BALA’ DALAM ALQURAN MENURUT TAFSIR AL AZHAR
KARYA BUYA HAMKA
SKRIPSI
Diajukan Guna Melengkapi Tugas-Tugas
Dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Mencapai Gelar Strata Satu (S1)
Pada Program Studi Ilmu Alquran dan Tafsir
Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam
Disusun Oleh:
Muhammad Nurhamdi Prasetya
NIM : 43.14.1.009
PRODI ILMU ALQURAN DAN TAFSIR
FAKULTAS USHULUDDIN DAN STUDI ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUMATERA UTARA
MEDAN
2018
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbil’alamin,
Raditubillahirobba,
wabil
islamidina,
wabimuhammadinnabiya warasula,
segala puji milik Allah, bersyukur atas segala
nikmat-Nya yang sampai hari ini penulis diberikan-Nya kekuatan iman, islam dan
amal sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini. shalawat berangkaikan salam.
Salam cinta, salam rindu dan salam sayang kepada Rasulullah Shalallahu’alaihi
wasallam beserta keluarga dan sahabat beliau yang senantiasa menjunjung tinggi nilai
dan moral Islam yang sampai hari ini dapat dinikmati oleh umat Islam diseluruh
dunia. Semoga kita senantiasa menjadi umatnya yang selalu mendapat syafa’atnya.
Amin ya Rabbal ‘alamin
Skripsi ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk mendapat gelar Sarjana
Strata (S-1) Sarjana Agama pada Program Studi Ilmu Alquran dan Tafsir Universitas
Islam Negeri Sumatera Utara. Adapun judul dari penelitian adalah “Bala’
dalam
Alquran Menurut Tafsir Al Azhar Karya Buya Hamka
”
Selama penulisan skripsi ini, penulis mengalami beberapa hambatan dan
rintangan yang terkadang membuat penulis berada pada titik jenuh dan dan titik
kelemahannya. Namun dengan adanya dorongan dan doa dari orang tua yang tidak
pernah putus setiap harinya kepada penulis, menjadikan penulis bangkit dan terus
bersemangat untuk menyelesaikan skripsi ini. untuk itu dengan segala bakti, penulis
memberikan penghargaan setinggi-tingginya dan ucapan terimakasih yang
sebesar-besarnya kepada mereka,
Ayahanda Sunardi
dan
Ibunda Niati
,
Kakak Saya
Rusmiati
,
Abang saya Ahmad Junaidi
dan
Adik saya M. Ricky Murtadha
Orang
tua dan keluarga yang saya banggakan dari kecil hingga dewasa dan tentunya yang
sangat spesial dalam hidup saya. Selanjutnya dengan segala kerendahan hati penulis
juga mengucapkan terimakasih kepada:
1.
Dekan Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam UIN Sumatera Ayahanda Prof.
Dr. Katimin , M.Ag. Wakil Dekan I, Prof. Dr. H, Arifinsyah. M, Ag, Wakil
Dekan II, Hj. Hasnah Nasution M.A dan Wakil Dekan III, Drs. Maraimbang
Daulay M.A.
2.
Bapak Dr. H. Sugeng Wanto, M.Ag dan Drs. Abdul Halim M.A, selaku
Pembimbing I dan Pembimbing II yang telah bersungguh-sungguh dalam
memberikan pengarahan, pengajaran, mendidik, dan bimbingan dalam
menyelesaikan skripsi ini.
3.
Bapak Dr. H. Sugeng Wanto, M.Ag selaku Ketua Program Studi Ilmu
Alquran Tafsir dan Ibu Siti Ismahani M.A. Sekretaris Jurusan Ilmu Alquran
dan Tafsir, Bapak Hermansyah, S.Ag selaku Staf Jurusan Ilmu Alquran dan
Tafsir, serta para staf dosen yang telah memberikan pendidikan dan
mendukung penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, yang tidak dapat saya
sebutkan.
4.
Terimakasih kepada Abang Saya Muhammad Hidayat MA. yang terus
men-suport,
mendoakan dan memperhatikan dalam menyelesaikan skripsi dan
gelar Sarjana (S-1) yang kini akhirnya dapat kuselesaikan.
5.
Terimakasih kepada sahabat saya tercinta Jidin Mukti, Ahmad Sabili, Said
Hasan Assegaf Rambe, Ahmad Zaki, Haizir Rizki, Kurnia Sandi, Mahmudah,
Junita Hasibuan, Muhammad Agus Sayuti, Muhammad Fajar, Suwalman
Azhari, Subkiadi, Siti Aminah Siregar, Suci Rahayu Lubis, Widya Fazrina
para sahabat – sahabat saya di IAT C, yang mana telah memberikan bantuan
dan referensi serta menjadi teman dalam diskusi sehingga Skripsi ini dapat
terselesaikan..
6.
Terimakasih untuk keluarga terdekatku di Organisasi Himpunan Mahasiswa
Islam FUSI UIN SU, yang juga merupakan alumni-alumni Ushuluddin
terkhususnya jurusan Ilmu Alquran Tafsir. Mereka yang terus memberikan
nasihat, arahan, bimbingan dan menemaniku dengan senyuman dan tawa
dalam menuliskan skripsi ini lembar demi lembar.
Akhir kata penulis banyak mengucapkan terimakasih, kiranya Allah SWT
senantiasa membalas kebaikan-kebaikan kita dengan pahala, melindungi kita dan
melimpahkan rahmat-Nya, serta penulis berharap Skripsi ini dapat bermanfaat bagi
kita semua. Amiin.
Billahitaufik walhidayah
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Medan, 07 November 2018
Penulis
Muhammad Nurhamdi Prasetya
NIM.43.14.1.009
PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-INDONESIA
Transliterasi Arab–Indonesia yang dipergunakan dalam penyusunan Skripsi ini merujuk pada Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tertanggal 22 Januari 1988 Nomor: 158/1987 dan 0543b/U/1987.
I. Konsonan Tunggal
Huruf Arab Nama Huruf Latin Keterangan
ا Alif tidak dilambangkan tidak dilambangkan
ب Bā B Be ت Tā T Te ث Ṡā Ṡ es titik di atas ج Jim J Je ح Ḥā’ Ḥ ha titik di bawah خ Khā’ KH ka dan ha د Dal D De
ر Rā’ R Er
ز Zai Z Zet
س Sin S Es
ش Syin SY es dan ye
ص Ṣād Ṣ es dengan titik di bawah
ض Ḍād Ḍ de dengan titik di bawah
ط Ṭā’ Ṭ te dengan titik di bawah
ظ Ẓā’ Ẓ zet dengan titik di bawah
ع ‘Ayn ‘ koma terbalik (di atas)
غ Gayn G Ge ف Fā’ F Ef ق Qāf Q Qi ك Kāf K Ka ل Lām L El م Mīm M Em
ن Nūn N En
و Wāu W We
ء Hamzah ` apostrof
ي Yā’ Y Ye
II. Vokal
Vokal bahasa Arab adalah seperti vokal dalam bahasa Indonesia, terdiri dari vokal tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau diftong.
a. Vokal Tunggal
Vokal tunggal dalam bahasa Arab yang lambangnya berupa tanda atau harkat, transliterasinya sebagai berikut:
Tanda Nama Huruf Latin Nama
ـَـــــ fatḥah A a
ِ ــــــ Kasrah I i
ِ ــــــ ḍammah U u
Vokal rangkap dalam bahasa Arab yang lambangnya berupa gabungan antara harkat dan huruf, transliterasinya berupa gabungan huruf, yaitu:
Tanda Nama Gabungan Huruf Nama
ــــــ َِـ
ِ ي fatḥah dan ya Ai a dan i
ـَــــــ
ِ و Fatḥah dan waw Au a dan u
Contoh:
Kaifa : َِف ِ يَِك
Suila : َِل ِ ئِ س
Haula : َِلِ وَِه
c. Maddah
Maddah atau vokal panjang yang lambangnya berupa harkat huruf, transliterasinya berupa huruf dan tanda yaitu:
Harkat dan Huruf Nama Huruf dan Tanda Nama
اَــــــ Fatḥah dan alif atau ya Ā a dan garis di atas
ِ ــــــ
ِ ي Kasrah dan ya i< i dan garis di atas
ِ و ــــــ Ḍammah dan wau Ū u dan garis di atas
qāla : َِلا َِق
ramā : َِماَِر
qīla : َِلِ قِ ي
yaqūlu : ِ لِ وَِيِ ق
d. Ta Marbuṭah
Transliterasi untuk ta marbuṭah ada dua:
1. Ta marbuṭah hidup.
Ta marbuṭah yang hidup atau mendapat harkat fatḥah, kasrah dan ḍammah, transliterasinya adalah (t).
2. Ta marbuṭah mati.
Ta marbuṭah yang mati atau mendapat harkat sukun, transliterasinya adalah (h).
3. Kalau pada kata yang terakhir dengan ta marbuṭah diikuti oleh kata yang menggunakan kata sandang al serta bacaan kedua kata itu terpisah, maka ta marbuṭah itu ditransliterasikan dengan ha (h).
