• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II: LANDASAN TEORI

E. Peran Akal dan Wahyu Dalam Kalangan Teolog

Akal dan wahyu dari dulu sampai sekarang menjadi pembahasan polemik dikalangan teologi Islam. pembahasan tentang akal menyangkut 4 hal berikut:

Dapatkah akal mengetahui tentang adanya Tuhan ? Kalau dapat, apakah akal dapat mengetahui kewajiban berterima kasih kepada Tuhan ? Dapatkah akal dapat mengetahui yang baik dan yang buruk ? Kalau dapat, apakah akal dapat mengetahui kewajiban berbuat baik dan buruk itu ?

Keempat masalah diatas sering diperdebatkan oleh beberapa aliran diantaranya: Mu’tazilah, As’ariyah, Maturidiyah Samarkhan, Maturidiyah Bukhara.

1. Mu’tazilah

56 Hamka, Falsafah Hidup (Jakarta: Republika Penerbit, 2015) h. 43

57 Hamka, Falsafah Hidup .. h. 44

58Hamka, Falsafah Hidup .. h.47

59 Hamka, Falsafah Hidup..h. 50

Mu’tazilah adalah aliran yang bersifat rasional dan liberal, golongan ini yang membawa persoalan teologi yang lebih mendalam dan bersifat filosofis dari pada pesoalan-persoalan yang dibawa oleh golongan lain. Dalam pembahasan mereka banyak mengunakan akal dan dikenal juga dengan nama “ Kaum Rasionalisme Islam”.

Tuhan

M.T

M.W.T.T Wahyu

Akal M.B.J

M.W.B.J

Manusia

M.T = Mengetahui Tuhan

M.W.T.T = Mengetahui Kewajiban Terhadap Tuhan M.B.J = Mengetahui Baik Jahat

M.W.B.J = Mengetahui Kewajiban Berbuat Baik Dan Jahat

Bagi Mu’tazilah akal mampu mengetahui keempat persoalan pokok tersebut: a) Tuhan serta sifat-sifat kesempurnaannya, b) kewajiban berterima kasih kepada Tuhan, c) kebaikan serta kejahatan, dan d) kewajiban berbuat baik serta kewajiban menjauhi perbuatan jahat.

Dengan demikian, dapat dipahami menurut Mu’tazilah sebelum turunnya wahyu akal manusia dapat mengetahui Tuhan, kewajiban mengetahui Tuhan. Di samping itu manusia wajib mengetahui yang baik dan yang jahat, juga wajib melaksanakan yang baik dan menjauhi yang jahat.60

Dengan perantara akal yang sehat dan cerdas seseorang dapat mencapai makhrifat atau mengetahui adanya tuhan dan dapat pula mengetahui yang baik dan buruk. Bahkan sebelum turunnya wahyu, orang sudah wajib bersyukur kepada Tuhan, menjauhi yang buruk, dan mengerjakan yang baik.61

Golongan muktazilah berpendapat, wahyu berfungsi untuk memperpendek jalan mengetahui kebenaran Tuhan dan untuk mengingatkan manusia akan kewajiban-kewajibannya. Semua masalah yang dikemukakan diatas, sudah diketahui akal. Karena itu, tanpa wahyu pun tidak mengapa. Namun, Mu’tazilah tetap memandang wahyu sangat penting untuk memperjelaskan rincian dari keempat permasalahan tersebut. Meskipun Mu’tazilah dikenal rasional dan mengandalkan akal serta menampatkannya pada posisi yang tinggi, namun mereka mengakui pula kelemahan akal dan pentingnya wahyu. Akal, meskipun

60 Buku Teks MKK IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Sejarah Pemikiran dalam Islam (Jakarta: Pustaka Antara)h.67-68

61 Yusran Asmuni, Ilmu Tauhid (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993) h. 154

dapat mengetahui keempat persoalan diatas, namun rinciannya secara detail tidak dapat diketahui akal dengan pasti. Untuk itu, wahyu menjadi penting.62

