ETIKA MAKAN DAN MINUM DALAM AL-QUR’AN PERSPEKTIF TAFSIR AL-AZHAR KARYA BUYA HAMKA
(Studi Tafsir Tematik)
SKRIPSI
Oleh:
Khoribul Anam Ma’ruf NIM. 301190042
Pembimbing:
Umi Kalsum, M.S.I NIP. 2005078001
JURUSAN ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB, DAN DAKWAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PONOROGO
2023
ABSTRAK
Ma’ruf, Khoribul A. 2023. Etika Makan dan Minum Dalam Al-Qur’an Perspektif Tafsir Al-Azhar Karya Buya Hamka (Studi Tafsir Tematik) . Skripsi.
Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah. Institut Agama Islam Negeri Ponorogo, pembimbing Umi Kalsum M.S.I
Kata kunci : Etika, Makan dan Minum, Tafsir Al-Azhar.
Permasalahan umum yang di angkat peneliti disini adalah persoalan yang berkaitan dengan etika makan dan minum pada zaman sekarang ini. Dimana tujuan etika makan dan minum adalah sebagai aktivitas pendidikan dan menjalin kasih sayang antar manusia. Jadi, perlu adanya aturan untuk mencapai tujuan tersebut dengan baik sesuai adab dan perilaku dimasyarakat pada saat ini. Untuk itu, peneliti ingin mengambil pemikiran Buya Hamka, dikarenakan tafsir ini termasuk tafsir modern dan sangat cocok pada kondisi masyarakat pada saat ini.
Masalah penelitian Pertama, Apa saja ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang etika makan dan minum. Kedua, Bagaimana penafsiran Buya Hamka tentang etika makan dan minum dalam Tafsir Al-Azhar. Ketiga, Bagaimana nilai kontekstualisasi pandangan Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar terkait etika makan dan minum pada zaman sekarang. Penelitian ini termasuk kepustakaan (library reseach). Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode Tafsir mauḍū’i.
Adapun beberapa langkah-langkahnya antara lain: menetukan topik bahasan, menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan topik, menyusun urutan berdasarkan turunnya dan azbabun nuzulnya, memahami korelasi antar ayat, menyusun kerangka pembahasan, mengompromikan mana yang umum dan mana yang khusus, dan yang terahir mengambil kesimpulan tanpa ada paksaan maupun kesimpulan yang menggambarakan jawaban Al-Qur’an terhadap topik masalah yang dibahas
Hasil dari penelitian ini adalah 1). Dalam Al-Qur’an setidaknya ada 6 ayat yang berbicara tentang etika makan dan minum yang meliputi beberapa hal diantaranya sebagai berikut: (1). Q.S Al-Baqarah: 60. (2). Q.S Al-Baqarah: 187.
(3). Q.S Al-A’raf: 31. (4). Q.S At-Tur: 19. (5). Q.S Al-Haqqah: 24. (6). Q.S Al- Mursalat: 43. 2). Penafsiran Buya Hamka tentang etika makan dan minum menjelaskan bahwa sebuah perintah yang diberikan oleh Allah SWT kepada hambanyauntuk selalu memperhatikan persoalan makanan.3).Nilai kontekstualisasi etika makan dan minum dalam tafsir Al-Azhar menurut Buya Hamka pada zaman sekarang yakni jangan melakukan perbuatan yang buruk dalam hal etika makan dan minum seperti halnya perbuatan yang berlebihan-lebihan perihal makanan. Untuk itu dalam merealisasikan sebuah nilai kontekstualisasi dari pada berlebih-lebihan maka sebaikanya di sedekahkan bagi orang-orang yang mebutuhkan.
ETIKA MAKAN DAN MINUM DALAM AL-QUR’AN
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an merupakan karunia teragung yang diberikan oleh Allah SWT kepada umat Muslim. Secara harfiah Al-Qur’an adalah bacaan yang sempurna, tiada bacaan seperti Al-Qur’an yang dipelajari bukan hanya susunan redaksi dan pemilihan kosakatanya, tetapi juga kandungan yang tersurat, tersirat bahkan sampai kepada kesan yang ditimbulkannya. Di dalam Al-Qur’an terdapat banyak petunjuk kajian dan kandungan meliputi berbagai aspek, mulai dari kisah dan sejarah masa lalu umat manusia, kejadian alam, kejadian manusia, fenomena alam, janji dan ancaman, hukum, hingga akhir alam raya dan nasib umat manusia di kemudian hari dan lain sebagainya. Semua itu disajikan dengan gaya bahasa yang indah lagi memikat bagi mereka yang memahami aspek sastra bahasa Arab.1
Sebagai kitab petunjuk, Al-Qur’an bukan hanya memuat petunjuk- petunjuk tentang hubungan manusia dengan Tuhannya saja, Akan tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Termasuk ajaran Islam sejatinya mengajak dalam kebaikan. Segala sesuatu dalam Islam di atur dengan baik, bahkan etika dan norma-norma dalam kehidupan sosial.
Hal itu sebagai dasar adanya hablumminallah (Hubungan manusia dengan Allah) dan hablumminnas (Hubungan kepada manusia dengan sesama
1 Akmalin Noor Ahmad Fuad Muklis, Al-Qur’an Tematis Kisah-Kisah Dalam Al-Qur’an (Jakarta: Simaq, 2010). Vii.
manusia). Termasuk di dalamnya etika makan dalam Islam. Hal ini bukan hanya di atur dari sudut pandang menilai dari segi hubungan antar manusia dan agama, Akan tetapi banyak sekali penelitian yang menunjukkan bahwa etika makan nabi yang telah di ajarkan 1.300 tahun lalu memiliki banyak manfaat di bidang kesehatan.2
Dalam ajaran Islam kesehatan dipandang sebagai rahmat, banyak sekali dalil-dalil Al-Quran yang menegaskan manusia untuk menjaga kesehatannya, menghindari penyebab yang mengakibatkan sakit. Menjaga kesehatan merupakan hal yang penting dalam kehidupan, bahwa mencegah lebih baik dari pada mengobati. Pada kenyataannya makanan dan minuman yang masuk ke dalam perut kita dapat mempengaruhi kesehatan tubuh.
Karena urusan perut merupakan hal yang paling dibutuhkan manusia, sehingga dari situ energi untuk beraktifitas didapatkan oleh tubuh kita.
Pengaruh sakit perut dapat menimbulkan penyakit-penyakit lain. Tidak di ragukan lagi, bahwa perut merupakan sarang penyakit yang paling banyak di keluhkan oleh seseorang. Contoh ganguan yang terjadi dalam perut yang terjadi pada zaman sekarang, Seperti Maag, Asam lambung, terganggunya sistem pencernaan, kentut berlebih, merasa kenyang, sering bersendawa, dan penyakit-penyakit yang timbul di sekitar perut sebagai akibat dari tidak memperhatikan persoalan makanan.3
2 Aulia Rahman dan Muh Fitrah, “Perilaku Konsumsi Masyarakat Dalam Perspektif Islam Di Kelurahan Barombong Kota Makassar,” Laa Maisyir: Jurnal Ekonomi Islam 5, no. 1 (2018), 129.
3 Ibid., 129.
Hal ini bisa diakibatkan oleh kebiasaan makan yang kurang baik, seperti makan karena menuruti syahwat perut asal berisi saja, mengisi perut dalam jumlah yang banyak, kemudian menambah kadar lada dan penyedap rasa dalam makanan yang terlalu berlebih-lebihan, bahkan sampai makan makanan yang diharamkan oleh Islam. Oleh kerena itu, Sebagai seorang Muslim, kita diajarkan berbagai adab atau etika dalam hal apapun, Termasuk salah satunya dalam etika makan dan minum.
Secara etimologi etika berasal dari bahasa Yunani ethos (kata tunggal) yang berarti tempat tinggal, Padang rumput, kandang, kebiasaan, adat, watak, sikap, dan cara berpikir. Bentuk jamaknya adalah ta, etha, yang berarti adat istiadat. Dalam hal ini, kata etika pengertianya sama dengan moral. Moral berasal dari kata latin: Mos (bentuk tunggal), atau mores (bentuk jamak) yang berarti adat istiadat, kebiasaan, kelakuan, watak, tabiat, akhlak, cara hidup.4 Sedangkan makanan dalam bahasa Arab adalah aṭ’- imah. Berasal dari bentuk jamak dari kata ṭa’am yang berarti segala sesuatu yang bisa di makan atau dicicipi.5
Dalam Al-Qur’an penyebutan kata makan dan minum yang sering dipakai adalah kulū dan isyrabū derivasinya terdapat 21 kali. Sedangkan kata kulū dan wasyrabū sebanyak 6 kali penyebutan derivasinya dalam Al- Qur’an diantaranya: (1). Q.S Al-Baqarah: 60. (2). Q.S Al-Baqarah: 187. (3).