Contoh:
rauḍah al-aṭfāl—rauḍatul aṭfāl : لافطلااِةضور
al-Madinah al-Munawwarah : ةرونملاِةنيدملا
Ṭalḥah : ةحلط
e. Syaddah (Tasydid)
Syaddah atau Tasydīd yang dalam tulisan Arab dilambangkan dengan sebuah tanda, tanda syaddah atau tanda tasydid, dalam transliterasi ini tanda syadadah tersebut dilambangkan dengan huruf, yaitu huruf yang sama dengan huruf yang diberi tanda syaddah itu. Contoh: - rabbanā : انّبر - nazzalā : لّزن - al-birr : ِّربلا - al-ḥajj : ِّجحلا - nu“ima : مّعن f. Kata Sandang
Kata sandang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan huruf, yaitu: alif dan lam. Namun dalam transliterasi ini kata sandang itu dibedakan atas kata sandang yang diikuti oleh huruf syamsiah dan kata sandang yang diikuti oleh qamariah.
1. Kata Sandang diikuti oleh huruf syamsiah.
Kata sandang yang diikuti oleh huruf syamsiah ditransliterasikan sesuai dengan bunyinya, yaitu huruf (L) diganti dengan huruf yang sama dengan huruf yang langsung mengikuti kata sandang itu.
Kata sandang yang diikuti oleh huruf qamariah ditransliterasikan sesuai dengan aturan yang digariskan di depan dan sesuai pula dengan bunyinya, baik diikuti huruf syamsiah maupun huruf qamariah, kata sandang ditulis terpisah dari kata yang mengikuti dan dihubungkan dengan tanda sempang.
Contoh: - ar-rajulu : لجرلا - as-sayyidatu : ةديسلا - asy-syamsu : سمشلا - al-qalamu : ملقلا - al-badi‘u : عيدبلا - al-jalālu : للاجلا g. Hamzah
Dinyatakan di depan bahwa hamzah ditransliterasikan dengan apostrof. Namun, itu hanya berlaku bagi hamzah yang terletak di tengah dan di akhir kata. Bila hamzah itu terletak di awal kata, ia tidak dilambangkan, karena dalam tulisan Arab berupa alif.
Contoh: - ta’khuzūna : نوذخأت - an-nau’ : ءونلا - syai’un : ءيش - inna : ِّنإ - umirtu : ترما
- akala : لكا
h. Penulisan Kata
Pada dasarnya setiap kata, baik fi’il (kata kerja), isim (kata benda) maupun ḥarf, ditulis terpisah. Hanya kata-kata tertentu yang tulisannya dengan huruf Arab sudah lazim dirangkaikan dengan kata lain karena ada huruf atau harkat yang dihilangkan, maka dalam transliterasi ini penulisan kata tersebut dirangkaikan juga dengan kata lain yang mengikutinya.
Contoh:
- Wa innallāha lahuwa khair ar-rāziqin : ِنيقزارلاِريخِوهلِاللهِنإو - Wa innallāha lahuwa khairurrāziqin : ِنيقزارلاِريخِوهلِاللهِنإو - Fa aufūl al-kaila wa al-mizana : ِنازيملاوِليكلاِاوفواف - Fa aufūl-kaila wal-mizāna : ِنازيملاوِليكلاِاوفواف - Ibrāhim al-Khalil : ِليلخلاِميهاربإ
- Ibrāhimul-Khalil : ِليلخلاِميهاربإ
- Bismillāhi majrehā wa mursāhā : ِاهسرموِاهارجمِاللهِمسب - Walillāhi ‘alan-nāsi hijju al-baiti : ِتيبلاِجحِسانلاِىلعِللهو - Man istaṭā‘a ilaihi sabila : ِلايبسِهيلاِعاطتساِنم - Walillāhi ‘alan-nāsi hijjul-baiti : ِتيبلاِجحِسانلاِىلعِللهو - Man istaṭā‘a ilaihi sabila : ِلايبسِهيلاِعاطتساِنم
i. Huruf Kapital
Meskipun dalam tulisan Arab tidak dikenal huruf kapital, namun dalam transliterasi ini huruf tersebut digunakan juga. Penggunaan huruf kapital seperti apa yang berlaku dalam EYD, di antaranya: huruf kapital digunakan untuk menuliskan huruf awal nama seseorang dan permulaan kalimat. Bila nama seseorang tersebut didahului oleh kata sandang, maka yang ditulis dengan huruf kapital tetap huruf awal nama tersebut, bukan huruf awal kata sandangnya.
Contoh:
- Wa mā Muḥammadun illā rasūl
- Inna awwala baitin wudi’a linnāsi lallazibi Bakkata mubārakan - Syahru Ramadan al-lazi unzila fihi al-Qur’anu
- Syahru Ramadanal-lazi unzila fihil-Qur’anu - Wa laqad ra’āhu bil ufuq
- Alhamdu lillāhi rabbil-‘ālamin.
Penggunaan huruf awal kapital untuk Allah hanya berlaku bila dalam tulisan Arabnya memang lengkap demikian dan kalau penulisan itu disatukan dengan kata lain sehingga ada huruf atau harkat yang dihilangkan, huruf kapital tidak dipergunakan.
Contoh:
- Naṣrun minallāhi wa fathun qarib - Wallāhu bikulli syai’in ‘alim - Lillāhi al-amru jami‘an
- Lillāhil-amru jami‘an
-j. Tajwid
Bagi mereka yang menginginkan kefasihan dalam bacaan, pedoman transliterasi ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan ilmu tajwid. Karena itu, peresmian pedoman transliterasi ini perlu disertai dengan ilmu tajwid.
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ... PERNYATAAN KEASLIAN ... HALAMAN PENGESAHAN ... ABSTRAK ... i PEDOMAN TRANSLITERASI ... ii KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... viii
BAB I PENDAHULUAN ... 1 A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 10 C. Tujuan Penelitian ... 10 D. Manfaat Penelitian ... 11 E. Tinjauan pustaka ... 11 F. Metode Penelitian ... 14 G. Landasan Teori ... 14 H. Sitematika Pembahasan ... 17
BAB II BIOGRAFI BUYA HAMKA DAN TAFSIRNYA ... 18
A. BUYA HAMKA ... 18
1. Riwayat Hidup ... 18
2. Karya-karyanya ... 28
B. TAFSIR AL AZHAR ... 32
1. Riwayat Penulisan Tafsir AlAzhar ... 32
2. Metode dan Corak Tafsir Al Azhar ... 35
3. Sistematika Penulisan Tafsir Al Azhar ... 56
4. Sumber-Sumber Penulisan Tafsir Al Azhar ... 37
5. Keistimewaan Tafsir Al Azhar ... 38
BAB III BALA’ DALAM ALQURAN ... 42
A. Pengertian Bala’. ... 42
B. Derivasi Bala’ dalam Alquran ... 44
C. Asbabun Nuzul ... 54
BAB IV ANALISI BALA’ DALAM ALQURAN MENURUT BUYA HAMKA DALAM TAFSIR AL AZHAR ... 58
A. Penafsiran Buya Hamka Mengenai Kata Kata Bala’ Dalam Alquran 1. Eksitensi Bala’ Pada Manusia ... 59
a. Bala’ Sebagai Sunatullah ... 59
b. Pengaruh Keimanan Dalam Menghadapi Ujian ... 63
2. Bentuk – Bentuk Bala’ Pada Manusia ... 65
a. Bala’ dalam Bentuk Kebaikan Dan Keburukan ... 65
b. Bala’ dalam bentuk harta dan jiwa ... 67
B. Analisis ... 69
BAB V PENUTUP ... 71
A. Kesimpulan ... 71
B. Saran ... 72
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar BelakangAlquran adalah kitab suci agama Islam yang berisi firman Allah swt. Disamping nama “Alquran”, masih banyak lagi nama lainnya, antara lain Kitab (buku pedoman), Al-Furqan (pembeda antara yang baik dan buruk), Al-zikr (peringatan), Hudan (petunjuk), al-Syifa (obat penawar), khususnya bagi hati yang resah dan gelisah, dan al-Mau’izah (nasehat dan wejangan).1
Alquran merupakan pedoman hidup bagi manusia. Pembahasan Alquran terhadap suatu masalah tidak tersusun secara sistematis serta masih bersifat global dan seringkali hanya menampilkan suatu masalah dalam prinsip-prinsip pokok saja. Namun demikian dalam format Alquran semacam ini terletak keunikan sekaligus keistimewaan. Dalam keadaan tersebut Alquran menjadi objek kajian yang tidak pernah kering oleh para cendekiawan, baik muslim maupun nonmuslim, sehingga Alquran tetap aktual sejak masa diturunkannya.2
Sebagai sumber pokok ajaran Islam, Alquran tidak henti dikaji dan secara terus-menerus, sehingga muncul ungkapan bahwa mempelajari Alquran adalah sebuah kewajiban
1 Amroeini Drajat, Ulumul Alquran, (Bandung : Cita Pustaka Media, 2014), hlm. 24.
2 Harifuddin Cawidu, Konsep Kufur Dalam Alquran: Suatu Kajian Dengan Pendekatan Tafsir Tematik (Jakarta : Bulan Bintang, 1991), hlm. 5.
sebab hidup adalah usaha mengendalikan diri berdasarkan norma-norma atau aturan-aturan yang berasal dari penciptanya.3
Allah swt menurunkan Alquran dalam bentuk berbahasa arab. Namun yang menjadi masalah dan pangkal perbedaan adalah kapasitas manusia yang sangat terbatas dalam memahami Alquran karna pada kenyataanya tidak semua yang pandai bahasa arab, sekalipun orang arab itu sendiri, mampu memahami dan menangkap pesan ilahi yang terkandung di dalam Alquran secara sempurna. Terlebih orang ‘azam (Non Arab). Bahkan sebagian para sahabat nabi, dan tabiin yang tergolong lebih dekat kepada masa nabi, masih ada yang keliru menangkap pesan Alquran.4
Manusia ditempatkan allah sebagai makhluk yang paling sempurna di antara semua makhkuk yang di ciptakannya. Tentunya dengan tingkatan tersebut secara tidak langsung allah swt memberikan tanggung jawab yang sangat besar kepada manusia agar lebih gigih dalam memahami, mengamalkan perintahnya dan berupaya untuk meninggalkan segala yang dilarangnya untuk meningkatkan kualitas iman dan taqwa kepada allah swt agar dapat mencapai kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan akhirat.
