BAB III Pengembangan Karakter Diri Perempuan yang
B. Peran Gender
Berkaitan dengan gender, dikenal ada tiga jenis peran gender sebagai berikut:
1. Peran produktif adalah peran yang dilakukan oleh seseorang, menyangkut pe-kerjaan yang menghasilkan barang dan jasa, baik untuk dikonsumsi mau pun untuk diperdagangkan. Peran ini sering pula disebut dengan pe ran di sektor publik.
2. Peran reproduktif adalah peran yang dijalankan oleh seseorang untuk ke giat-an ygiat-ang berkaitgiat-an denggiat-an pemeliharagiat-an sumber daya mgiat-anusia dgiat-an pekerjagiat-an urusan rumah tangga, seperti mengasuh anak, memasak, men cuci pakaian dan alat-alat rumah tangga, menyetrika, membersihkan rumah, dan lainlain.
Peran reproduktif ini disebut juga peran di sektor domestik.
3. Peran sosial adalah peran yang dilaksanakan oleh seseorang untuk ber-partisipasi di dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, seperti gotong-royong dalam menyelesaikan beragam pekerjaan yang menyangkut kepen tingan ber-sama.
sumber: medium.com
Gambar 5. Perbedaan peran dan fungsi antara laki-laki dan perempuan dibentuk oleh masyarakat/budaya sejak ia dilahirkan dan bukan kodrati.
A. Komunikasi Efektif Gender
Komunikasi menyentuh hampir di setiap sudut kehidupan manusia. Manusia memi-lliki gaya tersendiri dalam menyampaikan komunikasi sesuai dengan darimana ia berasal, dimana ia lahir, latar belakang pendidikan, usia dan gender.
Ketimpangan gender terjadi tidak hanya dalam masyarakat namun juga dalam me-dia sebagai konstruktor gender. Berbagai ketidakadilan gender terjadi dan kaum feminis mencoba untuk mendobrak budaya patriarki sejak abad 19 hingga kini.
Gerakan feminisme tidak membuat konstruksi perempuan oleh media berubah.
Ketimpangan gender yang terjadi hendaknya bisa diminimalisir dengan jumalisme sensitive gender. Artikel berikut mengupas secara singkat mengenai gender dan komunikasi beserta seluk beluknya. Tidak lupa juga manfaat yang akan kita per-oleh ketika kita mempelajari Gender dan Komunikasi
Model komunikasi yang terperinci, dengan unsur-unsur penting dalam pelatihan PUGARG tersebut yaitu : (1). Sumber mempunyai gagasan, pemikiran atau kes-an tentkes-ang PUGARG di Yogyakarta, (2). Gagaskes-an diterjemahkkes-an atau diskes-andikkes-an ke dalam kata-kata dan simbol-simbol verbal dan nonverbal, (3). Gagasan disam-paikan atau d ikirimkan dengan metode kepada penerima, (4). Penerima menang-kap simbol-simbol secara verbal dan nonverbal, (5). Simbol diterjemahkan kembali atau diartikan kembali menjadi suatu gagasan oleh peserta pelatihan, (6). Peneri-ma yaitu peserta pelatihan mengirimkan berbagai bentuk umpan balik kepada
pen-Komunikasi Efektif Responsif Gender
Peran gender berbeda antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain yaitu sebagai berikut:
a. Masyarakat Bali menganut sistem kekerabatan patrilineal, berarti hubungan keluarga dengan garis pria (ayah) lebih penting atau diutamakan dari pada hubungan keluarga dengan garis wanita (ibu).
b. Masyarakat Sumatera Barat menganut sistem kekerabatan matrilineal, berarti hubungan keluarga dengan garis wanita (ibu) lebih penting dari pada hubungan keluarga dengan garis pria (ayah).
c. Masyarakat Jawa menganut sistem kekerabatan parental/bilateral, berarti hubungan keluarga dengan garis pria (ayah) sama pentingnya dengan hubungan keluarga dengan garis wanita (ibu).
