• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP AKAL DAN WAHYU DALAM ISLAM (Perbandingan pemikiran Harun Nasution Dan Buya Hamka )

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KONSEP AKAL DAN WAHYU DALAM ISLAM (Perbandingan pemikiran Harun Nasution Dan Buya Hamka )"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

KONSEP AKAL DAN WAHYU DALAM ISLAM (Perbandingan pemikiran Harun Nasution Dan Buya Hamka )

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pada Prodi Aqidah Dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin Adab Dan Dakwah Institut Agama

Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi;

Oleh

DWI REGA RENLI NIM: 4515.016

PROGRAM STUDI AQIDAH DAN FILSAFAT ISLAM FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN DAKWAH (FUAD)

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BUKITTINGGI

2018/2019

(2)

PERSEMBAHAN

Alhamdulillah. Puji syukur kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya. Salawat dan salam yang selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad

SAW.

Dengen penuh rasa syukur, skripsi ini saya persembahkan teruntuk orang tua tercinta (papa Renal dan mama Aiga Nelli Asmun) yang cintah kasihnya selalu diberikan kepada

saya, yang telah mengajarkan, membimbing serta mendo’akan. Iringan doá dan ridha mereka lah yang membukakan rahmat dan kemudahan oleh Allah SWT kepada saya

sehingga terciptalah sebuah skripsi ini.

Kepada kakak tercinta Dila Elvia Gusni, yang telah memberikan dukungan dan semangat yang tiada henti-hentinya. kepada saya dalam meyelesaikan skripsi ini. Adik-adik yang

paling ku sayang Regina Qadaffy, dan Delvino Renaldo. Tiada waktu yang paling berharga dalam hidup ini selain berkumpul dengan kalian. Walaupun saat dekat kita

selalu bertengkar, namun saat jauh kita saling merindukan. Semoga saya dapat membanggakan kalian.

Kepada sahabat-sahabat douze fry (Fitrawati, Fitria Mardani, Isma Syahfitri, Rahmanika Anggraini, Yemi Nelfitri, Yessi Grasela) yang senantiasa selalu berada di dekat saya dalam suka dan duka, memberikan motivasi dan semangat dalam menyelesaikan skripsi

ini. Sahabat saya Nur’aini yang selalu ada saat suka dan duka. Dan kepada sahabat Manoza Hevina, Sherly Annisa, Vina Indriani dan Zikriyani Harbi. Terima kasih saya

ucapkan karna telah menjadi sahabat terbaik.

Kepada Almamater ku tercinta, Prodi Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri IAIN Bukittinggi.

Kepada bapak Dr. Gazali M.Ag, sebagai orang tua saya di kampus yang telah mengarahkan dan membimbing saya dalam meyelesaikan pendidikan di IAIN Bukittinggi

dan Bapak Dr. Syafwan rozi M.Ag dan Ibu Nelmaya, M.A sebagai pembimbing skripsi saya, yang telah mengarahkan, membimbing, dan mengoreksi, sehingga saya dapat

menyelesaikan skripsi ini sesuai kaidah ilmiah yang berlaku.

Kepada teman-teman seperjuangan Philosophy of religion angkatan 2015 (selama 4 tahun ini). Teman KKN Nagari Gadang (selama 45 hari) dan teman

PPL Baznas 50 kota (selama 3 bulan). Terima kasih telah memberikan warna dalam hidup saya.

(3)
(4)
(5)
(6)

MOTTO























“Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Ar-Ra’d ayat 11)

























































































“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati

(kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (Al-Baqarah ayat 164)

(7)

ABSTRAK

Skripsi ini dibuat oleh DWI REGA RENLI, 4515.016, dengan judul Konsep Akal dan Wahyu Dalam Islam (Perbandingan Pemikiran Harun Nasution dan Buya Hamka) Prodi Aqidah Dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Bukittinggi.

Akal dan wahyu memiliki kontribusi dalam kehidupan manusia karena dua hal tersebut merupakan jalan untuk memperoleh ilmu pengetahuan dalam memecahkan permasalahan yang terjadi dalam kehidupan. Akal merupakan alat untuk memahami isi kandungan wahyu, sedangkan wahyu sebagai pedoman bagi akal supaya akal tidak tersesat dari jalannya. Dengan demikian, akal dan wahyu memiliki hubungan yang sangat erat dalam perjanan hidup manusia. Realitas keberagamaan di Indonesia saat ini umumnya bersifat taklid (ikut-ikutan), tidak mengunakan akal dan wahyu di dalam beragama. Dua tokoh pemikiran di Indonesia yang menarik untuk dibahas adalah pemikiran Harun Nasution dan Buya Hamka mengenai akal dan wahyu dalam Islam.

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian pustaka dengan mengambil sumber datanya dengan menelaah buku-buku Harun Nasution dan Buya Hamka yang bersangkutan dengan akal dan wahyu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep akal dan wahyu dalam Islam menurut Harun Nasution dan Buya Hamka dengan mengunakan pendekatan filosofis yaitu penelitian secara kritis, radikal, sistematis dan mendalam terhadap pemikiran kedua tokoh.

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa Harun Nasution dan Buya Hamka merupakan tokoh pembaharuan dalam Islam yang sama-sama menjunjung tinggi akal dan memuliakan akal manusia.

Harun Nasution dan Buya Hamka dalam setiap pemikirannya selalu bersumber kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits. Menurut keduanya bahwa antara akal dan wahyu adalah sejalan dan serasi. Menurut Harun Nasution akal dapat mengetahui ke empat permasalahan yaitu mengetahui Tuhan, mengetahui kewajiban terhadap Tuhan, mengetahui baik dan buruk dan mengetahui kewajiban berbuat baik dan menjauhi perbuatan jahat.

sedangkan menurut Buya Hamka akal dapat mengetahui Tuhan mengetahui baik dan buruk sedangkan yang berhubungan dengan kewajiban menurut Buya Hamka wahyu yang lebih banyak berfungsi.

Kata kunci: Akal, wahyu, Islam, Harun Nasution, dan Buya Hamka

(8)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikumWr. Wb

Puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan limpahan karunia-Nya. Nikmat Islam, nikmat iman, nikmat kesehatan dan nikmat kehidupan yang tiada tara. Shalawat beserta salam untuk Nabi Muhammad SAW, Allahumma shalli‘ala sayyidina Muhammad wa’ala ali sayyidina Muhammad. Semoga cerminan akhlak beliau dapat kita teladani di kehidupan sehari-hari dan yang telah meletakkan pondasi ilmu pengetahuan bagi manusia. Alhamdulillahirabbil ‘alamin atas pertolongan Allah, penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Konsep Akal Dan Wahyu Dalam Islam (Perbandingan Pemikiran Harun Nasution Dan Buya Hamka)”.

