, penentuan besarnya pajak atau retribusi yang terutang sampai kegiatan penagihan pajak atau retribusi kepada wajib pajak atau wajib retribusi serta pengawasan penyetorannya.

Wacana untuk pendaerahan PBB P2 sebenarnya sudah bergulir sejak lama. Bahkan menurut situs BPPK ide pendaerahan itu sudah ada sejak tahun 60-an, ketika dahulu PBB P2 lebih dikenal dengan Iuran Pembangunan Daerah (Ipeda) yang saat itu masih dikelola oleh Direktorat Jenderal Moneter. Namun mengingat kondisi saat itu tidak memungkinkan maka wacana tersebut hanya baru sebatas ide saja. Namun tidak disadari dalam perjalanannya wacana itu terus bergulir sampai dengan lahirnya

84Kaloh DR, 2002,Mencari Bentuk Otonomi Daerah (Suatu Solusi Dalam Menjawab Kebutuhan Local Dan Tantangan Global), (Jakarta: Rineka Cipta, 1999), hal. 50

Undang-undang nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD).

Dengan demikian bukan tidak mungkin bahwa pajak bumi dan bangunan sektor0sektor lainnya seperti seperti perkebunan, pertambangan dan kehutanan dapat juga beralih mengingat otonomi daerah dan objek pajak yang tidak akan pernah berpindah-pindah ke daerah lainnya melainkan menjadi objek pajak untuk daerah tersebut saja.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Pajak Bumi dan Bangunan sektor Perdesaan dan Perkotaan (PBB P2) dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang sebelumnya merupakan pajak yang dikelola oleh pemerintah pusat diserahkan pengelolaannya kepada pemerintah daerah. Pelimpahan pengelolaan PBB P2 kepada pemerintah daerah menurut pasal 182 ayat 1 Undang Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah akan dilaksanakan selambat-lambatnya pada 1 Januari 2014.

Perlu diketahui bahwa sebelum berlakunya Undang Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah Retribusi Daerah, PBB P2 merupakan pajak yang dipungut dan diadministrasikan oleh pemerintah pusat namun demikian hasilnya seluruhnya diberikan kepada pemerintah daerah. Dengan demikian tentunya pemerintah daerah mempunyai kepentingan yang sangat besar terhadap pajak ini. Polatax sharingseperti ini memang dahulu sangat diperlukan terutama sebagai salah satu sumber penyeimbang pendapatan daerah, sesuai dengan salah satu fungsi pajak itu sendiri yaitu sebagai pengatur (regulerend). Namun seiring dengan

berkembangnya rezim otonomi daerah dimana daerah diminta untuk lebih mandiri dalam mengelola sumber-sumber pendapatannya maka pola bagi hasil tersebut menurut penggagas Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah ini sudah tidak relefan lagi.

Dengan demikian setelah keluarnya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang mengamanatkan bahwa pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan dialihkan kepada pemerintah daerah, dalam hal ini pemerintah daerah Kabupaten Serdang Bedagai yang menerima amanat tersebut membuat Peraturan Daerah Kabupaten Serdang Bedagai nomor 1 tahun 2012 tentang Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan. Dengan keluarnya Peraturan Daerah Kabupaten Serdang Bedagai Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pajak Bumi dan Bangunan tersebut maka Pemerintah Daerah Kabupaten Serdang Bedagai mempunyai kewenangan melakukan pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan di Kabupaten Serdang Bedagai.

D. Pemungutan PBB Perdesaan dan Perkotaan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Serdang Bedagai

1. Dasar Hukum

Keluanya Peraturan Daerah Kabupaten Serdang Bedagai Nomor 1 tahun 2012 tentang pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan dengan pertimbangan bahwa dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggung jawab serta dalam rangka peningkatan pelayanan kepada masyarakat,

pemerintah daerah wajib menggali potensi yang ada untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah daerah. Bahwa sesuai dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang mengamanatkan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan yang menjadi pajak daerah dan diatur oleh peraturan daerah kota/kabupaten.

Dengan adanya Peraturan Daerah Kabupaten Serdang Bedagai Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan maka pemerintah Daerah Kabupaten Serdang Bedagai mempunyai hak atas pemungutan pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan. berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah karena sudah diatur oleh Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan.