Kesuksesan hidup dan kemuliaan akhirat tidak mudah untuk diraih, Upaya manusia untuk meraih kesuksesan dengan mengikuti petunjuk akan diuji oleh Allah swt., dengan beragam ujian dan cobaan. Manusia tidak dibiarkan mengklaim dirinya sebagai orang beriman tanpa diuji sebelumnya. Allah swt., berfirman tentang hal ini dalam Alquran:
3
M. Quraish Shihab, Membumikan Alquran: Fungsi dan Peranan Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Bandung: Mizam, 1997), hlm. 33.
ِ
ِ َب سَحَأ
ِ ساَّنلٱ
ِ
ِ َنو نَت ۡف يِ َلاِ ۡم هَوِاَّنَماَءِ آو لو قَيِنَأِ آو كَرۡت يِنَأ
٢
ِِ
Artinya : Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi. ( Q.S Al Ankabut 29 : 2 ).
Keberhasilan atau kesuksesan seseorang itu dia peroleh setelah terlebih dahulu melewati berbagai ujian, semakin tinggi kualitas seseorang, semakin berat pula bala yang akan ia terima. Oleh karena itu, para nabi dan rasul pun menerima berbagai macam ujian dari Allah swt. Ibn al-Jauzy mengatakan: “Seandainya dunia bukan medan ujian dan cobaan, di dalamnya tidak akan tersebar penyakit dan nestapa, takkan pernah ada kepedihan yang menimpa para nabi dan orang-orang pilihan”.5
Nabi Adam as., diuji oleh Allah swt., hingga dikeluarkan dari surga, Nabi Nuh as., diuji kesabarannya dengan berdakwah selama tiga ratus tahun, dan nabi Ibrahim as., diuji dengan bara api dan penyembelihan putranya sendiri. Allah swt., berfirman tentang beratnya cobaan bagi para nabi:
ِۡمَأ
ِ
ِ تۡب سَح
ِ او ل خ ۡدَتِ نَأِ ۡم
َِةَّنَجۡلٱ
ِ
ِ لَثَّمِ م ك تۡأَيِ اَّمَلَو
َِني ذَّلٱ
ِ
ِ م هۡتَّسَّمِ ۖم ك لۡبَقِ ن مِ ا ۡوَلَخ
ِ ءٓاَسۡأَبۡلٱ
ِ
َِو
ِ ءٓاَّرَّضلٱ
ِ
ِ َلو قَيِ ٰىَّتَحِ او ل زۡل زَو
ِ لو سَّرلٱ
ِ
َِو
َِني ذَّلٱ
ِ
ِ هَعَمِ او نَماَء
ۥِ
ِ ر ۡصَنِ ٰىَتَم
ِه َّللهٱ
ِ
َِنِ َّن إِٓ َلاَأ
َِر ۡص
ِ
ِ َّللهٱ
ِ
ِ ٞبي رَق
٢١٢
ِِ
Artinya: Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?
5 Abd ar-Rahman Ibn ‘Ali, Mawaiz Ibnu Al Jauzy (Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah,1995), hlm. 176.
Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Q.S Al Baqarah 2 : 214).
Allah Maha kuasa atas hidup manusia. Tidak ada yang berlaku di muka bumi ini kecuali atas kehendaknya, termasuk di dalamnya musibah yang menimpa seseorang di belahan manapun di dunia ini. Allah swt., sebagai pencipta manusia mengetahui apa yang terbaik bagi manusia. Rahmat dan kasih sayang Allah swt., jauh lebih banyak dari ujian yang diberikan. Semua peristiwa yang terjadi adalah atas kehendak Allah swt., dan sudah dituliskan di al-Lauh al-mahfuẓ.
Hal ini telah dinyatakan Allah swt., dalam surat Al-Hadid ayat 22-23 sebagai berikut:
ِٓاَم
ِ
ِي فِ ٖةَبي صُّمِن مِ َباَصَأ
ِ ض ۡرَ ۡلۡٱ
ِ
ِنَأِ لۡبَقِنِّمِ ٖبَٰت كِي فِ َّلا إِ ۡم ك س فنَأِ ٓي فِ َلاَو
ِىَلَعِ َك ل َٰذِ َّن إِ ٓۚٓاَهَأَرۡبَّن
ِ َّللهٱ
ِ
ِ ٞري سَي
٢٢
ِ
َِلا ۡيَكِّل
ِ
ِٓاَم بِ او حَرۡفَتِ َلاَوِ ۡم كَتاَفِاَمِ ٰىَلَعِ ا ۡوَسۡأَت
َِوِ هۡم كٰىَتاَء
ِ َّللهٱ
ِ
ٍِرو خَفِ ٖلاَت ۡخ مَِّل كِ ُّب ح يِ َلا
٢٢
ِِ
Artinya : Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. ( Q.S. Al Hadid 22-23 )
Kedua ayat di atas secara tegas menyatakan bahwa pada hakikatnya apapun jenis yang menimpa manusia telah ditetapkan oleh Allah swt., dan ditulis di dalam kitab di al-Lauh al-Mahfūẓ. Selanjutnya ayat tersebut menyatakan bahwa semestinya manusia tidak putus asa apabila ditimpa ujian atau suatu musibah, begitu juga sebaliknya semestinya manusia tidak terlalu bergembira dan menjadi lupa diri ketika meraih prestasi dalam hidupnya.
Bala’ merupakan sebuah ujian atau peringatan yang diberikan Allah swt. kepada umat untuk mengetahui seberapa besar keimanan mereka. Kuat-lemahnya iman seseorang itu dapat dilihat dari cara mereka menyikapi Bala’ yang menimpa mereka. Orang yang kuat imannya pada saat ditimpa Bala’ selalu bersabar, ikhlas,ridha dan tawakal. Mereka menganggap bahwa semua itu adalah ujian dari Allah swt. untuk meningkatkan iman dan ketakwaan mereka sehingga mereka tidak terlena dalam kenikmatan dunia yang hanya bersifat sementara. Orang yang lemah imannya, dalam menghadapi musibah selalu berputus asa dan mempertikaikan Bala’ yang menimpa mereka. Bahkan mereka lupa bahwa semua yang ada di alam ini adalah milik Allah swt. yang dititipkan dan akan diambil kembali bila waktu yang telah ditentukan tiba.
Kata al-bala’ dalam bahasa Arab, berasal dari kata “baliya” yang secara bahasa mempunyai makna ujian (al-ikhtibar), yang bisa dalam bentuk kebaikan maupun keburukan. Dengan mengutip pendapat al-Qutaibi, Ibnu Mandzur lebih lanjut memberikan keterangan bahwa jika ujian berbentuk kebaikan maka dinamakan ibla’, sedangkan jika ujian berbentuk keburukan maka dinamakan bala’, akan tetapi Ibnu Manzur juga memberikan pendapat lain
yang dikenal luas bahwa sesungguhnya ujian (bala’) secara mekanis tidak ada perbedaannya dalam bentuk, baik dalam bentuk kebaikan maupun dalam bentuk keburukan.6
Sebagai pelengkap, bentuk lain yang sering digunakan untuk mengunggkapkan ujian atau cobaan bagi manusia adalah al-imtihan, yang juga diartikan dengan al-khibrah atau ujian. Misalnya kata ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang mati syahid, bahwa orang mukmin yang mati dalam keadaan jihad dengan jiwanya, hartanya di jalan Allah, adalah seorang syahid yang telah teruji (syahid Mumtahan). Arti syahid al-mumtahan disini adalah seorang yang suci jiwanya (al-Musaffa), berbudi baik (al-muhazab) dan orang yang ikhlas (al-mukhallis), ibarat perak yang telah tersaring dan dimurnikan oleh api. Dan beberapa ulama menyamakan dengan term al-bala’, yang biasa diartikan dengan “cobaan” (ikhtibar).7
Al-bala’ dalam Alquran merupakan cobaan Allah swt. kepada manusia yang terjadi di dunia, karena ia diciptakan dengan sesuatu yang urgent di balik penciptaannya, semua bentuknya merupakan cobaan seperti telingga, penglihatan sampai akalnya merupakan cobaan dari Allah, serta cobaan lainnya didunia ini baik dalam bentuk sebuah kebaikan atau kemakmuran maupun keburukan atau bencana.8
Metamorfosis manusia untuk meningkatkan kualitas yang terbaik pasti dibarengi oleh musibah yang menjadi halangan dan rintangan utamanya. Kita bisa melihat dari zaman
6 Abu al-Fadl Jamaluddin Muhammad bin Mukarram Ibnu Manzur, Lisan Al-‘Arab (beirut:
Dar Sadr, 1990), hlm. 84.
7
Ibid, h. 401.