Yang dimaksudkan untuk memenuhi salah satu syarat guna mencapai gelar kesarjanaan Strata 1 (S1) pada program studi Aqidah dan Filsafat Islam di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi.

Terselesaikannya penulisan ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah membantu baik dalam proses penelitian maupun selama penulisan. Ucapan terima kasih ini disampaikan kepada:

1. Ibu Dr. Ridha Ahida, M. Hum selaku rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi beserta para Wakil Rektor .

2. Bapak Dr. H. Nunu Burhanuddin, Lc., M. Ag selaku Dekan Fakultas

Ushuluddin Adab Dan Dakwah dan Wakil Dekan Fakultas Ushuluddin Adab

Dan Dakwah IAIN Bukittinggi

(9)

3. Ibu Nelmaya, M. A selaku Ketua prodi Aqidah Dan Filsafat Islam

4. Bapak Dr. Gazali M.Ag selaku dosen pembimbing akademik penulis, yang telah mengarahkan dan membimbing penulis dalam menyelesaikan pendidikan di IAIN Bukittinggi.

5. Bapak Dr. Syafwan rozi M.Ag dan Ibu Nelmaya, M.A sebagai pembimbing skripsi penulis, yang telah mengarahkan, membimbing, dan mengoreksi, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sesuai kaidah ilmiah yang berlaku.

6. Bapak/ Ibu Dosen serta karyawan dan karyawati IAIN Bukittinggi yang telah membekali penulis dengan berbagai pengetahuan.

7. Bapak/ Ibu pimpinan serta karyawan dan karyawati perpustakaan IAIN Bukittinggi yang telah menyediakan fasilitas kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

8. Kedua orang tua tersayang dan tecinta yang tidak pernah lelah mendo’akan dan senantiasa memberikan support dan motivasi kepada penulis. Dan kepada kakak dan adik-adik, yang selalu memberikan semangat.

9. Sahabat Douze Fry yang senantiasa memberikan dukungan dan arahan dalam membantu agar skripsi ini dapat terselesaikan. Nur’aini yang selalu ada dan kepada sahabat tercinta Manoza Hevina, Sherly Annisa, Vina Indriani, dan Zikriani Harbi.

10. Kepada teman-teman seperjuangan angkatan 2015, PPL, dan KKN, serta

sahabat tercinta.

(10)

11. Semua pihak terkait yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu dalam penyelesaian skirpsi ini.

Semoga amal baik atas segala bentuan yang telah diberikan kepada penulis, penulis ucapkan terima kasih, semoga apa yang telah diberikan itu dibalas oleh Allah SWT dengan balasan yang setimpal, akhirnya kepada Allah SWT penulis berserah diri dan mohon ampun dari dosa dan kekhilafan.

Bukittinggi, Juli 2019

Penulis,

DWI REGA RENLI Nim. 4515.016

(11)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

HALAMAN PERSEMBAHAN PERSETUJUAN PEMBIMBING PENGESAHAN TIM PENGUJI

SURAT PERNYATAAN ... i

MOTTO ... ... ii

ABSTRAK iii KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI

BAB I: PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Batasan Dan Rumusan Masalah ... 9

C. Tujuan Dan Kegunaan ... 9

D. Defenisi Operasional ... 10

E. Sistematika Penulisan... 12

BAB II: LANDASAN TEORI

A. Akal 1. Pengertian akal ... 14

2. Keutamaan berfikir dalam Al-qur’an ... 17

3. Peran akal ... 19

B. Wahyu 1. Pengertian wahyu ... 22

2. Fungsi wahyu ... 28

C. Harun Nasution 1. Biografi Harun Nasution ... 30

2. Karya-karya Harun Nasution ... 34

3. Pemikiran Harun Nasution ... 35

D. Buya Hamka

(12)

1. Biografi Buya Hamka ... 37

2. Karya-karya Buya Hamka ... 38

3. Pemikiran Islam Buya Hamka ... 40

E. Peran Akal dan Wahyu Dalam Kalangan Teolog ... 40

F. . Penelitian Relevan ... 50

BAB III: METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian ... 53

B. Pendekatan Penelitian ... 53

C. Sumber Dan Teknik Pengumpulan Data 1. Sumber data ... 54

2. Teknik Pengumpulan Data Dalam Penelitian Pustaka ... 55

3. Teknik Analisis Data ... 55

BAB IV: HASIL PENELITIAN A. Akal dan wahyu dalam Islam menurut Harun Nasution 1. Peran Akal Menurut Harun Nasution ... 58

2. Wahyu Menurut Harun Nasution ... 60

3. Peran Akal dan Fungsi Wahyu Menurut Harun Nasution ... 62

B. Akal dan wahyu dalam Islam menurut Buya Hamka 1. Peran Akal Menurut Buya Hamka ... 68

2. Wahyu Menurut Buya Hamka ... 68

3. Peran Akal dan Fungsi Wahyu Menurut Buya Hamka ... 69

C. Persamaan dan Perbedaan Pemikiran Harun Nasution dan Buya Hamka ... 78

1. Persamaan Pemikiran Harun Nasution dan Buya Hamka ... 79

2. Perbedaan Pemikiran Harun Nasution dan Buya Hamka ... 81

BAB V: PENUTUP A. KESIMPULAN ... 83

B. Saran ... 87

DAFTAR KEPUSTAKAAN

(13)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Agama adalah ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) kepada Tuhan yang maha kuasa, tata peribadatan, dan tata kaidah yang bertalian dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.1 Selain kata agama, dikenal pula kata din (ني ّدلا dari bahasa Arab dan kata religi dari bahasa Eropa. ( Agama berasal dari bahasa Sanskrit. Satu pendapat mengatakan bahwa kata itu tersusun dari dua kata, a = tidak dan gama = pergi, jadi tidak pergi, tetap di tempat, diwarisi turun temurun. Agama memang mempunyai sifat yang demikian. Ada lagi pendapat yang mengatakan bahwa agama berarti teks atau kitab suci. Dan agama- agama memang mempunyai kitab-kitab suci. Selanjutnya dikatakan lagi bahwa gama berarti tuntunan. Memang agama mengandung ajaran-ajaran yang menjadi

tuntunan hidup bagi penganutnya.2

Agama menjadi tuntunan hidup bagi manusia agar kehidupannya dapat berada dalam kebenaran. Agama memiliki petunjuk dan pedoman bagi manusia agar dapat berinteraksi dengan Tuhannya. Agama Islam yang merupakan way of life yang menjamin kebahagiaan hidup bagi pemeluknya di dunia dan akhirat kelak.