Peran gender dari waktu kewaktu terus berubah, berikut contoh-contoh peubahan gender:
a. Pada masa lalu, menyetir mobil hanya dianggap pantas dilakukan oleh pria, tetapi sekarang wanita menyetir mobil sudah dianggap hal yang biasa.
b. Jika wanita ke luar rumah sendiri (tanpa ada yang menemani) apalagi pada waktu malam hari, dianggap tidak pantas, tetapi sekarang sudah dianggap hal yang biasa. Contoh peran gender yang dapat ditukarkan antara pria de ngan wanita sebagai berikut. Mengasuh anak, mencuci pakaian dan lain-lain, yang biasanya dilakukan oleh wanita (ibu) dapat digantikan oleh pria (ayah).
c. Mencangkul, menyembelih ayam dan lain-lain yang biasa dilakukan oleh pria (ayah) dapat digantikan oleh wanita (ibu).
BAB
girim. Berbagai pertanyaan, tanggapan dan hasil post test menunjukkan adanya umpan balik.
Komunikasi merupakan sebuah proses penting yang digunakan oleh manusia da-lam pertukaran pengada-laman dan ide dan hal itu menjadi pemicu penting bagi pen-yampaian pengetahuan dan persepsi dari berbagai hal (misalnya pembelajaran).
Karena itu komunikasi merupakan unsur inti dalam perubahan strategi untuk men-dorong perubahan (Leeuwis 2009). Secara etimologis, kata komunikasi atau com-munication dalam Bahasa Inggris berasal dari kata communis yang berarti ”sama.”
Komunikasi menyarankan bahwa pikiran, suatu makna atau pesan dianut secara sama (Mulyana 2001). Dengan demikian berkomunikasi artinya menyamakan makna atau pengertian dengan rekan komunikasi. Menurut Eff endy (1992) komu-nikasi adalah proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahukan atau mengubah sikap, pendapat atau perilaku baik secara langsung atau lisan maupun tidak langsung melalui media.
Komunikasi gender adalah salah satu bidang studi komunikasi yang menitikber-atkan pada bagaimana manusia sebagai makhluk gender berkomunikasi. Ivy dan Backlund mendefi nisikan komunikasi gender sebagai komunikasi tentang dan an-tara laki-laki dan perempuan (Gender communication is communication about and between men and women).
Proses komunikasi gender tidaklah sesederhana seperti yang dibayangkan. Salah satu cara agar kita mendapatkan deskripsi yang jelas mengenai komunikasi gen-der adalah dengan memahami berbagai teori komunikasi gengen-der yang dirumuskan oleh para ahli komunikasi maupun ahli dari disiplin ilmu yang lain. Berikut adalah teori-teori komunikasi gender, yaitu :
1. Genderlect Theory – Deborah Tannen
Teori yang dirumuskan oleh Deborah Tannen ini memandang bahwa cara ter-baik untuk menggambarkan komunikasi gender adalah dalam bentuk komuni-kasi lintas budaya. Perempuan selalu “rapport talk” untuk membangun hubun-gan yang berarti denhubun-gan yang lainnya.
Sementara itu, laki-laki selalu menggunakan “report talk” untuk mendapatkan status dalam hubungannya dengan yang lain. Karena laki-laki dan perempuan menggunakan bahasa yang berbeda, Tannen menyatakan mereka berbicara dengan dialek atau logat yang berbeda atau disebut dengan “genderlects”. Tu-juan genderlect theory ini adalah untuk mengakui dan mengapresiasi bahasa yang digunakan oleh lawan jenisnya untuk mencapai penghormatan yang pen-gertian yang sama.
2. Standpoint Theory – Sandra Harding and Julia Wood
Pencetus teori ini menyatakan perbedaan laki-laki dan perempuan dalam hier-arki sosial mempengaruhi apa yang dilihat. Terdapat perbedaan antara perem-puan dan laki-laki dalam mempersepsikan apa yang dilihat. Menurut teori ini, perempuan berada di posisi yang paling rendah dibandingkan dengan laki-laki.
