BAB V : Pada bab ini penulis mencoba menarik kesimpulan atas hasil penelitian dengan memberikan sumbangsih berupa saran-saran yang mungkin
TEMUAN DAN ANALISIS PERAN PEKERJA SOSIAL MASYARAKAT TERHADAP PEKERJA SEKS KOMERSIL
C. Analisis Peran Fasilitatif, Edukasional, Representasinoal, dan Teksnis Pekerja Sosial Masyarakat Tangerang Selatan
1. Peran fasilitatif
Dalam penelitian ini, peneliti menganalisis peran pekerja sosial masyarakat Tangerang Selatan menggunakan teori yang disampaikan Ife. Dalam penjelasannya, Ife menyatakan bahwa peran fasilitatif pekerja sosial masyarakat meliputi: animasi sosial (social animation); mediasi dan negosiasi (mediation and negotiation); pemberi dukungan (support); membentuk konsensus (building consensus); fasilitasi kelompok (group facilitation); pemanfaatan sumber daya dan keterampilan (utilization of skills and resources); dan mengorganisir (organizing).8
Dalam melakukan peran animasi sosial (social animation), para pekerja sosial masyarakat Tangerang Selatan menurut peneliti masih belum mampu memaksimalkan lebih lanjut peran membangkitkan energy, inspirasi, antusiasme masyarakat (mengaktifkan dan memotivasi) warga untuk bertindak dalam hal mengembalikan para pekerja seks komersil kearah pekerjaan yang sesual dengan nilai-nilai agama, moral, dan budaya. Bahkan menurut pemaparan Aan Sunarya, kesulitan yang dialami pekerja sosial masyarakat Tangerang Selatan dalam mengarahkan para pekerja seks komersil terjadi dikarenakan kurangnya
8
Jim Ife, Community Development: creating community alternatives – vision analysis and practice (Melbourne: Longmen Australia Pty Ltd. 1995), h.202-210.
partisipasi masyarakat sekitar dalam membantu para pekerja seks komersil tersebut keluar dari pekerjaan lamanya. Aan Sunarya pun akhirnya menyatakan bahwa keberadaan yayasan pendidikan Islam yang baru didirikan disekitar daerah prostitusi merupakan harapan baru bagi terciptanya animasi sosial, guna terciptanya lingkungan masyarakat yang mampu membantu para pekerja seks komersil keluar dari pekerjaan lamanya.
Sementara peran mediasi dan negoisasi (mediation dan negoitiation) yang dilakukan para pekerja sosial masyarakat Tangerang Selatan, akhirnya menjadi tidak terlaksana dengan baik, mengingat sikap apatis yang ditunjukkan oleh masyarakat sekitar. Sehingga sangat jarang terjadi konflik dalam penanganan masalah pekerja seks komersil di wilayah Tangerang Selatan. Sementara peran fasilitatif berupa pemberian dukungan (Support) bagi para pekerja seks komersil yang dilakukan oleh para pekeja sosial masyarakat Tangerang Selatan dilakukan melalui kelompok dampingan yang dibentuk oleh para pekerja sosial masyarakat. Dalam kelompok dampingan ini, para pekerja sosial masyarakat memberikan waktu luang bagi para pekerja seks komersil dalam berkonsultasi lebih lanjut terkait keinginan mereka dalam meretas jalan pekerjaan yang halal.
Sementara dalam melaksanakan peran membentuk konsensus (building consensus), fasilitasi kelompok (group facilitiation) dan mengorganisir (organizing), dilakukan para pekerja sosial masyarakat dengan membentuk kelompok pekerja seks komersil yang terdiri dari 20 orang yang disebut kelompok dampingan. Dalam kelompok dampingan inilah peran-peran ini
tercapai. Karena menurut peneliti dalam kelompok dampingan ini, para pekerja seks komersil lebih leluasa dalam menyampaikan keluhan yang dialami. Bagitu pula bagi para pekerja sosial masyarakat yang lebih efektif dalam menyampaikan berbagai pendidikan, edukasi, dan pendampingan dalam kelompok ini.