Islam mempunyai satu sendi utama yang esensial: berfungsi memberi petunjuk ke jalan yang sebaik-baiknya. Allah berfirman:

1 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia (Jakarta: Pusat Bahasa.

2008) h.18

2 Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya jilid I (Jakarta: UI-Press, 1985) h. 9

(14)

















Artinya: Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang sebaik-baiknya. (QS Al-Isra’ : 9)

Al-Qur’an memberikan petunjuk dalam persoalan-persoalan Aqidah, Syari’ah dan Akhlak dengan jalan meletakkan dasar-dasar prinsipil mengenai persoalan- persoalan tersebut.3 Dan Allah SWT meyerukan kepada manusia supaya mempergunakan akal dalam melihat kebesaran Allah.



























Artinya: Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka[829] dan supaya mereka memikirkan, (QS An-Nahl: 44)



















Artinya: Sungguh telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya? (QS Al-Anbiya’ : 10)

Dari firman Allah di atas dijelaskan bahwa, kita sebagai manusia diwajibkan mempelajari dan memahami apa yang terkandung di dalam Al-Qur’an. Salah satu yang membuat manusia memiliki kelebihan dari makhluk lain adalah manusia dapat berfikir karena manusia diberikan oleh Allah akal sehingga dengan akal tersebut manusia dapat memilih dan menentukan jalannya sendiri. Begitulah Al- Qur’an menganjurkan kepada manusia dalam mempergunakan akal dengan sebaik mungkin supaya manusia dapat memperoleh ilmu pengetahuan dan meningkatkan keimanan kepada Allah SWT.

3 M. Quraish Shihab, Membumikan Al-qur’an Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat (Bandung: Mizan Media Utama, 1992) h. 45

(15)

Manusia adalah makhluk Allah, yang diciptakan di dunia sebagai khalifah.

Manusia lahir, hidup dan berkembang di dunia, sehingga disebut juga makhluk duniawi. Sebagai makhluk duniawi sudah barang tentu bergumul dan bergulat dengan dunia, terhadap segala segi, masalah dan tantangannya, dengan menggunakan budi dan dayanya serta mengunakan segala kemampuannya baik yang bersifat cipta, rasa maupun karsa. Hal ini menujukkan bahwa hubungan manusia dengan dunia itu tidaklah selalu diwujudkan dalam sikap pasif, pasrah, dan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungannya. Tetapi justru harus diwujudkan dalam sikap aktif, memanfaatkan lingkungannya untuk kepentingan hidup dan kehidupannya.4 Manusia yang menggunakan semua kemampuan yang diberikan oleh Allah akan memanfaatkan apa yang ada di lingkungannya, tidak hanya menerima apa yang telah ada di dunia ini.

Dalam perkembangan Islam, akal memainkan peranan penting bukan dalam bidang kebudayaan saja, tetapi juga dalam bidang agama sendiri. Dalam membahas masalah-masalah keagamaan, ulama-ulama Islam tidak semata-mata berpegang pada wahyu, tetapi banyak pula yang bergantung kepada pendapat akal. Peranan akal yang sangat besar dalam pembahasan masalah-masalah keagamaan dijumpai bukan pula hanya dalam bidang filsafat, tetapi juga dalam bidang tauhid, bahkan juga dalam bidang fiqih.5

Penggunaan akal pada masa Rasul telah memberi jalan terhadap kedudukan akal, namun perlu diberi penekanan bahwa kedudukan akal tidak melebihi dari fungsi wahyu, akan tetapi menjadi alat utama untuk memahami wahyu itu sendiri.

4 Muhaimin dkk, Studi Islam dalam Ragam Dimensi dan Pendekatan (Jakarta: Kencana, 2005) h. 333

5 Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam (Jakarta: UI-Press, 1986) h. 71

(16)

Inilah yang menjadi landasan bagi para teolog untuk menyatakan bahwa kedudukan ijtihad sebagai turunan dari akal hanya dapat berlaku pada persoalan yang tidak diatur secara jelas dalam wahyu (Al-Qur’an dan hadist). Landasan ini terlihat pada pola ijtihad dari zaman ke zaman yang tidak memasuki lahan yang telah diatur secara jelas oleh wahyu.6

Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, permasalahan yang dihadapi umat Islam kompleks, masalah yang terjadi antara lain: masalah politik, sosial budaya, ekonomi dan lain-lain sampai saat sekarang ini. Bahkan umat Islam mengalami kemerosotan Iman dan Moral. Dan untuk menyelesaikan masalah tersebut, maka digunakanlah cara-cara mengkaji kembali isi Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan masalah-masalah yang belum memiliki tuntutan penyelesaiannya baik dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah untuk mengatasinya maka muncul lah jalan ketiga yakni dengan ijtihad. Ijtihad adalah upaya yang dilakukan guna untuk mencapai pengetahuan tentang ajaran Nabi Muhammad Saw dengan tujuan mengikuti ajaran beliau, di samping mengaitkan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.7

Permasalahan yang terjadi bukan diakibatkan oleh pertentangan atau perselisihan antara akal dan wahyu, tetapi pertentangan tersebut terjadi karena perbedaan penafsiran pemikir-pemikir Islam tersebut. Setiap orang berhak untuk menyatakan pendapatnya mengenai hubungan akal dan wahyu. Dia bebas dan berhak menyatakan apa yang dianggapnya benar.

6 Subehan Khalik, Menguak Eksistensi Akal dan Wahyu dalam Hukum Islam (Jurnal, Al-Daulah Vol. 6/ No. 2/ Desember 2007) h.365

7 M.Quraish Shihab, Membumikan Al-qur’an (Bandung: Mizan, 2005) h. 34

(17)

Dalam pandangan Islam ada dua jalan untuk memperoleh ilmu pengetahuan, pertama, jalan wahyu dalam arti komunikasi antara manusia dengan Tuhan. Kedua, melalui akal yang dianugerahkan Allah kepada manusia dengan memakai kesan- kesan yang diperoleh panca indra (penelitian dan pengamatan terhadap alam) untuk mengambil kesimpulan-kesimpulan.8

Akal dan wahyu memiliki kontribusi dalam kehidupan manusia karena dua hal tersebut merupakan jalan untuk memperoleh ilmu pengetahuan dalam memecahkan permasalahan yang terjadi dalam kehidupan. Akal merupakan alat untuk memahami isi kandungan wahyu, sedangkan wahyu sebagai pedoman bagi akal supaya akal tidak tersesat dari jalannya. Dengan demikian, akal dan wahyu memiliki hubungan yang sangat erat dalam perjanan hidup manusia.