2. Asy’ariyah

Dari aliran Asy’ariyah, Al-Asy’ari sendiri menolak sebagian besar dari pendapat kaum Mu’tazilah diatas. Dalam pendapatnya segala kewajiban manusia hanya dapat diketahui hanya melalui wahyu. Akal tak dapat berbuat sesuatu menjadi wajib dan tak dapat mengetahui bahwa mengerjakan yang baik dan menjauhi yang buruk adalah wajib bagi manusia. Betul akal dapat mengetahui Tuhan, tetapi wahyulah yang mewajibkan orang mengetahui Tuhan dan berterima kasih kepada-Nya. Juga dengan wahyulah dapat diketahui bahwa yang patuh kepada Tuhan akan memperoleh upah dan yang tidak patuh kepada-Nya akan mendapat hukuman.

Tuhan

M.W.T.T

M.B.J Wahyu

Akal M.T M.W.B.J

62 Yusran Asmuni, Ilmu Tauhid... h. 156

Manusia

M.T = Mengetahui Tuhan

M.W.T.T = Mengetahui Kewajiban Terhadap Tuhan M.B.J = Mengetahui Baik Jahat

M.W.B.J = Mengetahui Kewajiban Berbuat Baik Dan Jahat

Dari kutipan diats dapat disimpulkan bahwa menurut pendapat Al-Asy’ari, akal tak mampu untuk mengetahui kewajiban-kewajiban manusia. Untuk itulah wahyu diperlukan. Akal dalam pada itu dapat mengetahui Tuhan. 63

Jelas bahwa antara Mu’tazilah dan Asy’ariyah terdapat perbedaan besar mengenai kesanggupan akal manusia. Kalau bagi aliran pertama daya pikir manusia kuat, bagi aliran kedua daya pikir manusia lemah.64

Manurut Asy’ariyah wahyu sangat penting dan menentukan. Manusia tidak akan dapat mengetahui kewajiban kepada Tuhan, baik dan buruk, dan kewajiban berbuat baik dan meninggalkan yang buruk, tanpa wahyu. Karena itu, bagi golongan ini kedudukan wahyu sangat tinggi.65

3. Maturidiyah Samarkhan

Kaum Maturidiyah Samarkhan lebih dekat kepada Mu’tazilah, bagi mereka kedudukan wahyu agak lemah. Mereka memberi jawaban yang lain

63 Harun Nasution, Teologi Islam Alirin-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan (Jakarta, UI-Press:1986 ) h.87-88

64 Harun Nasution, Akal dan Wahyu... h.77

65 Yusran Asmuni, Ilmu Tauhid... h. 156

terhadap keempat masalah di atas. Bagi mereka hanya satu yaitu kewajiban berbuat baik dan menjauhi perbuatan jahat, yang tidak dapat diketahui akal. Ketiga masalah lainnya adalah dalam jangkauan akal. Akal dapat mengetahui adanya Tuhan, wajibnya manusia berterima kasih kepada Tuhan dan kebaikan serta kejahatan.

66

Tuhan

M.T

M.W.T.T M.W.B.J Wahyu Akal M.B.J

Manusia

M.T = Mengetahui Tuhan

M.W.T.T = Mengetahui Kewajiban Terhadap Tuhan M.B.J = Mengetahui Baik Jahat

M.W.B.J = Mengetahui Kewajiban Berbuat Baik Dan Jahat

66 Harun Nasution, Akal dan wahyu… h. 77

Menyangkut masalah pengetahuan tentang keburukan menurut Maturidiyah Samarkhan ini ialah: bagi sesuatu itu terdapat keburukan yang sebenarnya. Sementara itu akal mampu mengetahui sebahagian dari keburukan perbuatan itu. Maturidiyah membagi sesuatu itu kepada 3 bagian:

Pertama

: sesuatu yang dapat diketahui kebaikannya dengan akal

Kedua

: sesuatu yang dapat dikatahui keburukannya dengan akal

Ketiga

: sesuatu yang tidak jelas kebaikan dan keburukannya untuk

diketahui oleh akal.

Bagian terakhir ini tidak dapat diketahui kecuali melalui petunjuk syari’at.

