• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.3. Peran Ganda

Dalam pengelompokan ini, terdapat empat kutipan yang dibahas Tabel IV.4

Makna Denotasi dan Konotasi Peran Ganda

No Kutipan Halaman

1 Memang sekali ia pernah bilang: tak ada guna menyewa tenaga Eropa kalau Pribumi bisa melakukan.

58

Denotasi

Sebenarnya satu kali ia pernah mengatakan : tidak ada manfaat memakai (dengan memberi uang) tenaga Eropa kalau penghuni asli bisa melakukannya.

Konotasi

Apa yang berbau Eropa selalu dianggap paling baik, tidak terkecuali keahlian pekerjanya. Namun tidak ada bedanya

dengan hasil tangan pekerja pribumi. Tenaga Eropa dianggap lebih bermartabat karena status pendidikan yang mereka peroleh. Sedangkan pribumi sebagai warga jajahan dengan keterbatasan akses pendidikan, mereka dianggap lebih rendah.

2 “... Dan engkau tahu perusahaan ini pada suatu kali akan diambil oleh orang lain yang dianggap lebih berhak oleh Hukum. Aku hendak membuka perusahaan baru....”

97-98

Denotasi

“... Dan engkau mengerti kegiatan yang diselenggarakan dengan peralatan atau dengan cara teratur dengan tujuan mencari keuntungan ini pada satu kali hendak diambil oleh manusia asing yang dipandang lebih mempunyai hak oleh peraturan resmi. Aku bermaksud akan mengembangkan kegiatan yang diselenggarakan dengan peralatan atau dengan cara teratur dengan tujuan mencari keuntungan yang belum pernah ada...”

Konotasi

Hukum yang berlaku memliki hak untuk mengatur kepemilikan suatu properti. Jika Hukum sudah memutuskan suatu properti menjadi hak milik siapa, maka tidak ada lagi yang dapat dilakukan untuk merubahnya. Meskipun tidak selamanya hukum memiliki pandangan yang adil. Saat hukum memutuskan perusahaan Nyai menjadi hak milik orang lain, Nyai lebih memilih membangun perusahaan baru untuk menghindarkan diri dari masalah yang lebih rumit dengan Hukum Hindia Belanda.

3 Ya, aku sekarang ingat pada Nyai. Ia pun menggaji orang-orang Eropa untuk kepentingan perusahaannya. Mereka datang atas panggilannya. Malah Mr.Deradera Lelliobuttockx diusirnya berdepan-depan karena tidak

menguntungkan. Seorang Pribumi mengusir orang Eropa! Betapa banyak yang telah dipelajarinya dari Tuan Mellema.

Denotasi

Iya, aku kini tidak lupa pada Nyai. Ia juga memberi gaji manusia-manusia Eropa dengan maksud keperluan perusahaan miliknya. Mereka hadir sesuai imbauannya. Bahkan Mr. Deradera Lelliobuttockx disuruh pergi dengan paksa berhadap-hadapan disebabkan oleh tidak mendatangkan laba. Satu orang penghuni asli menyuruh pergi dengan paksa manusia Eropa! Alangkah tidak sedikit yang sudah didapatkan pelajaran melalui Tuan Mellema. Konotasi

Seorang Nyai atau gundik memperkerjakan orang-orang Eropa di perusahaan miliknya. Suatu hal yang berbeda jika dibandingkan dengan keadaan umum di mana biasanya bangsa Eropa yang memperkerjakan pribumi untuk pekerjaan rendahan. Nyai tidak segan memecat orang yang merugikan perusahaan, meskipun ia berkebangsaan Eropa. Sikap yang ia pelajari dari Tuannya, Tuan Mellema.

4 Mama berkukuh menolak memberikan keterangan yang bisa jadi petunjuk ke arah kebijaksanaannya sebagai pemimpin dan pemilik perusahaan.

460

Denotasi

Mama berteguh hati tidak menerima menyampaikan penjelasan yang mampu menjadi suatu tanda untuk menunjukkan ke maksud kepandaian menggunakan akal budinya menjadi orang yang memimpin dan yang memiliki kegiatan yang diselenggarakan dengan peralatan atau dengan cara teratur dengan tujuan mencari keuntungan.

Sebagai seorang pemimpin dan pemilik perusahaan, Nyai Ontosoroh sadar bahwa kewajibannyalah untuk tidak memberitahukan kebijakannya dalam mengelola perusahaan pada khalayak umum. Ia harus melindungi perusahaan dan orang-orang yang terlibat di dalamnya dari campur tangan pihak yang akan merugikan mereka jika ia membeberkan informasi penting mengenai perusahaannya.

