• Tidak ada hasil yang ditemukan

Respon Pedagang Kaki Lima Dengan Keberadaan BMT UMJ

ANALISA PERAN BMT UMJ TERHADAP PEDAGANG KAKI LIMA DI CIREUNDEU

C. Respon Pedagang Kaki Lima Dengan Keberadaan BMT UMJ

Pada dasarnya pembiayaan selalu berkaitan dengan aktivitas bisnis,

karena bisnis adalah aktivitas yang mengarah pada peningkatan nilai tambah

melalui proses penyerahan jasa, perdagangan/pengelolaan barang (produksi).

Pelaku bisnis dalam menjalankan bisnisnya sangat membutuhkan sumber

modal, jika pelaku tidak memiliki modal yang cukup maka ia akan

berhubungan dengan pihak lain, seperti bank untuk mendapatkan suntikan dan

para pelaku hrus melakukan pembiayaan.

Begitu pula pada BMT para nasabah yang memerlukan dana mereka

akan melakukan pembiayaan dengan adanya bunga melainkan bagi hasil. Dan

sebagai bagian penting dari aktivitas BMT, kemampuan dalam menyalurkan

dana sangat mempengaruhi dalam tingkat performace lembaga. Hubungan

antara tabungan dan pembiayaan dapat dilihat dari kemampuan BMT meraih

dan sebanyak-banyaknya serta kemampuan menyalurkan dan secara baik,

sehingga tidak terjadi dua kondisi yang berlawanan yakni idle money atau

illiquid idle money, merupakan suatu kondisi dimana dana di BMT terlalu

banyak yang menganggur, kondisi ini harus dihindari karena semakin banyak

E F

dana yang mengendap maka biaya bagi hasil dananya akan semakin tinggi.

Juga jika kondisi ini tidak segera diselesaikan akan berdampak pada

rendahnya tingkat bagi hasil bagi deposan, bagi deposan yang kritis maka hal

ini akan dapat mempengaruhi minatnya untuk menyimpan dananya di BMT

illiquid,merupakan lawan dariliquid. Liquid artinya kemampuan BMT dalam

mengembalikan dana dalam jangka pendek, yakni kemampuan BMT untuk

menyediakan dana yang cukup dalam memenuhi kebutuhan anggotanya yang

akan mengambil simpanan atau deposito yang sudah jatuh tempo.14

Pengambilan tabungan biasanya dapat diprediksi sebelumnya

berdasarkan pengalaman dan pengaruh musim. Misalnya pada saat tahun

ajaran baru sekolah, menjelang hari raya atau saat membayar haji. Pada waktu

itu biasanya terjadi pengambilan tabungan sehingga BMT harus

mengupayakan ketersediaan kas yang cukup, sedangkan deposito sangat

mudah dikendalikan karena memang jangka waktunya sudah jelas. Akan

tetapi dalam penelitian kali ini akan lebih difokuskan pada pembiayaan pada

pedagang kaki lima serta penulis akan mengutarakan tentang respon para

pedagang kaki lima, bukan pada tabungan, di BMT UMJ ada beberapa produk

pembiayaan, yaitu: Murabahah, ijaroh multijasa, mudhorobah & musyarakah,

al qordh dan hiwalah.15

I J

Panduan Umum Program BMT UMJ, Ciputat, 2009, h. 77-79

I K

Dari hasil wawancara dengan Bpk Mukhtiar selaku Manager

Marketing BMT UMJ (02 Mei 2013, pkl 13.30-14.00 wib) beliau menjelaskan

ada 5 macam pembiayaan yang ada di BMT UMJ, yaitu:

1. Murabahah

Murabahah yaitu aqad jual beli antara pihak BMT dengan nasabah,

BMT member barang yang diperlukan oleh nasabah yang bersangkutan

sebesar harga pokok ditambah dengan keuntungan yang disepakati antara

pihak BMT dan nasabah.

2. Ijaroh multijasa

Ijaroh multi jasa yaitu aqad jual dengan harga sebesar harga pokok

tambah dengan tingkat keuntungan tertentu dan pembayarannya dilakukan

atas dasar angsuran.