8 Muhammad Husain at-Taba’taba’i, al-Mizan fi Tafsir Al-Qur’an, juz. VI (Beirut:
Nabi hingga saat ini musibah merupakan santapan sehari-hari yang tidak bisa dielakkan. Pada zaman Nabi Muhamad saw., dan para sahabatnya yang diajak perang berjihad dalam agama Allah swt., pernah terluka dan bahkan ada yang gugur, Nabi pun pernah terluka, bukan berarti mereka termasuk orang-orang yang dibenci Allah swt. Justru karena Allah ingin mengangkat derajat mereka dari mukmin menjadi syuhadā’ lillah.
Nabi Musa as., pun pernah diuji Allah swt., “Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata, “Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbutan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah bala dari Engkau, Engkau sesatkan dengan bala itu siapa yang Engkau hendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Enkaulah yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah pemberi ampun yang sebaik-baiknya. (Q.S. Al-Aʻrāf 7: 155).
Terkadang bala itu datang bukan hanya untuk perorangan saja, akan tetapi Allah juga menurunkan bala kepada suatu bangsa. Seperti Indonesia misalnya, yang selalu mengalami ujian yang datang silih berganti. Salah satu kejadian yang meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi bangsa ini adalah peristiwa tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004.9 Kejadian tersebut telah meluluhlantakkan provinsi Aceh dan sekitarnya dengan kerugian yang mencapai. Milyar Dolar Amerika dan ratusan ribu nyawa
melayang. Kemudian peristiwa jatuhnya alat berat proyek (crane) di Masjidil Haram, pada hari Jumat tanggal 11 september 2015 yang memakan korban lebih dari 100 jamaah haji. Demikian juga tragedi Mina pada yang memakan korban lebih dari 400 jamaah haji. 10 Pada Senin, 18 Juni 2018 pukul 17.30 Wib, KM Sinar Bangun tenggelam di perairan Danau Toba yang menyebabkan 164 orang hilang.11
Peristiwa ujian dan cobaan yang semacam ini bukan berarti pertanda marahnya Allah kepada mereka. Akan tetapi, jika korban yang bersangkutan adalah seorang mukmin yang taat, maka bencana itu merupakan ujian kepadanya, yang jika ia bersabar, akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah swt. Jika orang yang bersangkutan adalah orang muslim yang terkadang masih suka berbuat maksiat, maka bencana itu merupakan teguran untuknya agar ia kembali kepada jalan yang benar. Sebaliknya, jika yang bersangkutan adalah orang kafir, maka bencana itu merupakan ‘Azab baginya.
Setiap manusia merasakan kepedihan atas terjadinya musibah atau bala yang merenggut kesenangan hidup tersebut. Akan tetapi manusia menghadapi bala yang menimpanya dengan sikap yang berbeda-beda. Sikap manusia terhadap bala dapat dikelompokkan sebagai berikut. Pertama, kelompok yang menganggap bala sebagai bagian dari warna kehidupan yang harus diterima. Mereka meyakini setiap orang akan mengalami bala dari Allah dan mereka tidak larut dalam kesedihan dan melanjutkan hidupnya seperti biasa. Kedua, kelompok yang menganggap bala sebagai akibat dari perbuatan orang lain terhadap dirinya, Sikap ini dapat menciptakan pribadi yang pendendam, cenderung
10 http://www.tribunnews.com/internasional /2015/09/12/. 11 https://news.detik.com/berita/4089199/.
menyalahkan orang lain dan akan membawa kerugian bagi yang bersangkutan. Ketiga, kelompok yang menganggap bahwa ia menerima bala dari Allah dikarenakan kesalahan-kesalahan yang ia lakukan. Keempat, kelompok yang menyalahkan dan mempertanyakan keadilan Tuhan Sang Pencipta. Kelompok ini mengakui bahwa musibah adalah kehendak Sang Pencipta. Tetapi, pada saat yang sama, mereka merasa tidak layak untuk ditimpa musibah tersebut. Sikap semacam ini dapat membawa manusia kepada kekufuran.12
Sesungguhnya ujian dan cobaan itu adalah rahmat dan kasih sayang Allah terhadap hambanya. Sungguh berbagai cobaan hidup itu bertujuan untuk mengetahui secara lahiriyah, mana di antara mereka yang pandai bersyukur dan mana pula yang kufur, mana yang bersabar dan mana pula yang cepat putus asa, mana yang benar-benar beriman dan mana yang dusta dalam beramal. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.13
Tidak sedikit orang yang menganggap bahwa ujian dan cobaan itu hanyalah yang berupa musibah, kecelakaan dan bencana, kesulitan dan kesempitan hidup dan yang semisalnya. Padahal sesungguhnya ujian dan cobaan itu tidak hanya berupa musibah, sesuatu yang dirasakan berat dan menyakitkan. Akan tetapi, bisa juga berupa kebaikan dan kenikmatan yang menyenangkan, sebagaimana yang dijelaskan Allah bahwa Ia akan menguji hamba hambanya dengan keburukan dan kebaikan.14
12
Muhammad al-Manjibi, Menghadapi Musibah Kematian, Penerjemah Muhammad Uhadi (Jakarta: Mizan Publika, 2007), hlm. 73.
13 Lihat Q.S. Az-Zumar/39: 10. 14 Lihat Q.S. Al-Anbiya’/21: 35.
Berdasarkan uraian di atas, alasan penulis memilih topik bala dalam penelitian ini adalah pertama, karena bala sebagai sebuah ujian dari Allah swt., yang selalu menghiasi kehidupan manusia. Terlebih, sejak beberapa tahun terakhir banyak musibah berupa cobaan dan ujian yang terjadi di Indonesia sebagaimana telah diuraikan di atas. Kedua, kebanyakan manusia tidak mengetahui atau lupa tentang bala. Hal ini tampak dari sikap negatif kebanyakan manusia ketika Allah memberikan kepadanya bala yang menjadikan hidup mereka menjadi terasa semakin sempit. Oleh karena itu, penulis ingin menguraikan hakikat yang sebenarnya tentang Bala dalam alqura menurut Buya Hamka dalam Tafsir Al azhar. Pemahaman yang benar tentang hakikat bala diharapkan dapat membantu melahirkan sikap dan perilaku yang benar ketika Allah menimpakan bala kepada hamba-Nya.
B. Rumusan Masalah
Untuk menentukan suatu masalah dan menghindari dari luasnya pembahasan yang terlalu jauh dari garis yang penulis tetapkan maka perlu ada pembatasan masalah. Adapun pembatasan masalah dalam skripsi ini yaitu terkait bagaimana konsep Bala’ dalam al-Qur’an Menurut Pandangan Buya Hamka Dalam Tafsir Al Azhar . Adapun rumusan masalah pada skripsi ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana penjelasan kata bala’ dan pengertiannya dalam Alquran menurut tafsir Al azhar ?
2. Klasisifikasi jenis Bala dalam Alquran menurut Tafsir Al Azhar ?
Penelitian ini diharapkan bisa menjawab semua permasalahan yang telah dikemukakan pada topik masalah dan rumusan masalah pada bagian terdahulu. Berpegang pada dua hal tersebut, maka tujuan penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pandangan Buya Hamka tentang tentang Bala’ dalam Alquran
2. Untuk mengetahui hakikat bala yang diberikan Allah kepada hamba hamba- Nya menurut Alquran.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat dan kegunaan penelitian ini diantaranya. Secara akademis penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dalam ilmu pengetahuan terlebih lagi dalam bidang Tafsir sehingga penelitian ini dapat di manfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Sedangkan bagi masyarakat umum bisa menambah pengetahuan mereka tentang bagaimana menyikapi al-bala’ yang diberikan Allah kepada kita melalui solusi yang ditawarkan oleh Al-Quran.
E. Tinjauan Pustaka
Al-Quran secara teks memang tidak berubah, tetapi penafsiran atas teks, selalu berubah, sesuai dengan konteks ruang dan waktu manusia. Karenanya, Alquran selalu membuka diri untuk dianalisis, dipersepsi, dan diinterpretasikan (ditafsirkan) dengan berbagai alat, metode dan pendekatan untuk menguak isi sejatinya. Aneka metode tafsir
diajukan sebagai jalan untuk membedah makna terdalam dari Alquran.15Termasuk ayat-ayat tentang Bala’ dalam Alquran menurut pandangan Buya Hamka dalam Tafsir Al azhar yang menjadi fokus kajian dalam skripsi ini.
