• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.2. Terdidik

Dalam pengelompokan ini, terdapat 12 kutipan yang dibahas Tabel IV.3

Makna Denotasi dan Konotasi Terdidik

No Kutipan Halaman

1 “Memang, sudah selesai dengan kekalahan kita, tetapi tetap ada azas yang telah mereka langgar. Mereka telah tahan kita di luar hukum. Jangan kau kira bisa membela sesuatu, apalagi keadilan, kalau tak acuh terhadap azas, biar sekecil-kecilnya pun...”

4

Denotasi

“Sebenarnya, telah habis dengan kekalahan kita, tapi ada dasar sesuatu yang menjadi tumpuan berpikir atau berpendapat yang sudah mereka tentang. Mereka sudah hentikan kita yang tidak merupakan bagian dari peraturan resmi. Hendaknya tidak kau sangka mampu memihak untuk melindungi sesuatu, lebih-lebih perlakuan yang adil, kalau tidak mengindahkan kepada dasar sesuatu yang

menjadi tumpuan berpikir atau berpendapat, meskipun kurang berarti...”

Konotasi

Mengakui kekalahan merupakan tindakan mulia dalam pertentangan. Terlebih mengakui kekalahan dari orang yang melakukan kecurangan. Lebih baik kalah dengan tanpa melanggar suatu ketetapan dari pada menang dengan cara yang tidak adil. Dalam membela dan mendapatkan keadilan, haruslah memperhatikan ketetapan yang sudah ada. Hal sederhana sekalipun akan menjadi sangat penting untuk menegakkan keadilan.

2 “Lihat, biar kau kaya bagaimana pun,” ia memulai dan kudengarkan dengan setengah hati, “Kau harus bertindak terhadap siapa saja yang mengambil seluruh atau sebagian dari milikmu, sekali pun hanya segumpil batu yang tergeletak di bawah jendela. Bukan karena batu itu sangat berharga bagimu, azasnya: mengambil milik tanpa ijin: pencurian; itu tidak benar, harus dilawan. Apalagi. Pencurian terhadap kebebasan kita selama beberapa hari ini.”

4-5

Denotasi

“Perhatikan, meskipun kau mempunyai banyak harta bagaimana juga,” ia mengawali dan kuperhatikan dengan separuh hati, ”kau wajib berbuat kepada siapa pun yang merebut semua atau satu bagian dari kepunyaanmu, meskipun hanya segumpal kecil batu dari tanah yang terletak begitu saja di bawah lubang jendela. Bukan karena batu itu mempunyai harga, dasar pemikirannya : mengambil kepunyaan/hak tidak dengan persetujuan adalah perbuatan mengambil dengan tidak sah, itu tidak benar, harus ditentang. Apalagi perbuatan mengambil dengan tidak sah kebebasan selama beberapa hari.”

Konotasi

Segala hal yang melekat pada diri manusia adalah kepemilikan manusia tersebut, karena itu ia memiliki hak atasnya. Bukan hanya harta yang berupa materi namun juga hak hidup dengan nyaman. Sekecil apapun hak tersebut dilanggar oleh pihak lain, tidak boleh dibiarkan. Bukan didasarkan oleh kesombongan atas kepemilikannya, namun karena ketetapan yang telah dilanggar. Mengambil milik orang lain adalah sebuah kesalahan yang tidak boleh dibiarkan. Begitu pula dengan melanggar hak kebebasan seseorang. Semua yang melanggar harus dilawan.

3 Tidak lain dari Mama yang mengatakan: nama berganti seribu kali dalam sehari, makna tetap.

26

Denotasi

Ialah Mama yang menuturkan : gelar bertukar seribu kali dalam satu hari, arti tidak berubah.

Konotasi

Kita akrab dengan anggapan nama adalah doa. Namun nama tidak akan merubah watak seseorang. Bagaimana pun seseorang memilih nama yang memiliki arti hebat, itu tidak akan merubah watak yang telah dimilikinya. Masyarakat Jawa zaman dulu dikenal gemar menggunakan nama-nama yang terdengar hebat agar disegani oleh orang lain.

4 “Bagaimana bisa orang berbohong dalam tulisan semacam ini? Tulisan yang harus dihormati karena dibaca oleh ribuan orang?”