67

Kata Al-Maturidiyah Samarkhan mengetahui sifat yang baik dan terdapat dalam yang baik dan sifat yang buruk terdapat dalam yang buruk, dengan demikian akal juga tahu bahwa berbuat buruk adalah buruk dan berbuat baik adalah baik, dan pengetahuan inilah yang memastikan adanya perintah dan larangan. Akal mengetahui bahwa bersikap adil dan lurus adalah baik dan bersikap tak adil dan tak lurus adalah buruk. Oleh karena itu akal memandang mulia terhadap orang yang adil serta lurus dan memandang rendah orang yang bersikap tak adil dan tak lurus. Akal selanjutnya memerintah manusia mengerjakan perbuatan perbuatan yang akan mempertinggi kemuliaan dan melarang manusia mengerjakan

67 Harun Nasution, Sejarah Pemikiran Dalam Islam (Buku Teks MKK IAIN Imam Bonjol Padang) h. 72

perbuatan perbuatan yang membawa pada kerendahan. Perintah dan larangan yang demikian menjadi wajib dengan kemestian akal.

Jelaslah bahwa dalam pendapat Al-Maturidiyah, akal dapat mengetahui baik buruk. Tetapi tetap menjadi pertanyaan apakah akal bagi Al-Maturidiyah dapat mengetahui kewajiban berbuat baik dan menjauhi kejahatan. Yang diwajibkan akal menurut uraian diatas ialah adanya perintah dan larangan, dan bukan mengerjakan yang baik dan menjauhi yang buruk. Akal tak dapat mengetahui kewajiban itu. Yang dapat diketahui akal hanyalah sebab kewajiban wajibnya perintah dan larangan Tuhan.

Dengan demikian bagi Al-Maturidiyah akal dapat mengetahui tiga persoalan pokok, sedangkan yang satu lagi yaitu kewajiban berbuat baik dan menjauhi yang buruk dapat diketahui hanya melalui wahyu.

68

8. Maturidiyah Bukhara

Bagi Maturidiyah Bukhara hanya dua saja yang dapat diketahui akal, yaitu adanya Tuhan dan kebaikan serta kejahatan. Akibat dari pendapat ini ialah mengetahui Tuhan dalam arti berterima kasih kepada Tuhan sebelum turunnya wahyu tidaklah wajib bagi manusia dan ini memang merupakan pendapat golongan Bukhara, alim ulama Bukhara kata Abu Uzbah sebelum

68 Harun Nasution, Teologi Islam Aliran.. h. 91

adanya rasul-rasul, percaya kepada Tuhan tidaklah diwajibkan, dan tidak percaya kepada Tuhan bukanlah merupakan dosa.

69

Tuhan

M.W.T.T

M.W.B.J Wahyu Akal M.T

M.B.J

Manusia

M.T = Mengetahui Tuhan

M.W.T.T = Mengetahui Kewajiban Terhadap Tuhan M.B.J = Mengetahui Baik Jahat

M.W.B.J = Mengetahui Kewajiban Berbuat Baik Dan Jahat

Maturidiyah Bukhara memandang kedudukan wahyu lebih kuat dari pada Maturidiyah Samarkhan. Bagi mereka wahyu sangat diperlukan untuk mengetahui kewajiban berterima kasih kepada Tuhan dan kewajiban melaksanakan yang baik dan menjauhi yang buruk. Dengan kata lain wahyu diperlukan manusia untuk mengetahui kewajiban-kewajibannya.

70

Karena kewajiban mengetahui Tuhan dan kewajiban berbuat baik dan

69 Harun Nasution, Teologi Islam Aliran.. h. 92

70 Harun Nasution, Sejarah Pemikiran Islam…h. 73

meninggalkan yang buruk hanya diketahui sesudah adanya rasul. Fungsi akal bagi Maturidiyah Bukhara adalah pengetahuan, dan kewajiban diterima manusia dari wahyu.

Dibandingkan dengan Maturidiyah Samarkhan, daya akal bagi Maturidiyah Bukhara ini lebih kecil, karena Maturidiyah Samarkhan, akal baginya mampu mengetahui tiga persoalan pokok, sedangkan bagi Maturidiyah Bukhara hanya dua saja.