Sandra Harding menyatakan bahwa setiap orang hanya memperoleh sebagian pandangan dari suatu kenyataan yang diperoleh. Perolehan tersebut sebagai hasil dari perspektif dimana masing-masing dari mereka berdiri dalam suatu hierarki sosial. Sementara itu, Julia Wood menyatakan bahwa berbagai kelom-pok sosial memiliki kekuatan yang sangat besar dalam membentuk apa yang kita alami dan ketahui sebagaimana kita memahami dan berkomunikasi de-ngan diri sendiri, orang lain dan dunia.
3. Muted Group Theory – Cheris Kramarae
Teori yang dikemukakan oleh Cheris Kramarae menyatakan bahwa perempuan tidaklah sebebas laki-laki dalam hal mengatakan apa yang mereka inginkan, apa dan kapan mereka menginginkan hal tersebut, karena kata-kata dan nor-ma-norma yang mereka gunakan dibentuk oleh kelompok dominan yaitu la-ki-laki.
sumber: www.tripsavvy.com
Gambar 6. Perempuan tidaklah sebebas laki-laki dalam hal mengatakan apa yang mereka inginkan
B. Karakteristik Komunikasi Gender
Komunikasi gender berkaitan erat dengan kebudayaan. Beberapa makna untuk maskulinitas dan feminitas, dan bagaimana mengkomunikasikan identitas gender sebagian besar ditentukan oleh budaya. Budaya terdiri dari sistem kepercayaan, nilai-nilai, dan perilaku yang membentuk ideologi atau sistem sosial tertentu. Cara manusia mengkomunikasikan identitas gender dipengaruhi oleh budaya, penafsir-an, pemahampenafsir-an, penilaipenafsir-an, dan media yang menampilkan beragam peran gender.
Dewasa ini, media dipenuhi oleh banyak representasi dan ide mengenai laki-laki dan perempuan yang diakui atau tidak, memberikan pengaruh yang tidak sedikit.
Untuk memahami gender dan media, maka kita juga perlu memahami bagaimana feminisme, maskulinitas dan hubungan gender yang sedang dibangun saat ini ter-jadi di dunia yang penuh dengan perubahan yang sangat cepat. Dari perubahan hubungan gender, pengenalan teknologi media baru dan berbagai kontrol yang ada saat ini mempengaruhi bagaimana representasi gender yang dibuat oleh media.
1. Gaya Komunikasi Gender
Perbedaan-perbedaan dalam gaya komunikasi gender dapat dilihat dari baha-sa, tujuan berkomunikasi, pola bicara, dan komunikasi non verbal.
a. Bahasa
Penggunaan bahasa yang digunakan untuk merujuk pada gender yang dapat menimbulkan bias atau makna ganda. Oleh karena itu pemilihan
ba-hasa sangat penting dilakukan agar menghindari timbulnya bias dan juga makna ganda dalam suatu komunikasi yang efektif.
b. Tujuan berkomunikasi
Baik laki-laki maupun perempuan, seringkali memberikan intepretasi yang berbeda mengenai sesuatu hal yang dapat menyebabkan miskomunikasi.
Perbedaan ini dapat dilihat dari tujuan berkomunikasi. Pada perempuan, komunikasi bertujuan untuk membentuk hubungan relasional dengan orang lain. Sedangkan tujuan laki-laki berkomunikasi adalah untuk membangun individualitas.
c. Pola berbicara
Terdapat beberapa perbedaan pola berbicara antara feminine dan mas-kulin. Hal ini dapat dilihat dari tujuan dan karakteristiknya, yaitu :
1) Tujuan feminine adalah membina hubungan. Pada maskulin, tujuannya adalah untuk mencapai kemandirian.