Kedudukan tinggi bagi akal dan perintah menuntut ilmu pengetahuan sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur’an dan Hadist, bukan hanya merupakan ajaran dalam teori, tetapi ajaran yang telah pernah diamalkan oleh cendikiawan dan ulama Islam zaman klasik yang terletak antara abad VII dan abad XIII Masehi.9

Persoalan akal dan wahyu menjadi tema utama perbincangan para cendikiawan muslim. Diantara nya Harun Nasution dan Buya Hamka, kedua tokoh ini sama-sama berasal dari Indonesia. Dalam pemikiran mereka menjelaskan akal dan wahyu, fungsi, hubungan dan batasan-batasannya dalam Islam.

Harun Nasution dikenal sebagai salah seorang tokoh pembaharuan Islam di Indonesia adalah seorang intelektual muslim Indonesia yang memberikan perhatian

8 Harun Nasution, Akal dan Wahyu... h. 1

9 Harun Nasution, Akal dan Wahyu... h.52

(18)

terhadap akal dan wahyu. Sebagai bukti otentik bahwa Harun Nasution adalah tokoh yang mendalami konsep akal dan wahyu dalam bukunya yang berjudul Akal dan Wahyu dalam Islam, dalam buku ini dia kembali mempertegas hubungan akal dan wahyu yang diakui selalu menimbulkan persoalan-persoalan seperti fungsi dan hubungan akal terhadap wahyu dalam memperoleh ilmu pengetahuan.10 Sosok seorang Harun Nasution yang berusaha untuk memajukan umat Islam dan mengejar ketertinggalan dari Barat.11

Harun Nasution berupaya merasionalkan pemikiran umat Islam yang hanya lebih mengikuti apa yang telah ada. Itulah yang menyebabkan kemunduran umat Islam karena kurangnya mengoptimalkan potensi akal yang dimiliki.

Harun Nasution menyatakan bahwa akal mengandung arti mengerti, memahami dan berfikir.12 Menurutnya akal terbagi 2 kategori, yaitu:

1) Akal praktis yang diartikan sebagai akal yang menerima arti-arti yang berasal dari materi melalui indra pengingat yang berada di jiwa binatang.

2) Akal teoritis dimaksud sebagai akal yang menangkap arti-arti murni, arti-arti yang tidak pernah ada dalam materi.13

Dalam membagi akal menjadi 2 bagian tersebut, Harun Nasution bermaksud membedakan akal binatang dan akal manusia. Binatang memiliki kemampuan dalam dirinya melalui indra pengingat, sedangkan manusia hanya memiliki daya fikir.

10 Efrianto Hutasuhut, “akal dan wahyu dalam Islam (perbandingan pemikiran Harun Nasution dengan muhammad Abduh)” skripsi, pemikiran Islam.2017. h.3

11 Maria Ulfah, ”akal dan wahyu dalam Islam(perbandingan pemikiran muhammad Abduh dengan Harun Nasution)” skripsi, aqidah dan filsafat. 2009. h.6

12 Harun Nasution, Akal dan Wahyu ... h. 7

13 Harun Nasution, Akal dan Wahyu ... h. 10

(19)

Tokoh yang juga membahas tentang akal dan wahyu yaitu Buya Hamka merupakan salah seorang yang dikenal oleh masyarakat luas sebagai orang yang mempunyai integritas tinggi dalam bidang moral dan keilmuan. Ia adalah seorang tokoh cendikiawan dan ulama terkemuka di Indonesia.14 Baliau tokoh yang kaya akan tulisannya yang mengambarkan banyaknya ilmu yang ada pada diri beliau. Tulisannya tidak hanya dalam bidang kagamaan saja, tetapi juga dalam bidang sastra, budaya, sejarah dan politik.

Bagi Buya, akal merupakan anugerah Tuhan dengan kekuatannya. Buya memberikan pandangan tentang kemampuan akal, akal alat untuk berfikir, dialah dulu hikmah, untuk mencapai kebahagiaan dunia dan agama ialah dengan jalan melalui jembatan akal. Dengan akal meningkat tangga mengenal Tuhan dan dengan diatur rahasia pendirian alam. Diberikan-Nya kepada hamba seorang satu. Dengan akal membongkar rahasia yang tersembunyi dengan akal terbuka hijab yang tertutup.15 Buya sangat menjunjung tinggi akal, dengan akal kita dapat menghubungkan sesuatu untuk mencari jalan yang terbaik mengetahui Tuhan.

Perpaduan kedua pemikiran tokoh tersebut tentang akal dan wahyu sangat menarik. Harun Nasution dan Buya Hamka sangat tertarik membahas tentang akal dan wahyu, dapat dibuktikan dengan adanya karya Harun Nasution yang berjudul Akal dan Wahyu dalam Islam, Islam Rasional Gagasan dan Pemikiran, Teologi Islam dan Aliran-Aliran Sejarah Analisis Perbandingan, dan Sejarah Pemikiran dalam Islam.

Karya Buya Hamka berjudul Filsafat Hidup, Falsafah Ketuhanan, Pelajaran Agama

14 Abd Haris, Etika Hamka Konstruksi Etika Berbasis Rasional-Religius (yogyakarta:

LkiS, 2010) h.1

15 Hamka, Falsafah Hidup (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1994) h. 48

(20)

Islam, dan Tasawuf Modern. Mereka memiliki konsep pemikiran yang rasionalisme, lebih mengutamakan rasio atau akal dalam mengatasi masalah dan tidak meninggalkan wahyu.

Pada konteks saat ini, tema akal dan wahyu ini penting untuk dibahas kembali karena masih mengemukanya sikap taklid di tengah masyarakat, menguatnya kelompok-kelompok fundamentalis yang hanya merujuk Al-Qur’an dan Hadist dan meremehkan fungsi akal. Dan adanya tafsiran-tafsiran literalis yang hanya menafsirkan secara tekstual dan bukan kontekstual. Berdasarkan permasalahan yang terjadi pada saat sekarang ini, maka penulis tertarik untuk melakukan riset tentang Akal dan Wahyu dalam Islam dan meneliti titik persamaan dan perbedaan pemikiran Harun Nasution dan Buya Hamka dalam memahami akal tersebut. Penelitian ini berjudul “Akal dan Wahyu dalam Islam (Perbandingan Pemikiran Harun Nasution dan Buya Hamka).