2. Subjek Pajak

Dalam pasal 4 Peraturan Daerah Kabupaten Serdang Bedagai Nomor 1 tahun 2012 subjek pajak dan bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan adalah orang pribadi atau badan yang secara nyata mempunyai suatu hak atas bumi dan atau memperoleh manfaat atas bumi dan atau memiliki, menguasai dan atau memperoleh manfaaat atas bangunan.

Dalam pasal 5 Peraturan Daerah Kabupaten Serdang Bedagai Nomor 1 Tahun 2012:

1. Wajib Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan adalah orang pribadi atau badan yang secara nyata mempunyai suatu hak atas bumi dan atau memperoleh manfaat atas bangunan manfaat atas bumi dan atau memiliki, menguasai dan atau memperoleh manfaat atas bangunan.

2. Dalam hal atas objek belum jelas diketahui wajib pajaknya, bupati dapat menetapkan subjek pajak sebagai wajib pajak.

3. Subjek pajak yang ditetapkan sebagaimana dimaksud pada ayat 2 dapat memberikan keterangan secara tertulis kepada bupati bahwa ia bukan wajib pajak terhadap objek pajak dimaksud.

4. Bila keterangan yang diajukan oleh wajib pajak sebagaimana dimaksut pada ayat 3 disetujui, maka Bupati membatalkan penetapan sebagai wajib pajak sebagaimana dimaksud pada ayat 2 dalam jangka waktu 1 bulan diterimanya surat keterangan dimaksut.

5. Bila keterangan yang diajukan itu tidak disetujui, maka bupati mengeluarkan keputusan penolakan dengan disertai alasan-alasannya.

6. Apabila setelah jangka waktu 1 bulan sejak tanggal diterimanya keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat 3, bupati tidak memberikan keputusan, maka keterangan yang diajukan itu dianggap disetujui dan bupati segera membatalkan penetapan sebagai wajib pajak sebagaimana dimaksud ayat (2). Dalam pasal 1 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah angka 11 dijelaskan Badan adalah sekumpulan orang atau badan usaha milik daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi sosial politik atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.

Dalam Undang-Undang Ketentuan Umum Perpajakan terdapat ketentuan yang berkenaan dengan badan, yaitu dalam Pasal 1 huruf b yaitu bahwa badan adalah perseroan terbatas, perseroan komanditer, badan usaha milik negara atau daerah dan bentuk apapun, persekutuan atau perkumpulan lainnya, firma, kongsi perkumpulan koperasi, yayasan atau lemabaga dan bentuk usaha tetap.

Sedangkan tentang orang tidak diuraikan. Hanya saja secara umum dapat dikatakan orang adalah manusia yang memiliki darah dan daging. Seseorang dapat

menjadi subjek pajak tanpa memandang pada usia, jenis kelamin, agama, suku dan sebagainya. Siapa saja, baik tua maupun muda, perempuan atau laki-laki dan apapun agama atau sukunya dapat menjadi subjek pajak, asalkan ia memenuhi syarat yaitu mempunyai dan atau memperoleh manfaat atas bumi dan atau bangunan85.

3. Objek Pajak

Pasal 2 Peraturan Daerah Kabupaten Serdang Bedagai Nomor 1 Tahun 2012 dikatakan: Dengan nama Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan dipungut pajak atas setiap bumi dan bangunan yang dimiliki, dikuasai dan atau dimanfaatkan oleh orang pribadi atau badan kecuali kawasan usaha perkebunan, perhutanan dan pertambangan.

Pasal 3 Peraturan Daerah Kabupaten Serdang Bedagai Nomor 1 Tahun 2012 menyatakan:

4. Objek Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan adalah bumi dan atau bangunan yang dimiliki, dikuasai dan atau dimanfaatkan oleh orang pribadi atau badan, kecuali kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan, perhutanan dan pertambangan.

