• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISA PERAN BAITUL MAAL WAT TAMWIL UMJ

A. Pengertian Dan Peran BMT

2. Peran Baitul Maal Wat Tamwil

Peran umum BMT yang dilakukan adalah melakukan pembinaan dan

pendanaan yang berdasarkan sistem syariah.7 Peran ini menegaskan arti penting

prinsip-prinsip syariah dalam kehidupan ekonomi masyarakat. Sebagai lembaga

keuangan syariah yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat

kecil yang serba cukup ilmu pengetahuan ataupun materi maka BMT

mempunyai tugas penting dalam pengemban misi keislaman dalam segala aspek

Muhammad Ali Daud.Sistem Indonesia Islam Zakat dan Wakaf. (Jakarata: UI Press, 1988). h. 162 http://www.dieza.web.id/2012/05/pengertian-dan-sejarah-bmt.html/tanggal05/jam12 6 http://www.dieza.web.id/2012/05/pengertian-dan-sejarah-bmt.html/tanggal05/jam12

Muhammad Ali Daud.Sistem Indonesia Islam Zakat dan Wakaf. (Jakarta: UI Press, 1988), h. 95

kehidupan masyarakat. Oleh karena itu , BMT diharapkan mampu berperan

lebih aktif dalam memperbaiki kondisi ini. Dengan keadaan tersebut keberadaan

BMT setidaknya mempunyai beberapa peran :

Menjauhkan masyarakat dari praktek ekonomi non Syariah. Aktif melakukan

sosialisasi di tengah masyarakat tentang arti penting sistem ekonomi Islami. Hal

ini bisa dilakukan dengan pelatihan-pelatihan mengenai cara– cara bertransaksi

yang islami, misalnya supaya ada bukti dalamtransaksi, dilarang curang dalam

menimbang barang, jujur terhadap konsumen dan sebagainya.

a. Melakukan pembinaan dan pendanaan usaha kecil. BMT harus bersikap

aktif menjalankan fungsi sebagai lembaga keuangan mikro, misalnya

dengan jalan pendampingan, pembinaan, penyuluhan, dan pengawasan

terhadap usaha–usaha nasabah atau masyarakat umum.

b. Melepaskan ketergantungan pada rentenir, masyarakat yang masih

tergantung rentenir disebabkan renternir mampu memenuhi keinginan

masyarakat dalam memenuhi dana dengan segera. Maka BMT harus

mampu melayani masyarakat lebih baik, misalnya selalu tersedia dana

setiap saat, birokrasi yang sederhana dan lain sebagainya.

c. Menjaga keadilan ekonomi masyarakat dengan distribusi yang merata.

Fungsi BMT langsung berhadapan dengan masyarakat yang kompleks

dituntut harus pandai bersikap, oleh karena itu langkah–langkah untuk

melakukan evaluasi dalam rangka pemetaan skala prioritas yang harus

memperhatikan kelayakan nasabah dalam hal golongan nasabah dan

jenis pembiayaan.8

BMT mempunyai beberapa komitmen yang harus dijaga supaya konsisten

terhadap perannya, komitmen tersebut adalah:

a. Menjaga nilai-nilai Syariah dalam operasi BMT. Dalam operasinya

BMT bertanggung jawab bukan saja terhadap nilai keislaman secara

kelembagaan, tetapi juga nilai-nilai keislamandi masyarakat dimana

BMT itu berada. Maka setidaknya BMT memiliki majelis taklim atau

kelompok pengajian (usrob).

b. Memperhatikan permasalahan-permasalahan yang berhubungan dengan

pembinaan dan pendanaan usaha kecil. BMT tidak menutup mata

terhadap masalah nasabahnya, tidak saja dalam spek ekonomi, tetapi

aspek kemasyarakatan nasabah yang lainya. Maka BMT setidaknya ada

biro konsultasi bagi masyarakat bukan hanya berkaitan dengan masalah

pendanaan atau pembiayaan tetapi juga masalah kehidupan sehari-hari

mereka.

c. Meningkatkan profesionalitas BMT dari waktu ke waktu. Tuntutan ini

merupakan bagian yang tidak terpisahkan untuk menciptakan BMT yang

mampu membantu kesulitan ekonomi masyarakat. Maka setiap BMT

dituntut mampu meningkatkan SDM dengan melalui pendidikan dan

pelatihan.