B. Batasan Dan Rumusan Masalah 1. Batasan Masalah

a) Konsep akal dan wahyu dalam Islam menurut Harun Nasution dan Buya Hamka b) Persamaan dan perbedaan pemikiran Harun Nasution dan Buya Hamka

tentang konsep akal dan wahyu dalam Islam 2. Rumusan Masalah

4. Bagaimana konsep akal dan wahyu dalam Islam menurut Harun Nasution dan Buya Hamka.?

5. Apa persamaan dan perbedaan pemikiran Harun Nasution dan Buya Hamka tentang konsep akal dan wahyu dalam Islam.?

(21)

C. Tujuan Dan Kegunaan

Sebagai konsekuensi dari rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan dan berguna untuk:

a. Tujuan

a) Untuk mengetahui bagaimana konsep akal dan wahyu dalam Islam menurut Harun Nasution dan Buya Hamka.

b) Untuk mengetahui Persamaan dan perbedaan pemikiran Harun Nasution dan Buya Hamka tentang konsep akal dan wahyu dalam Islam

b. Kegunaan a) Bagi peneliti

1) Untuk menambah wawasan keilmuan dalam bidang Teologi.

2) Dalam bidang akademik, untuk memenuhi syarat mencapai gelar sarjana setelah selesainya penelitian ini.

b) Bagi masyarakat, agar masyarakat tidak mempunyai sifat taklid tetapi memahami sesuatu menggunakan Al-Qur’an, Hadist dan akal.

D. Defenisi Operasional a. Akal

Kata لقع mengandung arti mengerti, memahami dan berfikir.16 Kata akal yang sudah menjadi kata Indonesia, berasal dari kata Arab al-‘aqal ( لقعلا ) yang dalam bentuk kata benda, dan tidak terdapat dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an hanya membawa bentuk kata kerjanya ‘aqaluh ( هولقع ) dalam 1 ayat, ta’qilur ( رولقعت ) 24 ayat, na’qil ( لقعن ) 1 ayat. Ya’qiluha ( اهلقعي ) 1 ayat dan ya’qilun ( نولقعي ) 22 ayat.

16 Harun Nasution, Akal dan Wahyu ... h. 7

(22)

Kata-kata itu datang dalam arti faham dan mengerti. Sebagai contoh dapat disebut ayat-ayat berikut:17









































Artinya: Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?.(QS Al-Baqarah: 75)

















































Artinya: Maka Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar.?

karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.(Al-hajj: 46)

















Artinya: Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya (hukum- hukum-Nya) supaya kamu memahaminya. (Al-baqarah: 242)



















Artinya: Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.(Al-

‘Ankabut: 43)

17 Harun Nasution, Akal dan Wahyu ... h. 5-6

(23)

Pengertian akal dapat dijumpai dalam penjelasan Ibnu Taimiyah. Lafaz akal adalah lafaz yang mujmal (bermakna ganda) sebab lafaz akal mencakup tentang cara berpikir yang benar dan cara berpikir yang salah. Adapun cara berpikir yang benar adalah cara berpikir yang mengikuti tuntunan yang telah ditetapkan dalam syari’at. Sedangkan cara berpikir yang salah adalah jika ada pemikiran yang bertentangan dengan akal maka akal tersebutlah yang salah yang mengikuti cara berpikir yang salah.18

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, akal adalah daya pikir19. Daya Pikir untuk memahami sesuatu atau kemampuan melihat cara-cara memahami lingkungannya. Dalam penelitian ini, yang dimaksud dengan akal menurut peneliti adalah daya pikir untuk memahami sesuatu yang didalamnya terdapat kemungkinan bahwa pemahaman yang didapat oleh akal bisa salah atau bisa benar. Dalam penelitian ini hanya terbatas pada penggunaan kata akal.

b. Wahyu

Kata wahyu berasal dari mashdar يحو لا yang menunjukkan dua pengertian dasar, yaitu tersembunyi dan cepat. Oleh sebab itu, wahyu dapat diartikan sebagai “pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat serta khusus, ditunjukkan kepada orang yang diberitahu tanpa diketahui oleh orang lain.20 Istilah wahyu

18 Ibnu Taimiyah, Hukum Islam dalam Timbangan Akal dan Hikmah juga yang menyigung mengenai nash Alqur’an dengan Akal, (Beirut: Al-Maktabah Risalah, 1987), h. 18.

19 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia.... h.25

20 Abdul hamid, Pengantar Studi Al-Qur’an (Jakarta:Prenamedia Group, 2016) h.65

(24)

menunjukkan kepada nama-nama yang lebih populer seperti Al-Kitab, Al-Qur’an, risalah, dan balagh. Penamaan ini menujukkan kepada teks.21

Wahyu menurut Al-Qatthan adalah sebuah isyarat cepat yang dapat terjadi melalui proses pembicaraan berupa suara, rumus, lambang, dan bahkan bisa terjadi lewat isyarat anggota badan.22

E. Sistematika Penulisan

Supaya pembaca tidak kesulitan dalam memahami karya ilmiah ini, penulis akan menyusun bab dan sub bab secara sistematis supaya tidak ada keraguan atau kesalahpahaman dalam memahami.

Bab I: berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah dan batasan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, definisi operasional, dan sistematika penulisan.

Bab II: landasan teori yang menjelaskan tentang konsep akal, wahyu, dan biografi, karya dan pemikiran secara umum kedua tokoh.

Bab III:berisi tentang metodologi penelitian untuk mempermudah penulis dalam melakukan riset antara pemikiran kedua tokoh.

Bab IV: berisi tentang pemikiran Harun Nasution dan Buya Hamka tentang akal dan wahyu serta persamaan dan perbedaan pemikiran kedua tokoh tersebut.