Berkaitan dengan judul penelitian skripsi di atas, penulis telah melakukan serangkaian telaah terhadap beberapa literatur pustaka baik itu berbentuk buku maupun berbentuk Portable Document Format (PDF) dan judul-judul Sekripsi yang ada di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana penelitian dan kajian tentang “Bala’ dalam Alquran Menurut Buya Hamka” telah dilakukan oleh beberapa peneliti yang lain. Dengan demikian, diharapkan nantinya tidak ada pengulangan kajian yang sama. Dari hasil penelusuran penulis berkaitan dengan judul skripsi yang penulis angkat diatas, nampaknya belum ada penelitian yang secara khusus membahas Bala’ dalam Alquran menurut Buya Hamka. Mengenai tema ujian dalam perspektif lain atau tema yang satu rumpun yaitu tentang musibah memang sudah ada yang melakukan penelitian berupa skripsi antara lain:
Asep Mansur dalam skripsinya yang berjudul “Musibah dalam Al-Qur‟an: Studi Komparatif At-Tabari dan Al-Maragi skripsi ini membahas perbandingan penafsiran
At-Tabari
danAl-Maraghi
tentang musibah dalam Al-Qur‟an. Keduanya memiliki persamaan dalam hal menafsirkan kata musibah yaitu bahwa musibah pada hakikatnya merupakan ketetapan Allah yang tertulis dalamLauh al-Mahfudz
. Sebelum Allah menciptakan15
Menurut Umar Shihab, Al-Qur‟an sendiri seolah-olah menantang dirinya untuk dibedah, tetapi, semakin dibedah, rupanya semakin banyak saja yang tidak diketahui. Semakin ditelaah, nampaknya semakin kaya pula makna yang terkuak darinya. Lihat., Umar Shihab, Kontekstualitas Al-Qur’an Kajian Tematik atas Ayat-ayat Hukum dalam Al-Al-Qur’an, (Jakarta: Penamadani, 2005), h. 3
makhluk-makhluk-Nya. Ketetapan itu sesuai dengan sunnah-sunnah yang diletakkan-Nya pada hukum alam. Dan keduanya juga menganggap bahwa musibah yang menimpa manusia disebabkan oleh perbuatan manusia itu sendiri yang lalai dalam memahami hukum alam. Disisi lain ada perbedaan antara
At-Tabari
danAl-Maragi
tentang musibah. Pada salah satu penafsirannya,Al-Maragi
menyatakan musibah itu bisa bermakna kebaikan dan keburukan. Namun ditempat lainAl-Maragi
mengatakan musibah adalah setiap peristiwa menyedihkan yang menimpa manusia.16Latifah, Penafsiran al-Thabari terhadap Fitnah (Studi Analisis-deskriptif kitab Jami al-Bayan Ta’wil al-Qur’an). dalam tulisannya penulis menyimpulkan bahwa fitnah tidak hanya bermakna ujian dan cobaan saja, akan tetapi bisa bermakna lain berdasarkan konteks ayat.17
Musibah dalam Perspektif Al-Qur’an karya M. Quraish Shihab yang menjelaskan hakikat musibah dengan membandingkan antara pengertian dari musibah, bala’, dan fitnah yang dilihat dari segi penyebabnya. Dalam tulisan tersebut dijelaskan bahwa musibah menimpa akibat kesalahan manusia. Bala’ Bala’ merupakan keniscayaan dan dijatuhkan Allah swt. walau tanpa kesalahan manusia. Hal ini dilakukan-Nya untuk menguji manusia.
16 Asep Mansur, Musibah dalam Al-Qur’an (Studi Komparatif Penafsiran at-Thabari dan
al-Maraghi) Skripsi, Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2003
17
Latifah, Penafsiran al-Thabari terhadap Fitnah (Studi Analisis-deskriptif Kitab Jami Al-Bayan Ta’wil al-Qur’an), Skripsi Jurusan Tafsir Hadits, Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2000
Adapun fitnah, maka itu adalah bencana yang dijatuhkan Allah dan dapat menimpa orang yang bersalah maupun yang tidak bersalah.18
Berdasarkan hasil dari tinjauan kepustakaan yang telah penulis lakukan, penulis menemukan beberapa judul skripsi yang membahas
al-bala’
akan tetapi penelitian sebelumnya belum membahas secara khusus kataal-bala’
itu sendiri. Sedangkan yang membedakan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah penelitian ini menfokuskan penelitian pada kataal-bala’
terhadap pemahaman Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar, tentu tema tersebut sangat berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya.F. Landasan Teori
Demi menghindari terjadinya penelitian yang melebar keluar dari maksud sebenarnya, dan agar tidak timbul kesalah pahaman sekaligus mempermudah proses kerja dalam penelitian ini, maka perlu adanya istilah-istilah yang bisa membatasinya. Dengan harapan tercapainya persamaan persepsi terhadap topic yang dimaksud, yaitu” Bala Dalam Alquran menurut Buya Hamka”, sebuah kajian dengan pendekatan tafsir tematik”.
Kata bala’ menurut Kamu Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah merupakan suatu malapetaka, kemalangan, cobaan, kesengsaraan dan kecelakaan, maka kata bala dalam bahasa indonesia adalah suatu timpaan yang buruk, seperti gempa bumi, banjir, kebakaran, dan sebagainya. Sedikit penjelasan tentang bala’ dalam landasan teori ini karna nanti akan di jelaskan secara menyeluruh dalam Bab selanjutnya.
18 M. Quraish Shihab, Musibah dalam Perspektif Al-Qur’an, dalam Jurnal Study al-Qur’an, vol I. no I, (Jakarta : PSQ (Pusat Study Qur’an, 2006), h.16.
Dalam penelitian ini, penulis membatasi istilah bala dalam bahasa Alquran dan akan lebih condong terhadap pemikiran dari Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar sehingga penelitian ini tidak terlalu meluas pembahasannya.
G. Metodologi Penelitian
Metodologi penelitian sangat menentukan berhasil atau tidaknya maksud yang ingin dicapai dalam sebuah tulisan. Maka untuk memperoleh bahan informasi yang akurat dalam pemahaman tesis ini digunakan metode dan langkahlangkah sebagai berikut:
1. Jenis dan Sifat Penelitian.
Jenis Penelitian ini adalah Library Research, yaitu penelitian dengan mengumpulkan data-data dan menelaah buku-buku literatur perpustakaan terkait dengan Pembahasan judul penelitian ini. Sifat penelitian ini adalah deskriptif analisis yaitumetode penelitian yang bertujuan untuk membahas deskripsi yaitu gambaran secara jelas, sistematis, faktual dan akurat serta mengemukakan fenomena atau hubungan antara fenomena yang terkait.19
2. Sumber Penelitian
Pada dasarnya penelitian ini merupakan studi kewahyuan, maka yang menjadi sumber utama (primer) adalah Alquran dan Tafsir Al Azhar yang merupakan pokok dari pembahasan ini. Berdasarkan kesepakatan di awal, bahwa penelitian ini didasari oleh metode penafsiran Alquran dalam bentuk tematik (mauḍūʻi) seputar ayat-ayat tentang bala, karenanya yang menjadi
rujukan inti pada penelitian ini adalah Alquran, kemudian selain Alquran, penelitian ini juga didukung oleh beberapa sumber sekunder yang merupakan karya-karya ulama yang memiliki kaitan dengan pokok kajian ini, di antaranya ialah kitab-kitab ysng terkait dengan pembahasan Bala’.
3. Metode Analisis Data
Adapun metode dalam menganalisa bahan yang telah dihimpun menggunakanpendekatan analisis tafsir tematik (mauḍūʻi) yang dikemukakan oleh Abdul Hayal-Farmawy dalam bukunya al-Bidāyah fi at-Tafsīr al-mauḍūʻi.
Adapun langkahlangkahyang hendak ditempuh adalah sebagai berikut:
a. Menetapkan masalah yang akan dibahas (topik)
b. Menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah tersebut. c. Memahami korelasi ayat-ayat tersebut dalam surahnya masing-masing. d. Menyusun pembahasan dalam kerangka yang sempurna (out-line).
e. Melengkapi pembahasan dengan Hadis-hadis yang relevan dengan pokok bahasan.
f. Mempelajari ayat-ayat tersebut secara keseluruhan dengan jalan menghimpunayat-ayatnya yang mempunyai pengertian yang sama, atau mengompromikanantara yang ‘ām (umum) dan khāsh (khusus), muṭlaq
dan muqayyat (terikat) atau yang pada lahirnya bertentangan, sehingga kesemuanya dalam satu muara, tanpa perbedaan atau pemaksaan.20
H. Sistematika Pemabahasan
Untuk memberikan arah yang tepat dan tidak memperluas obyek penelitian agar memperoleh suatu hasil yang utuh, maka dalam penyusunan ini peneliti menggunakan sistematika bab perbab dengan gambaran sebagai berikut:
Bab Pertama, berisi pendahuluan. Bab ini mencakup latar belakang masalah, pokok masalah, tujuan penelitian, manfaat dan kegunaan, tinjauan pustaka, teori-teori yang akan dipakai, metode-metode yang akan digunakan, dan sistematika penulisan.
Bab Kedua, berisi tentang beografi dari Buya Hamka antara lain Riawayat Hidup, pendidikan , karya-karya dan segala yang menyangkut tentang kehidupan dan perjalanan hidup buya Hamka dan Berisi kan tentang pembahasan Mengenai Tafsir Al Azhar.
Bab Ketiga, Berisikan tentang pengertian atau pemaknaan secara umum tentang
Bala’ dalam Alquran.
Bab Keempat, Berisikan tentang Pembahasan bala’ dalam Alquran menurut Tafsir Al Azhar beserta analisis dan penjabarannya.
20
Abdul Hay Al-Farmawi, Al-Bidayah Fi At-Tafsir Maudhu’I, Dirasah Manhajiyyah Maudhu’iyyah, Terj. Rosihon Anwar, Metode Tafsir Maudhu’i (Bandung: Cv Pustaka Setia, 2002), h. 43-44.
Bab Kelima, merupakan bab penutup, yang berisi kesimpulan dan saran-saran. Ini adalah langkah akhir penulis dalam melakukan penelitian, dimana dalam bab ini penulis berharap mampu memberikan kontribusi yang berarti berupa kesimpulan terhadap penelitian serta saran-saran yang memberikan dorongan dan inspirasi bagi peneliti berikutnya.