2. Peran Edukasional
Selain peran fasilitastif, ife juga melanjutkan bahwasanya ada pula peran edukasional yaitu: membangkitkan kesadaran masyarakat (consciousness raising); menyampaikan informasi (Informing); mengonfrontasikan (conforting); dan pelatihan (training).9
Dalam melaksanakan peran edukasionlnya terutama dalam peran membangkitkan kesadaran masyarakat (consciousness raising), para pekerja sosial masyarakat Tangerang Selatan, menurut peneliti lebih mengedepankan berbagai alasan ekonomis seperti kerjasama yang saling menguntungkan antara masyarakat sekitar dan pekerja seks komersil, agar para pekerja seks komersil di sekitar mereka tidak terlalu merasa diasingkan dari kehidupan bermasyarakat. Mengingat mayoritas para pekerja seks komersil di Tangerang Selatan sangat sulit
9
Jim Ife, Community Development: creating community alternatives – vision analysis and practice (Melbourne: Longmen Australia Pty Ltd. 1995), h.202-210.
untuk diajak terbuka terkait peluang pekerjaan selain menjadi pekerja seks komersil.10
Sementara itu, dalam peran menyampaikan informasi (Informing), para pekerja sosial masyarakat Tangerang Selatan menyampaikan berbagai informasi seperti bahaya penyakit menular seks melalui berbagai kelompok dampingan yang telah dibentuk sebelumnya. Hal ini menurut AM sebagai salah seorang pekerja seks komersil merupakan metode yang cukup efektif, karena dalam pernyataannya AM merasa, tidak hadir dalam penyuluhan yang diselenggarakan oleh para pekerja sosial masyarakat sangatlah merugikan, mengingat dalam kesempatan tersebut AM bisa mengakses berbagai pengetahuan terkait bahaya penyakit menular seksual dan juga AM bisa mendapatkan berbagai keuntungan seperti menjadi lebih akrab dengan para pekerja sosial masyarakat yang bisa menyediakan alat kontrasepsi secara gratis seperti kondom yang sanagat ia butuhkan.11
Begitu pula dengan peran pelatihan (training) yang dilakukan para pekerja sosial masyarakat, mereka juga menyampaikan training-training terkait permasalahan cara penggunaan alat kontarsepsi, melalui kelompok dampingan yang sebelumnya dibentuk. Namun menurut peneliti, dalam hal ini para pekerja sosial masyarkat masih belum mampu memberikan pelatihan diluar tema kesehatan. Dalam permasalahan ini, Aan Sunarya mengakui bahwa kesulitan
10 Wawancara pribadi dengan Aan Sunarya. Tangerang Selatan, 27 Juni 2014.
11
dalam mengembangkan training diluar tema kesehatan ini, dikarenakan para pekerja sosial masyarakat merasa kesulitan mendapatkan pencairan dana yang mereka ajukan untuk berbagai kegiatan training edukasional yang telah mereka rancang dari departemen sosial maupun pemerintah daerah.
3. Peran Representasional
Dalam peran representasional ini, meliputi 6 peran sebagaimana yang dijelaskan oleh Ife, yaitu: Mencari Sumber daya (obtaining resources); advokasi (advocacy); memanfaatkan media (using media); hubungan masyarakat (public relations); mengembangakan jaringan (networking); membagi pengalaman dan pengetahuan (sharing knowledge and experience).12
Pekerja sosial masyarakat Tangerang Selatan dalam memenuhi peran representasional ini, menurut peneliti memiliki banyak kekurangan terutama dalam memenuhi peran mencari sumber daya (obtaining resources), advokasi (advocacy), dan memanfaatkan media (using media). Dalam hal ini sebagai mana yang telah peneliti jelaskan sebelumnya, faktor utama yang menyebabkan pekerja sosial masyarakat Tangerang Selatan tidak maksimal dalam menjalankan peran ini, adalah karena respon yang kurang baik dari dinas sosial Tangerang Selatan ketika para pekerja sosial masyarakat ingin mengajukan berbagai program yang
12
Jim Ife, Community Development: creating community alternatives – vision analysis and practice (Melbourne: Longmen Australia Pty Ltd. 1995), h.202-210.
seharusnya bisa didukung baik dari sisi pembiayaan, maupun penyamaan program.