Jika dalam tesisnya Permanadeli menjadikan terkenal atau artis sebagai bentuk syarat ketiga dari perempuan ideal modern Jawa. Maka dalam kasus Nyai Ontosoroh, peneliti menggantinya dengan ‘peran ganda’. Maksud dan inti dari keduanya tidak jauh berbeda, yakni tetap manjalankan tugas sebagai ibu namun juga berhasil dalam pekerjaan di luar wilayah domestik.

Ada dua pandangan mengenai kedudukan tinggi perempuan lewat perannya dalam keluarga, seperti yang sudah dibahas di BAB II. Salah satunga menganggap peran penting perempuan dalam sektor ekonomi dan pengelolaan rumah tangga belum tentu menunjukkan tingginya status dan kekuasaan perempuan. Perempuan memiliki beban ganda karena mereka harus mencari nafkah untuk keluarga dan juga dituntut untuk menyelesaikan sebagian besar pekerjaan domestik sehingga mereka harus membagi waktu dan sumber daya untuk memenuhi kedua kewajiban tersebut secara bersamaan.

Secara ideal masih terdapat anggapan bahwa peran utama perempuan ada di sekitar rumah tangga dan tugas-tugas domestik. Aktivitas perempuan dalam sektor lain, seperti sektor produksi dianggap sebagai tugas sekunder (Kusujiarti, 1997 : 91). Dalam novel Anak Semua Bangsa, Pram menggambarkan bagaimana Nyai Ontosoroh dapat bebas menjalankan perannya di ranah produksi dengan posisi yang tidak biasa ditempati seorang perempuan pribumi.

Keempat kutipan di atas menunjukkan bagaimana Nyai Ontosoroh memimpin dan menjalankan perusahaannya. Nyai tetap dapat menghidupi keluarganya dan menjadikan perusahaannya semakin berkembang selepas ditinggalkan tuannya. Statusnya sebagai seorang perempuan pribumi tidak menjadikannya merasa kecil untuk memimpin sebuah perusahaan yang mempekerjakan bukan hanya pribumi tapi juga orang Eropa.

Sebagai pemimpin perusahaan, Nyai paham betul apa yang menjadi tanggung jawabnya dalam menjalankan dan melindungi perusahaan. Penghinaan yang didapatinya di persidangan yang meragukan kemampuannya memimpin perusahaan tidak membuatnya menyerah melindungi harga dirinya sendiri dan informasi mengenai perusahaannya. Juga ia tidak segan akan menyingkirkan dan menghindarkan perusahaannya dari pihak-pihak yang akan menimbulkan kerugian. Sekalipun ia harus memecat seorang laki-laki Eropa.

Nyai juga tidak patah semangat saat perusahaan yang ia bangun terancam akan diambil alih oleh pihak yang lebih berhak menurut hukum Hindia Belanda. Ia bermaksud untuk membangun perusahaan baru agar pekerjanya tidak kehilangan mata pencaharian. Juga ia akan tetap memiliki kegiatan dan hal yang bisa diurusnya agar hidupnya tidak menjadi terbuang sia-sia.

Ontosoroh sadar, kehilangan tuan adalah akhir dari kehidupan seorang gundik. Status mantan gundik menjadikan mereka tidak lagi diterima di tengah masyarakat, bahkan keluarga mereka sendiri. Karena itu Nyai membentuk dirinya menjadi mandiri dengan mendirikan perusahaan yang tidak hanya untuk menggantungkan hidup keluarganya tapi juga memberi lapangan pekerjaan bagi banyak orang lainnya. Bekerja di luar sektor domestik bukan semata-mata hanya untuk mencari materi, namun juga menjadi sarananya berbagi ilmu dengan orang lain dan media menerapkan ilmu yang telah ia miliki.

Berbeda dengan anggapan masyarakat tentang gundik yang bergantung pada kekayaan dan kekuasaan tuannya. Nyai Ontosoroh menjadikan ajaran pengatahuan yang diberikan tuannya sebagai modal ia menjadikan hidupnya lebih bermartabat sebagai seorang manusia. Ia dihormati karena kemampuannya mengatur dan memimpin perusahaan Boerderij Buitenzorg di Wonokromo, bukan statusnya sebagai gundik seorang totok mantan Administratur Pabrik Gula.

Dokumen terkait