BAB II
BEOGRAFI BUYA HAMKA DAN TAFSIRNYA A. Beografi Buya Hamka
1. Riwayat Hidup Buya Hamka
Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang biasa dikenal dengan sebutan buya Hamka, lahir di Sungai
Batang, Maninjau Sumatera Barat pada hari Ahad, tanggal 17 Februari 1908 M./13 Muharam 1326 H dari kalangan keluarga yang taat agama. Ayahnya adalah Haji Abdul Karim Amrullah atau sering disebut Haji Rasul bin Syekh Muhammad Amarullah bin Tuanku Abdullah Saleh. Haji Rasul merupakan salah seorang ulama yang pernah mendalami agama di Mekkah, pelopor kebangkitan kaum muda dan tokoh Muhammadiyah di Minangkabau, sedangkan ibunya bernama Siti Shafiyah Tanjung binti Haji Zakaria (w. 1934). Dari geneologis ini dapat diketahui, bahwa ia berasal dari keturunan yang taat beragama dan
memiliki hubungan dengan generasi pembaharu Islam di Minangkabau pada akhir abad XVIII dan awal abad XIX. Ia lahir dalam struktur masyarakat Minangkabau yang menganut sistem matrilineal. Oleh karna itu, dalam silsilah Minangkabau ia berasal dari suku Tanjung, sebagaimana suku ibunya.21
Sejak kecil, Hamka menerima dasar-dasar agama dan membaca Alquran langsung dari ayahnya. Ketika usia 6 tahun tepatnya pada tahun 1914, ia dibawa ayahnya ke Padang panjang. Pada usia 7 tahun, ia kemudian dimasukkan kesekolah desa yang hanya dienyamnya selama 3 tahun, karena kenakalannya ia dikeluarkan dari sekolah. Pengetahuan agama, banyak ia peroleh dengan belajar sendiri (autodidak). Tidak hanya ilmu agama, Hamka juga seorang otodidak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. 22
Ketika usia Hamka mencapai 10 tahun, ayahnya mendirikan dan mengembangkan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Ditempat itulah Hamka mempelajari ilmu agama dan mendalami ilmu bahasa arab. Sumatera Thawalib adalah sebuah sekolah dan perguruan tinggi yang mengusahakan dan memajukan macam-macam pengetahuan berkaitan dengan Islam yang membawa kebaikan dan kemajuan di dunia dan akhirat. Awalnya Sumatera Thawalib adalah sebuah organisasi atau perkumpulan murid-murid atau pelajar mengaji di Surau Jembatan Besi Padang Panjang dan surau Parabek Bukittinggi, Sumatera Barat. Namun dalam perkembangannya, Sumatera Thawalib langsung bergerak dalam bidang
21
Samsul Nizar, Memperbincangkan Dinamika Intelektual dan Pemikiran Hamka tentang Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), hlm. 15-18
pendidikan dengan mendirikan sekolah dan perguruan yang mengubah pengajian surau menjadi sekolah berkelas.23
Secara formal, pendidikan yang ditempuh Hamka tidaklah tinggi. Pada usia 8-15 tahun, ia mulai belajar agama di sekolah Diniyyah School dan Sumatera Thawalib di Padang Panjang dan Parabek. Diantara gurunya adalah Syekh Ibrahim Musa Parabek, Engku Mudo Abdul Hamid, Sutan Marajo dan Zainuddin Labay el Yunusy. Keadaan Padang Panjang pada saat itu ramai dengan penuntut ilmu agama Islam, di bawah pimpinan ayahnya sendiri. Pelaksanaan pendidikan waktu itu masih bersifat tradisional dengan menggunakan system halaqah. Pada tahun 1916, sistem klasikal baru diperkenalkan di Sumatera Thawalib Jembatan Besi. Hanya saja, pada saat itu sistem klasikal yang diperkenalkan belum memiliki bangku, meja, kapur dan papan tulis. Materi pendidikan masih berorientasi pada pengajian kitab-kitab klasik, seperti nahwu, sharaf, manthiq, bayan, fiqh, dan yang sejenisnya. Pendekatan pendidikan dilakukan dengan menekankan pada aspek hafalan. Pada waktu itu, system hafalan merupakan cara yang paling efektif bagi pelaksanaan pendidikan.24
Meskipun kepadanya diajarkan membaca dan menulis huruf arab dan latin, akan tetapi yang lebih diutamakan adalah mempelajari dengan membaca kitab-kitab arab klasik dengan standar buku-buku pelajaran sekolah agama rendah di Mesir. Pendekatan pelaksanaan pendidikan tersebut tidak diiringi dengan belajar menulis secara maksimal. Akibatnya banyak diantara teman-teman Hamka yang fasih membaca kitab, akan tetapi
23
Badiatul Roziqin, 101 Jejak Tokoh Islam Indonesia (Yogyakarta: e-Nusantara, 2009), hlm. 53
24Samsul Nizar, Memperbincangkan Dinamika Intelektual dan Pemikiran Hamka tentang
tidak bisa menulis dengan baik. Meskipun tidak puas dengan sistem pendidikan waktu itu, namun ia tetap mengikutinya dengan seksama. Di antara metode yang digunakan guru-gurunya, hanya metode pendidikan yang digunakan Engku Zainuddin Labay El-Yunusy yang menarik hatinya. Pendekatan yang dilakukan Engku Zainuddin, bukan hanya mengajar (transfer of knowledge), akan tetapi juga melakukan proses ’mendidik’ (transformation of value). Melalui Diniyyah School Padang Panjang yang didirikannya, ia telah memperkenalkan bentuk lembaga pendidikan Islam modern dengan menyusun kurikulum pendidikan yang lebih sistematis, memperkenalkan sistem pendidikan klasikal dengan menyediakan kursi dan bangku tempat duduk siswa, menggunakan buku-buku di luar kitab standar, serta memberikan ilmu-ilmu umum seperti, bahasa, matematika, sejarah dan ilmu bumi.25
Rajin membaca membuat Hamka semakin kurang puas dengan pelaksanaan pendidikan yang ada. Kegelisahan intelektual yang dialaminya itu telah menyebabkan ia berhasrat untuk merantau guna menambah wawasannya. Oleh karnanya, di usia yang sangat muda Hamka sudah melalang buana. Tatkala usianya masih 16 tahun, tapatnya pada tahun 1924, ia sudah meninggalkan Minangkabau menuju Jawa; Yogyakarta. Ia tinggal bersama adik ayahnya, Ja’far Amrullah. Di sini Hamka belajar dengan Ki Bagus Hadikusumo, R.M. Suryopranoto, H. Fachruddin, HOS. Tjokroaminoto, Mirza Wali Ahmad Baig, A. Hasan Bandung, Muhammad Natsir, dan AR. St. Mansur.26
25Ibid…., hlm.22
26M. Dawam Rahardjo, Intelektual Inteligensi dan Perilaku Politik Bangsa (Bandung: Mizan, 1993), hlm. 201-202
Di Yogyakarta Hamka mulai berkenalan dengan Serikat Islam (SI). Ide-ide pergerakan ini banyak mempengaruhi pembentukan pemikiran Hamka tentang Islam sebagai suatu yang hidup dan dinamis. Hamka mulai melihat perbedaan yang demikian nyata antara Islam yang hidup di Minangkabau, yang terkesan statis, dengan Islam yang hidup di Yogyakarta, yang bersifat dinamis. Di sinilah mulai berkembang dinamika pemikiran keislaman Hamka. Perjalanan ilmiahnya dilanjutkan ke Pekalongan, dan belajar dengan iparnya, AR. St. Mansur, seorang tokoh Muhammadiyah. Hamka banyak belajar tentang Islam dan juga politik. Di sini pula Hamka mulai berkenalan dengan ide pembaruan Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha yang berupaya mendobrak kebekuan umat. Rihlah Ilmiah yang dilakukan Hamka ke pulau Pulau Jawa selama kurang lebih setahun ini sudah cukup mewarnai wawasannya tentang dinamika dan universalitas Islam. Dengan bekal tersebut, Hamka kembali pulang ke Maninjau (pada tahun 1925) dengan membawa semangat baru tentang Islam.27 Ia kembali ke Sumatera Barat bersama AR. St. Mansur. Di tempat tersebut, AR. St. Mansur menjadi mubaligh dan penyebar Muhammadiyah, sejak saat itu Hamka menjadi pengiringnya dalam setiap kegiatan kemuhammadiyahan.28
Berbekal pengetahuan yang telah diperolehnya, dan dengan maksud ingin memperkenalkan semangat modernis tentang wawasan Islam, ia pun membuka kursus pidato di Padang Panjang. Hasil kumpulan pidato ini kemudian ia cetak dalam sebuah buku
27Susanto, Pemikiran Pendidikan Islam (Jakarta: Amzah, 2009), hlm. 101
28Rusydi, Hamka: Pribadi Dan Martabat Buya Prof. Dr. Hamka (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), hlm. 2
dengan judul Khatib Al-Ummah. Selain itu, Hamka banyak menulis pada majalah Seruan Islam, dan menjadi koresponden di harian Pelita Andalas. Hamka juga diminta untuk membantu pada harian Bintang Islam dan Suara Muhammadiyah di Yogyakarta. Berkat kepiawaian Hamka dalam menulis, akhirnya ia diangkat sebagai pemimpin majalah Kemajuan Zaman.29