Sedangkan untuk peran hubungan masyarakat (public relations), mengembangakan jaringan (networking), serta membagi pengalaman dan pengetahuan (sharing knowledge and experience). Menurut peneliti pekerja sosial masyarakat Tangerang Selatan sangatlah maksimal dalam menjalankannya. dalam melaksanakan peran hubungan masyarakat (public relations) dan mengembangakan jaringan (networking), para pekerja sosial masyarakat Tangerang Selatan berhasil mengajak puskesmas setempat beserta dinas kesehatan untuk melaksanakan berbagai program penyuluhan kesehatan, terutama penyuluhan kesehatan tentang bahaya penyakit menular serta pengecekan darah bagi para pekerja seks komersil guna mencegah penyakit menular melalui hubungan seks seperti HIV AIDS. Selain itu ada pula program pembagian alat kontrasepsi seperti kondom yang dilakaukan oleh para pekerja sosial masyarakat bekerja sama dengan dinas kesehatan setempat. Inilah yang menurut peneliti bukti keberhasilan pekerja sosial masyarakat Tangerang Selatan dalam memlaksanakan peran hubungan masyarakat dan pembangunan jaringan. Sementara dalam peran membagi pengalaman dan pengetahuan, kesuksesan pekerja sosial masyarakat Tangerang Selatan menurut peneliti disebabkan keberhasilan mebangun kelompik dampingan yang terdiri dari 20 orang pada masing-masing kelompok, guna
memudahkan bagi para pekerja sosial masyarakat Tangerang Selatan dalam menjawab dan membagi pengetahuan kepada para pekerja seks komersil.13
4. Peran Teknis
Peran teknis menurut Ife mencakup keterampilan pemberdaya masyarakat mengumpulkan dan menganalisis data (data collection and analysis); menggunakan komputer (using computers); melakukan presentasi tertulis maupun verbal (verbal and written presentation); manajemen; dan kemampuan untuk mengontrol keuangan (financial control).
Dalam melaksanakan peran teknis, pekerja sosial masyarakat Tangerang Selatan sangat aktif dalam peran mengumpulkan dan menganalisis data. Hal ini terbukti dari laporan yang selalu mereka berikan kepada dinas sosial, dinas kesehatan, dan pemerintah daerah Tangerang Selatan.14 Dalam setiap hasil laporan perkembangan jumlah pekerja seks komersil misalnya, data yang dihasilkan dan dianalisis oleh para pekerja sosial masyarakat ini, selalu mereka kirimkan kepada dinas-dinas tersebut, dengan harapan agar dinas-dinas terkait dapat lebih efektif dalam membantu mengeluarkan kebijakan bagi pembangunan masyarakat di Tangerang Selatan, Seperti yang disampaikan oleh Aan Sunarya. Meskipun ia sendiri juga mengakui bahwa apresiasi yang dibutuhkan oleh pekerja sosial masyarakat seperti pelaksanaan program-program yang selalu mereka
13
Wawancara pribadi dengan Aan Sunarya. Tangerang Selatan, 27 Juni 2014.
14
ajukan melalui proposal kegiatan, masih saja belum mendapat apresiasi dari dinas terkait. 15
Dalam kegiatannya para pekerja sosial masyarakat Tangerang Selatan juga menggunakan perangkat komputer dan melakukan presentasi tertulis dan verbal, ketika mengajukan proposal kegiatan dan menjelaskan hasil penelitian perkembangan pekerja seks komersil kepada dinas sosial, sehingga kedua peran ini mampu mereka laksanakan dengan baik.
Sementara untuk peran manajemen dan mengontrol keuangan, menurut peneliti peran ini dilaksanakan dengan segenap perangkat organisasi yang rapi seperti tertuang dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga pekerja sosial masyarakat Tangerang Selatan, dan juga tercermin dalam setiap kelompok dampingan pekerja seks komersil yang sangat rapi dalam melaksanakan kegiatan seperti penyuluhan.
15
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan teori, fakta, dan temuan dilapangan, maka peneliti mengambil kesimpulan terkait peran pekerja sosial masyarakat Tangerang Selatan terhadap para pekerja seks komersil Tangerang Selatan, adalah sebagai berikut:
1. Peran Fasilitatif
Dalam melaksanakan peran fasilitatif, para pekerja sosial masyarakat Tangerang Selatan telah berhasil melaksanakan peran sebagai pemberi dukungan (support), yang ditunjukkan dengan melakukan berbagai konsultasi dengan para pekerja seks komersil dalam menghadapi kehidupan pekerjaan mereka. Begitu pula dengan peran dalam membentuk fasilitasi kelompok (group fasilitation), organisir (organizing), dan membentuk konsensus (building consensus) yang dilakukan dengan membentuk berbagai kelompok dampingan yang terdiri dari 15 hingga 20 orang pada masing-masing kelompok dampingan. Sementara untuk peran animasi sosial (social animation), mediasi dan negoisasi (mediation and negoation), pemanfaatan sumberdaya dan keterampilan (utilization of skills and resources), hasil temuan lapangan yang dilakukan peneliti tidak menunjukkan bahwa peran ini telah dilaksanakan dengan maksimal. Hal ini dikarenakan sikap yang kurang
peduli dari lingkungan masyarakat sekitar terhadap praktek prosritusi yang ada dilingkungan mereka.