5. Termasuk dalam pengertian banguanan adalah:

a. jalan lingkungan yang terletak dalam satu kompleks bangunan seperti hotel, pabrik dan emplasemennya, yang merupakan suatu kesatuan dengan kompleks bangunan tersebut;

b. jalan tol c. kolam renang d. pagar mewah e. tempat olah raga

f. galangan kapal, dermaga

g. taman mewah

h. tempat penampungan/ kilang minyak, air dan gas, pipa minyak dan i. menara.

Pengertian bangunan tersebut sesuai dengan Pasal 77 ayat (2a) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sehingga tidak bertentangan dengan undang-undang tersebut sebagai sebuah objek pajak.

6. Objek pajak yang tidak dikenakan pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan adalah objek pajak yang:

a. Digunakan oleh Pemerintah dan daerah untuk penyelenggaraan pemerintahan.

b. Digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan umum di bidang ibadah, sosial, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan nasional, yang tidak dimaksutkan untuk memperoleh keuntungan;

c. Digunakan untuk kuburan, peninggalan purbakala atau yang sejenis dengan itu.

d. Merupakan hutan lindung, hutan suaka alam, hutan wisata, taman nasional, tanah pengembalaan yang dikuasai oleh desa dan tanah dan negara yang belum dibebani suatu hak.

e. Digunakan oleh perwakilan diplomatik dan konsulat berdasarkan atas perlakuan timbal balik.

f. Digunakan oleh badan atau perwakilan lembaga internasional yang ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan.

Sesuai dengan pasal 2 Peraturan Daerah Kabupaten Serdang Bedagai Nomor 1 tahun 2012 bahwa yang menjadi objek pajak adalah bumi dan atau bangunan. Bumi sendiri didefenisikan dalam pasal 1 angka 11 Peraturan Daerah Kabupaten Serdang Bedagai Nomor 1 tahun 2012, Bumi adalah permukaan bumi dan perairan pedalaman serta laut wilayah kabupaten sedangkan bangunan sendiri didefenisikan dalam pasal 1 angka 12 Peraturan Daerah Kabupaten Serdang Bedagai Nomor 1 tahun 2012,

Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan atau perairan pedalaman dan atau laut.

4. Dasar Pengenaan Pajak

Dasar pengenaan pajak adalah nilai jual objek pajak (NJOP). Defenisi dari NJOP adalah harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar. Dalam Peraturan Daerah Kabupaten Serdang Bedagai Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pajak Bumi dan Bangunan diatur tentang dasar pengenaan, tarif dan cara perhitungan pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan yang berada dalam pasal 6, yaitu

1. Dasar pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan adalah NJOP.

2. Besarnya NJOP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan setiap 3 (tiga) tahun, kecuali untuk objek pajak tertentu dapat ditetapkan setiap tahun sesuai dengan perkembangan wilayah.

3. Penetapan besarnya NJOP sebagaimana dimaksud pada ayat 2 dilakukan oleh bupati.86

Banyak metode atau pendekatan yang dapat digunakan untuk mengestiminasi/ memperkirakan nilai suatu property, tetapi secara umum ada tiga pendekatan yaitu pendekatan data pasar, pendekatan biaya dan pendekatan pendapatan. Ketiga pendekatan ini banyak digunakan untuk penilaian bagi kepentingan jual beli,

86Pasal 6 Peraturan Daerah Kabupaten Serdang Bedagai Nomor 1 tahun 2012 tentang Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan

penentuan nilai agunan, penentuan nilai yang akan diasuransikan, untuk kepentingan pengenaan pajak dan sebagainya.87

Pasal 79 Undang-Undang nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah menyatakan:

1. Dasasr pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan adalah NJOP

2. Besarnya NJOP sebagaimana dimaksud pada ayat 1 ditetapkan setiap 3 (tiga) tahun, kecuali untuk objek pajak tertentu dapat ditetapkan setiap tahun sesuai dengan perkembangan wilayahnya.