100

Denotasi

“Bagaimana bisa orang berkata tidak benar dalam karangan sejenis ini? Karangan yang wajib dihargai disebabkan oleh dibaca oleh beribu-ribu manusia?”

Nilai terpenting dari sebuah berita adalah fakta atau kebenaran akan apa yang diberitakan. Menulis berita bohong tidak bisa dibenarkan. Berita menjadi sumber informasi penting bagi banyak orang. Oleh karena itu berita harus disajikan berdasarkan fakta tanpa terpengaruh pendapat si penulis. Khalayak memiliki hak untuk mendapatkan berita yang berkualitas dengan isi dan penyajiannya. Maka kewajiban wartawan adalah menyajikan berita yang berimbang dan berdasarkan fakta. 5 “Kau dididik untuk menghormati dan mendewakan Eropa,

mempercayai tanpa syarat. Setiap kau melihat kenyataan adanya Eropa tanpa kehormatan, kau lantas jadi sentimen. Eropa tidak lebih terhormat daripada kau sendiri, Nak! Eropa lebih unggul hanya di bidang ilmu, pengetahuan dan pengendalian diri. Lebih tidak. Lihatlah aku, satu contoh yang dekat – aku, orang desa, tapi juga bisa sewa orang-orang Eropa yang ahli. Juga kau bisa. Kalau mereka bisa disewa oleh siapa saja yang bisa membayarnya, mengapa iblis takkan menyewanya juga?”

100-101

Denotasi

“Kau diberi latihan ajaran untuk menghargai dan memuja Eropa, menganggap benar tanpa janji. Setiap melihat yang benar-benar keadaan Eropa tidak dengan penghargaan, langsung jadi berpendapat dengan dasar perasaan yang berlebihan. Eropa tidak lebih berharga daripada Minke. Eropa lebih baik hanya di bidang pengetahua, segala sesuatu yang diketahui dan pengendalian diri. Selebihnya tidak. Nyai salah satu contoh dekat, orang dusun, tapi bisa memakai tenaga Eropa yang ahli dengan memberi uang. Kalau mereka tenaga mereka bisa dibayar oleh siapa saja yang bisa memberikan uang, mengapa roh jahat tidak akan membayar tenaga mereka juga?”

Konotasi

Eropa mengajarkan apa yang ada pada diri bangsa mereka adalah sepenuhnya benar. Segala sesuatu yang paling maju ada pada bangsa mereka. Tidak terkecuali ajaran akan sikap menjalani hidup. Bangsa lain yang tidak mampu mengikuti kemajuannya dianggap kelompok manusia yang tertinggal dan terbelakang. Tidak heran jika hasil didikan mereka akan merasa gusar jika mendapati sedikit kesalahan pada ajaran yang didapatnya.

Bangsa Eropa akan bekerja untuk mereka yang mampu membayar. Mereka akan bekerja memanfaatkan segala kemajuan yang dimiliki untuk kepentingan dan keuntungannya sendiri. Sekalipun mereka dibayar mahal untuk sebuah kehancuran bangsa lain.

Mereka mendewakan pengetahuan mereka dan menggadaikannya demi keuntungan dan kemashuran. Bukan hanya kekayaan harta yang mereka kejar namun juga pengakuan dan rasa takut dari bangsa lain atas kebesaran dan kehebatan bangsa Eropa.

6 “... Eropa tidak hebat dengan nama, dia berhebat-hebat dengan ilmu dan pengetahuannya. Tapi si penipu tetap penipu, si pembohong tetap pembohong dengan ilmu dan pengetahuannya.”

102

Denotasi

“... Orang Eropa tidak membesar-besarkan dengan nama, orang Eropa membesar-besarkan dengan pengetahuan dan segala sesuatu yang diketahui. Tapi orang yang menipu tetaplah menipu, orang yang suka berkata tidak sebenarnya tetaplah orang yang suka berbohong dengan pengetahuan dan segala sesuatu yang diketahui.”