2. Peran Edukasional
Peran Edukasional yang dilakukan para pekerja sosial masyarakat Tangerang Selatan terhadap pekerja seks komersil Tangerang Selatan, terutama dalam melaksanakan peran mengampaikan informasi (informing), dilaksanakan dengan memberikan berbagai infomasi terkait bahaya penyakit menular seksual seperti HIV AIDS yang dilakukan dalam berbagai penyuluhan. Sementara untuk peran pelatihan (training), para pekerja sosial masyarakat melakukan berbagai kerjasama dengan puskesmas sekitar dalam kegiatan pelatian pengguaan berbagai alat kontrasepsi. Sementara dalam melaksanakan peran memebangkitkan kesadaran masyarakat (consciousness raising) dan konfrontasi (conforting), peneliti tidak melihat temuan dilapangan yang menunjukkan bahwa peran ini telah dilaksanakan dengan baik.
3. Peran Representasional
Para pekerja sosial masyarakat Tangerang Selatan, berdasarkan hasil analisis peneliti menunjukkan sangat tidak maksimal dalam melaksanakan peran mencari sumberdaya (obtaining resources), advocacy, dan memanfaatkan media (using media). Sementara dalam melaksanakan peran
hubungan masyarakat (public relation) dan membangun jaringan (networking), para pekerja sosial masyarakat telah melaksanakan peran ini dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan hubungan baik antara pekerja sosial masyarakat Tangerang Selatan dengan berbagai lembaga seperti puskesmas, dinas sosial setempat, dan pemerintah daerah.
4. Peran Teknis
Berdasarkan berbagai hasil temuan lapangan, peneliti menemukan bahwa peran ini sangatlah dilaksanakan dengan baik oleh para pekerja sosial masyarakat Tangerang Selatan. Dalam peran mengumpulaka dan menganalisis data (data collection dan analysis), para pekerja sosial masyarakat Tangerang Selatan senantiasa memberikan data akurat terkait perkembangan jumlah pekerja seks komersil kepada berbagai lembaga terkait seperti dinas sosial dan pemerintah daerah Tangerang Selatan. Begitu pula dengan pelaksanaan peran menggunakan komputer (computer using) dan presentasi tertulis maupun verbal yang dilakukan oleh para pekerja sosial masyarakat Tangerang Selatan ketika mereka memberikan penjelasan kepada dinas sosial dan pemerintah daerah, yang juga dilaksanakan dengan maksimal. Sementara peran manajemen dan mengontrol keuangan, dilaksanakan oleh para pekerja sosial masyarakat Tangerang Selatan sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yang telah disusun dan disepakati.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti mengemukakan berbagai saran yang diharapkan dapat bermanfaat, yaitu:
1. Kepada masyarakat umum terutama masyarakat Tangerang Selatan, agar ikut andil dan peduli dalam membimbing para pekerja seks komersil agar mempu melakukan dan memilih pekerjaan yang sesuai dengan kaidah agama dan norma-norma yang berlaku di masyarakat.
2. Kepada dinas sosial Tangerang Selatan, agar memberikan dukungan lebih maksimal kepada para pekerja sosial masyarakat agar melaksanakan berbagai kegiatan guna menunjang berbagai pelaksanaan peran yang seharusnya dilaksanakan oleh para pekerja sosial masyarat Tangerang Selatan.
3. Kepada pemerintah daerah Tangerang Selatan, agar juga menjadikan permasalahan pekerja seks komersil ini sebagai salah satu fokus dari sekian banyak permasalahan yang harus dihadapi dan diselesaikan.
(APARAT KECAMATAN) Nama informan (inisial) : AK
Hari Tanggal : Jumat, 27 Juni 2014
Tempat : Kecamatan Pamulang
Topik Wawancara : Pandangan Kecamatan terkait peran Pekerja Sosial Masyarakat (PSM)
Kondisi Khusus :
NO PERTANYAAN JAWABAN
Peran Pekerja Sosial (PSM) Tangerang Selatan Dalam Menanggulangi Masalah Pekerja Seks Komersial (PSK) Di Tangerang Selatan
1 Bagaimana peran PSM sebagai pendidik? Cukup Baik, saya dengar mereka sering kasih penyuluhan ke PSK
2 Bagaimana PSM melakukan peran fasilitatif PSM?
Mereka sering berkoordinasi kesini. 3 Bagaimana PSM melakukan peran
Edukasional?