3. Penetapan besarnya NJOP sebagaimana dimaksud pada ayat 2 dilakukan oleh kepala daerah.

Dengan demikian maka salah satu kewenangan yang dialihkan kepada pemerintah daerah adalah menetapkan NJOP kepada pemerintah daerah. Akan tetapi NJOP yang digunakan oleh pemerintah daerah Kabupaten Serdang Bedagai sebagai dasar pengenaan pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan masih menggunakan NJOP lama yang diambil dari penetapan NJOP oleh pemerintah pusat, sehingga pemerintah daerah Kabupaten Serdang Bedagai belum dapat mematuhi pasal 79 ayat 2 dan 3 Undang-Undang Nomor 28 tahun 20009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

5. Tarif Pajak

Dalam pasal 7 Peraturan Daerah Kabupaten Serdang Bedagai Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan mengenai tarif yaitu:

1. Tarif Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan ditetapkan sebagai berikut:

a. Untuk NJOP sampai dengan Rp 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah) ditetapkan sebesar 0,1% (nol koma satu persen) per tahun;

b. Untuk NJOP diatas Rp 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah) ditetapkan sebesar 0,2%(nol koma dua persen) per tahun;

Pasal 80 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, menyatakan:

1. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan ditetapkan paling tinggi sebesr 0,3%.

2. Tarif Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan ditetapkan oleh Peraturan Daerah.

Sehingga tarif pajak daerah Kabupaten Serdang Bedagai dapat dilihat dari besarnya Nilai Jual Objek Pajak bumi dan atau bangunan tersebut yaitu untuk Nilai Jual Objek Pajak sampai Rp 1.000.000.000,00 dikenakan tarif 0,1% dan untuk Nilai Jual Objek Pajak di atas Rp 1.000.000.000,00 dikenakan tarif 0,2%. Adapun tarif PBB P2 0,1% dan 0,2% sudah sesuai dan tidak bertentangan dengan pasal 80 ayat 1 Undang-Undang Nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah88. Penetapan tarif dengan Peraturan Daerah Kabupaten Serdang Bedagai juga sudah sesuai dengan pasal 80 ayat 2 Undang-Undang Nomor 28 tahun 2009 karena sudah diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Serdang Bedagai.

88Tarif Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan ditetapkan paling tinggi sebesar 0, 3% (nol koma tiga persen).

6. Perhitungan Pajak

Besarnya PBB P2 yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif pajak (tax rate) dengan basis pajak (tax base). Pada PBB P2 yang menjadi basis pajak adalah nilai jual kena pajak, yaitu dengan mengalikan persentase nilai jual kena pajak dengan nilai jual objek pajak bumi dan bangunan. Karena tarif pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan ada dua yaitu 0,1% dan 0,2% sesuai dengan pasal 7 Peraturan Daerah Kabupaten Serdang Bedagai Nomor1 tahun 2012 yaitu:

1. Tarif pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan ditetapkan sebagai berikut a. untuk NJOP sampai dengan Rp 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah) ditetapkan

sebesar 0,1% (nol koma satu persen) per tahun;

b. untuk NJOP di atas Rp 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah) ditetapkan sebesar 0,2% per tahun.

Besaran pokok pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif sebagaimana dimaksut dengan Pasal 7 dengan dasar pengenaan pajak sebagaimana dimaksut dalam Pasal 6 ayat 1 setelah dikurangin oleh Nilai Objek Pajak Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksut dalam pasal 3 ayat (4) empat yaitu sebesar Rp 10.000.000 sesuai dengan pasal 77 ayat 4 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dimana mengalami kenaikan dari Rp 8.000.000,00 sesuai dengan pasal 3 ayat 3 Undang Undang nomor 19 tahun 1994 perubahan atas Undang Undang nomor 19 tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan.

Pasal 3 ayat 4 Peraturan Daerah Kabupaten Serdang Bedagai Nomor 1 tahun 2012 berkaitan dengan NJOPTKP adalah Besarnya Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak ditetapkan sebesar Rp 10.000.000,00 (untuk setiap wajib pajak). Dengan demikian kewenangan yang diberikan undang-undang kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Serdang Bedagai untuk menetapkan besarnya NJOPTKP tidak bertentangan dengan pasal 77 ayat 4 Undang Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah89.