Dalam bentuk tabel dapat dilihat perbandingan fungsi akal dan wahyu antar aliran diatas sebagai berikut.:

71

Aliran teologi

Mengetahui Tuhan

Kewajiban mengetahui

Tuhan

Mengetahui baik dan buruk

Mengetahui kewajiban baik

dan buruk

Mu’tazilah Akal Akal Akal Akal

Asy’ariyah Akal Wahyu Wahyu Wahyu

Maturidiyah Samarkhan

Akal Akal Akal Wahyu

Maturidiyah Bukhara

Akal Wahyu Akal Wahyu

71 Harun Nasution, Sejarah Pemikiran Islam…h. 75

Dari uraian tabel diatas dapat disimpulkan, bagi Mu’tazilah akal mampu mengetahui Tuhan kewajiban berterima kasih kepada Tuhan mengetahui yang baik dan jahat dan kewajiban melaksanakan yang baik dan menjauhi yang jahat.

Fungsi wahyu pada aliran ini lebih banyak bersifat konfirmasi.

Sedangkan sistem teologi Asy’ariyah derajat akal sangat lemah sekali daya akal hanya mampu mengetahui Tuhan, sedangkan tiga butir lainnya dapat diketahui manusia lewat wahyu.

Adapun bagi Maturidiyah Samarkhan yang diketahui akal adalah mengetahui Tuhan, mengetahui kewajiban berterima kasih kepada tuhan dan mengetahui mana yang baik dan mana yang jahat. Selain itu hanya dapat diketahui melalui petunjuk wahyu.

Maturidiyah Bukhara derajat akal dan wahyu berimbang daya akal dapat mengetahui 2 persoalan yaitu: mengetahui Tuhan dan mengetahui perbuatan yang baik dan perbuatan yang jahat. Tetapi yang berkaitan dengan kewajiban berterima kasih kepada Tuhan dan kewajiban mengerjakan perbuatan baik dan menjauhi perbuatan jahat, keduanya ini diketahui manusia dengan adanya wahyu.

72

Teologi yang memberi kekuatan tertinggi kepada akal adalah teologi Mu’tazilah, teologi Maturidiyah Samarkhan. Sedangkan teologi yang memberi kekuatan rendah kepada akal adalah teologi As’ariyah dan teologi Maturidiyah Bukhara. Perbandingan antara empat teologi itu berdasarkan butir-butir dapat

72 Harun Nasution, Sejarah Pemikiran Islam…h. 75

diketahui akal, diperoleh: Mu’tazilah 4, Maturidiyah Samarkhan 3, Maturidiyah Bukhara 2, Dan As’ariyah 1.

73

F. Penelitian relevan

Pokok permasalahan dalam penelitian ini lebih memfokuskan pada kajian

“konsep akal dan wahyu dalam Islam (perbandingan pemikiran Harun Nasution dan Buya Hamka), penelitian ini memiliki objek material yakni fungsi akal dan wahyu dalam Islam, sedangkan objek formalnya adalah pemikiran Harun Nasution dan Buya Hamka.

Maka sejauh peneliti sumber data tentang judul penelitian di atas, penelitian ini tidak sama dengan penelitian-penelitian terdahulu. Tetapi, dalam kajian ilmiah ini sudah ada yang membahas masalah yang berkaitan tentang akal dan wahyu diantaranya sebagai berikut:

1. Muhtasit, dengan judul Konsep Pemikiran Harun Nasution Tentang Teologi Rasional, Fakultas ushuluddin IAIN Walisongo Semarang, 2000. Berisi bahwa dalam pemikiran Harun akal bukan hanya mengetahui masalah pokok sebagaimana Mu’tazilah, tetapi masih mempunyai kekuatan dan kemampuan lain, yaitu mengetahui adanya kehidupan akhirat sesudah adanya kehidupan dunia.