3. Mudhorobah

Mudhorobah yaitu aqad antara pihak pemilik modal (shohibul maal)

dengan pengelola (mudhorib) untuk memperoleh pendapatan atau

keuntungan. Dan keuntungan atau pendapatan tersebut dibagi berdasarkan

rasio yang telah disepakati diawal aqad.

4. Musyarakah

Musyarakah yaitu aqad kerja sama usaha patungan antara dua pihak

dan produktif, pendapatan atau keuntungan dibagi sesuai dengan rasio

yang telah disepakati.

5. Qodhul Hasan & Hiwalah

Qordhul Hasan & Hiwalah adalah aqad pinjaman dari BMT (muqridh)

kepada pihak tertentu (muqtaridh) untuk tujuan sosial yang wajib

dikembalikan dengan jumlah yang sesuai pinjaman.16 Beliau juga

menjelaskan bahwa dari beberapa produk-produk pembiayaan yang

ditawarkan BMT yaitu pembiayaan Qordhul Hasan yang sampai saat ini

menjadi pembiayaan unggulan yang banyak diminati oleh para pedagang

kaki lima. Alasan mereka adalah:

a. Produk tersebut dianggap pembiayaan yang paling mudah (simple)

dibandingkan dengan pembiayaan-pembiayaan yang lainnnya.

b. Flexible.

c. Dan system pembayarannya juga tidak membebani nasabah yaitu

dengan cara mengangsur harian, bulanan atau bahkan tahunan sesuai

dengan aqad.17

Dilihat dari definisinya pedagang kaki lima merupakan usaha dengan

aset tidak lebih dari Rp 50 juta, dan problem terbesar biasanya terletak

pada modal. Untuk meningkatkan produktifitas usaha salah satu factor

P6

Mukhtiar Manager Marketing BMT UMJ,Wawancara Pribadi, Ciputat, 02 Mei 2013

17

penunjang yang terpenting adalah kesediaan modal yang cukup dipenuhi

oleh perbankan modern karena pada umumnya mereka tidak bankable

(tidak mengerti tentang perbankan) padahal bank akan selalu berpegang

pada azazbankable untuk memutuskan kreditnya (pembiayaan) maka dari

itu banyak para pedagang kaki lima yang mengalami kesulitan

permodalan.18

Dengan adanya kebutuhan permodalan, usaha yang menjadi problem

yang sangat mendesak, tidak sedikit pedagang kaki lima mengambil jalan

pragmatis (jalan pintas) yakni mencari permodalan dari bank plecent

(rentenir). Dan kehadiran BMT sebagai pendatang baru dalam dunia

pemberdayaan masyarakat melalui sistem simpan-pinjam syari’ah,

dimaksudkan untuk menjadi alternative yang lebih inovatif dalam jasa

keuangan.

Dalam hal ini BMT dapat memberdayakan para pedagang kaki lima

yaitu dengan cara BMT menyediakan barang kepada siapa saja yang

mebutuhkan modal untuk pengembangan usahanya atau untuk memulai

usaha agar semua kebutuhannya terpenuhi. Dan dengan menawarkan

produk pembiayaan kepada para pedagang kaki lima ini dapatmeminjam

modal dari BMT, diantaranya sudah banyak nasabah yang menggunakan

produk qordhul hasan ini karena cara pembayarannya pun tidak begitu

membebani para pedagang kaki lima tersebut dan nasabah juga tidak repot

R8

dating ke BMT karena pihak BMT setiap hari, minggu, bahkan bulan akan

datang ke nasabah tersebut untuk menagih uang yang telah dipinjam oleh

nasabah.

Dari hasil wawancara dengan Bpk Mukhtiar selaku Manager

Marketing BMT UMJ (02 Mei 2013, pukul 13.30-14.00 wib), beliau

mengatakan bahwa:

“Melalui pembiayaan Qordhul Hasan ini BMT dapat memberdayakan para

pedagang kaki lima, karena dengan adanya pembiayaan ini para nasabah

dapat meminjam modal dari BMT untuk mengembangkan usahanya.