2) Karakteristik feminine adalah kesetaran, mendukung, responsif, priba-di, tentatif.
3) Karakteristik maskulin adalah menularkan pengetahuan, tidak ada pendekatan pribadi, abstrak, langsung, kurang responsif.
4) Komunikasi non verbal
5) Dalam psikologi komunikasi dan komunikasi lintas budaya, disebutkan bahwa komunikasi non verbal berperan penting dalam menghasilkan makna tertentu.Dalam hubungannya dengan gender, terdapat 7 pesan non verbal yang berperan dalam komunikasi gender, yaitu :
(a) Artifaktual, seperti penggunaan pakaian dan kosmetika. Perem-puan menggunakan atasan dan rok serta kosmetika, sementara la-ki-laki menggunakan atasan dan celana panjang.
(b) Proksemik, atau penggunaan ruangan personal dan sosial – gen-der maskulin dipandang sebagai pihak yang memiliki posisi yang kuat dalam budaya kita. Laki-laki lebih banyak mengambil ruang, baik di rumah maupun kehidupan sosial dibandingkan dengan per-empuan.
(c) Kinesik atau gerak tubuh, laki-laki dan perempuan meng gu-nakan gerakan tubuh yang masing-masing memiliki arti. La ki-laki menggunakan gerak tubuh untuk sebagai tanda unt uk menunjukkan kekuatan dan kendali. Perempuan meng gunakan gerak tubuh se-bagai bentuk pendekatan dan ke ramahtamahan.
(d) Paralingustik atau suara, cara pengucapan pesan non verbal an-tara laki-laki dan perempuan tidak sama. Paraliguistik me rupakan
sumber: viva.co.id
Gambar 7. Perbedaan-perbedaan dalam gaya komunikasi gender dapat dilihat dari bahasa yang digunakan
A. Pengertian Membangun Jejaring
Jejaring Kerja (kemitraan) atau sering disebut partnership, secara etimologis ber-asal dari akar kata partner. Partner dapat diartikan pasangan, jodoh, sekutu atau kompanyon. Sedangkan partnership diterjemahkan persekutuan atau perkong-sian. Dengan demikian, kemitraan dapat dimaknai sebagai suatu bentuk perseku-tuan antara dua pihak atau lebih yang membentuk satu ikatan kerjasama di suatu bidang usaha tertentu atau tujuan tertentu sehingga dapat memperoleh hasil yang lebih baik. Pendapat senada disampaikan Agung Sudjatmoko dalam bukunya yang berjudul Cara Cerdas Menjadi Pengusaha Hebat bahwa”kemitraan bisnis merupa-kan kerjasama terpadu antara dua belah pihak atau lebih, secara serasi, siner-gis, terpadu, sitematis dan memiliki tujuan untuk menyatukan potensi bisnis dalam mengahasilkan keuntungan yang optimal”
Membangun jejaring kerja (kemitraan) pada hakekatnya adalah sebuah proses membangun komunikasi atau hubungan, berbagi ide, informasi dan sumber daya atas dasar saling percaya (trust) dan saling menguntungkan diantara pihak-pihak yang bermitra yang dituangkan dalam bentuk nota kesepahaman atau kesepaka-tan guna mencapai kesuksesan bersama yang lebih besar. Dari defi nisi di atas dapat dijelaskan bahwa membangun Jejaring Kerja (kemitraan) dapat dilakukan jika pihak-pihak yang bermitra memenuhi persyaratan berikut:
1. Membangun Jejaring Kerja bukan sekedar bertukar kartu nama dan berkena-lan. Jika sebagian besar orang merasa kurang berhasil membangun Jejaring Kerja (networking) karena mereka hanya berkenalan atau bertukar kartu nama.
Strategi Membangun Jejaring
alat yang paling cermat untuk menyampaikan pe rasaan kita kepada orang lain. Jika tidak hati-hati dalam penggunaanya dapat menim-bulkan miskomunikasi.