Kalau dilihat dari internsitanya, saya yakin peran edukasionalnya baik.
4 Bagaimana PSM melakukan peran sebagai perwakilan masyarakat?
Kadang ke kita menyampaikan permasalahan yang dihadapi PSK.
5 Bagaimana PSM melakukan peran sebagai Tehnis? Setahu saya mereka
cukup sering kasih edukasi ke PSK.
(PEKERJA SEKS KOMERSIAL 1) Nama informan (inisial) : AM
Hari Tanggal : Sabtu, 28 Juni 2014
Tempat : (Café Sahabat) Muncul, Tangerang Selatan. Topik Wawancara : Pandangan Pekerja Seks Komersil (PSK) terhadap Pekerja sosial masyarakat (PSM)
Kondisi Khusus :
NO PERTANYAAN JAWABAN
Peran Pekerja Sosial (PSM) Tangerang Selatan Dalam
Menanggulangi Masalah Pekerja Seks Komersial (PSK) Di Tangerang
Selatan
1 Bagaimana peran PSM sebagai pendidik? Kadang-kadang sering kasih arahan, cuma kadang saya nya kurang mengerti. 2 Bagaimana PSM melakukan peran
fasilitatif PSM?
Waktu itu pernah kasih tau kalau ada kursus menjahit atau apa gitu dari kelurahan. 3 Bagaimana PSM melakukan peran
Edukasional?
Sering kasih ceramah gitu bang.
4 Bagaimana PSM melakukan peran sebagai perwakilan masyarakat?
Gak tau saya, bang. Kayaknya sih waktu itu dia pernah ngobrol-ngobrol sama RT, sama RW, Cuma saya lupa waktu itu dia bilang apa sama RT RW. Kayaknya tentang masalah tempat tinggal.
5 Bagaimana PSM melakukan peran sebagai
Tehnis?
Kadang-kadang sering ke sini, ajak kita ke tempat kursus gitu.
6 Apakah anda mengetahui apa itu PSM? Kayaknya orang dari kelurahan
atau lembaga sosial gitu ya bang.
7 Apakah pendapatan harian anda cukup untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari?
Kalau buat sekedar makan sama kirim uang buat anak di kampung cukup lah bang.
8 Berapa pendapatan anda dalam satu hari? Sekitar 300.000 sampai
500.000 kalau rame, tapi kalau sepi kadang ya ngga ada sama sekali.
untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari?
dapetnya cuma dikit.
12 Apakah masyarakat disekitar anda
memberikan tekanan psikologis terhadap profesi yang anda kerjakan?
Pasti lah bang. Kadang saya lewat aja orang-orang sering liatny gitu ke saya.
13 Seberapa sering anda mendapatkan
pendidikan dari PSM?
Sekitar beberapa bulan sekali.
14 Apakah PSM memberikan pendidkan yang
mampu meningkatkan keterampilan lainnya?
Waktu itu pernah ajak bang, tapi saya lagi kurang enak badan.
15 Apakah anda mengetahui hak-hak anda
sebagai seorang warganegara yang baik?
Paling hak nyoblos kalau lagi pemilu.
16 Apakah anda mengetahui kewajihban anda
sebagai warganegara yang baik?
Bayar pajak bukan ?
17 Profesi apa yang anda inginkan jika tidak
menjadi PSK?
Kalau kepengennya ya kerja di kantor, bang. Tapi kan yang kerja di kantor kan biasanya harus kuliah dulu.
18 Apakah masyarakat disekitar tempat anda
bekerja mendukung profesi yang anda lakukan?
Yang penting saya ikutin kata ibu kos (mucikari) aja. Warga kan kadang ibu kos yang hadepin. Tapi kalau yang tetangga sini gak masalah.
19 Permasalahan apa yang sering anda hadapi
dari masyarakat sekitar ketika anda bekerja?
Kadang sering ada razia gitu, bang. Saya juga namanya kerja beginian harus sering-sering cek ke dokter.
20 Apakah anda bersedia meninggalkan profesi
sebagai PSK jika mendapatkan peluang pendapatan yang lebih baik?
Ya mau lah, bang.
21 Berapa besar kebutuhan harian anda yang
harus dipenuhi?