Contoh saja: orang yang mempunyai keterampilan akan tetapi orang

tersebut tidak mempunyai modal untuk menyalurkan keterampilan

tersebut , maka pihak BMT akan meminjamkan modal dengan aqad sesuai

dengan ketentuan dari pihak BMT dan nasabah”.19

Selanjunya beliau juga mengutarakan dengan alasan yang lain, yaitu:

“Dengan adanya pembiayaan ini BMT dapat membantu memberdayakan

usaha mikro, karena sudah terbukti walaupun produk pembiayaan ini baru

di launching sekitar 6 bulan yang lalu, tetapi sudah banyak minatnya

karena cara pembiayaannya bisa diangsur”.20

19

Mukhtiar Manager Marketing, Wawancara Pribadi, Ciputat, 02 Mei 2013

20

Dan setelah peneliti mengkroscek ulang data yang telah didapat dar

Bpk Mukhtiar ke nasabah (khususnya pedagang kaki lima), maka nasabah

juga beranggapan sama bahwa dengan adanya pembiayaan Qordhul Hasan

ini nasabah merasa tidak terbebani. Hal ini dapat dilihat dari hasil

wawancara sebagai berikut:

Wawancara dengan Bpk Eko Purwanto selaku nasabah (pedagang kaki

lima) (19 April 2013, 14.00-15.00 wib) mengatakan bahwa:

“Dengan adanya pembiayaan iini saya merasa terbantu, karena cara

pembayarannya yang secara mengangsur dan dengan adanya pembiayaan

ini juga saya dapat meminjam modal untuk usaha saya, khususnya di

BMT UMJ”21

Begitu juga dengan Ridwan Saputra selaku nasabah (pedagang kaki

lima) (16 April 2013, 10.00-12.00 wib) juga mengatakan bahwa:

“Saya memilih pembiayaan ini karena cara pembayaran pembiayaan

Qordhul Hasan secara mengangsur, mudah dan lebih simple dari pada

pembiayaan yang lainnya. Dan dengan pembiayaan ini saya dapat

mengembangkan usaha yang awalnya kecil menjadi besar”.22

V W

Eko Purwanto Pedagang Kaki Lima Cireundeu, Wawancara Pribadi, Ciputat, 19 April 2013

22

Ridwan Saputra Pedagang Kaki Lima Cireundeu, Wawancara Pribadi, Ciputat, 16 April 2013

Dari kedua pendapat diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa:

para nasabah memberikan respon yang sangat mendalam kepada program

yang ada di BMT UMJ dan juga mereka ingin mengembangkan usahanya

dan untuk menyalurkan keterampilan dan tidak mempunyai modal, maka

nasabah bisa melakukan pembiayaan di BMT dengan aqad yang telah

ditentukan.

Selanjutnya penjelasan tentang pemberdayaan. Pemberdayaan

mengacu pada kata “empowerment” yang berarti member daya, member

power” (kuasa), kekuatan, kepada pihak yang berdaya. Dan segala

potensi yang dimiliki oleh pihak yang kurang berdaya itu tumbuh

kembangkan sehingga mereka memiliki kekuatan untuk membangun

dirinya. Inti dari pemberdayaan itu sendiri adalah ta’awun

(tolong-menolong). Seperti yang telah dikemukakan oleh Bpk Mukhtiar selaku

Manager Marketing BMT UMJ (hasil wawancara 02 Mei 2013,

13.30-14.00 wib) beliau mengatakan bahwa:

“Makna pemberdayaan dalam BMT adalah ta’awun (tolong-menolong)

dan membuat nasabah yang sebelumnya pasif menhadi aktif, artinya

nasabah yang sebelumnya tidak mempunyai pekerjaan maka BMT akan

memberikan modal berupa barang untuk nasabah tersebut agar

mendapatkan pekerjaan sesuai dengan kemampuan nasabah”.23

23

Dalam prinsip tolong-menolong ini BMT dapat menyalurkan dengan

cara nasabah dapat meminjam modal (melakukan pembiayaan) karena

pada dasarnya para pedagang kaki lima (usaha mikro) mempunyai

beberapa permasalahan, yaitu:

a. Aspek pemasaran

Pedagang kaki lima tidak memiliki perencanaan dan strategi

pemasaran yang baik, usahanya hanya dimulai dari coba-coba bahkan

tidak sedikit larena terpaksa. Jangjauan pemasarannya sangat terbatas

sehingga informasi produknya tidak sampai kepada calon pembeli

potensial, mereka hamper tidak memperhitungkan tentang calon

pembeli dan tidak mengerti bagaimana harus memasarkannya.