Konotasi

nama, melainkan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mereka miliki. Dengan ilmu pengetahuan pula mereka bisa menjadi seorang penolong ataupun pembohong. Seorang terpelajar menentukan ilmu yang mereka miliki dengan sikap mereka, apakah untuk menolong atau menipu. Ilmu pengetahuan akan menjadi berbahaya ditangan mereka para penipu dan pembohong, mereka akan semakin pandai menipu dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

7 “Seluruh dunia kekuasaan memuji-muji yang kolonial. Yang tidak kolonial dianggap tak punya hak hidup, termasuk mamamu ini. Berjuta-juta ummat manusia menderitakan tingkahnya dengan diam-diam seperti batukali yang itu juga. Kau, Nak, paling sedikit harus bisa berteriak. Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudianhari. Dan kolonial itu, kan itu persyaratan dari bangsa pemenang pada bangsa yang dikalahkan untuk menghidupinya? – suatu persyaratan yang didasarkan atas tajamnya dan kuatnya senjata?”

111-112

Denotasi

Seantero lingkungan yang meliputi menguasai orang atau golongan lain berdasarkan kewibawaan melahirkan kekaguman dan penghargaan kepada yang berhubungan dengan sifat jajahan. Yang tidak berhubungan dengan sifat jajahan dipandang tidak memiliki hak untuk hidup, terhitung juga Mamamu ini. Berjuta-juta sekalian bangsa manusia menanggung perbuatannya yang tidak menyenangkan dengan diam-diam serupa batu dari sungai yang selalu demikian halnya. Kau, nak, teramat sedikit wajib mampu berseru dengan suara keras. Mengerti kau

mengapa aku cintai kau lewat dari semestinyadari siapa pun? Karena kau melahirkan pikiran atau perasaan. Ucapanmu tidak akan mati dimakan angin, akan kekal, sampai jauh, jauh di waktu yang akan datang. Dan yang berhubungan dengan sifat jajahan itu, bukan kah itu hal-hal yang menjadi syarat dari kelompok masyarakat yang menang pada kelompok masyarakat yang dapat ditandingi untuk memberinya nafkah? Satu hal yang menjadi syarat yang dijadikan pokok suatu pendapatnya sesuai dengan runcingnya dan tahannya alat yang dipakai untuk perang?” Konotasi

Menjajah merupakan cara yang dipuji oleh bangsa-bangsa yang haus akan kekuasaan wilayah. Penjajah yang haus akan kekuasaan dan kebesaran diri adalah orang yang pantas dipuja. Tidak heran jika hanya mereka yang penjajah dan setuju atas penjajahanlah yang lebih dihargai. Berbeda dengan warga jajahannya, penjajah hanya mengganggap mereka sebagai manusia rendahan. Seorang manusia rendahan tidak memiliki hak atas dirinya, sekalipun hak bersuara. Tidak heran jika mereka hanya mampu diam-diam mengeluh dan protes atas apa yang menimpa mereka tanpa berani bertindak. Suara protes mereka tenggelam oleh rasa takut atas penjajah. Tidak ada yang lebih berani lagi dibanding pribumi yang mampu dan berani menyuarakan pendapatnya lewat tulisan. Sebuah ide dan gagasan yang dituangkan dalam tulisan akan lebih kekal dibandingkan gagasan yang hanya terbentuk dalam pikiran seseorang. Tulisan tidak hanya akan dinikmati sendiri oleh penulisnya, namun juga orang lain yang bukan hanya disatu waktu. Tapi selama tulisan itu masih ada, akan ada lebih banyak manusia yang mengetahui gagasan tersebut. Gagasan yang tertuang dalam tulisan tidak kalah

tajam dengan senjata yang digunakan penjajah untuk menaklukkan suatu wilayah. Untuk menjadi menang melawan penjajah, tidak selalu harus mengikuti cara mereka yang menggunakan senjata tajam. Sebuah tulisan bisa menjadi senjata yang melawan penjajah lewat adu pengetahuan dan gagasan. Karena kekuasaan kolonial tidak sebatas menguasai suatu wilayah beserta kekayaan di dalamnya. Namun juga meliputi menentukan cara pandang manusia dan bagaimana manusia dipandang.

8 Pada kita dia telah tampilkan Eropa dan Amerika sebagai petualangan-petualangan jahat, Nak. Sekiranya mereka tak punya meriam, apakah ada kehormatan pada mereka?”

122

Denotasi

Kepada kita dia sudah munculkan Eropa dan Amerika semacam perihal-perihal bertualang buruk, nak. Seandainya mereka tidak memiliki senjata berat yang larasnya besar dan panjang, apakah mereka mempunyai penghargaan?