8

Muhammad Ali Daud.Sistem Indonesia Islam Zakat dan Wakaf. (Jakarta: UI Press, 1988), h. 97

d. Ikut terlibat dalam memelihara kesinambungan usaha masyarakat.

Keterlibatan BMT di dalam kegiatan ekonomi masyarakat akan

membantu konsistensi masyarakat dalam memegang komitmen sebagai

seorang nasabah. Maka BMT yang bertugas sebagai pengelola, Zakat,

Infaq dan Shadaqah juga harus membantu nasabah yang kesulitan dalam

masalah pembayaran kredit.9

BMT dalam pembinaan masyarakat tentunya disini bertujuan

meningkatkan kualitas usaha ekonomi untuk kesejahteraan anggota pada

khususnya dan masyarakat pada umumnya. Pengertian tersebut diatas dipahami

bahwa Baitul Maal Wattamwil ini berorientasi pada upaya meningkatkan

kesejahteraan anggota dan masyarakat. Pada anggota ini harus diberdayakan

supaya masyarakatnya dapat mandiri. Dalam meningkatkan pembinaan BMT

dimulai dalam pemberian modal pinjaman modal pinjaman sedapat mungkin

dapat memandirikan ekonomi pinjaman. Oleh sebab itu sangat perlu dilakukan

pendampingan. Dalam pelemparan pembiayaan, BMT harus dapat menciptakan

suasana keterbukaan, sehingga dapat mendeteksi berbagai kemungkinan yang

timbul dari pembiayaan. Untuk mempermudah pendampingan, pendekatan pola

kelompok menjadi sangat penting. Anggota dikelompokan berdasarkan usaha

yang sejenis atau kedekatan tempat tinggal, sehingga BMT dapat denga mudah

melakukan pendampingan.10

9

Muhammad Ali Daud.Sistem Indonesia Islam Zakat dan Wakaf. (Jakarta: UI Press, 1988), h. 102

10

Peran sosial BMT akan terlihat pada definisi baitul maal, sedangkan

peran bisnis BMT terlihat dari definisi baitul tamwil. Sebagai lembaga sosial,

baitul maal memiliki kesamaan fungsi dan peran dengan Lembaga Amil Zakat

(LAZ), oleh karenanya, baitul maal ini harus didorong agar mampu berperan

secara profesional menjadi LAZ yang mapan. Fungsi tersebut paling tidak

meliputi upaya pengumpulan dana zakat, infaq, sedekah, wakaf dan sumber

dana-dana sosial yang lain, dan upaya pensyarufan zakat kepada golongan yang

paling berhak sesuai dengan ketentuan asnabiah.

Sebagai lembaga bisnis, BMT lebih mengembangkan usahanya pada

sektor keuangan, yakni simpan-pinjam. Usaha ini seperti usaha perbankan yakni

menghimpun dana anggota dan calon anggota (nasabah) serta menyalurkannya

kepada sektor ekonomi yang halal dan menguntungkan. Namun demikian,

terbuka luas bagi BMT untuk mengembangkan lahan bisnisnya pada sektor riil

maupun sektor keuangan lain yang dilarang dilakukan oleh lembaga keuangan

bank. Karena BMT bukan bank, maka ia tidak tunduk pada aturan perbankan.11

Pada aturan hukum di Indonesia, badan hukum yang paling mungkin

untuk BMT adalah koperasi, baik serba usaha (KSU) maupun simpan pinjam

(KSP). Namun demikian, sangat mungkin dibentuk perundangan tersendiri,

11

Muhammad Ali Daud.Sistem Indonesia Islam Zakat dan Wakaf. (Jakarta: UI Press, 1988), h. 163

mengingat, sistem operasional BMT tidak sama persis dengan perkoperasian,

semisal LKM (Lembaga Keuangan Mikro) Syariah, dan lain-lain.12

Dokumen terkait