b. Aspek manajemen

Pedagang kaki lima biasanya tidak memiliki pengetahuan yang baik

tentang sistem manajemen pengelolaan usaha, sehingga sulit

dibedakan antara asset keluarga usaha bahkan karena banyak diantara

mereka yang memanfaatkan ruang keluarga untuk berproduksi, dan

perencanaan usaha tidak dilakukan sehingga tidak jelas arah dan target

usaha yang akan dijalankan dalam periode waktu tertentu.

Berbagai aspek tekhnis yang masih sering menjadi problem meliputi:

cara berproduksi, sistem penjualan sampai pada tidak adanya badan

hukum serta perizinan usaha yang lain.

d. Aspek keuangan

Kendala yang mengemuka dalam setiap perbincangan usah kecil

adalah lemahnya bidang keuangan, sedangkan pedagang kaki lima

hamper tidak memiliki akses yang luas kepada sumber permodalan.

Kendala ini sesungguhnya dipengaruhi oleh tiga kendala diatas

kebutuhan akan permodalan tidak dapat dipenuhi oleh lembaga

keuangan modern, karena pengusaha kecil tidak dapat memnuhi

prosedur yang ditetapkan.24

Dengan adanya kendala-kendala tersebut, maka banyak

nasabah yang melakukan pembiayaan di BMT khususnya pembiayaan

Qordhul Hasan sangat berperan dan merupakan respon yang paling

banyak dalam memberdayakan para pedagang kaki lima. Karena

menurut para nasabah pembiayaan Qordhul Hasan dianggap

pembiayaan yang paling mudah, simpel dan membayarnya dengan

cara mengangsur.

24

60

PENUTUP

A. Kesimpulan

Peran Baitul Maal Wat Tamwil UMJ Terhadap Keberadaan Pedagang

Kaki Lima dari hasil analisis yang terjadi bahwa dari program pelaksanaan

BMT UMJ yaitu: Pembiayaan dan Pembinaan.

Dalam pembiayaan, pedagang kecil ataupun masyarakat menengah ke

bawah dalam memperoleh dana pembiayaan untuk memperluas usahanya

ataupun membangun usaha baru bagi masyarakat menengah ke bawah relative

sangat sulit, maka BMT UMJ mampu menjangkaunya untuk memperoleh

pembiayaan yang diberikan oleh BMT tanpa menghilangkan unsure

kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaannya.

Selanjutnya dalam pembinaan, pedagang kecil dan masyarakat

menengah ke bawah dalam melakukan usahanya dan agar mampu

mempertanggungjawabkan pembiayaannya, maka BMT UMJ seringkali

memberikan pembinaan kewirausahaan maupun pengelolaan keuangan.

Bentuk pembinaan dapat dilakukan dengan cara mengadakan seminar ataupun

pelatihan. Hal ini diharapkan mampu meningkatkan keterampilan yang

Dalam program pembinaan ini, BMT UMJ dapat melakukan

pembinaan pelatihan kewirausahaan untuk masyarakat umum, hal ini akan

dapat meningkatkan nilai positif bagi masyarakat umum sekaligus

membangkitkan semangat berwirausaha kepada masyarakat umum.

Dengan demikian program pembinaan dapat memberikan peningkatan

jumlah penyaluran dana BMT dengan meningkatnya jumlah penerima

pembiayaan yang telah mendapatkan pembinaan terlebih dahulu.