Bab V: penutup berisi tentang kesimpulan dan saran

21 Adeng Mukhtar Ghazali, Perkembangan Ilmu Kalam Dari Klasik Hingga Modern (Bandung: Pustaka Setia 2013) h.64

22 Abdul Hamid, Pengantar Studi Al-Qur’an… h.65

(25)

BAB II LANDASAN TEORI

A. Akal

1) Pengertian Akal

Secara etimologi, kata ‘aqala berarti mengikat dan menahan. Maka tali pengikat surban, yang terkadang berwarna hitam dan terkadang berwarna emas, yang dipakai di Arab Saudi dan lain-lain, disebut ‘iqal. Al-‘Aql juga dapat diartikan sebagai Al-hijr (menahan) dan al-‘aqil adalah orang-orang yang menahan diri dan mengekang hawa nafsu. Pada sisi lain al-‘aql juga dapat berarti kebijaksanaan, sebagai lawan dari lemah fikiran, dan seterusnya al-‘aql juga dapat berarti kalbu.23

Dalam bahasa arab, akal diartikan kecerdasan, lawan kebodohan, dan diartikan pula dengan hati (qalb), suatu kekuatan yang membedakan manusia dari semua jenis hewan.24 Dalam Al-Qur’an sebagaimana dijelaskan dalam Q.S Al-Hajj ayat 46: pengertian, pemikiran, pemahaman dan pemikiran dilakukan melalui Qalbu yang terpusat di dada. Ayat-ayat berikut juga menjelaskan demikian:















































Artinya: Maka Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.( Q.S Al-Hajj :46)

23 Syahrin Harahap dan Hasan Bakti Nasution, Ensiklopedi Aqidah Islam (Jakarta:

Kencana 2003) h. 34

24 Adeng Mukhtar Ghazali, Perkembangan Ilmu Kalam Dari Klasik Hingga Modern (Bandung: Pustaka Setia 2013) h.67

(26)

Akal adalah “daya pikir yang bila digunakan dapat mengantar seseorang untuk mengerti dan memahami persoalan yang dipikirkannya,” bukan dalam arti akal yang ditunjuk oleh firman Allah yang merekam ucapan orang-orang durhaka kelak:25

























Artinya: Dan mereka berkata: "Sekiranya Kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah Kami Termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala" (Q.S al-Mulk:10)

Kata na’qli (kami berakal) di sini, sejalan dengan makna kebahasannya yaitu

‘aql/akal (لقع) yang berarti tali pengikat. Ia adalah potensi manusiawi yang berfungsi sebagai tali pengikat yang menghalanginya terjerumus dalam dosa dan kesalahan. Akal semacam itulah yang menjadi tujuan dan yang harus diusahakan untuk meraihnya, karena yang demikian itulah yang menyelamatkan seseorang.

Tanpa akal, siapapun akan terjerumus walau memiliki pengetahuan teoritis yang sangat dalam.26

Dalam buku Quraish Shihab yaitu logika agama kedudukan wahyu dan batas-batas akal dalam Islam, Al-Harits bin Asad al-Muhasiby, seorang sufi besar sekaligus pakar hukum dan hadist serta sastrawan yang wafat di Baghdad pada tahun 857 M berkata bahwa: “akal adalah insting yang diciptakan Allah swt, pada kebanyakan makhluk-Nya, yang (hakikatnya) oleh hamba-hamba-Nya, baik melalui (pengajaran) sebagian untuk sebagian yang lain, tidak juga mereka secara

25 Quraish Shihab, Logika Agama: Kedudukan Wahyu dan Batas-Batas Akal dalam Islam (Jakarta: Lentera Hati, 2006) h.88

26 Quraish Shihab, Logika Agama: Kedudukan ...h.88

(27)

berdiri sendiri (mereka semua) tidak dapat menjangkaunya dengan pandangan, indra, rasa, atau cicipan. Allah yang memperkenalkan (insting itu) melalui akal itu (dirinya sendiri)”.27

Lebih lanjut al-Muhasiby berkata ”dengan akal itulah hamba-hamba Allah mengenal-Nya. Mereka menyaksikan wujud-Nya dengan akal itu, yang mereka kenal dengan akal mereka juga dan dengannya mereka mengetahui apa yang bermanfaat bagi mereka dan dengannya pula mereka mengetahui apa yang membahayakan bagi mereka. Karena itu siapa yang mengetahui dan dapat membedakan apa yang bermanfaat dan apa yang berbahaya baginya dalam urusan kehidupan dunianya, maka dia telah mengetahui bahwa Allah telah menganugerahinya dengan akal yang dicabutnya dari orang gila atau yang tersesat dan juga dari sekian banyak orang picik yang hanya sedikit memiliki akal.

Ada lagi yang berpendapat bahwa akal terdiri dari dua macam. Akal yang merupakan anugerah Allah dan akal yang diperoleh dan dikembangkan oleh manusia melalui penalaran, pendidikan, dan pengalaman hidup.28

Dalam buku Quraish Shihab, Al-Ghazali juga mengingatkan bahwa kata

“akal” mempunyai banyak pengertian. Ia dapat berarti potensi yang membedakan manusia dari binatang dan yang menjadikan manusia mampu menerima berbagai pengetahuan teoritis. Maka ini tidak jauh berbeda dengan pendapat al-Muhasiby di atas. Akal juga berarti pengetahuan yang juga dicerna oleh seorang anak yang telah mendekati usia dewasa, dimana, misalnya ia dapat mengetahui bahwa

27 Quraish Shihab, Logika Agama: Kedudukan ...h.86

28 Quraish Shihab, Logika Agama: Kedudukan ...h.87

(28)

sesuatu tidak mungkin ada pada sesuatu yang pada saat yang sama ia tidak ada juga di tempat itu, atau dua itu lebih banyak dari satu. Makna ketiga dari akal, menurut al-Ghazali, adalah pengetahuan yang diperoleh seseorang berdasarkan pengalaman yang dilaluinya dan yang pada gilirannya memperhalus budinya.

Menurut kebiasaan, orang yang demikian ini dinamakan “orang berakal” sedang orang yang kasar budinya dinamai “tidak berakal” maka keempat dari akal adalah kekuatan insting yang menjadikan seseorang mengetahui dampak semua persoalan yang dihadapinya, lalu mampu menekan hawa nafsunya serta mengetasinya agar tidak terbawa larut olehnya.29

Dari pengertian diatas dapat kita simpulkan bahwa orang yang berakal dapat mengendalikan hawa nafsunya terhadap persoalan yang menyimpang, sehingga hawa nafsu tidak menguasai dirinya.