Akal juga mampu mengadakan hukum-hukum tentang apa-apa yang diketahui oleh akal dan mengajak manusia untuk tunduk pada hukum itu. Dalam skripsi ini, mukhtasit berusaha merubah pola pikir masyarakat Indonesia, mahasiswa, dan budaya yang ada di lembaga pendidikan yaitu agar mereka mempunyai gambaran

73 Harun Nasution, Muhammad Abduh dan… h.57

untuk bisa mengikuti ulama-ulama klasik yang banyak mengunakan akal baik dalam ilmu agama maupun ilmu pengetahuan.

2. Skripsi yang ditulis oleh Rakhmat, “Akal Dan Wahyu Dalam Perspektif Pemikiran Hamka” suatu kajian yang fokus telaahnya dipusatkan dalam masalah kedudukan akal dan fungsi wahyu perspektif pemikiran Hamka. adapun cakupan bahasannya meliputi kekuatan akal dan fungsi wahyu dalam sistem kalam Hamka. kemudian akan dicari corak dari kalam Hamka, apakah dia bercorak kalam liberal atau kalam tradisional.

3. Skripsi yang ditulis oleh Ach Khomaidi,” Akal Dan Wahyu Dalam Perspektif Harun Nasution”. Dalam penulisan skripsi ini, berisi bahwa penulis berusaha memotret dan mengkaji profil pemikiran Harun Nasution tentang akal dan wahyu, terutama eksperimentasi metodologi dalam pemahaman Islam baik secara teoritis maupun praktis dalam rangka kehidupan umat beragama. Skripsi ini mencoba untuk memperoleh pemahaman yang lebih detail dan jelas terhadap pembaharuan pemikiran Harun Nasution.

Berbeda dengan karya-karya di atas, yang pembahasannya hanya pada akal atau wahyu saja dan hanya pada satu tokoh. Dalam penelitian ini akan dibahas mengenai Harun Nasution dan Buya Hamka secara bersamaan yaitu terutama mengenai pemikiran akal dan wahyu dalam Islam. Selain itu juga akan diuraikan mengenai pendapat Mutakallimun, dan para filosof muslim mengenai akal dan wahyu. Hal tersebut merupakan motivator tersendiri bagi peneliti untuk mengangkat penelitian ini.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

D. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang akan digunakan adalah kajian pustaka (library

research). Penelitian dilakukan dengan mengambil sumber datanya dengan

menelaah buku-buku pemikiran Islam yang bersangkutan dengan Akal dan Wahyu dalam Islam. Penelitian ini terfokus kepada pemikiran Harun Nasution yaitu tentang akal dan wahyu dalam Islam, Islam Rasional Gagasan dan Pemikiran, Teologi Islam dan Aliran-Aliran Sejarah Analisis Perbandingan, dan Sejarah Pemikiran dalam Islam dan karya-karya Buya Hamka seperti Falsafah Hidup, Falsafah Ketuhanan, Pelajaran Agama Islam, dan Tasawuf Modern.

Peneliti mendeskripsikan dan menganalisis pemikiran kedua tokoh sehingga dapat memudahkan menjawab persoalan yang telah dirumuskan dalam pokok masalah.

E. Pendekatan Penelitian

Dalam penelitian ini, masalah yang dibahas peneliti lebih mengarah kepada penggunaan akal dan wahyu dalam Islam bagi pemikiran Harun Nasution dan Buya Hamka dengan mengunakan pendekatan filosofis. pendekatan filosofis dalam kajian studi Islam dapat di artikan, memandang dan memahami ajaran agama dengan cara memikirkannya secara mendalam, sistematis, radikal, dan universal dengan maksud

agar hikmah, hakikat atau inti dari ajaran agama dapat dimengerti dan dipahami secara seksama74

Pendekatan secara filosofis berarti pendekatan yang mengunakan filsafat.

Filsafat yaitu berpikir secara mendalam, sistematis, radikal, dan universal dalam rangka mencari kebenaran inti hikmah atau hakikat mengenai segala sesuatu yang ada.

F. Sumber Dan Teknik Pengumpulan Data 1. Sumber data

a. Data primer

Jenis data primer adalah data yang pokok yang berkaitan dan diperoleh secara langsung dari obyek penelitian, sumber data primer adalah sumber data yang dapat memberikan data penelitian secara langsung.