4 Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf Dan Karakter Mulia (Jakarta: Raja Grafindo, 2012), 75.
5 Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim, Shahih Fikih Sunnah (Jakarta: Pustaka Azzam, 2007), 551.
Q.S Al-A’raf: 31. (4). Q.S At-Tur: 19. (5). Q.S Al-Haqqah: 24. (6). Q.S Al- Mursalat: 43. Ini semua derivasi kata kulū dan wasyrabū.6 Kemudian Lafaẓ Aklun Secara etimologi term aklun (لكأ) berasal dari bentukan lafaẓ akala (لكأ) yang mengandung arti mengambil makanan kemudian menelannya setelah mengunyahnya.7 Sedangkan Al-Asfahani mengartikannya mengambil makanan dan segala cara atau upaya yang menyerupai perbuatan tersebut. Namun ada pula yang hanya mengartikan lafaẓ akala (لكأ) dengan غضم ماعطلا هعلبو (mengunyah makanan lalu menelannya). Sedangkan
‘Abdullah ‘Abbas al-Nadwi mengkategorikan aklun (لكأ) sebagai bentuk noun (kata benda) yang mengandung arti eating (makanan).8
Adapun etika makan dan minum adalah tata cara yang dilakukan ketika sebelum makan dan minum, atau sedang makan dan minum dan setelah makan dan minum sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW. Dalam etika makan dan minum juga merupakan tata krama dalam menghargai suatu rezeki yang diberikan oleh Allah SWT. Makan adalah memasukan nasi (atau makanan pokok lainnya) ke dalam mulut serta mengunyah dan menelannya. Sedangkan minum adalah memasukkan air (benda cair) ke dalam mulutnya dan meneguknya.9 Di zaman sekarang yang serba instan ini, Makan bukanlah kegiatan yang spesial lagi. Dahulu, orang-orang ketika
6 Dr. H. Azhari Akmal Tarigan, M.Ag., Tafsir Ayat-Ayat Ekonomi Sebuah Eksplorasi Melalui Kata-Kata Kunci Dalam Al-Qur’an (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2012), 201.
7 M.Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, Tafsir Maudhu’I atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizn, 2011), h. 133.
8 Mulizar,”Makanan dalam Al-Qur’an Studi terhadap Tafsir Al-Azhar” (Tesis, IAIN Sumatera Utara-Medan, 2014), Xxv.
9 Ibid., 644.
makan mengutamakan keberkahan dan juga tata krama dalam menghargai suatu rezeki yang diberikan oleh Allah SWT. Karena makanan mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan jasmani dan rohani manusia.
Maka dari itu di dalam ajaran Islam banyak peraturan yang berkaitan dengan makanan dari mulai mengatur etika makan, mengatur idealitas kuantitas makanan di perut, bahkan yang terpenting adalah mengatur makanan yang halal dan haram untuk dimakan.10 Akan tetapi, dengan seiring berkembangnya zaman budaya makan dan minum mengalami perubahan, mayoritas masyarakat zaman sekarang memandang makan dan minum itu hal yang remeh yang penting asal masuk perut saja. Padahal menurut sebagian pendapat ulama persoalan makanan ini tidak bisa dipandang sebelah mata seperti pendapatnya Buya Hamka yaitu “kewajiban menunaikan sholat itu benar tata caranya, akan tetapi makanan dan minumnya dari barang yang haram. Maka dapat dipertanyakan diterimanya amal ibadah tersebut”. Oleh sebab itu persoalan makan dan minum ini tidak bisa dianggap remeh. Salah satu yang dijelaskan dalam Al- Qur’an yakni tidak boleh mengikuti langkah-langkah syaitan. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S Al-Baqarah: 168 sebagai berikut:
َ م ِم ا ْوُّ
لُّ
ك ُّساَ نلا اَهُّ يَآٰي ٌّنْيِبُّ م ٌّ و ُّدَع ْمُّكَ
ل ٗهَ نِا ِِۗن ٰطْي َ شلا ِتٰو ُّط ُّخ اْو ُّعِبتَت اَ َ
ل َ وۖ اًبِ ي َط ا ًلٰل َح ِض ْرَاْلا ىِف ا
Artinya: Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata. (Al- Baqarah/2:168)
10 Tsabit, Makanan Sehat (Yogyakarta: Cv. Pustaka Ilmu Group, 2013), 10.
Buya Hamka dalam Menafsirkan Ayat Tersebut, menjelaskan bahwa datanglah seruan Allah kepada seluruh manusia agar mengatur perihal makanan: "Wahai manusia! Makanlah dari apa yang ada di bumi ini barang yang halal lagi baik dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah syaitan." Apabila manusia telah mengatur makan minumnya, mencari dari sumber yang halal, bukan dari hasil penipuan, maka jiwa akan bersih dan tenang dari kegelisahan. Dalam ayat ini tersebut yang halal lagi baik.
Makanan yang halal adalah lawan dari yang haram, yang haram telah pula disebutkan dalam Al-Qur’an, yaitu yang tidak disembelih, daging babi, darah, dan yang disembelih untuk berhala.11
Menanggapi persoalan diatas, bahwa manusia diperintahkan untuk makan makanan yang halal dan baik dengan tidak berlebihan atau melampaui batas, berkhasiat kepada tubuh sehingga menjadikannya kuat.
Kemudian dilarang memakan makanan yang merusak tubuh, akal dan pikiran.12 Itulah mengapa agama Islam melarang kepada ummatnya agar tidak berlebih-lebihan terlebih lagi dalam hal makanan. Rasulullah SAW telah memberikan contoh tauladan dalam hal etika makan dan minum untuk kemaslahatan umat manusia. Misalnya, Nabi Muhammad SAW melarang kaumnya makan dan minum sambil berdiri, yang ternyata secara medis dapat dibuktikan oleh ilmu kedokteran modern yang mengungkapkan bahwa minum dalam keadaan berdiri menyebabkan air mengalir berjatuhan
11 Hamka, "Tafsir Al Azhar", Jilid 1, 375.
12 Ibid,. 4.
dengan keras pada dasar lambung dan menumbuknya, sehingga lambung kendor dan pencernaan menjadi sulit.13 Jika kita mengamati makannya Rasulullah SAW, Maka kita dapat mendapatkan hikmah kenikmatan dan penjagaan terhadap kesehatan bagi tubuh kita. Hal inilah yang menunjukan bahwasanya Al-Qur’an telah memberikan perhatian penuh terhadap pola hidup manusia khususnya dalam perihal makanan. Dijelaskan pula dalam surah Abasa ayat 24:
ٖٓ ه ِما َع َط ىٰلِا ُّنا َسْن ِاْلا ِر ُّظْنَيْ لَ
ف
“Maka, hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya”
Dalam ayat diatas sangat jelas bahwa Perhatian Al-Qur’an yang begitu besar terhadap persoalan makanan perlu kita perhatikan, khususnya dalam hal etika makan dan minum yang baik, baik itu dari Al-Qur’an dan Hadis atau juga Ilmu Sains. Akan tetapi dalam kenyataannya banyak manusia yang tidak memperhatikan etika dalam makan kemudian pemilihan makanan yang dikonsumsi, kebanyakan mereka hanya memperhatikan cita rasa saja, tanpa melihat kembali kualitas gizi makanan tersebut. Sehingga pada akhirnya banyak sekali orang-orang yang mengidap penyakit yang membahayakan tanpa mereka sadari hal tersebut berasal dari makanan yang mereka konsumsi.
13 Muhammad Suwardi, Rahasia Sehat Rasulullah Yang Tak Pernah Sakit (Jakarta: Zahira, 2013), 3.
Berpijak pada latar belakang di atas peneliti ingin mengkaji etika makan dan minum menurut Buya Hamka yang terdapat dalam tafsir Al- Azhar dengan keunikan penafsiran etika makan dan minum yang sudah sedikit dibahas diatas, maka peneliti menggunakan tafsir Al-Azhar ini sebagai kitab rujukan utama dalam penelitian etika makan dan minum yang kemudian dikaji menggunakan kaca mata Buya Hamka dalam tafsirnya guna mengetahui jawaban atas permasalahan etika makan dan minum dalam Al-Qur’an. Dikarenakan tafsir ini cenderung dalam tafsir modern, yang memberikan langkah mudah bagi umat Islam dalam memahami isi kandungan ayat-ayat Al-Qur‘an, serta tema-tema yang berkaitan dengan perkembangan kehidupan manusia terutama masyarakat zaman sekarang.