Sehari kalau di hitung-hitung sama untuk tinggal sama kirim anak di kampung sekitar 300.000
22 Berapa besar pendapatan yang anda harapkan
di jika seandainya anda mendapatkan profesi baru?
Sekitar 5.000.000. tapi kalau ada yang 3.000.000an saya juga mau.
Nama Informan (inisial) : JM
Hari/Tanggal : Jumat, 27 Juni 2014
Topik Wawancara : Kondisi Pekerja Seks Komersial (PSK) di Tangerang Selatan
Kondisi khusus :
NO PERTANYAAN JAWABAN
Peran Pekerja Sosial (PSM) Tangerang Selatan Dalam
Menanggulangi Masalah Pekerja Seks Komersial (PSK) Di Tangerang Selatan
1 Bagaimana peran formal Anda dalam menangani PSK di Tangsel?
Memberikan penyuluhan serta pendidikan sesuai dengan program yang
diselenggarakan KEMENSOS 2 Bagaimana informal (Peran tertutup)
Anda menangani masalah PSK di Tangsel?
Mengajak mereka sharing terkait permasalahan pokok yang mereka hadapi, dan pelan-pelan mengajak untuk beralih ke profesi yang lebih baik. 3 Bagaimana peran Anda sebagai
pendidik?
Sekitar 3 sampai 4 kali dalamsatu bulan memberikan penyuluhan.
4 Bagaimana Bapak melakukan peran fasilitatif PSM?
Memberikan fasilitasi jalan keluar terhadap permasalahan para PSK dengan program-programPEMDA yang sudah ada.
5 Bagaimana Bapak melakukan peran Edukasional?
Memberikan pendidikan terkait peningkatan kemampuan individu, terkadang juga memberikan pendidikan keagamaan agar mereka memiliki semangat untuk bisa menjadi lebih baik.
6 Bagaimana Bapak melakukan peran sebagai perwakilan masyarakat?
Menyampaikan permasalahan pokok yang dihadapi para PSK kepada lembaga terkait. Contoh??
7 Bagaimana Bapak melakukan peran sebagai
Tehnis
Langsung turun kelapangan, terus memeberikan pendidikan
dekat-dekat Muncul sini ada sekitar 4 kelompok PSK.
10 Seberapa banyak jumlah PSK di TANGSEL
yang memiliki pendidikan hingga SD sederajat?
Mayoritas Cuma sampai SD.
11 Seberapa banyak jumlah PSK di TANGSEL
yang memiliki pendidikan hingga SMP sederajat?
Cuma sedikit paling 10 sampai 15 orang.
12 Seberapa banyak jumah PSK di TANGSEL
yang memliliki pendidikan hingga SMA sederajat?
Paling banyak 10 orang.
13 Seberapa banyak jumlah PSK di TANGSEL
yang memiliki pendidikan hingga S1 sederajat?
Setahu saya tidak ada.
14 Pendidikan apa yang paling tepat untuk
diberikan kepada para PSK?
Pendidikan keterampilan serta pendidikan formal minimal hingga SMA.
15 Apakah anda yakin para PSK di TANGSEL
dapat menemukan profesi yang lebih baik?
Jika mereka mau mengikuti arahan dan program-program yang ada, saya yakin bisa.
16 Apakah anda mendapatkan pendidikan
formal terkait cara menaggulangi permasalahan PSK di TANGSEL ?
Dari KEMENSOS iya.
17 Apa yang melatarbelakangi pemilihan
sebagai profesi sebagai PSK ?
Menurut saya sebenarnya mereka ini masih bisa menjadi lebih baik, Cuma terkadang mereka merasa menjadi PSK sudah merupakan jalan untuk memenuhi kehidupan ekonomi mereka. Nah, saya melihat ada peluang bagi mereka untuk menjadi lebih baik. Inilah yang menyemangati saya agar terus mendidik mereka.
18 Apakah anda mengetahui PERMENSOS RI
mengenai PSK?
Tentu, karena ini yang menjadi landasan saya sebagai seorang PSM.
19 Apakah permasalahan PSK di TANGSEL
sudah ditanggulangi dengan baik?
Masih perlu ada koordinasi yang lebih baik antar lembaga daerah agar menjadi lebih efektif dan efisien
20 Apakah menurut anda jumlah PSK di
TANGSEL semakin bertambah?
Tidak.
21 Apakah menurut anda jumlah PSK di
TANGSEL semakin berkurang?
Memang kadang datang dari jawa PSK baru, tapi saya yakin