(e) Sentuhan, – Baik laki-laki atau perempuan sering menggunakan sentuhan ketika berkomunikasi dengan orang lain. Bagaimanapun juga terdapat perbedaan diantara keduanya. Laki-laki menggunakan sentuhan untuk menunjukan arah kepada yang lain. Perempuan menggunakan sentuhan untuk untuk menunjukkan kepedulian.
(f) Atribut fi sik, Atribut fi sik turut memberikan implikasi yang besar dalam gender. Laki-laki cenderung digambarkan sebagai makhluk yang bertubuh besar dan kuat. Perempuan digambarkan sebagai makhluk yang lebih kecil.
(g) Kebungkaman, Melihat sejarahnya, kebungkaman memberikan pengaruh yang besar dalam komunikasi gender. Perempuan
“dibungkam” dalam semua sistem kebudayaan yang ada di dunia.
BAB
Setelah tiba di rumah, kartu nama itu hanya memenuhi laci meja kerja dan sulit mengingat lagi siapa mereka. Sedangkan membangun kekuatan networking hanya bisa dikerjakan dengan cara yang terorganisasi.
2. Menjadi pendengar yang baik Pada umumnya, orang-orang lebih senang membicarakan tentang diri mereka sendiri. Mereka akan selalu berpikir, “Apa yang bisa saya peroleh?” atau “Apa keuntungan percakapan ini untuk diri saya sendiri?” Bila kita mampu menunjukkan ketertarikan terhadap apa yang me-reka pikirkan ataupun katakan secara tulus, tidak dibuat buat maka kita akan mendapatkan banyak keuntungan. Keuntungan menjadi pendengar yang baik adalah: Pertama: kita akan mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya da-lam kesempatan pertemuan singkat tersebut, misalnya informasi tentang anak-anak, usaha/pekerjaan mereka dan hobi yang sedang mereka jalankan saat ini.
Informasi lebih banyak tentang diri pribadi mereka sangat penting guna mem-berikan perlakuan yang paling tepat, di sisi lain mereka juga pasti terkesan pada diri kita Kedua: ciptakan tujuan. Dengan menjadi pendengar yang baik kita akan mampu memvisualisasikan siapa saja yang harus kita dekati. Se-hingga tak perlu membuang waktu dengan mengikuti perkumpulan yang tidak berhubungan dengan target yang ingin kita capai. Karena kekuatan networking terletak pada kualitas dibandingkan kuantitas atau jumlahnya.
3. Mengupayakan dalam 72 jam kita harus berusaha menjalin komunikasi dengan calon partner kita agar mereka tidak melupakan kita begitu saja. Langkah yang bisa kita lakukan adalah mengirimkan kartu pos, mengi rim kan e-mail, surat, me-nelpon seraya mengungkapkan kebahagiaan kita mendapatkan kesempatan bertemu mereka atau menanyakan kabar ten tang anak-anak, usaha, maupun hobi yang sedang mereka kerjakan. Cara lain adalah mengirimkan sesuatu dan menyampaikan kesan men dalam sekaligus keinginan untuk bertemu mereka suatu saat nanti, dan lain se bagainya. Ciptakan berbagai langkah menciptakan jalinan komunikasi, karena hal itu akan membuat mereka lebih mengingat kita.
Sehingga apa bila suatu ketika kita menghubungi atau bertemu lagi, mereka akan dengan mudah mengingat dan menjalin keakraban dengan kita.
4. Bersikap sabar tetapi aktif dan proaktif dalam memberi. Memberi bisa dila kukan dalam berbagai cara entah dalam bentuk pelayanan atau kontri busi kepada perorangan maupun group. Milikilah nilai tersendiri bagi orang lain, dengan menciptakan kerjasama yang memberikan kemudahan dan berbagai nilai yang menguntungkan mereka.