Dari uraian di atas penulis ingin mengangkat tema “Etika Makan Dan Minum Dalam Al-Qur’an Perspektif Tafsir Al-Azhar Karya Buya Hamka (Studi Tafsir Tematik)” Karena dalam hal ini, fokus peneliti tertuju pada objeknya saja yakni etika makan dan minum pada zaman sekarang yang kebanyakan tidak memperdulikan tingkah laku dengan baik.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah di paparkan sebelumnya dan agar peneliti bisa memfokuskan dalam satu tujuan pembahasan. Maka dari itu, pokok permasalahan yang akan diteliti dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. Apa saja ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang etika makan
dan minum?
2. Bagaimana penafsiran Buya Hamka terkait etika makan dan minum dalam Tafsir Al-Azhar ?
3. Bagaimana nilai kontekstualisasi etika makan dan minum menurut Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar pada zaman sekarang?
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Suatu penelitian atau tujuan tentu memerlukan tujuan dari penelitian tersebut. Maka dari itu, tujuan adanya penelitian ini adalah untuk : 1. Mengetahui ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang etika
makan dan minum
2. Mendeskripsikan penafsiran Buya Hamka terkait etika makan dan minum dalam Tafsir Al-Azhar
3. Mengetahui nilai kontekstualisasi etika makan dan minum menurut Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar pada zaman sekarang
2. Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan atau manfaat hasil kajian ini, ialah ditinjau secara teoritis dan praktis. Dengan demikian, kajian ini diharapkan dapat menghasilkan manfaat sebagai berikut :
1. Kegunaan teoritis
Dari aspek akademik, penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah keilmuan Al-Qur‘an terutama dalam bidang tafsir.
2. Kegunaan praktis
a. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi dalam ilmu pengetahuan bagi mahasiswa, khususnya jurusan ilmu Al-Qur‘an dan tafsir IAIN Ponorogo.
b. Penelitian ini diharapkan bisa menjadi informasi bagi kaum muslimin untuk dijadikan acuan dalam menghadapi permasalahan yang ada ditengah masyarakat modern.
D. Telaah Pustaka
Secara umum, karya tulis ilmiah yang membahas tentang etika makan dan minum sudah cukup banyak. Penulis mengkaji beberapa tinjauan pustaka yang merupakan hasil penelitian sebelumnya dan relevan dengan penelitian yang sedang penulis rencanakan, antara lain:
Pertama, Skripsi dari M. Arif Fajar Setio, Mahasiswa Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, dengan judul Makanan Sehat Dalam
Al-Qur’an Perpektif Buya Hamka.14 Dalam penelitian ini menyimpulkan bahwa mengkaji lebih dalam mengenai makanan dalam Al-Qur’an yang di contohkan oleh Rasulullah SAW. Mengingat saat ini banyaknya wabah penyakit yang banyak menyerang manusia dari makanan yang mungkin tidak baik bagi kesehatan manusia itu sendiri. Kemudian hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sisi Ṭayyiban dalam makanan di tinjau sesuai gizi seimbang, kebutuhan pemakan, tidak berlebihan kekurangan halal dan aman. Jika makanan itu halal masuk ke dalam perut maka bisa dipastikan perbuatan orang tersebut condong pada perbuatan yang baik begitu pula sebaliknya.
Kedua, Skripsi yang berjudul Makanan Bermutu Dalam Al-Qur’an.
Skripsi ini meneliti tentang kepentingan makanan bagi kehidupan manusia mulai dari yang primer sekunder, makanan yang sesuai lidah kebutuhan yang dijadikan pemelihara kehidupan semua mahluk yang diciptakan Allah SWT baik manusia, binatang maupun tumbuhan. Selain itu makanan digunakan untuk memberikan kekuatan esensinal bagi kehidupan mahluk hidup karena perhatian Al-Qur’an yang begitu besar terhadap makanan melebihi perhatiannya pasangan kekasih. Maka makanan bisa menimbulkan kesehatan dan penyakit tergantung asupannya15. Hasil penelitian ini
14 M. Arif Fajar Setio, “Makanan Sehat dalam Al-Qur’an Perpektif Buya Hamka,”
(Skripsi, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung), 2021.
15Faila Sufatun Nisak, “Makanan Bermutu Dalam Al-Qur’an (Kajian Tematik),’'(Skripsi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), 2014.
menunjukkan tentang hikmah makanan bermutu yang disebutkan dalam Al- Qur’an.
Ketiga, Tesis dari Mulizar, Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Sumatera Utara-Medan, dengan judul Makanan Dalam Al-Qur’an (Studi Terhadap Tafsir Al-Azhar). Dalam penelitian ini menjelaskan mengklasifikasikan beberapa point yang mampu disarikan dari tafsir Al- Azhar karya Buya Hamka dan dikelompokkan menjadi berbagai macam point, yaitu makanan yang sehat, memakan makanan secara proporsional sesuai dengan kebutuhan, memiliki rasa aman terhadap makanan, makanan sebagai seruan, makanan sebagai peringatan, makanan sebagai anugerah.
Kemudian Kategori makanan yang halal dan haram menurut Buya Hamka, berdasarkan ayat-ayat yang telah disebutkan.16 Dari hasil penelitian ini menunjukan bahwa bentuk-bentuk konsep makanan tersebut, mempunyai pengertian bahwa faktor makanan dapat berimplikasi terhadap hubungan antar sesama manusia maupun dengan Tuhannya. Pengaruh makanan terhadap kehidupan manusia sangat besar pengaruhnya kepada jiwa seseorang, yaitu akan dijadikan Allah seorang yang makbul doanya.
Dari penjelasan 3 uraian pustaka di atas penulis belum menemukan adanya pembahasan tentang “Etika Makan Dan Minum Dalam Al-Qur’an Perspektif Tafsir Al-Azhar Karya Buya Hamka (Studi Tafsir Tematik)”
Untuk itu penulis di sini ingin lebih menekankan pada sub tema yang akan
16 Mulizar,”Makanan dalam Al-Qur’an Studi terhadap Tafsir Al-Azhar” (Tesis, IAIN Sumatera Utara-Medan, 2014).
penulis buat karena dalam penelitian ini akan membahas lebih mendalam mengenai etika makan dan minum dalam Al-Qur‘an yang terdapat dalam Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka. Dikarenakan tafsir tersebut sangat cocok pada era milineal sekarang ini.
E. Metodologi Penelitian
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif.
Mengingat pembahasan tentang etika makan dan minum sangat banyak dalam Al-Qur’an maka peneliti membatasi pembahasan agar terfokus dalam satu pembahasan. Penulis hanya menyusun tema bahasan tentang ayat-ayat yang berkaitan dengan etika makan dan minum yang mengandung nilai fisik dan nilai spikis dengan term kulū washrabū.
Dengan menggunakan metode tafsir mauḍū’i yang dikemukakan oleh Dr. Abdul Hayy Al-Farmawi. Dan menerapkan dalam pembahasan pada konteks sekarang.
jenis penelitiannya menggunakan jenis penelitian library ressearch, yakni usaha untuk memperoleh data dalam kepustakaan, meneliti buku-buku dan karya-karya yang berkaitan dengan permasalahan yang ada dan berkaitan dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini.17 Dikarenakan cara pengumpulan data mengenai suatu masalah melalui pengkajian literatur yang berhubungan
17 Hadani Nawawi, Penelitian Terapan (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1944), 35.
dengan pembahasan.18 Penelitian ini akan sepenuhnya menggunakan bahan-bahan keperpustakaan yang berkaitan dengan “Etika Makan dan Minum” maupun yang berhubungan dengan hal tersebut.
2. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode tafsir mauḍū’i atau juga biasa dikenal dengan sebutan tafsir tematik. Tafsir tematik adalah suatu metode penafsiran Al-Qur’an dengan cara menghimpun ayat-ayat Al- Qur’an terkait dengan suatu tema tertentu. Dimana sekarang ini, tafsir tematik memegang peran penting, karena diangap dapat menyelesaikan problem-problem yang dihadapi oleh masyarakat sekarang ini.
Persoalan-persoalan yang muncul di belahan dunia dapat dilihat solusinya melalui pendekatan penafsiran Al-Qur’an dengan menggunakan metote tasfsir tematik.