Konotasi

Eropa dan Amerika dua benua besar dengan bangsa-bangsa yang maju dan juga berbahaya. Mereka dihormati oleh bangsa lain karena kehebatannya dalam banyak hal. Salah satunya dalam hal persenjataan. Mereka tidak akan memiliki kehormatan jika tidak memiliki senjata api. Kehormatan mereka didapat dari memenangkan perang melawan bangsa lain. Tidak sedikit jumlah jajahan mereka. Kemenangan mereka didapat dari persenjataan yang lebih maju dari lawannya. Tujuan perang mereka adalah untuk menaklukkan banngsa lain, menguasai wilayahnya dan yang terpenting diakui kehebatannya dan dihormati bangsa lain.

mendapatkan pegangan pada kebenaran yang berakar pada kebenaran. Ia mencoba menghadapi dan bertahan terhadap tragedi kehidupan. Lambat tapi pasti sorak-soraiku sendiri dan dunia akan datangnya jaman modern hanya satu kesia-siaan semata. Yang modern hanya alat-alatnya, kata Mama, dan caranya. Manusia tetap, tidak berubah, di laut, di darat, di kutub, dalam kekayaan dan kemiskinan bikinan manusia sendiri.

Denotasi

Ia baru saja memeriksa untuk mengetahui mutu akalnya sendiri. Ia melakukan suatu usaha memperoleh barang yang dipegang pada keadaan yang cocok dengan keadaan yang sesungguhnya yang berpegang teguh pada keadaan yang cocok dengan keadaan yang sesungguhnya. Ia berusaha mengalami dan mempertahankan diri lawan peristiwa menyedihkan keadaan hidup. Perlaha-lahan tapi sudah tetap suara teriak dan pekikku sendiri dan dunia hendak tibanya masa sikap dan cara berpikir serta cara bertindak sesuai dengan tuntutan zaman cuma satu perihal yang bersifat sia-sia belaka. Yang sikap dan cara berpikir serta cara bertindak sesuai dengan tuntutan zaman cuma benda-benda yang dipakainya, kata Mama, dan jalan aturan melakukan sesuatu. Manusia selalu berada di tempatnya, tidak menjadi lain dari semula, di laut, di darat di kutub, dalam hal yang berciri kaya dan keadaan miskin buatan manusia sendiri.

Konotasi

Sebaik-baiknya acuan adalah kebenaran yang berdasarkan pada kebenaran. Bukan hal yang disepakati oleh manusia unsur kebenarannya.

Zaman modern sudah ditunggu-tunggu kedatangannya oleh banyak orang. Disebutkan pula dunia turut menunggu

zaman modern. Bukan berarti dunia secara keseluruhan yang menantinya. Kebanyakan manusia dianggap mewakili dunia.

Zaman modern hanya meliputi hal-hal teknis, baik alat maupun cara. Tidak diiringi dengan kemajuan pemikiran dan sikap manusia.

Kaya dan miskin adalah konsep buatan dan bentukan manusia. Manusia yang menentukan apa yang disebut miskin dan kaya. Bukan keadaan yang menjadi ketentuan alam. Keadaan kaya dan miskin tetap sama, manusia yang menciptakan perbendaan di antara keduanya.

10 “Dalam pelik-pelik kehidupan ini, memang apa yang pernah kau pelajari di sekolah hanya permainan kanak-kanak. Kau sudah cukup dewasa, untuk mengerti hukum serigala yang berlaku dalam kehidupan, di antara mereka, juga di antara kita sendiri. Sebentar lagi kau akan lihat, apa yang kukatakan ini tidak meleset dan tidak akan meleset.”

462

Denotasi

Di antara keanehan-keanehan cara hidup ini, sebenarnya apa yang sudah kau dapatkan pelajaran di lembaga untuk belajar cuma sesuatu yang digunakan untuk bermain anak masa prasekolah. Kau telah jadi tidak kurang matang dalam pemikiran, sebab memahami peraturan resmi anjing hutan yang masih berjalan di antara cara hidup, di tengah mereka, sama halnya di tengah kita sendiri. Dalam waktu singkat lagi kau akan membuktikan, apa yang kuceritakan ini tidak tidak mengenai sasaran dan tidak hendak tidak mengenai sasaran.