2) Keutamaan Berpikir Dalam Al-Qur’an

Dalam Al-Qur’an, kata-kata “aqal” (akal) yang dihubungkan dengan tingkah laku dan perbuatan manusia disajikan dengan berbagai bentuk sebagai berikut:

‘aqoluuhu’ sebanyak 1 kali; ta’qiluuna sebanyak 24 kali yang pada umumnya dihubungkan dengan kata harapan (raja’) seperti la’allakum ta’qiluuna dan kata tanya (istifham) seperti afalaa ta’qiluuna; ya’qiluuna sebanyak 22 kali: 10 kali dalam bentuk positif, dan 12 kali dalam bentuk negatif; laa ya’qiluuna; na’qilu sebanyak 1 kali; dan ya’qiluha sebanyak 1 kali.30 Kata-kata itu datang dalam arti paham dan mengerti. Sebagai contoh dapat disebut ayat-ayat berikut:

29 Quraish Shihab, Logika Agama: Kedudukan...h. 87

30 Adeng Mukhtar Ghazali, Perkembangan Ilmu Kalam... h.70

(29)









































Artinya: Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, Padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?.(QS Al-Baqarah: 75)

















































Artinya: Maka Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar?

karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.(Al-hajj: 46)

















Artinya: Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya (hukum- hukum-Nya) supaya kamu memahaminya. (Al-baqarah: 242)



















Artinya: Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.(Al-

‘Ankabut: 43)

Pentingnya akal bagi manusia yang bisa digunakan untuk berfikir dalam menyelesaikan masalah dengan cara yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah

(30)

dan tidak bertentangan dengan keduanya. Begitu banyak nya ayat Al-Qur’an yang menyuruh manusia untuk memahami dan mempergunakan akal pikiran nya.

3) Peran Akal

Akal adalah ciri khas manusia yang membedakannya dari makhluk lain.

Karena memiliki kemampuan berfikir itu pulalah manusia merupakan makhluk yang dimuliakan Allah SWT.31 Seperti dijelaskan dalam Al-qur’an,





































Artinya: Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.

Begitu tingginya kedudukan akal dalam mempergunakan akal pikiran dan berpikir. Faktor kemampuan berpikir yang diberikan Allah kepada manusia, manusia diberikan amanah kekhalifahan untuk menjaga bumi, sebab dengan berpikir manusia dapat menyerap ilmu pengetahuan dan mengajarkannya kepada generasi selanjutnya.

Akal merupakan sumber ilmu yang kedua dalam Islam. akal manusia ditakdirkan dan disetting oleh Allah agar mampu menemukan pengetahuan berbagai perangkat kasar dan perangkat lunak telah Allah siapkan untuk tujuan

31 Daud Rasyid, Islam Dalam Berbagai Dimensi (Jakarta: Gema Insani Press, 1998) h.

87

(31)

itu. Sebab dalam Islam, akal adalah kunci penugasan manusia (manath at-takhlif).

Tanpa akal, manusia tidak dapat dibebani dengan hukum-hukum syari’at.

Metode akal dalam menangkap pengetahuan melalui 3 jalur32:

a. Melalui indra yang dapat berupa penglihatan dan pendengaran. Informasi itu diteruskan ke akal dan diterjemakannya secara benar.

b. Melalui logika, seperti 3>2. Seseorang mustahil berada di dua tempat dalam waktu yang sama.

c. Melalui berita yang disampaikan oleh orang lain. Kebenaran pengetahuan ini tergantung pada kebenaran narasumbernya. Dalam kaitan ini Islam sangat berjasa merumuskan disiplin ilmu yang dapat menguji kebenaran suatu informasi.

Dalam Islam, akal tidak dibiarkan berjalan tanpa arah, ia harus terpelihara atas dasar-dasar pemikiran yang sehat. Salah satu cara agar terpelihara sesuai dengan naql-nya adalah seruannya kepada akal untuk melihat kepada penciptaan langit dan bumi. Sebab, semakin bertambah pengetahuan akal tentang rahasia keduanya, akan semakin bertambah pula pengetahuan tetang sang pencipta dan pengaturan-Nya. Salah satu seruannya itu terdapat dalam surat Ar-Ra’d ayat 3:



















































Artinya: Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam

32 Daud Rasyid, Islam Dalam Berbagai... h. 91

(32)

kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

Pada Ayat lain, Al-Qur’an mendidik akal lebih jauh lagi, yakni membawanya kepada tingkat pendidikan yang lain yaitu kepada Allah sendiri dengan suatu penjelasan yang argumentatif dan rasional bahwa langit dan bumi tidak akan mendapat kestabilannya kecuali dengan satu Tuhan, dalam surat Al-Anbiyaa ayat 22 ditegaskan:





























Artinya: Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah Rusak binasa. Maka Maha suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.

Pada kelahiran Nabi Isa terdapat pelajaran penting bagi akal untuk mengenal rahasia kekuasaan Illahi. Kelahiran ini menggegerkan masyarakat Bani Israil yang telah mampu membangun dunia dan menguasainya, karena akal mereka tidak mampu menyerap hakikat kekuatan yang agung dibalik segala sesuatu yang ada (maujud). Dalam surat Ali-Imran ayat 59 ditegaskan:

































Artinya: Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), Maka jadilah Dia.

(33)

Dari ayat itu akal memperoleh pelajaran pertama tentang iman kepada yang gaib, keimanan yang mengajak akal mempercayai sesuatu dibalik alam raya ini, yaitu surga dan neraka, kebangkitan dan nusyur, hisab, pahala, siksa, malaikat, dan rasul-rasul. Semua itu adalah perkara-perkara yang menuntut ketaatan dan keimanan.33

Dari apa yang dijelaskan diatas akal mempunyai kekuatan yang tinggi.

Dengan meneliti alam sekitar dapat sampai ke alam abstrak. Oleh karena itu, Al- Qur’an mengajarkan penggunaan akal dan meneliti fenomena alam untuk sampai kepada rahasia-rahasia yang terletak dibelakangnya. Dengan cara inilah akal sampai kepada kesimpulan bahwa bagi alam nyata ini harus ada pencipta. Oleh karena itu, soal-soal keagamaan seperti adanya Tuhan dan kekuasaan-Nya mengirim rasul tidak dapat diyakini kecualai melalui pertolongan akal. Pengiriman rasul diperlukan bukan untuk mengetahui adanya Tuhan, tetapi untuk mengetahui sifat-sifat-Nya. Tidak dapat di elakkan bahwa akal dengan sendirinya dapat sampai kepada keyakinan tentang adanya Tuhan.34

B. Wahyu

1. Pengertian wahyu

Kata wahyu berasal dari mashdar al-wahy yang menunjukkan dua pengertian dasar, yaitu tersembunyi dan cepat. Oleh sebab itu, wahyu dapat diartikan sebagai “pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat

33 Adeng Mukhtar Ghazali, Perkembangan Ilmu Kalam... h.68-69

34 Adeng Mukhtar Ghazali, Perkembangan Ilmu Kalam... h.70

(34)

serta khusus”, ditunjukkan kepada orang yang diberitahu tanpa diketahui oleh orang lain.