Penafsiran Al-Qur’an meggunakan metode tematik sangat meluas di era informasi dan globalisasi sekarang ini. Karena di samping disusun secara praktis dan sisematis dengan mengikuti kronologi turunnya ayat, juga dapat menjawab tantangan zaman, sehingga dapat dikatakan ṣhakhīh li kulli zaman wa makan, serta dapat mengikuti perkembangan zaman dengan menyesuaikan di segala tempat, situasi dan kondisi.19 Sehingga dalam penelitian ini, langkah-langkah yang diambil menggunakan metode tafsir tematik. Menurut Dr. Abd Al-
18 Abd Mu’in Salim, Metodologi Ilmu Tafsir (Yogyakarta: Teras, 2005), 146.
19 M. Sja’roni, “Studi Tafsir Tematik”, Jurnal study Islam Panca Wahana, edisi 12, (2014), 1.
Hayy Farmawi dalam kitabnya Al-Bidayah Fiī Al-Tafsīr Al-Mauḍū’i mengenai langkah-langkahnya sebagai berikut:
a. Menetapkan topik bahasan.
b. Menghimpun ayat-ayat berkaitan dengan dengan topik tersebut.
c. Menyusun urutan ayat sesuai masa turunnya beserta azbabun- nuzulnya.
d. Memahami korelasi ayat tersebut dalam masin-masing surahnya.
e. Menyusun kerangka pembahasan yang sempurna.
f. Melengkapi pembahasan dengan hadis-hadis yang relevan dan sesuai topik bahasan.
g. Mempelajari ayat secara keseluruhan dengan menghimpun ayat yang pengertiannya sama atau mengompromikan dari a’m (umum) ke khas (khususu), multak muqayyad (keterkaitan) sampai ketemu pada satu muara tanpa perbedaan dan pemaksaan.
h. Menghimpun kesimpulan yang menggambarakan jawaban Al- Qur’an terhadap topik masalah yang dibahas.20
2. Data dan Sumber Data a. Data
Data yang diambil dalam penelitian ini adalah data yang berkaitan dengan kajian metode dan corak penafsiran Buya Hamka dalam tafsir Al-Azhar. Kemudian dilanjutkan dengan data dari
20 Moh. Tulus Yamani, “Memahami Al-Qur’an Dengan Metode Tafsir Maudhi’I,” J-PAI, Vol. 1, 2 (Januari-Juni 2015), 280.
beberapa ayat-ayat tentang etika makan dan minum yang terdapat dalam Al-Qur’an. Kemudian setelah itu data yang berkaitan dengan penafsiran Buya Hamka terkait etika makan dan minum. kemudian setelah itu data yang berkaitan dengan relevansi pandangan Buya Hamka tentang ayat-ayat etika makan dan minum yang sesuai di era sekarang ini.
b. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini maksudnya subjek dari mana data yang diperoleh dan memiliki informasi kejelasan tentang bagaimana mengambil data tersebut dan didapat langsung dari berbagai sumber karya-karya ulama masyhur di Indonesia.21 Sumber data disini penulis membagi menjadi dua yaitu:
1. Sumber Data Primer
Merupakan suatu data yang menjadi rujukan pokok dalam penelitian ini, yaitu Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka sebagai rujukan utama alam penelitian ini. Al-Qur’an kemenag sebagai rujukan dari ayat-ayatnya, Dan terakhir yaitu kitab ihya’ ulumudhin, dan terjemahah kitab riyadhus shalihin sebagai pendukung utama dalam kajian tafsir berkaitan dengan etika makan dan minum ini.
21Angky Febriansyah, “Tinjauan Atas Proses Penyusunan Laporan Keuangan Pada Young Enterpreneur Academy Indonesia Bandung,” Jurnal Riset Akuntansi 8 (27 Desember 2017): 67, https://doi.org/10.34010/jra.v8i2.525, diakses 30 november 2022.
2. Sumber Data Sekunder
Merupakan suatu data kepustakaan tingkat kedua yang sesuai dengan tema kajian.22 Misalnya menggunakan buku- buku, jurnal artikel, skripsi, tesis, disertasi dengan data pendukung lainnya yang berhubungan dengan topik kajian yaitu etika makan dan minum.
3. Prosedur Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan kajian yang mendalam terhadap bahan-bahan kepustakaan baik berupa data primer dan data sekunder. Kajian mendalam dilakukan dengan memahami struktur penulisan, dalam penelitian ini dari segi data primer yaitu memahami kandungan ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas temaetika makan dan minum. Kemudian melakukan penafsiran yang disandarkan kepada tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka dengan menambahkan kajian hadis sebagai aspek pendukung dalam penafsiran. Kemudian dilanjutkan dengan mengkorelasikan data primer dan data skunder sebagai data pendukung kedua. Kemudian dari kedua data primer dan data skunder tersebut, maka jika keduanya dapat disusun dengan baik akan menghasilakn data yang valid sebagai bahan dalam melakukan penelitian.
22 Ahmad Munir dkk, Buku Pedoman Penulisan Skripsi, (Fakultas Adab Dan Dakwah IAIN Ponororogo, 2021), 38.
4. Analisis Data
Setelah data terkumpul, maka selanjutnya adalah menganalisa data-data tersebut. Dalam proses ini penulis menganalisa data dengan cara menghubungkan apa yang diperoleh dari data sejak awal sampai akhir. Kemudian dihubungkan dengan relasi unsur-unsur yang mencakup dalam permasalahan penelitian.23 Analisis ini dugunakan sebagai menjawab dari permasalahan yang tertera dalam rumusan masalah penelitian, dengan melakukan kerangka berfikir secara baik sesuai dengan prosedur dan langkah-langkah yang tertera dalam metode penelitian, sehingga dapat menganalisa data yang mendalam terkait dengan peneitian yang diteliti dan dapat menjawab permasalahan dengan sempurna tanpa ada keraguan dalam hasil penelitian.
F. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan pada skripsi ini terdiri dari lima bab yang masing-masing terdiri dari beberapa sub bab, dengan tujuan agar skripsi ini mudah dipahami secara sistematis. Oleh karena itu, penulis memberikan gambaran umum tentang pembahasan yang terdapat dalam skripsi ini sebagai berikut :
Bab pertama, menguraikan pendahuluan yang meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian,
23Ahmad Munir dkk, Buku Pedoman Penulisan Skripsi, (Fakultas Adab Dan Dakwah IAIN Ponororogo, 2021), 38.
tinjauan pustaka, metode penelitian dan sistematika pembahasan. Uraian pada bab inilah yang dijadikan kunci dalam penyusunan skripsi yang sifatnya hanya informatif.
Bab kedua, Merupakan landasan teoritis atau bahasan yang berisi gambaran umum yang meliputi; Tinjauan umum tentang teori-teori etika makan dan minum, serta pendapat dari para ulama baik dalil Al-Qur’an dan hadits yang berkaitan dengan tema pembahasan. Pembahasan ini sengaja penulis letakkan di bab dua agar pembaca dapat memahami dan mengenal terlebih dulu tentang hakikat makna etika, serta mengutarakan pendapat beberapa peneliti tafsir tentang etika makan dan minum.
Bab ketiga, Berisi tentang biografi dan pemikiran Buya Hamka mengenai etika makan dan minum dalam Al-Qur‘an perspektif Tafsir Al- Azhar.
Bab keempat, Berisi tentang analisa mengenai pandangan Buya Hamka terhadap etika makan dan minum dalam tafsir Al-Azhar. hingga data-data dari penelitian karya Buya Hamka terkait dengan tema penelitian.
Kemudian peneliti memunculkan adanya peran dalam penafsiran di bawah Mufasir yang disebut dengan peneliti tafsir lewat rumusan masalah yang telah dicantumkan.
Bab kelima, Merupakan penutup, yang berisi kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan dalam skripsi, serta saran-saran yang mendukung demi mencapainya perbaikan skripsi-skripsi yang akan datang.
BAB II
KONSEP ETIKA MAKAN DAN MINUM A. Tinjauan Umum Tentang Etika Makan dan Minum
Dalam pergaulan hidup bermasyarakat, bernegara, hingga pergaulan hidup tingkat internasional, diperlukan suatu sistem yang menganut bagaimana seharusnya manusia bergaul. Sistem pengaturan pergaulan itu menjadi saling menghormati yang biasa dikenal dengan sebutan sopan santun, tata krama, protokoler, dan lain sebagainya. Maksud dari pedoman pergaulan tersebut tidak lain untuk menjaga kepentingan masing-masing yang terlibat agar mereka tenang, senang, tenteram, terlindung tanpa merugikan kepentingannya serta terjamin agar perbuatannya yang tengah dijalankan sesuai hak asasi pada umumnya. Hal itu yang mendasari tumbuh kembangnya etika di masyarakat kita.24
Dalam perkembangan kehidupan manunusia, etika memiliki pengaruh yang sangat besar. Etika memberi manusia orientasi bagaimana ia harus menjalani hidupnya melalui rangkaian tindakan sehari-hari. Itu berarti etika membantu manusia untuk mengambil sikap dan bertindak secara tepat dalam menjalani hidup ini. Etika pada akhirnya membantu kita mengambil keputusan tentang tindakan apa yang harus kita lakukan dan harus kita
24 Mukhtar latif, Filsafat Ilmu (Jakarta: Prenadamedia Group, 2016), 276.
pahami bersama bahwa etika ini dapat diterapkan di segala aspek atau sisi kehidupan manusia.