75

Data primer dalam penelitian ini adalah (karya Harun Nasution yaitu Akal dan Wahyu dalam Islam, Islam Rasional Gagasan dan Pemikiran, Teologi Islam dan Aliran-Aliran Sejarah Analisis Perbandingan, dan Sejarah Pemikiran dalam Islam dan karya Buya Hamka yaitu Falsafah Hidup, Falsafah Ketuhanan, Pelajaran Agama Islam, dan Tasawuf Modern).

b. Data sekunder

74 M. Nurhakim, Metodologi studi Islam. (Malang: UMM Press, 2004) h. 18

75 Suharsimi Arikunto, Prosodur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), h. 117.

Jenis data sekunder adalah jenis data yang dapat dijadikan sebagai pendukung data pokok, sehingga sumber data sekunder dapat diartikan sebagai sumber yang mampu atau dapat memberikan informasi atau data tambahan yang dapat memperkuat data pokok.

76

Sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah buku-buku dari para penulis yang membahas tentang akal dan wahyu.

2. Teknik Pengumpulan Data Dalam Penelitian Pustaka

Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah: dokumentasi dengan teknik pengumpulan data yang bersumber dari data–data dokumentasi atau barang tertulis yang dapat berupa buku, video dan sebagainya dapat mendukung penelitian.

3. Teknik Analisis Data

Setelah data terkumpul secara baik dan teoritis kemudian data tersebut diolah dan dianalisa secara baik secara kualitatif dengan menggunakan metode:

a. Induktif : suatu proses analisa data yang berpijak pada suatu fakta yang sifatnya khusus dari peristiwa-peristiwa yang kongkrit kemudian ditarik suatu kesimpulan atau generalisasi yang sifatnya umum.

76 Sumadi Suryabrata, Metodeologi Penelitian, (Yogyakarta: Yayasan Penerbit PSI, UGM, 1990), h. 85.

b. Deduktif : suatu proses analisa data yang berangkat dari pengetahuan yang sifatnya umum, kemudian diambil suatu pengertian yang sifatnya khusus.

Teknik analisis perbandingan disini ialah jika sudah menemukan inti

dari pemikiran masing-masing tokoh, lalu dibandingkan dengan tokoh

tersebut yaitu Harun Nasution dan Buya Hamka.

BAB IV HASIL PENELITIAN

Teologi sebagai ilmu yang membahas soal ketuhanan dan kewajiban-kewajiban manusia terhadap Tuhan, memakai akal dan wahyu dalam memperoleh pengetahuan tentang kedua soal tersebut. Akal sebagai daya berfikir yang ada dalam diri manusia berusaha keras untuk sampai kepada diri Tuhan, dan wahyu sebagai pengkabaran dari alam metafisika turun kepada manusia dengan keterangan-keterangan tentang Tuhan dan kewajiban-kewajiban manusia terhadap Tuhan.

Persoalan akal dan wahyu telah lama menjadi wacana dan perdebatan dikalangan intelektual muslim sejak abad ke-3 hijriah, bahkan sampai sekarang persoalan ini masih banyak diperbincangkan. Al-Qur’an tidak terpisah dari realitas, tidak melangkahi, atau melampaui hukum-hukum realitas, justru fenomena tersebut merupakan bagian dari konsep-konsep budaya dan muncul dari konveksi dan konsepsi budaya. Antara akal dan wahyu memiliki keterkaitan yang cukup erat, dimana akal menerangkan secara realita yang di ungkapkan oleh wahyu, dan wahyu sebagai dasar adanya hukum yang menjadi landasan dari akal.

Persoalan kekuasaan akal dan fungsi wahyu dihubungkan dengan dua masalah pokok yang masing-masing bercabang dua. Masalah pertama ialah soal mengetahui Tuhan dan kewajiban mengetahui Tuhan dan masalah kedua soal baik dan buruk dan kewajiban mengerjakan dan menjauhi perbaikan baik dan buruk.77

77 Harun Nasution, Teologi Islam Aliran Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan (Jakarta: UI-Press, 1986) h. 82

A. Konsep Akal Dan Wahyu Dalam Islam Menurut Harun Nasution 1. Peran Akal Menurut Harun Nasution

Kata akal sering diartikan sebagai pikiran (rasional). Akal adalah potensi yang terpendam dalam diri manusia yang berbentuk spirit. Maka tidak dapat dipungkiri bahwa dalam setiap diri manusia terdapat sesuatu kekuatan (akal) yang bisa menghantarkan manusia pada sebuah kemajuan dalam mengubah dunia.