Maka dapat diuraikan mengenai perhitungan pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan dengan dua rumusan, yaitu:

Rumus apabila NJOP < Rp 1.000.000.000 :

PBB P2 terhutang = tarif pajak x dasar pengenaan pajak

= 0,1% x (NJOP-NJOPTKP)

= 0,1% x NJOPKP Rumus II apabila NJOP > Rp 1.000.000.000 :

PBB P2 terhutang = tarif Pajak x dasar pengenaan pajak

= 0,2% x (NJOP-NJOPTKP)

89Besarnya Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak ditetapkan paling rendah sebesar Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) untuk setiap Wajib Pajak.

= 0,2% x NJOPKP

Satu hal yang perlu diperhatikan dalam rumus di atas adalah yang dimaksud dengan NJOP dasar perhitungan pajak. Karena itu untuk menggunakan rumus tersebut NJOP sebagai dasar pengenaan pajak harus terlebih dahulu dikurangi dengan NJOPTKP sesuai ketentuan yang berlaku.

Perhitungan pajak setelah dialihkan kepada pemerintah daerah berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Serdang Bedagai Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan memiliki perbedaan dengan sebelum dialihkan kewenangannya dari pemerintah pusat berdasarkan Undang Undang Nomor 12 tahun 1994 perubahan atas Undang Undangan Nomor 12 tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan.

Dengan keluarnya Peraturan Daerah Kabupaten Serdang Bedagai Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan maka pemerintah daerah berwenang untuk melakukan pemungutan pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan di Kabupaten Serdang Bedagai sehingga unsur kewenangan yang dikemukakan oleh H. D. Stound yaitu adanya aturan-aturan hukum dan sifat hubungan hukum telah dipenuhi dalam peralihan kewenangan tersebut. Konsep kewenangan yang dikemukakan oleh Ateng Syafrudin dimana unsur yang tercantum dalam kewenangan yaitu adanya kekuasaan formal dan kekuasaan

diberikan oleh undang-undang90telah dipenuhi dengan pengalihan kewenangan PBB P2 dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah Kabupaten Serdang Bedagai. Sehubungan dengan proses pengalihan ini adalah bahwa objek pajak properti lebih bersifatimmobile,dalam arti tidak dapat dipindahkan ke daerah lainnya, sehingga lebih pantas apabila dijadikan pajak daerah.

Dengan berlakunya Peraturan Daerah Kabupaten Serdang Bedagai nomor 1 tahun 2012 tentang Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan maka dasar pemungutan pajak untuk Kabupaten Serdang Bedagai bukan lagi Undang-Undang Nomor 12 tahun 1985 yang di rubah dengan Undang Undang nomor 12 tahun 1994 tentang Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan sehingga mengalami perubahan seperti NJOPTKP yang menjadi Rp 10.000.000 dari Rp 8.000.000, dan juga cara perhitungan yang menggunakan persentasi (20% dan 40%) melihat nilai NJOP di rubah manjadi tidak menggunakan persentasi tersebut antara sebelum beralih dan setelah beralihnya pemungutan kepada daerah Kabupaten Serdang Bedagai dimana perubahan-perubahan tersebut di batasi oleh Undang–Undang Nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

Adapun pemungutan PBB P2 merupakan kewenangan yang dialihkan dari pelaksanaan tersebut, dimana dalam pasal 1 angka 49 Undang-Undang nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dikatakan pemungutan adalah suatu rangkaian kegiatan mulai dari penghipunan data objek dan subjek pajak atau

90Ateng Syafrudin,Menuju Penyelenggaraan Pemerintah Negara yang bersih dan Bertanggung Jawab, Jurnal Pro Justisia Edisi IV, (Bandung: Universitas Parahyangan, 2000), hal 22

retribusi, penentuan besarnya pajak atau retribusi kepada wajib pajak atau wajib retribusi serta pengawasan penyetorannya.

Setelah kewenangan dialihkan kepada daerah melalui Peratuaran Daerah Kabupaten Serdang Bedagai nomor 1 tahun 2012 tentang Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan yang merupakan amanat dari Undang-Undang nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah maka pemungutan Pajak Bumi dan Banguanan Perdesaan dan Perkotaan dipungut oleh pemerintah Daerah Kabupaten Serdang Bedagai dengan hasil seluruhnya yaitu 100% dimasukan ke dalam APBD Kabupaten Serdang Bedagai.

Dokumen terkait