1. Etika
Etika secara etimologi berasal dari bahasa Yunani kuno yaitu ethos dalam bentuk tunggal yang memiliki banyak arti yaitu: tempat tinggal yang biasa, kebiasaan, adat, akhlak, watak. Dalam bahasa Latin, etika disebut dengan mores yang berarti juga kebiasaan, adat. Dalam bahasa Inggris dan bahasa lain, termasuk bahasa Indonesia kata mores dipakai dalam arti yang sama. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, etika memiliki makna yaitu suatu ilmu yang berkenaan tentang yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral.25
Jadi secara etimologi kata etika sama dengan etimologi kata moral, karena keduanya berasal dari kata yang berarti adat kebiasaan.
Hanya saja bahasa asalnya yang berbeda, yang pertama berasal dari bahasa Yunani dan yang kedua berasal dari bahasa Latin.26 Jika dilihat dari ruang lingkup dan pengertiannya, etika sangat dekat dengan moral. Kata moral berasal dari bahasa Latin yaitu mos dan bentuk jamaknya mores yang bermakna adat istiadat, kebiasaan, kelakuan, tabiat, watak, akhlak, dan cara hidup. Oleh karena itu sama halnya dengan etika yang
25 Em Zul Fajri dan Ratu Aprilia Senja Ratu Aprilia Senja, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia (Semarang: Aneka Ilmu, 2008), 289.
26 K. Berteins, Etika (DIY: PT Kansius, 2013), 4–5.
juga dalam bahasa Yunani mempunyai pengertian adat istiadat mengenai baik dan buruknya suatu perbuatan.27
Etika pada hakikatnya mengamati realitas moral secara kritis, secara terminologi etika berarti sebuah cabang ilmu filsafat yang membicarakan perbuatan atau tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan yang baik dan yang buruk. Surajiyo menjelaskan bahwa “Secara terminologi, etika adalah cabang ilmu yang membicarakan tentang tingkah laku atau perbuatan manusia dalam hubungannya dengan yang baik dan buruk. Hal yang dapat dinilai baik buruk adalah sikap yang dimiliki manusia, yaitu yang berkaitan dengan perbuatan, tingkah laku, gerakan, kata-kata, dan lain sebagainya.”28 Dalam Islam etika merupakan kumpulan asas atau nilai yang berkaitan dengan akhlak, dan mengenai benar salah yang dianut oleh suatu golongan atau masyarakat.29 Dalam istilah filsafat, etika diartikan sebagai suatu ilmu yang membahas tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat istiadat kebiasan.30
Secara filosofis, moralitas mengacu pada pengetahuan tentang apa yang biasa dilakukan atau adat istiadat. Etika sering juga disebut dengan Filsafat. Dimana, Moral dan etika merupakan salah satu cabang dari filsafat yang berbicara tentang tingkah laku manusia yang berkaitan
27 Franz Magniz Suseno, Etika Dasar Masalah-Masalah Pokok Etika dan Moral (Yogyakarta: Kanesius, 1997), 19.
28 Surajiyo, Ilmu Filsafat Suatu Pengantari (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), 88.
29 Mukhtar latif, Filsafat Ilmu, 277.
30 Abdullah Ldi, Safarina, Etika Pendidikan (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), 2.
dengan tujuan hidup yang utama.31 Etika dibedakan menjadi dua jenis, yaitu etika deskriptif dan etika normatif. Etika deskriptif menguraikan norma etika dan gejala konseptual kesadaran moral. Pada saat yang sama, etika normatif tidak lagi berbicara tentang apa yang harus dilakukan adalah perbuatan manusia. Dalam etika normatif, norma selalu dinilai dari setiap apa yang dilakukan manusia.32
Sedangkan menurut Aristoteles filsuf besar Yunani mengungkapkan bahwa etika dibedakan menjadi tiga macam, yaitu etika deskriptif, etika normatif, dan meta-etika. Etika deskriptif mempelajari tingkah laku moral dalam arti luas, seperti adat kebiasaan, pandangan tentang baik dan buruk, perbuatan yang diwajibkan, dibolehkan atau dilarang dalam suatu masyarakat atau lingkungan.33
Sementara itu, menurut K. Bertens menjelaskan arti etika sebagai ilmu yang mempelajari adat kebiasaan, termasuk di dalamnya moral yang mengandung nilai dan norma yang menjadi pegangan hidup seseorang atau kelompok orang bagi pengaturan tingkah lakunya. Johan Arifin mengutip pendapat Filsuf Aristoteles dalam buku Etika Nicomachean, pengertian tentang etika, sebagai berikut:
31 Muhammad Mufid, Etika Filsafat dan Komunikasi, Cet.4, (Jakarta: Prenada Media, 2015), 173.
32 Ibid., 175.
33 Muhktar latif, Filsafat Ilmu, 278.
a. Terminius Technicus, dalam hal ini pengertian etika adalah etika dipelajari sebagai ilmu pengetahuan yang di dalamnya mempelajari masalah perbuatan atau tindakan manusia.
b. Manner and Custom, dalam hal ini pengertian etika membahas sesuatu yang berkaitan dengan tata cara dan kebiasaan (adat) yang melekat dalam kodrat manusia (inherent in human nature) yang terikat dengan pengertian “baik dan buruk” suatu tingkah laku atau perbuatan manusia.34
Adapun pengertian etika dari segi istilah telah dikemukakan para ahli dengan ungkapan yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandangnya, sebagai berikut :
Menurut Al-Kindi etika berhubungan erat dengan definisi mengenai filsafat atau cita filsafat, agar manusia memiliki keutamaan yang sempurna.35
Menurut M. Quraish Shihab menjelaskan etika tidak dapat disamakan dengan akhlak dalam ajaran agama, etika dibatasi oleh sopan santun antar sesama manusia, serta hanya berkaitan dengan tingkah laku lahiriah.36
34 Johan Arifin, Etika Bisnis Islam (Semarang: Walisongo Press, 2008), 10.
35 Saihu, “Etika Menurut Kitab Ta‘Lim Muta‘Alim,” Jurnal Kajian Ilmu Dan Budaya Islam, Vol. 3, No. 1, (2020), 103.
36 Abd. Haris, Etika Hamka Kontruksi Etik Berbasis Rasional-Religius, (Yogyakarta: Lkis, 2010), 41.
Menurut Bertens ada dua pengertian etika: sebagai praktis dan sebagai refleksi. Sebagai praktis, etika berarti nilai- nilai dan norma- norma moral yang baik yang dipraktikkan atau justru tidak dipraktikkan, walaupun seharusnya dipraktikkan. Etika sebagai praktis sama artinya dengan moral atau moralitas yaitu apa yang harus dilakukan, tidak boleh dilakukan, pantas dilakukan, dan sebagainya.
Etika sebagai refleksi adalah pemikiran moral.37
Sedangkan Menurut Buya Hamka, Etika merupakan perlakuan yang dilakukan individu berlandaskan akal dan ilmu yang diperolehnya. akal dan ilmu saling berkaitan karena tidak akan tercapai ilmu kalau tidak ada akal. Sebab itu Islam adalah agama ilmu dan akal.
dalam Islam etika (akhlak) menempati posisi kedua setelah tauhid. Ini berarti bahwa syariah sebagai komponen terakhir harus bertumpu pada tauhid dan etika. Tidak boleh syariah dan pelaksanaannya keluar dari kerangka dan ajaran kedua hal di atas.38
Dari berbagai definisi etika tersebut, etika selalu berhubungan dengan empat hal sebagai berikut: pertama, dilihat sumbernya, etika bersumber dari tingkah laku akal pikiran atau filsafat. Sebagai pemikiran, etika tidak bersifat mutlak, atau absolute dan tidak pula universal. Ia terbatas dan dapat berubah. Kedua, dilihat dari fungsinya
37 K. Bertenz, Etika, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2007), 22.
38 Haris, Abd, Etika Hamka: Kontruksi Etik Berbasis Rasional Religious. (Yogyakarta:
Lkis, 2012), 73.
yakni etika sebagai penilai dan penentu yang dituju oleh manusia supaya menemukan jalan yang harus diperbuat. Ketiga, penerapan etika harus disertakan akhlak dan tingkah laku yang beradab, sesuai yang diajarkan dalam agama, dan tentunya agama islam pasti mengajarkan masalah etika itu sendiri didalam kitab Al-Qur’an.