Konotasi

Pendidikan formal hanya mengajarkan teori-teori yang tidak dapat diaplikasikan dalam kehidupan sosial manusia. Dalam kehidupan nyata yang dihadapi setiap hari,

teori-teori yang diajarkan di sekolah tidak akan berguna. Hukum serigala yang disebutkan mengacu pada peribahasa Latin Homo Homini Lupus, manusia adalah serigala untuk manusia lainnya. Manusia harus melawan manusia lainnya untuk bertahan hidup, karena yang kuat akan selalu menang dan memangsa manusia lainnya. Nyai mengajarkan pada Minke, ia harus tahu siapa yang dia hadapi dalam segala masalahnya sehari-hari. Bukan hanya orang-orang yang tidak sepaham dengannya, namun semua orang yang ada di sekelilingnya.

11 Di Wonokromo, seorang perempuan, sendirian, harus menghadapi lawan dewa pembangunan dan dewa sukses sekaligus. Secara hukum perempuan yang bediri sendiri itu telah dirampas dari anak dan hartabendanya, keringat, jerih dan payahnya. Ia tak punya kekuatan hukum. Ia tak pergi ke tempat di mana Nederland memanggil. Dan ia hanya didampingi oleh seorang plonco bernama Minke dan seorang Darsam yang telah kehilangan kehebatannya dalam bermain parang. Kekuatan apa lagi yang masih tercadang dari tiga orang ini dalam menghadapi Ir.Maurits Mellema yang sedang diurap kejayaan?

500

Denotasi

Di Wonokromo sebuah kabupaten di Jawa Timur satu orang perempuan, tidak dengan yang lain, wajib bertanding dengan tandingan orang yang sangat dipuja proses membangun dan yang sangat dipuja berhasil pada saat yang sama. Menurut peraturan resmi perempuan yang tegak bertumpu pada kaki sendiri itu sudah diambil dengan paksa dari anak dan kekayaannnya, usahanya, kelelahan dan penatnya. Ia tidak memiliki kekukuhan peraturan resmi. Ia tidak berangkat ke tempat di mana Nederland meminta datang. Dan ia cuma ditemani dengan satu orang

calon mahasiswa yang sedang mengikuti acara kegiatan pengenalan kampus mempunyai nama Minke dan satu orang Darsam yang sudah menderita sesuatu karena hilang kedahsyatannya dalam memainkan parrang untuk bersenang-senang. Keteguhan apa lagi yang masih tersimpan dari tiga orang ini dalam melawan Ir. Maurits Mellema yang baru saja dilumasi kemegahan?

Konotasi

Belanda adalah pusatnya segala kemajuan dan kemewahan. Kemajuan dalam segala bentuk, baik ilmu pengetahuan juga manusianya. Kekuasaan atas jajahan yang tidak sedikit, membawa Belanda menjadi Kerajaan yang dihujani kekayaan yang melimpah. Sebagai seorang perempuan pribumi dan khususnya seorang gundik, Nyai Ontosoroh tidak sebanding dengan kebesaran yang dimiliki Kerajaan Belanda. Apa yang ia miliki telah dirampas secara paksa atas nama hukum Hindia Belanda. Ia bukan hanya kehilangan darah daging yang ia lahirkan dan rawat sejak kecil namun juga perusahaan dan harta benda yang ia bangun dengan usahanya sendiri. Sebagai individu yang tidak diakui hukum Hindia Belanda, tentu tidak ada kekuatan yang ia miliki untuk merebut haknya kembali. Ia tidak seperti Ir. Maurits Mellema, anak sah dari tuannya, yang menjadikan Belanda semakin besar atas keberhasilan menguasai daerah yang diinginkan Belanda. Ia melakukan banyak pekerjaan atas nama dan permintaan Belanda. Nyai tidak sebanding dengan nama besar yang diperoleh dengan menjadi pesuruh Belanda. Ia hanya seorang Nyai yang berjuang untuk haknya dengan sisa kekuatan terakhir meski sadar hukum Hindia Belanda bukanlah tandingannya. Seorang calon mahasiswa dan pendekar pribumi menjadi teman perjuangannya. Tiga

orang pribumi yang berusaha menghadapi kekuatan Hindia Belanda. Ir. Maurits Mellema menjadi simbol apa yang diagungkan dan dipuja oleh Eropa khususnya Belanda. Menjadi wakil kerajaan Belanda yang membanggakan dengan prestasinya di mata dunia.

