PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Batasan Masalah
Tujuan dan kegunaan
Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi sederhana bagi pengembangan kajian Islam secara umum dalam konteks kehidupan beragama dalam kaitannya dengan akal dan wahyu. Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi lebih lanjut, serta memberikan kontribusi terhadap literatur khususnya mengenai pemikiran Harun Nasution tentang akal dan wahyu.
Kajian Terdahulu
Rifka Setya Nugraheni yang berjudul Pemikiran Teologis dan Filsafat Harun Nasution Serta Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Inovasi Islam di PTAI. Oleh karena itu, permasalahan utama yang dibahas dalam penelitian ini adalah pemikiran teologis dan filosofis Harun Nasution serta pengaruhnya terhadap perkembangan reformasi Islam di PTAI.
Metodologi dan Pendekatan Penelitian
Perbedaan penelitian diatas dengan penelitian ini adalah penelitian yang dibahas dalam penelitian ini mengkaji pemikiran Harun Nasution tentang akal dan wahyu. Karena penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan, maka pengumpulan data yang digunakan adalah menelusuri buku-buku atau karya yang disusun oleh Harun Nasution.
Sistematika Penulisan
Teknik analisis data adalah proses mengolah, mereduksi atau memilih hal-hal pokok yang sesuai dengan fokus penelitian kemudian merevisinya dalam bentuk yang sistematis sehingga penulis dapat menguasainya, khususnya pemikiran Harun Nasution tentang akal dan wahyu. . Dalam melakukan analisis data diperlukan kepekaan teoritis, karena dalam analisis data sebenarnya penulis berusaha mengembangkan teori.
LANDASAN TEORITIS AKAL DAN WAHYU
Akal dan Wahyu Menurut Teolog
Di sini penulis akan memfokuskan kepada dua mazhab sahaja iaitu Mu'tazilah dan Asy'ariyyah, walaupun sebenarnya terdapat mazhab teologi yang lain. Walaupun mazhab kedua ialah Asy'Ariyyah, mazhab ini muncul sebagai jawapan kepada kenyataan mazhab Mu'tazilah yang mereka anggap menyesatkan. Sebenarnya terdapat banyak perbezaan tafsiran antara mazhab Mu'tazilah dengan mazhab Asy'ari.
Contohnya, Mu'tazilah mentafsirkan wajah Tuhan sebagai zat Tuhan dan tangan Tuhan bermaksud kekuasaan Tuhan. Sebenarnya, akal bagi Mu'tazilah bukanlah segala-galanya, tetapi akal hanya boleh mengetahui garis besarnya tetapi bukan butirannya. Bagi Mu'tazilah, wahyu memainkan peranan yang sangat penting dalam membetulkan mana-mana pendapat intelektual yang tidak sesuai dengan wahyu.
Sedangkan Asy’ariyyah menolak sekeras-kerasnya pendapat Mu’tazilah, kerana bagi Asy’ariyyah, akal tidak akan pernah dapat mengetahui segala macam kewajipan dalam bentuk apa pun sebelum wahyu diturunkan, kerana semua kewajipan hanya dapat diketahui dengan datangnya wahyu. Sedangkan baik dan buruk, menurut Mu'tazilah, lebih penting kerana dapat diketahui dengan akal, syara' hanyalah informatif (mukhbir), bukan penentu (mutsbil).
Akal dan Wahyu Menurut Filosof
Al-Farabi menaruh perhatian pada permasalahan antara akal dan wahyu. Bahkan bisa dikatakan beliau adalah filosof pertama yang mengupayakan keselarasan antara akal dan wahyu, dengan mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada pertentangan apa pun antara filsafat dan agama atau akal dan wahyu. . Lebih lanjut Al-Farabi mengatakan bahwa kebenaran yang dibawa oleh agama dan kebenaran yang dibawa oleh filsafat pada hakikatnya adalah satu, walaupun berbeda warna,36 namun keduanya mempunyai tujuan yang sama yaitu Tuhan. Dalam menafsirkan ajaran agama, al-Farabi selalu menggunakan penafsiran rasional, dengan tujuan memberikan keyakinan kepada masyarakat yang belum meyakini keberadaan ajaran agama Nabi Muhammad SAW.