Dengan demikian, etika merupakan ilmu yang melibatkan upaya untuk menentukan apakah perilaku manusia itu baik atau buruk, dan sebagai pedoman, juga mempengaruhi perilaku seseorang untuk memenuhi kewajiban, dan menjauhi larangan sebagaimana mestinya.39 2. Makan dan Minum
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, Makan adalah memasukkan nasi (atau makanan pokok lainnya) ke dalam mulut serta mengunyah dan menelannya. Sedangkan Menurut Kamus Besar Bahasa indonesia yang dimaksud dengan minum adalah memasukkan air (benda cair) ke dalam mulut dan meneguknya. Makanan dalam bahasa Arab berasal dari lafadz ṭa’,ain dan mim. Biasanya ditulis al-aṭ’imah yang berarti mengecap, makanan, sesuai yang ditelan.Berdasarkan dari akar kata tersebut lahirlah bentuk derivasinya antara lain. Ṭaimah (mengecap, merasai dengan lidah). ṭa’mun (rasa makanan, makanan yang diinginkan).
Ṭa’amun (makanan, gandum). Maṭamun (rumah makan, tempat makan).40
39 Anita Ariani, “Etika Komunikasi Dakwah Menurut Al-Qur’an”,jurnal fikiran Masyarakat, Vol, 4, No. 1, (2016), 10.
40 Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia (Ciputat: PT Mahmud Yunus Wa Dzurriyah, 2010), 236.
Kata at’imah merupakan jamak dari kata ta’am yang secara etimologi berarti segala sesuatu atau apa-apa yang bisa dimakan atau dicicipi. Karena itu, minuman pun termasuk dalam pengertian ta’am.
Dalam al-Qur’an penyebutan kata makan yang sering dipakai adalah akala.41 Makanan dan minuman yang dibantu oleh udara merupakan unsur penopang kekuatan tubuh. Dalam kaitan ini Islam mengajarkan agar memilih makanan minuman yang baik dalam artian berguna untuk kesehatan dan halal.42 Sebagaimana Firman Allah Q.S. Al-Baqarah/2:172.
ا ْوُّن َمٰ ا َنْي ِذَ
لا ا َهُّ يَ آٰي َو ْمُّ
كٰنْ
ق َز َر ا َم ِتٰبِ ي َط ْن ِم اْوُّلُّك مُّتْ
نُّ
ك ْ ن ِا ِهٰ
لِل ا ْو ُّرُّ
ك ْشا
َن ْو ُّد ُّب ْعَت ُّهاَ ي ِا
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, makanlah apa-apa yang baik yang Kami anugerahkan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika kamu benar-benar hanya menyembah kepada- Nya. (Al-Baqarah/2:172)
3. Etika Makan dan Minum
Etika Makan dan Minum adalah tata cara yang dilakukan saat sebelum makan dan minum, sedang makan dan minum dan juga setelah makan dan minum sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW.43 etika makan dan minum merupakan tata krama dalam menghargai suatu rezeki yang diberikan oleh Allah SWT. Makan adalah memasukan nasi (atau makanan pokok lainnya) ke dalam mulut serta mengunyah dan menelannya.
Makanan dalam bahasa Arab adalah aṭ’imah. Berasal dari bentuk jamak
41 M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, Tafsir Maudhu’iy Atas Berbagai Persoalan Umat, (Bandung: Mizan, 2011), 133.
42 Adnan Hasan, Tanggung jawab Ayah Terhadap Anak Laki-Laki (Jakarta: Gema Insani Press, 1996), 313.
43 Zeid B. Smeer, “Kajian Hadis-Hadis Etika Makan Ditinjau Dari Aspek Kesehatan,”
jurnal el-Harakah Vol. 11, No. 2, (2009), 90.
dari kata ṭa’am yang berarti segala sesuatu yang bisa di makan atau dicicipi.44 Dalam Al-Qur’an penyebutan kata makan dan minum yang sering dipakai adalah kulu dan isyrabu derivasinya terdapat 21 kali.
Sedangkan kata kulu dan wasyrabu sebanyak 6 kali penyebutan derivasiya dalam Al-Qur’an diantaranya: (1). Q.S Al-Baqarah: 60. (2). Q.S Al- Baqarah: 187. (3). Q.S Al-A’raf: 31. (4). Q.S At-Tur: 19. (5). Q.S Al- Haqqah: 24. (6). Q.S Al-Mursalat: 43. Ini semua derivasi kata kulu dan wasyrabu.45
Kemudian Lafāẓ Aklun Secara etimologi term aklun (لكأ ) berasal dari bentukan lafāẓ akala (لكأ ) yang mengandung arti mengambil makanan kemudian menelannya setelah mengunyahnya.46 Sedangkan Al-Asfahani mengartikannya mengambil makanan dan segala cara atau upaya yang menyerupai perbuatan tersebut. Namun ada pula yang hanya mengartikan lafaz akala (لكأ ) dengan غضم ماعطلا هعلبو (mengunyah makanan lalu menelannya). Sedangkan ‘Abdullah ‘Abbas al-Nadwi mengkategorikan aklun (لكأ ) sebagai bentuk noun (kata benda) yang mengandung arti eating (makanan).47 Adapun bentuk derivasi dari lafāẓ aklun (لكأ ) salah satunya adalah lafāẓ aklan (لاكأ ) yang dikategorikan sebagai bentuk accusative (objek penderita) yang mengandung arti act or state of eating (perbuatan
44 Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim, Shahih Fikih Sunnah (Jakarta: Pustaka Azzam, 2007), 551.
45 Dr. H. Azhari Akmal Tarigan, M.Ag., Tafsir Ayat-Ayat Ekonomi Sebuah Eksplorasi Melalui Kata-Kata Kunci Dalam Al-Qur’an (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2012), 201.
46 M.Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, Tafsir Maudhu’I atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizn, 2011), h. 133.
47 Mulizar,”Makanan dalam Al-Qur’an Studi terhadap Tafsir Al-Azhar” (Tesis, IAIN Sumatera Utara-Medan, 2014), Xxv.
atau keadaan makanan). Bentuk lainnya yang juga memiliki perbedaan arti cukup signifikan yaitu lafāẓ ukulun (لكأ ) yang bermakna رمثلا (buah). Lafāẓ ini menjadi berbeda artinya jika huruf ك ditandai dengan sukun menjadi uklun (لكأ ). Maka maknanya pun menjadi rizki atau rizki yang luas.48
Makanan dan minuman merupakan kebutuhan tubuh agar mampu beraktivitas. Islam memerintahkan agar kita memenuhi kebutuhan jasad kita, yaitu makan dan minum. Makan dan minum dengan benar juga merupakan salah satu bentuk rasa syukur kita atas pemberian Allah SWT.
Orang yang tidak mau memenuhi kebutuhan makan dan minum, padahal jasadnya membutuhkannya berarti ia tidak mensyukuri nikmat Allah SWT. Dalam memenuhi kebutuhan makan dan minum, Islam mengatur tata caranya. Dengan memenuhi aturan tersebut, kita menjadi berbeda dengan hewan. Sehingga manusia adalah makhluk yang paling mulia.
4. Etika Makan dan Minum Sesuai Anjuran Rasulullah SAW
Berikut ini beberapa adab atau etika makan dan minum yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW.49 Diantaranya sebagai berikut:
1. Membaca Basmalah Sebelum Makan
Mulailah makan dan minum dengan membaca basmalah dilanjutkan dengan membaca doa:
راَّنلا ََباَذَع اَنِقَو اَنَتْقَزَر اَمْيِف اَنَل َْك ِراَب ََّمُهللَا
48 Ibid., xxv.
49 Z. Smeer, “Kajian Hadis: Hadis Etika Makan Ditinjau Dari Aspek Kesehatan,” El Harakah: Jurnal Budaya Islam 11, no. 2 (2009): 85–98.
Artinya: “Ya Allah, berkahilah rezeki yang Engkau berikan kepada kami dan peliharalah kami dari saksian api neraka.”
Jika lupa berdoa, hendaklah membaca basmalah meski di tengah- tengah saat kita makan. Rasulullah saw bersabda: yang artinya “Jika salah seorang dari kamu makan, sebutlah dulu nama Allah. Maka jika lupa tidak membaca pada awalnya, hendaknya membaca sewaktu ingat di tengah-tengah makan.” (H.R. Abu Dawud)
2. Menggunakan Tangan Kanan
Makan itu dengan tangan kanan, dimulai dengan garam dan disudahi dengan garam. Dikecilkan suap, dibaguskan pengunyahannya. Dan selama belum ditelannya suap itu, tidaklah tangan diulurkan kepada suap yang lain. Kerena cara yang demikian itu, adalah terburu-buru pada makan.