Menurut Harun Nasution, kata akal sudah menjadi kata Indonesia, berasal dari kata arab al-‘aql, yang dalam bentuk kata benda. Sementara dalam Al-Qur’an sendiri al-‘aqal digunakan hanya dalam bentuk kata kerjanya saja seperti

‘aqaluh, ta’qilun, ya’qilun. Semua kata-kata ini mempunyai arti faham, mengerti dan berfikir. Dalam Al-Qur’an sebagaimana dijelaskan dalam QS Al-Hajj: 46, Pengertian, pemahaman dan pemikiran dilakukan melalui kalbu yang berpusat di dada. Ayat-ayat berikut juga menjelaskan demikian:

 mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar?

Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (QS Al-Hajj: 46)

Ayat di atas menjelaskan bahwa akal adalah alat yang dipakai oleh manusia untuk memahami, mengerti dan pemikiran yang berpusat di dada.

Melalui akal pula manusia dapat melakukan komunikasi dengan Tuhan.

"Seperti yang terlihat dalam filsafat emanasi. Bahwa akal manusia yang telah mencapai derajat perolehan dapat mengadakan hubungan dengan akal kesepuluh, yang dalam penjelasan Ibnu Sina adalah Jibril. Komunikasi itu bisa terlaksana dan terjadi karena akal perolehan telah begitu terlatih dan begitu kuat daya tangkapnya sehingga sanggup menangkap hal-hal yang bersifat abstrak murni. Dan komunikasi Nabi dengan Tuhan dilakukan melalui akal dalam derajat materil.”78

Seorang Nabi dianugerahi Tuhan akal yang begitu luar biasa daya tanggapnya, sehingga tanpa latihan Nabi dapat mengadakan komunikasi langsung dengan Jibril sebagai utusan Tuhan. Akal seperti ini mempunyai kekuatan suci, tidak ada yang yang lebih kuat dari pada akal yang telah Tuhan anugerahi kepada Nabi, hanya Nabi yang memperoleh demikian.

Menurut ajaran Tasawuf, komunikasi dengan Tuhan dilakukan melalui daya rasa manusia yang terdapat dalam hati sanubari. Sedangkan kaum Filosof Islam mempertajam daya fikir dan akalnya dengan memusatkan perhatian kepada hal-hal yang bersifat abstrak murni. Dan dalam kalangan Sufi mempertajam daya rasa atau kalbunya dengan cara menjauhi hidup dari yang bersifat materi dan berusaha pada pensucian jiwa dengan selalu mengingat Tuhan dan banyak melakukan ibadah kepada Tuhan. Kaum teolog Islam mengartikan akal sebagai daya untuk memperoleh pengetahuan dan juga daya yang membuat manusia dapat membedakan antara dirinya dan benda-benda lain. Akal juga mempunyai daya untuk mengabstrakkan benda-benda yang ditanggap panca indra. Selain memperoleh pengetahuan, akal juga dapat membedakan antara kebaikan dan kejahatan.

Akal dalam pengertian Islam tidaklah otak, tetapi adalah daya berfikir yang terdapat dalam jiwa manusia; daya, yang sebagai digambarkan dalam Al-Qur’an memperoleh pengetahuan dengan memperhatikan alam sekitarnya. Akal dalam pengertian inilah yang dikontraskan dalam Islam

78 Harun Nasution, Akal dan wahyu Dalam Islam (Jakarta: UI-Press, 1986) h.17

dengan wahyu yang membawa pengetahuan dari luar diri manusia yaitu

dengan wahyu yang membawa pengetahuan dari luar diri manusia yaitu

Dokumen terkait