5. Bersikap lebih cerdas dan selalu menyampaikan informasi yang akurat dan apa adanya. Caranya adalah dengan terus belajar banyak hal setiap ada kesem-patan (banyak membaca, mengikuti seminar, workshop, kompetisi, expo, dsb) sehingga kita akan lebih dikenal dibandingkan orang lain karena kelebihan ilmu pengetahuan yang kita miliki.
6. Kesinambungan komunikasi Kita harus selalu meluangkan waktu untuk me -lakukan komunikasi guna mengembangkan dan mempertahankan hu bungan yang sudah terbangun. Salah satu alasannya karena tak ada ja lan pintas da-lam mengembangkan dan mempertahankan networking ke cuali kesinambun-gan komunikasi. Joe Girald dalam bukunya The Greatest Salesman In The World, menyatakan bahwa kesinambungan komunikasi sudah dapat memper-luas networking. Ia berpendapat orang biasa pun memiliki sekurang-kurangnya 250 orang yang cukup dekat dalam ke hi dup an nya. Berdasarkan sebuah pene-litian, sebagian besar orang tidak akan pemah menyadari sedang memerlukan orang lain sebelum berkomunikasi dengan orang yang bersangkutan selama 8-10 kali.Jangan pula berkeinginan untuk menunda menjalin komunikasi den-gan orang lain, karena selain tak mendapatkan hubunden-gan baru kita juga akan kehilangan semangat baru.
7. Menjadi anggota komunitas tertentu seperti forum HIPKI, HISSPI, HIPMI, Komunitas Entrepreneur dan sebagainya untuk menambah relasi dan mem-perluas wawasan
8. Peduli lingkungan Perlu memiliki rasa tanggung jawab (peduli) terhadap ke-hidupan masyarakat di lingkungan sekitamya. Ada banyak cara untuk me wujud-kannya seperti donor darah, menjaga kebersihan dan kesehatan lingkung an melalui kerja bakti dan penghijauan, pemberi beasiswa bagi
sumber: sembada.id
Gambar 8. Ada banyak cara untuk peduli terhadap ke hidupan masyarakat di lingkungan sekitar
Pengarusutamaan gender dalam pembangunan pada dasamya sudah dimulai sejak Instruksi Presiden No. 9 Tahun 2000 tentang pelaksanaan Pengarusutamaan Gen-der (PUG) dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Tahun 2010-2014, hal tersebut didasari pada kejadian-kejadian yang terjadi pada perempuan menjadi korban diskriminasidan kekerasan berbasis gender karena ketimpangan relasi antara laki-laki dan perempuan di masyarakat. Diskriminasi yang dialami oleh perempuan dapat ber-beda-beda baik karena status sosialnya, keadaan ekonominya, status kesehatannya, ras, etnis, pilihan keyakinan maupun orientasi seksualnya, dan sebagainya.
Isu yang berkembang pada saat ini perempuan ditempatkan sebagai subjek sekaligus objek dalam rangka meningkatkan kemampuan, peranan, dan kedudukannya sebagai penyangga penghidupan dan kehidupan keluarga serta berperan dalam berbagai us-aha kesejahteraan sosial.
Kiprah perempuan dalam kegiatan pembangunan lebih mengacu kepada program yang sesuai dengan tuntutan pembangunan yang tertuang dalam program kerja or-ganisasi yang harus dikembangkan sesuai dengan komitmen suatu oror-ganisasi di tingkat nasional, regional, maupun intemasional yang disusun untuk periode tertentu.