3. Bersikap Sederhana dan Tidak Berlebih-Lebihan Ketika Makan Dalam Q.S Al-isra’ ayat 27 di jelaskan :
ا ًر ْوفُّ َ
ك هِ ب َرِل ُّن ٰطْي َ شلا َناَكَوِۗ ِنْي ِطٰي َ شلا َناَو ْخِا آْٖوُّناَ
ك َنْي ِر ِذ َب ُّمْ لا َ
ن ِا Artinya: Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.
Ayat tersebut menyatakan bahwa para pemboros adalah saudara setan. Ungkapan tersebut biasa digunakan oleh orang-orang Arab. Orang yang membiasakan diri mengikuti peraturan suatu kaum atau mengikuti jejak langkahnya, disebut saudara kaum itu. Jadi orang-orang yang memboroskan hartanya berarti orang-orang yang mengikuti langkah setan. Sedangkan yang dimaksud pemboros dalam
ayat ini ialah orang-orang yang menghambur-hamburkan harta bendanya dalam perbuatan maksiat yang tentunya di luar perintah Allah. Orang-orang yang serupa inilah yang disebut kawan-kawan setan. Di dunia mereka tergoda oleh setan, dan di akhirat mereka akan dimasukkan ke dalam neraka Jahanam50
Ayat ini diturunkan Allah dalam rangka menjelaskan perbuatan orang-orang Jahiliah. Telah menjadi kebiasaan orang-orang Arab menumpuk harta yang mereka peroleh dari rampasan perang, perampokan, dan penyamunan. Harta itu kemudian mereka gunakan untuk berfoya-foya supaya mendapat kemasyhuran. Orang-orang musyrik Quraisy pun menggunakan harta mereka untuk menghalangi penyebaran agama Islam, melemahkan pemeluk-pemeluknya, dan membantu musuh-musuh Islam. Ayat itu turun untuk menyatakan betapa jeleknya usaha mereka.
4. Memulai Makan Dari Yang Dekat Dan Tidak Memenuhi Mulut Dengan Makanan Yang Banyak
Dan hendaklah dimakan yang dekat padanya, kecuali buah- buahan, maka boleh ia mengulurkan tangannya pada buah-buahan itu.
Bersabda Nabi Muhammad SAW: "Makanlah yang mendekati kamu!". Kemudian, adalah Nabi SAW menoleh kepada buah-buahan,
50 Ibid,. 90.
lalu ia ditanyakan mengenai itu, maka Nabi SAW menjawab:
"Tidaklah buah-buahan itu satu macam".
5. Disunnahkan untuk makan secara berjamaah dan tidak berpencar sendiri-sendiri, karena jamaah akan mempererat persaudaraan dan menyebabkan turunnya barokah pada makanan kita.51
6. ketika makan berjamaah dalam satu tempat makan maka jangan mengembalikan apa yang tersisa ditangan ke tempat makan, akan tetapi ambilah suapan yang sedikit hingga tidak bersisa.
7. Tidak mengeluarkan suara keras ketika mengunyah makanan, karena hal itu mengganggu orang lain.
8. Jangan mengawasi dan melihat-lihat orang yang sedang makan, karena hal itu mengganggu perasaan mereka, dan mengurangi selera makan
9. Tidak menyisakan makanan dipiring bahkan kita dianjurkan untuk membersihkan tangan dan jari-jari kita dengan mulut ketika selesai makan,
10. Membaca hamdalah dan doa setelah makan. Inilah beberapa anjuran Rasulullah SAW tentang etika makan dan minum.
Dari berbagai etika makan dan minum yang telah dianjurkan oleh Rasulullah SAW. memberi gambaran kepada kaum muslimin tentang betapa pentingnya memelihara etika tersebut.52
51 Ibid., 91.
52 Imam Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin (Menghidupkan Ilmu-Ilmu Agama Islam), Edisi Revisi, Cetakan I, Jilid 2. (Bandung: Penerbit Marja, 2016), 1069-1070
5. Hikmah Etika Makan dan Minum Sesuai Anjuran Rasulullah SAW Hikmah yang terkandung dalam hadis-hadis etika makan yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW diantaranya sebagai berikut:
a. Membaca Basmalah.
Membaca basmalah sebelum makan dapat menghindarkan diri dari penyakit. Karena bakteri dan racun membuat perjanjian dengan Allah SWT, apabila dibacakan basmalah maka mereka akan musnah dari sumber makanan.53
b. Makan Dengan Tangan Kanan
Cara Rasulullah SAW makan adalah dengan memasukkan makanan dengan tangan kanannya, kemudian mengunyahnya sejenak, kemudian mengambil sedikit garam menggunakan jarinya, lalu menghisap garam itu, kemudian baru mengunyah keseluruhannya.
Hikmahnya, ternyata kedua belah tangan kita mengeluarkan 3 macam enzim, konsentrasi di tangan kanan lebih banyak daripada yang kiri.
Enzim tersebut adalah enzim yang menolong proses pencernaan.
c. Posisi Duduk
Ada 2 jenis posisi duduk diantaranya:
53Zeid B. Smeer, “Kajian Hadis-Hadis Etika Makan Ditinjau Dari Aspek Kesehatan,”
jurnal el-Harakah Vol. 11, No. 2, (2009), 94.
Pertama, Tidak bertumpu pada tangan dan juga tidak tengkurap. Larangan makan sambil bertumpu pada satu tangan atau sambil tengkurap. Larangan ini mengandung hikmah, di antaranya:
dapat menggangu proses masuknya makanan ke lambung dan dikhawatirkan dapat menimbulkan gangguan pada rongga dada, serta dapat menyebabkan perut menjadi buncit.
Kedua, Duduk dengan kaki dilipat. Posisi duduk seperti ini akan sedikit menekan lambung. Tujuannya agar kita dapat berhenti makan sebelum lambung terisi penuh, karena posisi ini secara tidak langsung menjadikan kita merasa kenyang sebelum lambung terisi penuh. Selain itu, penuhnya lambung karena makananya akan berdampak pada menurunnya energi kita dalam beraktivtas.
d. Porsi Makanan
Secukupnya tidak terlalu kenyang (sekedar kuat untuk beraktivitas dan tidak sepenuh perut) porsi makan hendaknya dibatasi.
Kapasitas perut hendaknya dibagi menjadi tiga bagian, yaitu sepertiga untuk makanan (zat padat), minuman (zat cair), dan udara (gas).
Hikmah dari anjuran ini di antaranya untuk menghindarkan kita dari berbagai penyakit yang ditimbulkan akibat dari porsi makan yang melebihi kebutuhan tubuh, di antaranya diabetes. Di sisi lain, porsi yang melebihi kapasitas akan menyebabkan melubernya pada
lambung sehingga mengakibatkan gangguan terhadap organ tubuh yang lain.54
e. Larangan Meniup Makanan
Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk minum dengan duduk dan melarang kita untuk minum dari tempat atau wadah yang besar.
Beliau juga melarang kita bernafas ketika sedang minum. Karena apabila kita minum dari tempat yang besar, kita tentu akan bernafas dan menghembuskan nafas. Apabila kita menghembuskan nafas, kita akan mengeluarkan CO2 (karbondioksida), yang apabila bercampur dengan air (H20) akan menjacli H2C03 (cuka), sehingga menyebabkan minuman itu menjadi acidic (asam). Hal ini berlaku juga jika kita meniup air yang panas. Makanani minuman panas sebaiknya dikipas saja dan bukan ditiup. Sedangkan cara minum adalah dengan seteguk-bemafas, seteguk-bernafas sampai habis.
f. Makan Dengan Tiga Jari
Di dalam hadis riwayat muslim dijelaskan Artinya: “Dari Ka‟ab bin Malik ia berkata,”Aku melihat Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam makan dengan tiga jarinya dan setelah selesai beliau menjilatinya”.55 (H.R Muslim).