12 “orang rakus harta-benda selamanya tak pernah membaca cerita, orang tak berperadaban. Dia takkan pernah perhatikan nasib orang. Apalagi orang yang hanya dalam cerita tertulis.”

512

Denotasi

“manusia tamak barang kekayaan selalu tidak pernah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya sesuatu hal, manusia tidak mempunyai kecerdasan lahir batin. Dia tidak akan pernah mengamati takdir manusia. Lebih-lebih manusia yang cuma dalam tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya sesuatu hal sudah ditulis.”

Konotasi

Orang yang sibuk mengumpulkan harta dan menimbun kekayaan tidak akan membuang waktunya untuk membaca berita. Orang yang menerapkan prinsip waktu adalah uang dalam kehidupannya. Sehingga menghabiskan waktu mereka untuk mencari dan mengumpulkan uang. Orang seperti itu tidak akan menaruh perhatian pada nasib orang lain.

Seorang perempuan yang memiliki sifat keibuan telah menjadi model ideal perempuan sejak lama, bukan hanya model ideal perempuan modern. Namun perempuan keibuan yang terdidik memiliki nilai lebih. Masuknya pendidikan tinggi sebagai salah satu kriterium perempuan modern, menunjukkan bahwa idealisasi perempuan Jawa ternyata tidak bersifat menutup pada watak keibuan semata (Permanadeli, 2015 : 239). Namun dalam penelitian ini, peniliti lebih memilih untuk menggunakan pengkategorian ‘terdidik’ dibandingkan

‘berpendidikan tinggi’. Untuk membedakan orang yang berpendidikan dengan orang yang mengenyam pendidikan formal hingga tingkat yang lebih tinggi.

Orang yang terdidik bukan hanya mereka yang mampu mengenyam pendidikan formal hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Melainkan mereka yang memiliki prinsip, memahami dinamika antar manusia, berani menyuarakan pendapatnya, menghargai kebenaran lebih dari materi dan terbuka pada pendapat orang dan ide-ide baru. Masih banyak bahasa dan kategori yang bisa menjelaskan bagaimana ciri orang terdidik lainnya. Namun hal yang disebutkan di atas merupakan ciri terdidik yang dimiliki Nyai Ontosoroh.

Sebelum menjadi seorang nyai, Sanikem (nama gadis Nyai Ontosoroh) adalah anak dari petugas kasir pada pabrik gula di Tulangan. Sama seperti anak perempuan Jawa lainnya, ia tidak diperbolehkan untuk bersekolah. Namun setelah diangkat menjadi gundik oleh Herman Mellema, Sanikem dididik oleh tuannya menjadi perempuan yang tidak lebih rendah pendidikannya dengan perempuan Eropa. Ia tidak hanya mendapatkan pendidikan seperti apa yang diajarkan di sekolah formal namun juga bagaimana bersikap dan bertindak sebagai manusia yang patut dihormati.

Pengetahuan Nyai tentang kekuasaan dan ekonomi menjadikannya menentang penjajahan dan segala tindakan kolonial yang merugikan dan tidak adil. Di tengah kemeriahan menyambut zaman modern di Hindia Belanda, Nyai tetap tegak dengan prinsip-prinsipnya yang bahkan lebih maju dari pemikiran modern yang mulai merambah Hindia Belanda kala itu.

Sebagai orang yang terdidik, Nyai mendasarkan segala penilaiannya pada kebenaran yang berdasarkan pada kebenaran sesungguhnya. Bukan pada kebenaran buatan manusia. Tidak heran jika ia benar-benar memperhatikan persoalan keadilan, hak dan kebebasan. Meski untuk mempertahankannya yang harus dilawan adalah hukum Hindia Belanda. Bahkan saat itu hukum Hindia Belanda tetap bukan hukum yang adil bagi pribumi. Pengadilan dan hukum Hindia Belanda didirikan untuk kepentingan Hindia Belanda dan orang-orang

Dokumen terkait