Al-Farabi memberikan penjelasan rasionalnya tentang kewujudan wahyu sentiasa konsep komunikasi manusia dengan Indera Kesepuluh. Oleh itu, orang yang akal pasifnya mencapai penyebaran menurut al-Farabi adalah seorang ahli falsafah, ahli kebijaksanaan dan ahli pemikiran. Ciri seorang nabi menurut al-Farabi ialah mempunyai daya imaginasi yang sangat kuat apabila berinteraksi dengan Indera Kesepuluh.
Wahyu menurut al-Farabi merupakan limpahan dari Allah yang khusus diberikan hanya kepada nabi melalui akal yang kesepuluh (Jibril). Selain itu beliau juga menyampaikan bahwa antara akal dan wahyu, keduanya saling membutuhkan.
RIWAYAT HIDUP HARUN NASUTION
Biografi Harun Nasution
Bagi pandangan tradisional Harun, beliau menggunakan Asy’ariyyah yang menjadi ikutan majoriti umat Islam di Indonesia. Umat Islam masa kini tidak mahu lagi mempelajari budaya yang pernah dimiliki oleh umat Islam zaman klasik. Umat Islam hari ini seolah-olah tidak dapat keluar dari perangkap taklid yang dibuat oleh ulama zaman klasik.
Maka yang terjadi selanjutnya adalah hilangnya pemikiran dan tidak berfungsinya akal di kalangan umat Islam. Oleh karena itu, umat Islam di Indonesia tidak jauh berbeda dengan umat Islam pada Abad Pertengahan yang mempunyai sikap tertutup dan selalu terikat pada taqlid. Sementara itu, paham yang dibawa oleh Mu'tazilah belum banyak diketahui di kalangan umat Islam di Indonesia.
Faktanya, ideologi yang dibawa oleh Mu'tazilah sudah dianggap buruk oleh sebagian umat Islam Indonesia. Oleh karena itu, akal budi dan wahyu yang shaleh selaras, dan umat Islam akan mempunyai keleluasaan yang sangat luas dalam upaya memodernisasi umatnya. Harun berpendapat bahwa pemahaman Islam yang rasional dan dinamis sangat diperlukan bagi umat Islam, khususnya di Indonesia yang sedang dalam keadaan berkembang.
Lebih lanjut Cak Nur mengatakan, Harun sering mengatakan bahwa kemunduran umat Islam lebih disebabkan oleh dominasi Asy'arisme yang sangat jabbari.
Pendidikan Harun Nasution
Karya-karya Harun Nasution
Buku ini berupaya menjelaskan bagaimana akal dan wahyu dipahami dalam Islam, kedudukan akal dalam Al-Qur'an dan Hadits, serta sebenarnya peran akal dalam pemikiran keagamaan Islam.53. Isi buku ini merupakan kumpulan ceramah yang disampaikan Harun Nasution pada kelompok diskusi Islam di kompleks IKIP Jakarta pada tahun 1970-an.54. Buku ini berupaya menjelaskan epistemologi dan wahyu, ketuhanan, argumentasi tentang keberadaan Tuhan, ruh, serta kejahatan dan kemutlakan Tuhan.
Isi buku ini pada dasarnya adalah ceramah yang disampaikan oleh Harun selama berada di IAIN Syarif Jakarta. Buku ini adalah intipati disertasi Harun Nasution yang ingin disampaikan dalam buku ini, sebenarnya bagaimana untuk menyampaikan Islam secara mendalam dari aspek teologi. Kitab ini mengandungi dua bahagian iaitu pertama mengandungi huraian tentang kecenderungan dan golongan teologi, antaranya ialah golongan Hawarijh, Murxhi, Qadaris, Jabari, Mu'tazilah dan Ahli Jamati.
Uraian dalam buku ini mencakup sejarah perkembangan dan ajaran terpenting masing-masing aliran. Buku ini berisi artikel yang ditulis dari tahun 1970 hingga 1994.
Pemikiran Keislaman Harun Nasution
Sehingga umat Islam siap secara budaya untuk terlibat dalam pembangunan dan modernisasi dengan tetap berpijak pada tradisi masing-masing. Dengan pemahaman yang rasional dan dinamis tersebut, maka umat Islam tidak menghadapi banyak kendala dalam menyikapi tantangan perubahan sosial yang muncul dalam masyarakat modern, khususnya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.66. Di sinilah letak kesalahan umat Islam abad pertengahan, mereka tidak bisa membedakan antara ajaran yang mereka yakini mutlak dan ajaran yang mereka yakini relatif.