Peranan perempuan dalam pembangunan ditandai dengan partisipasi perempuan dalam mengisi pembangunan di semua bidang pembangunan. Keberhasilan kiprah perempuan dalam pembangunan hanya terfokus dalam “kepentingan kesejahteraan perempuan” saja (women’s welfare concems) karena bidang-bidang yang dikembang-kan terbatas dalam upaya meningkatdikembang-kan kesejahteraan perempuan dan akses mereka terhadap sumber dan manfaat, tetapi pada kenyataannya isu-isu perempuan yang ma-sih berkembang pada saat ini di Indonesia adalah Berbagai bentuk diskriminasi yang menimpa perempuan dapat terjadi dalam bentuk diskriminasi langsung dan diskrimina-si tidak langsung. Diskriminadiskrimina-si langsung terjadi ketika seseorang diperlakukan secara berbeda akibat perilaku atau sikap dari suatu peraturan, sedangkan diskriminasi tidak langsung terjadi karena suatu kebijakan atau peraturan yang berakibat hanya pada jenis tertentu. Diskriminasi ini dapat berlangsung dari berbagai ranah, baik pekerjaan, rumah tangga maupun lingkungan social, Kekerasan terhadap perempuan, perdagan-gan orang dan eksploitasi seksual, dan Praktek berbahaya pada perempuan serta ke-jadian-kejadian lainnya
Isu-Isu yang terjadi pada perempuan tersebut mengharuskan Pengembangan Karak-ter Diri Perempuan yang Responsif Gender, melalui berbagai cara diantaranya
mem-Ra ngkuman
perbaiki komunikasi dimulai dari bahasa, tujuan berkomunikasi, pola bicara, dan komu-nikasi non verbal pengembangan karakter diri selanjutnya yaitu menjalin jejaring dari segala aspek kehidupan dengan strategi-strategi yang bias dilakukan seperti , menjadi pendengar yang baik, mengupayakan dalam berkomunikasi, bersikap sabar tetapi aktif dan proaktif dalam memberi, bersikap lebih cerdas dan selalu menyampaikan informa-si yang akurat dan apa adanya serta mengikuti forum-forum untuk membangun jejaring yang lebih luas.
Perempuan yang telah mengembangkan karakter dirinya dengan melakukan komu-nikasi efektif dan membangun jejaring kemitraan dari segala aspek kehidupan akan menjadi perempuan mandiri yang berwawasan gender dan dapat menghindari isuisu perempuan yang ada.
A. Pilihan Ganda
1. Apa yang menjadi perbedaan gender dan sex?
A. Keduanya sama saja
B. Keduanya sama sekali berbeda C. Keduanya tumpang tindih D. a dan b benar
2. Secara sosial pengertian jenis kelamin dan gender itu berbeda karena?
A. Kebudayaan dalam masyarakat yang berbeda B. Diskontruksi secara sosial dan budaya C. Perbedaan system sosial
D. Perbedaan kelas sosial
3. Siapa yang akan paling terkena akibat dari ketidaksamaan gender?
A. Perempuan di negara-negara paling miskin B. Anak-anak
C. Perempuan dan para gadis D. Laki-laki yang tidak bekerja
4. Apakah laki-laki dan perempuan memperoleh jumlah uang yang sama untuk pekerjaan yang sederajat?
A. Tidak, laki-laki mendapat lebih banyak.
B. Tidak, perempuan mendapat lebih banyak.
C. Sama banyak
D. Perempuan tidak memperoleh penghasilan.
5. Seringkali ketika laki-laki dan perempuan bekerja, ...
A. Mereka berbagi pekerjaan rumah tangga yang sama.
B. Ya, mereka mendapat sama banyak.
C. Laki-laki melakukan pekerjaan rumah tangga paling banyak.
D. Perempuan yang harus mengerjakan semua pekerjaan.
6. Strategi mana yang telah terbukti membantu perempuan lebih berdaya-guna secara sosial dan ekonomi?
A. Perempuan bekerjasama menentang diskriminasi gender B. Sumber-sumber pemasukan lebih banyak bagi perempuan C. Akses-akses yang diperbaiki untuk pendidikan.
D. Semua jawaban benar.
7. Bagaimana untuk menjadi perempuan mandiri berwawasan gender?
A. Melakukan komunikasi efektif B. Melakukan Diskriminasi
A. Melakukan komunikasi efektif B. Melakukan Diskriminasi