Dua tahun setelah kembalinya dari Jawa (1927), Hamka pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Kesempatan ibadah haji itu ia manfaatkan untuk memperluas pergaulan dan bekerja. Selama enam bulan ia bekerja di bidang percetakan di Mekkah. Sekembalinya dari Mekkah, ia tidak langsung pulang ke Minangkabau, akan tetapi singgah di Medan untuk beberapa waktu lamanya. Di Medan inilah peran Hamka sebagai intelektual mulai terbentuk. Hal tersebut bisa diketahui dari kesaksian Rusydi Hamka, salah seorang puteranya; “Bagi Buya, Medan adalah sebuah kota yang penuh kenangan. Dari kota ini ia mulai melangkahkan kakinya menjadi seorang pengarang yang melahirkan sejumlah novel dan buku-buku agama, falsafah, tasawuf, dan lain-lain. Di sini pula ia memperoleh sukses sebagai wartawan dengan Pedoman Masyarakat. Tapi di sini pula, ia mengalami kejatuhan yang amat menyakitkan, hingga bekas-bekas luka yang membuat ia meninggalkan kota ini menjadi salah satu pupuk yang menumbuhkan pribadinya di belakang hari”.30
Di Medan ia mendapat tawaran dari Haji Asbiran Ya’kub dan Muhammad Rasami, bekas sekretaris Muhammdiyah Bengkalis untuk memimpin majalah mingguan Pedoman
29
Herry Mohammad, Tokoh-Tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20, (Jakarta: Gema Islami, 2006), hlm. 62
Masyarakat. Meskipun mendapatkan banyak rintangan dan kritikan, sampai tahun 1938 peredaran majalah ini berkembang cukup pesat, bahkan oplahnya mencapai 4000 eksemplar setiap penerbitannya. Namun ketika Jepang datang, kondisinya jadi lain. Pedoman Masyarakat dibredel, aktifitas masyarakat diawasi, dan bendera merah putih dilarang dikibarkan. Kebijakan Jepang yang merugikan tersebut tidak membuat perhatiannya untuk mencerdaskan bangsa luntur, terutama melalui dunia jurnalistik. Pada masa pendudukan Jepang, ia masih sempat menerbitkan majalah Semangat Islam. Namun kehadiran majalah ini tidak bisa menggantikan kedudukan majalah Pedoman Masyarakat yang telah melekat di hati rakyat. Di tengah-tengah kekecewaan massa terhadap kebijakan Jepang, ia memperoleh kedudukan istimewa dari pemerintah Jepang sebagai anggota Syu Sangi Kai atau Dewan Perwakilan Rakyat pada tahun 1944. Sikap kompromistis dan kedudukannya sebagai ”anak emas” Jepang telah menyebabkan Hamka terkucil, dibenci dan dipandang sinis oleh masyarakat. Kondisi yang tidak menguntungkan ini membuatnya meninggalkan Medan dan kembali ke Padang Panjang pada tahun 1945.31
Seolah tidak puas dengan berbagai upaya pembaharuan pendidikan yang telah dilakukannya di Minangkabau, ia mendirikan sekolah dengan nama Tabligh School.32 Sekolah ini didirikan untuk mencetak mubaligh Islam dengan lama pendidikan dua tahun. Akan tetapi, sekolah ini tidak bertahan lama karna masalah operasional, Hamka ditugaskan oleh Muhammadiyyah ke Sulawesi Selatan. Dan baru pada konggres Muhammadiyah ke-11
31Ibid….,hlm.66.
32Mardjani Tamin, Sejarah Pendidikan Daerah Sumatera Barat (Jakarta: Dep P dan KRI., 1997), hlm. 112
yang digelar di Maninjau, maka diputuskan untuk melanjutkan sekolah Tabligh School ini dengan mengganti nama menjadi Kulliyyatul Muballighin dengan lama belajar tiga tahun. Tujuan lembaga ini pun tidak jauh berbeda dengan Tabligh School, yaitu menyiapkan mubaligh yang sanggup melaksanakan dakwah dan menjadi khatib, mempersiapkan guru sekolah menengah tingkat Tsanawiyyah, serta membentuk kader-kader pimpinan Muhammadiyah dan pimpinan masyarakat pada umumnya.33
Hamka merupakan koresponden di banyak majalah dan seorang yang amat
produktif dalam berkarya. Hal ini sesuai dengan penilaian Andries Teew, seorang guru besar
Universitas Leiden dalam bukunya yang berjudul Modern Indonesian Literature I.
Menurutnya, sebagai pengarang, Hamka adalah penulis yang paling banyak tulisannya, yaitu
tulisan yang bernafaskan Islam berbentuk sastra. Untuk menghargai jasa-jasanya dalam
penyiaran Islam dengan bahasa Indonesia yang indah itu, maka pada permulaan tahun 1959
Majelis Tinggi University al-Azhar Kairo memberikan gelar Ustaziyah Fakhiriyah (Doctor Honoris Causa) kepada Hamka. Sejak itu ia menyandang titel ”Dr” di pangkal namanya. Kemudian pada 6 Juni 1974, kembali ia memperoleh gelar kehormatan tersebut dari
Universitas Kebangsaan Malaysia pada bidang kesusastraan, serta gelar Professor dari
Universitas Prof. Dr. Moestopo. Kesemuanya ini diperoleh berkat ketekunannya yang tanpa
mengenal putus asa untuk senantiasa memperdalam ilmu pengetahuan.34
Secara kronologis, karir Hamka yang tersirat dalam perjalanan hidupnya adalah
sebagai berikut:
33A. Susanto, Pemikiran Pendidikan Islam…., hlm.102
34 Sides Sudyarto DS, “Realisme Religius”, dalam Hamka di Mata Hati Umat (Jakarta: Sinar Harapan, 1984), h. 139.
a. Pada tahun 1927 Hamka memulai karirnya sebagai guru Agama di Perkebunan Medan dan guru Agama di Padang Panjang.
b. Pendiri sekolah Tabligh School, yang kemudian diganti namanya menjadi
Kulliyyatul Muballighin (1934-1935). Tujuan lembaga ini adalah menyiapkan mubaligh yang sanggup melaksanakan dakwah dan menjadi khatib, mempersiapkan guru sekolah menengah tingkat Tsanawiyyah, serta membentuk kader-kader pimpinan Muhammadiyah danpimpinan masyarakat pada umumnya. c. Ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia (1947), Konstituante melalui partai
Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pilihan Raya Umum (1955).
d. Koresponden Berbagai majalah, seperti Pelita Andalas (Medan), Seruan Islam (Tanjung Pura), Bintang Islam dan Suara Muhammadiyah (Yogyakarta), Pemandangan dan Harian Merdeka (Jakarta).
e. Pembicara konggres Muhammadiyah ke 19 di Bukittinggi (1930) dan konggres Muhammadiyah ke 20 (1931).
f. Anggota tetap Majelis Konsul Muhammadiyah di Sumatera Tengah (1934). g. Pendiri Majalah al-Mahdi (Makassar, 1934)
h. Pimpinan majalah Pedoman Masyarakat (Medan, 1936)
i. Menjabat anggota Syu Sangi Kai atau Dewan Perwakilan Rakyat pada pemerintahan Jepang (1944).
j. Ketua konsul Muhammadiyah Sumatera Timur (1949).
k. Pendiri majalah Panji Masyarakat (1959), majalah ini dibrendel oleh pemerintah karna dengan tajam mengkritik konsep demikrasi terpimpin dan memaparkan
pelanggaran-pelanggaran konstitusi yang telah dilkukan Soekarno. Majalah ini diterbitkan kembali pada pemerintahan Soeharto.
l. Memenuhi undangan pemerintahan Amerika (1952), anggota komisi kebudayaan di Muangthai (1953), menghadiri peringatan mangkatnya Budha ke-2500 di Burma (1954), di lantik sebagai pengajar di Universitas Islam Jakarta pada tahun 1957 hingga tahun 1958, di lantik menjadi Rektor perguruan tinggi Islam dan Profesor Universitas Mustapa, Jakarta. menghadiri konferensi Islam di Lahore (1958), menghadiri konferensi negara-negara Islam di Rabat (1968), Muktamar Masjid di Makkah (1976), seminar tentang Islam dan Peradapan di Kuala Lumpur, menghadiri peringatan 100 tahun Muhammad Iqbal di Lahore, dan Konferensi ulama di Kairo (1977), Badan pertimbangan kebudayaan kementerian PP dan K, Guru besar perguruan tinggi Islam di Universitas Islam di Makassar.
m.Departemen Agama pada masa KH Abdul Wahid Hasyim, PenasehatKementerian Agama, Ketua Dewan Kurator PTIQ.
n. Imam Masjid Agung Kebayoran Baru Jakarta, yang kemudian namanya diganti oleh Rektor Universitas al-Azhar Mesir, Syaikh Mahmud Syaltut menjadi Masjid Agung al-Azhar. Dalam perkembangannya, al-Azhar adalah pelopor sistem pendidikan Islam modern yang punya cabang di berbagai kota dan daerah, serta menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah modern berbasis Islam. Lewat mimbarnya di al-Azhar, Hamka melancarkan kritik-kritiknya terhadap demokrasi terpimpin yang sedang digalakkan oleh Soekarno Pasca Dekrit Presiden tahun 1959. Karena dianggap berbahaya, Hamka pun dipenjarakan Soekarno pada tahun 1964. Ia baru
dibebaskan setelah Soekarno runtuh dan orde baru lahir, tahun 1967. Tapi selama dipenjara itu, Hamka berhasil menyelesaikan sebuah karya monumental, Tafsir Al-Azhar 30 juz.
o. Ketua MUI (1975-1981), Buya Hamka, dipilih secara aklamasi dan tidak ada calon lain yang diajukan untuk menjabat sebagai ketua umum dewan pimpinan MUI. Ia dipilih dalam suatu musyawarah, baik oleh ulama maupun pejabat. Namun di tengah tugasnya, ia mundur dari jabatannya karna berseberangan prinsip dengan pemerintah yang ada.