Umat Islam baru menyadari keberadaannya (1800 dan seterusnya) ketika mereka mengetahui bahwa Eropa di zaman modern telah mengambil alih kejayaan yang dimiliki umat Islam di zaman klasik. Cara-cara yang dilakukan oleh umat Islam abad pertengahan mempunyai pengaruh yang besar terhadap umat Islam saat ini, khususnya di Indonesia, karena mayoritas umat Islam di Indonesia masih menganut satu mazhab yaitu Asy’ariyyah. Dengan begitu, menurut Harun, umat Islam bisa mengetahui hal-hal yang bertentangan dengan Islam dan hal-hal yang tidak bertentangan dengan Islam.
Sebab dengan pemahaman yang rasional dan dinamis, umat Islam tidak akan kesulitan menghadapi setiap tantangan perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat modern khususnya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Di sini Harun menawarkan pemahaman Islam yang sangat luas, tidak hanya sekedar menghayati ajaran Islam dalam segala aspek kehidupan seperti yang banyak dipahami umat Islam saat ini.
AKAL DAN WAHYU MENURUT HARUN NASUTION
Kedudukan Akal dan Wahyu
Inilah awal kemerosotan ummat Islam dan sekaligus awal hilangnya kejayaan yang selama ini menjadi kebanggaan ummat Islam. Bahkan mereka tidak pernah menyadari bahwa budaya yang dulunya merupakan kebanggaan umat Islam telah berpindah ke Eropa sedangkan umat Islam sendiri sedang tenggelam. Haidar Bagir, filosof Islam asal Bandung, mengatakan umat Islam saat ini khususnya di Indonesia masih didominasi oleh kecenderungan tekstual dalam beragama. Menurutnya, penting untuk melihat kembali tradisi filsafat Islam yang menekankan pada penalaran independen dalam setiap reinterpretasi. dari teks-teks keagamaan.
Menurut Muhammad 'Abduh, kemunduran umat Islam pada abad XIX dan XX lebih disebabkan oleh campur tangan ulama zaman klasik yang mewajibkan ulama penerusnya untuk sekedar mengikuti hasil ijtihadnya. Menurut Harun, ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan umat Islam di Indonesia tidak bisa maju: Pertama, umat Islam di Indonesia mempunyai pandangan yang sempit terhadap Islam itu sendiri, yaitu pandangan yang hanya bersifat hukum, sedangkan pandangan teologis, filosofis, dan ilmiah kurang mendapat perhatian. Kedua, umat Islam pada umumnya masih terikat oleh tradisi, yaitu penafsiran ajaran Islam yang sudah berumur kurang lebih seribu tahun, sehingga umat Islam saat ini tidak akan bisa maju jika tidak bisa menghilangkan tradisi-tradisi tersebut.
Terlepas dari kemungkinan-kemungkinan yang disebutkan di atas, ada satu faktor yang mungkin tidak bisa dilupakan karena merupakan faktor terbesar yang membuat umat Islam mundur. Penilaian seperti ini tidaklah salah besar, karena Cak Nur sendiri mengakui bahwa di tangan kaum Asi'aris, umat Islam lebih condong ke arah Jabarisme.81.
Analisis Tehadap Harun Nasution
PENUTUP
Saran
Mahasiswa program studi Aqidah dan Filsafat Islam diharapkan memahami Nalar dan Wahyu, sehingga dapat menemukan penjelasan yang relevan bagi diri kita sendiri dan umat Islam lainnya. Untuk lebih memperkaya pengetahuan tentang pemikiran Harun Nasution tentang Akal dan Wahyu, hendaknya mahasiswa program studi Aqidah dan Filsafat Islam mempelajarinya untuk menambah pemahaman mahasiswa tentang Fungsi Akal dan Wahyu. Lembaga IAIN banyak memberikan referensi bagi program studi Aqidah dan Filsafat Islam khususnya mengenai tokoh-tokoh pembaharuan Islam, sehingga mahasiswa tidak kekurangan materi atau referensi.
Ali, Muhammad Daud, Hukum Islam: Pengantar Ilmu Hukum dan Sistem Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: Rajawali Press, 2009. Halim, Abdul, Teologi Islam Rasional: Apresiasi terhadap Wacana dan Praksis Harun Naution, Jakarta: Ciputat Press, 2001 .