Dampak terhadap BMT UMJ dan pedagang kaki lima dapat dilihat dari dua

aspek yaitu, aspekmaterial danimmaterial.

a. Aspek material

Yaitu dengan mendapatkan keuntungan yang layak bagi pihak BMT UMJ,

semua itu dapat dilihat dari program-program yang dikeluarkan BMT

UMJ dan kinerjanya.

b. Aspek immaterial

Yaitu dengan adanya program santunan kemanusiaan yang melibatkan

bagi para kaum dhua’fa.

Dengan adanya kesimpulan ini agar tujuan peran BMT UMJ ini

kedepannya bisa dapat membantu menciptakan perilaku bermuamalah sesuai

dengan ajaran islam. Serta membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi

B. Saran

Berangkat dari realitas yang dipaparkan dalam kesimpulan diatas, penulis

menyampaikan beberapa saran:

1. Kepada BMT UMJ agar lebih meluaskan informasinya dan

mengembangkan kegiatan-kegiatan yang bersifat religius maupun non

religius kepada masyarakat agar para nasabah menjadi semangat dalam

melakukan kegiatan yang telah diberikan pihak BMT UMJ dan tentunya

agar nasabah menjadi loyal dan tentunya kedepannya bisa membantu

menciptakan perilaku bermuamalah serta membantu meningkatkan

pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan pendapatan pedagang kaki lima.

2. Hasil penelitian ini sekiranya dapat dijadikan sebagai acuan bagi peneliti

lain untuk mengembangkan maupun mengoreksi dan melakukan

Al Buny ,Problematika Harta dan Zakat, (Surabaya : PT Bina Ilmu, 1983)

Idris, Fatah, abdul. (Jakarta : Kalam Muliaa, 1989) Agroindustri, Bogor: IPB-Press, 2002

Ahmad, djamaluddin, dumairi.Tinjauan Zakat Dalam Perspektif Ekonomi, (UGM : Bulaksumur

Yogyakarta, 19 Mei 1987)

Sudjana, Anas,Metode Riset Dan Metode Bimbingan Skripsi, (Yogyakarta:Reproduksi UD

Darma, 1980), h. 16

Bungin, Burhan, analisis Data Penelitian Kualitatif, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada,

2003), Cet ke-2, h. 39

Pusat bahasa Departemen Pendidikan Nasional RI,Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi ke-3

(Jakarta: Balai Pustaka, 2005) h. 264

Moleung, Lexy J, Dr.Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rodakarya), cet.

Ke-11, h. 135

Wasito, Hermawan, Drs.Pengantar Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka

Utama, 1995), hal. 71

Hadi, Sutrisno,Metode Riset II, (Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM, 1994),

h. 141

Sugiono,Metode Penulisan administrasi, (Bandung: Penerbit al-fabeta 2005), cet ke-12, h. 166

Al-haran, Saad. leading Issues in Islamic Banking and finance, 1995, Pelanduk Publications,

Azzam, Salim. concept of Islamic State, Malikul Awwal dan Abu Jalil (penerj) cet. I,

Bandung : Pustaka, 1982

Suhad, Imam.Hukum Wakaf di Indonesia, (Yogyakarta : 2 Dimensi, 1985)

Tohirin, Achmad. Implementasi Perbankan Islam “pengaruh sosio-Ekonomis dan perannya dalam pembangunan, jurnal ekonomi pembangunan : Yogyakarta, 2003

Chapra, Umar, Muhammad.Pandangan Islam terhadap Kesejahteraan, ekonom Muslim,

2001. Jakarta.

Abidin, Zainal, Ahmad.Negara Adil Makmur Menurut Ibnu Sina, (Jakarta : Bulan

Bintang, 1974)

Atif, Samith, Zain.Syari’at Islam, cet. I Drs. Muzakir As. Penrj. Bandung : Husaini, 1985

Widyaningrum Nurul, Model Pembiayaan BMT dan Dampaknya Bagi Pengusaha Kecil,

Bandung: Akatiga, 2002,

Widodo, Hartanto, Dkk, Panduan Praktis Operasional Baitul Maal Wat Tamwil, Bandung:

Mizan, 1999,

Imamuddin. M, Yuliadi,Ekonomi Islam Sebuah Pengantar, Cet, 1, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,

2001,

Dokumen terkait