Dua bulan setelah Hamka mengundurkan diri sebagai ketua umum MUI, beliau
masuk rumah sakit. Setelah kurang lebih satu minggu dirawat di Rumah Sakit Pusat
Pertamina, tepat pada tanggal 24 Juli 1981 ajal menjemputnya untuk kembali menghadap ke
hadirat-Nya dalam usia 73 tahun. Buya Hamka bukan saja sebagai pujangga, wartawan,
ulama, dan budayawan, tapi juga seorang pemikir pendidikan yang pemikirannya masih
relevan dan dapat digunakan pada zaman sekarang, itu semua dapat dilihat dari karya-karya
peninggalan beliau.35
2. Karya – Karya Buya Hamka
Sebagai seorang yang berpikiran maju, Hamka tidak hanya merefleksikan
kemerdekaan melalui berbagai mimbar dalam cerama agama, tetapi ia juga menuangkannya
dalam berbagai macam karyanya berbentuk tulisan. Orientasi pemikirannya meliputi berbagai
disiplin ilmu, seperti teologi, tasawuf, filsafat, pendidikan Islam, sejarah Islam, fiqh, sastra dan tafsir. Sebagai penulis yang sangat produktif, Hamka menulis puluhan buku yang tidak
kurang dari 103 buku. Beberapa di antara karya-karyanya adalah sebagai berikut:
35
a. Tasawuf modern (1983), pada awalnya, karyanya ini merupakan kumpulan artikel yang dimuat dalam majalah Pedoman Masyarakat antara tahun 1937-1937. Karena tuntutan masyarakat, kumpulan artikel tersebut kemudian dibukukan. Dalam karya monumentalnya ini, ia memaparkan pembahasannya ke dalam XII bab. Buku ini diawali dengan penjelasan mengenai tasawuf. Kemudian secara berurutan dipaparkannya pula pendapat para ilmuwan tentang makna kebahagiaan, bahagia dan agama, bahagia dan utama, kesehatan jiwa dan badan, harta benda dan bahagia, sifat qonaah, kebahagiaan yang dirasakan rosulullah, hubungan ridho dengan keindahan alam, tangga bahagia, celaka, dan munajat kepada Allah. Karyanya yang lain yang membicarakan tentang tasawuf adalah Tasawuf; Perkembangan dan Pemurniaannya´. Buku ini adalah gabungan dari dua karya yang pernah ia tulis, yaitu Perkembangan Tasawuf Dari Abad Ke Abad´ dan Mengembalikan Tasawuf pada Pangkalnya´.
b. Lembaga Budi (1983). Buku ini ditulis pada tahun 1939 yang terdiri dari XI bab. Pembicaraannya meliputi; budi yang mulia, sebab-sebab budi menjadi rusak, penyakit budi, budi orang yang memegang pemerintahan, budi mulia yang seyogyanya dimiliki oleh seorang raja (penguasa), budi pengusaha, budi saudagar, budi pekerja, budi ilmuwan, tinjauan budi, dan percikan pengalaman. secara tersirat, buku ini juga berisi tentang pemikiran Hamka terhadap pendidikan Islam. c. Falsafah Hidup (1950). Buku ini terdiri atas IX bab. Ia memulai buku ini dengan
pemaparan tentang makna kehidupan. Kemudian pada bab berikutnya, dijelaskan pula tentang ilmu dan akal dalam berbagai aspek dan dimensinya. Selanjutnya ia
mengetengahkan tentang undang-undang alam atau sunnatullah. Kemudian tentang adab kesopanan, baik secara vertikal maupun horizontal. Selanjutnya makna kesederhanaan dan bagaimana cara hidup sederhana menurut Islam. Ia juga mengomentari makna berani dan fungsinya bagi kehidupan manusia, selanjutnya tentang keadilan dan berbagai dimensinya, makna persahabatan, serta bagaimana mencari dan membina persahabatan. Buku ini diakhiri dengan membicarakan Islam sebagai pembentuk hidup. Buku ini pun merupakan salah satu alat yang Hamka gunakan untuk mengekspresikan pemikirannya tentang pendidikan Islam.
d. Lembaga Hidup (1962). Dalam bukunya ini, ia mengembangkan pemikirannya dalam XII bab. Buku ini berisi tentang berbagai kewajiban manusia kepada Allah, kewajiban manusia secara sosial, hak atas harta benda, kewajiban dalam pandangan seorang muslim, kewajiban dalam keluarga, menuntut ilmu, bertanah air, Islam dan politik, Alquran untuk zaman modern, dan tulisan ini ditutup dengan memaparkan sosok nabi Muhammad. Selain lembaga budi dan falsafah hidup, buku ini juga berisi tentang pendidikan secara tersirat.
e. Pelajaran Agama Islam (1952). Buku ini terbagi dalam IX bab. Pembahasannya meliputi; manusia dan agama, dari sudut mana mencari Tuhan, dan rukun iman. f. Tafsir Al-Azhar Juz 1-30. Tafsir Al-Azhar merupakan karyanya yang paling
monumental. Kitab ini mulai ditulis pada tahun 1962. Sebagian besar isi tafsir ini diselesaikan di dalam penjara, yaitu ketika ia menjadi tahanan antara tahun 1964-1967.
g. Ayahku; Riwayat Hidup Dr. Haji Amarullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera (1958). Buku ini berisi tentang kepribadian dan sepak terjang ayahnya, Haji Abdul Karim Amrullah atau sering disebut Haji Rosul. Hamka melukiskan perjuangan umat pada umumnya dan khususnya perjuangan ayahnya, yang oleh Belanda diasingkan ke Sukabumi dan akhirnya meninggal dunia di Jakarta tanggal 2 Juni 1945.
h. Kenang-kenangan Hidup Jilid I-IV (1979). Buku ini merupakan autobiografi Hamka. i. Islam dan Adat Minangkabau (1984). Buku ini merupakan kritikannya terhadap adat
dan mentalitas masyarakatnya yang dianggapnya tak sesuai dengan perkembangan zaman.
j. Sejarah umat Islam Jilid I-IV (1975). Buku ini merupakan upaya untuk memaparkan secara rinci sejarah umat Islam, yaitu mulai dari Islam era awal, kemajuan, dan kemunduran Islam pada abad pertengahan. Ia pun juga menjelaskan tentang sejarah masuk dan perkembangan Islam di Indonesia.
k. Studi Islam (1976), membicarakan tentang aspek politik dan kenegaraan Islam. Pembicaraannya meliputi; syariat Islam, studi Islam, dan perbandingan antara hak-hak azasi manusia deklarasi PBB dan Islam.
l. Kedudukan Perempuan dalam Islam (1973). Buku membahas tentang perempuan sebagai makhluk Allah yang dimuliakan keberadaannya.20
m. Si Sabariyah (1926), buku roman pertamanya yang ia tulis dalam bahasa Minangkabau. Roman; Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1979), Di Bawah Lindungan Ka’bah (1936), Merantau Ke Deli (1977), Terusir, Keadilan Illahi, Di Dalam
Lembah Kehidupan, Salahnya Sendiri, Tuan Direktur, Angkatan baru, Cahaya Baru, Cermin Kehidupan.
n. Revolusi pikiran, Revolusi Agama, Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi, Negara Islam, Sesudah Naskah Renville, Muhammadiyah Melalui Tig Zaman, Dari Lembah Cita-Cita, Merdeka, Islam Dan Demokrasi, Dilamun Ombak Masyarakat, Menunggu Beduk Berbunyi.
o. Di Tepi Sungai Nyl, Di Tepi Sungai Daljah, Mandi Cahaya Di Tanah Suci, Empat Bulan Di Amerika, Pandangan Hidup Muslim.36
p. Artikel Lepas; Persatuan Islam, Bukti yang Tepat, Majalah Tentara, Majalah Al-Mahdi, Semangat Islam, Menara, Ortodox dan Modernisme, Muhammadiyah di Minangkabau, Lembaga Fatwa, Tajdid dan Mujadid, dan lain-lain.37
B. TAFSIR AL AZHAR
1. Latar Belakang Penulisan Tafsir Al Azhar
Tafsir ini pada mulanya merupakan rangkaian kajian yang disampaikan pada kuliah
subuh oleh Hamka di masjid al-Azhar yang terletak di Kebayoran Baru sejak tahun 1959.
Nama al-Azhar bagi masjid tersebut telah diberikan oleh Syeikh Mahmud Shaltut, Rektor
Universitas al-Azhar semasa kunjungan beliau ke Indonesia pada Desember 1960 dengan
harapan supaya menjadi kampus al-Azhar di Jakarta. Penamaan tafsir Hamka dengan nama
Tafsir Azhar berkaitan erat dengan tempat lahirnya tafsir tersebut yaitu Masjid Agung
al-Azhar. Terdapat beberapa faktor yang mendorong Hamka untuk menghasilkan karya tafsir
tersebut, hal ini dinyatakan sendiri oleh Hamka dalam mukadimah kitab tafsirnya. Di
36 Samsul Nizar, Memperbincangkan Dinamika Intelektual dan Pemikiran Hamka., h. 47 37