35

Dalam konsep linguistik, wahyu memiliki dua aspek pengertian yang berbeda, tetapi sama-sama penting. Salah satu aspek tersebut adalah menyangkut konsep firman (kalam). Menurut pengertian teknis yang sempit, istilah “firman” dapat dibedakan dengan “bahasa”

(lisan).

36

Secara istilah wahyu didefenisikan sebagai kalam Allah yang diturunkan kepada seorang nabi. Defenisi ini menggunakan pengertian maf’ul, yaitu al-muha (yang diwahyukan). Dalam buku Abdul Hamid yaitu pengantar studi Al-Qur’an, Muhammad Abduh membedakan antara wahyu dengan ilham. Ilham menurutnya adalah intuisi yang diyakini jiwa sehingga terdorong untuk mengikuti apa yang diminta, tanpa mengetahui dari mana datangnya. Hal seperti itu berupa dengan rasa lapar, haus, sedih dan senang.37

Semua agama samawi bedasarkan wahyu. Para nabi adalah seorang manusia yang diberi kemampuan untuk berhubungan dengan Allah. Wahyu diturunkan kepada Nabi Muhammad dinamakan Al-Qur’an. Adapun definisi Al- Qur’an adalah kalam Allah SWT yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, dan merupakan petunjuk bagi kehidupan.

Penamaan wahyu yang diturunkan kepada nabi Muhammad dengan al- Qur’an memiliki bahwa wahyu tersimpan dalam dada manusia karena nama al-

35 Abdul Hamid, Pengantar Studi Al-Qur’an (Jakarta, Prenamedia Group: 2016) h. 65

36 Adeng Mukhtar Ghazali, Perkembangan Ilmu Kalam... h.65

37 Abdul Hamid, Pengantar Studi Al-Qur’an... h. 71

(35)

Qur’an sendiri berasal dari kata qira’ah (bacaan) dan dalam arti kata qira’ah terkandung makna agar selalu diingat.38

Selain dinamakan al-Qur’an, wahyu yang diturunkan kepada nabi Muhammad memiliki nama-nama lain, yaitu diantaranya:

1. Al-Kitab berarti tulisan, terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 2

















Artinya: Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.

2. Al-Risalah berarti surat atau warta, terdapat dalam surat Al-Ahzab ayat 39



















 









Artinya: (yaitu) orang-orang yang menyapaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. dan cukuplah Allah sebagai Pembuat perhitungan.

3. Suhuf berarti lembaran-lembaran, terdapat dalam surat A’abasa ayat 39 4. Al-Furqan berarti pembeda karena membadakan antara yang hak dan batil,

antara yang baik dan yang buruk, terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 185



























































38 Hamzah Ya’qub, Filsafat Agama, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1991), h. 132.

(36)

































Artinya: (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).

karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.

dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

5. Al-Dzikr berarti peringatan, terdapat dalam surat Shad ayat 1

 









Artinya: Shaad, demi Al Quran yang mempunyai keagungan.

6. Al-Huda berarti petunjuk karena memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus dan benar, terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 185



























































































Artinya: (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).

(37)

karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.

dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

7. Al-Nur berarti cahaya karena mengeluarkan manusia dari kegelapan pikiran kepada kebenaran, terdapat dalam surat Al- An’am ayat 91













































































 













Artinya: Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: "Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia". Katakanlah: "Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya, Padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak- bapak kamu tidak mengetahui(nya) ?" Katakanlah: "Allah-lah (yang menurunkannya)", kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya[491].

8. Al-Syifa’ berarti penawaran atau obat karena berisi penawaran penyakit rohani seperti keresahan, kegelisahan kecemasan dan sebagainya, terdapat dalam surat Al-Fushilat ayat 44

(38)































































Artinya: Dan Jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (Rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: "Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka.

mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh".

Wahyu Allah diturunkan kepada utusan-Nya khususnya kepada Nabi Muhammad pada garis besarnya berisi: aqidah, prinsip-prinsip keimanan yang perlu diyakini oleh setiap mukmin: hukum-hukum syari’at yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alamnya: akhlak, tuntunan budi pekerti luhur; ilmu pengetahuan; sejarah umat-umat terdahulu, sebagai pelajaran; informasi hal-hal yang akan terjadi pada masa yang akan datang.39

Sementara mengenai turunnya wahyu terjadi dengan tiga cara, yakni, pertama dalam bentuk ilham, yaitu diterima langsung dari Allah melalui pusat kesadaran jiwa Nabi, kedua melalui belakang tabir, seperti yang dialami oleh Nabi Musa a.s dan ketiga melalui malaikat Jibril yang memang diutus Tuhan untuk

39 Hamzah Ya’qub, Filsafat Agama... h. 131.

Gambar

Tabel perbandingan fungsi akal dan wahyu antar pemikiran Harun Nasution dan  Buya Hamka

Referensi

Dokumen terkait

 Secara umumnya: Akhlak ialah suatu hal yang tetap dalam jiwa manusia yang membawa kepada lahirnya perbuatan sama ada baik atau buruk.. Perbuatan yang wujud

Begitu pula dalam menjelaskan persoalan kebaikan dan keburukan, serta melakukan perbuatan baik dan menghindari yang buruk, Abdul Halim mengatakan, akal manusia

Mengingat luasnya permasalahan seperti yang dijelaskan di atas, maka ruang lingkup dalam penelitian ini dibatasi pada pembahasan mengenai pemikiran Syed Muhammad

disandarkan kepada nabi Muhammad Shallallahu‘alaihiwasallam baik perkataan, perbuatan bahkan taqrir sekalipun, karena sunnah merupakan prinsip yang harus di ikuti

25 Jika kata tersebut diungkapkan dalam bentuk na- kirah, menunjuk pada perbuatan secara umum, yaitu segala usaha yang dilakukan manusia, baik berkualitas maupun yang buruk..

Manakala Etika pula untuk menentukan nilai perbuatan seseorang manusia sama ada baik ataupun buruk perlakuan individu tersebut adalah dengan menggunakan

Dengan demikian, mereka mampu berperan dalam setiap bidang kehidupan dengan sebaik- baiknya.Jadi, inti bangunan konsep pemikiran pendidikan Islam menurut Buya Hamka

• Uang buruk merusak uang baik Mengenai uang buruk merusak uang baik, Ibnu Taimiyyah mengatakan jika penguasa membatalkan penggunaan mata uang koin tertentu dan mencetak jenis mata