Di jelaskan bahwa sebenamya titik tekannya bukan pada jumlah jari yang digunakan untuk makan, namun lebih ditujukan pada
54 Ibid,. 93.
55 Imam An-Nawawi, Riyadhus Shalihin (Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, 2015), 83.
porsi makanan yang dimasukkan dalam mulut. Makan dengan menggunakan tiga jari otomatis jumlah makanan yang masuk relatif lebih sedikit daripada makan dengan menggunakan lima jari. Semakin sedikit jumlahnya akan semakin sempurna proses pengunyahan makanan dalam mulut. Hal ini pada gilirannya akan meringankan beban lambung dalam mengolah makanan dalam perut.
g. Tidak Berdiri Tatkala Makan Dan Minum
Dalam ilmu sains dijelaskan bahwa air yang masuk dengan cara duduk akan disaring oleh sfringter. Sfringter adalah suatu struktur maskuler (berotot) yang bisa membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan menutup. Setiap air yang kita minum akan disalurkan pada pos-pos penyaringan yang berada di ginjal. Jika kita minum berdiri, air yang kita minum masuk tanpa disaring lagi dan langsung menuju kandung kemih. Ketika langsung menuju kandung kemih, maka terjadi pengendapan di saluran ureter. Akibatnya, banyak limbah yang menyisa di ureter. Inilah yang bisa menyebabkan penyakit kristal ginjal yang merupakan salah satu penyakit ginjal yang berbahaya dan susah kencing. Makan dengan tenang tidak tergesa-gesa dan mengunyah makanan dengan sempurna.56
Cara makan seperti ini akan menghindarkan tersedak, tergigit, kerja organ pencernaan pun jadi lebih ringan. Makanan pun dapat
56Zeid B. Smeer, “Kajian Hadis-Hadis Etika Makan Ditinjau Dari Aspek Kesehatan,”
jurnal el-Harakah Vol. 11, No. 2, (2009), 95.
dapat dikunyah lebih baik, sehingga kerja organ percemaan bisa betjalan dengan sempuma. Makan yang tidak dikunyah dengan baik akan sulit dicerna. Dalam jangka waktu lama, bisa menimbulkan kanker usus besar.57 Dengan demikian itulah beberapa aspek penting mengenai hikmah etika makan dan minum yang ajarkan oleh Rasulullah SAW, baik dari Al-Qur’an dan hadis. Hal-hal yang dianggap sepele akan tetapi memberikan keberkahan dan manfaat bagi tubuh manusia.
B. Tafsir Mauḍū’i
Tafsir mauḍū’i dalam Bahasa Indonesia biasa disebut dengan tafsir tematik.58 Merupakan sebuah metode tafsir yang dicetuskan oleh para ulama’ untuk memahami makna-makna dalam ayat-ayat Al-Qur’an.
Sebelum kita mengetahui secara mendalam tentang metode tafsir ini, maka peneliti akan paparkan pengertian metode tafsir ini.
Tafsir secara bahasa mengikuti wazan “Taf’il, berasal dari kata al- Fasr yang berarti menjelaskan, menyingkap dan menampakkan atau menerangkan makna yang abstrak. Kata kerjanya mengikuti wazan
“ḍaraba-yaḍribu” dan “naṣara-yanṣuru”. Dikatakan, “fasara (asy-syai’a) yafsiru” dan “yafsuru, fasran” dan “fasarahu” artinya abanahu (menjelaskannya). Kata At-Tafsir dan Al-Fasr mempunyai arti menjelaskan
57Ibid., 94-96.
58 Usman, Ilmu Tafsir (Yogyakarta: Teras, 2009), 311.
dan menyingkap yang tertutup.59 Kata tafsir di ambil dari ungkapan orang Arab: fassartu-al-faras ( ترسف -سرفلا ), yang berarti saya melepaskan kuda.
Hal ini dianalogikan kepada seorang penafsir yang melepaskan seluruh kemampuan berfikirnya untuk bisa mengurai makna ayat Al-Qur’an yang tersembunyi di balik teks dan sulit dipahami.60 Dalam surat Al-Furqon ayat 33 dijelaskan sebagai berikut:
ِۗ ا ًرْي ِسفَت َن َس ْحْ َ ا َو ِ قَحْ
لاِب َكٰنْئ ِج ال ِا ٍلَثَمِب َكَنْوُّتَ ْ أَي اَ
ل َو Artinya: “Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya”. (Q. S Al-Furqon: 33)
Jika kita lihat dari semua pengertian di atas, maka tafsir secara bahasa memiliki arti menyingkap sebuah makna ayat Al-Qur’an. Sedangkan tafsir secara terminologi atau istilah para ulama dalam mendefinisikan berbeda pendapat dalam sisi redaksinya, namun jika dilihat dari segi makna dan tujuannya memiliki pengertian yang sama. Pengertian tafsir memiliki dua sudut pandang, ada yang memaknai tafsir sebagai disiplin ilmu ada yang memaknai tafsir sebagai kegiatan atau aktifitas. Namun, menurut peneliti lebih sepakat kepada pendapat pertama, yakni tafsir sebagai sebuah ilmu.61
59 Manna Khalil al Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, Terj. Mudzakir AS (Bogor: Pustaka Litera Antar Nusa, 2001), 455.
60 Tim Forum Karya Ilmiah Raden (Refleksi Anak Muda Pesantren) Purna Siswa 2011 MHM Lirboyo Kota Kediri, Al-Qur’an Kita Studi Ilmu, Sejarah Dan Tafsir Kalamullah (Kediri:
Lirboyo Press, 2013), 188.
61 Supiana dkk, Ulumul Qur’an (Bandung: Pustaka Islamika, 2012), 273.
Berikut beberapa pengertian tafsir secara terminologinya:
1. Menurut Az Zarkasy yang dikutip oleh al-Suyuthi, tafsir berarti ilmu untuk memahami kitab Allah Swt. Yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, menjelaskan maknanya serta mengeluarkan hukum- hukum dan hikmahnya.62
2. Menurut Abu Hayyan yang diikuti al-Alusi, tafsir adalah disiplin ilmu yang mengkaji tentang cara pengucapan hukumnya, baik yang partikular (juz’i) maupun yang global (kulli), serta makna-makna yang terkandung di dalamnya.
Maka dari itu, tafsir merupakan ilmu yang mengkaji tentang aspek- aspek yang meliputi Al-Qur’an yang dikonsentrasikan terhadap maksud- maksud Allah SWT. yang tertuang di dalam Al-Qur’an dengan kadar kemampuan manusia. Secara umum kalau kita melihat pemaparan di atas, bahwa tafsir merupakan suatu ilmu yang digunakan untuk mengkaji Al- Qur’an secara komprehensif. Tafsir juga merupakan kegiatan ilmiah yang berfungsi memahami dan menjelaskan kandungan Al-Qur’an dengan ilmu- ilmu pengetahuan yang digunakan.63 Kata mauḍū’i dinisbatkan kepada kata mauḍū’i, yang berarti topik atau materi suatu pembicaraan atau pembahasan. Dalam bahasa Arab kata mauḍū’i berasal dari bahasa Arab
62 Hasbiy Asshiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), 174.
63 Tim Forum Karya Ilmiah Raden (Refleksi Anak Muda Pesantren) Purna Siswa 2011 MHM Lirboyo Kota Kediri, Al-Qur’an Kita Studi Ilmu, Sejarah Dan Tafsir Kalamullah (kediri: Tim Forum Karya Ilmiah RADEN (Refleksi Anak Muda Pesantren) Purna Siswa 2011 MHM Lirboyo Kota Kediri, 2011), 190.
(عوضوم ) yang merupakan isim maf’ul dari fi’il madzi (عضو ) yang berarti meletakkan, menjadikan, menghina, mendustakan, dan membuat-buat.64 Secara semantik, tafsir mauḍū’i berarti menafsirkan Al-Qur’an menurut tema atau topik tertentu.
Tafsir mauḍū’i menurut pendapat mayoritas ulama’ adalah
“Menghimpun seluruh ayat Al-Qur’an yang memiliki tujuan dan tema yang sama.” Semua ayat yang berkaitan tentang suatu tema tersebut dikaji dan dihimpun yang berkaitan. Pengkajiannya secara mendalam dan tuntas dari berbagai aspek yang terkait dengannya seperti asbāb an-nuzūl, kosakata dan lain sebagainya. Semua dijelaskan secara rinci dan tuntas serta didkng oleh dalil-dalil atau fakta-fakta yang dapat dipertanggng jawabkan secara ilmiah, baik argumen itu berasal dari Al-Qur’an, hadits, maupun pemikiran rasional,65 Al-Qur’an memang sesungguhnya menghimpun tema-tema yang perlu digali dengan menggunkan metode mauḍū’i Jika menafsirkan Al- Qur’an dengan metode yang seperti ini kita akan bisa menetapkan syari’at yang cocok untuk setiap waktu dan tempat.66 Dari sana kita bisa menetapkan undang-undang kehidupan yang siap berhadapan dengan perubahan dinamika kehidupan, undang-undang wadh’iyyah dan unsur eksternal yang kita hadapi dalam keberagaman sehari-hari.
64 A. Warson Munawir, Kamus Al-Munawir Arab-Indonesia Terlengkap (Surabaya:
Pustaka Progesif, 1997), 1564.
65 Nashiruddin Baidan, Metodologi Penafsiran Al-Qur’an (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), 151.
66 M Baqir Hakim, Ulumul Quran, Terj. Nashirul Haq, Dkk (Jakarta: Al-Huda, 2006), 507.